FATIMA (I)

he__s_a_poor_sad_man___by_knarzi

Rebana ditabuh, gemerincing, menalu-nalu. Baju kurung warna-warni dengan kain tenun melingkari pinggang, berdiri yang utama adalah pemuda berperawakan kurus, badannya seperti bilah bambu layang-layang. Matanya jatuh di jalan, tak kuat pula rupanya dia menebar pandangan menatap sekeliling. Apak Amaknya sibuk membetulkan pakaiannya, barang kali ada benang yang beringsut keluar dari kain, atau ada daun-daun kecil yang menempel karena angin sedang kencang-kencangnya pada musim ini. Pemimpin rombongan berjalan, berpakaian rapi wangi dengan songkok hitam berukiran warna emas. Langkahnya mantap, dagunya terangkat kedepan, mencoba terlihat berwibawa sedapatnya.

Penabuh rebana mulai gelisah, lelah. Sejenak mereka dihinggapi perasaan ragu, benarkah ada bayaran yang di janjikan, mengingat sepertinya penyewa baru saja didera masalah luar biasa. Para pejalan kaki yang kebetulan lewat menoleh sekejap menatap wajah pengantin, setelah mereka tahu mereka lekas-lekas memalingkan muka dan kemudian melanjutkan perjalanannya. Pengantin masih menunduk, memainkan jari-jarinya untuk menghilangkan cemas, rokok tertinggal rupanya disaku celana ganti. Nak meminta kepada iring-iringan tak enak juga rupannya. Pengantin laki-laki itu semakin dalam menunduk.

Beberapa langkah lagi mereka akan sampai kepada rumah pengantin perempuan, dari kejauhan sudah terlihat ujung tiang tenda berwarna putih, suara musik melayu dari soundsistem menambah ramai di antara tabuh rebana. Anak kecil perempuan berambut pendek berlari dari ujung pertigaan memasuki rumah sembari berteriak pengantin laki sudah datang. Beberapa orang dari dalam rumah keluar, mengintip sebisanya melihat sejauh mana rombongan laki-laki tiba. Suara bunyi rebana semakin keras bertalu, gundah penabuh rebana sepertinya meredup, mempersiapkan pikiran dan hati untuk prosesi kawinan selanjutnya.

Apak pengantin laki itu melepaskan kaca mata hitamnya, jalannya yang tegak gaya pejabat konstan dibawanya sedari berangkat dari rumah. Dasi merah dengan setelan jas hitam serasi dengan bentuk postur dan warna kulitnya yang sedikit coklat bata. Sedangkan amak pengantin laki itu menoleh kebelakang, menengok rombongan pembawa seserahan, memberi isyarat atau sekedar meyakinkan bahwa sudah waktunya untuk bersiap menghadapi sambutan dari tempat pengantin perempuan. Dengan sedikit cepat, amak pengantin itu mengeluarkan bedak yang dibawanya dalam tas jinjing, membuka dan berkaca, memastikan lipstick nya masih tampak seperti sedia kalau saat dia terakhir memolesnya, takut-takut di perjalanan luntur dan membuatnya tampak tak segar atau pucat.

Tak lebih dari 5 menit berselang, di depan rombongan pengantin laki-laki yang berjalan sudah penuh dengan orang-orang yang tak lain dan tak bukan adalah rombongan sambutan dari pihak pengantin perempuan. Berdiri di paling depan lelaki berjenggot putih tetapi dicukur rapi memakai baju kurung berwarna merah hati ayam dengan balutan songket warna emas di pinggangnya. Apak dan amak dari pihak perempuan berdiri tepat di belakang laki-laki itu, berpakaian kurung jua dengan balutan songket warna merah. Wajah letih sedikit tampak dari kedua orang tua calon mempelai laki-laki itu, maklumlah, tiga hari yang lalu mereka sibuk menata rumah, membersihkan dan menata ruangan untuk tempat singgah pengantin dan juga mereka tentu harus mempersiapkan prosesi menyembelih dua ekor sapi untuk hidangan para tamu nantinya.

Setelah tepat berada dalam hadapan pemimpin rombongan, tak perlu banyak waktu tibalah akhirnya pantun pembuka meluncur dari pemimpin rombongan laki-laki, menyatakan hal ihwal kedatangan dari rombongan. Dan begitulah, pantun berpantun bersahut, saling bertanya dan menjelaskan tujuan, menguraikan barang seserahan dengan maksud jalin persaudaraan. Suasana seperti ini membuat getir pengantin laki-laki yang masih menunduk. Ada rasa yang ditakuti dari percakapan dalam pantun, takut-takut ini adalah cemoohan lain yang akan diberikan, tetapi sampai akhir pantun memantun selesai tak ada kata atau kalimat yang menyentak diamnya. Semua wajar, hanya saja masih ada ketakutan yang menghantui.

Dalam diam kali ini, ketika prosesi sudah semakin dekat untuk dirinya melakukan ijab qobul. Dia terpekur, memikirkan siapa dirinya selama ini, menimbang-nimbang lagi rasa gundah yang seharusnya tidak perlu, memastikan dirinya bahwa dia tidak boleh mengkerdilkan dirinya sendiri hanya karena masalah seperti itu.  Bukan, bukan. Bukan perkara kehinaan atau rasa rendah diri yang harusnya mencuri kebahagiaannya dan kesadarannya untuk saat ini. Dengan susah payah laki-laki kurus seperti bilah bambu itu mengangkat dagunya, melihat sekitar, tetapi belum mau menatap mata dari orang-orang.

Rombongan pengantin laki-laki dipersilakan masuk kedalam rumah, seorang dari mereka mencoba menata tempat dimana rombongan laki-laki harus duduk menepatkan diri, menggeser beberapa kali orang yang telah terlebih dahulu duduk sebelumnya. Sebuah meja kecil dengan taplak berwarna keemasan dan sebuah microfon berdiri di atasnya. Penghulu dari KUA sudah datang sedari tadi, memastikan bahwa acara akan berjalan sebagaimana jadwal yang ditetapkan, takut-takut berpantun terlalu lama sehingga mengakibatkan molornya acara. Dia harus menikahkan orang lain lagi dua jam setelah ini. Tangan penghulu mempersilahkan duduk kepada pengantin laki-laki yang tampak mulai terhuyung jalannya, begitu sempitnya langkah karena sesak oleh kaki-kaki orang-orang yang bersila mengitari meja. Penguhulu tidak melihatnya, dia sedang sibuk menata buku nikah serta berkas-berkas lain yang perlu dipersiapkannya untuk catatan administrasi. Jika saja dia melihat, barang tentu dia akan menggoda dengan guyonan yang biasa dia berikan kepada semua pengantin yang canggung atau malu-malu.

