SEXUALITAS DAN FEMINSIME

fairey-Womans-March

Kasus pelecehan seksual yang diterima oleh salah satu penyanyi dangdut kenamaan Via Vallen oleh pemain sepak bola Marko Simic menjadi sorotan sendiri oleh kalangan pengamat sepakbola Indonesia, tentu saja hal menjadi perkara yang menarik, pertama karena Via Vallen adalah penyanyi yang sedang naik daun, begitu juga dengan Marko Simic. Lalu apakah ada hubungan antara tindakan yang dilakukan oleh Simic dengan feminisme dalam sepakbola? Berbicara tentang feminisme dalam sepakbola tentu saja ada beberapa kalimat yang menjadi suatu rankaian yang terhubung satu sama lain, misalnya seperti peranan perempuan di tribun suporter, perjuangan perempuan untuk dapat bermain sepakbola, atau bagi yang sudah mengenal AFC Unity dari Inggris (sila baca tentang materi AFC Unity ini, sangat menarik sekali), dan lebih luas dan dalam lagi kita tentu akan berbicara tentang Emma Goldman. Hanya saja lain kesempatan kami akan menuliskannya 🙂

Berbicara tentang feminisme memang berhubungan dengan orientasi seksual, apa lagi kalau bukan perkara itu?

Berbicara tentang seksualitas sebagian besar hanya akan mendapatkan kosakata beruba, fisik, biologis, dan segala sesuatu yang menyangkut tentang alat kelamin atau persetubuhan semata. Seksualitas telah mengalami reduksi makna, padahal jika kita bicara tentang seksualitas maknanya akan lebih luas dan lebih kaya, dan hal inilah yang tidak dilihat oleh sebagian besar manusia yang masih terkungkung dengan konsep seksualitas budaya patriarki. Padahal era modern telah lama datang dengan membawa pencerahan tentang ilmu pengetahuan yang seharusnya merubah konsep lama tentang seksualitas. Peninggalan-peninggalan lama seharusnya ditinggalkan karena memang salah dan tidak sesuai dengan hakikat manusia.

Seksualitas haruslah mulai dikaji dari perspektif yang lebih luas, bukan hanya mengedepankan fisik semata, tetapi juga tentang strukturalisme seksualitas, seksualitas manusia dari kacamata eksitensialisme, kultural dan historisnya. Seksualitas tidaklah lagi akan menjadi sesempit tentang hubungan seksual semata, tentang jenis kelamin tetapi akan menjadi lebih kaya, lebih multidimensional, kompleks karena mencakup begitu banyak dimensi dalam diri manusia. Isu-isu tentang seksualitas atau bahkan seksualitas itu sendiri memiliki nilai komersial tersendiri, dieksploitasi sebagai sebuah komoditi dikarenakan kebanyakan orang masih memiliki pemahaman bahwa seksualitas hanya menyangkut aspek genetalitas dan organ seks sekunder lainnya atau soal intercourse (persetubuhan). Pentingnya kejelasan pemahaman tentang seksualitas adalah sebuah imun dari gencarnya arus komersialiasasi seks melalui berbagai bentuk media yang didukung oleh kecanggihan teknologi.

Psikologi Freud, Strukturalisme Strauss, History of Sexuality Foucault atau Esksitensialisme Sartre, membedah seksualitas dan otonomi manusia dalam satu kesatuan yang utuh, unik, dan otonom sangatlah perlu pahami benar-benar, sehingga dari sana kita bisa melihat kajian bagaimana sexual harrasment yang dialami Via Vallen, sebuah pesan yang bertujuan untuk memuaskan suatu nafsu hedonis sexuil dengan ajakan tanpa mengindahkan hak pribadi dan hanya memandang Via Vallen hanya sebagai object pemuas semata. Tetapi meski demikian, ada perlu digaris bawahi, bahwa ada sosio-kultural yang membentuk suatu dominasi orientasi tentang pemaknaan seksualitas itu sendiri, hal-hal seperti ini kadang yang masih luput dalam pandangan manusia ditengah kemajemukan sosial, bagiaman proses manusianya, budayanya, dan masyarakatnya.

Refrensi : Filsafat Sex : FX. Rudy Gunawan

Iklan

BIARLAH MINKE NYA HANUNG MEMILIKI TAKDIRNYA SENDIRI

mink-5b07701ef133441578426162

“Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan” – Pramoedya Ananta Toer! This Earth of Mankind.

 

Mungkin tepatlah saya menggunakan kutipan Pram (Pramoedya Ananta Toer) ini sebagai pembuka atas apa yang sedang saya gelisahkan. Tetapi benar adanya, saya gelisah, berpikir tak kala mendengar bahwa salah satu dari buku Tetralogi Pulau Buru milik Pram yang berjudul “Bumi Manusia” akan di filmkan! Di film kan! Di tambah orang yang akan mensutradari film ini adalah Hanung Bramantyo!

Baiklah, begini, bukan hal baru bahwa novel-novel atau roman akan bertakdir untuk dilahirkan kembali dalam layar lebar di gedung bioskop, tidak ada yang bisa mengira, karena saya percaya bahwa buku memiliki takdirnya masing-masing. Tetapi mungkin ini adalah moment besar kedua bagi saya saat mendengar bahwa film dari buku buah karya Pram ini akan dimunculkan dalam bentuk film. Ya ini adalah moment kedua terbesar bagi saya, setelah kemarin muncul film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk! Sebuah novel yang saya baca kala SMA, buku yang membuat saya menangis sesegukan karena imajinasi saya kala menerjemahkan kata perkata yang dituliskan oleh Hamka dalam romannya itu. Ah, tetapi saat mendengar bahwa buku itu akan di filmkan, kengerian itu tiba-tiba muncul, sebuah gambaran, imajinasi yang saya bangun takutlah untuk diruntuhkan dengan apa yang akan hadir dalam layar lebar garapan Sunil Soraya.

Dan kali ini adalah Pram, Bumi Manusia, dan Minke! Lalu apa?

Sebenarnya terlepas dari banyaknya nilai positif dari di filmkannya buku ini, yang tak lain dan tak bukan adalah bahwa buku yang pernah di bredel di era Orde Baru ini mulai menjamah dunia yang semakin luas, dan pasar yang semakin lapang dengan pembeli dari generasi-generasi lebih segar, maka saya sangat mendukung bahwa film ini hadir di Indonesia, atau lebih tepatnya, buku Bumi Manusia ini layaklah di filmkan!

Tetapi permasalahan yang saat ini saya lihat adalah, nilai-nilai subjektif sebagai penggemar karya Pram berteriak khawatir, Minke ku akan dirusak oleh Minke yang akan dilahirkan oleh apa yang diimajinasikan oleh Hanung. Tidak dapat dipungkiri, bahwa Minke menjadi sosok kultus yang hingga saat ini biarlah menjadi sosok suci yang gambaran idealnya berada di benak masing-masing pembaca, ya kita semua melahirkan sosok Minke untuk mengisi Bumi Manusia kita masing-masing.

