PULANG


background-typewriter-keys

Seperti yang pernah Seno tulis tentang kereta dan senja, aku akan mengawalinya dari kenapa pada akhirnya aku memutuskan untuk membeli tiket Brantas untuk pulang, bukan Senja Utama seperti yang dituliskan Seno dengan latar cerita stasiun Tugu Jogjakarta, karena kupikir ini adalah ceritaku, bukan cerita tentang Seno dan rasa birahinya terhadap Senja, bukan juga tentang cerita cerita-cerita Surealis yang melulu.

Aku juga tidak memilih Argo Lawu seperti nama gunung yang menjadi rumahku selama lebih dari satu dasawarsa ini. Memang aku akui aku puitik, merasai bahwa sastra adalah diriku, dengan rambut gondrong yang sekarang lebih dari sebahu, kopi hitam pekat, rokok ku pun kretek, selalu bersarung dan bahkan selalu membawa jaket belel sebagai azimat dari serangan dingin malam kala harus menyelesaikan tulisan-tulisan yang berjibun banyaknya. Aku sibuk. Menulis.

Dengan deskripsi seperti itulah, dan bahkan sekarang kau melihatnya sendiri saat ini, disangka seperti orang gila dengan mententeng tas ransel model lama yang sekarang aku taruh tepat di atas kepalaku ini aku berangkat. Diantarkan kawanku, naik sepeda motor dari Karanganyar menuju kemari tadi pukul 15:00, biar tidak terjebak macet, Solo sekarang macet, jadi harus memperhitungkan dengan perhitungan dijalan memakan waktu relatif lebih lama. Dalam perjalanan kami bercakap-cakap, formalitas, karena sebenarnya kami tidak ingin berbicara tentang itu, hanya saja untuk jujur waktu itu terasa kelu. Mungkin begitu kalau jadi laki-laki, ada gengsi tentang perasaan yang menye-menye. Meski pada akhirnya ada sesal yang tertinggal di situ. Laki-laki kawanku itu yang telah menjadikanku lebih berani untuk menjadi penulis seperti ini. Menjadikanku, menerimaku dan terlebih mempercayaiku aku mampu. Kebahagiaan mana lagi yang akan saya dustakan jika diberikan hal-hal yang sedemikian indahnya? Hanya saja, ya tadi, kami terlalu menye sehingga pada saat sudah tidak dapat melihat satu sama lainnya rasanya,,,,

Baiklah, aku lanjutkan, tepat pukul 16:57 kereta Brantas berangkat dari stasiun Solo Jebres, suara rel kala itu berdecit, kering sekali rasanya, hampir ngilu aku mendengarnya. Tidak ada yang kupandangi di luar jendela, tadi aku sudah memperhatikan bentuk bangunan stasiun ini, dan satu kalimat “tidak menarik” ya begitulah. Bangunannya aneh, kehilangan jiwa menurutku, meskipun aku belum pernah kesini sebelumnya, tetapi aku merasa bangunan asli stasiun ini diperkosa kemodernan, bukannya dinikahi, opo meneh nyawiji. Bentuknya seperti zaman ini, tidak jelas dan tidak memiliki konsep pasti. Ngambang. Aku memang bukan anak arsitektur atau bahkan teknik sipil, tetapi aku anak seni, rasa ku lah yang berbicara, segala suatu bentuk itu pertama kali diterima di indera itu tentu untuk di rasa, betulkan? Seperti yang pernah dikatakan oleh seorang kawanku dulu yang hobi cerita tentang teori evolusi-nya Darwin. Sensorik itu yang lebih dulu lahir daripada motorik, embuh maksute piye, tapi intine roso iku sing akhir nglahirke gerak, nglahirke sesuatu.  

= Seperti aku saat ini =

Kereta berjalan terasa lambat, seperti senja yang datang kali ini, terasa begitu lambat juga rasa-rasanya, sudah hampir adzan magrib seperti ini langit terasa masih terang, dan kalau seperti ini, biasanya nanti senja hanya akan terasa hanya satu jam saja, yaitu pukul 17:30 – 18:30 saja. Ya, biasanya seperti itu, senja yang tergambar dan perpspektifku hanya akan muncul sebentar saja, aku sudah menghafalnya, pada bulan-bulan tertentu senja akan terlihat begitu lama, bahkan jam 15:00 pun senja sudah bisa dirasa tiba, bahkan pada bulan antara musim kemarau menuju penghujan lebih aneh lagi, dia bisa bertahan sampai pukul 19:00, dan kalaupun aku keliru, presentasenya kecil sekali, karena sejak berkenalan dengan tulisannya Seno, aku jadi begitu mengaggumi senja, tetapi tidak sampai menggilainya. Diawali tiap sore sehabis pulang dari bekerja aku mulai memperhatikan semburat dan bentuk coretan langit menjadi seperti apa, sampai-sampai aku hafal dengan sendirinya. Orang Jawa bilang ilmu titen.

Dalam perjalanan ini aku menyempatkan untuk melihat jendela, tak kala sudah jam-jam dimana senja versiku akan tiba. Aku harap nanti saat kereta berjalan agak sedikit condong ke utara, biar dari jendela aku bisa menghadap ke arah barat untuk melihatnya pada jam itu. Benar saja, rupa-rupanya tepat di tikungan Klaten aku berhasil melihatnya, dia datang seperti biasanya, muram, malu-malu, getir, dan selalu melankolia. Senja berhasil membuatku meneteskan air mata tadi. Sesuatu yang kubendung selama mungkin saat beberapa hari terakhir aku tidur bersama mereka yang mau menerimaku sebagai keluarga. Kesedihan rupanya cepat enyah dari diriku, entah kenapa ada rasa jengkel atau bahagia, hanya saja aku tidak merasa pas, kesedihan tidak bagus juga rasanya kalau cepat berlalu, jiwaku rasanya masih membutuhkan itu, masih butuh kemuraman sehingga moment yang pada awalnya aku pikirkan bisa pas, maklum saja, aku penulis, aku harus memplotkan kejadian apa yang nantinya akan aku rasakan dalam perjalanan pulang ini.

Gambaranku, aku akan bermelankolia ria sampai pukul 21:00, kemudian di stasiun Kota Purwokerto mungkin aku akan turun sebentar untuk menghisap barang beberapa hisapan rokok. Disana nanti akan ada penumpang yang naik dan duduk di kursi sebelahku, harapanku perempuan, minimal seperti Aurilewereall lah wajahnya, hobi membaca buku juga, memakai jaket belel, rambut dikuncir, berkacamata,  hmmm….pakai syal di leher, dan kemudian dengan perkenalan yang aneh, kami menjadi pasangan perjalanan yang keren untuk dituliskan di cerita-cerita pendek, atau novel jika kamu memiliki daya tahan menulis yang lama.

Perkenalannya mungkin seperti ini, semisal tiba-tiba dalam hening kami berdua mengeluarkan sebuah buku, aku memang sudah merencanakan untuk merampungkan Spectre de Marx nya Derrida, kemudian perempuan itu mengeluarkan buku entah miliknya Hegel, Kant, Comte, Sartre, atau Chomsky dan terjadilah akward moment saat kami saling memikirkan kalimat tanya apa yang tepat untuk memulai obrolan, senyum-senyum malu atau saling memasang serius juga tidaklah menjadi suatu masalah, karena mungkin tergesa-gesa juga kurang baik, dan hingga pada akhirnya kami berdua tidak ada yang tertidur, karena kami mengobrol kemana-mana, dari kanan sampai ke kiri, saling menyepakati beberapa pendapat para tokoh filsuf tentang kejadian dunia saat ini, memperdebatkan pandangan satu sama lain dalam memandang hidup, kejadian-kejadian saat ini ataupun pertentangan pemikiran semisal Hegelian dan Kantian, atau Sain dan Agama, terserahlah, atau saling mendengarkan satu sama lain saat ada beberapa materi dari buku yang belum dibaca oleh kami, ya jujur saja harapan saya perempuan yang akan duduk itu nantinya yang akan duduk sudah membaca tentang karya Althuser yang memandang pemikiran Marx bukan hanya dogma semata, tetapi sebuah petunjuk untuk aksi.

Setelah itu, kami berdua turun dan berpisah di Stasiun Senen dengan rasa perpisahan yang janggal, ada yang aneh dan berbeda. Hingga akhirnya kami sadar bahwa kami belum memiliki bagaimana nantinya untuk tetap menjalin persahabatan ini, hanya menyisakan nama sebagai kata kunci untuk memulai petualangan pencarian. Begitulah ploting yang telah aku gambarkan tentang bagaimana nantinya perjalananku di dalam kereta ini. Aku sudah memploting ini sejak pulang membeli tiket di salah satu Minimarket yang menjamur. Hanya saja naasnya, kau yang malah duduk di depanku saat ini, bukan perempuan seperti yang aku harapkan seperti yang baru saja aku sampaikan kepadamu. Ini memang bukan suatu kebetulan, tapi ini adalah takdir, Rull!

Bersambung —

 

 

 

Iklan

LEGISLATOR

Gambar terkait

Legislator yang bijaksana tak ubahnya harus seperti seorang arsitek yang sebelum membangun sebuah gedung terlebih dahulu melakukan survei dan meneliti keadaan tanah, hal ini bertujuan untuk mengetahui tempat itu bisa menopang bangunan yang akan didirikan.