Setelah pengantin laki-laki itu duduk sempurna, dengan diikuti apak dan amaknya dibelakang. Penghulu melihat dan menanyakan kesiapannya. Pengantin laki-laki itu mengangguk, tanda siap. Pengulu memukul mick dengan pelan, memastikan bahwa mic berfungsi dengan baik sekalian memberi isyarat bahwa acara akad nikah sebentar lagi dimulai, meminta hadirin yang datang untuk diam sejenak. Apak dari pengantin perempuan bergeser duduknya, kini dia tepat berada dihadapan dari pengantin laki-laki. Kedua laki-laki itu tidak saling bertatap muka sedari tadi, mata mereka sibuk dengan benda yang dapat mengalihkan pikirannya daripada harus tampak kosong. Semua tampak khidmad saat kedua tangan laki-laki itu bersalaman. Penabuh rebana diam di luar rumah, melihat dan memastikan tumpukan rebana yang disusunnya tidak akan goyah dan tumpah membuat keributan saat prosesi. Pengiring hantaran diam duduk bersila, menatap kedua orang yang sedang mencoba memantapkan diri satu sama lain. Tamu-tamu undangan lain yang hadir begitu juga, melihat ke kedua orang itu meski sebagian masih sibuk meneliti detail ornamen ruangan yang dirasanya mewah jika dibandingkan dengan oranmen-ornamen yang dipakai pada pernikahan lain yang didatanginya.

Dalam ruangan dengan hiasan ornamen warna emas dan merah ini, dengan diawali ucapan istighfar tiga kali, dan kemudian kalimat syahadat dua kali, akhirnya lengkap sudah kalimat akad yang di akhiri dengan kata Sah oleh para tamu dan saksi. Tidak ada kegugupan yang menghapiri, semua terkesan datar dan tidak ada beban. Begitu juga dengan sang Apak dari pengantin perempuan, tidak ada salah ucap atau kalimat yang patah di tengah jalan, hanya saja tangan dari kedua laki-laki itu menjadi sedikit lembab karena berkeringat dan setelah kata sah terdengar, mereka buru-buru melepaskan. Untung saja ada acara berdoa sehingga tangan lekas di tangkupkan menengadah untuk menampung kata amin dan tanda meminta. Hal yang tak tampak aneh bagi para tamu yang meski sebagian lain merasa curiga, atau sebagian lain sudah mengerti dan hanya berkasak-kusuk dengan teman sebelahnya.

Apak pengantin laki-laki masih terpekur dalam doanya, memejamkan mata benar-benar seakan memohon kemudahan dalam hidupnya. Masih jelas dalam ingatannya keluhan istrinya yang berkata tabungan sudah habis dan dia terpaksa berhutang kepada Wan Hamidah beberapa puluh juta, tagihan-tagihan bulanan yang tentu seminggu lagi akan kena, dan masalah kantor yang masih mengganggu karena beberapa bulan ini tim pengawas dari pusat selalu meminta data keuangan yang dikelolanya. Kata-kata amin begitu khusyu’ dan dalam saat dia melafalkannya, berharap benar saat dia membuka mata semua masalah akan menghilang secara tiba-tiba atau minimal tak terduga seperti sebuah mukjizat, tidak ada salahnya berharap seperti itu. Bukankah Tuhan Maha kaya dan kuasa. Laki-laki itu mencoba menggenggam masalahnya sendirian, membawa segala kegundahan dalam pundaknya tanpa ingin dia bagi pada siapapun, cukuplah kiranya nanti saja, cukup dia saja yang menanggung semua ini.

Tak lama setelah doa selesai, disuruhnyalah pengantin laki-laki itu memasuki kelambu. Diminta oleh penghulu untuk mengajak keluar istrinya yang telah sah itu saling memohon doa restu kepada kedua orang tua. Paras pengantin perempuan Lawa-lah kalau orang sini bilang, cantik, berkulit putih behidung bangir kecil dan memiliki mata dalam yang belok. Dengan balutan gaun adat semakin membuat para bidadari pun cemburu akan kecantikannya. Sesaat setelah sampai kepada depan pengantin perempuan yang sedang duduk di atas balai yang telah di tata sedemian rupa, masihlah belum mampu juga pengantin laki-laki itu untuk mengangkat mukanya, pandangannya masih jatuh dalam kakinya yang sudah tak memakai selop. Fatima nama pengantin perempuan itu, gadis 17 tahun yang menjadi buah bibir di desa karena keelokan paras seperti yang telah aku sebutkan baru saja. Fatima bukanlah bukanlah gadis pemalu meski dia hidup sebagai anak pulau yang jauh dari perkotaan, sifat seperti itu yang tak biasanya entah berasal dari mana, mungkin saja memang selalu ada generasi-generasi yang menyimpang tanpa perlu ada sebab seperti Fatima ini.

Orang Asing

ay__ve_yol_manzaras

Kedai-kedai terlampau penuh untuk musim tidak melakukan apa-apa ini, masih cukup banyak waktu untuk membetulkan jala yang rusak. Tak perlu terburu-buru, toh hanya akan membuang-buang waktu. Lebih baik bersandar dalam kursi kayu, menyeduh kopi dan bual sana-sini, tentang musim ikan merah yang sebentar lagi datang, atau tentang kapal tongkang yang tenggelam baru-baru saja di pelabuhan Basisir.

“Bagaimanapun saya tidak ingin mencari penilaian apapun, pada siapapun. Yang saya lakukan hanya menyampaikan pengetahuan saya yang terbatas ini dengan harapan berguna entah esok atau lusa pada siapa yang mendengarnya. Saya hanya menyampaikan pengetahuan, kepada penduduk nelayan disini termasuk kepada anda juga pak Lurah”

“Kau hanya orang asing, diam sajalah!.”

 Darma tersenyum kemudian mundur untuk kembali ke tempat duduknya, tak lagi menatap wajah bapak lurah itu. Terpikirkan pula Lurah itu sebenarnya dalam hati siapa laki-laki yang datang dengan begitu enaknya mengomentari kerja dari pemerintahan di bawahnya ini.

“Pelancong muda seperti kau ni, cukup datang dan nikmati saja pantai-pantai, kunjungilah pulau Senoa atau duduk bercakap-cakap dengan perempuan kopi pangku, tak usahlah kau banyak cakap tentang kondisi disini, mengerti apa kau ini. Dandanan kumel seperti gelandangan saja nak banyak tingkah di tanah orang. Belagak kali merasa bise merubah keadaan disini, aku ini lebih tua, lebih banyak makan asam garam dari kau ni, pemuda yang tidak jelas !”.

