KAU BER-ISLAM, TAPI KAU KEHILANGAN MUHAMMAD

muslim-goat
Bang apakah ibu-ibu Tionghoa itu salah karena meminta suara azan dari toa masjid dikecilkan?
“Sejauh ini yang saya lihat dia salah. Mungkin dia lagi stres, atau anaknya sedang sakit, atau apalah kita tidak tahu. Yang jelas dia memang nekad mengusik hal sensitif, dan dia salah.”
Lalu apakah tanggapan ormas islam yang mengamuk, melempari rumah ibu itu, dan membakar vihara sudah benar?
“Itu jelas JAUH LEBIH STRES lagi. Hanya karena tingkah seorang ibu berusia 46 tahun, lalu kalian para pria yang mengaku muslim langsung berubah menjadi preman pasar. Ibu itu hanya sendiri dan ia tidak membawa pasukan seorangpun. Kalau anda mau marah, ya laporkan ke RT/Lurah setempat dan minta ibu itu dinasehati. Bukannya mengamuk dan membakar 10 vihara seperti preman.”
Lho tapi kan ibu itu duluan yang mulai?
“So what kalau dia yang mulai? Apa itu jadi alasan pembenaran bagimu untuk melakukan pembalasan yang jauh lebih sadis?
Anda muslim kan? Sejak kapan jadi muslim mengajarkan anda membalas kezaliman dengan kezaliman yang lebih parah. Bahkan dalam Qur’an Allah mengajarkan kita dalam menghadapi perbuatan buruk orang lain “ldfa’ billati hiya ahsanus sayyiata” >> “Balaslah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik.”
Bahkan jika emosi anda sudah di ubun-ubun hingga anda tak kuasa untuk tak membalas, maka Allah membatasi boleh membalas asal proporsional sesuai dengan kezaliman yang ditimpakannya padamu, “Wajaza’u sayyiatin sayyiatun mistluha” >> balasan keburukan adalah keburukan YANG SERUPA, tidak melampaui sedikitpun. Karena membalas dengan cara yang lebih sadis adalah kezaliman. Dan Allah membenci orang-orang yang zalim.”
Terus umat islam harus diam saja dengan tingkah ibu tersebut?
“Beragama tidak berarti memendekkan sumbu. Panjangkan sumbumu sedikit agar pikiran yang lebih proporsional bisa masuk! Kau sebut islam agama Rahmatan lil ‘Alamin, tapi baru disenggol sedikit oleh ibu-ibu tua sumbumu sudah meledak. Kau sebut umat islam adalah umat yang kuat, tapi dari kelakuanmu kemarin kau hanya menunjukkan islam agama yang kuat di otot, tapi tidak di kedewasaan berpikir. Kau sebut islam agama berkelas, tapi kau melayani protes seorang ibu tua hingga ramai-ramai membakar tempat ibadahnya. Tidak usah lah dulu bicara islam, tanya dirimu sendiri apakah sikap seperti itu jantan?”
Terus apa saranmu bang?
“Jangan lemahkan islam yang kuat dengan tindakan kerdilmu. Jangan hinakan islam yang suci dengan perbuatan nista. Kau tahu apa yang dilakukan Sayyidul Wujud Muhammad pada seorang yahudi tua yang tiap hari meludahi & melempari kotoran padanya? Ia jenguk dan doakan sang yahudi ketika yahudi itu sakit. Kau tahu apa yang dilakukan Muhammad pada seorang yahudi buta yang tiada hari tanpa mencacinya? Ia suapi setiap hari dengan tangannya sendiri tanpa sang yahudi tahu bahwa yang menyuapinya adalah Muhammad yang selalu ia caci.
Itulah islam. Ber-islamlah seperti islam-nya Muhammad, bukan islam ala egomu. Jangan sampai kau hanya ber-islam, tapi kau kehilangan Muhammad.”

( Repost :Ahmed Zain Oul Mottaqin )

Budaya Patriarki dan Kekerasan Terhadap Perempuan

she

Dominasi budaya patriarki yang meletakkan kaum perempuan sebagai subkoordinasi laki-laki adalah faktor utama berbagai kasus pemerkosaan, bukan masalah ketimpangan ekonomi maupun demografi seperti yang banyak dibahas bahwa hal itulah penyebab dari munculnya kejahatan pemerkosaan.

Pengusung budaya patriarki percaya bahwa “aku berkuasa, maka aku ada”. Dengan respresntasi sistem patriarki yang diasosiasikan secara turun temurun dari generasi ke generasi, sehingga munculah pembagian peran di masyarakat, yaitu peran laki-laki di ranah publik dan perempuan di ranah domestik. Dengan demikain peran atau status laki-laki dianggap lebih tinggi karena berperan di ruang publik dan mendapatkan penghargaan secara materi. Sementara status perempuan dianggap lebih rendah karena berperan di ruang domestik tidak mendapatkan pengharagaan sama sekali (secara materiil). Di dunia yang serba mengedepankan aspek materi ini, dari perbedaan penghargaan di ranah domestik dan publik tersebut, perempuan juga haruslah menerima stigma bahwa mereka adalah kaum yang lemah, kaum yang harus selalu berlaku feminim, lemah lembut dan patuh, sedangkan laki-laki adalah kaum yang kuat, berkuasa, keras dan berkuasa.

Ketetapan pola pikir seperti inilah yang mengendap dan menjadikan perempuan berpikir benar bahwa dia tidaklah memiliki kekuatan untuk melawan / berhadapan dengan laki-laki. Hal inilah yang berkembang dan membentuk paradigma dalam pemikiran sosial bahwa perempuan dianggap lebih rendah kedudukannya dibandingkan dengan laki-laki, dan berujung kepada laki-laki mersasa bahwa dia berkuasa atas perempuan. Instrumen yang mereka gunakan untuk menancapkan kuku kekuasaannya sangat beragam. Mulai dari yang sangat halus seperti melarang perempuan berpolitik dan kerja, sampai yang paling brutal yaitu pemerkosaan dan bahkan pembunuhan keji.  Budaya partriarki sebenarnya bermaksud untuk melindungi kaum perempuan, namun jika dilihat dari perspektif Barat, budaya partriarki sebenarnya merupakan suatu bentuk pelecehan terhadap hak-hak perempuan. Meski demikian, pada dasarnya setiap spesies selalu akan melindungi sumber kehidupan, regenerasi dan keberlangsungan spesiesnya.

