Regina Scientiarum

Hasil gambar untuk Regina Scientiarum

Descartes, lelaki berambut gondrong mirip Slash Gun n Roses itu terus saja menggaruk-garuk kepalanya, aku tidak tahu pasti apa yang dipikirkannya, mungkin saja tentang ketidakhabis pikir dia terhadap Galen. Dia baru saja mengobrol dengan Galen sebelum Galen pergi lima menit yang lalu. Hujan belum reda benar, dan malam masih panjang.

“Ya mana aku tahu soal fisiologi eksperimental, dasar bedebah tua” gerutu Descartes sembari tetap menggaruk-garuk kepalanya.

Aku tersenyum melihat tingkah Descartes, memang menyebalkan ketika kita masuk ke dunia yang berbeda dan kita dibebani pembicaraan yang tidak masuk di perhatian akal kita. Saya mengerti susahnya seorang matematikawan Prancis seperti Descartes ini saat diajak berbicara tentang homeostasis, neurotransmiter, katekolamin dan hormon. Begitu juga  tentu sebaliknya jika saja tadi Descartes mau membahas tentang matematika, tentu Galen akan meremas-remas kepalanya juga, tetapi hal itu tidak dia lakukan, karena dia tahu bahwa Galen tidak akan pernah mau peduli. Memang pantas saja Galen dijuluki oleh kawan-kawan diskusinya di sini sebagai bedebah tua. Meski bukanlah yang paling tua sendiri dilingkaran diskusinya, tetapi sikap kaku dan kolotnya membuat dia dijuluki si bedebah tua.

*****

“Memang apa menariknya fisiologi eksperimental, toh tetap saja selalu ada matematika didalamnya, siapa yang akan membantu menjelaskan tentang perhitungan energi dalam siklus kreb, siapa yang akan membantu menghitung jumlah replikasi sel, dan perhitungan lain di biologi, siapa selain matematika?”

“Regina Scientiarum!!” Teriak Descartes sembari mengangkat gelas birnya dan mendongak ke atas, memandang langit, mencari Tuhan. Aku hanya tersenyum saja, kemudian menenggak bir yang kupesan. Kuputuskan malam ini keluar dari ruang diskusi untuk menyusul Descartes yang pasti memilih nongkrong di DasKap Cafe milik Marx saat emosinya sedang tidak stabil.

“Tapi bagaimana menurutmu jika pernyataan Einstein muncul untuk membalas pernyataanku?”  tanya Descartes sambil memandangku tajam.

“Pernyataan yang mana?” tanyaku sambil meletakkan botol bir di meja.

“Pernyataan tentang sejauh hukum-hukum matematika yang merujuk kepada kenyataan? Tentang matematika tidaklah pasti; dan sejauh mereka pasti, mereka tidak merujuk kepada kenyataan.”  Terkaku.

“Ya, Jika sebagian besar teori matematika, yang salah satunya matematika biologi adalah bentuk hasil hipotesis-duktif: maka hipotesis-hipotesis dari ilmu biologi sebenarnya adalah dugaan saja bukan?……lebih daripada sebagai hal yang baru”. Lanjutnya, dan tiba-tiba saja seluruh tubuhnya terlihat melemas, sepertinya pertanyaan ini menggerogoti kekuatan sendinya. Sepertinya pernyataan Einstein memang menghantam pemikiran-pemikirannya tentang matematika yang selama ini dipelajari dan dituliskannya dalam Discours de la méthode.

“Des, sebenarnya memang cukup berat bagiku untuk berkata bahwa bukan perkara ternyata menemukan biologi adalah ilmu yang konjektur, tetapi lebih menyedihkan lagi bahwa sebenarnya matematika tidak berguna, tidaklah eksis secara nyata, hanya membangun kebenaran melalui metode deduksi yang ketat turunan dari aksioma-aksioma dan definisi yang berkesesuaian saja” kataku sambil mengamit sebatang rokok dari dalam bungkusnya. Aku sudah siap dengan ekspresi yang akan ditampilkan oleh Descartes.

“Lalu untuk apa?” tanya Descartes dengan tangan memijat-mijat keningnya. Ada kengerian yang kulihat dari sosok matanya.