Darma meresapi kata-kata dari Pak Lurah itu, kemudian menimang-nimangnya dalam akal sehatnya. Ali masih mencoba meredam amarah dari bapak Lurah yang berkumis tebal itu, entah kenapa begitu mengalahnya Ali pada kondisi seperti ini, atau mungkin memang hal itu dilakukan untuk kebaikan Darma sendiri. Darma akui memang tak seharunya dia ikut campur dalam urusan ini, mencoba sok pahlawan dengan menjadi seorang pendorong perubahan tak memberikannya apa-apa, tentu saja selain kepuasan batin dari hasrat keinginan dirinya sendiri. Selebihnya tidak ada. Harusnya memang dia diam saja, menikmati jalan-jalannya, menikmati berkeliling di pinggir pantai Pulau Natuna yang berada paling ujung di kepulauan utara Indonesia, setelah itu menyempurnakan berpergiannya dengan menaklukkan gunung Ranai yang masih menjadi tantangan pribadinya.

Tetapi entah keadaan ini sungguh menggoda bagi Darma. Ketidakadilan prosedur dan ketidakpulian terhadap rakyat membuatnya berlaku demikian. Harusnya godaan itu bisa saja dilawannya dengan diam dan menontonnya, toh tidak ada urusan mendasar untuk dirinya sendiri terhadap kondisi seperti itu. Kedatanganya ke Natuna memang tidak ada niatan tersembuyi untuk mengurusi tetek bengek perihal pemerintahan dan masalah lainnya, atau atas kepentingan-kepentingan ekonomis maupun politik tertentu untuk membuat kestabilan pemerintahan atau pak Lurah itu terganggu.

Hanya saja siapa yang tahu, bisa saja pak Lurah sedang kalut dirundung isu pergantian bentuk kabupaten menjadi provinsi, dan dia tidak mendapatkan jatah untuk kenaikan pangkat karena daerahnya tidak mendapatkan perubahan apa-apa, daerahnya masih tetap saja demikian. Jadi lenyaplah sudah gambaran kenaikan jabatan dalam pikirannya. Dan tentunya hal itu sangat mengganggunya.

Beberapa warga yang ada mencoba menenangkan, sedikit jumlahnya. Lebih banyak mereka yang ikut terbakar kemarah pak Lurah. Bahkan nada tinggi sering keluar dari beberapa mulut penduduk yang datang dan tidak tahu apa-apa, seakan Darma adalah maling yang di amankan oleh warga desa.

Darma berdiri dan kemudian meminta maaf kepada pak Lurah atas sikapnya, kemudian dia menjelaskan bahwa tak ada maksud apapun terhadap kehadirannya disini selain untuk mengitari pulau Natuna bersama temannya Ali. Persoalan tentang percakapan terhadap pemerintah yang tidak memperdulikan nasib nelayan yang bingung dalam penjualan ikan diutarakan sebagai bentuk masukan kepada pemerintah bahwa ada kesalahan disini dalam sistem perekonomian rakyatnya. Tak ada maksud untuk menghasut atau mengajak kepada kerusuhan untuk melakukan perlawanan. Tidak ada sama sekali. Sekali lagi Darma meminta maaf sembari mengulurkan tangan kepada bapak Lurah yang masih mengepalkan tangan.

Mendengar penjelasan dari Darma tentang duduk persoalannya, warga yang berteriak kasar kemudian diam, suara-suara keras mereda. Wajah-wajah mereka menatap lekat wajah Darma. Hanya saja tampaknya mereka tidak cukup berani untuk berubah pandangan mendukung Darma, mereka masih terlalu rumit dengan model berpikir tentang birokrasi ini itu, mungkin kesulitan dalam penjualan ikan adalah nasib mereka, sudah takdir bahwa mereka tidak harus selalu memiliki dagangan yang laku. Jika mau maju dan kaya, mereka harus berpindah ke kota, untuk maju bukan disini tempatnya. Itulah kebenaran, itulah yang mereka percayai. Pemerintah sudah berupaya tentunya, hanya saja memang takdir berkata demikian untuk nasib mereka. Tetapi nada bahwa masih ada harapan tanpa berpindah tempat dengan pemerintah yang bekerja cukup membuat mereka terbius, antara bahwa harapan masih ada atau sekedar kalimat yang terdengar baru bagi mereka, mereka masih menimang-nimangnya dengan seksama. Mereka sudah cukup sulit untuk memikirkan nasib ikan yang membusuk besok harinya, tak usahlah memikirkan hal-hal yang diluar cakupan pendidikannya. Terlalu rumit dan bahaya.

Pak lurah berdiri dan bersungut-sungut, tangan Darma di acuhkan, kepalanya mendongak ke atas melihat wajah penduduk sekeliling, Pak Lurah itu sadar bahwa sebagian tatapan mata penduduk desanya tidak mendukung dirinya, sebagian lain kosong dan perlu diberikan sentakan agar mereka sadar siapa sebenarnya diri mereka. Jangan mudah percaya terhadap omong kosong dari pemuda baru, seorang pelancong yang entah berasal dari mana rimbanya. Mimpi-mimpi perubahan hanyalah angin surga yang sebenarnya menghembuskan api kekacauan, sudah cukuplah rakyatnya menderita karena kondisinya sehari-hari, tak perlu lagi dibebani dengan pikiran-pikiran kota yang tentu saja tidak akan sesuai, memaksakan hanya saja mendorong mereka kelembah kesengsaraan.

“Ya sudah, lanjutkan saja perjalanmu. Dan biarkan penduduk disini seperti biasa adanya, tak perlulah didengar omong kosong dari pemuda yang tak tahu apa-apa tentang daerah kita. Bualannya tentang kemajuan adalah mimpi anak muda semata. Sudah bubar kalian semua”

Darma masih terdiam, menunggu tangannya bersambut hingga akhirnya sadar pak Lurah tak menanggapinya dan berlalu keluar dari kedai dengan diikuti oleh penduduk. Darma kemudian menghela nafas panjang, rokok yang biasa di hisapnya saat sedang dalam kecamuk pemikiran tak lagi menarik untuk dijadikan teman berpikirnya. Dia memilih berjalan mengenakan kembali tas ranselnya dan menatanya di Vespa. Ali membiarkan kawannya diam, karena bertanya atau berkata hanya akan menghasilkan ke sia-siaan semata, mungkin memberinya ruang untuk berpikir cukup untuk membuat membaik suasana hati kawannya ini. Mesin Vespa berbunyi, kembali menarik perhatian penduduk yang kasak-kusuk membicarakan Darma untuk melihat terakhir kali sebelum keduanya hilang nantinya. Sedang pak Lurah sudah hilang dengan menaiki mobil pick up Hiluk miliknya dari tadi.