Hal ini dapat dipelajari dari akar lahirnya budaya patriarki, budaya yang dalam pengertiannya adalah suatu sistem dimana adanya relasi yang timpang antara yang mendominasi dan yang didominasi, dimana yang mendominasi mengontrol yang didominasi. Biasanya ini berkenaan terhadap ekspresi gender dimana yang mendominasi adalah kaum-kaum maskulin (superior), sedangkan yang didominasi adalah kaum-kaum feminine (inferior). Jika diulas sedikit tentang sejarah penindasan masyarakat yang digoreskan Fredrick Angel dalam bukunya Asal Usul Keluarga, Kepemilikan Pribadi dan Negara maka dapat disimpulkan budaya patriarki ini muncul pada zaman peralihan. Lebih tepatnya ketika peralihan zaman paleolitikum dan zaman logam yang dimulai dari adanya aktivitas bercocok tanaman holtikultura yang dilakukan oleh perempuan, kemudian domestifikasi binatang buruan menjadi ternak hingga ditemukannya baja/logam yang dibuat menjadi bajak sehingga dapat mengelolah tanah lebih luas. Pembajakan ini dilakukan oleh laki-laki karena perempuan tidak bisa lagi mengkombinasikan pekerjaan memelihara anak dengan produksi pertanian. Hal lain yang melatarbelakangi kenapa perempuan tidak membajak karena proses evolusi tubuh perempuan yang berubah pada zaman holtikultura. Pembajak akan mendapat hasil yang banyak sehingga terjadi akumulasi modal dan menyebabkan surplus, dimana dengan jelas yang mendapatkan surplus adalah laki-laki sehingga muncul kepemilikan pribadi. Surplus ini yang memulai adanya budaya patriarki dimana perempuan mulai didomestifikasi dan hanya difungsikan sebagai alat reproduksi untuk menghasilkan generasi yang nantinya akan dijadikan sebagai tenaga kerja. Dengan demikian, sejarah budaya patriarki sangat erat dengan perkembangan faktor produksi di dalam masyarakat.

Kembali kedalam topik partriarki, Dengan alasan “kekuasaan”, pemerkosaan tidak hanya terjadi pada perempuan dewasa, tetapi juga pada anak laki-laki, karena orang-orang seperti ini berpikiran mereka akan berkuasa terhadap kaum yang tidak memiliki asksesibilitas atau kemampuan untuk membela diri, maka dari itulah, terkadang kita temui begitu banyak kasus pemerkosaan yang dilakukan berkelompok pada usia remaja, mereka mendapatkan kepercayaan diri lebih bahwa mereka berkuasa saat mereka bersama-sama. Hal ini dapat kita lihat pada kasus Eno salah satunya.

Dalam budaya timur, laki-laki diperbolehkan untuk keluar malam, sementara peremuan tidak, seakan ada batasan khusus antara laki-laki dan perempuan dalam kehidupan sosial. Peran perempuan sebenarnya sama besarnya dengan laki-laki, namun karena pergesaran yang diakibatkan batasan-batasan tadi, maka peran perempuan tak ubahnya menjadi lebih rendah dibandingkan dengan laki-laki. Pola pikir seperti ini menjadi akar terjadinya berbagai kasus pemerkosaan di India, perempuan India di anggap sebagai harga diri suatu suku atau keluarga yang harus dilindungi, sehingga tak jarang perempuan dilecehkan, diperkosa sebagai suatu upaya melecehkan suku lainnya.

Dalam pemikiran kita (laki-laki) seringkali perempuan disalahkan dalam kasus terjadinya pemerkosaan, dengan berbagai dalih bahwa perempuan memakai pakaian yang mengundang, dia terlalu menggoda, dia sexy dan alasan sensual lainnya yang berujung kepada pembenaran perbuatan perkosaan. Dari hal ini saja, jelaslah bahwa laki-laki tidak mau menjadi salah, laki-laki mengibaratkan dirinya adalah Singa yang berkuasa, dan janganlah memancing-mancing jika tidak mau diterkam. Sebuah refleksi dari pemikiran dari hasil budaya patriarki. Pendukung budaya patriarki selalu berdalih bahwa perempuan diperkosa karena pakaian yang mereka kenakan terlalu merangsang pria. Namun hal tersebut menutupi fakta bahwa banyak perempuan yang mengenakan pakaian tertutup tetap saja diperkosa.

Lalu bagaimana semestinya ? semestinya laki-laki memandang perempuan sebagai mitra, sebagai partner, sebagai individu yang sama memiliki kebebasan dalam memilih hak dan kewajiban dalam peran sosial di masyarakat. Bukan sebagai objek yang bisa dimangsa. Masyarakat haruslah diajarkan pelajaran berperspektif keadilan jender, terutama laki-laki, agar mereka tidak memiliki pandangan yang menempatkan perempuan sebagai obyek seksual. Mendidik cara pandang laki-laki terhadap perempuan bukan dengan mengatur cara berpakaian para perempuan. Laki-laki lah yang harus merubah cara berpikir dan berperilakunya.

Gambaran contoh lain adalah Malala Yousafzai, pemenang Nobel Perdamaian, pernah mengalami percobaan pembunuhan karena mengadvokasi hak perempuan untuk sekolah. Namun, bukan berarti instrumen yang halus dan brutal saling bekerja sama dan mendukung, karena umumnya mereka berada pada pihak yang berbeda. Tetapi “budaya macho” yang mereka usung tetap mengarah pada supremasi lelaki. Dalam kacamata patriarki, lelaki yang sama saja dengan perempuan sebagai entitas biologis dikonstruksikan secara sosial sebagai “Superman”.

Kasus Yuyun telah membuka mata kita bahwa perempuan dijadikan obyek akan perversi (tingkah laku yang didorong oleh kelainan seksual) pendukung patriarki. Pemerkosaan sangat brutal, yang diganjar hanya dengan hukuman paling tidak 10 tahun penjara, melahirkan pertanyaan sangat serius: “Benarkah negara ini melindungi perempuan?”

