Bertanam Dendam

 Kau mengibarkan bendera dengan tulisanmu saat kau sedang berada di puncak, dan kau juga berteriak bahwa kau bisa melihatku dari kejauhan sana. Katamu padaku pada siang bolong dihari itu.

Aku memilih tidak percaya saat kau bercerita tentang hal itu. Aku memilih tidak percaya meski aku hampir meyakini dengan kesadaran penuhku bahwa itu memang bendera dan suaramu.

Tetapi seperti kataku, aku memilih tidak percaya, aku memilih tidak percaya bahwa itu dirimu.

Karena kepercayaan itu yang membuatku tetap bertahan dengan asumsi bahwa aku masih lebih bagus darimu dalam hal apapun termasuk menulis.

Arghht tapi sial!

Kenyataan memang berkata lebih pahit.

Tulisanmu adalah nyata

Dan aku masih menghibur diri dengan bersembunyi dan berasumsi

Tanpa satu prestasi, tanpa bereksistensi.

Ah, Jamban!!

Aku mendelik, mengumpat, serapah keluar, memuntahkan sial dan mengutuk keadaan.

Bagaimana bajingan kecil sepertimu itu bisa melampui segala eksistensi yang ku bangun dengan renda-renda idealis yang kupikir sempurna ini!!

Sial ! Sial ! Sial ! dan kerjaanku sekarang hanya mengeluh dan menggerutui keadaanku.

Si Jamban terus bergerak

Aku hanya diam disini mencaci maki

Tunggu saja

Dendam mulai tumbuh

Untuk segera memburumu, menguntitmu diam-diam lalu menerkammu dengan goresan kata-kata yang akan membuatmu bertekuk lutut dan menangis.

Melahirkan dendam baru

Dendam yang kutanam untukmu

Dendam yang kuhadirkan karena rasa cintaku padamu!

Kupersembahkan kepada adikku Ruli Riantiarno, yang telah berhasil mengalahkanku, yang telah semakin dewasa dalam menulis dan bersikap, selamat berproses, selamat menjadi manusia baru.

LAKI-LAKI BERPECI USANG

Gambar terkait

Ini hari dimana aku menjumpainya untuk kedua kalinya, laki-laki berpeci usang dengan rokok klobot di bibirnya. Dulu dia jarang sekali merokok, sekali merokok pun bukan kretek tetapi mild. Sekarang gusi dan giginya hampir hitam karena nikotin. Rambutnya sesekali di sentil angin dari timur, angin dari australia yang telah melakukan  perjalanan jauh melewati laut jawa. Dulu dia juga belum punya uban sebanyak ini.

Hari ini aku dan dia duduk pada bangku di teras, memandang perbukitan yang dijejali padas kecoklatan, musim hujan akan membuatnya tampak menawan, membuatnya sedikit hidup dan berdenyut dengan warna.

Kami masih tidak bicara, membiarkan pikiran membawa kami menjelajah masa lalu, sepuluh tahun yang lalu saat terkahir kali dia melihatku. Membanting pintu. Membanting hati istrinya dan meremukkannya.

Bibirnya sesekali bergerak, naik turun mengeja apa yang lewat dalam pikirannya. Mungkin emosinya, rasa marah dan kecewa yang biasa aku sangkakan akan mengendap dalam hatinya setelah hari laknat itu. Aku tak juga mau membuka suara. Aku tak diajarinya untuk berkata-kata, mendengar adalah ajaran utama darinya. Rokok klobotnya dihisap lagi, gemeretak tembakau sedikit mengisi kekosongan bunyi pada kami. Kunyalakan rokok ku.

Mata kami tak juga saling pandang, ada keengganan mungkin darinya, ada rasa tak tertahankan jika dia melihat mataku. Tetapi aku tetap nekat mencuri-curi walau kadang cepat kupalingkan muka kembali. Asap rokokku mengepul, terbang menyatu bersama asap rokok klobotnya, membaur terbang meliuk dicumbui angin. Membawanya bersama tanpa risih dan resah entah kemana.

 

Enam Freud, Lima Marx, Empat Conan dan Tiga adalah kamu.

Gambar terkait

Aku masih duduk, menunggu di depan sebuah rumah yang lama menjadi tempat singgahmu di kota yang sebagian besar orang katakan adalah kota istimewa, dimana di dalamnya ada kekuatan yang membuat seseorang akan merasa seperti di rumah, dan rindu setelah meninggalkannya. Tetapi seperti kau ketahui, aku tidak mempercayai itu, bahkan setiap aku datang kesini kalau bukan karena dirimu atau sahabatku, aku tidak akan tertarik dengan kota ini.

