HUMANIORA DAN IPTEK

a118_technology-is-what-makes-us“Manusia tidaklah boleh mengabdi kepada teknologi, tetapi teknologilah yang harus mengabdi kepada manusia. Mengkaji tentang teknologi dan manusia haruslah dikaji secara holistik, menyeluruh, tidak hanya memandang teknologi sebagai hasil pencapaian manusia, tetapi juga dari sisi humaniora1-nya”,

“Aku sependapat denganmu soal pentingnya mengkaji teknologi melalui kacamata holistik Ngun, tetapi sejauh mana masyarakat kita mau mengerti tentang ini?” lanjut pertanyaanku pada Mangun.

Mangun tersenyum, pertanyaanku mungkin terlalu dangkal, atau sebetulnya menarik, aku tidak tahu secara pasti, mungkin bakal berbeda pertanyaan yang akan ditanyakan oleh Magnus jika dia jadi datang malam ini.

Knowledge is power, dan Power tidak mau knoweledge berkembang seenaknya Mbiz, dan jembatan antara keduanya saat ini adalah teknologi, anak dari knowledge dan power katakan saja begitu. Secara umum kita tahu bahwa teknologi bersifat netral jika tidak dipraksiskan, tetapi Negara kita dulu memanfaatkannya dan mengendalikannya untuk kepentingan-kepentingan kekuasaannya”.

“Tentang masyarakat kita saat ini………”

Aku mencoba menyela dengan pertanyaan lainnya, tetapi buru-buru Mangun menyuruhku diam, mungkin dia tahu bahwa jawaban yang baru saja dia jawab tidaklah cukup untuk memuaskanku, dan dengan tenang Mangun melanjutkan perkataanya.

“Bangsa kita telah lama disetting melalui dunia pendidikannya untuk tidak mencari nilai-nilai kebenaran Mbiz, searching for the truth nya lemah. Mental inovasi, eksplorasi, dan keberanian mencari jalan alternatif, lateral thinking, love for the truth fair play tidak laku pada masa itu, masa orde baru. Semua harus sama dan seragam. Berbeda itu tidak baik, salah atau bahaya adalah propaganda yang menjadi momok bagi benih pikiran-pikiran muda”

Aku mengangguk, mencoba mengerti.

“Kondisi masa lampau jauh sekali dari jiwa iptek yang cermat, tekun dan tidak menyukai jalan pintas Mbiz, tetapi seiring dengan perkembangan iptek, keluasan akses untuk mencari sumber-sumber pengetahuan terbuka luas, ditambah dengan tidak otoriternya lagi kekuasaan di Negara ini yang dulunya hobi menutup-nutupi bahasan yang dianggap membahayakan kekuasaan. Dengan kata lain Mbiz, bangsa kita sedang kembali memperoleh kebebasan untuk melakukan apa yang seperti Gandhi tadi ucapkan “searching for the truth””.

“Generasi muda sekarang ini Mbiz, rasa dahaga atas ilmu pengetahuan seharusnya tidak cukup dihapuskan dengan ilmu pengetahuan murni saja, yang melulu memberikan informasi yang up to date tentang iptek. Tetapi mereka juga haruslah mencari tentang ilmu pengetahuan yang akan membawa mereka berpikir kritis, membuka wawasan dan merangsang pemikiran-pemikiran kreatif untuk menciptakan suatu inovasi baru, dan kemudian mereka akan naik level saat semua itu tercukupi dengan mencari ilmu pengetahuan yang membawa mereka menjadi seorang generasi yang memiliki prinsip, memiliki mental yang terdidik, dan menjiwai ilmu pengetahuan itu sendiri”.

Mangun terdiam sejenak, menyeruput kopi hitam kesukaannya, kopi hitam kental tanpa gula, aku membiarkan dia sejenak dengan kopinya, membiarkan kerongkongannya sedikit lega setelah berbicara.

“Apa pentingnya memiliki prinsip, memiliki mental terdidik Ngun? Bukankah persoalan iptek pada bangsa ini adalah bagaimana iptek membawa bangsa ini maju, menjadikan negara ini menjadi negara maju dan tidak melulu menjadi negara berkembang?”

Mangun geleng-geleng, tanda tidak setuju yang aku tangkap, terlebih dari ekspresi wajahnya yang terlihat tidak puas dengan pertanyaanku.

“Pentingnya memiliki prinsip dan mental yang terdidik adalah agar Bangsa kita tidak grothal­-grathul yang ujungnya meniru-niru tanpa sikap terlebih untuk mengadapi permasalahan yang dihadirkan oleh kebebasan ilmu pengetahuan, yaitu tentang pertanyaan adakah batasan-batasan manusia untuk melakukan apapun dengan iptek”.

Aku mengangguk, mencoba memahami meski agak sulit.

“Lalu apakah universitas / sekolah-sekolah juga mengajakan demikian Ngun? Sejauh pengamatanku, lembaga pendidikan kita belum sepenuhnya mendidik dengan cara demikian.”

“Memang jika kita mau objektif memandang, universitas atau sekolah-sekolah di Indonesia saat ini belumlah mendidik dan menciptakan manusia yang seperti itu. Tetapi pemuda kita saat ini tidak sedikit yang tertarik untuk mencoba belajar di universitas-non formal. Universitas-non formal seperti buku-buku bacaan yang tidak disinggung di kampus / sekolahan-sekolahan ikut berperan serta dalam mendidik bangsa kita. Dan universitas non-formal bukan hanya melalui buku-buku saja Mbiz, tetapi juga bisa melalui media elektronik seperti melalui internet dimana setiap orang bebas mengakses kebutuhan untuk menambah pengetahuan sesuai dengan bidang yang diinginkan juga menjadi bentuk kemajuan teknologi yang perlu kita syukuri saat ini”.