Sungguh tepat perkataan Simone de Beavoir bahwa seseorang tidak dilahirkan sebagai perempuan, namun “dijadikan” sebagai perempuan. Proses “dijadikan” ini adalah obyektifikasi oleh hasrat perversi para eksponen patriarki. Perversi tersebut tidak hanya berhenti pada penyimpangan seksual maupun pemerkosaan, namun berlanjut menjadi kejahatan kemanusiaan yang bernama pembunuhan.

 SO ! STOP VIOLENCE AGAINST WOMEN !

640x392_77439_210174

Sumber :

Kompas (Budaya Partriarki)

CNN Indonesia (Pemerkosaaan Dominasi Pria tehadap Wanita)

Erna Karim (Budaya Patriarki)

(Batam : 16 Mei 2016)

Manja dan Iman di Bulan Ramadhan

 

Masih ingat tentang kasus pencambukan yang terjadi di Aceh pada tahun 2010 yang mencambuk dua pedangan makanan yang berdagang siang hari pada saat bulan puasa, hal ini dilakukan berkenaan anggapan yang menjadi peraturan bahwa mereka telah melanggar syariat Islam yang sedang diberlakukan di Aceh. Belum sampai disini, selain masalah klasik tentang adanya sweeping warung-warung makan yang tetap buka selama bulan Puasa oleh ormas agama, sekarang muncul berita tentang adanya denda sebesar 50 juta kepada warung makan yang tetap buka selama bulan puasa di Serang.

gus dur

Mungkin hal ini ditujukan untuk benar-benar menciptakan kekhusu’kan pada orang yang sedang menahan lapar dan haus selama bulan puasa. Menghindarkan mereka kepada godaan yang memancing mereka untuk melakukan hal yang membatalkan puasa.

Tetapi ?

Puasa jadi terkesan begitu manja. Begitulah yang kemudian terlintas di benak saya.

Lalu apa sebenarnya makna puasa yang ingin dicari jika kemanjaan iman yang dikedepankan ?

Dalam sebuah artikel, puasa bagi jiwa bermanfaat untuk melatih kesabaran membiasakan diri untuk tidak marah (emosi) juga menguatkan kemauan untuk belajar menguasai diri serta mewujudkan dan membentuk ketaqwaan yang kokoh pada pribadi seorang muslim. Hal ini termasuk dari hikmah puasa yang paling utama. Sesuai dengan firman Allah Ta ‘ala .

Sedangkan untuk urusan sosial puasa mengajak kita untuk mengerti dan ikut merasakan penderitaan saudara yang kekurangan, merasakan betapa perih tidak makan dan minum dalam satu hari, sehingga diharapkan mereka akan menjadi lembut hatinya kepada sesama, menjadi lebih welas asih untuk melihat kekurangan saudaranya. Menumbuhkan gairah untuk rajin infaq dan bersedekah dikemudian hari setelah menjalani puasa.

Tetapi apa benar hal itu bisa terjadi jika saat berpuasa saja kita masih ingin manja, ingin dinina bobokkan oleh keadaan yang mendukung kita untuk tetap bertahan dengan keadaan kita yang tidak makan dan minum.

Banyak juga yang bilang jika membiarkan warung makan tetap buka pada saat puasa akan menyebabkan kekhusyukan selama puasa menjadi terganggu.

Namanya puasa juga menahan, kalau tidak ada yang ditahan namanya bukan puasa.

Mungkin sebuah gambaran sederhana.

Gembiz adalah orang yan tidak punya, hanya bisa makan setelah bekerja seharian pada malam hari. Apakah dia disebut puasa? Tentu tidak, hal ini karena memang keadaan yang menyebabkan dia menjadi demikian.

Berbeda dengan Dharma misalnya, dia hidup berkecukupan, makanan selalu ada di meja makan rumahnya, bahkan kalau pembantunya tidak memasakpun dia bisa saja jajan dengan uang berlebih disakunya jika lapar. Tetapi karena dia memilih untuk berpuasa, maka dia menahan untuk makan dan minum.

Nah, analogi sederhana ini setidaknya menjadi sebuah gambaran simpel.

Puasa itu menahan, kalau tidak menahan ya jangan berkata puasa.

Terlebih puasa berniat untuk beribadah, untuk mendekatkan diri kepada Pencipta sebagai wujud ketaatan dan ketaqwaan. Melembutkan hati agar semakin peduli terhadap sesama. Jadi puasa menurut saya adalah bentuk hubungan yang komplit, antara Habluminannas dan Habluminallah.

Lalu ada hubungannya kah dengan kalimat “Punya Iman kok Manja” yang beberapa hari kemarin sempat menjadi perbincangan heboh oleh Netizen ?

“Biarin lah toko-toko bebas menjual minuman keras, kalo Islamnya bener juga ga bakal beli.
Biarin lah warung-warung bebas jual makanan di bulan Ramadhan, kalo Islamnya bener juga ga bakal belok ke warung. Biarin lah prostitusi dilegalkan, kalo Islamnya bener juga ga bakal begituan.
Punya iman kok manja amat, begitu kata mereka.”

Sebuah situs Islam yang berafiliasi dengan sebuah partai menjawab dengan sebuah kalimat yang cukup membuat saya tergelak untuk mengkritisi.

Begini kira-kira jawabannya “Dalam Islam itu ada yang namanya amar ma’ruf nahi munkar. Di antara sesama muslim wajib untuk saling nasehat menasehati. Namanya juga bersaudara, harus saling menjaga.”

Memang terkesan tidak ada yang salah dengan jawaban tersebut, tetapi ada keanehan yang saya pikir terlewat begitu saja.

Soal Miras dan Prostitusi okelah, karena memang hal itu dalam agama Islam termasuk dalam bentuk hal yang mebawa kedalam ke Mungkaran, lalu apakah warung makan juga termasuk didalam bentuk kemungkaran ?

Harusnya hal ini menjadi pertimbangan tersendiri dalam membahasnya, karena sejauh ini saya tidak melihat adanya kemungkaran dalam bukanya warung makan disiang hari pada saat bulan puasa. Ya kecuali jika warung makan yang berbuka secara sengaja berteriak untuk menyuruh membeli makanan dan bilang nagapain harus capek capek puasa.

