BICARA PROPAGANDA

 

download

Propaganda (dari bahasa latin  modern: propagare yang berarti mengembangkan atau memekarkan) adalah rangkaian pesan yang bertujuan untuk memengaruhi pendapat dan kelakuan masyarakat atau sekelompok orang. Propaganda tidak menyampaikan informasi secara obyektif, tetapi memberikan informasi yang dirancang untuk memengaruhi pihak yang mendengar atau melihatnya. Dalam pengertian lain propaganda adalah sebuah upaya disengaja dan sistematis untuk membentuk persepsi, memanipulasi alam pikiran atau kognisi, dan memengaruhi langsung perilaku agar memberikan respon sesuai yang dikehendaki pelaku propaganda.

Salah satu tokoh propaganda yang mungkin terkenal adalah Goebbels, tokoh NAZI dari perang dunia ke II, meskipun terkenal kejam Goebbels banyak disegani para ilmuwan, bahkan hingga sekarang. Itu karena ia dianggap sebagai pelopor dan pengembang teknik propaganda modern. Teknik jitu hasil kepiawaiannya itu diberi nama argentum ad nausem atau lebih dikenal sebagai teknik big lie (kebohongan besar).  Goebbels adalah salah satu figur propagandis, dan tentunya masih banyak lagi lainnya yang tak ubahnya merupakan pemain sandiwara terkenal yang menakjubkan. Mereka secara umum memiliki komitmen terhadap keahlian komunikasi dan media untuk menyebarluaskan pesan mereka. Mungkin mereka telah belajar banyak dari para propagandis masa lalu maupun masa kini untuk menjalankan usaha mereka, belajar dari mereka, dan merasa yakin bahwa mereka dapat menggunakan propaganda secara luas untuk memperoleh sebuah efek tanpa akhir.

Mereka merasa cocok dengan menyebarluaskan propaganda, entah itu suatu kebenaran atau hanya dorongan emosi demi kepentingan pribadi semata, dan mereka tidak memiliki kecemasan akan hal itu, terhadap apa yang telah mereka lakukan. Mereka semua menggunakan studi ilmiah opini politik serta psikologis massa secara serius, dan hanya percaya bahwa apapun tujuan mereka, dan mereka percaya bahwa manusia merupakan mahluk bujukan dan rayuan. Para ahli ini tanpa disadari juga merupakan para ahli drama populer, yang mementaskan “realitas besar” seperti yang dimiliki oleh artis-artis televisi sehingga berhasil menarik perhatian pemirsa meski sebagain nantinya akan tertarik dan bertahan terhadap sajian dari menu propaganda dan sebagian lainnya tidak tergiring dalam sajian-sajian tersebut meski tetap menanggapi dalam kasak-kusuk.

Sebagian lain menyadari / melihat bahwa propaganda adalah sebuah bisnis menarik hati dan pemikiran sejumlah besar orang, tanpa mereka harus tahu dan melihat kemana akhir dari tujuan itu diciptakan. Sebuah paradigma lain akhirnya menggiring pemikiran dari pemirsa untuk mengejawantahkan para propagandis di era sekarang tak ubahnya hanyalah seorang pembual, seorang artis yang pandai memanipulasi kebenaran dan kenyataan. Sebuah kenyataan di era modern seperti ini dimana “realitas-realitas besar” dapat diciptakan. Karena dalam otak mereka (propagandis) realitas adalah kreasi yang eksisten, hasil dari kepercayaan bersama, sesuatu yang tak lebih dari bagian independent sebuah komunikasi (kesepakatan-kesepakatan).

Berangkat dari pembenaran para ahli tentang prinsip kepercayaan yang manusia dengan mudah percaya terhadap sesuatu. Sebuah anggapan dasar bahwa setiap orang mungkin saja bukan merupakan orang tolol, tetapi banyak orang yang ingin dan berhasrat untuk memperhatikan sebuah pesan meski berdasarkan bukti yang tidak meyakinkan.

Meski dalam prasangka saya para propagandis era modern sekarang ini tidak lagi membaca literatur tentang bagaimana berpropaganda yang baik dengan menimbang teori-teori komunikasi. Mereka hanya meyakini bahwa komunikasi bukan hanya tentang berbicara dan menyampaikan pesan saja, tetapi komunikasi juga bisa menjadi tameng ataupun senjata untuk tujuan melancarkan maksud keinginan. Dan tameng ataupun senjata dalam propaganda mereka adalah kata “kebenaran”! Sebuah kata yang terlalu mistis untuk diketahui hakikat sejatinya dalam kehidupan. Kebenaran tak ubahnya sebuah cahaya putih, yang jika diuraikan terlalu banyak makna atau dapat dikatakan bervariasi tergantung sudut pandang keinginan yang melihatnya (klien propagandis). Kebenaran langsung, kebenaran yang direncanakan, kebenaran setengah-setengah, dan masih banyak lagi. Bahkan kebohongan dan kepalsuan adalah bagian dari kebenaran itu sendiri.

Memang tidak dapat disangkal bahwa propaganda di era modern seperti ini layaknya sudah menjadi sebuah kebutuhan. Tidak lagi memperdulikan sebagai reformis maupun moralis, propagandis hanya peduli kepada apa yang mereka akan hasilkan, meski dalam kebenaran versi klien lain bertentangan, tetapi para propagandis tidak melihat hal demikian itu sebagai sesuatu yang jahat dan menjijikkan.