“Yang terpenting dan perlu kita sadari adalah bahwa iptek secara abstrak itu netral Mbiz, bisa baik dan bisa buruk. Tinggal mau dibawa kemana iptek tersebut digunakan oleh manusia. Iptek itu adalah raksasa dunia, hasil pencapaian evolusi dipandang dari sudut hasil intelektual pemikiran manusia, maka sesuatu yang baru dan memiliki potensi untuk dapat dimanfaatkan meraih kekuasaan sangatlah mengiurkan, maka dari itu Humaniora diperlukan berjalan seiringan dengan kemajuan iptek”

“Aku mengerti” jawabku pendek.

Dan Mangun meminum kopinya lagi, matanya tenggelam dalam cairan hitam dalam cangkir yang digenggamnya, tanpa ekspresi.

  1. Humaniora : Adalah ilmu-ilmu pengetahuan yang dianggap bertujuan membuat manusia lebih manusiawi, dalam arti membuat manusia lebih berbudaya.

Terinspirasi dari buku Kata-kata terakhir Romo Mangun. Kompas.

Fenomenologi Evolusi

Karen Offutt - People watching 1831Mungkin aku tidak sependapat dengan Darwin, bahwa yang bertahanlah yang menang dan terus betahan hidup, aku lebih condong sependapat dengan Lamarck bahwa adaptasi akan membawa perubahan pada kehidupan. Apa yang sering digunakan akan menjadi lebih menjadi, tumbuh dan apa yang tidak digunakan menjadi tidak bermakna bahkan hilang.

Aku tidak memungkiri itu, aku tidak berani menyangkal secara mutlak, tetapi aku percaya bahwa bahwa pikiranku ragu-ragu untuk itu. Saat berkata bahwa manusia adalah puncak perkembangan kehidupan dari hasil adaptif yang terus saja berjalan. Bukan-bukan karena alasan politisir demi menolak beban sebagai manusia dengan segala tanggung jawab atas dunia sebagai penguasa. Tetapi jujur saya masih ragu-ragu tentang itu.

Baiklah, mari kita berjalan-jalan lebih jauh, perjalan dengan mesin waktu yang lebih purba 10 juta tahun yang lalu. Kita akan bertemu dengan kehidupan, sebuah proses biokimia yang berjalan sendiri tanpa henti hingga menimbulkan kemampuan untuk berkembang, diverensiasi dan evolusi.

Kehidupan, terlalu banyak pertanyaan saat kita mendengar kata itu, barang kali ada yang sudah bosan atau bahkan memang tidak tertarik lagi karena baginya yang terpenting adalah tugas-tugas yang sudah dibebankan kepada dirinya. Meski entah dari mana.

Duduk disebelahku Husserl, memandang bahwa kehidupan tidaklah lebih baik jika dikaji dengan fenomenologisnya, melalui kaca mata eksakta yang cukup lama telah dia geluti. Aku tak suka cepat-cepat menyalahkan seperti Bakunin, memang aku bukanlah dia yang begitu keras terhadap apapun yang berlawanan dengan pemikirannya. Ide-idenya terlalu keras, mungkin ego terhadap kebenaran baginya telah sedikit dikecewakan karena sikap Marx yang dianggapnya terlalu lembek dalam menyimpulkan pemikiran Hegel. “Kurang radikal, dan masih omong kosong saja ide-ide dari Marx itu Mbiz” seperti itulah katanya padaku dalam suatu kesempatan di Cafe Mementomori.

Husserl memang lebih menyukai pendekatan dengan memahami relasi antar kesadaran manusia dengan berbagai obyek di sekitarnya yang lahir dari sebuah pengamatan untuk memecahkan suatu masalah. Bagiku, cara ini cukup klasik, ussual untuk era saat ini. Mungkin karena eksakta menginginkan sesuatu yang jelas dan tegas, tidak berbelit-belit dan imajinatif.

Max Webber juga tak jauh berbeda dengan Husserl, dia menambahkan bahwa rasionalitas itu perlu, karena rasional akan menemukan bentuk yang relevan baik dengan klarifikasi rasionalitas formal, rasionalitas instrumental, rasionalitas nilai, rasionalitas tradisional atau rasionalitas afektif, tetapi dengan syarat bahwa manusia atau subyek harus didudukkan sebagai sumber pengetahuan atau informasi. “Manusia itu harus menjadi pemegang otoritas pengetahuan Mbiz”.

Aku masih mengamati Darwin dan Lamarck yang bersikukuh tentang pendapatnya masing-masing, sedangkan Husserl asik membaca majalah, dia tidak begitu tertarik dengan biologi, meski aku tahu dia diam-diam menyimak pembicaraan Darwin dan Marck, meneliti bagaimana mereka berdua berbicara, menyimpulkan secara diam-diam bagaimana alur dari mereka menemukan teori dan mempertahankan pendapatnya masing-masing. sedang aku tetap diam, tidak suka menyela mereka. Aku menikmati moment ini, bagiku mendengar lebih menyenangkan, karena kalau kita semua berbicara, siapa nanti yang akan menjadi pendengar. Aku menyukai semboyan itu, semboyan yang sedikit aku gubah dari seorang sahabatku, Hellenis, yang pernah berkata bahwa aku harus tetap menulis dan berhenti untuk memaksakan menulis kepada dirinya. Biarkan aku yang membaca semua tulisanmu, karena jika kita semua menulis, siapa yang akan menjadi pembaca. Mungkin dia mendapatkan kata-kata itu setelah dia terkesima dengan Kritikus-kritikus di Prancis yang dia temui saat mendapatkan tugas menjadi juru warta disana, di Lyon. Dan seperti biasa, aku tak pernah mau mendebat pendapat siapapun.

“Kau masih berpendapat konyol Marck” tiba-tiba Weisman datang, mengambil kursi kosong di meja sebelah dan duduk disebelah Darwin. Kulihat wajah kecut dari Marck, dia tahu bahwa Weisman bukanlah pendukung dari teori Darwin, tetapi penelitian tentang tikus yang dia lakukan telah membuatnya seperti pembual, intelektual omong kosong yang berteori sampah saja. Dan itu menyakiti pemikiran intelektual Lamarck.