Lalu apa salahnya Iqbal? Secara sosok tentu saja itu mengganggu gambaran kita tentang Minke yang harusnya Jawa, dia terlalu bersih dan hanya dibungkus pakaian saja. Ini tentu saja tentang sosok bukan tentang atribut, aih. Tetapi biarlah, ini adalah pilihan matang dari Hanung dengan segala pertimbangan bisnis nya.

Banyak yang teriak untuk memBoikot film ini! Boikot Film ini! Entah, jujur saya merasa sedih membaca beberapa komentar di sosial media yang bersikap antipati terhadap munculnya film ini, terlebih saat mendengar bahwa Bumi Manusia ini akan di filmkan dengan Iqbal yang nantinya akan berperan sebagai Minke, sebegitu sucinya kah? Sebegitu mengkultuskan imajinasi kah? Apakah film ini akan mengguncang keimanan kalian terhadap sosok Minke yang dilahirkan oleh karya Pram dalam bukunya? Biarlah Minke yang lahir dari Film Hanung ini hadir dan menemui takdirnya sendiri, dan segenting itukah sehingga Minke yang kalian lahirkan dalam imaji kalian setelah membaca bukunya akan lenyap dan hancur dengan sosok Minke yang di lahirkan dalam gambaran Hanung?

Saya sependapat dengan sebuah komentar dari seorang netizen yang mengatakan bahwa “Saya tidak sangsi dengan Iqbal, saya lebih sangsi cerita Bumi Manusia tidak akan seperti Bumi Manusia”. Secara pribadi saya jujur tidak meragukan Iqbal, terlepas dia memang hanya sebagai lakon, yang geraknya nanti akan dikendalikan oleh sang sutradara, yaitu Hanung, dan mari kita bicara tentang Hanung! Sosok yang kata teman saya mirip sekali dengan saya yang sipit dan berhidung pesek dan sama-sama memiliki istri yang cantik ini memang luar biasa, luar biasa nekat dengan menggarap film-film berat tanpa matang dalam survei (menurut saya pribadi) seperti yang pernah saya tontong adalah Soekarno, Sang Pencerah dan Tanda Tanya (?).  Meski banyak yang mengatakan bahwa Hanung sedang aji mumpung dengan adanya fenomena anak milenials yang sedang gandrung membaca buku-bukunya Pram dan membuat filmnya, itu adalah hak Hanung dengan pertimbangannya, hanya saja tentu kita berharap film ini nantinya memang akan membawa kita melihat apa yang dituliskan Pram dengan tidak beda jauh dengan apa yang kita imajinasikan.

Sebuah komentar pedas dari seorang Netizen yang sebenarnya adalah saya sendiri saya kutip untuk menjadi pamungkas dalam tulisan saya ini.

“Pramis tingkat syariatlah yang menanggapi pemfilman Bumi Manusia dengan teriakan Boikot!”

Selemah itukah imajinasi tentang Minke sehingga kita seketakutan ini menghadapi film Bumi Manusia garapan Hanung ? Saya tetap akan datang, menonton film Bumi Manusia dan kemudian memberikan apresiasi! Bukankah ini hidup?

 

“Hidup sungguh sangat sederhana. Yang hebat-hebat hanya tafsirannya.”

  • Pramoedya Ananta Toer, House of Glass.

 

 

Cerita Ayahku tentang Sore, Hujan dan Kopi

moon-images-at-night-dowload

“Semua orang memiliki kisah sedih, tetapi tidak semua yang memiliki kesedihan menjadi penulis”

Kata ayahku masih terngiang di benakku, sebuah kata yang diucapkannya padaku belasan tahun lalu, tepat dimana malam itu langit begitu cerah, bulan merekah dengan gagahnya, bintang dan binatang malam mulai menunjukkan diri setelah hujan sore membekukan desa kami.

Aku ingat sekali saat aku berlari menuju kamar mengambil jaket saat disuruh ayahku, dia memintaku memakai jaket sebelum dia berjanji akan bercerita tentang Sore, Hujan, dan Kopi. Tiga kata yang sering dipakai oleh ayahku dalam tulisannya, dan dalam polosnya waktu itu saat aku berumur delapan tahun aku menanyakan kenapa harus tiga kata itu?

Saat itu, ayahku duduk di teras depan rumah, wajahnya menengadah ke arah langit, atau mungkin lebih jauh lagi, dia menatap ibu yang sudah pergi saat melahirku. Seorang perempuan cantik yang kuketahui dari foto hitam putih terawat yang berada di meja samping kamar tidur ayahku. Setelah kupakai jaketku, aku kembali berlari melewati ruang tengah menuju ayahku yang tentu saja sudah menunggu.

Kupeluk ayahku dari belakang, kemudian dengan cepat aku telah berpindah duduk di sampingnya sembari bersandar di  bahunya setelah jemari tangannya mengusap lembut kepalaku.

“Ceritakan lagi ayah, kenapa selalu tiga kata itu selalu yang kau pilih?”

Ayahku menatapku lembut, kemudian dengan tangan kanannya dia menarikku agar semakin rapat dengan tubuhnya, aku mencium bau almari tua, sebuah bau yang menjadi ciri khas ayahku, ya, dia memiliki aroma tubuh yang unik, bau almari tua seperti yang berada di dapur rumahku.

“Kopi, Hujan dan Sore, kenapa ayah selalu menggunakan ketiga kata itu dalam setiap cerita yang ayah tuliskan?”

Ku ulangi lagi pertanyaan, mungkin rasa penasaran kanak-kanakku ingin terpuaskan pada malam itu, dan dengan tenangnya ayah selalu membalas dengan senyum yang tak kumengerti, membalas dengan senyum yang hanya melahirkan pertanyaan baru untukku. Kesedihan apa yang sebenarnya ingin dia sembunyikan?

Dan kemudian, ayah mulai bercerita tentang kisah-kisah para Nabi dan Rasul di dunia, tanpa mukjizat dan tanpa keajaiban seperti yang dikisahkan oleh guru-guru agama atau buku-buku cerita yang biasa kubaca. Dia bercerita tentang mereka selayaknya manusia biasa, yang bisa kujangkau dengan pikiranku kala itu, meski ada kekecewaan kenapa dalam cerita ayahku, mereka tidak seperti yang ingin kuimajinasikan, tetapi inilah ayahku, dengan ceritanya yang kadang dia tuliskan dan kadang dia bagi berdua denganku saja.

“Kenapa ayah menceritakan kisah nabi-nabi padaku? Bukankah aku ingin mendengar ayah bercerita kenapa ayah suka menuliskan hujan, sore dan kopi?”