Aku duduk menunggu sampai detik demi detik berjalan menuju beberapa putaran yang sebentar lagi menghantarkan waktu yang tepat untuk memanggilmu dan bertemu denganmu. Sebuah kado kecil aku sembunyikan di dalam bagasi motor matic yang biasa kita pakai. Aku tidak berkata bahwa aku akan hadir, karena seperti biasanya, membuatmu terkejut atas sikapku bukanlah sebuah pekerjaan yang selalu akan sukses aku kerjakan. Kau selalu membaca-ku lebih cepat dari apa yang diriku sendiri pikirkan. Tapi kali ini aku berharap aku berhasil.

Tinggal beberapa menit lagi, dan aku masih menunggu dengan perasaan yang tidak menentu. Mendung mulai bergerak menujuku, samar-samar rembulan yang tidak sepenuhnya penuh ini mulai buram, sebentar lagi tepat tanggal tiga setelah tiga tahun aku harus pergi dari diriku sendiri semenjak siang dimana kau menangis di bawah pohon beringin dengan sesenggukan. Bercerita tentang perasaan yang tentu saja aku sudah persiapkan, meski pada akhirnya aku yang hancur, memendam marah, memendam dendam terhadapmu yang begitu saja pergi tanpa aku bersiap untuk itu.

Beberapa menit lagi, tidak sampai lima menit. Aku mencoba melihat dengan seksama jendela lebar dimana kau biasa mengintipku saat aku menjemputmu, dulu. Tidak ada siluet apa-apa yang aku dapatkan, sepertinya tenang saja tak seperti dulu dimana dirimu dan kawan-kawanmu berkumpul di depan televisi. Tak ada persiapan untukmu di kos pikirku, aku membuka hp, mencari nomormu. Masih layakkah? pertanyaan itu menghantuiku, mengerayangi kesadaran tentang diriku dan dirimu yang tak seperti dulu. Aku masih percaya kata-katamu; “Kita belum usai”!

Aku beranikan untuk memencet nomormu, menghubungimu.

Tak ada respon.

Antara aku lega atau kecewa, aku masih termangu memandang jendela itu, dan saat kusadari keadaanku sendiri saat ini yang berdiri disini, aku rasanya ingin tertawa, menangis atau heran dengan laku-ku ini.

Aku putuskan untuk berputar, mengambil bingkisan dalam jok serta mencari kertas untuk menuliskan sebuah pesan untukmu.

“Apa yang paling indah selain dapat berbincang dengan seorang yang mengerti apa yang kita katakan.

Apa yang paling sedih selain kita harus mati sebelum mati sebenarnya.

Waktu, adalah hal yang perlahan mulai tidak kita percayai.

Dan untuk apa kita berbicara tentang kenangan lagi bukan, bukankah kita sebenarnya masih disana, dalam slide yang pernah kita buat begitu indah.

Dan seperti yang pernah aku katakan, berbahagialah dan aku tetap akan menjadi tidak murahan. Seperti halnya dalam sebuah surat yang aku dapatkan darimu, sebuah surat yang terselip sekarang dalam buku Orwell.

Kau tidak akan meragukanku, begitu juga sebaliknya.

Kita masih menjadi orang asing yang percaya kepada kegilaan pemikiran yang tidak semestinya, kita yang kesepian di tengah pembicaraan yang wajar.

Dan aku harap kau tidak semakin kesepian sepertiku setelah hampir beberapa bulan tidak berbicara sepatah katapun semenjak pertemuan terakhir itu.

Ah, kenapa aku mendayu, bukankah sudah bukan haknya lagi diriku untuk melulu?

Mungkin karena waktu sudah tepat, sebentar lagi menit lebih satu.

5 adalah milik Marx, 4 adalah milik Conan, dan 3 adalah milikmu.

Selamat Hari Lahir.

Berbahagialah manusia-manusia yang terlahir di bulan Mei.”

 

Abhiseka

 

Sebelum pergi, aku letakkan surat itu di dalam bingkisan yang aku bawa, di bawah kursi panjang dimana aku hilangkan kontak lensmu kala itu. Memandang jendela lebar itu sekali lagi, meski dalam celah dinding pembatas itu aku dapat melihat bapak tua itu berbaring berselimut jaket parasit berwarna ungu.