Propaganda dalam bentuk dan pengaruhnya merupakan keasai artistik, hasil dari sensitivitas artistik. Berdasarkan data atau prinsip ilmiah, memang demikian, tetapi dalam pelaksanaannya propaganda adalah sebuah seni dan profesi mereka.  Sebuah alarm untuk kita akan keberadaan masyarakat yang tak lain dan tak ubahnya adalah sebuah ladang yang haus akan kebenaran dan mudah untuk ditanami dengan pemikiran-pemikiran yang licin. Sebuah ladang yang menggiurkan khususnya oleh tokoh-tokoh penting yang memiliki kesadaran pragmatis dan estetsis yang bekerja dengan keyakinan politik dan sosial. Sebuah kewaspadaan tentang sebuah propaganda yang biasa mereka bungkus dengan semboyan untuk mengarahkan kehidupan dalam kebenaran.

Mengkritisi Pendidikan?

bad_education_by_kloxx-d5ao7bv

Sangat naif jika menggunakan pengetahuan masa lalu untuk digunakan pada masa kini, apalagi jika secara apriori melaksanakannya. Artinya, pengetahuan yang selama ini didapat memang hanya sebatas teori saja, tanpa mengetahui realitas yang ada di luar (ahistoris). Bahkan terkadang dengan tanpa sadar, kita ikut terbawa arus yang sengaja dialirkan oleh ‘kekuatan luar’, bisa oleh negara atau kaum dengan idiologi tertentu. Sehingga pengetahuan, melalui pendidikan formal, yang didapat hanya sebatas menjadi upaya penindasan dan pemaksaan. Pendidikan yang pada hakekatnya merupakan upaya humanisasi (mamanusiakan manusia) ternyata telah dimanipulasi. Bukan kepandaian yang didapat melainkan pembodohan. Bukan sikap kritis yang diperoleh melainkan pengkerdilan. Bukan menjadikan manusia merdeka dan mandiri melainkan hanya menjadi volunteer pembangunan.

Banyak yang beranggapan bahwa pendidikan merupakan satu hal yang berwatak mulia dan identik dengan kebijaksanaan serta bersifat netral. Padahal realitas menunjukkan bahwa pendidikan tidak dapat lepas sama sekali dengan idiologi dan politik. Sadar atau tidak, pergumulan idiologi dan politik tersebut mengarahkan kepada kita menjadi mesin-mesin yang hanya berjalan dan dikendalikan oleh sesuatu yang ada di luar kita menjadi mesin-mesin yang hanya berjalan dan dikendalikan oleh sesuatu yang ada di luar diri kita.

Disini saya tidak ingin berkata jauh tentang pembelengguan masyarakat dengan ilmu-ilmu yang hanya melancarkan proses pembelengguan atas masyarakat seperti yang dikritisi dari pemikiran Imanuel Kant dan dialektika Hegel, tetapi lebih kepada proses malpraktik dari majelis pemberian ilmu. Dalam teori kritis Habernas, penelitian terhadap hubungan antara ilmu pengetahuan dan kepentingan menjadi salah satu usaha pokok. Kenapa ?

 

 

SHAWSHANK REDEMPTION Dalam Kacamata Filsafat Eksistensialisme

oscars_shawshank_final_3000_notext

“Seseorang yang menyerahkan dirinya secara sukarela sama dengan mengatakan sesuatu yang absrud dan tidak bisa dipahami merupakan fakta adanya kehampaandan tidak legitim. Siapa pun yang bisa melakukannya, pasti melakukan hal itu di luar kesadaran. Hal serupa untuk semua orang, berarti mengharapkan mereka menjadi orang gila, dan kegilaan tidak mungkin menciptakan hak.”

“Dan tidak seorang pun kecuali diri mereka sendiri yang sanggup menanggalkan kebebasan dari diri mereka”

(J. J. Rousseaue / Du Contract Social)

 

Kubuka dengan mengutip buku du contract social tentang perbudakan, kupikir inilah kalimat yang cocok untuk mengawali tulisanku tentang film Shawshank Redemption yang akan ku bahas dari kaca mata filsafat kebebasan-ku yang masih amburadul. Tentang memilih menjadi manusia yang bebas atau mungkin kau memilih untuk menjadi Brooks. Menikmati ketakutan yang selama ini dipelihara, memilih mengakhiri kematian hidup dengan kematian sebenarnya, menyadari disaat semua terasa menjadi tidak mungkin bisa terjangkau. Terlalu jauh dari sebuah kebenaran / kesadaran / rasionalisasi dari pola pikir yang diciptakan sendiri, tanpa berani mengambil risiko untuk melihat keluar meski dia menyadari adanya hal tersebut saat melepaskan Jake untuk terbang meraih kebebasannya.