Ayah tidak mengubrisku, dia masih tetap bercerita tentang Nabi Yakub sampai ke anaknya Nabi Yusuf, tentang iri dengki, tanpa mukjizat tentang mimpi-mimpi, ayahku bercerita tanpa berlebihan, biasa saja dia menceritakan selayaknya manusia umumnya, dia punya persepsi sendiri tentang keNabian mungkin, tetapi cerita-ceritanya selalu menyita perhatianku, karena sudut pandang yang dihadirkan dari setiap tokoh yang dia bawakan selalu jelas dan mudah untuk ku imajinasikan, termasuk kelogisan tanpa harus melulu dengan keajaiban. Tetapi entah kenapa aku selalu tidak marah, dan aku selalu menikmatinya, menikmati alur cerita yang mengecohku dari apa yang ingin ku ketahui, cerita ayah adalah suatu keajaiban tersendiri bagiku, sebuah cerita yang mungkin hanya bisa dilakukan oleh ayahku, membuat cerita sehingga aku berhasil tumbuh dengan dewasa dalam pandangan yang sederhana tanpa banyak cerita fiksi yang tak mampu kugapai dengan akal budiku.

Hingga pada suatu malam, mungkin setelah beberapa tahun berlalu, saat itu yang aku ingat aku sudah kelas tiga SMA, aku di panggil ayahku, kulitnya waktu itu makin hitam, tubuhnya makin kurus, dan mulai sering batuk-batuk. Meski demikian, dia tidak pernah berhenti merokok, entah sudah berapa kali aku mengingatkannya untuk berhenti, tetapi dia selalu tersenyum dan berkata, bahwa hidup ini milikmu sendiri, bukan milik orang lain, kau yang menanam dan kau juga yang akan memetik, tetapi bukan itu poinya, poinya adalah kau harus sadar terlebih dahulu untuk memikirkan dan melakukan apa yang nantinya akan kau pilih untuk kau tanam dalam hidupmu. Dan seperti biasanya aku hanya terdiam, kalimatnya selalu diplomatis, terlalu mengedepankan bahasa-bahasa yang luas tafsir, menyanggahnya hanya akan menjadi perdebatan yang menghasilakan ruang yang semakin tak terbatas.

“Ara, apakah kau masih ingin tahu tentang Sore, Hujan dan Kopi dalam setiap cerita yang ayah tuliskan dalam setiap cerita ayah?” Mata ayah menatapku tajam, seakan memaksaku untuk mengatakan iya, meski tanpa terpaksapun aku sudah pasti akan mengatakan iya, bukankah ini sebuah pertanyaan yang tidak pernah diberikan kepadaku dari malam dimana aku bertanya pertama kali. Aku duduk disamping ayah, seperti pada cerita sebelumnya, kami memandang langit luas, mendengar suara jankrik dan katak bersahut-sahutan yang diselingi hembusan angin pada pohon sawo di depan rumah.

“Sore, Hujan dan Kopi”.

Ayah menatapku

“Sore Ara, bagi sebagian orang adalah waktu dimana kesedihan, kemuraman, kebastrakan rasa, kepergian tanpa kepulangan atau bermacam-macam persepsi lainnya yang ditangkap oleh manusia kebanyakan adalah suatu bentuk subjektif yang biasa lahir tergantung kenangan kuat apa yang kita dapatkan. Sebagain besar seperti kata ayah menganggap sore adalah waktu muram, tidak masalah, mereka selalu merasainya seperti itu, ingatan tentang sore membentuk mereka untuk menghasilkan persepsi seperti itu, sore saat kecil biasa digunakan untuk menakut-nakuti anak kecil untuk segera pulang sebelum diculik oleh wewe yang keluar dari sarangnya, sore adalah waktu kita berpisah dengan teman-teman bermain kita karena kita harus pulang kerumah di tengah asiknya bermain, ada kesedihan disana, ada perpisahan yang dipaksakan berkesudahan. Tetapi tidak bagi ayah, sore adalah waktu dimana ada sebuah persaan yang heba datang dalam hidup ayah, waktu yang memberikan kenangan besar bagi ayah, sebuah persaan yang bagi ayah itu adalah suatu keajaiban tersendiri”

Ayah kembali memandangku

“Keajaiban seperti apa yang ayah dapatkan? Bukankah ayah tidak percaya dengan hal-hal seperti itu?” Jawabku sembari melihat mata ayahku, sebuah mata yang kucintai, ada kebijaksanaan disana, ada samudra dengan ketenangan yang tak pernah kudapati dari mata manusia lainya yang selama ini kutemui, dan mungkin malam itu aku baru menyadari bahwa mata ayahku adalah alasan kenapa aku selalu tidak pernah bisa marah padanya, segala kemarahan seakan lenyap, tak berdaya dalam teduh mata yang kuat itu.

“Keajaiban tidak melulu harus berbentuk seperti itu anakku, keajaiban adalah suatu yang membuat hidupmu bergetar hebat, sesuatu yang tidak bisa kau paksakan untuk menolaknya saat dia datang, ada ketakutan, ada kebahagiaan yang membuat dirimu bertekuk lutut pada dirimu sendiri dalam perasaan yang membuncah”

“Aku tidak mengerti yah”

“Kau tidak harus mengerti sekarang, kau masih banyak waktu untuk mempersiapkan kedatangannya”

“Kapan?”

“Keajaiban itu tidak bisa kita ketahui datangnya kapan, berbentuk seperti apa, atau dalam peristiwa apa, yang pasti, bersyukurlah manusia yang pernah mengalaminya”

“Jadi kenapa ayah menuliskan sore adalah karena ayah memiliki kenangan hebat pada saat itu”

“Ya, itulah kenapa ayah selalu menuliskan sore, sebagai latar waktu yang kuat dalam cerita-cerita yang ayah tuliskan”

“Baiklah, dan keajaiban seperti apakah itu yah?”

“Keajaiban itu adalah kamu Ara”

Aku terdiam, entah kenapa pada saat itu juga air mataku menetes, sebuah cerita pada malam lainnya tentang ibu yang meninggal pada saat melahirkanku menjadikan kecamuk tersendiri di dadaku, ada rasa sesak, kubayangkan dalam posisi ayahku, ditinggalkan seorang istri yang sangat dicintainya, perempuan yang dalam beberapa kisah yang diceritakan oleh ayahku sebagai seorang perempuan merdeka yang melawan kekangan adat budaya. Aku tak mampu menahannya, isak tangiskupun keluar. Ayah memelukku, dan kemudian mengusap rambutku dengan lembut dan tenang, tidak ada kebingungan atau kepanikan sama sekali untuk menghadapiku.

“Kau tahu Ara? Meski ibumu meninggal saat melahirkanmu, itu bukan karena kesalahanmu yang harus datang kemudian akhirnya maut merenggut satu-satunya perempuan yang sangat kucintai. Sore itu ibumu menangis saat mendengar tangisan pertamamu, sebuah tangisan bahagia yang baru pertama kali ayah lihat dalam hidup ayah, tangisan yang sama. Kita pernah menangis bertiga bersama-sama Ara. Aku, Ibumu dan kamu, Sore adalah waktu pertama kali kita bersama-sama menangis bertiga”

“dan untuk terakhir kalinya” potongku.

“Ya, dan meski untuk terakhir kalinya, bagi ayah itu tidaklah begitu berbekas, moment saat kita bertemu bertiga dan berbahagia dalam tangisan itulah moment dimana ayah tidak bisa melupakan tentang sore”

Isak tangisku semakin menjadi, aku mengerti benar bagaimana ayahku mencintai ibuku meski aku tidak pernah melihatnya.

