RANAH AFEKTIF YANG TERPINGGIRKAN

Hasil gambar untuk zebra cross

Berawal dari cerita Prof Sunandar tentang orang Jepang dan Zebra Cross yang saya dengar dalam sebuah sesi materi acara PEKERTI yang sedang saya ikuti, saya jadi tergelitik untuk mengetahui apakah memang peran aspek atau ranah Afektif dalam pendidikan Indonesia sedemikiannya terpinggirkan atau malah memang di pinggirkan?

Baiklah, mari kita mulai membaca cerita tentang orang Jepang dan Zebra Cross tersebut :

“Sekolah ‘KNOWING’ vs Sekolah ‘BEING'”

Cerita seorang teman :

Kantor kami, Perusahaan PMA dari Jepang, mendapat pimpinan baru

dari Perusahaan induknya.

Ia akan menggantikan Pimpinan  lama yang sudah waktunya kembali ke negaranya.

Sebagai partner, saya ditugaskan utk mendampinginya selama ia di Indonesia.

Saya memperkenalkan kepadanya  relasi, dan melihat objek wisata kota Jakarta dan Bandung .

Pada saat kami ingin menyeberang jalan, teman saya ini selalu berusaha utk mencari zebra cross.

Berbeda dgn saya dan org Jakarta yg lain, dgn mudah menyeberang di mana saja sesukanya.

Teman saya ini tetap tdk terpengaruh oleh situasi.

Dia terus mencari zebra cross ataupun jembatan penyeberangan, setiap kali akan menyeberang.

Padahal di Indonesia tidak setiap jalan dilengkapi dgn sarana seperti itu.

Yg lebih memalukan, meskipun sdh ada zebra cross tetap saja para pengemudi tancap gas, tidak mau mengurangi kecepatan guna memberi kesempatan pada para penyeberang.

Teman saya geleng2 kepala mengetahui perilaku masyarakat kita.

Akhirnya saya coba menanyakan pandangannya mengenai fenomena menyeberang jalan.

Saya bertanya, mengapa orang2 di negara ini menyeberang tidak pada tempatnya, meskipun mereka tahu bahwa zebra cross itu adalah sarana utk menyeberang jalan.

Sementara kenapa dia selalu konsisten mencari zebra cross meskipun tidak semua jalan di negara kami dilengkapi dgn sarana tsb..

Pelan2 dia menjawab pertanyaan saya,

“It’s ALL HAPPENS BECAUSE OF THE EDUCATION SYSTEM.”

Saya kaget juga mendengar jawabannya.

Apa hubungan nya menyeberang jalan sembarangan dgn sistem pendidikan?

Dia melanjutkan penjelasan nya, “Di dunia ini ada 2 jenis sistem pendidikan, yang pertama adalah sistem pendidikan yg hanya menjadikan anak2 kita menjadi mahluk ‘KNOWING’ atau SEKEDAR TAHU SAJA, sedangkan yg kedua sistem pendidikan yg mencetak anak2 menjadi mahluk ‘BEING’.

Apa maksudnya?

Maksudnya, sekolah hanya bisa mengajarkan banyak hal UNTUK DIKETAHUI PARA SISWA.

Sekolah TIDAK MAMPU MEMBUAT SISWA MAU MELAKUKAN APA YANG DIKETAHUI SEBAGAI BAGIAN DARI KEHIDUPAN NYA.

Anak2 tumbuh hanya menjadi ‘MAHKLUK KNOWING’, hanya sekedar ‘MENGETAHUI’ bahwa:

» ZEBRA CROSS adalah TEMPAT MENYEBERANG,

» TEMPAT SAMPAH ADALAH UNTUK MENARUH SAMPAH.

Tapi “MEREKA TETAP AKAN MENYEBERANG DAN MEMBUANG SAMPAH SECARA SEMBARANGAN”.

Sekolah semacam ini BIASANYA MENGAJARKAN “BANYAK SEKALI MATA PELAJARAN”.

Tak jarang membuat para siswanya STRESS, PRESSURE & akhirnya MOGOK SEKOLAH.

“SEGALA MACAM DIAJARKAN” dan BANYAK HAL DIUJIKAN, “TETAPI TAK SATUPUN DARI SISWA YANG MENERAPKANNYA SETELAH UJIAN”.

Ujiannya pun HANYA SEKEDAR TAHU, ‘KNOWING’.

Di negara kami, sistem pendidikan BENAR-BENAR DIARAHKAN UNTUK MENCETAK MANUSIA2 YANG ” TIDAK HANYA TAHU apa yg benar tetapi MAU MELAKUKAN APA YANG BENAR SEBAGAI BAGIAN DARI KEHIDUPANNYA’.

Di negara kami, anak2 hanya diajarkan 3 mata pelajaran pokok:

  1. Basic Science
  2. Basic Art
  3. Social

Dikembangkan melalui praktek langsung dan studi kasus dan dibandingkan dgn kejadian nyata di seputar kehidupan mereka.

Mereka tidak hanya TAHU, mereka juga MAU menerapkan ilmu yg diketahui dlm keseharian hidupnya.

Anak2 ini jg TAHU PERSIS ALASAN MENGAPA MEREKA MAU atau TIDAK MAU MELAKUKAN SESUATU.

Cara ini mulai diajarkan pada anak sejak usia mereka masih sangat dini agar terbentuk sebuah kebiasaan yg kelak akan membentuk mereka menjadi mahluk ‘BEING’, yakni MANUSIA2 YANG MELAKUKAN APA YANG MEREKA TAHU BAHWA ITU ADALAH BENAR.”

Betapa sekolah begitu MEMEGANG PERAN YANG SANGAT PENTING BAGI PEMBENTUKAN PERILAKU & MENTAL ANAK2 BANGSA.

Tidak hanya sekadar berfungsi sebagai “LEMBAGA SERTIFIKASI” yg “HANYA MAMPU MEMBERI IJAZAH” kepada para anak bangsa.

KARAKTER, PERILAKU dan KEJUJURAN adalah landasan untuk membangun anak didik  yang LEBIH BERADAB DALAM BERPERILAKU.

BUKAN SEKEDAR ANGKA-ANGKA AKADEMIK seperti yang tertera di buku-buku raport sekolah ataupun Indeks Prestasi IPK..

KEJUJURAN dan ETIKA MORAL adalah PRIORITAS UTAMA, sedangkan kepintaran itu kita kembangkan kemudian,  karena SETIAP ANAK TERLAHIR PINTAR dan pendidikan itu sendiri adalah perkembangan

Oleh sebab itu, Seyogyanya, kita TIDAK PERLU TERLALU RISAU jika seorang anak belum bisa calistung (baca tulis hitung) saat masuk SD atau bahkan setelah sekolah SD sekalipun,

Tapi mestinya  harus peduli jika seorang anak TIDAK JUJUR dan BER ETIKA BURUK.

Pendidikan itu BUKAN PERSIAPAN UNTUK HIDUP,  karena PENDIDIKAN ADALAH KEHIDUPAN.. SEPANJANG HIDUP..

Lalu dimana permasalahan ranah afektifnya?

Sebelum itu, tidak ada salahnya kita mengetahui apa itu ranah afektif, ranah afektif sendiri adalah salah satu dari tiga ranah yang dikenal dalam dunia pendidikan yang berhubungan dengan sikap, perasaan atau emosi, sedangkan dua sisanya adalah ranah kognitif yang berhubungan dengan knowledge dan ranah Psikomotorik yang berhubungan dengan skill atau kemampuan siswa untuk praktek. Ranah afektif sendiri merupakan ranah yang berkenaan dengan sikap dan nilai, sehingga mampu mengubah perhatian dari suatu bentuk sederhana menuju yang rumit untuk memilih fenomena serta menanamkan fenomena itu sesuai dengan karakter dan kata hatinya. Ranah afektif terlihat dalam sikap, minat, apresiasi, nilai dan emosi atau prasangka yang akhirnya berpangkal kepada pembentukan tingkah laku moralnya.