Descartes melirik ke meja sebelah kanannya, sedang duduk berbicara disitu kulihat Mangun dan Magnus, mahasiswa tingkat akhir dari salah satu Universitas ternama  di Jogjakarta, sedang sibuk dari tadi membahas dehumanisme yang dilakukan pemerintah Indonesia. Memang di setiap akhir pekan, mereka sering datang ke cafe ini, mereka adalah pemuda asli Solo yang sedang menempuh pendidikan di kota Gudeg, dalam beberapa bulan terakhir ini mereka lebih sering nongkrong di cafe ini. Itulah yang kudengar dari beberapa karyawan cafe yang kudengar.

Dan sepertinya Descartes tidak tertarik sedikitpun pada pembahasan mereka.

Toh ujung-ujungnya mereka juga akan mencari statistika untuk menjawab probabilitas pengulangan sejarah sosial, matematika juga toh yang akan mereka butuhkan nantinya terlepas dari teori yang berbusa-busa dari omongan yang mereka ucapkan. Mereka akan membutuhkan suatu kepastian bentuk untuk mendukung hipotesa yang mereka temukan”  Gumam Descartes.

Aku tersenyum, sepertinya Descartes sahabatku sedari semester satu ini memang tidak mau menyerah untuk tetap mencintai agama junjungannya, Rasional Matematis.

 

– PSILOCYBE –

Hasil gambar untuk psilocybin photo

Perjalanan ini di luar yang pernah aku harapkan, perjalanan yang jauh dan hampir merenggut kehidupanku.

Aku harus ke pantai itu, mencari kebenaran yang dia tenggelamkan dalam buih-buih yang memudar bersama datangnya pagi.

Semua ini tentang koneksi? bagaimana kita bisa menjadi satu, bersetubuh dalam pikiran yang berulang. Meski pada akhirnya aku menemukan sedikit celah. Agar bisa tetap mengintip kenyataan yang telah terbuang di entah mana. Aku melihat kecacatan perbedaan.

Anjing-anjing duduk, menunggu. Mengendus.

Aku masih berjalan menuju pantai, mencari kebenaran yang direnggut entah kapan.

Aku belum tidur, atau aku sudah mati.

Asap dupa selalu disiapkan pada pagi hari. Sesudah seruan adzan yang samar kudengar. Ini bukan kebenaran.

Mataku semakin rancu, jarak ini harusnya tidak sejauh ini. Pendegaranku juga sudah mulai rusak sejak tadi pagi, kudengar semua persetubuhan. Bahkan ayam berkokok tak ubahnya suara desahan perempuan binal yang menantang.

Semua aroma kembali kepada dupa, kebenaran adalah asap dupa.

Semua sudah tidak lagi nyata. Aku tidak sedang bermimpi. Apakah benar mimpi tidak terdapat aroma.

Ah sial, aku harus tetap kepantai.

Semalam aku sudah menjadi Nietzsch, dan itu membuatku tertekan. Bukan kebanggaan yang aku dapatkan, tetapi semua teoriku ditendangnya mentah-mentah. Kant yang dungu telah berdiri dengan sombongnya, dialah kebenaran yang telah dikucilkan oleh realitas semu otak manusia. Kebenaran dimenangkan oleh Kant. Hingga beberapa kali tanganku ku sundut rokok karena aku tak mau ini adalah kebenaran. Aku masih bermimpi.

“Lihatlah kembali agama Hindu” bisiknya terdengar mistik.

Agama yang paling tua didunia ini. Bahkan sebelumnya, aku mengucilkannya.

Betapa dia mengerti tentang kemabiguan kebenaran dan realitas.

Aku bertemu dengan Gautama, dia adalah Allah, dia adalah Yesus, dia adalah Muhammad, dia adalah aku sendiri. Semua yang ada di dunia ini adalah satu. Aku pergi kesemua masa, kesemua waktu. Aku adalah Ayu Utami itu sendiri, yang menggenapi diri dengan pergumulan di kamar sebelahku. Menggenapi takdir alam bawah sadar dengan laki-laki itu.

Siapa yang tahu kebenaran. Aku harus ke pantai itu.

Anjing masih duduk di depan pintu gerbang, semua  terulang kembali, perjalanan ke pantai terasa semakin jauh. Kulihat kakiku tetap melangkah. Ini ilusi.

Kucoba meraih handphone dan buku yang aku tulis. Aku belum membukanya kembali sebelum terakhir kali aku menulisinya. Aku menghubungi dirinya, anjing dari masa lalu. Tidak terangkat, tidak tersambung.