Jadi seorang legislator haruslah tidak menciptakan hukum yang menurutnya baik untuk dirinya sendiri, tetapi terlebih dahulu harus melakukan penyelidikan keadaan masyarakat tempat hukum-hukum itu akan diberlakukan, sehingga bisa dapat diterima dengan baik oleh masyarakat.

Seorang legislator haruslah membuat konstitusi yang cukup baik, yang dapat memadukan antara keterbatasan yang akan muncul, sehingga konstitusi tidak terlalu besar untuk pemerintahan dan tidak terlalu kecil untuk mengatur dirinya sendiri.

Sekali lagi, legislator haruslah menciptakan suatu hukum negara sebagai bangunan yang meneyelamatkan, memiliki stabilitas dan mampu menahan goncangan perubahan. Karena dalam masyarakat memiliki sebuah energi, semacam gerakan sentrifugal yang membuat mereka secara terus menerus bertindak melawan yang lain dan meluaskan kekuasaannya seperti vortices­-nya Descrates. Jadi konstitusi yang sehat dan kuat adalah hal pertama yang harus dicari, dan adalah lebih baik lagi berharap pada kekuatan yang lahir dari pemerintahan yang baik daripada berharap pada sumber daya yang disediakan oleh sebuah wilayah yang luas. Hal ini dapat kita lihat pada salah satu contoh kecil negara Singapura.

Mengapa Singapura? Hal ini karena pada dasarnya rangka politik sebuah hukum sebuah negara dapat diukur dengan dua cara, yakni melalui luas wilayah dan dari jumlah penduduk. Dalam dua ukuran ini terdapat hubungan yang adil yang menjadikan negara menjadi bentuk organisasi yang mengaggumkan. Simpelnya seperti ini, manusia menciptakan negara dan wilayah mendukung manusia untuk hidup didalamnya. Dalam proporsi ini terletak kekuatan maksimal dari jumlah penduduk yang ada, karena jika terdapat lebih banyak tanah, maka akan ada beban dalam menjaga tanah tersebut, batas-batas teritorial menjadi sangat rawan, ditambah dengan hasil tanah yang lebih banyak dari yang dibutuhkan oleh suatu negara, hal ini tentunya akan menimbulkan beban tersendiri untuk menjaganya.

Sebaliknya, jika tanah tidak mencukupi dari yang dibutuhkan oleh negara, maka negara akan bergantung kepada tetangganya untuk memenuhi kebutuhan. Dengan demikian, kondisi ini akan menimbulkan perang untuk menyerang negara tetangga.

Negara haruslah memiliki hukum dengan watak yang terpadu untuk mempertahankan eksistensi dan kepastian nasibnya, jika tidak, negara hanya akan menunggu untuk hancur dan hilang termakan ambisi dalam bidang perdangangan dan perang. Dari hal inilah pentingnya seorang legislator yang ulung dalam melihat dengan jernih kondisi, mampu untuk meramalkan dan memprediksi keadaan alam dan penduduk dalam negara. Seorang legislator hebat haruslah memiliki ciri tidak kaya ataupun tidak miskin tetapi puas dengan dirinya sendiri, dia yang menyatukan konsistensi dari masyarakat terdahulu dengan kepatuhan dari masyarakat yang baru. Mencari legislator seperti ini sangatlah sulit, dan hampir mustahil. Hal ini dikarenakan rasanya sangat sulit untuk menemukan kesederhanaan alami bersama tuntutan-tuntutan sosial.

PENELITIAN TINDAKAN KELAS

lecture_hall_gray

 Diketahui bahwa, setiap dosen harusah berkeinginan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Karena bukan hal yang asing bagi setiap pendidik bahwa pengembangan pendidikan pada dasarnya adalah untuk meningkatkan mutu dari lulusan yang akan dihasilkan, dan hal ini haruslah menjadi perhatian utama. Salah satu cara untuk meningkatkan capaian tujuan pembelajaran yang nantinya akan menjadi nilai mutu lulusan adalah dengan melakukan penelitian tindakan kelas (PTK), PTK sendiri merupakan jenis penelitian yang spesifik jika dibanding dengan penelitian konvensional dan penelitian formal selama ini yang telah dilaksanakan dan dikembangkan.

Penelitian tindakan kelas dilaksanakan dengan tujuan untuk mengukur keberhasilan proses dan program pembelajaran yang dilakukan. Hasil yang didapatkan akan berguna nantinya bagi perbaikan dan peningkatan proses dan program pembelajaran tersebut, yang pada tujuan puncaknya adalah untuk meningkatkan capaian pembelajaran yang optimal.

Melalui PTK seorang dosen dapat memperoleh pemahaman tentang apa yang harus dilakukan, merefleksikan diri untuk memahami dan menghayati nilai-nilai pendidikan, dapat bekerja secara kontekstual, dan mengerti aspek-aspek yang berkaitan dengan pendidikan dan pembelajaran, demikain yang dikatakan oleh Stephen Kemmis dan Robbin Mc Taggart (dalam Aswandi, 2006).

PTK pertama kali dikenalkan oleh ahli psikologi sosial Amerika Serikat yang bernama Kurt Lewin pada tahun 1946, dia bekerja pada proyek-proyek kemasyarakatan yang berkenaan dengan integrasi dan keadilan sosial berbagai bidang seperti perumahan dan ketenagakerjaan. Gagasan Lewin inilah yang pada perkembangannya dikembangkan oleh ahli-ahli lain seperti Stephen Kemmis, Robin Mc Taggart, Jhon Elliot, Dave Ebbutt. Di Indonesia sendiri PTK baru dikenal pada akhir dekade 80an.

Penelitian tindakan kelas dalam bidang pendidikan ini, dapat dilakukan dalam skala mikro ataupun makro. Dalam skala mikro sebagai contoh adalah penelitian dilakukan di dalam kelas pada waktu berlangsungnya pembelajaran untuk pokok bahasan tertentu dalam suatu mata kuliah atau mata pelajaran, sedangkan contoh skala makro adalah meneliti tentang efektivitas atau keberhasilan penerapan kurikulum suatu mata pelajaran pada pendidikan tingkat tinggi.

Lalu kapan sebaiknya penelitian tindakan kelas dilaksanakan? Tentu saja akan muncul jawaban berbagai versi pada semester manakah waktu yang tepat untuk melakukan PTK? Apakah pada semester awal yang dinilai masih baru dan fresh, atau pada semester akhir yang lebih dinilai dapat dipahami sebagai kondisi lebih real output dari sistem pembelajaran yang selama ini telah dilaksanakan dalam muatan kurikulum. Tetapi ternyata ada jawaban menarik untuk menjawab pertanyaan ini, jawaban diplomatis yang saya rasa bisa menjelaskan bahwa ketika kita sibuk berpikir baiknya kapan, Madya (2007) menjawab bahwa seorang dosen baiknya, tepatnya, melakukan PTK adalah pada saat dosen tersebut ingin melakukan peningkatan kualitas pembelajaran yang menjadi tanggung jawabnya, dan sekaligus ketika ia ingin melibatkan peserta didiknya dalam proses pembelajaran. Yang pada hematnya adalah lakukan pada semester apapun saat menjadi seorang dosen, karena seorang dosen haruslah berpikiran bahwa kualitas pembelajaran yang menjadi tanggung jawabnya haruslah bermutu! Dan PTK merupakan jalan untuk mencapai hal itu.

PTK memiliki karakteristik diantaranya adalah :

  1. PTK merupakan prosedur penelitian di kelas yang dirancang untuk menanggulangi masalah nyata yang dialami dosen berkaitan dengan mahasiswa di dalam kelas.
  2. Metode PTK diterapkan secara kontekstual, dalam arti bahwa variabel-variabel yang ditelaah selalu berkaitan dengan keadaan kelas itu sendiri dan tidak dapat digeneralisasi untuk kelas yang lain.
  3. PTK Terarah pada suatu perbaikan atau peningkatan kualitas pembelajaran, dalam arti bahwa hasil atau temuan PTK itu adalah pada diri dosen telah terjadi perubahan, perbaikan, atau peningkatan sikap dan perbuatannya.
  4. PTK bersifat luwes dan adaptif
  5. PTK banyak mengandalkan data yang diperoleh langsung atas refleksi diri peneliti.
  6. PTK sedikitnya ada kesamaan dengan penelitian eksperimental dalam hal percobaan tindakan yang segera dilakukan dan ditelaah kembali ke efektivitasnya.

Meski dikatakan ada kesamaan dengan penelitian eksperimental, tetapi menurut Sudarsono (2005) secara konseptual dan fundamental perbedaan dari PTK dengan penelitian eksperimental adalah sebagai berikut :

  1. An inquiry on practice from within
  2. A colaborative effort and or participatives
  3. A reflective practice made public

 

Berdasarkan semua penjelasan di atas, dapat ditarik kesimpulan betapa pentingnya PTK dalam memberikan evaluasi terhadap pencapaian mutu pembelajaran yang dilakukan oleh dosen, dan tidak perlu harus menunggu kapan dan waktu yang tepat, PTK sebaiknya dilakukan secepatnya, sebanyak-banyaknya guna melihat kebutuhan apa yang tepat dalam upaya peningkatan pendidikan yang selama ini kita lakukan. Maka saran saya untuk diri saya pribadi, dan untuk rekan-rekan sejawat dalam dunia pendidikan, marilah kita segera mulai melakukan PTK dengan memegang prinsip pelaksanaan PTK yaitu S.M.A.R.T.