Jadi, masih benarkah melarang warung makan untuk tutup selama bulan puasa ?

Sebuah polemik yang dari tahun ke tahun disetiap bulan puasa ini tidak habis munculnya.

Tetapi bersyukur rasanya bapak Lukman sebagai menteri agama yang memperbolehkan warung makan tetap buka selama bulan puasa. Memberikan hak kepada mereka yang tidak berpuasa untuk tetap mendapatkan dan minuman. Yang tentu saja mereka yang makan dan minum tidak menghormati mereka yang sedang berpuasa. Karena seharusnya mereka yang beribadah dalam bentuk puasa inilah yang menghormati mereka yang sedang berpuasa.

Mempersilahkan mereka untuk tetap beraktivitas seperti biasanya, karena pada dasarnya ibadah puasa yang mereka lakukan adalah untuk dirinya sendiri, bukan menyiksa dan mengganggu sesama. Puasa itu menahan, Ibadah juga bukan untuk menjadikan diri gila hormat, karena kesejatian dari ibadah adalah merendahkan diri, mendekatkan diri dihadapan sang Khaliq.

 

 

 

 

 

HUMANIORA DAN IPTEK

a118_technology-is-what-makes-us“Manusia tidaklah boleh mengabdi kepada teknologi, tetapi teknologilah yang harus mengabdi kepada manusia. Mengkaji tentang teknologi dan manusia haruslah dikaji secara holistik, menyeluruh, tidak hanya memandang teknologi sebagai hasil pencapaian manusia, tetapi juga dari sisi humaniora1-nya”,

“Aku sependapat denganmu soal pentingnya mengkaji teknologi melalui kacamata holistik Ngun, tetapi sejauh mana masyarakat kita mau mengerti tentang ini?” lanjut pertanyaanku pada Mangun.

Mangun tersenyum, pertanyaanku mungkin terlalu dangkal, atau sebetulnya menarik, aku tidak tahu secara pasti, mungkin bakal berbeda pertanyaan yang akan ditanyakan oleh Magnus jika dia jadi datang malam ini.

Knowledge is power, dan Power tidak mau knoweledge berkembang seenaknya Mbiz, dan jembatan antara keduanya saat ini adalah teknologi, anak dari knowledge dan power katakan saja begitu. Secara umum kita tahu bahwa teknologi bersifat netral jika tidak dipraksiskan, tetapi Negara kita dulu memanfaatkannya dan mengendalikannya untuk kepentingan-kepentingan kekuasaannya”.

“Tentang masyarakat kita saat ini………”

Aku mencoba menyela dengan pertanyaan lainnya, tetapi buru-buru Mangun menyuruhku diam, mungkin dia tahu bahwa jawaban yang baru saja dia jawab tidaklah cukup untuk memuaskanku, dan dengan tenang Mangun melanjutkan perkataanya.

“Bangsa kita telah lama disetting melalui dunia pendidikannya untuk tidak mencari nilai-nilai kebenaran Mbiz, searching for the truth nya lemah. Mental inovasi, eksplorasi, dan keberanian mencari jalan alternatif, lateral thinking, love for the truth fair play tidak laku pada masa itu, masa orde baru. Semua harus sama dan seragam. Berbeda itu tidak baik, salah atau bahaya adalah propaganda yang menjadi momok bagi benih pikiran-pikiran muda”

Aku mengangguk, mencoba mengerti.

“Kondisi masa lampau jauh sekali dari jiwa iptek yang cermat, tekun dan tidak menyukai jalan pintas Mbiz, tetapi seiring dengan perkembangan iptek, keluasan akses untuk mencari sumber-sumber pengetahuan terbuka luas, ditambah dengan tidak otoriternya lagi kekuasaan di Negara ini yang dulunya hobi menutup-nutupi bahasan yang dianggap membahayakan kekuasaan. Dengan kata lain Mbiz, bangsa kita sedang kembali memperoleh kebebasan untuk melakukan apa yang seperti Gandhi tadi ucapkan “searching for the truth””.

“Generasi muda sekarang ini Mbiz, rasa dahaga atas ilmu pengetahuan seharusnya tidak cukup dihapuskan dengan ilmu pengetahuan murni saja, yang melulu memberikan informasi yang up to date tentang iptek. Tetapi mereka juga haruslah mencari tentang ilmu pengetahuan yang akan membawa mereka berpikir kritis, membuka wawasan dan merangsang pemikiran-pemikiran kreatif untuk menciptakan suatu inovasi baru, dan kemudian mereka akan naik level saat semua itu tercukupi dengan mencari ilmu pengetahuan yang membawa mereka menjadi seorang generasi yang memiliki prinsip, memiliki mental yang terdidik, dan menjiwai ilmu pengetahuan itu sendiri”.

Mangun terdiam sejenak, menyeruput kopi hitam kesukaannya, kopi hitam kental tanpa gula, aku membiarkan dia sejenak dengan kopinya, membiarkan kerongkongannya sedikit lega setelah berbicara.

“Apa pentingnya memiliki prinsip, memiliki mental terdidik Ngun? Bukankah persoalan iptek pada bangsa ini adalah bagaimana iptek membawa bangsa ini maju, menjadikan negara ini menjadi negara maju dan tidak melulu menjadi negara berkembang?”

Mangun geleng-geleng, tanda tidak setuju yang aku tangkap, terlebih dari ekspresi wajahnya yang terlihat tidak puas dengan pertanyaanku.

“Pentingnya memiliki prinsip dan mental yang terdidik adalah agar Bangsa kita tidak grothal­-grathul yang ujungnya meniru-niru tanpa sikap terlebih untuk mengadapi permasalahan yang dihadirkan oleh kebebasan ilmu pengetahuan, yaitu tentang pertanyaan adakah batasan-batasan manusia untuk melakukan apapun dengan iptek”.

Aku mengangguk, mencoba memahami meski agak sulit.

“Lalu apakah universitas / sekolah-sekolah juga mengajakan demikian Ngun? Sejauh pengamatanku, lembaga pendidikan kita belum sepenuhnya mendidik dengan cara demikian.”