Jika kita sadari selama ini kita terjebak dalam kebohongan, sebuah kurungan yang jauh dari kebenaran tentang siapa kita, atau mungkin tentang siapa dan apa kita yang selama ini dunia telah ciptakan dengan dogma yang begitu kencang, kuat dan kokoh. Aku harap kau menonton film ini, film Shawshank Redemtion. Sebuah kado terindah untuk mereka yang merasa sebentar lagi mati dalam kehidupannya, film yang disutradari oleh Frank Darabont ini diadaptasi dari ceita pendek Stephen King, yang berjudul “Rita Hayworth and Shawshank Redemption” telah membuka mata bahwa dunia bergerak dengan caranya sendiri dengan begitu cepat, tanpa pernah kita siap untuk mengikutinya, dunia menggiring kita untuk mengejarnya, meraihnya, memilikinya atau paling tidak, kita berada dalam arusnya yang melenakan. Jika kita tidak melangkah hati-hati dan penuh pertimbangan dan perhitungan, dunia  yang cantik ini akan membunuh kita. Dia yang mengajarkan kita berjalan terburu-buru, mengikutinya tanpa menyisakan waktu kepada kita untuk bertanya tentang dirinya, tidak ada kebebasan selain kebebasan yang menjebak bahwa kita telah sadar memilihnya. Dunia terlalu egois kepada mereka yang sunyi dalam pertapaannya tentang kehidupan.

Manusia bertahan dengan pilihan yang menyakitkan, semakin sakit setiap harinya. Kebebasan yang Brook rasakan, kesedihan tentang kesepian yang ditawarkan oleh kebebasan. Melepaskan kesepian dalam dunia yang egois ini terasa begitu sulitnya, semua terburu-buru, manusia tidak lagi menemukan teman untuk berbicara tentang dirinya, eksistensi yang direngkuh selama dalam penjara lenyap karena tatanan yang berbeda. Ketakutan dan kesepian yang mencekam perasaan Brook. Dia merindu bertemu dengan Jake, berharap dia terbang menghampirinya sembari mengucapkan Hallo dan mungkin menemaninya hingga dia usai. Tetapi tidak, Jake tidaklah datang. Jaket yang dirawatnya disela-sela tugasnya sebagai pengurus perpustakaan penjara tidak pernah datang sama sekali sampai Brook mengakhiri kesepiannya.

Rasa iri kepada Jake, yang dia harapkan dapat menemukan teman-teman baru selepas kepergiannya dari penjara adalah sebuah bentuk kesedihan Brook terhadap dirinya sendiri. Brook berharap dia adalah Jake yang berhasil itu, segar muda dan tidak begitu lama terjatuh dalam kuburan Shawshank. Brook tidak memiliki keberanian untuk beradaptasi, atau dia sadar dia telah tertinggal begitu jauh dari kereta bernama kehidupan yang egois. Dia sendiri, tidak bisa berlari mengejar kehidupan yang baru karena telah lama terjerat dogma selama hidupnya. Kesadaran dirinya tidak lagi memiliki eksistensi lagi di dunia membawanya berpikir untuk kembali ke Shawshank, karena baginya disana dia ada, dia eksis dan nyata. Jauh sebelum dia melangkah keluar pertama kali melalui pintu kebebasan penjara, dia seperti tersengat akan betapa tidak berarti dirinya nanti saat keluar dari penjara. Terjatuh yang teramat dalam kegelapan, ketakutan dimana landasan dan apa yang akan menantinya nanti. Apa yang ada di masa depan sana? Brook tidak siap untuk semua itu, dunianya berada dalam kuburan perpustakaan Shawshank dan dia terlalu tua untuk melakukan kegilaan agar dia tetap bertahan dalam kurungannya. Keragu-raguan dari ketidakpercayaan diri telah berhasil membunuh Brook.

Dia harusnya meninggal disini dalam keimanannya, di tengah-tengah tumpukan buku perpustakaan penjara, atau paling tidak dia mati karena dihajar oleh sipir tentu tidak masalah baginya. Itu lebih bagus untuk mengakhiri hidup daripada mati dalam kesepian tanpa keimanan. Mati sendirian dalam dunia yang tidak melihatnya atau lebih tragis lagi mati tanpa menjadi dirinya sendiri yang selama ini dia percayai. Tembok penjara yang pada awalnya tampak mengerikan, sesuatu yang dibencinya menjadi sebuah tembok yang dirindukan oleh Brook, sebuah tembok yang melindunginya dari sengatan tatapan yang meniadakan dirinya. Manusia belajar menerima kebenaran yang dipaksakan, terbiasa kemudian bergantung dengan hal itu, hingga kemudian menjadikannya kebenaran yang melindungi dari hakikat dirinya sendiri yang memiliki kebebasan.

Harusnya Brook bebas setelah mendengar Dufresne mengatakan bahwa penjara, dunia yang bullshit tidak akan dapat mengambil apapun yang berharga darimu selama kau menyimpannya di dalam hati. Sehingga ketakutan-ketakutan untuk mengambil pilihan dalam kebebasan tidak menggerayangi Brook saat mendengar ucapan selamat atas kebebasannya. Tapi sayang, Brook telah menasbihkan diri sebagai penjara itu sendiri, Brook telah dirasionalisasi bahwa dia nothing selama tidak berada dalam tempurungnya. Dia kalah atas ketakutan akan kemampuan dirinya sendiri, tikus tua yang takut untuk keluar dari rumah kaleng busuk yang membuatnya nyaman selama 50 tahun. Tikus tua yang tidak mengetahui apa-apa selain dunia yang dimajikannya sendiri, meski berada dalam gudang buku-buku yang berisi pengetahuan, ternyata tidaklah membawa perubahan apa-apa terhadap mentalnya.