“Kau sendiri bisa membuktikan apa Man?” Lamarck mencoba tenang, mengambil posisi netral yang berkata bahwa sebenarnya tidak ada yang kalah dan menang, dan baginya pertanyaan itu adalah pembuktiaan bahwa dia, Darwin dan Weisman tak ubahnya hanya seorang yang meraba-raba dan berusaha menyimpulkan dengan metodologinya sendiri-sendiri.

“Aku tidak perlu membuktikan apa-apa padamu Marc, atau bahkan pada Darwin sekalipun. Bukankah yang kita pertahankan adalah hasil analisis kita terhadap hubungan antara satu fakta dengan fakta yang lain dalam sekumpulan fakta-fakta?” Jawab Weisman dengan senyum kecilnya, senyum kemenangan lagi menurutku.

Darwin mengangguk, megelus-elus jenggotnya, memang secara pemikiran dia tidak terlalu bertentangan jauh dengan Weisman, tetapi baginya, Weisman tetaplah harus diberi tanda khusus, bahwa dia bisa jadi akan melahap teorinya seperti melahap teori Lamarck. Memang Lamarck adalah musuh keras dari teori yang dia sampaikan, tetapi dia menyukainya, Lamarck baginya masih dalam satu konteks bahasan realitas yang masih bisa digapainya. Sedangkan Weisman tidak. Dia sudah terlalu jauh, dia sudah lebih modern, kedepan meniggalkan dirinya dan Lamarck. Ada ketakutan yang tidak mampu Darwin jelaskan ketika bertemu dengan Weisman, dan aku mengetahuinya.

Lamarck diam, dia mengerti benar bahwa dia salah, meski ingin sekali baginya mengungkit tentang penelitian Weisman memotong ekor tikus untuk membantah teorinya. Tetapi seharusnya dia sadar, teori memang bukanlah suatu kebenaran mutlak, dan penelitian dari Weisman telah membantah teorinya, meskipun demikian bukanlah berarti bahwa teori dari Weisman itu suatu kebenaran jika telah berhasil membantah teorinya. Tetapi Lamarck terlalu jauh untuk menggulinkan teori Weisman tentang seleksi terhadap faktor-faktor genetika.

“Pada intinya semua ingin mempertahankan kehidupannya, terlepas bahwa dia gen, sel, individu, spesies bahkan kehidupan itu sendiri” Sela ku.

Mereka mengangguk, kecuali Husserl yang tetap sibuk pura-pura membaca majalah, meski kusadari aku telah mengajak mereka kembali kepokok pertanyaan awal. Tetapi setidaknya, perbedebatan teori mereka kembali kepada satu persamaan, kembali kesebuah pertanyaan “bagaimana ? ”.

HUMANISME PENDIDIKAN

 humanisme-awalDehumanisme dalam bidang pendidikan ditandai dengan berbagai kebijaksanaan, dominasi, dan praktik pendidikan yang dilakukan pemerintah maupun kalangan swasta yang menghasilkan manusia-manusia yang dehumanistik, baik dipihak guru maupun anak didik.
Guru tidak lebih hanyalah pawang, komandan, instruktur, dan birokrat yang melaksanakan instruksi yang dikeluarkan oleh birokrasi pemerintah ataupun yayasan pendidikan. Kegiatan yang terjadi di ruang kelas bukanlah kegiatan belajar, melainkan kegiatan untuk mempertahankan ideologi mayoritas, baik ekonomi, politik, dan agama. Satu paragraf yang saya kutip dari buku yang disusun oleh Mangunwijaya “Menghargai Manusia dan Kemanusiaan : Humanisme Y.B. Mangunwijaya”.

Padahal pendidikan sejatinya adalah untuk memerdekakan dan membebaskan, “memanusiakan manusia” melalui proses “humanisasi” dan “hominisasi” yang secara singkat kita sebut dengan “humaniora”. Tetapi dalam kenyataannya, pendidikan selalu bertolak belakang dengan humanisme, dan ini bukanlah sesuatu hal yang baru. Di Indonesia dengan konsep yang terus berjalan seperti ini, belenggu-belenggu dari sisa feodal khas jawa dan kolonial, siswa hanya akan menjadi kader-kader politik mini dan sumber daya manusia yang disiapkan untuk melaksanakan dan mendengarkan apa yang menjadi kepentingan pemerintah dan kaum usahawan melalui indoktrinasi.

Sekolah adalah tempat untuk mendidik yang haruslah dimana para anak-anak muda, penerus bangsa dibentuk. Berbagai macam idealisme, karakter, dan pola pikir ada didalamnya, tugas pendidik adalah melahirkan orang-orang yang memiliki nilai-nilai humanisme seperti yang dicita-citakan. Pendidik mempunyai kewenangan penuh terhadap apapun yang terjadi didalam kelas. Paradigma bahwa siswa hanya sebagai obyek didikan dimana superioritas pendidik begitu menguasai seakan-akan kebenaran hanya di tangan pendidik. Pendidik menciptakan jurang pemisah antara siswa yang diajar dengan dirinya sendiri, menciptakan jarak dengan rasa segan karena takut dengan nilai yang buruk yang akan diterima saat tidak sesuai dengan keinginan pendidik.

Pendidikan yang tidak menghasilkan manusia-manusia humanis haruslah ditempatkan di dalam kerangka evolusi, dengan tujuan untuk menciptakan murid, bangsa, bahkan sampai umat manusia kepada pendewasaan diri, teremansipasi, merdeka, humanis, dan sanggup bertanggung jawab terhadap diri sendiri. Bahkan pencarian jati diri menurut Romo Mangun dalam Humanismenya, tidak boleh berhenti. Pencarian jati diri dan pendewasaan diri haruslah bergerak evolutif yang berujung kepada kesadaran akan eksistensi diri.