“Memang jika kita mau objektif memandang, universitas atau sekolah-sekolah di Indonesia saat ini belumlah mendidik dan menciptakan manusia yang seperti itu. Tetapi pemuda kita saat ini tidak sedikit yang tertarik untuk mencoba belajar di universitas-non formal. Universitas-non formal seperti buku-buku bacaan yang tidak disinggung di kampus / sekolahan-sekolahan ikut berperan serta dalam mendidik bangsa kita. Dan universitas non-formal bukan hanya melalui buku-buku saja Mbiz, tetapi juga bisa melalui media elektronik seperti melalui internet dimana setiap orang bebas mengakses kebutuhan untuk menambah pengetahuan sesuai dengan bidang yang diinginkan juga menjadi bentuk kemajuan teknologi yang perlu kita syukuri saat ini”.

“Yang terpenting dan perlu kita sadari adalah bahwa iptek secara abstrak itu netral Mbiz, bisa baik dan bisa buruk. Tinggal mau dibawa kemana iptek tersebut digunakan oleh manusia. Iptek itu adalah raksasa dunia, hasil pencapaian evolusi dipandang dari sudut hasil intelektual pemikiran manusia, maka sesuatu yang baru dan memiliki potensi untuk dapat dimanfaatkan meraih kekuasaan sangatlah mengiurkan, maka dari itu Humaniora diperlukan berjalan seiringan dengan kemajuan iptek”

“Aku mengerti” jawabku pendek.

Dan Mangun meminum kopinya lagi, matanya tenggelam dalam cairan hitam dalam cangkir yang digenggamnya, tanpa ekspresi.

  1. Humaniora : Adalah ilmu-ilmu pengetahuan yang dianggap bertujuan membuat manusia lebih manusiawi, dalam arti membuat manusia lebih berbudaya.

Terinspirasi dari buku Kata-kata terakhir Romo Mangun. Kompas.

Fenomenologi Evolusi

Karen Offutt - People watching 1831Mungkin aku tidak sependapat dengan Darwin, bahwa yang bertahanlah yang menang dan terus betahan hidup, aku lebih condong sependapat dengan Lamarck bahwa adaptasi akan membawa perubahan pada kehidupan. Apa yang sering digunakan akan menjadi lebih menjadi, tumbuh dan apa yang tidak digunakan menjadi tidak bermakna bahkan hilang.

Aku tidak memungkiri itu, aku tidak berani menyangkal secara mutlak, tetapi aku percaya bahwa bahwa pikiranku ragu-ragu untuk itu. Saat berkata bahwa manusia adalah puncak perkembangan kehidupan dari hasil adaptif yang terus saja berjalan. Bukan-bukan karena alasan politisir demi menolak beban sebagai manusia dengan segala tanggung jawab atas dunia sebagai penguasa. Tetapi jujur saya masih ragu-ragu tentang itu.

Baiklah, mari kita berjalan-jalan lebih jauh, perjalan dengan mesin waktu yang lebih purba 10 juta tahun yang lalu. Kita akan bertemu dengan kehidupan, sebuah proses biokimia yang berjalan sendiri tanpa henti hingga menimbulkan kemampuan untuk berkembang, diverensiasi dan evolusi.

Kehidupan, terlalu banyak pertanyaan saat kita mendengar kata itu, barang kali ada yang sudah bosan atau bahkan memang tidak tertarik lagi karena baginya yang terpenting adalah tugas-tugas yang sudah dibebankan kepada dirinya. Meski entah dari mana.

Duduk disebelahku Husserl, memandang bahwa kehidupan tidaklah lebih baik jika dikaji dengan fenomenologisnya, melalui kaca mata eksakta yang cukup lama telah dia geluti. Aku tak suka cepat-cepat menyalahkan seperti Bakunin, memang aku bukanlah dia yang begitu keras terhadap apapun yang berlawanan dengan pemikirannya. Ide-idenya terlalu keras, mungkin ego terhadap kebenaran baginya telah sedikit dikecewakan karena sikap Marx yang dianggapnya terlalu lembek dalam menyimpulkan pemikiran Hegel. “Kurang radikal, dan masih omong kosong saja ide-ide dari Marx itu Mbiz” seperti itulah katanya padaku dalam suatu kesempatan di Cafe Mementomori.

Husserl memang lebih menyukai pendekatan dengan memahami relasi antar kesadaran manusia dengan berbagai obyek di sekitarnya yang lahir dari sebuah pengamatan untuk memecahkan suatu masalah. Bagiku, cara ini cukup klasik, ussual untuk era saat ini. Mungkin karena eksakta menginginkan sesuatu yang jelas dan tegas, tidak berbelit-belit dan imajinatif.

Max Webber juga tak jauh berbeda dengan Husserl, dia menambahkan bahwa rasionalitas itu perlu, karena rasional akan menemukan bentuk yang relevan baik dengan klarifikasi rasionalitas formal, rasionalitas instrumental, rasionalitas nilai, rasionalitas tradisional atau rasionalitas afektif, tetapi dengan syarat bahwa manusia atau subyek harus didudukkan sebagai sumber pengetahuan atau informasi. “Manusia itu harus menjadi pemegang otoritas pengetahuan Mbiz”.

Aku masih mengamati Darwin dan Lamarck yang bersikukuh tentang pendapatnya masing-masing, sedangkan Husserl asik membaca majalah, dia tidak begitu tertarik dengan biologi, meski aku tahu dia diam-diam menyimak pembicaraan Darwin dan Marck, meneliti bagaimana mereka berdua berbicara, menyimpulkan secara diam-diam bagaimana alur dari mereka menemukan teori dan mempertahankan pendapatnya masing-masing. sedang aku tetap diam, tidak suka menyela mereka. Aku menikmati moment ini, bagiku mendengar lebih menyenangkan, karena kalau kita semua berbicara, siapa nanti yang akan menjadi pendengar. Aku menyukai semboyan itu, semboyan yang sedikit aku gubah dari seorang sahabatku, Hellenis, yang pernah berkata bahwa aku harus tetap menulis dan berhenti untuk memaksakan menulis kepada dirinya. Biarkan aku yang membaca semua tulisanmu, karena jika kita semua menulis, siapa yang akan menjadi pembaca. Mungkin dia mendapatkan kata-kata itu setelah dia terkesima dengan Kritikus-kritikus di Prancis yang dia temui saat mendapatkan tugas menjadi juru warta disana, di Lyon. Dan seperti biasa, aku tak pernah mau mendebat pendapat siapapun.