“Hujan?” ayahku memecah keheningan perbincangan kami. Aku menatapnya, kemudian menghapus air mata di pipiku, dan sepertinya ayah tahu bahwa aku telah siap untuk mendengar tentang hujan.

“Apa yang kau pikirkan tentang hujan Ara?”

“Kesedihan lagikah ayah?”

“Anakku, ayah ingin mendengar pendapatmu sendiri, jangan bertanya bahwa jawabanmu memiliki nilai benar dan salah di mata ayah, kau memiliki kehidupan sendiri, kau memiliki dunia yang kau ciptakan dalam pikiranmu, tidak ada kebenaran atau kesalahan saat kau menginterprestasikan hujan sayangku. Katakan apa yang terbesit dalam pikiranmu tentang hujan?”

“Rumah”

Ayah menoleh ke arahku, mungkin jawabanku memberi kejutan tersendiri baginya.

“Kau mengejutkan ayah, dan itulah kejujuran sebagai manusia nak, sebelum ayah bercerita tentang hujan dalam cerita ayah, bolehlah ayah memberi sedikit nasehat kepadamu?”

Aku mengangguk.

“Kau adalah manusia nak, ayahpun begitu, kita memiliki ingatan sendiri-sendiri, dan akhirnya melahirkan perasaan yang tersimpan baik dalam otak kita. Tetapi dunia tidak sedang berkembang kearah sana, banyak manusia yang tidak lagi memiliki ingatannya sendiri, ingatan mereka dibentuk, diminta agar sesuai dengan kebenaran dan kesalahan umum, ingatan-ingatan akan melahirkan nilai benar dan salah, yang pada akhirnya kedua hal tersebutlah yang lebih berkuasa atas diri kita. Kau tak perlu takut  untuk berkata apapun tentang dirimu sendiri, benar dan salah jangan pernah menghalangimu untuk berkata-kata, manusia tidak harus mendengar apa yang ingin mereka dengar, begitu juga sebaliknya, mereka harus mau mendengar apa yang tidak ingin mereka dengar. Kau memiliki kenangan dalam pikiranmu tentang hujan adalah rumah, dan jujur saja ayah bahagia mendengarnya, tidak ada terbesit dalam pikiran ayah tentang hubungan hujan dan rumah. Kau memberi warna tersendiri nak, keberanianmu untuk mengatakan siapa dirimu sebenarnya adalah keutamaan”

“Lalu apa yang ayah pikirkan tentang hujan?”

“Hujan bagi ayah adalah Ibumu”

“Kenapa ibu ayah?”

“Kenapa juga rumah Ara?”

“Karena pada saat hujan turun, Ara selalu ingin segera sampai di rumah, entah kenapa saat hujan Ara ingin selalu pulang, berada di dalam rumah membuat Ara merasa nyaman, aman, berada di dekat ayah. Lalu kenapa ayah mengingat hujan sebagai ibu?”

“Hujan itu anggun Ara, dia tenang, dia menjadi dirinya sendiri, tidak begitu banyak tingkah, mengalir sesuai prosesnya, lahir datang dan pergi, tanpa menjadi palsu, tanpa harus mengikuti keinginan manusia, dia ingin menjelma menjadi gerimis, hujan atau badai sekalipun dia adalah dia, dia menjadi yang dia inginkan dalam keberadaanya. Meski bagaimanapun dia datang dengan bentuknya dan kemudian reda, dia akan datang kembali, dia abadi Ara. Dan begitu juga dengan Ibumu. Dia abadi”

“Abadi?”

“Ya, abadi”

“Dalam ingatan kitakah ayah?”

Ayah tersenyum

“Ara, meski kata abadi sering disematkan kepada mereka yang telah pergi tetapi masih diingat dalam benak manusia adalah pembahasaan yang menarik dan puitik, tetapi abadi yang ayah maksud sebenarnya lebih dari itu Ara, abadi yang lebih jauh dan dalam, sebuah keabadian yang benar-benar ada”

“Aku tidak mengerti ayah”

“Tidak semua hal harus dimengerti sekarang Ara, ada waktu yan tepat untuk akhirnya kau tahu itu”

“Jawaban ayah kenapa selalu klise seperti itu?”

“Bukankah malam ini ayah tadi berkata hanya akan menjelaskan kenapa ayah memasukkan kata-kata sore, hujan dan kopi Ara?”

“Apakah kau ingin tahu tentang Kopi?”

“Ya”

“Kau tentu penasaran kenapa ayahmu selalu menuliskan kopi padahal ayah tidak pernah minum kopi, dan lebih memilih kau membuatkan es teh untuk ayah” jawab ayahku sambil tersenyum, kulihat ada kelucuan yang dia miliki sendiri terhadap kopi.

“Ceritakan padaku ayah, tentang Kopi, kata yang tidak pernah kau nikmati”

“Ah anak ayah sudah pandai bermain kata-kata rupanya”

Ayah sepertinya lebih serius kali ini, entah mengapa dia mengambil posisi untuk siap bercerita tentang sesuatu yang lebih dari sekedar Sore dan Hujan.  Dan kemudian ayah menceritakan tentang kopi kepadaku, dia mengawali dari betapa banyak penulis yang menyukai kopi, entah kenapa, entah kenapa juga ayah juga menyoroti kenapa penulis harus berambut gondorng, dan masih banyak lagi soal seniman seperti dirinya yang lama-lama menjadi lucu dimatanya, kemudian dia menceritakan kopi yang berkorelasi dengan dunia filsafat yang tidak aku mengerti, banyak perbendaharaan kata-kata baru yang dikatakan oleh ayahku, hampir sebagian besar adalah pemaknaan baru, cara pandang, dan tentu saja rumit, aku tidak mengerti dan kepalaku sedikit pusing dibuatnya. Kau ingin mendengarkan cerita tentang kopi yang berujung filsafat ini?

Malam ini, dia sedang berbaring di depanku, pakainnya lebih baik dari biasanya, setelan jas dan rambut tersisir, rapi terlihat muda dari seharusnya, mungkin karena bedak, bibirnya masih merah jelas, meski tanpa lipstik, keberuntungan dirinya meski seorang perokok dia tetap memiliki bibir berwarna merah, hanya saja malam ini dia tidak berbau lemari tua, dia terlalu wangi misk yang membuat malam ini sedikit aku menjadi tidak mengenalinya.

Buku-bukunya masih tertata di rak buku kamarnya, katanya semua untukku malam ini, kecuali satu, sebuah buku yang digenggam dalam pelukkannya itu, sebuah buku yang hanya boleh menjadi miliknya saja, sebuah rahasia lain yang ingin dibawanya sendiri. Buku itu memang bukan barang asing bagiku, aku pernah melihatnya beberapa kali, tetapi sejurus kemudian saat ayah sedang melihatku memegangnya, ayah selalu mengambilnya dariku, memintanya dan kemudian membuat suatu percakapan yang menggiringku ke arah dimana aku akan melupakan buku itu. Hanya saja yang dapat aku ingat adalah bahwa buku itu berisi tulisan tangan, sebuah buku Diari atau mungkin cerita-cerita yang tak ingin ayah bagi kepada siapapun kecuali untuk dirinya sendiri.