Dalam ranah afektif sendiri menurut Krathwohl dibagi menjadi beberapa tingkat pencapaian, yaitu Receiving (Menerima), Responding (Menanggapi), Valuing (Menghargai), Organization (Mengatur diri), Characterization (Menjadikan pola hidup).

Hasil gambar untuk RANAH AFEKTIF

Dari tingkatan tersebut yang telah disusun berdasarkan tingkatannya, tentu kita akan setuju bahwa menjadi pola hidup keseharian memang layak menduduki posisi tingkatan tertinggi, karena pola hidup adalah sesuatu yang menjadi cara kita berperilaku sehari-hari, model yang membuat kehidupan keseharian kita menghasilkan sesuatu, atau dalam artian lainnya pola hidup adalah bentuk keteraturan (karena peraturan abstrak) yang diciptakan diri untuk menghadapi hidup sehari-hari. Untuk mencapai pada puncak tersebut tentu saja dalam pendidikan haruslah melewati tingkatan-tingkatan sebelumnya, berproses disana dan meresapi pencapaian apa yang didapatkan dan perubahan apa yang terjadi pada emosi, perasaan atau penilaian terhadap suatu fenomena dari kacamata siswa tersebut hingga sampailah pada tahapan tertinggi dan terjadi internalisasi, yaitu suatu keadaan dimana nilai sudah terbentuk dalam diri individu dan mengontrol tingkah lakunya dalam waktu yang lama sehingga membentuk karakteristik “pola/pandangan hidup.

Lalu apa hubungannya dengan cerita Orang Jepang dan Zebra Cross tadi?

Tentu saja sebuah kesimpulan muncul untuk menyatakan bahwa pendidikan kita saat ini memang kurang dalam memberikan materi yang bernilai aspek afektif, dalam perkuliahan kita lebih banyak dijejali dengan pengetahuan-pengetahuan, atau praktikum-praktikum tentang materi perkuliahan yang lebih condong juga ke arah knowledge. Saya kemudian jadi teringat kembali apa yang disampaikan oleh Prof Sunandar bahwa bangsa kita banyak sekali lulusan yang ahli dalam bidang apapun, tetapi kenapa kesemrawutan tetap saja terjadi dimana-mana? Kita tahu bahwa Zebra Cross adalah tempat untuk menyebrang di jalan raya (Kognitif) dan dalam bergerak, kita bisa melakukan bagaimana cara memencet tombol untuk menyalakan lampu merah agar mobil berhenti sesaat agar kita bisa menyeberang (Psikomotorik) lalu kenapa kita masih tetap saja memilih untuk menyeberang sembarangan (Afektif)? Kita juga sadar bahwa membuang sampah haruslah di tempat sampah (Kognitif) kita juga bisa melakukannya (Psikomotorik) tetapi kenapa kita tetap memilih untuk membuang sampah sembarangan (Afektif)? Itu adalah sebuah contoh sepele tentu saja dimana Afektif berjalan dalam kehidupan sehari-hari, sebuah pola yang menjadi nilai hidup kita. Lalu bagaimana saat kita hidup dengan profesi kita? Tentu saja banyak hal-hal yang kita sepelekan begitu saja, karena hal sederhana seperti itu kita abaikan. Lulusan seperti apa yang nantinya akan kita bentuk? Sikapnya? Minatnya? Konsep Dirinya? Nilai? Dan Moralnya?

Mengutip pesan dalam cerita tersebut, bahwa mereka melakukan apa yang diketahui sebagai bagian dari kehidupannya adalah dengan menciptakan pendidikan yang membuat siswa mereka MAU ! dan mau tidak mau “MAU” itu merupakan ranah Afektif yang kebanyakan dalam kurikulum pendidikan Negara ini menjadi ranah yang kurang diperhatikan, aspek-aspek dalam capaian pembelajarannya hanya sekedarnya dituliskan tanpa banyak yang peduli karena berpikiran bahwa nilai emosional dan moral juga adalah urusan diluar pendidikan formal!

Jadi tidaklah heran, jika banyaknya institusi pendidikan, tingginya jenjang pendidikan tidak akan memajukan kehidupan sosial bangsa ini karena mereka hanya tahu, tetapi enggan untuk melakukan sesuatu. Dan sebuah pesan yang menarik dari prof DYP yang saya rasa rasa cocok untuk situasi seperti ini bagi saya.

Dosen yang salah konsep lebih berbahaya dibandingkan dengan dokter yang salah mengobati.

 

Sumber pustaka :

Wawasan Pendidikan. Ranah Afektif dan Aspek-aspek serta Hubungannya.

Iklan

RELATIVITAS SEJARAH

aas_dht_listing

“Sejarah merupakan suatu hal yang pada umumnya merupakan cerita silih berganti kekuatan-kekuatan yang mengendalikannya, serta koeksistensi kekuatan-kekuatan yang berusaha untuk mengendalikannya. Suatu objek tunggal, suatu fenomena tunggal berubah makna seturut kekuatan yang mencomotnya”

Sebuah kalimat pengantar dari Gilles Deleuze bagi karya Nietzsche, didalamnya terdapat sebuah intisari bahwa sejarah adalah tentang kekuasaan dan kepentingan, sejarah adalah tentang perubahan dan mengubah sesuatu. Sejarah menyediakan banyak contoh, salah satunya adalah perjuangan dan ide-ide perjuangan yang pada akhirnya sepenuhnya berubah makna dan nilai. Gerakan perjuangan yang menjadi ekstrem kiri dan ekstrem kanan, berganti posisi satu sama lain.

Tiap-tiap peristiwa, tiap-tiap aspek kehidupan dengan realitasnya selalu bisa berubah makna. Perubahan makna, pemberian penilaian memerlukan banyak tinjauan kedepan dan kewaspadaan, plus kecakapan dalam mentaksir dan mengevaluasi. Tidak ada nilai dan makna semata-mata lahir dari dirinya sendiri. Seperti pada kasus Revolusi Rusia dapat dipandang sebagai tindakan anarkis berdarah. Kaum anarkis militan Prancis pra 1914 menjadi patriot berapi-api pasca 1914. Tidak ada yang tetap, semua harus dikaji dan disusun, ditafsir berulang-ulang.

Lalu bagaimana dengan filsafat dan kesusastraan, moralitas dari realitas yang dipilih sejarah sebagai pancang nilai yang harus ditaati? Mari kita berjalan kemasa lalu, kembali menggali sejarah kesustraan dan dongeng klasik yang menjadi penghantar tidur, ditanamkan kedalam batas alam bawah sadar, ingatan yang akan diterima kuat oleh kita dari orang tua yang ingin membentuk kita. Siapa yang akan menolak bahwa cerita sebelum tidur adalah mantra yang akan menggiring kita kedalam realitas baru yang kuat dan mengakar.

Kancil yang mencuri timun, atau timun emas, dan legenda lain yang begitu penuh dengan pesan-pesan moralitas yang diinginkan, begitu banyak legenda yang diinjeksikan sebelum kita tertidur berbau hukuman dan bersikap menerima. Atau tentang kebanggan-kebanggan semu non realistis.

Kita dibentuk, menjadi seperti apa yang sejarah inginkan, bukankah kita adalah anak dari sejarah. Kita adalah penerus realitas yang dibentuk oleh keinginan sejarah manusia. Kecuali manusia-manusia yang mau bangun dan menampar dengan keras pipi mereka sendiri, mereka yang nantinya akan menjadi ayah dari sejarah.

 

Walmiki dan Moses

Sinai

“Bukankah sudah tiba saatnya untuk kau datang, menaiki gunung Sinai itu dengan merangkak, berpegang pada tongkat kayu yang kau dapat dari lembah Kan’an? tetapi hingga selarut ini kau tidak muncul juga, apa yang terjadi padamu Mos? Apa kau tidak ingin datang memenuhi takdir yang telah aku tuliskan padamu?”

