uh173-a7d3f42b-b1b1-4ff7-9f13-0a4cea662442-v2

Baiklah, lama-lama akhirnya saya gemes juga untuk membahas masalah Ahok dan Al-Maidah 51. Mungkin sudah terlambat, sudah basi dan sudah banyak yang membahasnya. Tetapi tidak ada salahnya saya mengangkat tema ini lagi, karena mungkin bisa menambah daftar tulisan di blogku sendiri, dan gosipnya akan ada acara demo susulan untuk menanggapi aksi 4 November kemarin.

Baiklah, Seperti biasa, sangat susah untuk menulis tentang suatu bahasan hanya dari satu sudut pandang saja, maka dari itu saya akan menggunakan cara dialog agar kita mendapatkan gambaran yang (semoga) objektif.

Kita mulai saja, anggap saja ada dua anak manusia yang cantik jelita, satu bernama Hamida, dan satu lagi bernama Septiana. Mereka adalah mahasiswa di suatu kampus Swasta terkenal di kota Solo. Sedang duduk-duduk menunggu dosen yang katanya bakal telat datang.

Ana : Ah, kita bangsa yang besar tetapi sayang pikiran bangsa kita ini banyak yang sempit.

Celetuk Ana tiba-tiba, sembari menscroll layar hpnya, tampaknya dia sedang sibuk membaca isi berita yang sering muncul di layanan aplikasi Facebook dan share-share berita dari teman-teman facebooknya.

Ida : Masalah Ahok?

Ana hanya manggut-manggut tetapi tidak melihat Ida yang sudah sedikit tegang.

Ida : Ana, Permasalahan Ahok bukanlah permasalahan suku, antar agama, atau golongan. Tetapi murni karena sikap Ahok yang kelewat batas mempermainkan Al-Quran seenak congornya dia.

Ana terdiam, kaget. Kenapa tiba-tiba teman baiknya Ida menanggapi kata-katanya dengan sebegitu seriusnya. Sedikit dia mengkrenyitkan kening, ah jangan-jangan masalah Ahok masih tetap menjadi masalah sensitif yang belum selesai di sebagian hati orang lain.

Ida : Sudah jelas-jelas salah tidak perlulah lagi dibela.

Lanjut Ida tiba-tiba, padahal belum usai heran dalam hati Ana tentang perubahan sikap dari teman satu kelasnya ini. Ana tidak mau terburu-buru menyimpulkan, meski dalam benaknya, jangan-jangan, atau bisa saja, Ida adalah fans dari salah satu cagub di Jakarta yang ganteng. Ah tidak baik berprasangka buruk. Bisa saja Ida memang marah dan tidak menyukai Ahok yang telah menghina Al-Quran. Menistakan Agama Islam karena menghina Al Maidah 51.

Ana : Iya Ida, yang salah juga sudah berinisiatif datang ke kantor polisi untuk di proses tentang kasus Al Maidah kok Da, juga sudah meminta maafpun kepada seluruh umat Islam atas perkataannya terkait Al Maidah 51. Nah kemarin kok masih demo itu untuk apa ya Da? Apakah muslim di Indonesia sudah begitu mudahnya menjadi pembenci daripada pemaaf? Apakah sudah lupa cara santun untuk menasehati pemimpin seperti yang diajarkan oleh Nabi?

Ida : Kau membela Ahok ?

Entah kenapa ada perasaan menyesal telah bekata sedemikan banyak, sehingga membuat Ana berpikir Ida sedikit marah padanya.

Ana : Saya tidak membela Ahok Ida, saya hanya sedih melihat muslim di Indonesia.

Ida : Cukupkah ? Apakah ini kelihatan berlebihan, salah kalau membela apa yang turun dan benar-benar murni dari Allah ?

Ana terdiam, menyimak sahabatnya. Diluar hujan mulai turun, angin sesekali berderu. Didalam kelas cuma tinggal Ana dan Ida saja. Yang lain sepertinya sudah masa bodoh dengan kosong atau tidaknya mata kuliah yang mau diisi oleh dosen yang suka telat itu.

Ida : Muslim di Indonesia tidak akan jadi pembenci kalau hinaan yang dilontarkan hanya diri pribadi Na, ini masalah Aqidah, selama ini gak ada protes kalau Ahok ngomongin DPR Taik lah, dan segala macamnya. Karena dia mengarahkannya kepada hal yang bukan bersifat Agama Na, ini Al-Quran Na! Pedoman hidup kita dijadikan lelucon sama dia !!