Memang dasar kau anak muda idealis hahahaha

Ali membuka pembicaraan dengan di akhiri tawa, takut-takut kawannya ini masih terjebak oleh perasaan saat menghadapi pak Lurah tadi, sehingga omongannya hanya akan membawa suasana menjadi lebih diam dan sendiri.

Darma tak langsung menjawab, wajahnya jauh menatap ke kanan, ke barisan kapal yang berjajar, sebagian besar adalah kapal pom-pong, dan sebagian lainnya adalah kapal dengan ukuran cukup besar. Tak ada nelayan yang terlihat, meja-meja yang biasanya menjadi tempat orang jualan ikan tidak terlihat ada aktivitas, kosong. Hanya lalat-lalat yang kadang terbang di atas tumbukan jeroan ikan yang masih tertinggal di meja.

“Manusia bukanlah kera yang berada dalam kebun binatang Li”

“Maksudmu?”

Ali mengendorkan gasnya, agar suara vespa tidak mengganggu pendengarannya untuk mendengar jawaban yang akan diberikan oleh Darma. Vespa Exel 150 berwarna putih ini memang belum cukup tua, tetapi suara mesinnya sedikit kencang.

Seperti yang dalam sebuah buku Kafka, hidup manusia dalam sebuah analogi itu ada dua, pertama menjadi kera dalam kebun binatang, yang kedua menjadi kera dalam pertunjukan sirkus. Menjadi kera di atas panggung pertunjukan lebih memberikan peluang untuk meloloskan diri daripada menjadi kera di kebun binatang dengan teralis besi yang mengelilinginya. Dan kera akan belajar Li, dalam panggung sirkus dia akan belajar bagaimana meloloskan diri, setiap yang belajar adalah mereka yang menginginkan jalan keluar.

Ali diam, mencoba menerjemahkan kata-kata Darma sebisanya. Kera dan manusia, ah apa persamaanya, jelas-jelas berbeda. Sepertinya percuma juga mengendorkan gas Vespanya, Ali hanya dapat mendengar tetapi tidak mengerti, dan sepertinya Ali tidak berniat untuk bertanya lebih dalam lagi untuk mendapat penjelasan soal ini. Kafka? Siapa pula dia? Ah sudahlah, Ali menaikkan gas, memasukkan ke gigi 4. Menyanyikan lagu Payung Teduh dan seakan-akan tidak ada perbincangan apa-apa dengan Darma.

Darma juga tidak peduli kata-katanya dimengerti atau tidak oleh Ali, hanya saja kata-katanya itu yang sekarang sedang berkecamuk dalam pikirannya, manusia-manusia yang menyedihkan. Ah, bukannya sama saja, bukankah diriku juga tak ubahnya sama. Aku juga gelisah dalam kebebasan yang kuciptakan sendiri, aku rasai aku belum merdeka benar dan sikapkupun masih samar-samar. Darma meraba jarak terjauh dari pandangan matanya, mencari tempat terjauh yang dapat dijangkau oleh penglihatannya, sebuah tempat untuk meletakkan dirinya. Pergi jauh dari dirinya disini.

Nah itu perkampungan Kelarik Ma, tidak begitu ramai. Tetapi cukup nyamanlah untuk kita beristrahat sebentar disana.

Ali sepertinya tidak meminta persetujuan dari Darma untuk menepi, Vespa di hentikan di bawah pohon Gaharu yang tidak cukup tinggi di samping sebuah kedai makan, Darma juga masih belum bicara lagi setelah membahas kera dan Kafka, dia berjalan menuju kedai dan memesan teh obeng  dua dan melihat-lihat sayur yang ada, sedangkan Ali sibuk dengan vespa, membongkar muatan, mengecek isi bensin, membongkar bodi kanan dan mengecek busi, kemudian menaruh barang-barang bawaan kembali dalam tempatnya.

Menu makan yang dihidangkan diisi oleh berbagai jenis ikan-ikanan, ada Ikan merah, ikan ketambak, ikan kerapu, ikan sumong, cumi-cumi, sotong dan kepiting. Tentu saja semua dimasak dengan dua rasa yang kuat yaitu asin dan pedas. Darma memilih cumi-cumi, berharap ada udang tapi sayangnya sedang tidak ada. Ali yang datang menyusul memilih ikan merah yang dibalado kemudian duduk dengan Darma.

“Tak coba Kernas kau Ma?”

Ali menyodorkan Kernas yang berada di piring, salah satu piring yang di tata di atas meja berisi kernas, sebuah makan dari campuran tepung, sagu, ikan yang di goreng.

“Ini makanan khas Natuna, coba, nyaman rasanye”

Darma tersenyum dan mengambil satu, menggigitnya kecil kemudian mengunyahnya pelan-pelan. Makanan yang mirip dengan mendoan kalau di Jawa ini di resapi rasanya. Sedikit aneh, mencari nikmatnya tidak ketemu, mungkin lidahnya belum terbiasa.

“nyaman kan?”

Darma mengangguk, tetapi Ali tahu bahwa kawannya ini tidak begitu menikmatinya. Teh obeng dihidangkan, Darma buru-buru menghabiskan dan lekas meminum teh obeng yang sekarang berada di hadapannya.

“Sudah dapat setengah perjalanankah ini Li?”

Darma mencoba membuka pembicaraan untuk pertama kali setelah lama hanya menanggapi dan diam dengan pikirannya sendiri. Cuaca yang terik seperti ini tidak salahlah memesan teh obeng, meski sebagian orang lebih memilih air nyok untuk cuaca gerah tepi pantai seperti ini, tetapi Darma terbiasa dengan meminum teh, terlalu banyak meminum air kelapa hanya akan membuatnya sebah dan ingin muntah.

“Sudah, jika di hitung kita start dari Anai”

Darma mengangguk, meletakkan gelas es tehnya di meja dan mengeluarkan bungkus rokok kreteknya yang tinggal beberapa batang saja. Dikeluarkan satu dan di pijat-pijatnya pelan, memasukkan potongan daun tembakau yang mencuat di ujung batangnya.

Humanisme Eksistensialis

sartre_et_de_beauvoir_by_froz_ensh_adow-d8g4yl0

Kehadirannya mengancam saya, menggerus kebebasan saya secara licin dan tidak dapat saya hindari. Mematikan saya dan melemparkan saya pada ketiadaan yang sepi.

Dengan memilih apa yang akan kita lakukan, kita akan menciptakan nilai-nilai. Sebuah pernyataan yang Sartre ungkapkan dalam sebuah buku-nya yang berjudul Eksistensialisme adalah Humanisme Sartre mengajak untuk berpikir lebih dalam bahwa kebebasan dalam menentukan pilihan adalah sebuah bentuk awal dari nilai-nilai yang akan terbentuk nantinya, sebuah nilai yang tidak berdasar pada norma-norma.