S = Specifik

M = Managable

A = Acceptable

R = Realistic

T = Time-Bound

goal-quotes-82

 Sumber Pustaka :

Implementasi Penelitian Tindakan Kelas. 2018. Kopertis Wil VI Jawa Tengah. Applied Approach (AA)

PURWOKERTO

 

Hasil gambar untuk purwokertoPerjalanan ini dimulai dari sebuah pagi yang sibuk, tidak seperti biasanya, saya jarang sekali berhasil untuk bangun pagi buta, bahkan jam 6 pun terasa sangat pagi bagi saya, kecuali untuk hal-hal tertentu seperti saat mendapatkan jam mengajar pagi.

Kali ini saya harus bangun pagi, alarm sudah saya kondisikan untuk berbunyi antara jam 4 sampai jam 5 pagi, ya tentu saja hal ini saya lakukan karena saya takut untuk ketinggalan kereta yang akan berangkat pukul 6 pagi tepat dari stasiun Purwosari Solo. Pada tanggal 19 sampai 22 nanti saya akan mengikuti pelatihan Aplied Approach (AA) yang merupakan lanjutan dari pelatihan PEKERTI yang telah saya selesaikan pada bulan Januari kemarin. Berangkat pagi dengan masih mengemasi barang-barang yang harus dibawa karena ternyata masih belum semua barang yang menjadi keperluan saya masuk dalam dua tas yang nanti akan saya bawa.Berangkat diantar oleh istri saya,anak saya yang masih 4 bulan dan adik ipar menuju stasiun Purwosari. Sebuah perasaan baru harus meninggalkan istri dan anak yang masih lucu-lucunya.

Masuk ke dalam stasiun, Purwosari, beberapa kenangan muncul, sudah lama sekali rupanya saya tidak naik kereta api, terakhir kalipun saya lupa kapan itu. Duduk di ruang smoking room yang disediakan dekat dengan toilet membuat saya sedikit merasa pusing karena bau pesing yang sangat, meski sudah lebih bersih dari sebelumnya, tetapi pesing tetap saja menjadi hal yang sulit untuk dihilangkan. Duduk sendirian kali ini terasa ada yang kurang, rasanya sungguh menyesal tidak terdapat buku bacaan yang biasanya menemani ketika perjalanan, ah menyesal sekali.

Kereta dari arah timur tiba, kereta Joglokerto yang berangkat dari stasiun Balapan tiba tepat waktu, di gerbong nomor 6 telah menunggu rekan sejawat saya dari kampus STIKES Nasional, Bapak Vector Stephen Dewangga, Ibu Lilik Ariyani, Ibu Disa, dan Ibu Fitria yang sedang hamil 7 bulan. Dan saya harus duduk sendirian, tidak bergabung dengan mereka karena nomor kursi yang tidak sama. Dalam perjalanan saya memilih untuk tertidur karena memang rasa kantuk yang tidak tertahankan, saya tidur hanya 2 jam, karena pada pukul 1 pagi, saya memaksakan diri untuk melihat pertandingan Liverpool.

Dalam tengah perjalanan saya mendapatkan teman perjalanan seorang lelaki tengah baya, dia naik dari stasiun Lempuyangan Jogja, dalam perjalanan dia bercerita tentang kehidupannya, dan juga tentang pertanyaan-pertanyaan soal negara dan dunia pendidikan, lumayan juga, perbincangan dengan tema menarik seperti ini sudah lama sekali tidak saya dapatkan. Mulai dari soal pembuatan rel kereta api pada tahun 1918 yang masih lebih bagus dari tahun 2018 saat ini, tentang aspal yang diimpor dari luar negeri, tentang Turkistan yang katanya adalah contoh bagus untuk belajar kondisi Indonesia yang mulai dijajah oleh Cina, dan masih banyak lagi, meski tidak semua dalam tema perbincangan kami sependapat, tetapi setidaknya, saya mendapatkan beberapa pemahaman baru bagaimana beberapa orang memandang kondisi bangsa saat ini, dan dalam dunia pendidikan, ada pertanyaan yang menggelitik yang dia lontarkan.

Apakah BEM sekarang masih memiliki taji untuk mempengaruhi pemerintahan saat ini?

Jujur saja, saya menjawab bahwa BEM saat ini tidak lagi memiliki taji dalam mempengaruhi pemerintahan saat ini, demonstrasi yang dilakukan oleh mahasiswa tidak lagi terasa menggigit, dan lebih terasa ompong dan hanya menghasilkan rasa geli.

Tepat di stasiun Kroya, bapak yang saya lupa namanya tersebut turun, dan dalam beberapa menit lagi, saya pasti akan segera sampai juga di stasiun kota Purwokerto.

Sesampainya di staisun, kami berdiskusi bagaimana cara menuju penginapan yang telah dibokingkan oleh kampus kami untuk menginap, memesan ojek online sepertinya solusi yang sedikit harus hati-hati, karena sudah bukan hal yang asing tentunya bahwa ojek online tidak bisa bebas mengambil penumpang di dalam stasiun. Dan benar saja, dua ojek online (Go Car) yang kami pesan berurusan dengan tukang ojek konvensional yang ternyata berjaga di daerah yang dianggap zona merah bagi ojek online. Hingga di akhir kata, kami disuruh untuk memakai jasa taxi konvensional, yang seperti bisa kami tebak, kami kecewa dalam pelayanannya, karena kata awal hanya membayar 40.000 ternyata kami ditarik uang sebesar 50.000 rupiah. Bukan perkara uang 10.000 yang harus kami bayarkan, tetapi lebih kearah tidak konsekuenya harga awal yang telah disepakati. Tidak puas, mungkin seperti itulah, jika saya teringat tentang audit internal dan eksternal yang baru saja prodi kami lakukan, ya semua tentang profesional dan pengendalian mutu dari suatu bentuk pelayanan.

Pertemuan pertama di hotel Dominic kami bertemu dengan pak Wawan Laksito dan Prof DYP selaku ketua Kopertis Wilayah VI, Suatu kehormatan mereka datang dan menyalami kami, rupa-rupanya beliau-beliau ini masih mengingat kami yang beberapa bulan lalu baru saja mengikuti pelatihan PEKERTI yang juga di isi oleh beliau-beliau tersbut, mereka memberikan apresiasi yang tinggi terhadap kami, bahwa kami dinilai sangat gesit dan cekatan dalam mempersiapkan diri menjadi tenaga pengajar yang profesional. Meski dalam hati, kami ingin mengembalikan rasa bangga dan syukur tersebut kepada kampus kami STIKES Nasional yang memang komitmen dalam memajukan tenaga pendidiknya untuk lebih baik lagi.

Mengikuti sesi pelatihan pertama dari prof DYP dan dilanjutkan oleh pak Wawan Laksito seperti biasa menambah wawasan kami di dunia pendidikan, tentang peran kami sebagai dosen yang bukan hanya menjadi seorang tenaga pengajar yang profesional tetapi juga sebagai seorang ilmuwan yang harus menghasilkan beberapa karya ilmiah yang dapat menunjang perkembangan pendidikan nasional. Selesai sesi, seperti biasa, tugas pasti sudah menunggu untuk menjadi pekerjaan rumah bagi kami, kami tidak merasa heran dan gentar sedikitpun. Karena hal ini sudah menjadi makanan sehari-hari kami di kampus, tugas dan belajar tentang adminsitratif kampus dalam satu bulan ini telah menjadi langganan kami, bahkan sampai lembur jam 10 malam bukan lagi menjadi soal, dan jujur saja, saya belajar banyak dalam hal ini, mulai dari syarat pendirian sampai akreditasi akhirnya saya mengerti benar prosedurnya harus seperti apa. Kerja keras ini tidaklah sia-sia, saya mendapakan ilmu-ilmu baru yang suatu saat mungkin akan berguna kedepannya.

Di homestay yang kami tempati, setelah mandi dan mencari makan dengan berkeliling kota, kami semua disibukkan dengan aktivitas video call dengan keluarga kecil kami masing-masing, pak Vector menelpon istrinya yang sedang hamil muda, bu Lilik menelfon suaminya yang sedang bermain dengan anak-anaknya, Bu Fitria dengan suaminya, Bu Disa dengan calon suaminya, dan saya dengan istri dan anak saya, Shayna Alesha Amarseto.

…………………(Bersambung)

 

RANAH AFEKTIF YANG TERPINGGIRKAN

Hasil gambar untuk zebra cross

Berawal dari cerita Prof Sunandar tentang orang Jepang dan Zebra Cross yang saya dengar dalam sebuah sesi materi acara PEKERTI yang sedang saya ikuti, saya jadi tergelitik untuk mengetahui apakah memang peran aspek atau ranah Afektif dalam pendidikan Indonesia sedemikiannya terpinggirkan atau malah memang di pinggirkan?

Baiklah, mari kita mulai membaca cerita tentang orang Jepang dan Zebra Cross tersebut :

“Sekolah ‘KNOWING’ vs Sekolah ‘BEING'”

Cerita seorang teman :

Kantor kami, Perusahaan PMA dari Jepang, mendapat pimpinan baru

dari Perusahaan induknya.