Pendidikan haruslah mengantarkan manusia menjadi sosok yang terbuka kepada nilai-nilai kemanusiaan universal, meskipun tetap berpegang kepada nilai-nilai keIndonesiaan. Dan juga menjadikan manusia yang bersikap menurut dinamika relativitas, dengan tidak main mutlak-mutlakan, hal ini berdasarkan kepada pemahaman bahwa segala sesuatu bersifat relatif. Generasi muda harus meluaskan horizonnya dengan berpikir kreatif, eksploratif, inklusif, dan pluralistik. Berkaca bahwa hidup ini adalah multidimensional, jika satu jalan / cara yang dilakukan gagal, maka masih terbuka jalan / cara lain yang bisa dilalui atau dilakukan. Yang berarti, bahwa hidup itu selalu dengan penuh kemungkinan selama pikiran kita tidak terbelenggu hanya kepada satu konsep atau paradigma.

Setiap sistem pendidikan ditentukan oleh filsafat tentang manusia dan citra manusianya, sehingga pendidikan tidak pernah netral. Maka visi seorang manusia, pemerintahan ataupun isntitusi swasta sangat menentukan arah pendidikan yang berpengaruh kepada uraiannya. Apakah negara merupakan penganut paham pesimististik (menurut Fukuyama dalam The End History and the last Man, 1992), atau optimististik (merujuk kepada Fons Elders dalam Humanism Toward the Third Millenium, 1993). Apakah negara bersifat religius atau sekuler dan sebagainya. Oleh sebab itu perlulah di sini kita menelisik apa dan bagaimana visi dari pemerintah atau instansi swasta dalam menyelenggarakan pendidikan.

Dengan hal ini kita diharapkan menjadi sadar, bahwa pengetahuan akan pendidikan memperlihatkan kepada kita bahwa pada era saat ini penuh tantangan dan harapan, dinamis dan multisentra terhadap peluang kerjasama untuk menciptakan kemanusiaan yang beradab, visioner dan profetis, untuk prospek ke depan yang lebih terbuka menjadi manusia-manusia baru (memperspektifkan dan mengidealkan humanisme pendidikan) dengan berpikir kritis, berani, berpandangan luas dan universal, mampu berwacana dan berdiplomasi, menghasilkan gagasan-gagasan pembaharuan yang segar.

Sumber referensi :

Fons Elders. 1993. Humanism Toward the Third Millenium.

Fukuyama. 1992. The End History and the last Man.

Jean Jacques Rousseau. 2007. Du Contract Social (Perjanjian-Perjanjian Sosial). VisiMedia.

Nietzsche. 2014. Lahirnya Tragedi. Pustaka Promethea.

Y.B Mangunwijaya. 2014. Humanisme Y.B Mangunwijaya .Kompas.

HUKUMAN MATI “PEMBUNUHAN BERENCANA YURIDIK”

death-penalty-chair

Beberapa bulan kemarin, Indonesia menjadi bahan perbincangan dunia karena melakukan eksekusi hukuman mati terpidana narkoba. Indonesia yang terkenal menganut paham demokrasi yang menjunjung tinggi hak asasi manusia disamakan dengan Iran, Saudi dan Tiongkok. Terlepas dari permasalahan dalam kasus penyalahgunaan Narkoba, hukuman mati menjadi sorotan tersendiri saat ini untuk diterapkan di Indonesia.

Hukuman mati dalam pengertiannya adalah suatu hukuman atau bonis yang dijatuhkan pengadilan (atau tanpa pengadilan) sebagai bentuk hukuman terberat yang dijatuhkan atas seseorang akibat perbuatannya. Tercatat hingga Juni 2006 hanya 68 negara yang masih menerapkan praktik hukuman mati, termasuk Indonesia. Dan lebih dari setengah negara-negara di dunia telah menghapuskan praktik hukuman mati. Ada hampir 88 negara yang telah menghapuskan hukuman mati untuk seluruh kategori kejahatan, 11 negara menghapuskan hukuman mati untuk kategori kejahatan pidana biasa, 30 negara negara malakukan moratorium (de facto tidak menerapkan) hukuman mati, dan total 129 negara yang melakukan abolisi (penghapusan) terhadap hukuman mati.

Di Indonesia hampir sudah puluhan orang di eksekusi mati mengikuti KUHP peninggalan kolonial Belanda. Walaupun amandemen kedua konstitusi UUD 1945, pasal 28I ayat 1, menyebutkan: “Hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kemerdekaan pikiran dan hati nurani, hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi di depan hukum, dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun“, tapi peraturan perundang-undangan dibawahnya tetap mencantumkan ancaman hukuman mati. Dengan alasan bahwa bukan hanya pembunuh saja yang punya hak untuk hidup dan tidak disiksa. Masyarakat luas juga punya hak untuk hidup dan tidak disiksa. Untuk menjaga hak hidup masyarakat, maka pelanggaran terhadap hak tersebut patut dihukum mati.

pemberlakuan hukuman mati di suatu negara paling tidak akan memperbincangkan tiga aspek yang saling terkait, yaitu :

1). Konstitusi atau Undang-undang tertinggi yang dianut suatu negara dan bentuk pemerintahan yang dianutnya.

2). Dinamika Sosial, politik dan hukum internasional yang mempengaruhi corak berpikir dan hubungan-hubungan sosial di masyarakat.

3). Relevansi nilai-nilai lama dalam perkembangan zaman yang jauh sudah lebih maju.

Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa polemik tentang dibenarkannya hukuman mati bukan hanya soal keyakinan, cara pandang, pengalaman seseorang atau nilai ukur dari sudut pandang hukum, tetapi juga dengan relevansinya dengan konteks dimana hukuman mati akan diberlakukan. Penerapan hukuman mati juga harus benar-benar telah memperhatikan tentang kepastian hukum dengan pandangan hak asasi manusia secara menyeluruh. Memiliki nilai konsistensi dalam konstitusi sehingga perdebatan tentang penerapan hukuman mati berakhir dengan suatu rumusan yang bijak dan tetap menjunjung tinggi nilai hak asasi dan juga dengan nilai-nilai luhur kebudayaan manusia.

Beberapa teori yang mendukung hukuman mati antara lain adalah teori absolut, teori relatif dan teori gabungan.