Setidaknya amanat untuk membuat buku itu bersamanya telah aku penuhi, meski gejolak dalam hati ingin sekali aku melihat apa isi dari buku itu begitu puncaknya, aku mampu menahan diri, ada rasa hormat atas sebuah pribadi pada ayahku, kehidupan bukan tentang apa yang ingin kau miliki, rasa haus itu harus ditahan, sebagaimana sebuah cerita tentang Musa yang menahan diri setelah turun dari bukit Sinai yang pernah ayah ceritakan padaku, tentang menjadi manusia yang tidak sepenuhnya harus memikirkan diri sendiri, ada pertimbangan bagaimana bersikap sebagai manusia yang menghargai pribadi-pribadi. Mungkin suatu saat aku akan menceritakan kisah-kisah itu padamu, sehingga kita memiliki sudut pandang yang sama dalam memandang sebuah hidup sebagai sesama manusia.

 

ARSENAL IS ARSENE (MERCI ARSENE)

 

Hasil gambar untuk ARSENAL DAN ARSENE WENGERBerawal dari pesan di WA singkat dari sahabat saya (panggil saja Lantip) yang berisi link dan juga sebuah tulisan sangat singkat, “Merci Wenger” saya langsung terkejut dan terdiam, meski tidak sebegitu amatnya pesan tersebut langsung menyita perhatian saya. Arsene Wenger berhenti dari kursi kepelatihan Arsenal. Jujur meski saya seorang fans Arsenal, tetapi dalam beberapa tahun belakangan jadwal hidup saya untuk mengurusi dan menonton Arsenal dalam setiap pertandingan mulai berkurang karena kesibukan sebagai seorang buruh, suami dan ayah yang baru. Disebut militan tentu saja tidak, saya lebih cocok disebut sebagai fans karbitan. Memberi nama Arsenio / Arsenia kepada nama anak saya, saya pun tidak jadi melakukannya. Besok saja, mungkin besok kalau anak saya lahir laki-laki, akan saya beri nama anak saya Arsene, bukan Arsenal.

Banyak yang bilang bahwa mencintai klub itu seperti mencintai istri, kita hanya bisa mencintai satu klub saja, tidak bisa lebih, dan meski seperti apapun, kita akan tetap setia mendukung klub tersebut. Mungkin ini juga berlaku kepada saya, saya mencintai Arsenal, meski klub ini lebih sering dibilang sebagai sekolah sepak bola di liga Inggris dari pada dipandang klub profesional. Saya tidak peduli, karena memang begitulah kondisinya, saya terlanjur jatuh cinta pada klub lucu ini, klub yang memiliki ambisi yang saya pikir nanggung, setengah-setengah, tetapi disisi lain, saya melihat klub ini adalah klub yang keras kepala, seperti Wenger. Selalu memakai taktik usang meski tidak membawa Arsenal kemanapun, dan berpendapat bahwa taktik usangnya adalah jalan Arsenal di bawah kepelatihannya. Sudahlah, Arsenal adalah klub Freak yang masih tetap menunjukkan konsistensinya, tanpa banyak menghambur-hamburkan uang.

“Lihatlah Klub SSB selalu konsisten ikut liga Champion!!”

“Meski hanya sebagai penggembira”

Meski hanya sebagai penggembira, tetapi ditengah persaingan klub yang jor-joran belanja pemain mahal dan bintang, Arsenal masih tetap bisa bertahan di persaingan papan atas bahkan di tanah Eropa, siapa sangka, taktik usang, dan diisi pemain tidak ada gambaran sangar-sangarnya, seperti klub – klub lain, klub ini masih bisa menyulitkan mereka.

Arshavin, Arsene, Arseto, dan Amarseto, nama-nama yang mungkin membekas dalam pikiran saya saat saya pada akhirnya jatuh cinta pada klub asal London ini, nama-nama yang tidak asing sehingga membentuk kenangan dalam alam bawah sadar saya kenapa saya memutuskan memilih klub ini, klub paling atas saat memilih team saat bermain PS. Dengan logo Merah bergambar Meriam. Saya sendiri juga heran kenapa saya tidak memilih Manchester United, Liverpool, Chelsea, atau Manchester City sebagai klub pilihan. Banyak yang tentu saja akan menjawab bahwa ini adalah takdir, ya memang benar, bahwa ini adalah takdir, tapi tentu saja, takdir datang bukan tanpa alasan dan perhitungan kenapa pada akhirnya kita sampai kesana. Tentu saja selain alasan subjektif saya tentang alasan bawah sadar, ini tentang alasan kecocokan karakter, saya cocok dengan Arsenal.

Berlanjut setelah berkenalan dengan AIS SOLO, dan berkawan dengan Aziz, saya ingat pada suatu malam saat nonbar, ternyata kami sama, kami sama-sama menyukai Arsene Wenger, alasan kami menyukai Arsenal adalah Arsene Wenger, permainan indah yang ditampilkan lebih cantik dari pada permainan tiki-taka membosankan Barcelona. Maaf ya Cules.

Begitulah sekelumit awal tentang hubungan saya dengan Arsenal dan Arsene Wenger. Sebelum jauh menjelaskan perspektif saya terhadap berhentinya Arsene Wenger dari kursi kepelatihan Arsenal. Setelah mendapatkan pesan tersebut, serta merta saya membukanya, ditengah rumitnya masalah hidup tiba-tiba muncul masalah Arsene Wenger keluar, tentu saja saya merasa ini juga membuat hidup semakin sendu kelabu, Ah…..

Teringat obrolan dengan Aziz bahwa kita adalah fans Arsene Wenger, bukan fans Arsenal, bahkan kalau dia masih ingat tentu dia akan berpindah klub, karena dulu kami sempat ngobrol bahwa “Besok kalau Arsene Wenger keluar, saya akan pindah mendukung klub lain, bukan lagi Arsenal, entah itu klub yang akan dilatih Wenger, atau klub lain yang mungkin saja Celtic, Dortmund, Atletico Madrid, Roma atau kalaupun di liga Inggris West Ham” mungkin kami lebih cocok disebut Wenger Lovers, hahahaha. Entahlah, tapi bagi saya, Arsene Wenger lah yang membuat Arsenal menjadi secantik dan semenarik itu, ibarat perempuan, dia keras kepala, elegan, sederhana, tetapi tetap memiliki kemampuan daya tarik ditengah persaingan para gadis menor jaman Now!

Bohong saja jika berkata bahwa Arsenal saat ini bisa lepas dengan mudah dari kata Arsene Wenger, 22 tahun bukanlah tahun yang sebentar untuk membuat sebuah kenangan mendalam, klub ini, telah menjadi anak, atau Idea dari sentuhan Arsene Wenger, kengerian saya saat membaca Arsene Wenger pergi adalah saya tidak akan lagi melihat Arsenal di klub Arsenal, saya tidak menemui lagi Arsenal yang saya kenal dengan segala sifatnya yang unik.