Tidak seperti Harapan dan Pemikiran, dia tidak akan pernah mati selama manusia masih ada, selama kau masih hidup. Dua hal itu bukanlah kata-kata yang tanpa makna, dua hal itu adalah kenyataan yang menemani manusia untuk ada selama proses evolusi.

Harapan bukanlah sesuatu yang mengerikan seperti yang Red katakan, yang entah melalui pengalaman seperti apa Red mengatakan bahwa dalam harapan terdapat bahaya dalam dunia seperti ini, harapan tak ubahnya omong kosong, sesuatu yang utopis yang jika tidak membawa dalam kebodohan kesia-siaan maka dia akan membawamu dalam bahaya. Sampai pada waktunya Dufresne membuktikan dan membuat Red sadar, bahwa Harapan bukanlah sesuatu yang mengerikan dan membuat orang menjadi gila jika terbius olehnya. Harapan berbeda dengan iman yang hanya mengandalkan takhayul tanpa tujuan yang bisa diraih dengan tangan manusia. Tidak kawan, harapan bukanlah seperti itu, harapan lebih tinggi, harapan mampu mendorongmu untuk keluar dari belenggu ketakutan, kesendiran yang memenjarakanmu tanpa kompromi saat kau menghembuskan nafas pertamamu di dunia ini. Harapan adalah sebuah pemikiran terbaik yang pernah ada dalam sejarah primitif manusia, harapan adalah kekuatan, harapan adalah bagian evolusi itu sendiri agar manusia mencapai eksistensinya. Harapan adalah hal terindah  itu yang diajarkan oleh Dufresne kepada Red.

Bahkan Dufresne tidak goyah sedikitpun, meski propaganda bahwa harapan tidak lagi layak ada untuk diperbincangkan dalam kondisi yang terlihat muskil untuk dirubah. Dufresne adalah Ubermensch, manusia yang berhasil lolos dari takdir yang dituliskan oleh penjara kepadanya. Sebuah manusia yang lolos dari dogma tentang dunia yang selama ini kita terbius olehnya dan menganggapnya kebenaran. “I Believe in two things: Discipline and Bible.” (Warden), seperti itulah kekuasaan mengajarkan kita bagaimana harus hidup menjadi manusia normal dalam kehidupan. Hagemoni kekuasaan dan agama, kontrol terhadap manusia yang akhirnya membawa perspektif kita terhadap kebenaran selama ini. Dufresne lolos dari jebakan itu dengan nilai jauh lebih tinggi dari C+ yang didapatkan oleh muridnya Tommy Williams dalam ujian kelulusan.

Tommy Williams. Ya dia adalah bayi, kejujuran dan kepolosan, itu yang dilihat oleh Dufresne. Bahwa di dalam dirinya dia bisa memberikan harapan, sebuah perjalanan panjang masih begitu terbentang, dan kesepian semakin tidak mendapatkan tempat di hati Dufresne meski telah memiliki Red. Dufresne memilih, untuk bereksistensi di dalam kuburannya, menyibukkan diri dalam hidup yang seakan tak ada pilihan lagi untuknya, sebuah pilihan agar tetap hidup, menjadi dirinya sendiri.

“Get busy living, or get busy dying”

(Andy Dufresne)

Tommy adalah kepolosan dan kejujuran yang mengerikan bagi kekuasaan, itu yang dilihat oleh Warden. Manusia seperti itu adalah bahaya bagi kelanggengan sistem, kebenaran haruslah jauh-jauh pergi dari dunia yang egois, palsu dan sistematis ini, atau jika dibiarkan berlama-lama akan meruntuhkan layar yang selama ini siapkan sebagai kiblat jalan kehidupan manusia. Untuk itulah Warden menghabisi Tommy, menyingkirkannya tanpa perlu lagi ada kompromi atau negosiasi karena kebenaran tidak bisa untuk diajak itu.

Kita seakan merasa sadar mampu untuk melepaskan kungkungan yang diciptakan, berani memilih, berani untuk berkata, tapi pada akhirnya kita akan kembali bertanya seberapa berani kita untuk menghadapi kebebasan sesungguhnya saat kita telah terjebak dalam hal itu dalam waktu yang lama. Tidak ada lagi yang dapat digantungkan, tidak ada lagi dinding penghalang yang melindungi dari sengatan-sengatan mata sinis sebagai manusia gila yang berjalan tanpa pakaian. Kesendirian sejati, kesepian yang mencekam urat nadi sampai akhirnya menghantarkan alam bawah sadarmu untuk pulang dan meringkuk lagi dalam tempurung kalengmu. Kemudian mati dan kalah, manusia yang dikenang pernah hidup di bumi dengan vandalisme (Brook was here). Dan pada akhirnya kau sadar kau tidak pernah eksis terhadap dirimu sendiri.

