97179347213b7105c1c968d4e7b15ae0996f8dc3

Kenapa menulis judul yang dilihat tidak ada kaitannya sama sekali,apa hubungannya perayaan Valentine yang biasa dilakukan pada tanggal 14 Februari ini dengan gerombolan ISIS yang sedang hangat dibicarakan karena getol menyerang kekafiran dunia barat,

Judul ini saya dapatkan karena terinspirasi oleh sebuah tweet dari Mohamad Guntur Romli (@GunRomli) yang dalam akun twitternya berkicau “ Yang ambil kesimpulan Valentine Day = Maksiat, sama dengan kesimpulan Islam = ISIS

Benar saja, sebuah kalimat sederhana yang sebenarnya menyentil pola pikir sempit bangsa Indonesia. Begitu banyak yang sibuk melakukan protes terhadap budaya barat yang sebenarnya sudah lama masuk di Indonesia ini, salah satunya dengan aksi pembakaran kondom yang dilakukan oleh KAMMI dan Forum Silaturahmi Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK) Malang pada Selasa (14/2/2012) yang menuding bahwa Valentine merupakan budaya yang melegalkan hidup bebas, dan tak jarang mengarah kepada freesex. atau dari anjuran dari Ustad Felix Siauw “Maka Muslim tidak perlu merayakan atau ikut berpartisipasi dalam valentine apalagi mengarah pada melakukan hal-hal dilarang agama seperti zina,” ujar sosok yang baru masuk Islam itu, di Setiabudi Jakarta, Jumat (13/2).

Lalu bagaimana sebenarnya sejarah Valentine Day itu sendiri, dari banyak versi sejarah Valentine tidak lepas dari sosok Santo Valentinus yang menjadi martir karena menikahkan serdadu Romawi yang dilarang menikah oleh Kaisar Cladius II. Pembangkangan inilah pada akhirnya yang menjadikan nama Valentinus menjadi icon dari penamaan hari kasih sayang ini. Meskipun dari versi lain adalah tentang ritual kesuburan pada bulan Februari yang diadakan di Roma Kuno, para wanita berharap akan mendapatkan kesuburan dan kemudahan dalam proses melahirkan nantinya.

Budaya ini kemudian dibawa oleh mereka bangsa barat yang mengkolonialisasi di daerah jajahannya. Tak terkecuali di Indonesia. Di Indonesia, budaya bertukaran surat ucapan antar kekasih juga mulai muncul. Budaya ini menjadi budaya populer di kalangan anak muda. Bentuk perayaannya bermacam-macam, mulai dari saling berbagi kasih dengan pasangan, orang tua, orang-orang yang kurang beruntung secara materi, dan mengunjungi panti asuhan di mana mereka sangat membutuhkan kasih sayang dari sesama manusia. Pertokoan dan media terutama di kota-kota besar di Indonesia marak mengadakan acara-acara yang berkaitan dengan valentine.

Dari hal ini kita seharusnya menarik kesimpulan bahwa Valentine Day merupakan hari yang menyimbolkan kasih sayang,bahwa manusia memiliki naluri untuk saling mengasihi dan menyayangi sesama. Bukan hanya berorientasi kepada pemikiran sex bebas dan pikiran picik lainnya. Cinta adalah hal terbesar dan terumit yang menjadi pembahasan dalam psikologi manusia. Betapa besar risiko yang diambil oleh Santo Valentine haruslah menjadi contoh, tidak peduli apa agama mereka, apa suku mereka, apa bahasa mereka, selama mereka mengajarkan kita tentang keberanian, kasih sayang, dan nilai-nilai kebaikan lainnya tidak ada salahnya tentu untuk kita terima.

Dan Valentine Day bukanlah sebuah ritual keagamaan, meski dalam sejarahnya sebagian mengacu kepada ritual pagan kuno, tetapi dalam era modern saat ini tentu harusnya kita berpikir dewasa dan dapat mengambil hikmah apa yang kita pelajari. Santo Valentinus adalah martir yang mengajari kita tentang kemanusiaan, begitu juga dengan sosok sosok lainnya, seperti Bunda Teresa, Che Guevara, Mahatma Gandi, Gus Dur, Jhon Lenon dan masih banyak lagi sosok-sosok yang mengajari kita menjadi manusia yang welas asih terhadap sesama.

Lalu jika kita dihadapkan pertanyaan, kenapa harus dirayakan setiap satu tahun sekali? Bukankah kasih sayang bisa diberikan kepada siapapun setiap hari. Benar, ya kasih sayang bisa dan memang harus kita berikan kepada siapapun, manusia, binatang, alam setiap harinya. Lalu kenapa harus dilakukan hari perayaan kasih sayang? Akan saya jawab, sebagai contoh adalah kenapa kita merayakan hari Ibu. Bukankah kita seharusnya selalu mengingat Ibu, berbakti dan sayang terhadap Ibu kita setiap hari?