Ia akan menggantikan Pimpinan  lama yang sudah waktunya kembali ke negaranya.

Sebagai partner, saya ditugaskan utk mendampinginya selama ia di Indonesia.

Saya memperkenalkan kepadanya  relasi, dan melihat objek wisata kota Jakarta dan Bandung .

Pada saat kami ingin menyeberang jalan, teman saya ini selalu berusaha utk mencari zebra cross.

Berbeda dgn saya dan org Jakarta yg lain, dgn mudah menyeberang di mana saja sesukanya.

Teman saya ini tetap tdk terpengaruh oleh situasi.

Dia terus mencari zebra cross ataupun jembatan penyeberangan, setiap kali akan menyeberang.

Padahal di Indonesia tidak setiap jalan dilengkapi dgn sarana seperti itu.

Yg lebih memalukan, meskipun sdh ada zebra cross tetap saja para pengemudi tancap gas, tidak mau mengurangi kecepatan guna memberi kesempatan pada para penyeberang.

Teman saya geleng2 kepala mengetahui perilaku masyarakat kita.

Akhirnya saya coba menanyakan pandangannya mengenai fenomena menyeberang jalan.

Saya bertanya, mengapa orang2 di negara ini menyeberang tidak pada tempatnya, meskipun mereka tahu bahwa zebra cross itu adalah sarana utk menyeberang jalan.

Sementara kenapa dia selalu konsisten mencari zebra cross meskipun tidak semua jalan di negara kami dilengkapi dgn sarana tsb..

Pelan2 dia menjawab pertanyaan saya,

“It’s ALL HAPPENS BECAUSE OF THE EDUCATION SYSTEM.”

Saya kaget juga mendengar jawabannya.

Apa hubungan nya menyeberang jalan sembarangan dgn sistem pendidikan?

Dia melanjutkan penjelasan nya, “Di dunia ini ada 2 jenis sistem pendidikan, yang pertama adalah sistem pendidikan yg hanya menjadikan anak2 kita menjadi mahluk ‘KNOWING’ atau SEKEDAR TAHU SAJA, sedangkan yg kedua sistem pendidikan yg mencetak anak2 menjadi mahluk ‘BEING’.

Apa maksudnya?

Maksudnya, sekolah hanya bisa mengajarkan banyak hal UNTUK DIKETAHUI PARA SISWA.

Sekolah TIDAK MAMPU MEMBUAT SISWA MAU MELAKUKAN APA YANG DIKETAHUI SEBAGAI BAGIAN DARI KEHIDUPAN NYA.

Anak2 tumbuh hanya menjadi ‘MAHKLUK KNOWING’, hanya sekedar ‘MENGETAHUI’ bahwa:

» ZEBRA CROSS adalah TEMPAT MENYEBERANG,

» TEMPAT SAMPAH ADALAH UNTUK MENARUH SAMPAH.

Tapi “MEREKA TETAP AKAN MENYEBERANG DAN MEMBUANG SAMPAH SECARA SEMBARANGAN”.

Sekolah semacam ini BIASANYA MENGAJARKAN “BANYAK SEKALI MATA PELAJARAN”.

Tak jarang membuat para siswanya STRESS, PRESSURE & akhirnya MOGOK SEKOLAH.

“SEGALA MACAM DIAJARKAN” dan BANYAK HAL DIUJIKAN, “TETAPI TAK SATUPUN DARI SISWA YANG MENERAPKANNYA SETELAH UJIAN”.

Ujiannya pun HANYA SEKEDAR TAHU, ‘KNOWING’.

Di negara kami, sistem pendidikan BENAR-BENAR DIARAHKAN UNTUK MENCETAK MANUSIA2 YANG ” TIDAK HANYA TAHU apa yg benar tetapi MAU MELAKUKAN APA YANG BENAR SEBAGAI BAGIAN DARI KEHIDUPANNYA’.

Di negara kami, anak2 hanya diajarkan 3 mata pelajaran pokok:

  1. Basic Science
  2. Basic Art
  3. Social

Dikembangkan melalui praktek langsung dan studi kasus dan dibandingkan dgn kejadian nyata di seputar kehidupan mereka.

Mereka tidak hanya TAHU, mereka juga MAU menerapkan ilmu yg diketahui dlm keseharian hidupnya.

Anak2 ini jg TAHU PERSIS ALASAN MENGAPA MEREKA MAU atau TIDAK MAU MELAKUKAN SESUATU.

Cara ini mulai diajarkan pada anak sejak usia mereka masih sangat dini agar terbentuk sebuah kebiasaan yg kelak akan membentuk mereka menjadi mahluk ‘BEING’, yakni MANUSIA2 YANG MELAKUKAN APA YANG MEREKA TAHU BAHWA ITU ADALAH BENAR.”

Betapa sekolah begitu MEMEGANG PERAN YANG SANGAT PENTING BAGI PEMBENTUKAN PERILAKU & MENTAL ANAK2 BANGSA.

Tidak hanya sekadar berfungsi sebagai “LEMBAGA SERTIFIKASI” yg “HANYA MAMPU MEMBERI IJAZAH” kepada para anak bangsa.

KARAKTER, PERILAKU dan KEJUJURAN adalah landasan untuk membangun anak didik  yang LEBIH BERADAB DALAM BERPERILAKU.

BUKAN SEKEDAR ANGKA-ANGKA AKADEMIK seperti yang tertera di buku-buku raport sekolah ataupun Indeks Prestasi IPK..

KEJUJURAN dan ETIKA MORAL adalah PRIORITAS UTAMA, sedangkan kepintaran itu kita kembangkan kemudian,  karena SETIAP ANAK TERLAHIR PINTAR dan pendidikan itu sendiri adalah perkembangan

Oleh sebab itu, Seyogyanya, kita TIDAK PERLU TERLALU RISAU jika seorang anak belum bisa calistung (baca tulis hitung) saat masuk SD atau bahkan setelah sekolah SD sekalipun,

Tapi mestinya  harus peduli jika seorang anak TIDAK JUJUR dan BER ETIKA BURUK.

Pendidikan itu BUKAN PERSIAPAN UNTUK HIDUP,  karena PENDIDIKAN ADALAH KEHIDUPAN.. SEPANJANG HIDUP..

Lalu dimana permasalahan ranah afektifnya?

Sebelum itu, tidak ada salahnya kita mengetahui apa itu ranah afektif, ranah afektif sendiri adalah salah satu dari tiga ranah yang dikenal dalam dunia pendidikan yang berhubungan dengan sikap, perasaan atau emosi, sedangkan dua sisanya adalah ranah kognitif yang berhubungan dengan knowledge dan ranah Psikomotorik yang berhubungan dengan skill atau kemampuan siswa untuk praktek. Ranah afektif sendiri merupakan ranah yang berkenaan dengan sikap dan nilai, sehingga mampu mengubah perhatian dari suatu bentuk sederhana menuju yang rumit untuk memilih fenomena serta menanamkan fenomena itu sesuai dengan karakter dan kata hatinya. Ranah afektif terlihat dalam sikap, minat, apresiasi, nilai dan emosi atau prasangka yang akhirnya berpangkal kepada pembentukan tingkah laku moralnya.

Dalam ranah afektif sendiri menurut Krathwohl dibagi menjadi beberapa tingkat pencapaian, yaitu Receiving (Menerima), Responding (Menanggapi), Valuing (Menghargai), Organization (Mengatur diri), Characterization (Menjadikan pola hidup).

Hasil gambar untuk RANAH AFEKTIF

Dari tingkatan tersebut yang telah disusun berdasarkan tingkatannya, tentu kita akan setuju bahwa menjadi pola hidup keseharian memang layak menduduki posisi tingkatan tertinggi, karena pola hidup adalah sesuatu yang menjadi cara kita berperilaku sehari-hari, model yang membuat kehidupan keseharian kita menghasilkan sesuatu, atau dalam artian lainnya pola hidup adalah bentuk keteraturan (karena peraturan abstrak) yang diciptakan diri untuk menghadapi hidup sehari-hari. Untuk mencapai pada puncak tersebut tentu saja dalam pendidikan haruslah melewati tingkatan-tingkatan sebelumnya, berproses disana dan meresapi pencapaian apa yang didapatkan dan perubahan apa yang terjadi pada emosi, perasaan atau penilaian terhadap suatu fenomena dari kacamata siswa tersebut hingga sampailah pada tahapan tertinggi dan terjadi internalisasi, yaitu suatu keadaan dimana nilai sudah terbentuk dalam diri individu dan mengontrol tingkah lakunya dalam waktu yang lama sehingga membentuk karakteristik “pola/pandangan hidup.

Lalu apa hubungannya dengan cerita Orang Jepang dan Zebra Cross tadi?