Aku pamit, kepada sosokmu yang kuimajinasikan sendiri, mungkin karena mataku mulai buram mengambang. Headset kupasang, malam ini dalam perjalanan kurasa aku akan memiliki beberapa lagu yang tepat untuk kuputar, Talk-Kodaline, Middle-DJ Snake, dan No Surprises-Radiohead. Sampai jumpa lagi di minggu-minggu awal bulan Mei tiap Tahunnya. Sahabatku.

 

 

APA KABAR KAWANMU YANG PEMURUNG ITU?

Gambar terkait

“Hai apa kabar temanmu yang murung itu?”

Aku terkejut dengan pertanyaanmu, lagi. Seperti dulu, kau mengingatkanku lagi pada dirinya, tentang seorang kawan yang telah lama hilang dan bahkan kabarnya saja juga aku ingin ketahui. Dan sekarang aku dihadapkan kepada pertanyaan yang sebenarnya juga sangat aku ingin ketahui jawabannya.

“Apakah dia masih suka duduk di puncak bukit saat senja tiba?”

Tanganmu menggamit tanganku, menggoyang-goyang manja dengan lirik mata itu, mata yang aku kagumi karena kejernihan dan kepolosannya. Mungkin karena itu aku bisa mencintaimu dan melupakan sedikit demi sedikit tentang kawanku yang murung itu.

Tetapi kau menanyakan kembali soal kawan itu, kawan yang ingin aku lupakan meski kadang aku rindukan. Entahlah, aku tidak mau ribut dengan pertanyaan darimu, terlebih pertanyaan aneh yang muncul dari diriku sendiri saat mengingatnya.

“Aku sendiri tidak tahu, mungkin dia sudah bertemu dengan senja yang dia tunggu dan pulang kerumah untuk membawanya, memasukkannya kedalam kotak kaca di atas meja bacanya. Atau…..” tenggorokanku tercekat, terasa tidak nyaman untuk melanjutkan, dan kemana perginya suara itu.

“Atau apa?”

 Matamu itu menatapku lagi, sebentar saja kuamati, kemudian kualihkan kepada jalan yang mulai sepi karena jam malam diberlakukan.

“Kita percepat saja, sebentar lagi tepat jam sembilan malam. Kita sedikit telat dari waktu yang kita rencanakan”

Kataku muncul, mengajaknya berjalan lebih cepat.

Mata polosnya masih kosong, kepolosan adalah senjata yang mampu melahirkan pertanyaan yang jujur dari sebuah manusia. Tanpa ada ketakutan tanpa ada kekhawatiran untuk memilah-milah atau berpikir tentang disakiti menyakiti. Aku tidak peduli kepada ketidakpedulianmu.

Surat Untuk Gadis Natuna II

 

Hasil gambar untuk WRITE LETTERAku tidak pernah berpikir bahwa perjalanan ini akan menjadi serumit ini, menuntut diriku untuk berpikir lebih tetang siapa diriku, tentang apa yang sudah aku lewati dan apa yang harus aku hadapi dengan semua risiko yang datang kedepannya.

Bukan aku tidak memikirkan tentang semua yang akan aku hadapi sebelumnya, aku sudah memikirkannya matang-matang. Bahwa semua yang aku lewati aku jalani dengan penuh kesadaran penuh. Tentang sebuah pilihan hidup.

Apa yang tidak aku mengerti, mungkin terlalu banyak, tetapi hal yang paling sulit aku mengerti adalah betapa gelapnya sebuah perasaan saat kau jatuh cinta pada seseorang. Mungkin kau akan menjadi bodoh dan tetap bersikap nekat menghadapi apapun demi perasaanmu kepada mereka yang kau cintai, tetapi bisa juga kau akan menjadi rasional, berpikir pengecut dan menimbang-nimbang apa yang dihadirkan dari perasaan tersebut.

Tanjung pinang, aku datang menemui orang yang aku percayai, perempuan yang berhasil membangunkanku untuk kembali berharap bahwa selalu saja ada harapan saat kau mau berusaha dan percaya. Aku datang menemuinya dari kota Jogjakarta pada penerbangan pagi buta. Mendarat di kota Batam dan berlanjut ke Tanjung Pinang setelah menyeberangi selat selama satu jam. Aku datang menemuimu sayangku.