  1. Teori Absolut : Dalam teori ini menegaskan bahwa siapa yang mengakibatkan penderitaan, maka pelakunya tersebut haruslah mendapatkan perlakuan yang serupa (menderita), teori ini berasal dari pendapat Immanuel Kant.
  2. Teori relatif : Teori relatif memandang bahwa pidana hukuman tergantung kepada efek yang akan dihasilkan dari penjatuhan hukuman pidana tersebut. Teori ini mengacu kepada pandangan Feurbach yang menegaskan bahwa penjeraan bukan melalui pidana, tetapi melalui ancaman pidana dalam perundang-undangan.
  3. Teori gabungan : Pada teori yang dimotori oleh Thomas Aquinas ini membedakan antara pidana sebagai pidana dan pidana sebagai obat. Ketika suatu negara menjatuhkan pidana, maka perlu diperhatikan pula fungsi prevensi umum dan prevensi khusus. Dengan tujuan terciptanya kepuasan nurani masyarakat dan pemberian rasa aman.

Sedangkan beberapa pandangan yang menolak hukuman mati antara lain adalah bahwa Hukuman mati dipandang sebagai pelanggaran terhadap hak asasi manusia yang paling asasi, yaitu hak untuk hidup. Hak untuk hidup adalah hak yang paling fundamental, merupakan jenis hak yang tidak bisa dilanggar, dikurangi, atau dibatasi   dalam keadaan apapun, baik itu dalam keadaan darurat, perang, termasuk bila seseorang menjadi narapidana. Selain itu secara sosiologis, tidak ada pembuktian ilmiah bahwa hukuman mati akan mengurangi tindak pidana tertentu. Artinya hukuman mati telah gagal menjadi faktor determinan untuk menimbulkan efek jera, dibandingkan dengan jenis hukuman lainnya.

Kajian PBB tentang hubungan hukuman dan angka pembunuhan antara 1988-2002 berujung pada kesimpulan bahwa hukuman mati tidak membawa pengaruh apapun terhadap tindak pidana pembunuhan dari hukuman lainnya seperti hukuman seumur hidup. Dan juga adanya paradoks dimana hukum yang bertujuan untuk melindungi hak-hak individu atau Hak Asasi Manusia (HAM) merampas tujuannya sendiri.

Dari bahasan diatas, secara tidak langsung menunjukkan bahwa wacana tentang penerapan dan penghapusan hukuman mati (death penalty) dalam konteks hukum Indonesia tampaknya masih akan menghangat dalam beberapa dekade kedepan. Perdebatan ini sejalan dengan dinamika hukum nasional dan internasional yang sangat pesat dalam setengah abad terakhir serta munculnya pendekatan-pendekatan baru dalam melihat dan menilai relevansi hukuman mati dalam konteks sistem hukum, bentuk dan asas negara, serta perubahan sosial, termasuk teknologi.

Pidana hukuman mati tidak akan pernah luput dari masalah pro dan kontra terutama terkait dengan eksistensinya. Hukuman mati memang layaknya sebagai pedang bermata dua, disatu pihak adalah melindungi dan mempertahankan hak-hak manusia, namun di pihak lain hukuman mati melukai hak-hak manusia itu sendiri. Dari sudut pandang penulis, dalam hal ini secara pribadi memandang hukum pidana hukuman mati adalah pembunuhan berencana yuridik seperti yang dikatakan oleh Prof. Dr. JE. Sahetapy. SH. Hukuman mati berlawanan dengan kodrat alam, dimana manusia pada hakikatnya dengan naluri dan insting yang ada padanya, manusia akan berusaha mempertahankan hidupnya dari segala ancaman atas dirinya.

Dengan kalimat sederhana, manusia secara naluri akan mempertahankan diri, saat mereka akan dijatuhi hukuman mati. Dengan pengecualian jika terpidana menerima hukuman mati yang telah ditetapkan mengingat perundang-undangan kedaruratan yang sangat serius, mereka telah mempergunakan hak mereka untuk mati (meski menjadi polemik tersendiri tentang hak untuk mati tersebut, kami akan coba bahas dilain kesempatan) sehingga eksekusi hukuman mati dapat segera dilaksanakan. Namun berbeda jika terpidana menolak hukuman mati tersebut, yang berarti terpidana masih menginginkan untuk terus bertahan hidup, mempertahankan hak asasi untuk hidupnya, maka haruslah dicarikan jalan keluar yang bijaksana dan adil. Yang menurut hemat penulis adalah dengan merubahnya menjadi hukuman seumur hidup, yang demikian dapat dilakukan dalam tingkat banding dan kasasi. Sehingga meskipun dia adalah terpidana hukuman mati, tetapi dia betul-betul dilindungi oleh hukum dan dihargai hak asasinya.

Russland, Hinrichtung von Partisanen

This image was provided to Wikimedia Commons by the German Federal Archive (Deutsches Bundesarchiv) as part of a cooperation project. The German Federal Archive guarantees an authentic representation only using the originals (negative and/or positive), resp. the digitalization of the originals as provided by the Digital Image Archive.

Sumber :

Beberapa Pandangan Tentang Hukuman Mati (Death Penalty) dan Relevansinya Dengan Perdebatan Hukum di Indonesia. Makaarim.

Halimy, Imron. 1990. Euthanasia. Cara Mati Terhormat Orang Modern. CV. Ramadhani.

Kajian Filosofis Tentang Hukuman Mati di Indonesia. Kompasiana.

Perspektif Aliran Filsafat Hukum. Cancergoxil.

KELELAHAN

Arsenal v RSC Anderlecht - UEFA Champions League Group Stage Matchday Four Group D

             Sumber Gambar : theguardian.com

Kelelahan adalah physical fatique dan mental fatique yang merupakan suatu mekanisme perlindungan tubuh agar tubuh terhindar dari kerusakan lebih lanjut sehingga terjadi pemuliham setelah istirahat, Kata kelelahan berakibat kepada pengurangan kapasitas kerja dan ketahanan tubuh (Suma’mur, 1996).