“Remember Red, hope is a good thing, maybe the best of things, and no good thing ever dies”

(Andy Dufresne)

 (Saya setuju dengan pendapat dari salah satu penulis Kompasiana yang entah saya lupa namanya, film ini adalah film sederhana yang merubah hidup saya, sebuah film yang kaya tafsir dan tema yang memang pantas menjadi film terfavorit sepanjang masa)

AKhir kata

“Kebabasan kehidupan kita adalah sepenuhnya milik kita, dia tidak akan pergi oleh apapun dan karena siapapun kecuali kita menyerahkannya”

 

 

 

 

Aku, Rusli dan Sepak Bola

DSC_6459.JPG

Jika bukan karena terlalu banyak “kampanye” darimu, aku mungkin tidak akan terlalu membicarakan sepak bola lagi. Bahkan berbicara tentang Arsenal yang membuat kita bertemupun aku sendiri sudah lupa kapan untuk terakhir kali, hanya memang sesekali melihat last match-nya di Youtube saat menunggu loading download upgrade DotA 2 aku menontonnya. Berbicara tentang Persis Solo? Atau Arseto ? Aku hanya supporter musiman, jika kau berpikir aku seorang loyalis. Jelas akan kukatakan tidak. Lalu bagaimana dengan Timnas? Bukankah terakhir aku menuliskan tentang Timnas dan supporternya? Jika kau jeli, aku sendiri tidak merasa seroang Nasionalis yang mengagungkan Timnas, aku hanya penikmat moment yang kemudian terbenam untuk ber-uforia dalam tanya.

Baiklah, aku akui akan sedikit mengadopsi gaya Zen RS saat dia bercerita tentang masa kecilnya dengan sepatu hitam garis empat yang jelas-jelas bukan bermerek Adidas. Sebuah cerita dari buku yang baru saja kubaca, Simulakra Sepakbola. Buku ketiga yang kupilih untuk kubaca selepas membaca Student Hidjo tulisan Mas Marco, tidak ada korelasi tema yang sama, hanya saja buku ini dibuka dengan apik oleh Zen, tentang sebuah kejantanan masa kecil. Aku cemburu dan aku ingin tahu.

“…dan dia memaksaku dengan caranya yang aneh”

Anak kecil kurus dengan pakaian olahraga bertuliskan Toldo di punggungya itu melompat berusaha menangkap bola yang datang kepadanya, tapi nahas bola tetap saja masuk, lompatan yang dilakukan tidak cukup tinggi meski tangannya berusaha meraih. Kedudukan jauh tidak seimbang, lawan bertanding anak kecil itu sementara menang dengan scor 3 – 11, sebuah hal lumrah untuk sepak bola anak-anak kampung yang akhir pertandingan masih ditandai dengan suara Adzan maghrib.

Sebuah cerita sederhana tentang idola, bahagia yang sederhana dan sosok panutan yang terus berubah sesuai pasar yang menciptakan. Bukankah begitu? Dulu saya seorang yang menyukai klub Juventus pada kali pertama mengenal sepak bola. Sampai baju olahraga pun saya gambar garis-garis sendiri dengan spidol agar mirip dengan jersey yang dikenakan oleh Alesandro Del Piero. Sebuah jersey khusus yang saya gunakan untuk bermain sepak bola di sawah yang kami sulap menjadi lapangan saat musim panen tiba. Berjalannya waktu, bosan dengan rutinitas bermain yang melulu, akhirnya kami membuat sebuah keputusan untuk bertanding antar anak kampung, bukan berbentuk liga, hanya sparingan. Anak kaya perumahan sebelah menjadi target kami, yang menarik adalah bahwa pemain mereka ada memiliki 2 pemain perempuan karena saat itu mereka kekurangan jumlah pemain laki-laki. Kami menang, dan kami memutuskan untuk mencari lawan dari kampung lain yang sepadan jumlah komposisinya, agar kemenangan kami tidak rusak oleh tiadanya kebanggan.

Setelah menang beberapa kali dalam pertandingan melawan kampung tetangga, kami memutuskan untuk membuat jersey team kami sendiri, sebuah ukuran kemajuan untuk anak masa itu. Team kami bernama Putra Dewa F.C. Desain dan Lambang team dengan desainku sendiri. Sebuah lambang yang kalau sekarang mirip dengan logo Kill Denim. Berwana merah, seperti ikon Pasoepati yang sedang booming kala itu di kota Solo. Aku memilih nomor punggung 11.

Memasuki masa SMP, kami sering datang ke Manahan, bersama teman-teman sekolahku, berjalan kaki atau bahkan menaiki angkuta umum. Tribun Selatan di belakang papan scor menjadi tempat kami berkumpul dan bersorak bersama. Kebersamaan yang kurasa begitu penting, satu rasa, satu perjuangan bersama-sama. Kemudian sepak bola menjadi begitu asing lagi dalam rutinitas, hilang begitu saja saat harus berpindah rumah ke Wonogiri.

Sepak bola datang kembali saat piala dunia, saat sudah memasuki kehidupan kuliah di Solo. Bukan lagi tentang kebanggan, kecintaan, atau kebersamaan. Tetapi lebih kepada bermain analisis untuk mendapatkan untung atau tidak merugi saat memasukkan taruhan. Sepak bola menjadi tempat mencari uang jajan sampingan. Ah anak kos, dengan sebuah semboyan, selama masih ada sepak bola mencari uang masih terbuka lebar. Begitulah, malam minggu menjadi malam bekerja, ke tempat burjo, ke bapak kos, ke siapa saja yang sekiranya bersemangat mempertaruhkan uang lewat sepak bola.