Aku mengerti benar budaya yang akan aku hadapi dengan kondisiku yang seperti ini, aku menuju pada sebuah kota yang menjunjung tinggi kemuliaan dan kehormatan. Yang di huni oleh Bangsa yang beradab dan tinggi budaya. Sedang asalku, adalah sebuah kota yang sedang berkembang menuju kota kapitalis, tak perlu berbahasa soal budaya dan sebagainya, semuanya terlalu dihitung kepada nilai-nilai logika. Meski tidak kupungkiri, Solo adalah kota dengan tatakrama dan berbudaya pula. Tetapi semua hanya datar-datar saja kurasa keculai saat dirimu sedang dihadapkan kepada satu pilihan sakral. Selebihnya, biasa saja.

Atau mungkin aku salah membaca bangsa di kota yang aku datangi ini, aku pernah menulis tentang sejarah kerajaan Islam di kota melayu ini. Kota yang berada dalam provinsi dengan jumlah kepulauan terbesar di Indonesia. Sebuah sejarah kelahiran yang aku tuliskan dan kirimkan pada sebuah penerbitan yang kuharap berguna menyambung hidupku pada masa itu.  Masa saat aku masih harus berpikir keras untuk bertahan hidup dengan keringatku sendiri, meski saat ini pun masih begitu.

Sejarah telah berlalu, sejarah terus berubah, dan budaya pun harusnya begitu. Itu yang aku mengerti dari kata-kata seorang filsuf yang menyatakan bahwa jika budaya tetap konsisten, maka manusia didalamnya tidaklah berkembang dan terjebak dalam kungkungan kekuasaan. Aku tidak mau memberikan hukum apa yang harus aku berikan kepada paradigma yang diberikan filsuf itu kepada kota dan budaya bangsamu.

Aku datang dan menghormati adat istiadat budaya yang mendidikmu menjadi perempuan yang pada akhirnya aku jatuhkan hati. Kau memang tidak suka berkata bahwa kau sempurna, aku pun mengamini bahwa tidak ada yang sempurna di dunia ini kecuali kau menciptakan definisi tertentu untuk itu.

Aku datang, dengan cacat ditubuhku, mencoba mengetuk pintu hati keluargamu. Aku harap mereka sudi memberi restu. Mereka ramah dan hangat, menyambutku datang dengan cerita tentang kota dan sejarah yang melahirkannya. Aku tertarik, meski aku tidak begitu banyak bicara. Kau tahu bahwa aku bukanlah orang yang banyak bicara, aku hanya pandai menulis dan membaca. Tetapi bukan berarti aku tidak bisa menjadi pendengar yang baik sepertimu. Kau tentu ingat sayangku, saat kita belajar di teras depan kos hijau tempat kita biasa berdiskusi tentang betapa sulitnya harus menghadapi pembimbing yang plin-plan atau tentang sudut gerak otot dan sendi. Kau selalu suka belajar dengan mendengar, sedang jika kau membaca, hal itu hanya akan membuat kau sakit kepala. Kita begitu berbeda.

Dan pada akhirnya kita menikmati hari-hari berjalan-jalan keliling pulau, berenang di pantai dan berjemur sesekali untuk menghitamkan kulit meski tidak berlaku pada kulitmu. Kita benar-benar mencoba melepas rindu, mewujudkan semua yang kita bicarakan saat tengah malam via telephone. Satu persatu kita penuhi dan jalani. Meski kadang kita menjadi penggerutu pada waktu yang begitu pencemburu. Kita seakan tidak melakukan apa-apa, tidak keman-mana. Karena rasa rindu selalu saja ada meski kita bertatap muka.

Kita berbicara panjang tentang siapa dirimu, masa lalumu, dan siapa keluargamu di pinggir pantai dengan teh tarik yang kau pesankan untukku. Kita mencoba mencari jalan yang terbaik menghadapi semua itu, memilah dan menentukan langkah kedepan apa yang bisa kita ambil untuk tetap bisa berjalan bersama-sama.  Dan saling mencoba untuk membunuh cemburu pada masa lalu, meski sebagian baru saja aku tahu. Aku tidak mempermasalahkan itu, toh dia sudah lewat dan menjadi pelajaran berharga untuk lebih mengenalmu, dan kau mengenalku.

Sampai pada akhirnya aku menarik diri pergi ke kota seberang, menemui keluargaku. Alasanku.

Meski sebenarnya yang ingin aku lakukan adalah memberikan ruang kepada keluargamu untuk menilaiku, menilai hubungan kita.

Dan aku benar sayangku, sesaat setelah aku pergi, kau pun mendapat banyak persepsi dari keluargamu tentang hubungan kita, tentang kenapa kau harus bersamaku.