Kelelahan biasanya berhubungan dengan cepat habisnya kapasitas anaerobik, atau kecilnya kapasitas anaerobik yang dimiliki.  Sedangkan dalam fisiologis otot kelelahan disebabkan oleh habisnya cadangan glikogen dalam otot,  transmisi signal dalam neuromuscular jungction berkurang, gangguan aliran darah akan mempercepat terjadinya kelelahan karena gangguan suplai nutrisi pada otot (Iryanti, 2010).

Dalam mensintesis molekul ATP membutuhkan proses metabolisme, Adenosin Three Phosphat adalah suatu ikatan yang memiliki energi tinggi yang merupakan bentuk penyimpanan energi dalam sel, sel akan selalu membentuk ATP untuk mencukupi energi yang dibutuhkan. Contoh penggunaanya adalah kontraksi dari otot. Penggunaan ATP untuk bekerja secara biologis dimana pemisahan ATP ini dilakukan dengan bantuan oksigen atau tanpa oksigen. Pada saat berlari dan berenang adalah contoh bahwa pemisahan ATP bisa dilakukan tanpa membutuhkan oksigen. Dalam metabolisme energi untuk suplai otot energi biasanya berasal dari proses anaerobik. Zat ini merupakan suatu senyawa yang selama aktivitas otot diubah menjadi adenosine difosfat atau ADP. Secara singkat dapat diartikan bahwa ATP diuraikan menjadi ADP + Energi (Clark, 2001).

Pada saat berlari, otot yang bekerja akan meningkatkan kecepatan metabolismenya untuk berusaha memenuhi kebutuhan akan energi. Metabolisme yang dapat menghasilkan energi paling cepat adalah metabolisme yang tidak menggunakan oksigen, tetapi metabolisme jenis ini akan menghasilkan sisa metabolisme berupa asam laktat. Penumpukan asam laktat di dalam otot ini adalah salah satu hal yang menyebabkan timbulnya rasa lelah pada otot (Giriwijoyo, 2010).

Otot yang cepat lelah dikatakan mempunyai ketahanan yang rendah. Kelelahan otot merupakan akibat dari ketidakmampuan kontraksi dan metabolisme serat-serat otot untuk terus memberi hasil kerja yang sama. Ketidakmampuan tersebut disebabkan oleh gangguan pada :

Sistem saraf

Saraf tidak dapat mengirimkan impuls ke otot sehingga otot tidak berkotraksi.

Neuromuscular junction

Kelelahan semacam ini biasa terjadi pada fast twitch fibers. Chemical transmitter yang berkurang mengakibatkan impuls tidak dapat diteruskan.

Mekanisme kontraksi

Kontraksi otot yang kuat dan lama dapat menyebabkan kelelahan otot. Kelelahan otot  pada atlet berbanding lurus dengan penurunan kreatin fosfat, glikogen, dan ATP otot. Sedikitnya jumlah zat-zat tersebut mengakibatkan mekanisme kontraksi tidak dapat menghasilkan energi.

Sistem saraf pusat

Gangguan lokal sistem sensorik mempengaruhi pengiriman impuls ke susunan saraf pusat. Hal ini dapat menyebabkan hambatan ke sistem motorik sehingga kerja otot menurun.

CARA PENDEKATAN ANATOMI

149839_pameran-anatomi-manusia-di-budapest_663_382

               Sumber photo : Pameran Anatomi manusia di Budapest.

Anatomi (berasal dari bahasa Yunani ἀνατομία anatomia, dari ἀνατέμνειν anatemnein, yang berarti memotong) adalah cabang dari biologi yang berhubungan dengan struktur dan organisasi dari mahluk hidup. Terdapat juga anatomi hewan atau zootomi dan anatomi tumbuhan atau fitotomi. Beberapa cabang ilmu anatomi adalah anatomi perbandingan, histologi dan anatomi manusia. Dalam bahasan kali ini penulis mencoba memberikan penjelasan tentang cara pendekatan anatomi manusia yang dibagi menjadi tiga bagian pendekatan. Yaitu anatomi sistematis, anatomi regional dan anatomi klinis.

ANATOMI SISTEMATIS :

Anatomi sistematis adalah ilmu anatomi yang mempelajari tubuh sebaga rangkaian sistem organ.

  • Sistem Integumenter ( Dermatologi ): Sistem yang terdiri dari kulit (Integumer) dan adneksa (misalnya rambut dan kuku) dimana kulit membentuk pembungkus yang melindungi tubuh.
  • Sistem Kerangka ( Osteologi ): Terdiri dari tulang dan tulang rawan, sistem ini menunjang tubuh dan melindungi organ tubuh yang vital yang dapat kita contohkan seperti tulang rusuk (costa) dan Sternum yang melindungi organ jantung dan paru-paru.
  • Sistem Sendi ( Artrologi ) : Terdiri dari sendi dan ligamentum
  • Sistem Otot ( Miologi ) : Terdiri dari otot yang menggerakkan tubuh.
  • Sistem Saraf ( Neurlogi ) : Terdiri dari sistem saraf pusat (Otak dan Medulla Spinalis) dan sistem saraf tepi (saraf otak dan spinal, termasuk ujung tepi saraf motoris dan sensoris), sistem saraf berfungsi mengawasi dan mengkoordinasi organ tubuh dan struktur tubuh lainnya.
  • Sistem Sirkulasi ( Angiologi ) : Terdiri dari sistem kardiovaskuler dan sistem limfatik yang berfungsi secara sejajar, sistem kardiovaskuler ini terdiri dar jantung dan pembuluh darahyang mengantar darah melalui tubuh, sistem limfatik merupakan anyaman pembuluh limfe untuk menyerap jaringan limfe yang berlebih dari kompartemen cairan intraselular interstisial tubuh, menyaringnya dalam kelenjar limfe dan mengembalikannya ke dalam peredaran darah.
  • Sistem Pencernaan ( Gastroenterologi ) : Terdiri dari organ yang berkaitan dengan proses menelan, pencernaan dan absorpsi makanan.
  • Sistem Pernafasan ( Respirologi ) : Terdiri dari saluran udara dan paru-paru yang memasok oksigen dan mengeluarkan karbondioksida.
  • Sistem Kemih ( Urologi ) : Terdiri dari kedua ren, kedua ureter, vesica urinaria dan urethra yang masing-masing menghasilkan, menyalurkan, menyimpan dan secara berkala membuang urine.
  • Sistem Reproduksi : Terdiri dari organ genital yang mengurus soal reproduksi
  • Sistem Endokrin ( Endokrinologi ) : Terdiri dari kelenjar buntu, misalnya kelenjar glandula thyroidea yang menghasilkan hormon untuk dibawa kesemua tubuh oleh sistem sirkulasi, hormon mempengaruhi metabolisme dan proses lain dalam tubuh (misalnya siklus haid)

