300-Rise-of-an-Empire-Poster-slice-585x350

Baru saja menyaksikan sebuah film yang sebenarnya sudah lama di putar dan banyak menerima kritikan karena isi dari film tersebut, film 300 Rise of Empire, yang beberapa orang katakan lebih banyak menampilkan pembantaian, menekankan pada kucuran darah yang dinilai berlebihan.

Seperti diketahui bahwa dalam film 300 yang kedua ini menceritakan tentang nilai balas dendam, Balas dendam dari Xerxes yang membunuh ayahnya Darius, balas dendam Artemisia terhadap Yunani yang terakhir menurut saya adalah balas dendam dari Ratu Gorgo istri dari Leonidas yang akhirnya menjadi alasan untuk membantu pasukan dari Themistokles melawan armada laut Yunani yang dipimpin oleh Artemisia.

Bukan ingin membahas tentang alur dari cerita yang disutradari oleh Zack Zinder, tetapi ingin mengetengahkan pandangan saya tentang nilai moralitas dalam film yang  dibioskop di Indonesia banyak mengalami pemotongan (sensor).

Kajian moralitas apa yang saya ambil dalam film ini, tidak jauh-jauh dari apa yang saya utrakan diatas, yaitu tentang balas dendam.

Balas dendam sendiri memiliki makna tindakan untuk membalas sesuatu yang bersifat negatif dan dilakukan kepada kita.

Balas dendam dalam pandangan sekarang adalah suatu sikap yang buruk, tak terpuji dan dinilai menuju tindakan yang tidak bermoral. Tindakan yang tepat untuk menjawab keadaan saat tersakiti atau dikalahkan adalah dengan menerima, memaafkan, berpikir bijak, dan menyerahkan semuanya kepada Tuhan untuk membalasnya. Balas dendam juga dinilai hanya akan melahirkan permasalahan baru yang tidak akan pernah putus.

Sedang dalam film 300 kali ini balas dendam lebih adalah bentuk kehormatan, tujuan, menjadi sempurna sebagai manusia yang memiliki rasa dan ambisi. Balas dendam menjadikan manusia lebih keras, liar dan berbahaya. Seperti diketahui memang perjalanan moralitas membawa manusia untuk menjadi aman, menjaga keberlangsungan hidup koloni. Segala sesuatu yang berbeda, bahaya dan merusak akan mendapatakan sanksi berupa hukuman fisik maupun psikis. Hal ini untuk menjaga kestabilan, menjaga agar lelah dan mempertahankan diri tak perlu kembali lagi harus diperjuangkan. Manusia membutuhkan kenyamanan, damai tentram dalam hidupnya.

Tetapi demikian, efek yang dihasilkan adalah. Manusia tak ubahnya menjadi mahluk piaraan, meski tetap berkarya dan tetap saja dibatasi. Merujuk kepada pemikiran Nietzsche, filsuf kontroversial, radikal, frontal, dan ateistik. Pemikiran moralitas ini tentu melaju ke arah lahirnya Nihilisme, tentang keabsahan nilai-nilai dalam sistem yang dipertanyakan.

Kritik keras tentang moralitas Hegel dan Kant yang dilakukan oleh Nietzsche setidaknya bisa menjadi referensi bahwa moralitas tak ubahnya penjara, moralitas hanya alat untuk mengamankan kekuasaan dalam sejarahnya, atau moralitas adalah candu dari mereka manusia dengan mental budak.

Balas dendam adalah wujud dari kejujuran, nafsu maupun pikiran yang terselamatkan dari pengkaburan kenyataan dogma-dogma agama, dogma seni seperti Dinosian Yunani. Balas dendam adalah kebenaran manusia yang tidak terjebak dalam teori rasio praktis yang menunjukkan adanya imperatif kategoris.

Meski dalam kasus ini jika ditelisik lagi dari sudut filsafat Dialektika Hegel juga akan menghantarkan kita kepada ketiadaan nilai absolut dalam sistem hidup manusia saat ini, membantah nilai-nilai dan kriteria universal yang dalam agama wahyu khotbahkan. Mengungkung kehendak berkuasa, mengungkung manusia dalam keterasingan dirinya sendiri. Dan bentuk ini dimengerti benar oleh penguasa untuk meredam kehendak manusia. Menjadikan manusia bermoral, meletakkan predikat pujian sebagai imbalan, hanya untuk menguasainya.

Maka nilai moral tidak berlaku dalam hidup ini, kebebasan hidup ini terwujud dari nilai seni itu sendiri dan melepas diri dari kungkungan moral, dengan kata lain orang yang bermoral berarti orang yang tidak bebas atau seperti dipenjara.

Jika nilai-nilai moral yang telah lalu telah berubah menjadi bentuk moral baru seperti sekarang ini, apa kau akan tetap percaya bahwa moral hari ini tak akan berubah esok hari.

Tidak ada nilai absolut, moralitas hanya alat yang dijalankan demi kepentingan kekuasaan saat ini.