Tentu saja sebuah kesimpulan muncul untuk menyatakan bahwa pendidikan kita saat ini memang kurang dalam memberikan materi yang bernilai aspek afektif, dalam perkuliahan kita lebih banyak dijejali dengan pengetahuan-pengetahuan, atau praktikum-praktikum tentang materi perkuliahan yang lebih condong juga ke arah knowledge. Saya kemudian jadi teringat kembali apa yang disampaikan oleh Prof Sunandar bahwa bangsa kita banyak sekali lulusan yang ahli dalam bidang apapun, tetapi kenapa kesemrawutan tetap saja terjadi dimana-mana? Kita tahu bahwa Zebra Cross adalah tempat untuk menyebrang di jalan raya (Kognitif) dan dalam bergerak, kita bisa melakukan bagaimana cara memencet tombol untuk menyalakan lampu merah agar mobil berhenti sesaat agar kita bisa menyeberang (Psikomotorik) lalu kenapa kita masih tetap saja memilih untuk menyeberang sembarangan (Afektif)? Kita juga sadar bahwa membuang sampah haruslah di tempat sampah (Kognitif) kita juga bisa melakukannya (Psikomotorik) tetapi kenapa kita tetap memilih untuk membuang sampah sembarangan (Afektif)? Itu adalah sebuah contoh sepele tentu saja dimana Afektif berjalan dalam kehidupan sehari-hari, sebuah pola yang menjadi nilai hidup kita. Lalu bagaimana saat kita hidup dengan profesi kita? Tentu saja banyak hal-hal yang kita sepelekan begitu saja, karena hal sederhana seperti itu kita abaikan. Lulusan seperti apa yang nantinya akan kita bentuk? Sikapnya? Minatnya? Konsep Dirinya? Nilai? Dan Moralnya?

Mengutip pesan dalam cerita tersebut, bahwa mereka melakukan apa yang diketahui sebagai bagian dari kehidupannya adalah dengan menciptakan pendidikan yang membuat siswa mereka MAU ! dan mau tidak mau “MAU” itu merupakan ranah Afektif yang kebanyakan dalam kurikulum pendidikan Negara ini menjadi ranah yang kurang diperhatikan, aspek-aspek dalam capaian pembelajarannya hanya sekedarnya dituliskan tanpa banyak yang peduli karena berpikiran bahwa nilai emosional dan moral juga adalah urusan diluar pendidikan formal!

Jadi tidaklah heran, jika banyaknya institusi pendidikan, tingginya jenjang pendidikan tidak akan memajukan kehidupan sosial bangsa ini karena mereka hanya tahu, tetapi enggan untuk melakukan sesuatu. Dan sebuah pesan yang menarik dari prof DYP yang saya rasa rasa cocok untuk situasi seperti ini bagi saya.

Dosen yang salah konsep lebih berbahaya dibandingkan dengan dokter yang salah mengobati.

 

Sumber pustaka :

Wawasan Pendidikan. Ranah Afektif dan Aspek-aspek serta Hubungannya.

RELATIVITAS SEJARAH

aas_dht_listing

“Sejarah merupakan suatu hal yang pada umumnya merupakan cerita silih berganti kekuatan-kekuatan yang mengendalikannya, serta koeksistensi kekuatan-kekuatan yang berusaha untuk mengendalikannya. Suatu objek tunggal, suatu fenomena tunggal berubah makna seturut kekuatan yang mencomotnya”

Sebuah kalimat pengantar dari Gilles Deleuze bagi karya Nietzsche, didalamnya terdapat sebuah intisari bahwa sejarah adalah tentang kekuasaan dan kepentingan, sejarah adalah tentang perubahan dan mengubah sesuatu. Sejarah menyediakan banyak contoh, salah satunya adalah perjuangan dan ide-ide perjuangan yang pada akhirnya sepenuhnya berubah makna dan nilai. Gerakan perjuangan yang menjadi ekstrem kiri dan ekstrem kanan, berganti posisi satu sama lain.

Tiap-tiap peristiwa, tiap-tiap aspek kehidupan dengan realitasnya selalu bisa berubah makna. Perubahan makna, pemberian penilaian memerlukan banyak tinjauan kedepan dan kewaspadaan, plus kecakapan dalam mentaksir dan mengevaluasi. Tidak ada nilai dan makna semata-mata lahir dari dirinya sendiri. Seperti pada kasus Revolusi Rusia dapat dipandang sebagai tindakan anarkis berdarah. Kaum anarkis militan Prancis pra 1914 menjadi patriot berapi-api pasca 1914. Tidak ada yang tetap, semua harus dikaji dan disusun, ditafsir berulang-ulang.

Lalu bagaimana dengan filsafat dan kesusastraan, moralitas dari realitas yang dipilih sejarah sebagai pancang nilai yang harus ditaati? Mari kita berjalan kemasa lalu, kembali menggali sejarah kesustraan dan dongeng klasik yang menjadi penghantar tidur, ditanamkan kedalam batas alam bawah sadar, ingatan yang akan diterima kuat oleh kita dari orang tua yang ingin membentuk kita. Siapa yang akan menolak bahwa cerita sebelum tidur adalah mantra yang akan menggiring kita kedalam realitas baru yang kuat dan mengakar.

Kancil yang mencuri timun, atau timun emas, dan legenda lain yang begitu penuh dengan pesan-pesan moralitas yang diinginkan, begitu banyak legenda yang diinjeksikan sebelum kita tertidur berbau hukuman dan bersikap menerima. Atau tentang kebanggan-kebanggan semu non realistis.

Kita dibentuk, menjadi seperti apa yang sejarah inginkan, bukankah kita adalah anak dari sejarah. Kita adalah penerus realitas yang dibentuk oleh keinginan sejarah manusia. Kecuali manusia-manusia yang mau bangun dan menampar dengan keras pipi mereka sendiri, mereka yang nantinya akan menjadi ayah dari sejarah.

 

Walmiki dan Moses

Sinai

“Bukankah sudah tiba saatnya untuk kau datang, menaiki gunung Sinai itu dengan merangkak, berpegang pada tongkat kayu yang kau dapat dari lembah Kan’an? tetapi hingga selarut ini kau tidak muncul juga, apa yang terjadi padamu Mos? Apa kau tidak ingin datang memenuhi takdir yang telah aku tuliskan padamu?”

Walmiki duduk diatas batu padas di puncak gunung Sinai, angin menerbangkan jubah katunnya sesekali, raut wajahnya cemas, mulutnya tak berhenti meracau samar. Beberapa kali dilihat kitabnya yang tertutup, disitu telah selesai dia menuliskan takdir dirinya dan Moses hingga beberapa hari kedepan.

Benarkah dia tidak akan datang hari ini, harusnya dia beserta rombongannya sudah terlihat dari sebelah barat laut, berjalan terseok dengan pakaian lusuh bersama rombongan setelah melewati perjalanan tiga hari tanpa henti. Tetapi sampai matahari hampir terbenam, tak terlihat kepulan debu tanda kehadiran mereka.

“Dimana mereka?” Walmiki semakin tidak tenang dalam duduknya, pohon kering yang telah dituangainya dengan bensin bergoyang, tertiup angin dalam gelisah. Aroma bensin tercium  pudar.

“Mungkin terlalu cepat aku menuangkan bensin” batin Walmiki.

Tangan Walmiki dibentuknya menjadi seperti teropong, dari matanya yang mulai dihinggapi katarak tipis, dia memperhatikan seksama jalan setapak yang seharusnya sudah dilewati rombongan Moses. Tetapi alih-alih rombongan Moses yang lewat, burung pemakan bangkai pun tak ada yang terbang di atas jalan itu. Sepi, senyap, dan kosong. Jam tangan Moses menunjukkan pukul lima sore. Sebentar lagi gelap. Moses sudah pasti tidak lewat.

“Kemana gerangan anak itu?” Gusar Walmiki sambil terus melihat pohon kering yang terlihat paling menonjol diantara semak belukar dipuncak gunung. Dilihatnya kitab yang menjadi andalannya untuk mengendalikan takdir manusia, sebuah kitab yang didapatkannya dari Dewa Brahma setelah bersemedi selama 50 tahun di gua pegunungan Tibet. Didalam kitab itu terselip beberapa lembar kertas, sebuah teks tersendiri yang ditulis oleh Walmiki tentang kebijaksanaan dan kebajikan yang dia rangkum dari ucapan Resi Narada. Sebuah teks yang sejatinya akan dia berikan kepada Moses ketika berhasil menaiki puncak gunung Sinai ini. Seperti yang diskenariokan oleh Walmiki sendiri.

Kedatangan Walmiki ke gunung Sinai bukan juga tanpa alasan, atau sekedar ingin main-main dengan sebuah peristiwa yang akan menjadi sejarah besar yang mengubah pandangan spiritual kehidupan umat manusia, menjadi penikmat dan penonton bukanlah karakter Walmiki. Dia harus ambil bagian. Walmiki mengambil posisi duduk, memandang langit yang berpondasi gurun pasir. Remang-remang sudah menjalar sampai punggung gunung-gunung yang menonjol kaku, khusuk, tegap, dan dingin. Dalam duduknya Walmiki teringat tentang kisah Rama yang menjadi sumber petuah dalam teks yang telah disiapkannya itu. Begitu elegan, begitu khusyuk, dan begitu membius bicara Resi Narada pada waktu mengisahkanya. Angin menerpa jubah katunnya sekali lagi, kali ini sedikit membuatnya limbung.

Moses tetap masih belum terlihat, Walmiki berpikir bahwa dirinya harus berteleportasi lagi, menuju pergunungan yang dipenuhi pohon Mara, sebuah daerah terakhir yang menjadi pintu masuk untuk menuju ke arah pergunungan Sinai. Sekedar mengintip sudahkan Moses sampai disana, agar pikirannya tidak gusar meraba-raba. Tetapi sepertinya niatan itu diurungkannya, perhitungannya untuk menggunakan energi haruslah tepat, teleportasi dari sungai Gangga sampai disini telah menyita hampir tiga perempat tenaganya.