Seperti sebuah jawaban yang saya berikan kepada yang bertanya kepada saya. “Hari perayaan adalah hari dimana kita diajarkan untuk mengingat kembali, menyadarkan kita bahwa kita masih memiliki sesuatu yang mungkin terkadang kita lupa. Mungkin di hari Ibu kita diingatkan bahwa terkadang kita sibuk terhadap rutinitas kerja dan persoalan rumah tangga sampai terlupa dengan Ibu kita, sampai pada hari Ibu datang, kita teringat kembali dalam memori kita dan terkadang berpikir tentang bagaiamana kabar Ibu, dan sering kita menangis bahwa kita telah banyak salah terhadap beliau dimasa lalu, perasaan sebagai anak yang tidak berbakti muncul, dan kemudian serta merta kita mengambil Handphone dan menghubungi Ibu, mengucapkan selamat hari Ibu, menangis meminta maaf, dan seperti biasa Ibu akan memaafkan dan kemudian kita akan diajak bercerita tentang masa kecil kita bersama Ibu, masa masa yang hangat dan kita rindukan, hingga tidak sadar kita tersenyum sendiri mengingat tingkah polah kita. Itulah sebuah makna, tentang suatu hari dimana bertujuan untuk merefill kembali perasaan yang mungkin terlupa oleh kesibukan kita. Begitu juga dengan Hari Valentine, dalam hari ini saya menarik nilai positif bahwa dalam Valentine Day kita diajarkan bahwa terkadang kita lupa menjadi manusia yang welas asih, terkadang kita tidak bisa bersikap romatis dan manis kepada pasangan, bersikap sayang dan hangat kepada sesama. Karena kasih sayang itu luas, karena kasih sayang tidak terbatas kepada pasangan kita”

Lalu kenapa Valentine diidentikkan dengan Sex Bebas? Hal ini karena mereka hanya memandang sempit hari kasih sayang tersebut. Seperti sebuah kalimat “Cinta itu menjaga, menghidupi bukan merusak dan membunuh” jika kasih sayang hanya untuk pengahalalan sex bebas, maka mereka tidak pernah memahami apa itu kasih sayang, apa itu cinta. Begitu juga dengan mereka yang berteriak bahwa Valentine adalah budaya penghalan sex bebas.

Jika berdalih bahwa hal ini didukung dengan banyaknya Mall atau Swalayan yang menjual coklat dibarengi dengan kondom, apakah berarti coklat dan kondom salah? Sebenarnya saya cukup geli dengan pemikiran yang konyol sampai harus membakar kondom. Apa salah kondom? Kondom sendiri berfungsi dalam KB. Kalau mereka menjual coklat dibarengi kondom mungkin target penjualan mereka adalah mereka yang sudah berkeluarga, kenapa berpikir positif saja begitu sulit. Kalaupun dihadapkan pada pilihan, saya tentu akan membeli coklat yang tidak dibarengi dengan kondom untuk kekasih saya, atau untuk siapa saja, anak kecil dan orang-orang yang tidak mampu lainnya, agar mereka tahu bahwa masih ada hari dimana manusia mengingat kembali bahwa mereka memiliki kasih sayang, bahwa manusia masih bisa menjadi manusia ditengah kerasnya hidup. Meski tidak dipungkiri ada nilai-nilai kapitalis dalam perayaan Valentine ini. Tapi yang perlu digaris bawahi lagi adalah bahwa Valentine Day tidak harus selalu membeli coklat, meski hari ini identik dengan coklat. Kita anggap simbolis saja untuk sebagian keperluan mereka, tetapi pada dasarnya kita diingatkan kembali untuk saling menyayangi, mengasihi, dan mencintai sesama, alam dan tentu diri kita.

Lalu dimana ISIS dalam pembahasan ini?

Saya hanya akan bertanya: Apakah anda setuju jika ISIS adalah pencerminan ISLAM ?

Tentu yang beragama Islam akan bilang bahwa ISIS bukanlah gambaran dari ISLAM, tentu kita akan menolak penggeneralisasian tersebut, penggeneralisasian sempit tentang sesuatu yang mungkin kita tidak pernah tahu tentang sesuatu itu apa. Seperti yang John Lenon katakan “DON’T HATE WHAT YOU DON’T UNDERSTAND!” Sebuah pesan yang saya tangkap untuk tidak lekas-lekas membenci sesuatu sampai benar-benar mengerti, dari sikap inilah kita menjadi tidak lekas mudah antipati terhadap sesuatu, berpikir kritis dan tentu saja tidak mudah untuk lekas menggeneralisasikan sesuatu secara sempit.

Jadi masihkah berpikir bahwa Valentine Day adalah perayaan untuk melegalkan Sex Bebas? Ritual keagamaan kaum kafir? PLEASE OPEN YOUR MIND🙂

10654920_606916229426059_1412947063_a