Gambaran siapa suksesor Arsene Wenger pun berseliweran, beberapa kandidat sudah diberitakan, Cuma saya belum bisa Move On, ah, apakah saya harus ganti klub? Tidak secepat itu, tunggu. Kita lihat Arsenal di tangan pelatih yang baru, semoga saja masih tetap menjadi Arsenal yang cantik dan keras kepala, dan semoga saja pelatih yang baru adalah pelatih yang saya inginkan untuk melatih Arsenal seperti Diego Simenone, atau Kloop, tetapi sepertinya Kloop sudah nyaman dan tumbuh di Liverpool, ah sial! Saya tidak minat dengan Pep, ataupun Mou.  Diego Simeone hahahaha

Mungkin saya bukanlah fans yang menyukai kemenangan, secara pribadi saya lebih menyukai Arsenal yang konsisten dengan ideologisnya, tetapi siapalah saya, hanya fans yang datang nonbar jika hanya ada kesempatan. Terlepas dari itu semua, Arsenal haruslah tetap berjalan kedepan, dan Arsene Wenger, ah, kau memang Profesor yang keras kepala terhadap dunia sepak bola, baik untuk taktik, ataupun kebijakan ekonomi transfer, kau memiliki pandangan lebih luas dengan segala pertimbangannya, dan Arsenalah klub yang kau jadikan contoh bahwa KAPITALIS itu TAI KUCING! Kami akan merindu disaat kau sibuk mencari botol minuman, sibuk mencari saku jaket atau gesture saat menggayunkan tangan ketika anak asuhmu mencetak gol untuk Arsenal.

MERCI ARSENE

 

PULANG


background-typewriter-keys

Seperti yang pernah Seno tulis tentang kereta dan senja, aku akan mengawalinya dari kenapa pada akhirnya aku memutuskan untuk membeli tiket Brantas untuk pulang, bukan Senja Utama seperti yang dituliskan Seno dengan latar cerita stasiun Tugu Jogjakarta, karena kupikir ini adalah ceritaku, bukan cerita tentang Seno dan rasa birahinya terhadap Senja, bukan juga tentang cerita cerita-cerita Surealis yang melulu.

Aku juga tidak memilih Argo Lawu seperti nama gunung yang menjadi rumahku selama lebih dari satu dasawarsa ini. Memang aku akui aku puitik, merasai bahwa sastra adalah diriku, dengan rambut gondrong yang sekarang lebih dari sebahu, kopi hitam pekat, rokok ku pun kretek, selalu bersarung dan bahkan selalu membawa jaket belel sebagai azimat dari serangan dingin malam kala harus menyelesaikan tulisan-tulisan yang berjibun banyaknya. Aku sibuk. Menulis.

Dengan deskripsi seperti itulah, dan bahkan sekarang kau melihatnya sendiri saat ini, disangka seperti orang gila dengan mententeng tas ransel model lama yang sekarang aku taruh tepat di atas kepalaku ini aku berangkat. Diantarkan kawanku, naik sepeda motor dari Karanganyar menuju kemari tadi pukul 15:00, biar tidak terjebak macet, Solo sekarang macet, jadi harus memperhitungkan dengan perhitungan dijalan memakan waktu relatif lebih lama. Dalam perjalanan kami bercakap-cakap, formalitas, karena sebenarnya kami tidak ingin berbicara tentang itu, hanya saja untuk jujur waktu itu terasa kelu. Mungkin begitu kalau jadi laki-laki, ada gengsi tentang perasaan yang menye-menye. Meski pada akhirnya ada sesal yang tertinggal di situ. Laki-laki kawanku itu yang telah menjadikanku lebih berani untuk menjadi penulis seperti ini. Menjadikanku, menerimaku dan terlebih mempercayaiku aku mampu. Kebahagiaan mana lagi yang akan saya dustakan jika diberikan hal-hal yang sedemikian indahnya? Hanya saja, ya tadi, kami terlalu menye sehingga pada saat sudah tidak dapat melihat satu sama lainnya rasanya,,,,

Baiklah, aku lanjutkan, tepat pukul 16:57 kereta Brantas berangkat dari stasiun Solo Jebres, suara rel kala itu berdecit, kering sekali rasanya, hampir ngilu aku mendengarnya. Tidak ada yang kupandangi di luar jendela, tadi aku sudah memperhatikan bentuk bangunan stasiun ini, dan satu kalimat “tidak menarik” ya begitulah. Bangunannya aneh, kehilangan jiwa menurutku, meskipun aku belum pernah kesini sebelumnya, tetapi aku merasa bangunan asli stasiun ini diperkosa kemodernan, bukannya dinikahi, opo meneh nyawiji. Bentuknya seperti zaman ini, tidak jelas dan tidak memiliki konsep pasti. Ngambang. Aku memang bukan anak arsitektur atau bahkan teknik sipil, tetapi aku anak seni, rasa ku lah yang berbicara, segala suatu bentuk itu pertama kali diterima di indera itu tentu untuk di rasa, betulkan? Seperti yang pernah dikatakan oleh seorang kawanku dulu yang hobi cerita tentang teori evolusi-nya Darwin. Sensorik itu yang lebih dulu lahir daripada motorik, embuh maksute piye, tapi intine roso iku sing akhir nglahirke gerak, nglahirke sesuatu.  

= Seperti aku saat ini =

Kereta berjalan terasa lambat, seperti senja yang datang kali ini, terasa begitu lambat juga rasa-rasanya, sudah hampir adzan magrib seperti ini langit terasa masih terang, dan kalau seperti ini, biasanya nanti senja hanya akan terasa hanya satu jam saja, yaitu pukul 17:30 – 18:30 saja. Ya, biasanya seperti itu, senja yang tergambar dan perpspektifku hanya akan muncul sebentar saja, aku sudah menghafalnya, pada bulan-bulan tertentu senja akan terlihat begitu lama, bahkan jam 15:00 pun senja sudah bisa dirasa tiba, bahkan pada bulan antara musim kemarau menuju penghujan lebih aneh lagi, dia bisa bertahan sampai pukul 19:00, dan kalaupun aku keliru, presentasenya kecil sekali, karena sejak berkenalan dengan tulisannya Seno, aku jadi begitu mengaggumi senja, tetapi tidak sampai menggilainya. Diawali tiap sore sehabis pulang dari bekerja aku mulai memperhatikan semburat dan bentuk coretan langit menjadi seperti apa, sampai-sampai aku hafal dengan sendirinya. Orang Jawa bilang ilmu titen.