Sepak bola kembali menghilang lagi sejak akhirnya aku lulus dan harus berpindah tempat ke Karanganyar, aku harus fokus pada klinik yang aku buka dengan adik tingkatku. Tetapi memang sepak bola tidak bisa lama-lama pergi, akhirnya aku bertemu dengan fans Gooner Karanganyar. Sebuah komunitas fans dari klub Arsenal di Karanganyar ini mengajariku tentang berkumpul atas nama kekeluargaan meski bukan satu darah, seperti agama bukan.

Futsal menjadi salah satu agenda setiap minggunya, dan aku memang tidak bertahan lama untuk memainkannya, fisikku yang trengginas saat SD dan SMP dulu sudah terkikis oleh Asma. Aku menyerah untuk bermain, aku lebih memilih untuk menjadi penikmat saja, menikmati apa yang sekiranya bisa aku temukan.

Menjadi fans Arsenal sendiri juga menjadi sebuah cerita dan pertanyaan yang unik, aku memilih team ini karena namanya paling cantik daripada team-team lainnya, menurtku. Tidak ada alasan khusus, tidak ada moment atau pertanda apapun kenapa aku harus memilih ini, hingga akhirnya aku semakin mantap setelah mengetahui bahwa nama pelatih dari klub ini adalah Arsene Wenger dan salah satu pemainnya bernama Andre Arshavin, sebuah nama yang begitu familiar, sebuah nama yang mengingatkanku pada Arseto Solo, atau namaku sendiri Amarseto. Mungkin kau harus menonton Kimi No Nawa agar kau mengerti perasaanku kala itu.

Hingga sekarang, akhirnya aku kembali bertemu sepak bola melalui Rusli setelah berpisah lama karena sibuk dengan studi S2 dan pekerjaan baruku sebagai tenaga pengajar disalah satu institusi pendidikan swasta di kota Solo. Rusli menyodori beberapa pertanyaan filosofis dan beberapa buku tentang sepak bola. Beberapa hari yang lalu saat menginap, mulutnya meracau tentang sepak bola, Gus dur, Sindhunata, Zen RS, Sartre, Nietzsche, dan keluhnya tentang tulisan sepak bolanya yang muncul dalam surat kabar hanya saja memakai nama penulis lain.

Bang, menulis sepak bola itu menulis tentang kehidupan”  Kata Rusli sembari menyalakan rokok Dji Sam Soe nya. Entah sejak kapan dia menjadi perokok dan gondrong.

Aku mengangguk saja, pura-pura mengerti.

Nyatanya aku masih terbenam dalam pertanyaan yang masih kubawa saat perjalanan pulang dari tempat Rusli kembali ke Solo, aku berpikir benarkah aku mencintai sepak bola? Atas dasar apa? Atas dasar apa juga aku harus menjadi fans Arseto, Persis Solo? Arsenal? Timnas ? atau menjadi pendukung kesebalasan negara Belanda dalam ajang piala dunia? Apa ini semua? Philia seperti apa ini?


 

 

SUPORTER (dan) TELOLET

13087590_1326847550662437_8827225038681805629_n.jpg

“Kekompakan sosial akan menciptakan kekuatan” sebuah kalimat yang cocok untuk menggambarkan fenomena Om Telolet Om (O-T-O) yang menjadi begitu populer di sosial media. Berawal dari spam di Instagram dan Tweeter dengan hastag #OmTeloletOm telah membuat masyarakat luas untuk penasaran dengan maksud dari kata tersebut, bahkan artis internasional kelas dunia seperti Marshmello, DJ Snake, zedd, The Cainsmokers dan masih banyak artis internasional lainnya tertarik dengan fenomena O-T-O.

Om Telolet Om merupakan bukti nyata bahwa kekompakan sosial menciptakan kekuatan. Orang-orang yang akhirnya tidak mengetahui hal pasti tentang maksud dari kata tersebut akhirnya tertarik dan mencari tahu makna tersebut. Entah terdorong karena rasa tertarik, atau memang sekedar mengikuti sesuatu yang kekinian, gelombang O-T-O akhirnya semakin luas, dan sampai menguasai trendingtopic baik di Instagram, twitter, youtube dan aplikasi sosial media lainnya.

Fenomena O-T-O ini adalah sebuah fenomena dimana orang-orang yang memiliki minat, perhatian, tujuan dan kepentingan untuk sekedar memberikan hiburan kepada diri sendiri dan orang lain ini dapat membuat O-T-O ini menjadi begitu populer, diperhatikan dan diapresiasi. Lalu bagaimana dengan suporter yang notabene adalah sebuah organisasi massa yang mempunyai ikatan batin, persamaan rohani, dan mempunyai struktur yang jelas? Apakah mereka tidak mungkin dapat menciptakan pengaruh besar terhadap dunia sepak bola di Indonesia?

Suporter klub sepak bola sejatinya terbentuk oleh ikatan batin dari persamaan kehendak, tujuan dan ide yang kemudian tanpa ikatan tertulis mereka memiliki nilai norma, identitas dan tujuannya sendiri-sendiri.  Melihat dari pemahaman tersebut haruslah disadari bahwa suporter sepak bola, dan suporter O-T-O memiliki perbedaan yang mencolok, dimana yang paling penting adalah bahwa suporter O-T-O lebih rentang bubar karena sifatnya yang POPuler sehingga lebih rentang bubar termakan oleh kekinian yang lebih menarik.