Sedikit demi sedikit mereka mengorek informasi tentang siapa aku, siapa diriku dan bagaimana kedepan jika aku bersamamu. Aku mengerti hal ini akan menjadi begitu rumit untukmu, dan mungkin akan membuatmu menjadi berpikir ulang tentang hubungan kita. Aku mengerti, bahwasanya masa lalu memang bukanlah sebuah penghalang, jika masih ada kesempatan untuk merubahnya dilain waktu. Tetapi tidak dengan cacat di tubuhku, mungkin demikian yang menjadi permasalahan pokok. Tentang penilaian keluarga besar jika dirimu mendapatkan aku yang seperti ini. Sebuah nama baik, kehormatan di tanah yang berbudaya haruslah tinggi di jaga. Apa pula yang lebih pantas di pertahankan oleh manusia selain kehormatan dirinya. Aku mengerti itu, dan akupun menjunjung tinggi nilai itu. Tentang sebuah honour  yang dipercaya manusia.

Kau harus menimang benar-benar tentang ini sayangku, bukan hanya mengandalkan nafsu untuk bersamaku. Bukankah tidak begitu berbeda dengan nasehat yang diberikan oleh abang dan kakak yang sayang padamu setelah aku pergi, nama baik keluarga haruslah dijaga.

Dan bukan saja tentang persoalan luas seperti itu saja yang mereka nasehatkan untukmu. Tetapi juga dengan diriku, tentang karakterku dalam kacamata mereka. Aku tidak mengerti benar, meski kadang aku tertawa lucu jika memikirkannya. Begitu banyak yang sangat sayang dan peduli kepadamu, mereka benar-benar seperti juri dalam sebuah audisi yang hadiahnya tak lain adalah mendapatkanmu, siapa yang layak dan siapa yang tidak. Peramal-peramal dadakan muncul menilaiku, meski aku tidak tahu menahu apa urusanmu dengan dirinya yang sebegitu pedulinya kepadamu.

Aku bla bla bla bla dan bla dimata mereka, meski aku sudah tidak begitu kaget dan untuk terkejutpun aku rasa aku sudah jengah, karena pandangan seperti itu sudah biasa padaku. Mereka yang datang kepadaku sebelum mengenalku lebih jauh lagi.

Aku memang sengaja menunjukkan cacatku pada mereka sayangku, agar mereka tahu kekuranganku dalam persepsi mereka. Aku tidak ingin menyembunyikkannya seperti pintamu. Aku ingin jujur dalam hal ini. Aku ingin mereka benar-benar jujur menilaiku, terlebih untuk urusan seserius ini. Kau tahu bukan, bahwa aku mencintaimu dan serius untuk meminangmu menjadi ibu dari anak-anakku.

Sampai dalam hati aku berpikir, mampukah kamu melewati itu. Aku tahu benar bahwa mereka sangat sayang kepadamu, membicarakan bahwa kau haruslah dan sewajarnya memang mendapatkan laki-laki yang baik untukmu. Dan hal itu menjadi sajian utama dalam dasar untuk menilai hubunganmu dengan lelaki manapun yang mendekatimu.

Aku pahami betul itu, seperti yang pernah ibu asuhmu katakan kepadaku. Siapa yang rela anak gadisnya mendapatkan laki-laki begundal yang tidak memiliki iman. Karena laki-laki adalah imam yang besok memimpin keluarganya menuju kehidupan bahagia dunia dan akherat. Aku mengangguk, setuju. Tetapi apakah permasalahan hanya itu. Tidak sayangku, kemudian mereka akan berkata soal harta benda untuk mencukupi hidupmu, dan mungkin masih banyak lagi hal yang bakal membuat mereka yang datang mendekatimu haruslah di uji mentalnya seperti itu. Begitu banyak prasarat yang didatangkan untuk dapat meminangmu, semua haruslah dihitung secara tepat dan benar sesuai dengan realita dan budaya bangsamu.

Hingga terkadang soal cinta hanya menjadi makanan sampah belaka saat kita membahas pernikahan dengan hitungan matematika. Cinta saja tidak cukup, atau hanya slogan basa basi. Karena pada akhirnya pernikahan tinggalah sebuah komitmen untuk hidup bersama. Dan jika kau beruntung, cinta akan datang dengan sendirinya. Tetapi aku berkata, jika tidak beruntung, kau hanya akan menghabiskan sisa hidupmu dengan orang yang kau hanya terikat janji saja dengannya. Bolehkah aku bilang hambar? Ah mungkin aku sedikit sakit hati, atau idealis dalam membahas sebuah hubungan yang kuanggap penting. Karena sakral pernikahan bukan dalam prosesi tetapi saat kau memantapkan hati  saat saling mencintai.