Ana melihat jendela, tidak berani dia melihat Ida.

Ida : Rasulullah memang santun dan bijaksana Ana, tetapi dia akan memerangi siapapun yang menghina Agama Allah. Memang saya masih muda Na, bahkan ilmu agama saya masih belum seberapa jika dibandingkan dengan yang lainnya. Tapi untuk urusan ini, Ida marah. Tetapi marah Ida semata-mata karena Ahok yang menistakan agama, bukan perkara Agam yang Ahok anut, ataupun etnis dari Ahok yang Cina.

Sejenak semuanya diam, sibuk dengan pikiran masing-masing, mengumpulkan beberapa pendukung untuk memantapkan pendapatnya.

Ana : Bolehkah aku menyela Ida ?

Ida : Boleh, Silahkan.

Ana : Apakah kau tidak mencium ada yang aneh dengan kejadian ini semua?

Ida : Maksudmu?

Ana : Begini, pernahkah kau berpikir ini sesuatu yang lucu? Atau menarik?

Ida terdiam mencoba menelaah apa yang sebenarnya di kepada temannya ini. Kesambet apa temannya ini bisa berkata lucu tentang kasus Al-Maidah 51 yang jelas-jelas serius.

Ana : Begini Ida, coba kita berpikir melompat dulu, kita keluar dari kotak dan memposisikan diri kita netral. Kemudia kita amati dengan seksama, apa yang sebenarnya terjadi didalam kotak dinamika kasus Ahok ini.

Ida : Model apaan seperti itu? Kau tidak mau berpikir menjadi seorang muslim dalam melihat kasus ini Na ? Maksudnya apa ini ?

Ana : Bukan begitu Da, ini masih dalam ranah politik, proses Ahok berkata demikian juga ada muatan politik dalam menghadapi Pilgub. Masyarakat kita gampang di setir dan di tunggangi. Kalau sampai tujuan Ahok memang murni menghina, ya ayo kita minta dia di hukum. Masak ya seceroboh itu Ahok berpolitik.

Ida : Baiklah, coba uraikan bagaimana maksudmu itu Na.

Ana : Begini Ida, pertama mari kita coba pandang masalah ini bukan hanya dari satu sudut saja, seperti detektif-detektif berkata, untuk menyelediki suatu kasus, cobalah memandang dari segala arah. Sehingga kita bisa lebih objektif. Boleh saya bertanya Da ?

Ida : Boleh, Apa ?

Nada jutek

Ana : Menurut Ida, kenapa Ahok sampai berkata / membahas Al-Maidah 51 di kepulauan Seribu ?

Ida : Ya untuk pemilulah, biar mereka yang Islam tetep mau milih Ahok nanti.

Ana : Tepat sekali. Jadi munculnya Al-Maidah 51 karena adanya faktor mau menjelang Pilgub 2017. Oke, boleh saya lanjutkan Da?

Ida : Ya

Ana : Berangkat dari tema dasarnya adalah Pilgub 2017. Mari kita coba kumpulkan beberapa fakta dulu sebelum menuju ke analisis. 1) Ahok Non Islam, 2) Ahok orang Politik / Pemerintahan.

Ida : Lalu, hubungannya ?

Ana : Mari kita sambungkan Da, pertama-tama kita kaji ini dulu deh, kenapa Ahok non Islam tahu tentang Al-Maidah 51 dalam persoalan pemilihan kepemimpinan? Kenapa sampai Ahok harus ngomong/ bahas Al-Maidah 51?  Kenapa sampai harus bawa bawa hal yang diluar pemahaman dia?

Ida : Ehmm…..kenapa emangnya sampai Ahok begitu? kalau diluar pemahaman dia harusnya dia gak bawa-bawa hal itulah Na. Cari masalah itu dia namanya.

Ana : Nah, kita sudah dapat poin dulu, Ahok harusnya gak usah bawa-bawa ayat Al-Maidah 51 dalam kampanye, karena bukan kapasitasnya, dia bukan orang Islam, bukan ulama. Tetapi kenapa dia masih tetap ngeyel?

Ida : Sebentar! Dari tadi kamu tanya. Kenapa? Kenapa? mulu Na.