“Kau masih berpendapat konyol Marck” tiba-tiba Weisman datang, mengambil kursi kosong di meja sebelah dan duduk disebelah Darwin. Kulihat wajah kecut dari Marck, dia tahu bahwa Weisman bukanlah pendukung dari teori Darwin, tetapi penelitian tentang tikus yang dia lakukan telah membuatnya seperti pembual, intelektual omong kosong yang berteori sampah saja. Dan itu menyakiti pemikiran intelektual Lamarck.

“Kau sendiri bisa membuktikan apa Man?” Lamarck mencoba tenang, mengambil posisi netral yang berkata bahwa sebenarnya tidak ada yang kalah dan menang, dan baginya pertanyaan itu adalah pembuktiaan bahwa dia, Darwin dan Weisman tak ubahnya hanya seorang yang meraba-raba dan berusaha menyimpulkan dengan metodologinya sendiri-sendiri.

“Aku tidak perlu membuktikan apa-apa padamu Marc, atau bahkan pada Darwin sekalipun. Bukankah yang kita pertahankan adalah hasil analisis kita terhadap hubungan antara satu fakta dengan fakta yang lain dalam sekumpulan fakta-fakta?” Jawab Weisman dengan senyum kecilnya, senyum kemenangan lagi menurutku.

Darwin mengangguk, megelus-elus jenggotnya, memang secara pemikiran dia tidak terlalu bertentangan jauh dengan Weisman, tetapi baginya, Weisman tetaplah harus diberi tanda khusus, bahwa dia bisa jadi akan melahap teorinya seperti melahap teori Lamarck. Memang Lamarck adalah musuh keras dari teori yang dia sampaikan, tetapi dia menyukainya, Lamarck baginya masih dalam satu konteks bahasan realitas yang masih bisa digapainya. Sedangkan Weisman tidak. Dia sudah terlalu jauh, dia sudah lebih modern, kedepan meniggalkan dirinya dan Lamarck. Ada ketakutan yang tidak mampu Darwin jelaskan ketika bertemu dengan Weisman, dan aku mengetahuinya.

Lamarck diam, dia mengerti benar bahwa dia salah, meski ingin sekali baginya mengungkit tentang penelitian Weisman memotong ekor tikus untuk membantah teorinya. Tetapi seharusnya dia sadar, teori memang bukanlah suatu kebenaran mutlak, dan penelitian dari Weisman telah membantah teorinya, meskipun demikian bukanlah berarti bahwa teori dari Weisman itu suatu kebenaran jika telah berhasil membantah teorinya. Tetapi Lamarck terlalu jauh untuk menggulinkan teori Weisman tentang seleksi terhadap faktor-faktor genetika.

“Pada intinya semua ingin mempertahankan kehidupannya, terlepas bahwa dia gen, sel, individu, spesies bahkan kehidupan itu sendiri” Sela ku.

Mereka mengangguk, kecuali Husserl yang tetap sibuk pura-pura membaca majalah, meski kusadari aku telah mengajak mereka kembali kepokok pertanyaan awal. Tetapi setidaknya, perbedebatan teori mereka kembali kepada satu persamaan, kembali kesebuah pertanyaan “bagaimana ? ”.

HUMANISME PENDIDIKAN

 humanisme-awalDehumanisme dalam bidang pendidikan ditandai dengan berbagai kebijaksanaan, dominasi, dan praktik pendidikan yang dilakukan pemerintah maupun kalangan swasta yang menghasilkan manusia-manusia yang dehumanistik, baik dipihak guru maupun anak didik.
Guru tidak lebih hanyalah pawang, komandan, instruktur, dan birokrat yang melaksanakan instruksi yang dikeluarkan oleh birokrasi pemerintah ataupun yayasan pendidikan. Kegiatan yang terjadi di ruang kelas bukanlah kegiatan belajar, melainkan kegiatan untuk mempertahankan ideologi mayoritas, baik ekonomi, politik, dan agama. Satu paragraf yang saya kutip dari buku yang disusun oleh Mangunwijaya “Menghargai Manusia dan Kemanusiaan : Humanisme Y.B. Mangunwijaya”.

Padahal pendidikan sejatinya adalah untuk memerdekakan dan membebaskan, “memanusiakan manusia” melalui proses “humanisasi” dan “hominisasi” yang secara singkat kita sebut dengan “humaniora”. Tetapi dalam kenyataannya, pendidikan selalu bertolak belakang dengan humanisme, dan ini bukanlah sesuatu hal yang baru. Di Indonesia dengan konsep yang terus berjalan seperti ini, belenggu-belenggu dari sisa feodal khas jawa dan kolonial, siswa hanya akan menjadi kader-kader politik mini dan sumber daya manusia yang disiapkan untuk melaksanakan dan mendengarkan apa yang menjadi kepentingan pemerintah dan kaum usahawan melalui indoktrinasi.

Sekolah adalah tempat untuk mendidik yang haruslah dimana para anak-anak muda, penerus bangsa dibentuk. Berbagai macam idealisme, karakter, dan pola pikir ada didalamnya, tugas pendidik adalah melahirkan orang-orang yang memiliki nilai-nilai humanisme seperti yang dicita-citakan. Pendidik mempunyai kewenangan penuh terhadap apapun yang terjadi didalam kelas. Paradigma bahwa siswa hanya sebagai obyek didikan dimana superioritas pendidik begitu menguasai seakan-akan kebenaran hanya di tangan pendidik. Pendidik menciptakan jurang pemisah antara siswa yang diajar dengan dirinya sendiri, menciptakan jarak dengan rasa segan karena takut dengan nilai yang buruk yang akan diterima saat tidak sesuai dengan keinginan pendidik.