Aku tersadar, dia sedang berada di Lombok juga. Aku telah pergi kesuatu tempat yang pararel. Aku maju kemasa lalu, atau masa lalu yang datang kepadaku, siapa yang bergerak. Aku merindukan Einstein dengan toiletnya, aku menyadari semua berulang. Karmakah ? Budha tolong jelaskan padaku.

Jelaskan bahwa aku bertemu dengan mereka yang terjebak denganku seperti ini, aku berbicara tentang connection. Kami disini terhubung. Dewi Lestari yang menjadi Hindu. Ayu Utami, Einstein, John Lennon, Murakami, Bob Marley……kami bertemu, berbicara, merindukan dan satu. Mereka adalah aku, aku adalah mereka dalam satu waktu. Lagu-lagu itu, aku yang membuatnya, kami yang membuatnya, semua lagu, semua tulisan, semua yang terjadi sebelum buku-buku dan album itu dilahirkan, kami menjalani bersama dalam tubuh yang berbeda.

Lalu dimana kebenaran waktu saat ini, dimana aku, dimana mereka yang sadar dan benar?

Aku harus menghubungi Alex, dialah manusia yang bisa mengerti apa yang aku bicarakan.

Ya aku menelponya pagi buta, ditengah semua mata yang memperhatikan, mungkin aku sudah benar gila oleh pandangan mereka.

Gila apa yang aku lakukan, aku tidak melakukan sesuatu yang mencolok ?

Sebisa mungkin aku sudah membuat semua ini normal, Atau mereka yang gila. Persetan, mungkin kali ini aku yang tetap ingin dalam sebuah kerumunan. Pengecutkah.

“Hei, kau tidak pernah tahu apa yang sedang kau lakukan saat ini, kau tidak memiliki kesadaran itu, kau tidak tahu sendiri secara pasti, kau dalam sebuah mimpi atau dalam kenyataan” suara itu datang lagi.

“Kebenaran adalah ilusi, kosong adalah isi, isi adalah kosong, kau mendengarnya berulang kali bukan”

Ah, aku harus tetap sadar, dimana aku sekarang. Aku tidak bermimpi aku hanya terjebak dalam kebingungan antara sadar dan mimpi.

Aku berhasil menelfonya, menceritakan apa yang aku rasakan, sekaligus berpamitan jika aku sebenarnya sudah mati. Tadi malam aku mati. Mungkin saja.

Aku tetap melanjutkan perjalanan ke Pantai, semoga kebenaran belum mati.

Pagi hanya harapanku, menjadi batas bahwa aku harus segera kabur dari keadaan yang membuatku semakin tertekan.

Dupa meruap udara menjadi mistis, aku semakin mabuk, udara yang kukenal, aroma ganja.

Aku lekas bergegas, pantai, ada udara bersih disana.

Kebenaran. Menungguku atau mungkin membunuhku.

Kuta / Agustus 2014

AKU MENUNGGU HUJAN REDA

Gambar terkait

Aku menunggu reda hujan yang datang tidak tepat waktu seperti biasanya. Aku duduk, memandang teh hangat seduhan penjual HIK yang sudah cukup renta, otot-ototnya terlihat terlatih, mungkin pagi harinya dia adalah buruh tani di selatan desa, sedang sore hari seperti ini membuka hidangan pada para buruh sepertiku yang sedang balik kerja.

Aku menunggu hujan reda, di barat sana istriku sedang menungguku, sedang khawatir tentangku yang barangkali kehujanan dan tidak mampu menemukan tempat berteduh. Mantol lupa dimasukkan kedalam jok bagasi sepeda motorku. Sedang gelegar halilintar terus memburu, seakan ini waktunya untuk berjibaku terhadap musim yang tidak menentu.

Aku menunggu hujan reda, untuk lekas pulang, lekas bertemu dengan anakku yang sedang bersemayam nyaman di garba perut buncit istriku. Kali ini begitu rindu aku untuk mendendangkannya surat Maryam atau Yusuf, meski tiap malam sehabis maghrib selalu begitu. Aku rindu mencium perut buncit itu, meraba-raba tonjolan kecil yang dibilang dokter bahwa itu dirimu anakku.