Sartre pada hakikatnya mengajak kita untuk memikul tanggung jawab atas tindakan kita sendiri, yang telah kita pilih sendiri tentunya dengan kesadaran dan kebebasan yang berani. Meski nantinya dalam percakapan yang lebih mendalam kita akan bertemu dengan pemaknaan-pemaknaan akan situasi yang menentukan tindakan, setidaknya kita mencoba terlebih dahulu berfokus kepada apa yang mendasari seseorang dalam memilih.

Manusia sudah saatnya terlepas dari pemikiran bahwa setiap perbuatannya haruslah tergerak oleh aturan norma-norma atau aturan-aturan  yang memiliki nilai-nilai yang baik, benar dan tepat yang bersifat mewajibkan. Atau bersembunyi dari tanggung jawab kodrati bahwa tindakan manusia dianggap terlahir dari sebagai mahluk yang terdeterminasi (dipastikan) atau sudah dalam ketetapan Tuhan. Dengan melepaskan pikiran dari dogma-dogma seperti ini, manusia akan menjadi manusia yang benar-benar menegaskan kebebasannya, manusia yang memiliki eksistensi yang otentik.

Berkata akan kebebasan dan keotentikan manusia, tidak terlepas dari pandangan terhadap orang lain, sesimpel inilah menurut saya Sartre coba mengajak kita berjalan-jalan kedalam dunia yang sepenuhnya njlimet dengan pemaknaan kesadaran, kebebasan dan penilaian-penilaian norma. Pandangan Sartre yang mengatakan bahwa kehadiran seseorang yang mengamati diri kita sebenarnya adalah sebuah peristiwa perampokan dan menyadarkan akan keberadaan kita, sebuah paradoks yang cukup menggerikan dan menggiurkan jika boleh saya katakan, sebuah permaian penilaian dan perubahan letak kesadaran yang cantik dan pada ujungnya menghantarkan pada sebuah keadaan “Aku” yang eksis karena adanya orang lain.

Kenapa manusia yang lain bisa merampok dan menyadarkan kita sekaligus, karena manusia lain adalah sesuatu yang kita sadari dan mengerti bahwa sosok mahluk tersebut mampu membuat penilaian-penilaian terhadap diri kita.

PAGI

insomnia_by_manasrah-d4aawgb

Pagi.  Ayam berkokok, suara alarm dari kamar sebelah terus berbunyi pertanda bahwa suami atau istri di kamar sebelah belum bangun. Udara dingin tapi cukup segar berhembus dari pintu kamar yang sengaja ku buka. Gerah dan pengap karena asap rokok yang sedari mahrib tidak ku buka pintu kamarku. Terbaring berusaha tidur seperti sedang bergelut dengan hantu, dia melekat erat tanpa bisa ku halau atau kusingkirkan karena sudah terlalu seperti itu.

Ingin kembali menulis tentang sesuatu, kontemplasi atau apalah seperti yang dulu sering kulakukan sepertinya sudah tidak mudah lagi, bahkan aku sekarang harus berpikir dan membuka buku-buku lagi. Tidak ada ide segar, entah karena memang semua menjadi terasa tidak berarti lagi, semua sudah terasa datar dan tidak penting untuk dibahas dengan kata-kata dan ide-ide destruktif ataupun lainnya seperti biasa. Atau keadaan yang sekarang telah berubah yang mendepakku jauh dari duniaku yang dulu, dimana aku sering nyinyir dan keras terhadap apapun yang kurasai menggangguku.

Tugas-tugas kantor yang begitu banyaknya, ingin berkecimpung dalam organisasi tak ubahnya seperti teramat susah, aku bahkan tidak bisa membayangkan diriku sendiri berada dalam posisi itu. Terlalu bukan aku, dan memang kurasai jauh. Seperti ada ketakutan aku seperti melacur saja, sebuah keengganan untuk tidak menipu diriku sendiri. Aku kehilangan minat terhadap gairah dunia. Aku kehilangan dunia, tetapi setidaknya aku tidak kehilangan diriku sendiri yang berusaha untuk tetap sadar meski tanpa duniaku sendiri.

Menjadi bosan dan kering, mungkin.

Semua menjadi bahasan tentang kebutuhan. Eksistensi ?

Ah berbicara itu, dunia ini berhasil mengacaukan dan mengaburkan, atau aku yang mengacau kepercayaanku sendiri akan diriku.

Tetapi sepertinya tidak, melihat diskusi dan debat yang dulu sering ku geluti sekarang tampak menjadi begitu banal, dunia maya tak lagi menarik, meski tentu didalamnya akan aku temui pemikiran pemikiran yang baru, tetapi itu sudah tidak lagi menarik dan segar lagi rasanya.

Jenuh?

Bisa jadi ya, bisa juga tidak.

Aku hanya bisa berharap tidur dengan cepat tanpa harus berhalusinasi tentang hantu yang membentak di depan mukaku dan berdiri di ujung kakiku tiap malam.

Aku mungkin belum bersahabat dengan diriku sendiri, atau memang semuanya seperti aku. hanya saja keseimbangan hormon mereka lebih bagus daripadaku.

Aku hanya ingin tidur, sebelum nanti satu jam lagi alarm berbunyi.

Karena aku tidak ingin kesiangan kerja untuk kesekian kalinya.

Kos Solo Baru 05:00 Sabtu 18 Februari 2017.

BICARA PROPAGANDA

 

download

Propaganda (dari bahasa latin  modern: propagare yang berarti mengembangkan atau memekarkan) adalah rangkaian pesan yang bertujuan untuk memengaruhi pendapat dan kelakuan masyarakat atau sekelompok orang. Propaganda tidak menyampaikan informasi secara obyektif, tetapi memberikan informasi yang dirancang untuk memengaruhi pihak yang mendengar atau melihatnya. Dalam pengertian lain propaganda adalah sebuah upaya disengaja dan sistematis untuk membentuk persepsi, memanipulasi alam pikiran atau kognisi, dan memengaruhi langsung perilaku agar memberikan respon sesuai yang dikehendaki pelaku propaganda.