Walmiki duduk diatas batu padas di puncak gunung Sinai, angin menerbangkan jubah katunnya sesekali, raut wajahnya cemas, mulutnya tak berhenti meracau samar. Beberapa kali dilihat kitabnya yang tertutup, disitu telah selesai dia menuliskan takdir dirinya dan Moses hingga beberapa hari kedepan.

Benarkah dia tidak akan datang hari ini, harusnya dia beserta rombongannya sudah terlihat dari sebelah barat laut, berjalan terseok dengan pakaian lusuh bersama rombongan setelah melewati perjalanan tiga hari tanpa henti. Tetapi sampai matahari hampir terbenam, tak terlihat kepulan debu tanda kehadiran mereka.

“Dimana mereka?” Walmiki semakin tidak tenang dalam duduknya, pohon kering yang telah dituangainya dengan bensin bergoyang, tertiup angin dalam gelisah. Aroma bensin tercium  pudar.

“Mungkin terlalu cepat aku menuangkan bensin” batin Walmiki.

Tangan Walmiki dibentuknya menjadi seperti teropong, dari matanya yang mulai dihinggapi katarak tipis, dia memperhatikan seksama jalan setapak yang seharusnya sudah dilewati rombongan Moses. Tetapi alih-alih rombongan Moses yang lewat, burung pemakan bangkai pun tak ada yang terbang di atas jalan itu. Sepi, senyap, dan kosong. Jam tangan Moses menunjukkan pukul lima sore. Sebentar lagi gelap. Moses sudah pasti tidak lewat.

“Kemana gerangan anak itu?” Gusar Walmiki sambil terus melihat pohon kering yang terlihat paling menonjol diantara semak belukar dipuncak gunung. Dilihatnya kitab yang menjadi andalannya untuk mengendalikan takdir manusia, sebuah kitab yang didapatkannya dari Dewa Brahma setelah bersemedi selama 50 tahun di gua pegunungan Tibet. Didalam kitab itu terselip beberapa lembar kertas, sebuah teks tersendiri yang ditulis oleh Walmiki tentang kebijaksanaan dan kebajikan yang dia rangkum dari ucapan Resi Narada. Sebuah teks yang sejatinya akan dia berikan kepada Moses ketika berhasil menaiki puncak gunung Sinai ini. Seperti yang diskenariokan oleh Walmiki sendiri.

Kedatangan Walmiki ke gunung Sinai bukan juga tanpa alasan, atau sekedar ingin main-main dengan sebuah peristiwa yang akan menjadi sejarah besar yang mengubah pandangan spiritual kehidupan umat manusia, menjadi penikmat dan penonton bukanlah karakter Walmiki. Dia harus ambil bagian. Walmiki mengambil posisi duduk, memandang langit yang berpondasi gurun pasir. Remang-remang sudah menjalar sampai punggung gunung-gunung yang menonjol kaku, khusuk, tegap, dan dingin. Dalam duduknya Walmiki teringat tentang kisah Rama yang menjadi sumber petuah dalam teks yang telah disiapkannya itu. Begitu elegan, begitu khusyuk, dan begitu membius bicara Resi Narada pada waktu mengisahkanya. Angin menerpa jubah katunnya sekali lagi, kali ini sedikit membuatnya limbung.

Moses tetap masih belum terlihat, Walmiki berpikir bahwa dirinya harus berteleportasi lagi, menuju pergunungan yang dipenuhi pohon Mara, sebuah daerah terakhir yang menjadi pintu masuk untuk menuju ke arah pergunungan Sinai. Sekedar mengintip sudahkan Moses sampai disana, agar pikirannya tidak gusar meraba-raba. Tetapi sepertinya niatan itu diurungkannya, perhitungannya untuk menggunakan energi haruslah tepat, teleportasi dari sungai Gangga sampai disini telah menyita hampir tiga perempat tenaganya.

“Di perbukitan Mara. Ya. Di perbukitan Mara. Moses pastilah baru sampai disana saat ini” Kata Walmiki sembari mencari celah bebatuan yang bisa dia pergunakan untuk menjadi tempatnya berbaring, tidur menunggu kedatangan Moses.

*****

Di seberang jauh disana, Moses yang telah berhasil menghindari kejaran Firaun sudah tiba dipintu masuk perbukitan Mara. Perjalanan yang teramat jauh, memakan waktu hampir satu bulan utuh, sebuah perjalanan yang lambat, penuh tatih dan penuh rasa was-was. Beberapa puluh kilometer perjalanan dari tepian laut Merah telah mereka dapati, dan sebentar lagi sesudah menembus perbukitan Mara, Moses akan memerintahkan untuk mendirikan perkemahan sementara.

Di sana, dipintu keluar dari pergunungan itu ada dataran yang terdapat tujuh mata air yang akan cukup untuk anggota rombongannya. Tempat singgah sementara yang pas untuk menggumpulkan tenaga, merawat yang sakit untuk mempersiapkan perjalananya kembali.

Moses melangkahkan kaki memasukki mulut perbukitan. Gelap mulai berkuasa, obor-obor sudah dinyalakan, anak-anak kecil merapat kepada umi atau abinya. Binatang ternak mengembik berkali-kali. Gunung dalam langit maghrib ini tak ubahnya seperti sebuah gua. Laki-laki bersiaga, mengikuti Moses dari belakang dengan mata waspada.

Moses melangkah dengan hati-hati, diantara gelap memimpin rombongan membelah perbukitan Mara.

*****

Moses khusuk bersujud, rasa syukur dan takzimnya penuh penghambaan karena telah melihat kuasa Tuhan yang membelah dan menutup Laut Merah untuk menyelamatkannya dari kejaran perbudakan raja Mesir. Dalam kepasrahannya Moses membuka pikirannya, menjernihkan kesadarannya untuk lebih jelas mendengar sebuah pesan tentang apa yang harus dilakukan. Sebuah amanat untuk menggenapi sebuah janji, mengantarkan bangsanya menuju tanah yang dijanjikan Tuhan kepada Abraham, tanah Kanaan.

Sayup-sayup desir angin menyelinap, menembus batang pohon Mara yang tumbuh tidak teratur diperbukitan pasir dan berbatu dimana Moses sedang bersujud. Bintang-bintang semakin jelas menampakkan kerlipnya. Mendadak tubuh Moses bergetar, bulu tengkuknya berdiri, tubuhnya sekonyong-konyong seperti dilingkupi oleh hawa dingin, Moses tetap mempertahankan diri dalam sujudnya, menikmati sensasi yang datang dengan begitu hebatnya. Sebuah pengalaman atas kepasrahan. Getaran tubuh Moses semakin menghebat, merambat hingga sampai batu kerikil disekelilingnya, kesadarannya mulai memudar, distorsi-distorsi kilatan kejadian-kejadian bersliweran dalam pikirannya. Moses tersungkur, roboh tak mampu lagi menahan tubuhnya, kesadarannya.

*****

Di tengah-tengah pepohonan Mara, Moses berdiri pada sebuah gunudukan batu padas yang cukup untuk dirinya dilihat oleh rombongan, sesaat dia memandang rombongannya yang sedang menunggu khotbahnya. Dilihatnya wajah-wajah lelah namun masih kokoh menyimpan harapan, wajah-wajah renta, wajah yang telah terbiasa menahan rasa sakit, perempuan-perempuan dengan bayi menyusu di teteknya, anak-anak kecil yang berlari, binatang ternak yang tertambat pada pasak-pasak.

“Wahai saudaraku! Kaumku! Bani Israel yang mana Allah telah memerintahku pada suatu malam untuk menjadi Rasul bagi kalian. Wahai kalian pengikut ajaran Abraham! Perjalanan ini bukanlah keinginan kita, tetapi kuasa Allah yang menggerakkan jiwa dan kaki kita untuk lepas dari kekejaman dan kedzaliman. Aku kembali lagi ke Mesir untuk menjemput kalian wahai kaumku! Kutinggalkan kemewahan dan kedudukan di sisi Firaun agar bisa menghantarkan kalian pulang! Kembali ke tanah air kita yang sebenarnya! Tanah yang dijanjikan Allah kepada Abraham! Tanah yang dijanjikan! Tanah Kanaan!”