Aku menunggu hujan reda, bukan aku tak berani nekat seperti dulu untuk terus berjalan tanpa peduli tentang pedihnya tetesan air yang menghantam wajahku, tidak, aku tidak setakut itu meski usia semakin memakan fisikku. Aku hanya lebih berhati-hati terhadap kondisiku, karena di pundakku sudah ada ibu dan dirimu anakku, sedang dipunggungku ada tanggung jawab untuk selalu kuat dan tetap kokoh lurus untukmu dan ibumu.

Dan dalam hujan seperti ini akhirnya aku mengerti, bahwa bapakku yang tak banyak bicara itu telah mengajarkanku dalam diamnya tentan bagaimana menjadi seorang ayah sesungguhnya. Tak banyak mengerti dan tahu tentang apa itu cinta, tetapi dalam diamnya dia menunjukkan makna.

Aku menunggu hujan reda, dengan secangkir teh hangat aku duduk dan terus berharap langit tak lagi berwarna rata abu-abu. Aku ingat kala kecil, dimana bapak marah kepada ibu karena berkata bahwa hujan saat langit berwarna abu-abu akan berlangsung lama dan selesai dalam waktu tak tentu, berbeda dengan hujan dengan angin dan awan gelap tebal pada sebagiannya, hujan seperti itu mudah diprediksi, mudah ditebak. Bapak kala itu marah, karena berkata kesengsaraan hanya akan membuat kita semakin tak bernyali tentang menghadapi hidup, meski tak selamanya seperti itu.

Seperti kali ini, saat aku duduk menunggu hujan reda.

Bertanam Dendam

 Kau mengibarkan bendera dengan tulisanmu saat kau sedang berada di puncak, dan kau juga berteriak bahwa kau bisa melihatku dari kejauhan sana. Katamu padaku pada siang bolong dihari itu.

Aku memilih tidak percaya saat kau bercerita tentang hal itu. Aku memilih tidak percaya meski aku hampir meyakini dengan kesadaran penuhku bahwa itu memang bendera dan suaramu.

Tetapi seperti kataku, aku memilih tidak percaya, aku memilih tidak percaya bahwa itu dirimu.

Karena kepercayaan itu yang membuatku tetap bertahan dengan asumsi bahwa aku masih lebih bagus darimu dalam hal apapun termasuk menulis.

Arghht tapi sial!

Kenyataan memang berkata lebih pahit.

Tulisanmu adalah nyata

Dan aku masih menghibur diri dengan bersembunyi dan berasumsi

Tanpa satu prestasi, tanpa bereksistensi.

Ah, Jamban!!

Aku mendelik, mengumpat, serapah keluar, memuntahkan sial dan mengutuk keadaan.

Bagaimana bajingan kecil sepertimu itu bisa melampui segala eksistensi yang ku bangun dengan renda-renda idealis yang kupikir sempurna ini!!

Sial ! Sial ! Sial ! dan kerjaanku sekarang hanya mengeluh dan menggerutui keadaanku.

Si Jamban terus bergerak

Aku hanya diam disini mencaci maki

Tunggu saja

Dendam mulai tumbuh

Untuk segera memburumu, menguntitmu diam-diam lalu menerkammu dengan goresan kata-kata yang akan membuatmu bertekuk lutut dan menangis.

Melahirkan dendam baru

Dendam yang kutanam untukmu

Dendam yang kuhadirkan karena rasa cintaku padamu!

Kupersembahkan kepada adikku Ruli Riantiarno, yang telah berhasil mengalahkanku, yang telah semakin dewasa dalam menulis dan bersikap, selamat berproses, selamat menjadi manusia baru.

LAKI-LAKI BERPECI USANG

Gambar terkait

Ini hari dimana aku menjumpainya untuk kedua kalinya, laki-laki berpeci usang dengan rokok klobot di bibirnya. Dulu dia jarang sekali merokok, sekali merokok pun bukan kretek tetapi mild. Sekarang gusi dan giginya hampir hitam karena nikotin. Rambutnya sesekali di sentil angin dari timur, angin dari australia yang telah melakukan  perjalanan jauh melewati laut jawa. Dulu dia juga belum punya uban sebanyak ini.

Hari ini aku dan dia duduk pada bangku di teras, memandang perbukitan yang dijejali padas kecoklatan, musim hujan akan membuatnya tampak menawan, membuatnya sedikit hidup dan berdenyut dengan warna.