“Di perbukitan Mara. Ya. Di perbukitan Mara. Moses pastilah baru sampai disana saat ini” Kata Walmiki sembari mencari celah bebatuan yang bisa dia pergunakan untuk menjadi tempatnya berbaring, tidur menunggu kedatangan Moses.

*****

Di seberang jauh disana, Moses yang telah berhasil menghindari kejaran Firaun sudah tiba dipintu masuk perbukitan Mara. Perjalanan yang teramat jauh, memakan waktu hampir satu bulan utuh, sebuah perjalanan yang lambat, penuh tatih dan penuh rasa was-was. Beberapa puluh kilometer perjalanan dari tepian laut Merah telah mereka dapati, dan sebentar lagi sesudah menembus perbukitan Mara, Moses akan memerintahkan untuk mendirikan perkemahan sementara.

Di sana, dipintu keluar dari pergunungan itu ada dataran yang terdapat tujuh mata air yang akan cukup untuk anggota rombongannya. Tempat singgah sementara yang pas untuk menggumpulkan tenaga, merawat yang sakit untuk mempersiapkan perjalananya kembali.

Moses melangkahkan kaki memasukki mulut perbukitan. Gelap mulai berkuasa, obor-obor sudah dinyalakan, anak-anak kecil merapat kepada umi atau abinya. Binatang ternak mengembik berkali-kali. Gunung dalam langit maghrib ini tak ubahnya seperti sebuah gua. Laki-laki bersiaga, mengikuti Moses dari belakang dengan mata waspada.

Moses melangkah dengan hati-hati, diantara gelap memimpin rombongan membelah perbukitan Mara.

*****

Moses khusuk bersujud, rasa syukur dan takzimnya penuh penghambaan karena telah melihat kuasa Tuhan yang membelah dan menutup Laut Merah untuk menyelamatkannya dari kejaran perbudakan raja Mesir. Dalam kepasrahannya Moses membuka pikirannya, menjernihkan kesadarannya untuk lebih jelas mendengar sebuah pesan tentang apa yang harus dilakukan. Sebuah amanat untuk menggenapi sebuah janji, mengantarkan bangsanya menuju tanah yang dijanjikan Tuhan kepada Abraham, tanah Kanaan.

Sayup-sayup desir angin menyelinap, menembus batang pohon Mara yang tumbuh tidak teratur diperbukitan pasir dan berbatu dimana Moses sedang bersujud. Bintang-bintang semakin jelas menampakkan kerlipnya. Mendadak tubuh Moses bergetar, bulu tengkuknya berdiri, tubuhnya sekonyong-konyong seperti dilingkupi oleh hawa dingin, Moses tetap mempertahankan diri dalam sujudnya, menikmati sensasi yang datang dengan begitu hebatnya. Sebuah pengalaman atas kepasrahan. Getaran tubuh Moses semakin menghebat, merambat hingga sampai batu kerikil disekelilingnya, kesadarannya mulai memudar, distorsi-distorsi kilatan kejadian-kejadian bersliweran dalam pikirannya. Moses tersungkur, roboh tak mampu lagi menahan tubuhnya, kesadarannya.

*****

Di tengah-tengah pepohonan Mara, Moses berdiri pada sebuah gunudukan batu padas yang cukup untuk dirinya dilihat oleh rombongan, sesaat dia memandang rombongannya yang sedang menunggu khotbahnya. Dilihatnya wajah-wajah lelah namun masih kokoh menyimpan harapan, wajah-wajah renta, wajah yang telah terbiasa menahan rasa sakit, perempuan-perempuan dengan bayi menyusu di teteknya, anak-anak kecil yang berlari, binatang ternak yang tertambat pada pasak-pasak.

“Wahai saudaraku! Kaumku! Bani Israel yang mana Allah telah memerintahku pada suatu malam untuk menjadi Rasul bagi kalian. Wahai kalian pengikut ajaran Abraham! Perjalanan ini bukanlah keinginan kita, tetapi kuasa Allah yang menggerakkan jiwa dan kaki kita untuk lepas dari kekejaman dan kedzaliman. Aku kembali lagi ke Mesir untuk menjemput kalian wahai kaumku! Kutinggalkan kemewahan dan kedudukan di sisi Firaun agar bisa menghantarkan kalian pulang! Kembali ke tanah air kita yang sebenarnya! Tanah yang dijanjikan Allah kepada Abraham! Tanah yang dijanjikan! Tanah Kanaan!”

Mereka mendengar dengan khidmat, sebagian lagi bersorak mengangkat tangannya, bertepuk tangan, berpelukan dan sebagian lagi menghapus air matanya.

“Malam lalu, aku mendapatkan gambaran tentang apa yang harus aku lakukan selanjutnya! Disana!”

Tangan Moses menunjuk kepada gunung Sinai yang tepat berada di depannya. Mata rombongan ikut menoleh, mengikuti arah tangan Moses. Gunung Sinai! Salah satu gunung diantara gunung-gunung yang berjajar itu.

“Tengah malam nanti aku akan menaikinya”

Sejenak mata mereka kembali menatap Moses. Rasa khawatir mereka mulai muncul, adakah rencana untuk menaiki gunung itu bersama-sama, cukuplah sudah perjalanan jauh ini berlalu tanpa harus mendaki curamnya gunung itu. Mereka kasak-kusuk saling memastikan, bukan tak percaya kepada Moses atas kepemimpinannya dalam membawa mereka keluar dari Mesir, tetapi, rasa lelah itu sudah mendapatkan rumahnya untuk istrahat malam ini.

Moses mendengar kekhawatiran rombongannya.

“Sendirian” lanjut Moses.

“Sebentar lagi kita akan sampai di ujung perbukitan Mara, disana terdapat tanah lapang dengan tujuh mata air dalam setiap penjurunya. Dirikan tenda! Tambatkan binatang ternak! beristirahatlah selagi aku menaiki gunung Sinai nanti” Kata Moses sambil menuruni batu padas, berputar untuk melanjutkan perjalannnya, beberapa ratus meter lagi, disebelah barat padang gurun Sin, tanah lapang untuk rombongan Moses telah menunggu.

Dan tidak perlu waktu yang lama, mereka telah tiba di dataran itu, membangun tenda-tenda dan membuat api unggun, membuat dapur umum dan menambatkan binatang ternak. Mereka beristirahat, merebahkan kelelahan sementara. Besok malam adalah hari besar, untuk Moses dan kaumnnya.

*****

Matahari perlahan menghilang dalam garis cakrawala, semburat warna orange kemerahan berlatar biru tua tampak begitu cantik, gugus-gugus bintang galaxi Bima Sakti mulai berkelip malu, menata diri pada tempat semestinya. Moses berdiri, menatap wajah gunung Sinai yang menjulang kokoh dihadapannya. Cahaya dari sisa matahari masih dapat mengenai gunung yang tengah malam nanti akan dia daki seorang diri. Menggenapi salah satu janji yang dia dengar dari gambaran-gambaran mistis disetiap sujudnya selama ini. Gunung itu sudah menantang di depan matanya, Moses menghitung dengan cermat setiap langkah dan keputusannya.

Tepat saat rembulan mulai berada hampir ditengah kepalanya, Moses mulai melangkah memasuki kaki gunung Sinai. Bebatuan kecil dan besar, kelokan-kelokan dengan sudut kemiringan yang berbeda-beda menyambutnya. Dengan teguh Moses melewatinya inci demi inci. Pijakannya haruslah mantap, bebatuan kecil dan kerikil adalah dasar dari jalurnya.

Sedang rombongannya yang dibawah melihat dengan seksama, memperhatikan titik api obor yang semakin lama semakin mengecil, bahkan kadang menghilang tertutup oleh batu besar yang harus dilewati Moses dalam rutenya.

“Apa yang akan terjadi malam ini?” tanya Tobiah.         

“Aku tidak tahu, tapi aku percaya kepada Moses bahwa dia tidaklah gila” Jawab laki-laki disampingnya yang masih terpaku menatap titik api dari obor yang dibawa Moses.

Tobiah mengangguk, meski tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan tetapi setidaknya ada sebagian orang yang percaya seperti dirinya bahwa Moses tidaklah gila untuk menaiki gunung Sinai tengah malam seperti ini.

“Semoga Moses tidak mati terkena bisa ular derik atau sengatan kalajengking, kita masih membutuhkannya untuk membuktikan tergenapinya janji kepada kaum kita” sebuah suara lainnya ikut serta menjawab. Dalam kegelapan Tobiah tidak bisa melihat siapa yang berkata seperti itu, meski yang berdiri dan menunggui Moses dari perkemahan tidaklah cukup banyak, tetapi tampaknya tidaklah mudah mencari asal suara dalam kegelapan dan dengan wajah-wajah yang kaku menatap pada satu titik.

“Sudah selayaknya Moses mendapatkan tempat yang layak di hati kita, usaha kerasnya haruslah dibayar dengan sesuatu yang lebih. Dia layak menjadi Tuhan di dunia dan Tuhan Langit biarlah tetap di atas sana” Suara yang sama muncul lagi. Memecah kesunyian.