Mereka mendengar dengan khidmat, sebagian lagi bersorak mengangkat tangannya, bertepuk tangan, berpelukan dan sebagian lagi menghapus air matanya.

“Malam lalu, aku mendapatkan gambaran tentang apa yang harus aku lakukan selanjutnya! Disana!”

Tangan Moses menunjuk kepada gunung Sinai yang tepat berada di depannya. Mata rombongan ikut menoleh, mengikuti arah tangan Moses. Gunung Sinai! Salah satu gunung diantara gunung-gunung yang berjajar itu.

“Tengah malam nanti aku akan menaikinya”

Sejenak mata mereka kembali menatap Moses. Rasa khawatir mereka mulai muncul, adakah rencana untuk menaiki gunung itu bersama-sama, cukuplah sudah perjalanan jauh ini berlalu tanpa harus mendaki curamnya gunung itu. Mereka kasak-kusuk saling memastikan, bukan tak percaya kepada Moses atas kepemimpinannya dalam membawa mereka keluar dari Mesir, tetapi, rasa lelah itu sudah mendapatkan rumahnya untuk istrahat malam ini.

Moses mendengar kekhawatiran rombongannya.

“Sendirian” lanjut Moses.

“Sebentar lagi kita akan sampai di ujung perbukitan Mara, disana terdapat tanah lapang dengan tujuh mata air dalam setiap penjurunya. Dirikan tenda! Tambatkan binatang ternak! beristirahatlah selagi aku menaiki gunung Sinai nanti” Kata Moses sambil menuruni batu padas, berputar untuk melanjutkan perjalannnya, beberapa ratus meter lagi, disebelah barat padang gurun Sin, tanah lapang untuk rombongan Moses telah menunggu.

Dan tidak perlu waktu yang lama, mereka telah tiba di dataran itu, membangun tenda-tenda dan membuat api unggun, membuat dapur umum dan menambatkan binatang ternak. Mereka beristirahat, merebahkan kelelahan sementara. Besok malam adalah hari besar, untuk Moses dan kaumnnya.

*****

Matahari perlahan menghilang dalam garis cakrawala, semburat warna orange kemerahan berlatar biru tua tampak begitu cantik, gugus-gugus bintang galaxi Bima Sakti mulai berkelip malu, menata diri pada tempat semestinya. Moses berdiri, menatap wajah gunung Sinai yang menjulang kokoh dihadapannya. Cahaya dari sisa matahari masih dapat mengenai gunung yang tengah malam nanti akan dia daki seorang diri. Menggenapi salah satu janji yang dia dengar dari gambaran-gambaran mistis disetiap sujudnya selama ini. Gunung itu sudah menantang di depan matanya, Moses menghitung dengan cermat setiap langkah dan keputusannya.

Tepat saat rembulan mulai berada hampir ditengah kepalanya, Moses mulai melangkah memasuki kaki gunung Sinai. Bebatuan kecil dan besar, kelokan-kelokan dengan sudut kemiringan yang berbeda-beda menyambutnya. Dengan teguh Moses melewatinya inci demi inci. Pijakannya haruslah mantap, bebatuan kecil dan kerikil adalah dasar dari jalurnya.

Sedang rombongannya yang dibawah melihat dengan seksama, memperhatikan titik api obor yang semakin lama semakin mengecil, bahkan kadang menghilang tertutup oleh batu besar yang harus dilewati Moses dalam rutenya.

“Apa yang akan terjadi malam ini?” tanya Tobiah.         

“Aku tidak tahu, tapi aku percaya kepada Moses bahwa dia tidaklah gila” Jawab laki-laki disampingnya yang masih terpaku menatap titik api dari obor yang dibawa Moses.

Tobiah mengangguk, meski tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan tetapi setidaknya ada sebagian orang yang percaya seperti dirinya bahwa Moses tidaklah gila untuk menaiki gunung Sinai tengah malam seperti ini.

“Semoga Moses tidak mati terkena bisa ular derik atau sengatan kalajengking, kita masih membutuhkannya untuk membuktikan tergenapinya janji kepada kaum kita” sebuah suara lainnya ikut serta menjawab. Dalam kegelapan Tobiah tidak bisa melihat siapa yang berkata seperti itu, meski yang berdiri dan menunggui Moses dari perkemahan tidaklah cukup banyak, tetapi tampaknya tidaklah mudah mencari asal suara dalam kegelapan dan dengan wajah-wajah yang kaku menatap pada satu titik.

“Sudah selayaknya Moses mendapatkan tempat yang layak di hati kita, usaha kerasnya haruslah dibayar dengan sesuatu yang lebih. Dia layak menjadi Tuhan di dunia dan Tuhan Langit biarlah tetap di atas sana” Suara yang sama muncul lagi. Memecah kesunyian.

“Siapa yang barusan berkata? Siapa kamu berani berkata untuk memper-Tuhankan Moses” tanya Tobiah dengan nada menghardik.

Tidak ada jawaban, mereka saling melihat, mencari siapa kiranya yang berkata.

“Semoga saja nanti bukanlah tipu muslihat dari Iblis yang akan ditemui Moses di atas sana. Membelokkan pandangan Moses terhadap dirinya, membelokkan kita pada ajaran yang lurus, ajaran yang telah diajarkan oleh nenek moyang kita melalui Abraham!” suara itu muncul lagi, suara yang berat dan serak. Tobiah berjalan, mencari dimana asal suara itu dari dalam kumpulan rombongan yang berdiri melihat dan menunggu Moses.

Angkasa penuh dengan bintang. Meski tak sepenuhnya bersih karena di ujung barat awan Kolumusnimbus merangkak pelan menuju kearah pergunungan. Sinar bulan terpendar, seakan bermurah hati kepada Moses untuk lebih mudah menentukan langkahnya. Meskipun suluh sudah dalam genggaman tangan Moses.

Perjalanan menuju gunung Sinai lebih berat dari perkiraannya. Kemiringan gunung yang sepertinya cukup mudah untuk didaki sepertinya hanya ilusi mata saat melihatnya dari perkemahan. Vegetasi ternyata tidak hanya berupa perdu kering, ada beberapa akasia gurun, tyme, dan kaktus terpencar disisi lain. Tidak ada jalur teduh untuknya menaiki gunung ini jika dilakukan disiang hari, mungkin ini salah satu kemurahan Allah kepadaku! Batin Moses dalam dengus lelahnya.

Peluh keringat kali ini begitu lebat, membanjiri jubah putih yang telah berubah menjadi kecoklatan karena terpaan tanah dan pasir gurun selama perjalanan. Tidak ada pakaian khusus yang dia sediakan untuk acara ini.

Terompahnya terasa merepotkan, terlebih suluh yang dibawanya membuatnya tidak lincah dalam mencari pegangan pada saat dibutuhkan. Beberapa kali Moses terlihat jalannya terseok-seok, nafasnya terengah-engah.

Bebatuan kasar dijadikannya tempat duduk sementara, pendakian ini hampir membuatnya semaput, adaptasi jantung dan paru-parunya sedang bekerja untuk medan menanjak seperti ini. Di insafinya bahwa dia haruslah mengumpulkan tenaga dan membiarkan tubuhnya terbiasa dengan aklimasi yang berbeda, atau dia akan berjalan tanpa keseimbangan nanti.

“Aku adalah Rasul mereka, tak bolehlah aku menyerah dan selemah ini” desis Moses disela hembusan nafasnya yang sekarang lebih banyak kandungan karbondioksidanya. Matanya melihat sekitar kemudian berhenti di tempat dimana rombongannya berkemah, meski dari kejauhan tampaklah beberapa orang yang sedang memperhatikan dia, berkumpul membentuk suatu barisan yang tidak rapi.