ANATOMI REGIONAL

Anatomi topografik adalah ilmu mengenai daerah tubuh manusia (misalnya Thorak dan Abdomen) cara dalam pendekatan ini menghubungkan / menelusuri hubungan struktural bagian tubuh pada daerah bersangkutan. Pelajaran antomi manusia kebanyakan menggunakan pendekatan regional ini.

ANATOMI KLINIS

Anatomi klinis adalah ilmu anatomi dengan cara mempelajari aspek struktur dan fungsi tubuh yang penting dalam praktek kedokteran dan ilmu kesehatan yang terkait.cabang ilmu ini mencakup pendekatan regional, sistemik dan menitikberatkan penerapannya secara klinis. Disamping itu teknik pembedahan dan pencitraan (radiografi) dimanfaatkan untuk memperagakan anatomi hidup. Kajian kasus merupakan bagian integral dari anatomi klinis.

Struktur tulang manusia dapat amat berbeda, karenannya variasi anatomispun umum dijumpai. Contohnya tulang kerangka berbeda satu dengan yang lain, tidak saja dalam hal bentuk dasar, tetapi juga dalam detail lebih kecil pada struktur permukaan. Juga terdapat variasi yang besar mengenai ukuran, bentuk dan jenis perlekatan otot. Demikian pula terdapat variasi dalam pola percabangan saraf dan arteri. Penyimpangan yang mencolok dari keadaan normal tersebut disebut dengan anomali, contohnya adalah cacat ekstremitas karena pemberian thalidomid pada masa prenatal.

Untuk mempelajari anatomi dengan mudah silahkan klik trik dan cara mudah belajar anatomi

Sumber : Anatomi Klinis Dasar. L.Moore. 1987.

VALENTINE DAY DAN ISIS

97179347213b7105c1c968d4e7b15ae0996f8dc3

Kenapa menulis judul yang dilihat tidak ada kaitannya sama sekali,apa hubungannya perayaan Valentine yang biasa dilakukan pada tanggal 14 Februari ini dengan gerombolan ISIS yang sedang hangat dibicarakan karena getol menyerang kekafiran dunia barat,

Judul ini saya dapatkan karena terinspirasi oleh sebuah tweet dari Mohamad Guntur Romli (@GunRomli) yang dalam akun twitternya berkicau “ Yang ambil kesimpulan Valentine Day = Maksiat, sama dengan kesimpulan Islam = ISIS

Benar saja, sebuah kalimat sederhana yang sebenarnya menyentil pola pikir sempit bangsa Indonesia. Begitu banyak yang sibuk melakukan protes terhadap budaya barat yang sebenarnya sudah lama masuk di Indonesia ini, salah satunya dengan aksi pembakaran kondom yang dilakukan oleh KAMMI dan Forum Silaturahmi Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK) Malang pada Selasa (14/2/2012) yang menuding bahwa Valentine merupakan budaya yang melegalkan hidup bebas, dan tak jarang mengarah kepada freesex. atau dari anjuran dari Ustad Felix Siauw “Maka Muslim tidak perlu merayakan atau ikut berpartisipasi dalam valentine apalagi mengarah pada melakukan hal-hal dilarang agama seperti zina,” ujar sosok yang baru masuk Islam itu, di Setiabudi Jakarta, Jumat (13/2).

Lalu bagaimana sebenarnya sejarah Valentine Day itu sendiri, dari banyak versi sejarah Valentine tidak lepas dari sosok Santo Valentinus yang menjadi martir karena menikahkan serdadu Romawi yang dilarang menikah oleh Kaisar Cladius II. Pembangkangan inilah pada akhirnya yang menjadikan nama Valentinus menjadi icon dari penamaan hari kasih sayang ini. Meskipun dari versi lain adalah tentang ritual kesuburan pada bulan Februari yang diadakan di Roma Kuno, para wanita berharap akan mendapatkan kesuburan dan kemudahan dalam proses melahirkan nantinya.

Budaya ini kemudian dibawa oleh mereka bangsa barat yang mengkolonialisasi di daerah jajahannya. Tak terkecuali di Indonesia. Di Indonesia, budaya bertukaran surat ucapan antar kekasih juga mulai muncul. Budaya ini menjadi budaya populer di kalangan anak muda. Bentuk perayaannya bermacam-macam, mulai dari saling berbagi kasih dengan pasangan, orang tua, orang-orang yang kurang beruntung secara materi, dan mengunjungi panti asuhan di mana mereka sangat membutuhkan kasih sayang dari sesama manusia. Pertokoan dan media terutama di kota-kota besar di Indonesia marak mengadakan acara-acara yang berkaitan dengan valentine.

Dari hal ini kita seharusnya menarik kesimpulan bahwa Valentine Day merupakan hari yang menyimbolkan kasih sayang,bahwa manusia memiliki naluri untuk saling mengasihi dan menyayangi sesama. Bukan hanya berorientasi kepada pemikiran sex bebas dan pikiran picik lainnya. Cinta adalah hal terbesar dan terumit yang menjadi pembahasan dalam psikologi manusia. Betapa besar risiko yang diambil oleh Santo Valentine haruslah menjadi contoh, tidak peduli apa agama mereka, apa suku mereka, apa bahasa mereka, selama mereka mengajarkan kita tentang keberanian, kasih sayang, dan nilai-nilai kebaikan lainnya tidak ada salahnya tentu untuk kita terima.