“Siapa yang barusan berkata? Siapa kamu berani berkata untuk memper-Tuhankan Moses” tanya Tobiah dengan nada menghardik.

Tidak ada jawaban, mereka saling melihat, mencari siapa kiranya yang berkata.

“Semoga saja nanti bukanlah tipu muslihat dari Iblis yang akan ditemui Moses di atas sana. Membelokkan pandangan Moses terhadap dirinya, membelokkan kita pada ajaran yang lurus, ajaran yang telah diajarkan oleh nenek moyang kita melalui Abraham!” suara itu muncul lagi, suara yang berat dan serak. Tobiah berjalan, mencari dimana asal suara itu dari dalam kumpulan rombongan yang berdiri melihat dan menunggu Moses.

Angkasa penuh dengan bintang. Meski tak sepenuhnya bersih karena di ujung barat awan Kolumusnimbus merangkak pelan menuju kearah pergunungan. Sinar bulan terpendar, seakan bermurah hati kepada Moses untuk lebih mudah menentukan langkahnya. Meskipun suluh sudah dalam genggaman tangan Moses.

Perjalanan menuju gunung Sinai lebih berat dari perkiraannya. Kemiringan gunung yang sepertinya cukup mudah untuk didaki sepertinya hanya ilusi mata saat melihatnya dari perkemahan. Vegetasi ternyata tidak hanya berupa perdu kering, ada beberapa akasia gurun, tyme, dan kaktus terpencar disisi lain. Tidak ada jalur teduh untuknya menaiki gunung ini jika dilakukan disiang hari, mungkin ini salah satu kemurahan Allah kepadaku! Batin Moses dalam dengus lelahnya.

Peluh keringat kali ini begitu lebat, membanjiri jubah putih yang telah berubah menjadi kecoklatan karena terpaan tanah dan pasir gurun selama perjalanan. Tidak ada pakaian khusus yang dia sediakan untuk acara ini.

Terompahnya terasa merepotkan, terlebih suluh yang dibawanya membuatnya tidak lincah dalam mencari pegangan pada saat dibutuhkan. Beberapa kali Moses terlihat jalannya terseok-seok, nafasnya terengah-engah.

Bebatuan kasar dijadikannya tempat duduk sementara, pendakian ini hampir membuatnya semaput, adaptasi jantung dan paru-parunya sedang bekerja untuk medan menanjak seperti ini. Di insafinya bahwa dia haruslah mengumpulkan tenaga dan membiarkan tubuhnya terbiasa dengan aklimasi yang berbeda, atau dia akan berjalan tanpa keseimbangan nanti.

“Aku adalah Rasul mereka, tak bolehlah aku menyerah dan selemah ini” desis Moses disela hembusan nafasnya yang sekarang lebih banyak kandungan karbondioksidanya. Matanya melihat sekitar kemudian berhenti di tempat dimana rombongannya berkemah, meski dari kejauhan tampaklah beberapa orang yang sedang memperhatikan dia, berkumpul membentuk suatu barisan yang tidak rapi.

Setelah beberapa saat Moses beristirahat, dia berdiri. Melanjutkan perjalanannya setelah sekiranya dirasa cukup istirahat. Langkah Moses kembali kuat, pijakannya mantap, sebentar lagi Moses akan sampai dipersimpangan terakhir sebelum sampai di puncak gunung.

Braaaaaaakk…..Srrrrttttttt….!!!!

Tubuh Moses melesat, terhempas jatuh mengikuti hukum gravitasi. Berguling jatuh ke bawah bersama dengan kerikil dan bebatuan. Semuanya gelap, suluh sudah lepas dari genggaman. Dengan sigap Moses mencari tambatan dengan kaki dan jemari tanggannya, meraih sesuatu yang bisa dijadikan tempat mengaitkan jari-jarinya. Beberapa kerikil dan batu ukuran genggaman dua tangan menimpa kepala Moses. Pasir yang masuk membuat matanya perih dan kerongkongannya menjadi tersekat.

Perlahan, kesadarannya kembali normal. Pelarian diri dari kejaran Firaun telah mentakdirkannya kepada gunung Sinai ini. Perjalanan ini tidaklah boleh berhenti di tengah jalan, tidak boleh menyerah sebelum dia menemukan jawaban atas bisikan dalam sujud khusuknya di perbukitan Mara pada malam itu.

Kakinya kini mencoba mencari pijakan batu yang lebih mantap, tangannya meraba-raba, mencari celah untuk dirinya menambatkan kekuatan agar lekas berdiri tegap di curamnya tebing tempat dia terperosok tadi.

Rasa perih dibeberapa bagian distal tubuhnya mulai terasa. Beberapa luka gores akibat bergesekan dengan kerikil dan batu sepertinya bukan hal yang penting lagi baginya, luka-luka kecil ini tidak ada apa-apanya dengan lecutan penjaga-penjaga tahanan Firaun yang membabi buta saat mencambuk dirinya. Menghukumnya karena telah berani mengingkari bahwa Firaun rajanya adalah Tuhan Raja semesta. Setiap malam sebelum berhasil lolos dan kemudian kabur ke Yaman, tubuh Moses selalu didera duaratus cambukan pada punggung dan dada.

Moses terus merangkak.

“Aku tidak akan mati malam ini dengan cara semurah ini”.

Mendung menggelayut. Petir tiba-tiba menyambar, gelegar demi gelegar mengisi kesunyian Moses.

“Jangan hujan dulu” rintih Moses sembari mengangkat tubuhnya yang miring bersandar pada badan tebing. Suluhnya telah lenyap, mati terpelanting. Harapan sebagai sumber cahaya yang menuntunnya kini tinggal rembulan. Tetapi sepertinya sebentar lagi harapan itu akan tertutup oleh gumpalan awan tebal yang telah mencapai tepiannya.

*****

Bintang memudar, dan begitu juga rembulan. Suara rintihan itu semakin nyaring terdengar oleh pikirannya sendiri. Dengungan tidak biasa merambat di telinganya, penglihatannya semakin buram, nafasnya memburu, jemari tangannya mencengkram tanah di puncak gunung Sinai. Gemuruh guntur menggelegar bersahutan, dentuman demi dentuman, kilatan demi kilatan cahaya menjalar membentuk garis akar cahaya digelap langit. Halilintar beberapa kali menukik turun, acak, mengerikan.

Gemuruh petir terdengar, angin membawa udara dingin disertai bulir-bulir air menerpa wajah Moses.

Hamparan rumput liar dengan sebuah pohon akasia gurun bercampur dengan bebatuan tampak terhampar di depan mata Moses, akhirnya sampai juga di ujung pendakian yang melelahkan ini. Berjalan setengah berlari akhirnya moses telah sampai di tengah hamparan datar di puncak gunung. Matanya melihat sekeliling awas, meski dalam kegelapan dia merasa dirinya bukanlah satu-satunya yang sedang berada di puncak gunung Sinai ini.

“Aku sudah disini, menggenapi panggilan-Mu!” teriak Moses sambil merentangkan tangannya, wajahnya mendongak ke atas.

*****

“Blaaaaarrrrr!!!”. Pohon di sampingnya tiba-tiba terbakar, seperti meledak. Moses mundur beberapa langkah, terkejut, meski akhirnya roboh terkena hempasan dari gelombang angin yang dihasilkan oleh ledakan tadi. Api dengan cepat merambat menuju ujung-ujung ranting, membakar daun-daun kering, seperti sumbu dengan bubuk mesiu.

Dengan sigap Moses kembali mengambil posisi duduk kemudian berdiri, keyakinannya tak memperbolehkan dirinya merasa lemah hanya karena terkejut oleh ledakan dan nyala api yang tiba-tiba membakar pohon disampingnya.

“Inikah kuasa-Nya? Apa yang hendak Dia Sampaikan?” Suara Moses tertahan.

“Apa yang Kau Inginkan!” kali ini suara Moses tidak lagi tertahan, keberaniannya muncul, tidak ada rasa ketakutan dan kekerdilan dirinya setelah beberapa hal diluar nalar dipertunjukkan kepada dirinya selama perjalanan.

Matanya berkeliling, mencari sosok yang mungkin saja akan muncul dari arah yang tak di duga-duga. Telingannya mencoba mencari-cari, awas mendengar pergerakan sekecil apapun termasuk suara percikan api yang membakar ranting kering.

Tiba-tiba muncul dentuman yang menggelegar, mengagetkan Moses dalam pencariannya. Angin bertiup lebih kencang dari yang sudah-sudah, gelegar petir semakin menjadi-jadi. Bumi bergerak. Moses limbung. Terdengar suara-suara berbisik, berguman, merambat hingga terdengar mengerikan, suara mereka berat, suara-suara itu, bukan ratusan, ribuan, jutaan, tapi tak terhingga, mendengungkan sebuah Nama.

Sekerjap sebuah Cahaya menyilaukan muncul di hadapan Moses, berpendar, teramat terang untuk dapat diterima oleh matanya. Dengan sigap juga Moses menutup matanya. Tetapi naas, cahaya itu masih dapat menembus selaput tipis kelopak matanya, hingga akhirnya dia menutup kedua matanya dengan lengannya. Tubuhnya tiba-tiba menjadi berat, persendiannya melemah, seakan mencair hingga tidak ada lagi bagian yang mampu menegakkan ruas tubuhnya. Suara-suara itu semakin keras dan cepat, memenuhi pendengaran Moses.