Setelah beberapa saat Moses beristirahat, dia berdiri. Melanjutkan perjalanannya setelah sekiranya dirasa cukup istirahat. Langkah Moses kembali kuat, pijakannya mantap, sebentar lagi Moses akan sampai dipersimpangan terakhir sebelum sampai di puncak gunung.

Braaaaaaakk…..Srrrrttttttt….!!!!

Tubuh Moses melesat, terhempas jatuh mengikuti hukum gravitasi. Berguling jatuh ke bawah bersama dengan kerikil dan bebatuan. Semuanya gelap, suluh sudah lepas dari genggaman. Dengan sigap Moses mencari tambatan dengan kaki dan jemari tanggannya, meraih sesuatu yang bisa dijadikan tempat mengaitkan jari-jarinya. Beberapa kerikil dan batu ukuran genggaman dua tangan menimpa kepala Moses. Pasir yang masuk membuat matanya perih dan kerongkongannya menjadi tersekat.

Perlahan, kesadarannya kembali normal. Pelarian diri dari kejaran Firaun telah mentakdirkannya kepada gunung Sinai ini. Perjalanan ini tidaklah boleh berhenti di tengah jalan, tidak boleh menyerah sebelum dia menemukan jawaban atas bisikan dalam sujud khusuknya di perbukitan Mara pada malam itu.

Kakinya kini mencoba mencari pijakan batu yang lebih mantap, tangannya meraba-raba, mencari celah untuk dirinya menambatkan kekuatan agar lekas berdiri tegap di curamnya tebing tempat dia terperosok tadi.

Rasa perih dibeberapa bagian distal tubuhnya mulai terasa. Beberapa luka gores akibat bergesekan dengan kerikil dan batu sepertinya bukan hal yang penting lagi baginya, luka-luka kecil ini tidak ada apa-apanya dengan lecutan penjaga-penjaga tahanan Firaun yang membabi buta saat mencambuk dirinya. Menghukumnya karena telah berani mengingkari bahwa Firaun rajanya adalah Tuhan Raja semesta. Setiap malam sebelum berhasil lolos dan kemudian kabur ke Yaman, tubuh Moses selalu didera duaratus cambukan pada punggung dan dada.

Moses terus merangkak.

“Aku tidak akan mati malam ini dengan cara semurah ini”.

Mendung menggelayut. Petir tiba-tiba menyambar, gelegar demi gelegar mengisi kesunyian Moses.

“Jangan hujan dulu” rintih Moses sembari mengangkat tubuhnya yang miring bersandar pada badan tebing. Suluhnya telah lenyap, mati terpelanting. Harapan sebagai sumber cahaya yang menuntunnya kini tinggal rembulan. Tetapi sepertinya sebentar lagi harapan itu akan tertutup oleh gumpalan awan tebal yang telah mencapai tepiannya.

*****

Bintang memudar, dan begitu juga rembulan. Suara rintihan itu semakin nyaring terdengar oleh pikirannya sendiri. Dengungan tidak biasa merambat di telinganya, penglihatannya semakin buram, nafasnya memburu, jemari tangannya mencengkram tanah di puncak gunung Sinai. Gemuruh guntur menggelegar bersahutan, dentuman demi dentuman, kilatan demi kilatan cahaya menjalar membentuk garis akar cahaya digelap langit. Halilintar beberapa kali menukik turun, acak, mengerikan.

Gemuruh petir terdengar, angin membawa udara dingin disertai bulir-bulir air menerpa wajah Moses.

Hamparan rumput liar dengan sebuah pohon akasia gurun bercampur dengan bebatuan tampak terhampar di depan mata Moses, akhirnya sampai juga di ujung pendakian yang melelahkan ini. Berjalan setengah berlari akhirnya moses telah sampai di tengah hamparan datar di puncak gunung. Matanya melihat sekeliling awas, meski dalam kegelapan dia merasa dirinya bukanlah satu-satunya yang sedang berada di puncak gunung Sinai ini.

“Aku sudah disini, menggenapi panggilan-Mu!” teriak Moses sambil merentangkan tangannya, wajahnya mendongak ke atas.

*****

“Blaaaaarrrrr!!!”. Pohon di sampingnya tiba-tiba terbakar, seperti meledak. Moses mundur beberapa langkah, terkejut, meski akhirnya roboh terkena hempasan dari gelombang angin yang dihasilkan oleh ledakan tadi. Api dengan cepat merambat menuju ujung-ujung ranting, membakar daun-daun kering, seperti sumbu dengan bubuk mesiu.

Dengan sigap Moses kembali mengambil posisi duduk kemudian berdiri, keyakinannya tak memperbolehkan dirinya merasa lemah hanya karena terkejut oleh ledakan dan nyala api yang tiba-tiba membakar pohon disampingnya.

“Inikah kuasa-Nya? Apa yang hendak Dia Sampaikan?” Suara Moses tertahan.

“Apa yang Kau Inginkan!” kali ini suara Moses tidak lagi tertahan, keberaniannya muncul, tidak ada rasa ketakutan dan kekerdilan dirinya setelah beberapa hal diluar nalar dipertunjukkan kepada dirinya selama perjalanan.

Matanya berkeliling, mencari sosok yang mungkin saja akan muncul dari arah yang tak di duga-duga. Telingannya mencoba mencari-cari, awas mendengar pergerakan sekecil apapun termasuk suara percikan api yang membakar ranting kering.

Tiba-tiba muncul dentuman yang menggelegar, mengagetkan Moses dalam pencariannya. Angin bertiup lebih kencang dari yang sudah-sudah, gelegar petir semakin menjadi-jadi. Bumi bergerak. Moses limbung. Terdengar suara-suara berbisik, berguman, merambat hingga terdengar mengerikan, suara mereka berat, suara-suara itu, bukan ratusan, ribuan, jutaan, tapi tak terhingga, mendengungkan sebuah Nama.

Sekerjap sebuah Cahaya menyilaukan muncul di hadapan Moses, berpendar, teramat terang untuk dapat diterima oleh matanya. Dengan sigap juga Moses menutup matanya. Tetapi naas, cahaya itu masih dapat menembus selaput tipis kelopak matanya, hingga akhirnya dia menutup kedua matanya dengan lengannya. Tubuhnya tiba-tiba menjadi berat, persendiannya melemah, seakan mencair hingga tidak ada lagi bagian yang mampu menegakkan ruas tubuhnya. Suara-suara itu semakin keras dan cepat, memenuhi pendengaran Moses.

Moses menyadari sistem indrawi lainnya berangsur melemah, hanya saja kesadarannya masih ada. Hingga akhirnya keterbatasan tubuh dan mentalnya luruh. Moses hilang dalam dunia alam bawah sadarnya. Tubuh dalam alam bawah sadarnya tersedot mampat kemudian terbang berputar-putar dalam ruang yang penuh cahaya berkilauan.

Adrenalin dan Endhorpin Moses bekerja sangat cepat, menjalari sekujur tubuhnya, merambat melalui sel-sel saraf dan pembuluh darahnya yang membelitnya seperti akar. Raga alam bawah sadar Moses bergerak menuju ke arah cahaya yang mencalak, persis seperti cahaya yang dilihatnya sebelum pingsan tadi. Cahaya itu semakin membesar, semakin terang dan mendistorsi menjadi beberapa cahaya yang berkilat kemilauan. Sebentar kemudian dia terhisap lagi, kali ini lebih cepat. Tubuhnya terasa sangat mampat dan berat, sejurus kemudian dia menghilang. Tak sadarkan diri dalam alam bawah sadarnya.