Dalam perjalanan ini aku menyempatkan untuk melihat jendela, tak kala sudah jam-jam dimana senja versiku akan tiba. Aku harap nanti saat kereta berjalan agak sedikit condong ke utara, biar dari jendela aku bisa menghadap ke arah barat untuk melihatnya pada jam itu. Benar saja, rupa-rupanya tepat di tikungan Klaten aku berhasil melihatnya, dia datang seperti biasanya, muram, malu-malu, getir, dan selalu melankolia. Senja berhasil membuatku meneteskan air mata tadi. Sesuatu yang kubendung selama mungkin saat beberapa hari terakhir aku tidur bersama mereka yang mau menerimaku sebagai keluarga. Kesedihan rupanya cepat enyah dari diriku, entah kenapa ada rasa jengkel atau bahagia, hanya saja aku tidak merasa pas, kesedihan tidak bagus juga rasanya kalau cepat berlalu, jiwaku rasanya masih membutuhkan itu, masih butuh kemuraman sehingga moment yang pada awalnya aku pikirkan bisa pas, maklum saja, aku penulis, aku harus memplotkan kejadian apa yang nantinya akan aku rasakan dalam perjalanan pulang ini.

Gambaranku, aku akan bermelankolia ria sampai pukul 21:00, kemudian di stasiun Kota Purwokerto mungkin aku akan turun sebentar untuk menghisap barang beberapa hisapan rokok. Disana nanti akan ada penumpang yang naik dan duduk di kursi sebelahku, harapanku perempuan, minimal seperti Aurilewereall lah wajahnya, hobi membaca buku juga, memakai jaket belel, rambut dikuncir, berkacamata,  hmmm….pakai syal di leher, dan kemudian dengan perkenalan yang aneh, kami menjadi pasangan perjalanan yang keren untuk dituliskan di cerita-cerita pendek, atau novel jika kamu memiliki daya tahan menulis yang lama.

Perkenalannya mungkin seperti ini, semisal tiba-tiba dalam hening kami berdua mengeluarkan sebuah buku, aku memang sudah merencanakan untuk merampungkan Spectre de Marx nya Derrida, kemudian perempuan itu mengeluarkan buku entah miliknya Hegel, Kant, Comte, Sartre, atau Chomsky dan terjadilah akward moment saat kami saling memikirkan kalimat tanya apa yang tepat untuk memulai obrolan, senyum-senyum malu atau saling memasang serius juga tidaklah menjadi suatu masalah, karena mungkin tergesa-gesa juga kurang baik, dan hingga pada akhirnya kami berdua tidak ada yang tertidur, karena kami mengobrol kemana-mana, dari kanan sampai ke kiri, saling menyepakati beberapa pendapat para tokoh filsuf tentang kejadian dunia saat ini, memperdebatkan pandangan satu sama lain dalam memandang hidup, kejadian-kejadian saat ini ataupun pertentangan pemikiran semisal Hegelian dan Kantian, atau Sain dan Agama, terserahlah, atau saling mendengarkan satu sama lain saat ada beberapa materi dari buku yang belum dibaca oleh kami, ya jujur saja harapan saya perempuan yang akan duduk itu nantinya yang akan duduk sudah membaca tentang karya Althuser yang memandang pemikiran Marx bukan hanya dogma semata, tetapi sebuah petunjuk untuk aksi.

Setelah itu, kami berdua turun dan berpisah di Stasiun Senen dengan rasa perpisahan yang janggal, ada yang aneh dan berbeda. Hingga akhirnya kami sadar bahwa kami belum memiliki bagaimana nantinya untuk tetap menjalin persahabatan ini, hanya menyisakan nama sebagai kata kunci untuk memulai petualangan pencarian. Begitulah ploting yang telah aku gambarkan tentang bagaimana nantinya perjalananku di dalam kereta ini. Aku sudah memploting ini sejak pulang membeli tiket di salah satu Minimarket yang menjamur. Hanya saja naasnya, kau yang malah duduk di depanku saat ini, bukan perempuan seperti yang aku harapkan seperti yang baru saja aku sampaikan kepadamu. Ini memang bukan suatu kebetulan, tapi ini adalah takdir, Rull!

Bersambung —

 

 

 

LEGISLATOR

Gambar terkait

Legislator yang bijaksana tak ubahnya harus seperti seorang arsitek yang sebelum membangun sebuah gedung terlebih dahulu melakukan survei dan meneliti keadaan tanah, hal ini bertujuan untuk mengetahui tempat itu bisa menopang bangunan yang akan didirikan.

Jadi seorang legislator haruslah tidak menciptakan hukum yang menurutnya baik untuk dirinya sendiri, tetapi terlebih dahulu harus melakukan penyelidikan keadaan masyarakat tempat hukum-hukum itu akan diberlakukan, sehingga bisa dapat diterima dengan baik oleh masyarakat.

Seorang legislator haruslah membuat konstitusi yang cukup baik, yang dapat memadukan antara keterbatasan yang akan muncul, sehingga konstitusi tidak terlalu besar untuk pemerintahan dan tidak terlalu kecil untuk mengatur dirinya sendiri.

Sekali lagi, legislator haruslah menciptakan suatu hukum negara sebagai bangunan yang meneyelamatkan, memiliki stabilitas dan mampu menahan goncangan perubahan. Karena dalam masyarakat memiliki sebuah energi, semacam gerakan sentrifugal yang membuat mereka secara terus menerus bertindak melawan yang lain dan meluaskan kekuasaannya seperti vortices­-nya Descrates. Jadi konstitusi yang sehat dan kuat adalah hal pertama yang harus dicari, dan adalah lebih baik lagi berharap pada kekuatan yang lahir dari pemerintahan yang baik daripada berharap pada sumber daya yang disediakan oleh sebuah wilayah yang luas. Hal ini dapat kita lihat pada salah satu contoh kecil negara Singapura.

Mengapa Singapura? Hal ini karena pada dasarnya rangka politik sebuah hukum sebuah negara dapat diukur dengan dua cara, yakni melalui luas wilayah dan dari jumlah penduduk. Dalam dua ukuran ini terdapat hubungan yang adil yang menjadikan negara menjadi bentuk organisasi yang mengaggumkan. Simpelnya seperti ini, manusia menciptakan negara dan wilayah mendukung manusia untuk hidup didalamnya. Dalam proporsi ini terletak kekuatan maksimal dari jumlah penduduk yang ada, karena jika terdapat lebih banyak tanah, maka akan ada beban dalam menjaga tanah tersebut, batas-batas teritorial menjadi sangat rawan, ditambah dengan hasil tanah yang lebih banyak dari yang dibutuhkan oleh suatu negara, hal ini tentunya akan menimbulkan beban tersendiri untuk menjaganya.

Sebaliknya, jika tanah tidak mencukupi dari yang dibutuhkan oleh negara, maka negara akan bergantung kepada tetangganya untuk memenuhi kebutuhan. Dengan demikian, kondisi ini akan menimbulkan perang untuk menyerang negara tetangga.