Apakah aku akan menyerah untuk mendapatkanmu, tidak sayangku. Selama kau masih mau berjuang bersamaku. Meyakinkan orang tuamu bahwa aku adalah orang yang tepat dan lelaki yang kau percaya kelak akan membahagiakanmu. Aku pun juga tak akan berputus asa meski harus menghadapi cacian dan makian. Aku tidak mempermasalahkan itu. Karena bagiku, hidup bersamamu tak akan bisa digantikan dengan apa-apa. Aku telah membaca hidupmu meski sebentar saja saat aku menginap di rumah keluargamu. Aku melihat keteduhan, dan ketaatan seorang istri dan kasih sayang seorang ibu dalam matamu. Aku akan memperjuangkanmu meski harus berhadapan dengan seratus bahkan seribu orang yang mencemooh hubungan kita. Aku akan membuktikan kepada apakmu jika dia tidak akan salah memilihku menjadi suamimu, penjaga buah hati yang dia besarkan dengan cinta. Aku akan berusaha meyakinkan apak, bahwa semua prasarat hidup berkeluarga akan aku penuhi lebih dari cukup, aku akan bekerja lebih keras lagi untuk menghidupimu, anak-anak kita yang kelak akan dia panggil cucu.

Tetapi apa yang bisa aku lakukan jika kau memutuskan untuk meninggalkanku, jika kau memilih menjaga kehormatan keluargamu jika kau terus memaksakan diri denganku. Aku akan mundur dan berkaca bahwa memang aku tidak begitu layak untuk diperjuangkan, termasuk olehmu sayangku.

Aku akan kembali ke tanah lahirku di pulau Jawa. Menyelesaikan sendiri semua mimpi yang pernah kubangun. Aku akan berdoa untukmu, agar kau kelak bahagia dengan siapapun yang akan menjadi pilihanmu nanti, yang tidak memiliki cacat sepertiku, dan memenuhi kriteria-kriteria seperti yang mereka inginkan untukmu. Tidak mencoreng tinggi nilai kehormatan bangsamu, adatmu dan keluargamu. Aku akan mencari kebahagiaanku sendiri disini, di tanah orang yang benar-benar mengenalku. Tetapi jika kita terus berjuang bersama hingga orang tuamu luluh dan yakin kepada apa yang telah kita pilih, aku akan bersujud syukur. Melinangkan air mata di tanah lahirmu.

Batam 23 Januari 2015

(Dalam hotel 68)

Mengkritisi Sistem Pendidikan Indonesia saat Ini.

lesson-number-1-the-teacher-is-always-right-224d0
Kegiatan belajar mengajar tentunya sudah menjadi hal yang tidak asing lagi bagi kita, tentu saja, mengenyam pendidikan dari TK, SD, SLTP, SLTA dan Universitas tentunya tidak sedikit pengalaman yang kita dapatkan selama kita diajar oleh guru ataupun dosen, ada beberapa guru atau dosen yang tentunya mengena dan terkenang di hati, hal ini mau tidak mau karena guru tersebut dekat dan kita merasa bahwa guru tersebut dekat dengan kita, mengerti dan memahami kita tanpa terlalu banyak menghukum tetapi bisa mengarahkan kita dengan bijaksana.

Satu orang guru atau dosen yang dekat dengan kita belum tentu bisa dekat juga dengan siswa lainnya, mungkin siswa lain yang satu sekolah merasa dekat dengan guru atau dosen lainnya. Hal ini wajar, karena tentu saja guru atau dosen tersebut tentu saja tidak bisa maksimal dalam membagi kemampuan dan pemahaman kepada peserta didik. Tetapi tentu saja hal ini berbeda jika ada guru atau dosen yang menjadi idola di dalam kelas, karena dosen tersebut mampu memahami karakter yang unik dari setiap siswanya dan mengembangkan kepandaian dan kepribadian peserta didiknya dengan spesifik.

Sebuah pertanyaan menarik dalam pendidikan di Indonesia, atau dalam dunia pendidikan pada umunya di dunia, apakah sistem pendidikan yang harus menyesuaikan diri dengan karakter siswanya atau siswa yang harus menyesuaikan diri dengan sistem pendidikan?