Bahkan Walmiki sekarang tidak lagi percaya kepada kitabnya sendiri. Tubuh Walimiki ikut bergetar, sendi-sendi di tubuhnya seakan rontok, badannya ambruk beberapa kali saat cahaya itu muncul. Tak disangkanya hal seperti ini akan dia alami untuk kedua kalinya, pengalaman aneh yang kuat seperti pada saat dirinya didatangi oleh Dewa Brahma dalam meditasinya. Dia ingin keluar, menampakkan diri dan ikut serta menjadi bagian dari peristiwa agung ini, tetapi ada kekuatan yang menahannya, kekuatan dari dalam dirinya agar dia tidak muncul dan mengganggu kesakralan perjalanan spiritual yang sepertinya memang khusus diberikan kepada Moses. Walmiki terkapar, roboh, hanya kepalanya yang masih mendongak untuk terus melihat apa yang sedang terjadi. Itulah sisa-sisa tenaga yang digunakan oleh Walmiki, meski akhirnya dia ikut tak sadarkan diri. Rintik hujan mulai turun dan membasahi tanah. Api pada pohon masih menyala, bergoyang meliuk-liuk dalam hujaman air hujan dan terpaan angin. Walmiki dan Moses masih dalam posisinya, terbaring dalam ketidaksadaran.

*****

Angin berhembus lembut, mendung sisa hujan semalam masih menggantung meski tak setebal sebelumnya. Jemari Moses bergerak pelan, kesadaran sepertinya telah kembali hingga dalam kepala Moses. Setelah beberapa saat, sekonyong-konyong Moses mencoba berdiri, meski beberapa kali terlihat akan jatuh pada akhirnya dia berhasil berdiri dengan sempurna. Dalam pelan membuka mata, Moses mencoba merasai kehadirannya, kejadian semalam yang dialaminya, atau ingatan apa saja yang mungkin bisa diolahnya untuk menjawab kenapa dirinya bisa berada di tempat seperti ini.

Cahaya itu telah menghilang disertai dengan munculnya rintik hujan, Moses menatap jauh ke angkasa, searah dengan kemana Cahaya itu terakhir kali terlihat. Meski dirinya tidak melihat secara langsung dengan mata jasmaninya. Dia masih bisa merasakan gelombang energi yang tersisa dari Cahaya berkilau itu.

Moses menatap langit yang mulai pagi, burung-burung terbang menuju ke arah barat, sesekali berputar di gunung, asap dari sisa pohon yang terbakar masih mengepul meski tidak setebal sebelumnya. Dari puncak gunung, Moses bisa melihat hamparan gurun-gurun pasir dan teluk-teluk. Gunung dan gunung-gunung bermandikan cahaya keemasan diterpa cahaya cakrawala.

Sebuah batu berwarna kehijauan, dengan tulisan terukir indah tertancap dihadapan Moses. Dengan seksama diamatinya lempengan batu itu, diangkatnya dan diamatinya dengan seksama setiap ukiran yang tergores.

Sekarang nampaklah bahwa tulisan itu berisi 10 perintah kepada dirinya terutama kaumnya. Sepuluh perintah yang menjadi puncak dari segala kejadian ganjil dan mengerikan semalam. Dibacanya satu-satu, dan dia haruslah bersiap diri untuk turun dan mengabarkan apa yang dia dapatkan.

 “ Yawat Sthasyanti Girayah Saritas Qa Mahitele
Tawat Ramayanakatha Lokequ Pragarissyati”

“Selama gunung-gunung berdiri tegak dan air sungai masih mengalir ria, maka kisah Ramayana tiada ‘kan sirna”

Sebuah suara tiba-tiba mengagetkan Moses.

“Siapa itu?” tanya Moses sambil melihat sekeliling. Dirinya terkejut melihat sosok tua dengan jubah putih, berdiri disamping pohon yang semalam terbakar. Tangan kirinya mengelus jenggotnya yang panjang terburai, sedang tangan kanannya memegang sebuah kitab.

“Siapa engkau?” Moses mengamati gerak laki-laki tua yang tak lain adalah Walmiki. Walmiki dengan tenangnya berjalan mendekat ke arah Moses. Wajahnya tampak tenang, meski semalam dirinya baru saja mengalami peristiwa yang dahsyat.

“Belajarlah tentang Nitisastra, ajaran kepemimpinan dengan Catur Pariksa, Astabrata, Pancadasa Paramiteng Prabhu, Sadvarnaning Nrpati, Panca Upaya Sandhi dan Navanatyakata Walmiki.

“Apa itu?” Moses dengan cepat bertanya, sebuah kata-kata yang baru pertama didengarnya, sebuah kata yang sepertinya bukan berasal dari bahasa masyarakat semenjanjung Arab. Mata Moses terus mengamati gerak-gerik Walmiki.

“Suatu saat kau dalam takdirmu akan menjadi pemimpin kaummu menguasai tanah Kanaan. Menggenapi janji yang telah kau sendiri tahu. Hanya saja, sebagai pemimpin kau tentunya tidak akan berlaku seperti Firaun dalam memerintah rakyatnya. Membangun suatu bangsa dalam tanah baru bukanlah perkara mudah, kau akan mengatur rakyatmu. Batu yang kau pegang itu jadikanlah dasar dalam kau meletakkan nilai-nilai kehidupan. Berlakulah adil, terhadap siapapun” Walmiki duduk, memandang Moses yang sepertinya masih terheran-heran.

“Pertanyaanku saja tidak kau jawab, bagaimana aku bisa mendengarkan kata-katamu meski benar adanya?” Timpal Moses.

Pohon disampingnya masih mengeluarkan asap yang tebal, bergolak menari diterpa angin kencang yang seakan tak ingin tertinggal untuk acara pertemuan antara Walmiki dan Moses ini, mendesis, meliuk-liuk menyusuri setiap lekukan gunung.

“Sebentar, bukankah terlalu kaku dan aneh jika tiba-tiba Walmiki muncul dalam peristiwa sakral seperti ini? Ditambah kau hanya akan merusak cerita yang telah orang percayai kebenarannya selama beratus-ratus tahun” Sukab berhenti membaca tulisan yang disodorkan oleh Seno.

Seno memandang kembali tulisannya yang sekarang digenggam oleh Sukab, memang dia akui dia tidak mengulang membaca tulisan yang ditulisnya, baginya mengulang membaca tulisan yang ditulis sendiri hanya membawa kesia-siaan. Diambilnya posisi yang nyaman, menggeser kurisnya duduk di sebelah Sukab yang sedang menopang dagu berpikir dalam.

“Lanjutkan lagi apa yang kau temukan Kab?” Kata Seno setelah mendapatkan posisi yang nyaman.

“Aku rasai ada waktu yang janggal saat Moses membawa bani Israel ini dengan perginya Moses ke gunung Sinai No”.

Seno mengangguk-angguk, memang rasanya ada yang aneh dan tidak pas, tetapi dia sendiri tidak tahu dimana yang aneh itu didalam ceritanya.

“Lanjutkan saja membacamu Kab, siapa tahu setelah selesai kau bisa menemui apa yang aneh dari cerita ini.”

“Baiklah, jika sekiranya begitu menurutmu”

Badai gurun dan kelaparan dalam perjalanan, semua penderitaan rasanya sudah dia akrabi dalam perjalanan waktu pengasingan dirinya. Perjalanan jauh yang harus dilalui hingga mengantarkan dirinya sampai di laur Merah.

Sebuah dataran yang dipenuhi oleh sungai-sungai yang di dalamnya mengalir susu dan madu, buah kurma dan tien.

“Ada sebuah alasan Kab, ada sebuah rancangan yang terasa begitu kebetulan. Tentang orang-orang yang terpilih untuk menjadi penggembala, menjadi martir revolusioner yang menggubah tatanan kehidupan manusia. Penerimaan akan merubah segalanya, begitu juga dengan penolakan. Hanya saja, mereka yang menolak adalah mereka yang tidak akan pernah tercatat dalam sejarah umat manusia” jawab Sukab sembari menuangkan kopi kedalam cangkirnya yang telah kosong.

Regina Scientiarum

Hasil gambar untuk Regina Scientiarum

Descartes, lelaki berambut gondrong mirip Slash Gun n Roses itu terus saja menggaruk-garuk kepalanya, aku tidak tahu pasti apa yang dipikirkannya, mungkin saja tentang ketidakhabis pikir dia terhadap Galen. Dia baru saja mengobrol dengan Galen sebelum Galen pergi lima menit yang lalu. Hujan belum reda benar, dan malam masih panjang.