Salah satu tokoh propaganda yang mungkin terkenal adalah Goebbels, tokoh NAZI dari perang dunia ke II, meskipun terkenal kejam Goebbels banyak disegani para ilmuwan, bahkan hingga sekarang. Itu karena ia dianggap sebagai pelopor dan pengembang teknik propaganda modern. Teknik jitu hasil kepiawaiannya itu diberi nama argentum ad nausem atau lebih dikenal sebagai teknik big lie (kebohongan besar).  Goebbels adalah salah satu figur propagandis, dan tentunya masih banyak lagi lainnya yang tak ubahnya merupakan pemain sandiwara terkenal yang menakjubkan. Mereka secara umum memiliki komitmen terhadap keahlian komunikasi dan media untuk menyebarluaskan pesan mereka. Mungkin mereka telah belajar banyak dari para propagandis masa lalu maupun masa kini untuk menjalankan usaha mereka, belajar dari mereka, dan merasa yakin bahwa mereka dapat menggunakan propaganda secara luas untuk memperoleh sebuah efek tanpa akhir.

Mereka merasa cocok dengan menyebarluaskan propaganda, entah itu suatu kebenaran atau hanya dorongan emosi demi kepentingan pribadi semata, dan mereka tidak memiliki kecemasan akan hal itu, terhadap apa yang telah mereka lakukan. Mereka semua menggunakan studi ilmiah opini politik serta psikologis massa secara serius, dan hanya percaya bahwa apapun tujuan mereka, dan mereka percaya bahwa manusia merupakan mahluk bujukan dan rayuan. Para ahli ini tanpa disadari juga merupakan para ahli drama populer, yang mementaskan “realitas besar” seperti yang dimiliki oleh artis-artis televisi sehingga berhasil menarik perhatian pemirsa meski sebagain nantinya akan tertarik dan bertahan terhadap sajian dari menu propaganda dan sebagian lainnya tidak tergiring dalam sajian-sajian tersebut meski tetap menanggapi dalam kasak-kusuk.

Sebagian lain menyadari / melihat bahwa propaganda adalah sebuah bisnis menarik hati dan pemikiran sejumlah besar orang, tanpa mereka harus tahu dan melihat kemana akhir dari tujuan itu diciptakan. Sebuah paradigma lain akhirnya menggiring pemikiran dari pemirsa untuk mengejawantahkan para propagandis di era sekarang tak ubahnya hanyalah seorang pembual, seorang artis yang pandai memanipulasi kebenaran dan kenyataan. Sebuah kenyataan di era modern seperti ini dimana “realitas-realitas besar” dapat diciptakan. Karena dalam otak mereka (propagandis) realitas adalah kreasi yang eksisten, hasil dari kepercayaan bersama, sesuatu yang tak lebih dari bagian independent sebuah komunikasi (kesepakatan-kesepakatan).

Berangkat dari pembenaran para ahli tentang prinsip kepercayaan yang manusia dengan mudah percaya terhadap sesuatu. Sebuah anggapan dasar bahwa setiap orang mungkin saja bukan merupakan orang tolol, tetapi banyak orang yang ingin dan berhasrat untuk memperhatikan sebuah pesan meski berdasarkan bukti yang tidak meyakinkan.

Meski dalam prasangka saya para propagandis era modern sekarang ini tidak lagi membaca literatur tentang bagaimana berpropaganda yang baik dengan menimbang teori-teori komunikasi. Mereka hanya meyakini bahwa komunikasi bukan hanya tentang berbicara dan menyampaikan pesan saja, tetapi komunikasi juga bisa menjadi tameng ataupun senjata untuk tujuan melancarkan maksud keinginan. Dan tameng ataupun senjata dalam propaganda mereka adalah kata “kebenaran”! Sebuah kata yang terlalu mistis untuk diketahui hakikat sejatinya dalam kehidupan. Kebenaran tak ubahnya sebuah cahaya putih, yang jika diuraikan terlalu banyak makna atau dapat dikatakan bervariasi tergantung sudut pandang keinginan yang melihatnya (klien propagandis). Kebenaran langsung, kebenaran yang direncanakan, kebenaran setengah-setengah, dan masih banyak lagi. Bahkan kebohongan dan kepalsuan adalah bagian dari kebenaran itu sendiri.

Memang tidak dapat disangkal bahwa propaganda di era modern seperti ini layaknya sudah menjadi sebuah kebutuhan. Tidak lagi memperdulikan sebagai reformis maupun moralis, propagandis hanya peduli kepada apa yang mereka akan hasilkan, meski dalam kebenaran versi klien lain bertentangan, tetapi para propagandis tidak melihat hal demikian itu sebagai sesuatu yang jahat dan menjijikkan.

Propaganda dalam bentuk dan pengaruhnya merupakan keasai artistik, hasil dari sensitivitas artistik. Berdasarkan data atau prinsip ilmiah, memang demikian, tetapi dalam pelaksanaannya propaganda adalah sebuah seni dan profesi mereka.  Sebuah alarm untuk kita akan keberadaan masyarakat yang tak lain dan tak ubahnya adalah sebuah ladang yang haus akan kebenaran dan mudah untuk ditanami dengan pemikiran-pemikiran yang licin. Sebuah ladang yang menggiurkan khususnya oleh tokoh-tokoh penting yang memiliki kesadaran pragmatis dan estetsis yang bekerja dengan keyakinan politik dan sosial. Sebuah kewaspadaan tentang sebuah propaganda yang biasa mereka bungkus dengan semboyan untuk mengarahkan kehidupan dalam kebenaran.

Mengkritisi Pendidikan?

bad_education_by_kloxx-d5ao7bv

Sangat naif jika menggunakan pengetahuan masa lalu untuk digunakan pada masa kini, apalagi jika secara apriori melaksanakannya. Artinya, pengetahuan yang selama ini didapat memang hanya sebatas teori saja, tanpa mengetahui realitas yang ada di luar (ahistoris). Bahkan terkadang dengan tanpa sadar, kita ikut terbawa arus yang sengaja dialirkan oleh ‘kekuatan luar’, bisa oleh negara atau kaum dengan idiologi tertentu. Sehingga pengetahuan, melalui pendidikan formal, yang didapat hanya sebatas menjadi upaya penindasan dan pemaksaan. Pendidikan yang pada hakekatnya merupakan upaya humanisasi (mamanusiakan manusia) ternyata telah dimanipulasi. Bukan kepandaian yang didapat melainkan pembodohan. Bukan sikap kritis yang diperoleh melainkan pengkerdilan. Bukan menjadikan manusia merdeka dan mandiri melainkan hanya menjadi volunteer pembangunan.

Banyak yang beranggapan bahwa pendidikan merupakan satu hal yang berwatak mulia dan identik dengan kebijaksanaan serta bersifat netral. Padahal realitas menunjukkan bahwa pendidikan tidak dapat lepas sama sekali dengan idiologi dan politik. Sadar atau tidak, pergumulan idiologi dan politik tersebut mengarahkan kepada kita menjadi mesin-mesin yang hanya berjalan dan dikendalikan oleh sesuatu yang ada di luar kita menjadi mesin-mesin yang hanya berjalan dan dikendalikan oleh sesuatu yang ada di luar diri kita.