Ana : ehmmm ya soalnya kalau langsung memberi pendapat atau memaksakan pandangan nanti kita Cuma jadi saling gontok-gontokan. Tetapi kalau kita cari bareng, kita bisa melihat dengan persepsi yang sama. Kalau misalnya kamu protes dan memberi masukan boleh kok Na. Biar kita bisa menemukan sesuatu itu sama.

Ida : Oke, lanjut.

Ana : Nah, kenapa sampai Ahok berkata demikian Na?

Ida : Tanya saja sama Ahok sendiri? Hanya Ahok yang tahu kenapa. Setress kali.

Ana : Seperti tema di awal tadi Da, Ahok berkata demikian karena berkaitan dengan pilgub, lalu Ahok berkata demikian karena adanya kampanye yang menyuarakan untuk menolak pemimpin non Islam dengan menggunakan dalil Al-Maidah 51. Dari situlah Ahok berkata, jangan mau dibohongi pakai Al-Maidah 51.

Ida : lalu? dengan dasar cerita ini kamu mau bilang Ahok tidak menistakan agama?

Ana : Sabar Ida. Saya lanjutkan boleh?

Ida : hmm

Ana : kita catat dulu pertama adalah “banyak yang menyerang Ahok dengan memakai Al-Maidah 5 agar tidak memilih dirinya.” Dan yang kedua “Ahok membela diri dengan mengatakan bahwa Al-Maidah 51 dipakai untuk membohongi” Aksi dan Reaksi.

Ida : Terus

Ana : dari situ kita kumpulkan beberap point lagi deh , 1) Al-maidah 51, 2) Ahok bukan calon non muslim Pertama dalam pemilihan gubernur, 3) Ahok bukan orang tafsir / paham Al-Quran. 4) Ahok ikut Pilgub.

Ida : Lanjut

Ana : Baiklah, kita mulai lagi, jika kita melihat catatan di pemilihan umum, kita akan dapati tidak sedikit partai yang berasaskan islam mengangkat pemimpin daerah, gubernur, walikota dll meskipun dia non islam. Ataupun tidak diangkat oleh partai non Islam, nyatanya di pimpin oleh pemimpin non islam pun juga tidak ada masalah. Contohnya adalah Fx Rudi dan Gubernur Kalbar. Kalau masih kurang bisa searching deh Da.

Ida : ya memang benar, tapi masalahnya adalah tentang mulutnya Ahok yang gak bisa di jaga, nyatanya Kalbar sama Solo tidak rusuh. Karena pemimpinnya santun, perkataanya tidak melukai umat Islam.

 Ana : Iya benar, meskipun pemimpin itu bukan dari non muslim, selama santun maka tidak akan ada masalah. Benar ?

Ida : Kenyataannya demikian.

Ana : Baiklah, jadi pemimpin non muslim tidak apa-apa? Selama dia santun tidak masalah?

Ida : Ya, nyatanya Kalimantan Barat dan Solo saja deh kamu lihat, boleh dan tidak ada apa-apa kan?

Ana : Dengan alasan sepeerti itu, berarti Al-Maidah 51 tidak berlakukah? Karena akhirnya kita membiarkan pemimpin non muslim, dan di usung pula oleh partai Islam.

Ida : Eh

Ana : Atau jangan-jangan Al-Maidah 51 hanya untuk Ahok saja?

Semuanya terdiam, merenungi, meresapi dan akhirnya menemukan jawaban pasti bahwa akhirnya mata kuliah saat ini benar-benar kosong.

Ana : Begini Ida, sebenarnya menjadi sebuah dilematis tersendiri terhadap Agama dan Politik di Indonesia ini. Pertama, sudah menjadi sunatullah Indonesia menjadi negara yang majemuk, negara yang berbhineka. Dan dengan sebuah perjuangan berat akhirnya para pendahulu kita mengukuhkan dasar negara kita dengan Bhineka Tunggal Ika.

Dilanjutkan dengan bahwa tanpa kita pungkiri sejarah telah mencatat pemimpin pemimpin daerah dimasa lalu kita yang non muslim, dan semua berjalan baik-baik saja, tidak ada masalah sampai sebesar ini, tidak ada yang menggugat dengan demonstrasi apapun.

Lalu jika kemudian Ahok, tiba-tiba mengatakan jangan mau dibohongi pakai Al-Maidah 51 itu menjadi sesuatu yang masuk akal, kenapa?