“Ya mana aku tahu soal fisiologi eksperimental, dasar bedebah tua” gerutu Descartes sembari tetap menggaruk-garuk kepalanya.

Aku tersenyum melihat tingkah Descartes, memang menyebalkan ketika kita masuk ke dunia yang berbeda dan kita dibebani pembicaraan yang tidak masuk di perhatian akal kita. Saya mengerti susahnya seorang matematikawan Prancis seperti Descartes ini saat diajak berbicara tentang homeostasis, neurotransmiter, katekolamin dan hormon. Begitu juga  tentu sebaliknya jika saja tadi Descartes mau membahas tentang matematika, tentu Galen akan meremas-remas kepalanya juga, tetapi hal itu tidak dia lakukan, karena dia tahu bahwa Galen tidak akan pernah mau peduli. Memang pantas saja Galen dijuluki oleh kawan-kawan diskusinya di sini sebagai bedebah tua. Meski bukanlah yang paling tua sendiri dilingkaran diskusinya, tetapi sikap kaku dan kolotnya membuat dia dijuluki si bedebah tua.

*****

“Memang apa menariknya fisiologi eksperimental, toh tetap saja selalu ada matematika didalamnya, siapa yang akan membantu menjelaskan tentang perhitungan energi dalam siklus kreb, siapa yang akan membantu menghitung jumlah replikasi sel, dan perhitungan lain di biologi, siapa selain matematika?”

“Regina Scientiarum!!” Teriak Descartes sembari mengangkat gelas birnya dan mendongak ke atas, memandang langit, mencari Tuhan. Aku hanya tersenyum saja, kemudian menenggak bir yang kupesan. Kuputuskan malam ini keluar dari ruang diskusi untuk menyusul Descartes yang pasti memilih nongkrong di DasKap Cafe milik Marx saat emosinya sedang tidak stabil.

“Tapi bagaimana menurutmu jika pernyataan Einstein muncul untuk membalas pernyataanku?”  tanya Descartes sambil memandangku tajam.

“Pernyataan yang mana?” tanyaku sambil meletakkan botol bir di meja.

“Pernyataan tentang sejauh hukum-hukum matematika yang merujuk kepada kenyataan? Tentang matematika tidaklah pasti; dan sejauh mereka pasti, mereka tidak merujuk kepada kenyataan.”  Terkaku.

“Ya, Jika sebagian besar teori matematika, yang salah satunya matematika biologi adalah bentuk hasil hipotesis-duktif: maka hipotesis-hipotesis dari ilmu biologi sebenarnya adalah dugaan saja bukan?……lebih daripada sebagai hal yang baru”. Lanjutnya, dan tiba-tiba saja seluruh tubuhnya terlihat melemas, sepertinya pertanyaan ini menggerogoti kekuatan sendinya. Sepertinya pernyataan Einstein memang menghantam pemikiran-pemikirannya tentang matematika yang selama ini dipelajari dan dituliskannya dalam Discours de la méthode.

“Des, sebenarnya memang cukup berat bagiku untuk berkata bahwa bukan perkara ternyata menemukan biologi adalah ilmu yang konjektur, tetapi lebih menyedihkan lagi bahwa sebenarnya matematika tidak berguna, tidaklah eksis secara nyata, hanya membangun kebenaran melalui metode deduksi yang ketat turunan dari aksioma-aksioma dan definisi yang berkesesuaian saja” kataku sambil mengamit sebatang rokok dari dalam bungkusnya. Aku sudah siap dengan ekspresi yang akan ditampilkan oleh Descartes.

“Lalu untuk apa?” tanya Descartes dengan tangan memijat-mijat keningnya. Ada kengerian yang kulihat dari sosok matanya.

Descartes melirik ke meja sebelah kanannya, sedang duduk berbicara disitu kulihat Mangun dan Magnus, mahasiswa tingkat akhir dari salah satu Universitas ternama  di Jogjakarta, sedang sibuk dari tadi membahas dehumanisme yang dilakukan pemerintah Indonesia. Memang di setiap akhir pekan, mereka sering datang ke cafe ini, mereka adalah pemuda asli Solo yang sedang menempuh pendidikan di kota Gudeg, dalam beberapa bulan terakhir ini mereka lebih sering nongkrong di cafe ini. Itulah yang kudengar dari beberapa karyawan cafe yang kudengar.

Dan sepertinya Descartes tidak tertarik sedikitpun pada pembahasan mereka.

Toh ujung-ujungnya mereka juga akan mencari statistika untuk menjawab probabilitas pengulangan sejarah sosial, matematika juga toh yang akan mereka butuhkan nantinya terlepas dari teori yang berbusa-busa dari omongan yang mereka ucapkan. Mereka akan membutuhkan suatu kepastian bentuk untuk mendukung hipotesa yang mereka temukan”  Gumam Descartes.

Aku tersenyum, sepertinya Descartes sahabatku sedari semester satu ini memang tidak mau menyerah untuk tetap mencintai agama junjungannya, Rasional Matematis.

 

– PSILOCYBE –

Hasil gambar untuk psilocybin photo

Perjalanan ini di luar yang pernah aku harapkan, perjalanan yang jauh dan hampir merenggut kehidupanku.

Aku harus ke pantai itu, mencari kebenaran yang dia tenggelamkan dalam buih-buih yang memudar bersama datangnya pagi.

Semua ini tentang koneksi? bagaimana kita bisa menjadi satu, bersetubuh dalam pikiran yang berulang. Meski pada akhirnya aku menemukan sedikit celah. Agar bisa tetap mengintip kenyataan yang telah terbuang di entah mana. Aku melihat kecacatan perbedaan.

Anjing-anjing duduk, menunggu. Mengendus.

Aku masih berjalan menuju pantai, mencari kebenaran yang direnggut entah kapan.

Aku belum tidur, atau aku sudah mati.

Asap dupa selalu disiapkan pada pagi hari. Sesudah seruan adzan yang samar kudengar. Ini bukan kebenaran.

Mataku semakin rancu, jarak ini harusnya tidak sejauh ini. Pendegaranku juga sudah mulai rusak sejak tadi pagi, kudengar semua persetubuhan. Bahkan ayam berkokok tak ubahnya suara desahan perempuan binal yang menantang.

Semua aroma kembali kepada dupa, kebenaran adalah asap dupa.

Semua sudah tidak lagi nyata. Aku tidak sedang bermimpi. Apakah benar mimpi tidak terdapat aroma.

Ah sial, aku harus tetap kepantai.

Semalam aku sudah menjadi Nietzsch, dan itu membuatku tertekan. Bukan kebanggaan yang aku dapatkan, tetapi semua teoriku ditendangnya mentah-mentah. Kant yang dungu telah berdiri dengan sombongnya, dialah kebenaran yang telah dikucilkan oleh realitas semu otak manusia. Kebenaran dimenangkan oleh Kant. Hingga beberapa kali tanganku ku sundut rokok karena aku tak mau ini adalah kebenaran. Aku masih bermimpi.

“Lihatlah kembali agama Hindu” bisiknya terdengar mistik.

Agama yang paling tua didunia ini. Bahkan sebelumnya, aku mengucilkannya.

Betapa dia mengerti tentang kemabiguan kebenaran dan realitas.

Aku bertemu dengan Gautama, dia adalah Allah, dia adalah Yesus, dia adalah Muhammad, dia adalah aku sendiri. Semua yang ada di dunia ini adalah satu. Aku pergi kesemua masa, kesemua waktu. Aku adalah Ayu Utami itu sendiri, yang menggenapi diri dengan pergumulan di kamar sebelahku. Menggenapi takdir alam bawah sadar dengan laki-laki itu.

Siapa yang tahu kebenaran. Aku harus ke pantai itu.

Anjing masih duduk di depan pintu gerbang, semua  terulang kembali, perjalanan ke pantai terasa semakin jauh. Kulihat kakiku tetap melangkah. Ini ilusi.