Negara haruslah memiliki hukum dengan watak yang terpadu untuk mempertahankan eksistensi dan kepastian nasibnya, jika tidak, negara hanya akan menunggu untuk hancur dan hilang termakan ambisi dalam bidang perdangangan dan perang. Dari hal inilah pentingnya seorang legislator yang ulung dalam melihat dengan jernih kondisi, mampu untuk meramalkan dan memprediksi keadaan alam dan penduduk dalam negara. Seorang legislator hebat haruslah memiliki ciri tidak kaya ataupun tidak miskin tetapi puas dengan dirinya sendiri, dia yang menyatukan konsistensi dari masyarakat terdahulu dengan kepatuhan dari masyarakat yang baru. Mencari legislator seperti ini sangatlah sulit, dan hampir mustahil. Hal ini dikarenakan rasanya sangat sulit untuk menemukan kesederhanaan alami bersama tuntutan-tuntutan sosial.

PENELITIAN TINDAKAN KELAS

lecture_hall_gray

 Diketahui bahwa, setiap dosen harusah berkeinginan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Karena bukan hal yang asing bagi setiap pendidik bahwa pengembangan pendidikan pada dasarnya adalah untuk meningkatkan mutu dari lulusan yang akan dihasilkan, dan hal ini haruslah menjadi perhatian utama. Salah satu cara untuk meningkatkan capaian tujuan pembelajaran yang nantinya akan menjadi nilai mutu lulusan adalah dengan melakukan penelitian tindakan kelas (PTK), PTK sendiri merupakan jenis penelitian yang spesifik jika dibanding dengan penelitian konvensional dan penelitian formal selama ini yang telah dilaksanakan dan dikembangkan.

Penelitian tindakan kelas dilaksanakan dengan tujuan untuk mengukur keberhasilan proses dan program pembelajaran yang dilakukan. Hasil yang didapatkan akan berguna nantinya bagi perbaikan dan peningkatan proses dan program pembelajaran tersebut, yang pada tujuan puncaknya adalah untuk meningkatkan capaian pembelajaran yang optimal.

Melalui PTK seorang dosen dapat memperoleh pemahaman tentang apa yang harus dilakukan, merefleksikan diri untuk memahami dan menghayati nilai-nilai pendidikan, dapat bekerja secara kontekstual, dan mengerti aspek-aspek yang berkaitan dengan pendidikan dan pembelajaran, demikain yang dikatakan oleh Stephen Kemmis dan Robbin Mc Taggart (dalam Aswandi, 2006).

PTK pertama kali dikenalkan oleh ahli psikologi sosial Amerika Serikat yang bernama Kurt Lewin pada tahun 1946, dia bekerja pada proyek-proyek kemasyarakatan yang berkenaan dengan integrasi dan keadilan sosial berbagai bidang seperti perumahan dan ketenagakerjaan. Gagasan Lewin inilah yang pada perkembangannya dikembangkan oleh ahli-ahli lain seperti Stephen Kemmis, Robin Mc Taggart, Jhon Elliot, Dave Ebbutt. Di Indonesia sendiri PTK baru dikenal pada akhir dekade 80an.

Penelitian tindakan kelas dalam bidang pendidikan ini, dapat dilakukan dalam skala mikro ataupun makro. Dalam skala mikro sebagai contoh adalah penelitian dilakukan di dalam kelas pada waktu berlangsungnya pembelajaran untuk pokok bahasan tertentu dalam suatu mata kuliah atau mata pelajaran, sedangkan contoh skala makro adalah meneliti tentang efektivitas atau keberhasilan penerapan kurikulum suatu mata pelajaran pada pendidikan tingkat tinggi.

Lalu kapan sebaiknya penelitian tindakan kelas dilaksanakan? Tentu saja akan muncul jawaban berbagai versi pada semester manakah waktu yang tepat untuk melakukan PTK? Apakah pada semester awal yang dinilai masih baru dan fresh, atau pada semester akhir yang lebih dinilai dapat dipahami sebagai kondisi lebih real output dari sistem pembelajaran yang selama ini telah dilaksanakan dalam muatan kurikulum. Tetapi ternyata ada jawaban menarik untuk menjawab pertanyaan ini, jawaban diplomatis yang saya rasa bisa menjelaskan bahwa ketika kita sibuk berpikir baiknya kapan, Madya (2007) menjawab bahwa seorang dosen baiknya, tepatnya, melakukan PTK adalah pada saat dosen tersebut ingin melakukan peningkatan kualitas pembelajaran yang menjadi tanggung jawabnya, dan sekaligus ketika ia ingin melibatkan peserta didiknya dalam proses pembelajaran. Yang pada hematnya adalah lakukan pada semester apapun saat menjadi seorang dosen, karena seorang dosen haruslah berpikiran bahwa kualitas pembelajaran yang menjadi tanggung jawabnya haruslah bermutu! Dan PTK merupakan jalan untuk mencapai hal itu.

PTK memiliki karakteristik diantaranya adalah :

  1. PTK merupakan prosedur penelitian di kelas yang dirancang untuk menanggulangi masalah nyata yang dialami dosen berkaitan dengan mahasiswa di dalam kelas.
  2. Metode PTK diterapkan secara kontekstual, dalam arti bahwa variabel-variabel yang ditelaah selalu berkaitan dengan keadaan kelas itu sendiri dan tidak dapat digeneralisasi untuk kelas yang lain.
  3. PTK Terarah pada suatu perbaikan atau peningkatan kualitas pembelajaran, dalam arti bahwa hasil atau temuan PTK itu adalah pada diri dosen telah terjadi perubahan, perbaikan, atau peningkatan sikap dan perbuatannya.
  4. PTK bersifat luwes dan adaptif
  5. PTK banyak mengandalkan data yang diperoleh langsung atas refleksi diri peneliti.
  6. PTK sedikitnya ada kesamaan dengan penelitian eksperimental dalam hal percobaan tindakan yang segera dilakukan dan ditelaah kembali ke efektivitasnya.

Meski dikatakan ada kesamaan dengan penelitian eksperimental, tetapi menurut Sudarsono (2005) secara konseptual dan fundamental perbedaan dari PTK dengan penelitian eksperimental adalah sebagai berikut :

  1. An inquiry on practice from within
  2. A colaborative effort and or participatives
  3. A reflective practice made public

 

Berdasarkan semua penjelasan di atas, dapat ditarik kesimpulan betapa pentingnya PTK dalam memberikan evaluasi terhadap pencapaian mutu pembelajaran yang dilakukan oleh dosen, dan tidak perlu harus menunggu kapan dan waktu yang tepat, PTK sebaiknya dilakukan secepatnya, sebanyak-banyaknya guna melihat kebutuhan apa yang tepat dalam upaya peningkatan pendidikan yang selama ini kita lakukan. Maka saran saya untuk diri saya pribadi, dan untuk rekan-rekan sejawat dalam dunia pendidikan, marilah kita segera mulai melakukan PTK dengan memegang prinsip pelaksanaan PTK yaitu S.M.A.R.T.

S = Specifik

M = Managable

A = Acceptable

R = Realistic

T = Time-Bound

goal-quotes-82

 Sumber Pustaka :

Implementasi Penelitian Tindakan Kelas. 2018. Kopertis Wil VI Jawa Tengah. Applied Approach (AA)