  • Pemimpin non muslim sudah banyak sejak Indonesia merdeka
  • Pemimpin di luar negeri non muslim juga ada

Maka Ahok yang bodoh, yang bukan muslim berkesimpulan bahwa Al-Maidah 51 itu bukan tentang pemilihan pemimpin. Ataupun jika yang dimaksud memang sebagai pemimpin, pemimpin yang dimaksud adalah seperti halnya Khilafah bukan tentang Gubernur dll. Sedangkan Gubernur hanyalah abdi, yang bekerja untuk rakyat meski dalam anggapan dia disebut pemimpin. Maka alasan inilah kenapa Ahok bisa bilang bahwa Al-Maidah 51 dipakai alat untuk membohongi. Karena mungkin bagi Ahok, Al-Maidah bukan seperti itu maksudnya.

Tetapi jika iya ternyata bahwa Al-Maidah 51 adalah tentang tidak bolehnya memilih pemimpin non muslim, maka kita harus tanyakan kepada partai-partai yang mengaku berasaskan Islam untuk mengkoreksi diri, apa yang selama ini dilakukannya dengan mendukung calon non muslim? Dan, dimana para ulama? Dimana FPI? Bukankah itu sama saja mereka membiarkan syarat wajib dalam hukum islam dilanggar?

Bisakah kau pikirkan ini Da ?

Ida : Permasalahannya adalah Ahok itu menistakan Al-Maidah 51 ! Paham !

Ana : Baiklah, coba bersabar Da, jika yang dimaksudkan dengan menistakan menganggap Al-Maidah 51 itu bohong, maka wajarlah, karena selama ini Ahok pun melihat Al-Maidah 51 di diamkan saja, saat partai Islam mengangkat pemimpin non muslim. Jadi bagi orang bodoh agama Islam seperti Ahok (dan kita pada umumnya, yang Islam hanya sebatas ngaji gak pernah mau ngarti) Al-Maidah 51 bukan bermakna seperti itu. Toh dalam kenyataannya semua baik-baik saja selama ini saat mengusung calon pemimpin non muslim.

Ida : Oh, Kau pembela Ahok ternyata?

Ana : Tidak Ida, bukan-bukan seperti itu, hanya saja. Coba kita lihat masalah ini lebih bersih lagi, jika boleh saya simpulkan dari kasus ini, semua ini hanya kesalah pahaman pemaknaan tentang Al-Maidah 51, yang dilakukan oleh orang politik, dan apesnya lagi orang itu bukanlah orang islam.

Ida : Makanya jangan bawa bawa agama orang lain dalam kampanye tu Ahok !

Ana : Dan tanyakan kepada partai Islam yang kadang bawa Al-Maidah 51 untuk kalahkan lawan politiknya, dan kadang amnesia tentang ayat Al-Maidah 51 saat ada butuh dengan orang non muslim. Kapan siap untuk mengumpulkan para ulama (ulama beneran) agar mengklarifikasi apa makna Al-Maidah 51 sebenarnya, agar semua bisa konsisten dan tidak menjadi multitafsir.

Ida : Ya.

Ana : Jadi, Ahok memang bersalah, salah karena berani mengatakan Al-Maidah 51 sebagai alat untuk membohongi. Belajar sifat multitafsir ayat sesuai kepentingan politik yang diajarkan oleh partai Islam di Indonesia. Yang pasti beliau sudah meminta maaf, dan memberikan sikap positif dengan meminta kasusnya di proses oleh polisi.

Ida : Tetap sajakan berarti dia menistakan?

Ana : Begini Ida, dalam Islam, seseorang saja dikatakan tidak dicatatat dosanya jika dia melakukan sesuatu hal yang tidak diketahui bahwa yang dilakukan adalah perbuatan dosa. Kita ambil positif dalam berpikir saja Da, apakah tidak ada angin tidak ada hujan Ahok tiba-tiba mau melecehkan Al-Maidah 51? Terlebih jika dari video itu dan memahami konteks apa yang sebenarnya terjadi di sekitarnya, tentu akan sangat wajar jika Ahok tiba-tiba berkata demikian. Bukankah begitu?

Ida : Kau pendukung Ahok. Aku sudah tahu itu.

Petir bergelegar, hujan diluar semakin deras, dan Ana mendadak ingin kesurupan saja.