Kucoba meraih handphone dan buku yang aku tulis. Aku belum membukanya kembali sebelum terakhir kali aku menulisinya. Aku menghubungi dirinya, anjing dari masa lalu. Tidak terangkat, tidak tersambung.

Aku tersadar, dia sedang berada di Lombok juga. Aku telah pergi kesuatu tempat yang pararel. Aku maju kemasa lalu, atau masa lalu yang datang kepadaku, siapa yang bergerak. Aku merindukan Einstein dengan toiletnya, aku menyadari semua berulang. Karmakah ? Budha tolong jelaskan padaku.

Jelaskan bahwa aku bertemu dengan mereka yang terjebak denganku seperti ini, aku berbicara tentang connection. Kami disini terhubung. Dewi Lestari yang menjadi Hindu. Ayu Utami, Einstein, John Lennon, Murakami, Bob Marley……kami bertemu, berbicara, merindukan dan satu. Mereka adalah aku, aku adalah mereka dalam satu waktu. Lagu-lagu itu, aku yang membuatnya, kami yang membuatnya, semua lagu, semua tulisan, semua yang terjadi sebelum buku-buku dan album itu dilahirkan, kami menjalani bersama dalam tubuh yang berbeda.

Lalu dimana kebenaran waktu saat ini, dimana aku, dimana mereka yang sadar dan benar?

Aku harus menghubungi Alex, dialah manusia yang bisa mengerti apa yang aku bicarakan.

Ya aku menelponya pagi buta, ditengah semua mata yang memperhatikan, mungkin aku sudah benar gila oleh pandangan mereka.

Gila apa yang aku lakukan, aku tidak melakukan sesuatu yang mencolok ?

Sebisa mungkin aku sudah membuat semua ini normal, Atau mereka yang gila. Persetan, mungkin kali ini aku yang tetap ingin dalam sebuah kerumunan. Pengecutkah.

“Hei, kau tidak pernah tahu apa yang sedang kau lakukan saat ini, kau tidak memiliki kesadaran itu, kau tidak tahu sendiri secara pasti, kau dalam sebuah mimpi atau dalam kenyataan” suara itu datang lagi.

“Kebenaran adalah ilusi, kosong adalah isi, isi adalah kosong, kau mendengarnya berulang kali bukan”

Ah, aku harus tetap sadar, dimana aku sekarang. Aku tidak bermimpi aku hanya terjebak dalam kebingungan antara sadar dan mimpi.

Aku berhasil menelfonya, menceritakan apa yang aku rasakan, sekaligus berpamitan jika aku sebenarnya sudah mati. Tadi malam aku mati. Mungkin saja.

Aku tetap melanjutkan perjalanan ke Pantai, semoga kebenaran belum mati.

Pagi hanya harapanku, menjadi batas bahwa aku harus segera kabur dari keadaan yang membuatku semakin tertekan.

Dupa meruap udara menjadi mistis, aku semakin mabuk, udara yang kukenal, aroma ganja.

Aku lekas bergegas, pantai, ada udara bersih disana.

Kebenaran. Menungguku atau mungkin membunuhku.

Kuta / Agustus 2014

AKU MENUNGGU HUJAN REDA

Gambar terkait

Aku menunggu reda hujan yang datang tidak tepat waktu seperti biasanya. Aku duduk, memandang teh hangat seduhan penjual HIK yang sudah cukup renta, otot-ototnya terlihat terlatih, mungkin pagi harinya dia adalah buruh tani di selatan desa, sedang sore hari seperti ini membuka hidangan pada para buruh sepertiku yang sedang balik kerja.

Aku menunggu hujan reda, di barat sana istriku sedang menungguku, sedang khawatir tentangku yang barangkali kehujanan dan tidak mampu menemukan tempat berteduh. Mantol lupa dimasukkan kedalam jok bagasi sepeda motorku. Sedang gelegar halilintar terus memburu, seakan ini waktunya untuk berjibaku terhadap musim yang tidak menentu.

Aku menunggu hujan reda, untuk lekas pulang, lekas bertemu dengan anakku yang sedang bersemayam nyaman di garba perut buncit istriku. Kali ini begitu rindu aku untuk mendendangkannya surat Maryam atau Yusuf, meski tiap malam sehabis maghrib selalu begitu. Aku rindu mencium perut buncit itu, meraba-raba tonjolan kecil yang dibilang dokter bahwa itu dirimu anakku.

Aku menunggu hujan reda, bukan aku tak berani nekat seperti dulu untuk terus berjalan tanpa peduli tentang pedihnya tetesan air yang menghantam wajahku, tidak, aku tidak setakut itu meski usia semakin memakan fisikku. Aku hanya lebih berhati-hati terhadap kondisiku, karena di pundakku sudah ada ibu dan dirimu anakku, sedang dipunggungku ada tanggung jawab untuk selalu kuat dan tetap kokoh lurus untukmu dan ibumu.

Dan dalam hujan seperti ini akhirnya aku mengerti, bahwa bapakku yang tak banyak bicara itu telah mengajarkanku dalam diamnya tentan bagaimana menjadi seorang ayah sesungguhnya. Tak banyak mengerti dan tahu tentang apa itu cinta, tetapi dalam diamnya dia menunjukkan makna.

Aku menunggu hujan reda, dengan secangkir teh hangat aku duduk dan terus berharap langit tak lagi berwarna rata abu-abu. Aku ingat kala kecil, dimana bapak marah kepada ibu karena berkata bahwa hujan saat langit berwarna abu-abu akan berlangsung lama dan selesai dalam waktu tak tentu, berbeda dengan hujan dengan angin dan awan gelap tebal pada sebagiannya, hujan seperti itu mudah diprediksi, mudah ditebak. Bapak kala itu marah, karena berkata kesengsaraan hanya akan membuat kita semakin tak bernyali tentang menghadapi hidup, meski tak selamanya seperti itu.

Seperti kali ini, saat aku duduk menunggu hujan reda.

Bertanam Dendam

 Kau mengibarkan bendera dengan tulisanmu saat kau sedang berada di puncak, dan kau juga berteriak bahwa kau bisa melihatku dari kejauhan sana. Katamu padaku pada siang bolong dihari itu.

Aku memilih tidak percaya saat kau bercerita tentang hal itu. Aku memilih tidak percaya meski aku hampir meyakini dengan kesadaran penuhku bahwa itu memang bendera dan suaramu.

Tetapi seperti kataku, aku memilih tidak percaya, aku memilih tidak percaya bahwa itu dirimu.

Karena kepercayaan itu yang membuatku tetap bertahan dengan asumsi bahwa aku masih lebih bagus darimu dalam hal apapun termasuk menulis.

Arghht tapi sial!

Kenyataan memang berkata lebih pahit.

Tulisanmu adalah nyata

Dan aku masih menghibur diri dengan bersembunyi dan berasumsi

Tanpa satu prestasi, tanpa bereksistensi.

Ah, Jamban!!

Aku mendelik, mengumpat, serapah keluar, memuntahkan sial dan mengutuk keadaan.

Bagaimana bajingan kecil sepertimu itu bisa melampui segala eksistensi yang ku bangun dengan renda-renda idealis yang kupikir sempurna ini!!

Sial ! Sial ! Sial ! dan kerjaanku sekarang hanya mengeluh dan menggerutui keadaanku.

Si Jamban terus bergerak

Aku hanya diam disini mencaci maki

Tunggu saja

Dendam mulai tumbuh

Untuk segera memburumu, menguntitmu diam-diam lalu menerkammu dengan goresan kata-kata yang akan membuatmu bertekuk lutut dan menangis.

Melahirkan dendam baru

Dendam yang kutanam untukmu

Dendam yang kuhadirkan karena rasa cintaku padamu!

Kupersembahkan kepada adikku Ruli Riantiarno, yang telah berhasil mengalahkanku, yang telah semakin dewasa dalam menulis dan bersikap, selamat berproses, selamat menjadi manusia baru.