Kami masih tidak bicara, membiarkan pikiran membawa kami menjelajah masa lalu, sepuluh tahun yang lalu saat terkahir kali dia melihatku. Membanting pintu. Membanting hati istrinya dan meremukkannya.

Bibirnya sesekali bergerak, naik turun mengeja apa yang lewat dalam pikirannya. Mungkin emosinya, rasa marah dan kecewa yang biasa aku sangkakan akan mengendap dalam hatinya setelah hari laknat itu. Aku tak juga mau membuka suara. Aku tak diajarinya untuk berkata-kata, mendengar adalah ajaran utama darinya. Rokok klobotnya dihisap lagi, gemeretak tembakau sedikit mengisi kekosongan bunyi pada kami. Kunyalakan rokok ku.

Mata kami tak juga saling pandang, ada keengganan mungkin darinya, ada rasa tak tertahankan jika dia melihat mataku. Tetapi aku tetap nekat mencuri-curi walau kadang cepat kupalingkan muka kembali. Asap rokokku mengepul, terbang menyatu bersama asap rokok klobotnya, membaur terbang meliuk dicumbui angin. Membawanya bersama tanpa risih dan resah entah kemana.

 

Enam Freud, Lima Marx, Empat Conan dan Tiga adalah kamu.

Gambar terkait

Aku masih duduk, menunggu di depan sebuah rumah yang lama menjadi tempat singgahmu di kota yang sebagian besar orang katakan adalah kota istimewa, dimana di dalamnya ada kekuatan yang membuat seseorang akan merasa seperti di rumah, dan rindu setelah meninggalkannya. Tetapi seperti kau ketahui, aku tidak mempercayai itu, bahkan setiap aku datang kesini kalau bukan karena dirimu atau sahabatku, aku tidak akan tertarik dengan kota ini.

Aku duduk menunggu sampai detik demi detik berjalan menuju beberapa putaran yang sebentar lagi menghantarkan waktu yang tepat untuk memanggilmu dan bertemu denganmu. Sebuah kado kecil aku sembunyikan di dalam bagasi motor matic yang biasa kita pakai. Aku tidak berkata bahwa aku akan hadir, karena seperti biasanya, membuatmu terkejut atas sikapku bukanlah sebuah pekerjaan yang selalu akan sukses aku kerjakan. Kau selalu membaca-ku lebih cepat dari apa yang diriku sendiri pikirkan. Tapi kali ini aku berharap aku berhasil.

Tinggal beberapa menit lagi, dan aku masih menunggu dengan perasaan yang tidak menentu. Mendung mulai bergerak menujuku, samar-samar rembulan yang tidak sepenuhnya penuh ini mulai buram, sebentar lagi tepat tanggal tiga setelah tiga tahun aku harus pergi dari diriku sendiri semenjak siang dimana kau menangis di bawah pohon beringin dengan sesenggukan. Bercerita tentang perasaan yang tentu saja aku sudah persiapkan, meski pada akhirnya aku yang hancur, memendam marah, memendam dendam terhadapmu yang begitu saja pergi tanpa aku bersiap untuk itu.

Beberapa menit lagi, tidak sampai lima menit. Aku mencoba melihat dengan seksama jendela lebar dimana kau biasa mengintipku saat aku menjemputmu, dulu. Tidak ada siluet apa-apa yang aku dapatkan, sepertinya tenang saja tak seperti dulu dimana dirimu dan kawan-kawanmu berkumpul di depan televisi. Tak ada persiapan untukmu di kos pikirku, aku membuka hp, mencari nomormu. Masih layakkah? pertanyaan itu menghantuiku, mengerayangi kesadaran tentang diriku dan dirimu yang tak seperti dulu. Aku masih percaya kata-katamu; “Kita belum usai”!

Aku beranikan untuk memencet nomormu, menghubungimu.

Tak ada respon.

Antara aku lega atau kecewa, aku masih termangu memandang jendela itu, dan saat kusadari keadaanku sendiri saat ini yang berdiri disini, aku rasanya ingin tertawa, menangis atau heran dengan laku-ku ini.

Aku putuskan untuk berputar, mengambil bingkisan dalam jok serta mencari kertas untuk menuliskan sebuah pesan untukmu.

“Apa yang paling indah selain dapat berbincang dengan seorang yang mengerti apa yang kita katakan.

Apa yang paling sedih selain kita harus mati sebelum mati sebenarnya.