Disini saya tidak ingin berkata jauh tentang pembelengguan masyarakat dengan ilmu-ilmu yang hanya melancarkan proses pembelengguan atas masyarakat seperti yang dikritisi dari pemikiran Imanuel Kant dan dialektika Hegel, tetapi lebih kepada proses malpraktik dari majelis pemberian ilmu. Dalam teori kritis Habernas, penelitian terhadap hubungan antara ilmu pengetahuan dan kepentingan menjadi salah satu usaha pokok. Kenapa ?

 

 

SHAWSHANK REDEMPTION Dalam Kacamata Filsafat Eksistensialisme

oscars_shawshank_final_3000_notext

“Seseorang yang menyerahkan dirinya secara sukarela sama dengan mengatakan sesuatu yang absrud dan tidak bisa dipahami merupakan fakta adanya kehampaandan tidak legitim. Siapa pun yang bisa melakukannya, pasti melakukan hal itu di luar kesadaran. Hal serupa untuk semua orang, berarti mengharapkan mereka menjadi orang gila, dan kegilaan tidak mungkin menciptakan hak.”

“Dan tidak seorang pun kecuali diri mereka sendiri yang sanggup menanggalkan kebebasan dari diri mereka”

(J. J. Rousseaue / Du Contract Social)

 

Kubuka dengan mengutip buku du contract social tentang perbudakan, kupikir inilah kalimat yang cocok untuk mengawali tulisanku tentang film Shawshank Redemption yang akan ku bahas dari kaca mata filsafat kebebasan-ku yang masih amburadul. Tentang memilih menjadi manusia yang bebas atau mungkin kau memilih untuk menjadi Brooks. Menikmati ketakutan yang selama ini dipelihara, memilih mengakhiri kematian hidup dengan kematian sebenarnya, menyadari disaat semua terasa menjadi tidak mungkin bisa terjangkau. Terlalu jauh dari sebuah kebenaran / kesadaran / rasionalisasi dari pola pikir yang diciptakan sendiri, tanpa berani mengambil risiko untuk melihat keluar meski dia menyadari adanya hal tersebut saat melepaskan Jake untuk terbang meraih kebebasannya.

Jika kita sadari selama ini kita terjebak dalam kebohongan, sebuah kurungan yang jauh dari kebenaran tentang siapa kita, atau mungkin tentang siapa dan apa kita yang selama ini dunia telah ciptakan dengan dogma yang begitu kencang, kuat dan kokoh. Aku harap kau menonton film ini, film Shawshank Redemtion. Sebuah kado terindah untuk mereka yang merasa sebentar lagi mati dalam kehidupannya, film yang disutradari oleh Frank Darabont ini diadaptasi dari ceita pendek Stephen King, yang berjudul “Rita Hayworth and Shawshank Redemption” telah membuka mata bahwa dunia bergerak dengan caranya sendiri dengan begitu cepat, tanpa pernah kita siap untuk mengikutinya, dunia menggiring kita untuk mengejarnya, meraihnya, memilikinya atau paling tidak, kita berada dalam arusnya yang melenakan. Jika kita tidak melangkah hati-hati dan penuh pertimbangan dan perhitungan, dunia  yang cantik ini akan membunuh kita. Dia yang mengajarkan kita berjalan terburu-buru, mengikutinya tanpa menyisakan waktu kepada kita untuk bertanya tentang dirinya, tidak ada kebebasan selain kebebasan yang menjebak bahwa kita telah sadar memilihnya. Dunia terlalu egois kepada mereka yang sunyi dalam pertapaannya tentang kehidupan.

Manusia bertahan dengan pilihan yang menyakitkan, semakin sakit setiap harinya. Kebebasan yang Brook rasakan, kesedihan tentang kesepian yang ditawarkan oleh kebebasan. Melepaskan kesepian dalam dunia yang egois ini terasa begitu sulitnya, semua terburu-buru, manusia tidak lagi menemukan teman untuk berbicara tentang dirinya, eksistensi yang direngkuh selama dalam penjara lenyap karena tatanan yang berbeda. Ketakutan dan kesepian yang mencekam perasaan Brook. Dia merindu bertemu dengan Jake, berharap dia terbang menghampirinya sembari mengucapkan Hallo dan mungkin menemaninya hingga dia usai. Tetapi tidak, Jake tidaklah datang. Jaket yang dirawatnya disela-sela tugasnya sebagai pengurus perpustakaan penjara tidak pernah datang sama sekali sampai Brook mengakhiri kesepiannya.

Rasa iri kepada Jake, yang dia harapkan dapat menemukan teman-teman baru selepas kepergiannya dari penjara adalah sebuah bentuk kesedihan Brook terhadap dirinya sendiri. Brook berharap dia adalah Jake yang berhasil itu, segar muda dan tidak begitu lama terjatuh dalam kuburan Shawshank. Brook tidak memiliki keberanian untuk beradaptasi, atau dia sadar dia telah tertinggal begitu jauh dari kereta bernama kehidupan yang egois. Dia sendiri, tidak bisa berlari mengejar kehidupan yang baru karena telah lama terjerat dogma selama hidupnya. Kesadaran dirinya tidak lagi memiliki eksistensi lagi di dunia membawanya berpikir untuk kembali ke Shawshank, karena baginya disana dia ada, dia eksis dan nyata. Jauh sebelum dia melangkah keluar pertama kali melalui pintu kebebasan penjara, dia seperti tersengat akan betapa tidak berarti dirinya nanti saat keluar dari penjara. Terjatuh yang teramat dalam kegelapan, ketakutan dimana landasan dan apa yang akan menantinya nanti. Apa yang ada di masa depan sana? Brook tidak siap untuk semua itu, dunianya berada dalam kuburan perpustakaan Shawshank dan dia terlalu tua untuk melakukan kegilaan agar dia tetap bertahan dalam kurungannya. Keragu-raguan dari ketidakpercayaan diri telah berhasil membunuh Brook.

Dia harusnya meninggal disini dalam keimanannya, di tengah-tengah tumpukan buku perpustakaan penjara, atau paling tidak dia mati karena dihajar oleh sipir tentu tidak masalah baginya. Itu lebih bagus untuk mengakhiri hidup daripada mati dalam kesepian tanpa keimanan. Mati sendirian dalam dunia yang tidak melihatnya atau lebih tragis lagi mati tanpa menjadi dirinya sendiri yang selama ini dia percayai. Tembok penjara yang pada awalnya tampak mengerikan, sesuatu yang dibencinya menjadi sebuah tembok yang dirindukan oleh Brook, sebuah tembok yang melindunginya dari sengatan tatapan yang meniadakan dirinya. Manusia belajar menerima kebenaran yang dipaksakan, terbiasa kemudian bergantung dengan hal itu, hingga kemudian menjadikannya kebenaran yang melindungi dari hakikat dirinya sendiri yang memiliki kebebasan.