Dalam beberapa artikel tentunya akan lebih banyak dijawab bahwa pendidikanlah yang seharusnya menyesuaikan diri dengan siswanya, memahami karakteristik dalam minat, kemampuan, kesenangan, pengalaman, dan cara-cara belajar peserta didik.  Poin terakhir ini yang tentu saja menjadi bagian yang paling mencolok dalam pembelajaran, beberap siswa memiliki cara belajar yang lebih mudah jika dilakukan dengan melihat (visual), mendengar (audio) atau dengan cara melakukan gerakan, bergerak (kinestika). Oleh karena itu, kegiatan pembelajaran dan instrumen-instrumennya seperti materi pembelajaran, waktu belajar, alat belajar dan cara penilaian perlu beragam sesuai dengan karakteristik peserta didik.

Berkonsep Stundent Learning Center, sebuah sistem pembelajaran yang sepertinya humanis, memanusiakan manusia dalam dunia pendidikan dengan memperhatikan bakat, minat, kemampuan, cara dan strategi belajar agar potensinya dapat berkembang secara optimal. Tetapi, dalam prakteknya, masih banyak sistem pembelajaran yang menggunakan konsep demikian dalam slogan dan promosinya masih jauh dari itu, sistem pengajaran masih berfokus kepada cara dosen menerangkan, mengadopsi gaya pendidikan lama dengan cara murid adalah gelas kosong yang wajib di isi oleh apa yang dikehendaki dan dipunyai oleh pengajar, bukan diisi dengan apa yang diinginkan oleh pemilik gelas itu sendiri.

Hal ini tentunya menjadi pekerjaan keras bagi guru atau dosen dalam menjadikan sistem belajar mengajar ini menjadi sesuatu yang benar-benar mendukung perkembangan anak didiknya yang berbeda disetiap karakteristiknya. Meski saya akui bahwa memangku gelar lulusan S2 sebagai tenaga pendidik dapat dikatakan sudah cukup mumpuni secara strata tingkat pendidikan, tetapi pada kenyataannya pendidikan S2 juga tak ubahnya hanya tempat pembibitan guru atau dosen dengan karakter konvensional, jadul dan monoton. Di isi dengan dosen-dosen tua dan tentunya tetap memakai sistem para guru, dosen, doktor, profesor adalah pusat dari alam semesta pendidikan, maka dosen-dosen baru lulusan S2 hanya akan menjadi sel baru yang tetap meneruskan sistem tersebut.

Our-Education-SystemMemang benarlah bahwa menjadi guru itu adalah sebuah pahlawan, mencerdaskan kehidupan bangsa, sebuah pekerjaan yang berat. Guru bukanlah sekedar menjadi pemberi materi, tetapi juga menjadi pembimbing yang tepat dalam bagaimana murid mendapatkan materi yang diperlukan dilihat dari kemampuan kognitif dan metakognitif anak didiknya. Memahami kebutuhan anak didiknya bukanlah suatu pekerjaan mudah, karena setiap anak didik memiliki fantasi, pola pikir, imajinasi dan hasil karya yang berbeda-beda. Berangkat dari hal ini, maka jelas sebuah kesalahan jika saat kita menerangkan pada siswa dan kemudian ada salah satu siswa tidak mengerti apa yang kita jelaskan dan kemudian kita marah, maka kita tak ubahnya seperti guru kuno yang memaksa ikan terbang meski telah kita ajari cara mengepakkan siripnya.

Menjadi tenaga pendidik sekarang haruslah lebih terbuka kepada anak didiknya, memberi ruang kepada anak didiknya untuk mengutarakan, mengkomunikasikan gagasan tentang dirinya kepada guru atau dosen, sehingga lahirlah pemahaman dalam proses belajar mengajar. Memberi ruang yang luas kepada mahasiswa untuk saling berdiskusi, saling bertanya, dan menerangkan dari segala perspektif, mengajarkan bahwa berbeda pandangan dan cara bagaimana memecahkan masalah bukanlah suatu kesalahan atau sesuatu yang layak dihina, mengkomunikasikan hasil kreasi dan gagasan kepada teman lain, guru atau dosen atau bahkan khalayak umum. Hal ini perlu, karena dengan keterbukaan seperti ini maka akan mempertajam, memperdalam, memantapkan atau menyempurnakan sistem belajar mengajar yang benar-benar berpusat kepada peserta didik.

Proses seperti ini haruslah memiliki dukungan dan kerjasama sinergis antara semua unsur pemangku kepentingan (stakeholders) pendidikan. Upaya pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan dengan kurikulum yang lebih sesuai dengan karakteristik, kondisi dan potensi daerah, serta satuan pendidikan dan peserta didik tidak akan dapat dilaksanakan dengan baik tanpa dukungan semua pihak, terutama sekolah atau kampus yang menjadi ujung tombak pelaksanaan pembelajaran.