Pendidikan yang tidak menghasilkan manusia-manusia humanis haruslah ditempatkan di dalam kerangka evolusi, dengan tujuan untuk menciptakan murid, bangsa, bahkan sampai umat manusia kepada pendewasaan diri, teremansipasi, merdeka, humanis, dan sanggup bertanggung jawab terhadap diri sendiri. Bahkan pencarian jati diri menurut Romo Mangun dalam Humanismenya, tidak boleh berhenti. Pencarian jati diri dan pendewasaan diri haruslah bergerak evolutif yang berujung kepada kesadaran akan eksistensi diri.

Pendidikan haruslah mengantarkan manusia menjadi sosok yang terbuka kepada nilai-nilai kemanusiaan universal, meskipun tetap berpegang kepada nilai-nilai keIndonesiaan. Dan juga menjadikan manusia yang bersikap menurut dinamika relativitas, dengan tidak main mutlak-mutlakan, hal ini berdasarkan kepada pemahaman bahwa segala sesuatu bersifat relatif. Generasi muda harus meluaskan horizonnya dengan berpikir kreatif, eksploratif, inklusif, dan pluralistik. Berkaca bahwa hidup ini adalah multidimensional, jika satu jalan / cara yang dilakukan gagal, maka masih terbuka jalan / cara lain yang bisa dilalui atau dilakukan. Yang berarti, bahwa hidup itu selalu dengan penuh kemungkinan selama pikiran kita tidak terbelenggu hanya kepada satu konsep atau paradigma.

Setiap sistem pendidikan ditentukan oleh filsafat tentang manusia dan citra manusianya, sehingga pendidikan tidak pernah netral. Maka visi seorang manusia, pemerintahan ataupun isntitusi swasta sangat menentukan arah pendidikan yang berpengaruh kepada uraiannya. Apakah negara merupakan penganut paham pesimististik (menurut Fukuyama dalam The End History and the last Man, 1992), atau optimististik (merujuk kepada Fons Elders dalam Humanism Toward the Third Millenium, 1993). Apakah negara bersifat religius atau sekuler dan sebagainya. Oleh sebab itu perlulah di sini kita menelisik apa dan bagaimana visi dari pemerintah atau instansi swasta dalam menyelenggarakan pendidikan.

Dengan hal ini kita diharapkan menjadi sadar, bahwa pengetahuan akan pendidikan memperlihatkan kepada kita bahwa pada era saat ini penuh tantangan dan harapan, dinamis dan multisentra terhadap peluang kerjasama untuk menciptakan kemanusiaan yang beradab, visioner dan profetis, untuk prospek ke depan yang lebih terbuka menjadi manusia-manusia baru (memperspektifkan dan mengidealkan humanisme pendidikan) dengan berpikir kritis, berani, berpandangan luas dan universal, mampu berwacana dan berdiplomasi, menghasilkan gagasan-gagasan pembaharuan yang segar.

Sumber referensi :

Fons Elders. 1993. Humanism Toward the Third Millenium.

Fukuyama. 1992. The End History and the last Man.

Jean Jacques Rousseau. 2007. Du Contract Social (Perjanjian-Perjanjian Sosial). VisiMedia.

Nietzsche. 2014. Lahirnya Tragedi. Pustaka Promethea.

Y.B Mangunwijaya. 2014. Humanisme Y.B Mangunwijaya .Kompas.

HUKUMAN MATI “PEMBUNUHAN BERENCANA YURIDIK”

death-penalty-chair

Beberapa bulan kemarin, Indonesia menjadi bahan perbincangan dunia karena melakukan eksekusi hukuman mati terpidana narkoba. Indonesia yang terkenal menganut paham demokrasi yang menjunjung tinggi hak asasi manusia disamakan dengan Iran, Saudi dan Tiongkok. Terlepas dari permasalahan dalam kasus penyalahgunaan Narkoba, hukuman mati menjadi sorotan tersendiri saat ini untuk diterapkan di Indonesia.

Hukuman mati dalam pengertiannya adalah suatu hukuman atau bonis yang dijatuhkan pengadilan (atau tanpa pengadilan) sebagai bentuk hukuman terberat yang dijatuhkan atas seseorang akibat perbuatannya. Tercatat hingga Juni 2006 hanya 68 negara yang masih menerapkan praktik hukuman mati, termasuk Indonesia. Dan lebih dari setengah negara-negara di dunia telah menghapuskan praktik hukuman mati. Ada hampir 88 negara yang telah menghapuskan hukuman mati untuk seluruh kategori kejahatan, 11 negara menghapuskan hukuman mati untuk kategori kejahatan pidana biasa, 30 negara negara malakukan moratorium (de facto tidak menerapkan) hukuman mati, dan total 129 negara yang melakukan abolisi (penghapusan) terhadap hukuman mati.

Di Indonesia hampir sudah puluhan orang di eksekusi mati mengikuti KUHP peninggalan kolonial Belanda. Walaupun amandemen kedua konstitusi UUD 1945, pasal 28I ayat 1, menyebutkan: “Hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kemerdekaan pikiran dan hati nurani, hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi di depan hukum, dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun“, tapi peraturan perundang-undangan dibawahnya tetap mencantumkan ancaman hukuman mati. Dengan alasan bahwa bukan hanya pembunuh saja yang punya hak untuk hidup dan tidak disiksa. Masyarakat luas juga punya hak untuk hidup dan tidak disiksa. Untuk menjaga hak hidup masyarakat, maka pelanggaran terhadap hak tersebut patut dihukum mati.

pemberlakuan hukuman mati di suatu negara paling tidak akan memperbincangkan tiga aspek yang saling terkait, yaitu :

1). Konstitusi atau Undang-undang tertinggi yang dianut suatu negara dan bentuk pemerintahan yang dianutnya.

2). Dinamika Sosial, politik dan hukum internasional yang mempengaruhi corak berpikir dan hubungan-hubungan sosial di masyarakat.

3). Relevansi nilai-nilai lama dalam perkembangan zaman yang jauh sudah lebih maju.

Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa polemik tentang dibenarkannya hukuman mati bukan hanya soal keyakinan, cara pandang, pengalaman seseorang atau nilai ukur dari sudut pandang hukum, tetapi juga dengan relevansinya dengan konteks dimana hukuman mati akan diberlakukan. Penerapan hukuman mati juga harus benar-benar telah memperhatikan tentang kepastian hukum dengan pandangan hak asasi manusia secara menyeluruh. Memiliki nilai konsistensi dalam konstitusi sehingga perdebatan tentang penerapan hukuman mati berakhir dengan suatu rumusan yang bijak dan tetap menjunjung tinggi nilai hak asasi dan juga dengan nilai-nilai luhur kebudayaan manusia.

Beberapa teori yang mendukung hukuman mati antara lain adalah teori absolut, teori relatif dan teori gabungan.

  1. Teori Absolut : Dalam teori ini menegaskan bahwa siapa yang mengakibatkan penderitaan, maka pelakunya tersebut haruslah mendapatkan perlakuan yang serupa (menderita), teori ini berasal dari pendapat Immanuel Kant.
  2. Teori relatif : Teori relatif memandang bahwa pidana hukuman tergantung kepada efek yang akan dihasilkan dari penjatuhan hukuman pidana tersebut. Teori ini mengacu kepada pandangan Feurbach yang menegaskan bahwa penjeraan bukan melalui pidana, tetapi melalui ancaman pidana dalam perundang-undangan.
  3. Teori gabungan : Pada teori yang dimotori oleh Thomas Aquinas ini membedakan antara pidana sebagai pidana dan pidana sebagai obat. Ketika suatu negara menjatuhkan pidana, maka perlu diperhatikan pula fungsi prevensi umum dan prevensi khusus. Dengan tujuan terciptanya kepuasan nurani masyarakat dan pemberian rasa aman.

Sedangkan beberapa pandangan yang menolak hukuman mati antara lain adalah bahwa Hukuman mati dipandang sebagai pelanggaran terhadap hak asasi manusia yang paling asasi, yaitu hak untuk hidup. Hak untuk hidup adalah hak yang paling fundamental, merupakan jenis hak yang tidak bisa dilanggar, dikurangi, atau dibatasi   dalam keadaan apapun, baik itu dalam keadaan darurat, perang, termasuk bila seseorang menjadi narapidana. Selain itu secara sosiologis, tidak ada pembuktian ilmiah bahwa hukuman mati akan mengurangi tindak pidana tertentu. Artinya hukuman mati telah gagal menjadi faktor determinan untuk menimbulkan efek jera, dibandingkan dengan jenis hukuman lainnya.

Kajian PBB tentang hubungan hukuman dan angka pembunuhan antara 1988-2002 berujung pada kesimpulan bahwa hukuman mati tidak membawa pengaruh apapun terhadap tindak pidana pembunuhan dari hukuman lainnya seperti hukuman seumur hidup. Dan juga adanya paradoks dimana hukum yang bertujuan untuk melindungi hak-hak individu atau Hak Asasi Manusia (HAM) merampas tujuannya sendiri.

Dari bahasan diatas, secara tidak langsung menunjukkan bahwa wacana tentang penerapan dan penghapusan hukuman mati (death penalty) dalam konteks hukum Indonesia tampaknya masih akan menghangat dalam beberapa dekade kedepan. Perdebatan ini sejalan dengan dinamika hukum nasional dan internasional yang sangat pesat dalam setengah abad terakhir serta munculnya pendekatan-pendekatan baru dalam melihat dan menilai relevansi hukuman mati dalam konteks sistem hukum, bentuk dan asas negara, serta perubahan sosial, termasuk teknologi.

Pidana hukuman mati tidak akan pernah luput dari masalah pro dan kontra terutama terkait dengan eksistensinya. Hukuman mati memang layaknya sebagai pedang bermata dua, disatu pihak adalah melindungi dan mempertahankan hak-hak manusia, namun di pihak lain hukuman mati melukai hak-hak manusia itu sendiri. Dari sudut pandang penulis, dalam hal ini secara pribadi memandang hukum pidana hukuman mati adalah pembunuhan berencana yuridik seperti yang dikatakan oleh Prof. Dr. JE. Sahetapy. SH. Hukuman mati berlawanan dengan kodrat alam, dimana manusia pada hakikatnya dengan naluri dan insting yang ada padanya, manusia akan berusaha mempertahankan hidupnya dari segala ancaman atas dirinya.

Dengan kalimat sederhana, manusia secara naluri akan mempertahankan diri, saat mereka akan dijatuhi hukuman mati. Dengan pengecualian jika terpidana menerima hukuman mati yang telah ditetapkan mengingat perundang-undangan kedaruratan yang sangat serius, mereka telah mempergunakan hak mereka untuk mati (meski menjadi polemik tersendiri tentang hak untuk mati tersebut, kami akan coba bahas dilain kesempatan) sehingga eksekusi hukuman mati dapat segera dilaksanakan. Namun berbeda jika terpidana menolak hukuman mati tersebut, yang berarti terpidana masih menginginkan untuk terus bertahan hidup, mempertahankan hak asasi untuk hidupnya, maka haruslah dicarikan jalan keluar yang bijaksana dan adil. Yang menurut hemat penulis adalah dengan merubahnya menjadi hukuman seumur hidup, yang demikian dapat dilakukan dalam tingkat banding dan kasasi. Sehingga meskipun dia adalah terpidana hukuman mati, tetapi dia betul-betul dilindungi oleh hukum dan dihargai hak asasinya.

Russland, Hinrichtung von Partisanen

This image was provided to Wikimedia Commons by the German Federal Archive (Deutsches Bundesarchiv) as part of a cooperation project. The German Federal Archive guarantees an authentic representation only using the originals (negative and/or positive), resp. the digitalization of the originals as provided by the Digital Image Archive.

Sumber :

Beberapa Pandangan Tentang Hukuman Mati (Death Penalty) dan Relevansinya Dengan Perdebatan Hukum di Indonesia. Makaarim.

Halimy, Imron. 1990. Euthanasia. Cara Mati Terhormat Orang Modern. CV. Ramadhani.

Kajian Filosofis Tentang Hukuman Mati di Indonesia. Kompasiana.

Perspektif Aliran Filsafat Hukum. Cancergoxil.