Harusnya Brook bebas setelah mendengar Dufresne mengatakan bahwa penjara, dunia yang bullshit tidak akan dapat mengambil apapun yang berharga darimu selama kau menyimpannya di dalam hati. Sehingga ketakutan-ketakutan untuk mengambil pilihan dalam kebebasan tidak menggerayangi Brook saat mendengar ucapan selamat atas kebebasannya. Tapi sayang, Brook telah menasbihkan diri sebagai penjara itu sendiri, Brook telah dirasionalisasi bahwa dia nothing selama tidak berada dalam tempurungnya. Dia kalah atas ketakutan akan kemampuan dirinya sendiri, tikus tua yang takut untuk keluar dari rumah kaleng busuk yang membuatnya nyaman selama 50 tahun. Tikus tua yang tidak mengetahui apa-apa selain dunia yang dimajikannya sendiri, meski berada dalam gudang buku-buku yang berisi pengetahuan, ternyata tidaklah membawa perubahan apa-apa terhadap mentalnya.

Tidak seperti Harapan dan Pemikiran, dia tidak akan pernah mati selama manusia masih ada, selama kau masih hidup. Dua hal itu bukanlah kata-kata yang tanpa makna, dua hal itu adalah kenyataan yang menemani manusia untuk ada selama proses evolusi.

Harapan bukanlah sesuatu yang mengerikan seperti yang Red katakan, yang entah melalui pengalaman seperti apa Red mengatakan bahwa dalam harapan terdapat bahaya dalam dunia seperti ini, harapan tak ubahnya omong kosong, sesuatu yang utopis yang jika tidak membawa dalam kebodohan kesia-siaan maka dia akan membawamu dalam bahaya. Sampai pada waktunya Dufresne membuktikan dan membuat Red sadar, bahwa Harapan bukanlah sesuatu yang mengerikan dan membuat orang menjadi gila jika terbius olehnya. Harapan berbeda dengan iman yang hanya mengandalkan takhayul tanpa tujuan yang bisa diraih dengan tangan manusia. Tidak kawan, harapan bukanlah seperti itu, harapan lebih tinggi, harapan mampu mendorongmu untuk keluar dari belenggu ketakutan, kesendiran yang memenjarakanmu tanpa kompromi saat kau menghembuskan nafas pertamamu di dunia ini. Harapan adalah sebuah pemikiran terbaik yang pernah ada dalam sejarah primitif manusia, harapan adalah kekuatan, harapan adalah bagian evolusi itu sendiri agar manusia mencapai eksistensinya. Harapan adalah hal terindah  itu yang diajarkan oleh Dufresne kepada Red.

Bahkan Dufresne tidak goyah sedikitpun, meski propaganda bahwa harapan tidak lagi layak ada untuk diperbincangkan dalam kondisi yang terlihat muskil untuk dirubah. Dufresne adalah Ubermensch, manusia yang berhasil lolos dari takdir yang dituliskan oleh penjara kepadanya. Sebuah manusia yang lolos dari dogma tentang dunia yang selama ini kita terbius olehnya dan menganggapnya kebenaran. “I Believe in two things: Discipline and Bible.” (Warden), seperti itulah kekuasaan mengajarkan kita bagaimana harus hidup menjadi manusia normal dalam kehidupan. Hagemoni kekuasaan dan agama, kontrol terhadap manusia yang akhirnya membawa perspektif kita terhadap kebenaran selama ini. Dufresne lolos dari jebakan itu dengan nilai jauh lebih tinggi dari C+ yang didapatkan oleh muridnya Tommy Williams dalam ujian kelulusan.

Tommy Williams. Ya dia adalah bayi, kejujuran dan kepolosan, itu yang dilihat oleh Dufresne. Bahwa di dalam dirinya dia bisa memberikan harapan, sebuah perjalanan panjang masih begitu terbentang, dan kesepian semakin tidak mendapatkan tempat di hati Dufresne meski telah memiliki Red. Dufresne memilih, untuk bereksistensi di dalam kuburannya, menyibukkan diri dalam hidup yang seakan tak ada pilihan lagi untuknya, sebuah pilihan agar tetap hidup, menjadi dirinya sendiri.

“Get busy living, or get busy dying”

(Andy Dufresne)

Tommy adalah kepolosan dan kejujuran yang mengerikan bagi kekuasaan, itu yang dilihat oleh Warden. Manusia seperti itu adalah bahaya bagi kelanggengan sistem, kebenaran haruslah jauh-jauh pergi dari dunia yang egois, palsu dan sistematis ini, atau jika dibiarkan berlama-lama akan meruntuhkan layar yang selama ini siapkan sebagai kiblat jalan kehidupan manusia. Untuk itulah Warden menghabisi Tommy, menyingkirkannya tanpa perlu lagi ada kompromi atau negosiasi karena kebenaran tidak bisa untuk diajak itu.

Kita seakan merasa sadar mampu untuk melepaskan kungkungan yang diciptakan, berani memilih, berani untuk berkata, tapi pada akhirnya kita akan kembali bertanya seberapa berani kita untuk menghadapi kebebasan sesungguhnya saat kita telah terjebak dalam hal itu dalam waktu yang lama. Tidak ada lagi yang dapat digantungkan, tidak ada lagi dinding penghalang yang melindungi dari sengatan-sengatan mata sinis sebagai manusia gila yang berjalan tanpa pakaian. Kesendirian sejati, kesepian yang mencekam urat nadi sampai akhirnya menghantarkan alam bawah sadarmu untuk pulang dan meringkuk lagi dalam tempurung kalengmu. Kemudian mati dan kalah, manusia yang dikenang pernah hidup di bumi dengan vandalisme (Brook was here). Dan pada akhirnya kau sadar kau tidak pernah eksis terhadap dirimu sendiri.

“Remember Red, hope is a good thing, maybe the best of things, and no good thing ever dies”

(Andy Dufresne)

 (Saya setuju dengan pendapat dari salah satu penulis Kompasiana yang entah saya lupa namanya, film ini adalah film sederhana yang merubah hidup saya, sebuah film yang kaya tafsir dan tema yang memang pantas menjadi film terfavorit sepanjang masa)

AKhir kata

“Kebabasan kehidupan kita adalah sepenuhnya milik kita, dia tidak akan pergi oleh apapun dan karena siapapun kecuali kita menyerahkannya”