Waktu, adalah hal yang perlahan mulai tidak kita percayai.

Dan untuk apa kita berbicara tentang kenangan lagi bukan, bukankah kita sebenarnya masih disana, dalam slide yang pernah kita buat begitu indah.

Dan seperti yang pernah aku katakan, berbahagialah dan aku tetap akan menjadi tidak murahan. Seperti halnya dalam sebuah surat yang aku dapatkan darimu, sebuah surat yang terselip sekarang dalam buku Orwell.

Kau tidak akan meragukanku, begitu juga sebaliknya.

Kita masih menjadi orang asing yang percaya kepada kegilaan pemikiran yang tidak semestinya, kita yang kesepian di tengah pembicaraan yang wajar.

Dan aku harap kau tidak semakin kesepian sepertiku setelah hampir beberapa bulan tidak berbicara sepatah katapun semenjak pertemuan terakhir itu.

Ah, kenapa aku mendayu, bukankah sudah bukan haknya lagi diriku untuk melulu?

Mungkin karena waktu sudah tepat, sebentar lagi menit lebih satu.

5 adalah milik Marx, 4 adalah milik Conan, dan 3 adalah milikmu.

Selamat Hari Lahir.

Berbahagialah manusia-manusia yang terlahir di bulan Mei.”

 

Abhiseka

 

Sebelum pergi, aku letakkan surat itu di dalam bingkisan yang aku bawa, di bawah kursi panjang dimana aku hilangkan kontak lensmu kala itu. Memandang jendela lebar itu sekali lagi, meski dalam celah dinding pembatas itu aku dapat melihat bapak tua itu berbaring berselimut jaket parasit berwarna ungu.

Aku pamit, kepada sosokmu yang kuimajinasikan sendiri, mungkin karena mataku mulai buram mengambang. Headset kupasang, malam ini dalam perjalanan kurasa aku akan memiliki beberapa lagu yang tepat untuk kuputar, Talk-Kodaline, Middle-DJ Snake, dan No Surprises-Radiohead. Sampai jumpa lagi di minggu-minggu awal bulan Mei tiap Tahunnya. Sahabatku.

 

 

APA KABAR KAWANMU YANG PEMURUNG ITU?

Gambar terkait

“Hai apa kabar temanmu yang murung itu?”

Aku terkejut dengan pertanyaanmu, lagi. Seperti dulu, kau mengingatkanku lagi pada dirinya, tentang seorang kawan yang telah lama hilang dan bahkan kabarnya saja juga aku ingin ketahui. Dan sekarang aku dihadapkan kepada pertanyaan yang sebenarnya juga sangat aku ingin ketahui jawabannya.

“Apakah dia masih suka duduk di puncak bukit saat senja tiba?”

Tanganmu menggamit tanganku, menggoyang-goyang manja dengan lirik mata itu, mata yang aku kagumi karena kejernihan dan kepolosannya. Mungkin karena itu aku bisa mencintaimu dan melupakan sedikit demi sedikit tentang kawanku yang murung itu.

Tetapi kau menanyakan kembali soal kawan itu, kawan yang ingin aku lupakan meski kadang aku rindukan. Entahlah, aku tidak mau ribut dengan pertanyaan darimu, terlebih pertanyaan aneh yang muncul dari diriku sendiri saat mengingatnya.

“Aku sendiri tidak tahu, mungkin dia sudah bertemu dengan senja yang dia tunggu dan pulang kerumah untuk membawanya, memasukkannya kedalam kotak kaca di atas meja bacanya. Atau…..” tenggorokanku tercekat, terasa tidak nyaman untuk melanjutkan, dan kemana perginya suara itu.

“Atau apa?”

 Matamu itu menatapku lagi, sebentar saja kuamati, kemudian kualihkan kepada jalan yang mulai sepi karena jam malam diberlakukan.

“Kita percepat saja, sebentar lagi tepat jam sembilan malam. Kita sedikit telat dari waktu yang kita rencanakan”

Kataku muncul, mengajaknya berjalan lebih cepat.

Mata polosnya masih kosong, kepolosan adalah senjata yang mampu melahirkan pertanyaan yang jujur dari sebuah manusia. Tanpa ada ketakutan tanpa ada kekhawatiran untuk memilah-milah atau berpikir tentang disakiti menyakiti. Aku tidak peduli kepada ketidakpedulianmu.