Moses menyadari sistem indrawi lainnya berangsur melemah, hanya saja kesadarannya masih ada. Hingga akhirnya keterbatasan tubuh dan mentalnya luruh. Moses hilang dalam dunia alam bawah sadarnya. Tubuh dalam alam bawah sadarnya tersedot mampat kemudian terbang berputar-putar dalam ruang yang penuh cahaya berkilauan.

Adrenalin dan Endhorpin Moses bekerja sangat cepat, menjalari sekujur tubuhnya, merambat melalui sel-sel saraf dan pembuluh darahnya yang membelitnya seperti akar. Raga alam bawah sadar Moses bergerak menuju ke arah cahaya yang mencalak, persis seperti cahaya yang dilihatnya sebelum pingsan tadi. Cahaya itu semakin membesar, semakin terang dan mendistorsi menjadi beberapa cahaya yang berkilat kemilauan. Sebentar kemudian dia terhisap lagi, kali ini lebih cepat. Tubuhnya terasa sangat mampat dan berat, sejurus kemudian dia menghilang. Tak sadarkan diri dalam alam bawah sadarnya.

Bahkan Walmiki sekarang tidak lagi percaya kepada kitabnya sendiri. Tubuh Walimiki ikut bergetar, sendi-sendi di tubuhnya seakan rontok, badannya ambruk beberapa kali saat cahaya itu muncul. Tak disangkanya hal seperti ini akan dia alami untuk kedua kalinya, pengalaman aneh yang kuat seperti pada saat dirinya didatangi oleh Dewa Brahma dalam meditasinya. Dia ingin keluar, menampakkan diri dan ikut serta menjadi bagian dari peristiwa agung ini, tetapi ada kekuatan yang menahannya, kekuatan dari dalam dirinya agar dia tidak muncul dan mengganggu kesakralan perjalanan spiritual yang sepertinya memang khusus diberikan kepada Moses. Walmiki terkapar, roboh, hanya kepalanya yang masih mendongak untuk terus melihat apa yang sedang terjadi. Itulah sisa-sisa tenaga yang digunakan oleh Walmiki, meski akhirnya dia ikut tak sadarkan diri. Rintik hujan mulai turun dan membasahi tanah. Api pada pohon masih menyala, bergoyang meliuk-liuk dalam hujaman air hujan dan terpaan angin. Walmiki dan Moses masih dalam posisinya, terbaring dalam ketidaksadaran.

*****

Angin berhembus lembut, mendung sisa hujan semalam masih menggantung meski tak setebal sebelumnya. Jemari Moses bergerak pelan, kesadaran sepertinya telah kembali hingga dalam kepala Moses. Setelah beberapa saat, sekonyong-konyong Moses mencoba berdiri, meski beberapa kali terlihat akan jatuh pada akhirnya dia berhasil berdiri dengan sempurna. Dalam pelan membuka mata, Moses mencoba merasai kehadirannya, kejadian semalam yang dialaminya, atau ingatan apa saja yang mungkin bisa diolahnya untuk menjawab kenapa dirinya bisa berada di tempat seperti ini.

Cahaya itu telah menghilang disertai dengan munculnya rintik hujan, Moses menatap jauh ke angkasa, searah dengan kemana Cahaya itu terakhir kali terlihat. Meski dirinya tidak melihat secara langsung dengan mata jasmaninya. Dia masih bisa merasakan gelombang energi yang tersisa dari Cahaya berkilau itu.

Moses menatap langit yang mulai pagi, burung-burung terbang menuju ke arah barat, sesekali berputar di gunung, asap dari sisa pohon yang terbakar masih mengepul meski tidak setebal sebelumnya. Dari puncak gunung, Moses bisa melihat hamparan gurun-gurun pasir dan teluk-teluk. Gunung dan gunung-gunung bermandikan cahaya keemasan diterpa cahaya cakrawala.

Sebuah batu berwarna kehijauan, dengan tulisan terukir indah tertancap dihadapan Moses. Dengan seksama diamatinya lempengan batu itu, diangkatnya dan diamatinya dengan seksama setiap ukiran yang tergores.

Sekarang nampaklah bahwa tulisan itu berisi 10 perintah kepada dirinya terutama kaumnya. Sepuluh perintah yang menjadi puncak dari segala kejadian ganjil dan mengerikan semalam. Dibacanya satu-satu, dan dia haruslah bersiap diri untuk turun dan mengabarkan apa yang dia dapatkan.

 “ Yawat Sthasyanti Girayah Saritas Qa Mahitele
Tawat Ramayanakatha Lokequ Pragarissyati”

“Selama gunung-gunung berdiri tegak dan air sungai masih mengalir ria, maka kisah Ramayana tiada ‘kan sirna”

Sebuah suara tiba-tiba mengagetkan Moses.

“Siapa itu?” tanya Moses sambil melihat sekeliling. Dirinya terkejut melihat sosok tua dengan jubah putih, berdiri disamping pohon yang semalam terbakar. Tangan kirinya mengelus jenggotnya yang panjang terburai, sedang tangan kanannya memegang sebuah kitab.

“Siapa engkau?” Moses mengamati gerak laki-laki tua yang tak lain adalah Walmiki. Walmiki dengan tenangnya berjalan mendekat ke arah Moses. Wajahnya tampak tenang, meski semalam dirinya baru saja mengalami peristiwa yang dahsyat.

“Belajarlah tentang Nitisastra, ajaran kepemimpinan dengan Catur Pariksa, Astabrata, Pancadasa Paramiteng Prabhu, Sadvarnaning Nrpati, Panca Upaya Sandhi dan Navanatyakata Walmiki.

“Apa itu?” Moses dengan cepat bertanya, sebuah kata-kata yang baru pertama didengarnya, sebuah kata yang sepertinya bukan berasal dari bahasa masyarakat semenjanjung Arab. Mata Moses terus mengamati gerak-gerik Walmiki.

“Suatu saat kau dalam takdirmu akan menjadi pemimpin kaummu menguasai tanah Kanaan. Menggenapi janji yang telah kau sendiri tahu. Hanya saja, sebagai pemimpin kau tentunya tidak akan berlaku seperti Firaun dalam memerintah rakyatnya. Membangun suatu bangsa dalam tanah baru bukanlah perkara mudah, kau akan mengatur rakyatmu. Batu yang kau pegang itu jadikanlah dasar dalam kau meletakkan nilai-nilai kehidupan. Berlakulah adil, terhadap siapapun” Walmiki duduk, memandang Moses yang sepertinya masih terheran-heran.

“Pertanyaanku saja tidak kau jawab, bagaimana aku bisa mendengarkan kata-katamu meski benar adanya?” Timpal Moses.

Pohon disampingnya masih mengeluarkan asap yang tebal, bergolak menari diterpa angin kencang yang seakan tak ingin tertinggal untuk acara pertemuan antara Walmiki dan Moses ini, mendesis, meliuk-liuk menyusuri setiap lekukan gunung.

“Sebentar, bukankah terlalu kaku dan aneh jika tiba-tiba Walmiki muncul dalam peristiwa sakral seperti ini? Ditambah kau hanya akan merusak cerita yang telah orang percayai kebenarannya selama beratus-ratus tahun” Sukab berhenti membaca tulisan yang disodorkan oleh Seno.

Seno memandang kembali tulisannya yang sekarang digenggam oleh Sukab, memang dia akui dia tidak mengulang membaca tulisan yang ditulisnya, baginya mengulang membaca tulisan yang ditulis sendiri hanya membawa kesia-siaan. Diambilnya posisi yang nyaman, menggeser kurisnya duduk di sebelah Sukab yang sedang menopang dagu berpikir dalam.

“Lanjutkan lagi apa yang kau temukan Kab?” Kata Seno setelah mendapatkan posisi yang nyaman.

“Aku rasai ada waktu yang janggal saat Moses membawa bani Israel ini dengan perginya Moses ke gunung Sinai No”.

Seno mengangguk-angguk, memang rasanya ada yang aneh dan tidak pas, tetapi dia sendiri tidak tahu dimana yang aneh itu didalam ceritanya.

“Lanjutkan saja membacamu Kab, siapa tahu setelah selesai kau bisa menemui apa yang aneh dari cerita ini.”

“Baiklah, jika sekiranya begitu menurutmu”

Badai gurun dan kelaparan dalam perjalanan, semua penderitaan rasanya sudah dia akrabi dalam perjalanan waktu pengasingan dirinya. Perjalanan jauh yang harus dilalui hingga mengantarkan dirinya sampai di laur Merah.

Sebuah dataran yang dipenuhi oleh sungai-sungai yang di dalamnya mengalir susu dan madu, buah kurma dan tien.

“Ada sebuah alasan Kab, ada sebuah rancangan yang terasa begitu kebetulan. Tentang orang-orang yang terpilih untuk menjadi penggembala, menjadi martir revolusioner yang menggubah tatanan kehidupan manusia. Penerimaan akan merubah segalanya, begitu juga dengan penolakan. Hanya saja, mereka yang menolak adalah mereka yang tidak akan pernah tercatat dalam sejarah umat manusia” jawab Sukab sembari menuangkan kopi kedalam cangkirnya yang telah kosong.