Dan Valentine Day bukanlah sebuah ritual keagamaan, meski dalam sejarahnya sebagian mengacu kepada ritual pagan kuno, tetapi dalam era modern saat ini tentu harusnya kita berpikir dewasa dan dapat mengambil hikmah apa yang kita pelajari. Santo Valentinus adalah martir yang mengajari kita tentang kemanusiaan, begitu juga dengan sosok sosok lainnya, seperti Bunda Teresa, Che Guevara, Mahatma Gandi, Gus Dur, Jhon Lenon dan masih banyak lagi sosok-sosok yang mengajari kita menjadi manusia yang welas asih terhadap sesama.

Lalu jika kita dihadapkan pertanyaan, kenapa harus dirayakan setiap satu tahun sekali? Bukankah kasih sayang bisa diberikan kepada siapapun setiap hari. Benar, ya kasih sayang bisa dan memang harus kita berikan kepada siapapun, manusia, binatang, alam setiap harinya. Lalu kenapa harus dilakukan hari perayaan kasih sayang? Akan saya jawab, sebagai contoh adalah kenapa kita merayakan hari Ibu. Bukankah kita seharusnya selalu mengingat Ibu, berbakti dan sayang terhadap Ibu kita setiap hari?

Seperti sebuah jawaban yang saya berikan kepada yang bertanya kepada saya. “Hari perayaan adalah hari dimana kita diajarkan untuk mengingat kembali, menyadarkan kita bahwa kita masih memiliki sesuatu yang mungkin terkadang kita lupa. Mungkin di hari Ibu kita diingatkan bahwa terkadang kita sibuk terhadap rutinitas kerja dan persoalan rumah tangga sampai terlupa dengan Ibu kita, sampai pada hari Ibu datang, kita teringat kembali dalam memori kita dan terkadang berpikir tentang bagaiamana kabar Ibu, dan sering kita menangis bahwa kita telah banyak salah terhadap beliau dimasa lalu, perasaan sebagai anak yang tidak berbakti muncul, dan kemudian serta merta kita mengambil Handphone dan menghubungi Ibu, mengucapkan selamat hari Ibu, menangis meminta maaf, dan seperti biasa Ibu akan memaafkan dan kemudian kita akan diajak bercerita tentang masa kecil kita bersama Ibu, masa masa yang hangat dan kita rindukan, hingga tidak sadar kita tersenyum sendiri mengingat tingkah polah kita. Itulah sebuah makna, tentang suatu hari dimana bertujuan untuk merefill kembali perasaan yang mungkin terlupa oleh kesibukan kita. Begitu juga dengan Hari Valentine, dalam hari ini saya menarik nilai positif bahwa dalam Valentine Day kita diajarkan bahwa terkadang kita lupa menjadi manusia yang welas asih, terkadang kita tidak bisa bersikap romatis dan manis kepada pasangan, bersikap sayang dan hangat kepada sesama. Karena kasih sayang itu luas, karena kasih sayang tidak terbatas kepada pasangan kita”

Lalu kenapa Valentine diidentikkan dengan Sex Bebas? Hal ini karena mereka hanya memandang sempit hari kasih sayang tersebut. Seperti sebuah kalimat “Cinta itu menjaga, menghidupi bukan merusak dan membunuh” jika kasih sayang hanya untuk pengahalalan sex bebas, maka mereka tidak pernah memahami apa itu kasih sayang, apa itu cinta. Begitu juga dengan mereka yang berteriak bahwa Valentine adalah budaya penghalan sex bebas.

Jika berdalih bahwa hal ini didukung dengan banyaknya Mall atau Swalayan yang menjual coklat dibarengi dengan kondom, apakah berarti coklat dan kondom salah? Sebenarnya saya cukup geli dengan pemikiran yang konyol sampai harus membakar kondom. Apa salah kondom? Kondom sendiri berfungsi dalam KB. Kalau mereka menjual coklat dibarengi kondom mungkin target penjualan mereka adalah mereka yang sudah berkeluarga, kenapa berpikir positif saja begitu sulit. Kalaupun dihadapkan pada pilihan, saya tentu akan membeli coklat yang tidak dibarengi dengan kondom untuk kekasih saya, atau untuk siapa saja, anak kecil dan orang-orang yang tidak mampu lainnya, agar mereka tahu bahwa masih ada hari dimana manusia mengingat kembali bahwa mereka memiliki kasih sayang, bahwa manusia masih bisa menjadi manusia ditengah kerasnya hidup. Meski tidak dipungkiri ada nilai-nilai kapitalis dalam perayaan Valentine ini. Tapi yang perlu digaris bawahi lagi adalah bahwa Valentine Day tidak harus selalu membeli coklat, meski hari ini identik dengan coklat. Kita anggap simbolis saja untuk sebagian keperluan mereka, tetapi pada dasarnya kita diingatkan kembali untuk saling menyayangi, mengasihi, dan mencintai sesama, alam dan tentu diri kita.

Lalu dimana ISIS dalam pembahasan ini?

Saya hanya akan bertanya: Apakah anda setuju jika ISIS adalah pencerminan ISLAM ?

Tentu yang beragama Islam akan bilang bahwa ISIS bukanlah gambaran dari ISLAM, tentu kita akan menolak penggeneralisasian tersebut, penggeneralisasian sempit tentang sesuatu yang mungkin kita tidak pernah tahu tentang sesuatu itu apa. Seperti yang John Lenon katakan “DON’T HATE WHAT YOU DON’T UNDERSTAND!” Sebuah pesan yang saya tangkap untuk tidak lekas-lekas membenci sesuatu sampai benar-benar mengerti, dari sikap inilah kita menjadi tidak lekas mudah antipati terhadap sesuatu, berpikir kritis dan tentu saja tidak mudah untuk lekas menggeneralisasikan sesuatu secara sempit.

Jadi masihkah berpikir bahwa Valentine Day adalah perayaan untuk melegalkan Sex Bebas? Ritual keagamaan kaum kafir? PLEASE OPEN YOUR MIND:)

10654920_606916229426059_1412947063_a