Jika suporter O-T-O berhasil memberikan pengaruh kepada supir bus untuk memodifikasi bunyi klakson busnya untuk memberikan persembahan terbaik kepada supporternya (BIS MANIA) yang tanpa mengenal waktu rela berkerumun menunggu di pinggir jalan sembari membawa tulisan Om Telolet Om, atau berteriak sambil mengacungkan ibu jari kepada setiap bis yang lewat. Sebuah pembuktian hukum aksi dan reaksi, apresiasi terhadap rasa cinta dari para penggemar yang rela menunggu untuk girang bersorak saat klakson dibunyikan. Lalu kenapa supporter sepak bola tidak yakin terhadap kekuatan yang dimiliki untuk merubah kondisi klub idolanya.

Memang tidak perlu dipungkiri bahwa supporter tidak selalu diisi dengan orang-orang yang militan dalam mendukung klub sepak bolanya. Alih-alih mengkritik manajemen klub tentang ketidakbecusan dalam kepengurusan, untuk sekedar hadir dengan tidak mbludus saja masih menjadi pekerjaan rumah bagi supporter. Dalam perkembangannya, suporter dikategorikan sesuai dengan tingkat kecintaan dan model perjuangannya dalam mencintai klub, dari sekedar suporter aktif atau pasiv, suporter musiman, suporter layar kaca, suporter abal-abal, loyalis, militan dan masih banyak lagi. Memunculkan rasa pesimis tersendiri jika mengetahui bahwa organisasi masa yang diharapkan mampu membawa perubahan terkendala oleh adanya kelamahan dalam diri sendiri.

Sangat mengesankan memang jika menilik kepada supporter SS Lazio dan Livorno, Al-Ahly dan Al-Masry atau suporter Celtic dan Rangers. Bukan untuk terkesan dengan kerusahan yang mereka ciptakan, tetapi tentang bagaiamana para suporter tersebut  menjadikan klub sepak bola mereka menjadi simbol perjuangan dari idealisme mereka. Dengan kesadaran kolektif seperti para suporter di atas, maka tidak mungkin suporter dapat mengontrol keuangan klub, dari transparasi anggaran sampai kepada transfer pemain, bahkan sampai kepada kepemilikan hak dalam pengambilan keputusan terkait kebijakan klub. Hal ini dicontohkan oleh Ultras St. Pauli. Suporter juga dapat menjadi sebuah wadah protes terhadap isu-isu yang berkembang, meski biasanya terkait dengan permasalahan kaum marjinal, tragedi kemanusiaan dan lain-lain. Jika mau jujur, suporter memiliki tempat dan moment yang unik dalam mengaktualisasikan dirinya, kenapa? karena sepakbola adalah olahraga paling populer yang dilakukan dan disaksikan oleh separuh lebih populasi manusia di bumi.

Fenomena suporter di Mesir, Tunisia, Libya dan Turki adalah batu tapal yang mengingatkan bagaimana suporter sepakbola dapat dijadikan tempat yang nyaman untuk mengorganisir protes politik massa. Kekuatan massa dari suporter yang sangat besar haruslah disadari oleh para individu-individu suporter, tentu saja dengan kesadaran seperti ini akan menciptakan ruang suporter dapat mengontrol manajemen klub yang dicintainya, atau menjadikan kekuatan tersebut untuk menjadi sebuah senjata dalam melawan tiran yang mempolitisasi klub sepak bola. Bukan sebaliknya, kekuatan politik yang akhirnya mengontrol kekuatan yang dihasilkan oleh para suporter dengan mudahnya mengarahkan tiap korwil-korwil dalam pemilihan politik, ceramah kampanye, pencitraan pada saat adanya prestasi dari klub dan masih banyak hal menjijikkan lainnya. Pilihan ada pada kita, ingin menjadi suporter seperti apa.

Om Telolet Om

 15672757_1502745953073469_5220512687414000826_n

 

 Kemuliaan bagi penggemar sepak bola. Dari sinilah solidaritas dimulai. Dari sinilah patriotisme dimulai!”

 ( Persembahan kepada guru saya Ndan Iwan Samudra, mas Beny dan Suku Ultras Pasoepati. )

Beda & Bahaya

Gambar terkait

Kita tak pernah dididik untuk berkata hebat pada mereka yang memilih untuk menjadi dirinya sendiri, untuk menjalani pilihan.

Kita malu karena kita tidak menjadi sama, kita tidak memakai seragam, kita berbeda.

Realitas membentuk pandangan kita, menciptakan bahwa menjadi sama adalah kewajiban. Menjadi sama adalah keharusan demi kepantasan. Nilai wajib menjadi manusia.

Seperti agama, norma dan negara, memaksa kita menjadi satu garis sama, karena berbeda adalah bahaya.

Kos Baru, Anton Chekov dan Bongkar

6daabd5c95d8dd3580e48ba8267d74b0

Kamarku. Pojok nomor 5, ruangan persegi panjang sempit yang sengak oleh aroma pengharum ruangan. Mungkin karena masih baru, baru beli.

Rebahan sambil membaca buku Anton Chekov yang belum selesai, kipas angin berputar dengan bising, gagang penopangnya sudah rapuh dan menunggu sedikit sentuhan untuk patah saja. Angin yang keluar terasa ogah-ogahan. Cat putih kusam bekas telapak kaki berkeringat yang menempel di kanan – kiri, semakin musam di hantui bayangan hording merah yang menutup jendela.