 

Wonogiri 20/04/2017

23:21

Surat Untuk Gadis Natuna

Writer

Dari mana aku harus menuliskan sesuatu yang aku harap akan menjadi keindahan saat kau membacanya, akan menjadi sesuatu yang membuatmu tersenyum secantik pertama kali aku melihat senyummu dalam remang cahaya cafe di depan kampus saat kau ingin belajar skripsi bersama temanmu. Dari mana juga aku harus memulai sebuah surat yang aku harapkan akan membuatmu mengingat tentang diriku. Seorang yang mengagumi keanggunan dan kecantikan dirimu. Aku putus asa untuk memulai surat ini, tapi setidaknya ini bukan keputusasaanku yang pertama kali, aku pernah merasakannya pada saat harus menuliskan sebuah surat yang harus kuberikan di hari ulang tahunmu, kekasihku.

Aku mencintaimu, dan aku harap kau tidak jemu untuk mendengar itu. Dan karena memang kalimat itulah yang aku pilih untuk mengawali suratku ini untukmu, sebuah kalimat yang mewakili kenekatanku dan pilihanku untuk datang sejauh ini untuk menjengukmu, melihatmu.

Aku tidak pernah berpikir bahwa kita akan melangkah sejauh ini, ah tidak. Aku yang tidak pernah menyangka bahwa progres hidupku akan seperti ini, aku punya impian, aku punya keinginan dan aku punya ambisi yang idealis untuk hidupku. Dan, kau ada didalam sana sayangku, kau adalah background semua mimpi-mimpiku. Kaulah warna yang membuat diriku yakin bahwa semua hal yang kita inginkan, semua hal yang kita usahakan tidak akan sia-sia, seperti sebuah proses yang tidak akan mengkhianati hasil.

Aku tak pernah menyangka akan menginjakkan kaki di Batam, membayangkan pun tidak. Tanjung Pinang? Aku hanya mengetahui dari buku-buku sejarah tentang kesultanan Riau. Natuna? Terlebih lagi, aku tidak pernah tahu nama itu, bahkan peta saja terkadang aku khilaf dalam mengamatinya. Kecuali saat berbicara tentang Teluk Buton dan gas alamnya. Tetapi denganmu aku mengenalnya, menginjakkan kaki disana, menikmati semua keindahan yang tidak terbayangkan, jika aku ingin hidup, aku memilih hidup di Natuna saja, dengan bersahaja, menyatu dengan alamnya, menikmati senja di dermaga pantai Cemaga, mendaki gunung pada saat tidak musim lintah, jalan-jalan di kota yang tidak begitu banyak lampu merah, berkeliling di ruas jalan yang tidak mungkin akan tersesat didalamnya seperti yang kau kata, aku menyukainya, keindahan itu. Seperti dirimu kekasihku.

Aku belum pernah melihat mata seindah milikmu, kulit sehalus milikmu, aroma nafas yang eksotis, dan tawa renyah yang membuatmu jauh dari anggun, tetapi itulah dirimu kekasihku.

Sayangku, aku memang tidaklah sempurna. Aku memang bukanlah laki-laki yang membuatmu bangga untuk menggenalkan diriku pada kehidupanmu. Aku yang masih sekolah, aku yang belum bekerja pada suatu instansi tertentu yang membuatmu nyaman saat ditanya pacarmu kerja dimana. Aku memang bukan lelaki yang mapan untuk menjadi jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tentang pacaramu.

Aku tidak ingin membela diriku, aku tidak ingin mencari alasan untuk pembenaran keadaanku, jika pun bisa dengan beralasan keadaanku bisa berubah aku akan beralasan sampai akhirnya aku mapan dan menjadi layak untukmu. Tetapi tidak sayangku, aku bukan penggerutu, aku sadar akan keadaanku dan aku ingin merubahnya, aku ingin menjadi yang terbaik untuk hidupku, menjadi orang sukses dengan caraku, dengan segala kemampuan terbaik yang aku bisa, menjadi orang yang layak dan membanggakan diriku sendiri, kedua orang tuaku, dan kamu. Aku ingin engkaulah perempuan yang akan menjadi pendampingku menjalani hari, berjuang bersama, menikmati mimpi kita yang menjadi kenyataan dengan kerja keras kita.

Tidak ada yang tidak mungkin bukan sayangku.

Batam, akhir Januari 2015