Semua masih berantakan, hanger pakaian yang belum ditata, baju kotor yang menumpuk, dan berbagai perkakas kamar dari kontrakan yang belum dipasang. Hari ini masih sangat melalahkan, terlalu panas sehingga mendukung untuk malas, tak ada gairah.

Jam 4 sore. Lagu Iwan fals lagi, lagu yang jelas di putar dari handphone seperti sore sebelumnya. Dari jendela kamar aku mengintip tangga kos, yang kebetulan lurus dengan kamarku. Pasangan suami istri yang juga satu kos denganku sedang asik bercengkrama,  aku belum tahu nama mereka, menghafal wajahnya saja juga belum bisa. Mereka sudah beranak satu, dan sepertinya mereka rukun-rukun saja sebagai pasangan suami istri muda. Mereka adalah penghuni kamar no 1.

Tepat sebelah kamarku, kamar nomor 6, masih sepi, pintu tertutup rapat seperti biasa. Kamar yang juga di isi oleh pasangan suami istri, hanya saja mereka balik malam hari, berangkat pagi-pagi. Dari percakapan dengan ibu kos aku tahu bahwa mereka tidak bekerja pada kantor yang sama, hanya saja mereka selalu berangkat dan pulang bersama-sama. Aku juga tidak tertarik untuk bertanya bekerja dimana mereka, atau mungkin berdekatan. Mungkin saja.

Kamar nomor 7, di isi oleh perempuan, agak bongsor, masih lajang dan sepertinya bekerja. Aku tidak begitu yakin, hanya saja dari analisisku yang seasalnya, sepatu yang terparkir di depan kamar bukanlah sepatu yang biasa dikenakan oleh mahasiswa, atau sepatu pekerja pabrik. Mungkin kantoran, untuk jadi sales sepertinya tidak.

Kamar nomor 2 diisi oleh mbak-mbak LC, bukan Legion Commander dalam DotA2 ya! Kalau dari penangkapan sepintas, mungkin satu kamar diisi 3 orang, aku juga tidak tahu pasti, mereka tertutup, seperti vampir, siang hari tidur di kamar, dengan horden jendela yang tertutup rapat, silau mungkin mereka terkena sinar matahari, atau agar anak-anak remaja kamar nomor 3 tidak seenak udel mereka melihat tubuh molek yang sedang tidur dengan pakaian minim.

Anak-anak kos nomor 3 adalah anak-anak Vespa, sepertinya. Aku belum pasti mengenal mereka. Anak-anak kos nomor 3 sering nongkrong dengan penghuni kos nomor 4. Yang kebetulan juga sudah suami-istri, hanya saja masih muda, mungkin lebih muda daripada aku. Mungkin rentang umur yang tidak begitu jauh yang membuat mereka menjadi gampang akrab.

Kamar nomor 8 adalah kamar gaib, menurut sepenangkapanku seperti itu, kamar yang harusnya kosong tidak boleh di tempati atau disewakan, entahlah apa maksudnya. Hanya saja memang cukup mengerikan jika di jadikan tempat menginap, terlalu pojok, terlalu tersembunyi dan yang pasti sepi.

Aku menghentikan bacaanku tentang Anton Chekov, pertanyaan anak dari kamar no 1 tentang lagu Bongkar mengusik konsentrasiku. Sebuah perkara yang menarik, entahlah. Tapi memang itu yang kurasakan, pertama aku ingin mengetahui apa yang akan di berikan oleh sang ayah tentang pertanyaan dari sang anak. Dan yang kedua adalah, kenapa sang anak bertanya hal seperti itu? Aku selalu ingin tahu alasan terhadap sesuatu, dan memang hal ini menarik.

Kutajamkan pendengaranku, ingin mendengar jawaban dari orang tua si anak, takut samar-samar lagu Balada orang-orang pedalaman mengaburkan perkataan yang ingin kudengar.

Aku tidak begitu jelas mendengar, hanya saja aku rasa sang ayah sudah memberikan jawaban pada sang anak. Ah sialan. Suara ayah anak itu terlalu lirih, aku tak bisa mendengar, bahkan untuk menerka pun aku tak punya bahan untuk dikawin silangkan.

Yang tersisa tinggal mencari tahu, apa alasan sang anak bertanya seperti itu. Apa yang membuatnya tergerak untuk mengerti makna kata Bongkar dalam lagu Iwan Fals. Kekuatan atau badai neuron apa yang membuatnya berpikir demikian. Semua pisau analisis coba ku kumpulkan, dari konsep yang paling sederhana sampai yang tidak aku mengerti dan hanya aku paksakan aku kumpulkan.

Loncatan dan keberanian pikiran seperti ini sesuatu yang menarik, keinginan, dorongan atau apapun itu. Baiklah, mari kita uraikan, mari kita sayat pelan-pelan dengan pisau analisis yang telah kita siapkan.

Ah, tapi agaknya saya masih terlalu malas. Anton Chekov memanggil, mengajak untuk kembali muram dalam kamar kusam yang semakin gerah ini. Suara bising kipas mengilang, kipas berhenti tiba-tiba, aku hanya melirik tak peduli. Dan buku Anton Chekov ambruk tepat diwajahku. Aku mau tidur saja.