a118_technology-is-what-makes-us“Manusia tidaklah boleh mengabdi kepada teknologi, tetapi teknologilah yang harus mengabdi kepada manusia. Mengkaji tentang teknologi dan manusia haruslah dikaji secara holistik, menyeluruh, tidak hanya memandang teknologi sebagai hasil pencapaian manusia, tetapi juga dari sisi humaniora1-nya”,

“Aku sependapat denganmu soal pentingnya mengkaji teknologi melalui kacamata holistik Ngun, tetapi sejauh mana masyarakat kita mau mengerti tentang ini?” lanjut pertanyaanku pada Mangun.

Mangun tersenyum, pertanyaanku mungkin terlalu dangkal, atau sebetulnya menarik, aku tidak tahu secara pasti, mungkin bakal berbeda pertanyaan yang akan ditanyakan oleh Magnus jika dia jadi datang malam ini.

Knowledge is power, dan Power tidak mau knoweledge berkembang seenaknya Mbiz, dan jembatan antara keduanya saat ini adalah teknologi, anak dari knowledge dan power katakan saja begitu. Secara umum kita tahu bahwa teknologi bersifat netral jika tidak dipraksiskan, tetapi Negara kita dulu memanfaatkannya dan mengendalikannya untuk kepentingan-kepentingan kekuasaannya”.

“Tentang masyarakat kita saat ini………”

Aku mencoba menyela dengan pertanyaan lainnya, tetapi buru-buru Mangun menyuruhku diam, mungkin dia tahu bahwa jawaban yang baru saja dia jawab tidaklah cukup untuk memuaskanku, dan dengan tenang Mangun melanjutkan perkataanya.

“Bangsa kita telah lama disetting melalui dunia pendidikannya untuk tidak mencari nilai-nilai kebenaran Mbiz, searching for the truth nya lemah. Mental inovasi, eksplorasi, dan keberanian mencari jalan alternatif, lateral thinking, love for the truth fair play tidak laku pada masa itu, masa orde baru. Semua harus sama dan seragam. Berbeda itu tidak baik, salah atau bahaya adalah propaganda yang menjadi momok bagi benih pikiran-pikiran muda”

Aku mengangguk, mencoba mengerti.

“Kondisi masa lampau jauh sekali dari jiwa iptek yang cermat, tekun dan tidak menyukai jalan pintas Mbiz, tetapi seiring dengan perkembangan iptek, keluasan akses untuk mencari sumber-sumber pengetahuan terbuka luas, ditambah dengan tidak otoriternya lagi kekuasaan di Negara ini yang dulunya hobi menutup-nutupi bahasan yang dianggap membahayakan kekuasaan. Dengan kata lain Mbiz, bangsa kita sedang kembali memperoleh kebebasan untuk melakukan apa yang seperti Gandhi tadi ucapkan “searching for the truth””.

“Generasi muda sekarang ini Mbiz, rasa dahaga atas ilmu pengetahuan seharusnya tidak cukup dihapuskan dengan ilmu pengetahuan murni saja, yang melulu memberikan informasi yang up to date tentang iptek. Tetapi mereka juga haruslah mencari tentang ilmu pengetahuan yang akan membawa mereka berpikir kritis, membuka wawasan dan merangsang pemikiran-pemikiran kreatif untuk menciptakan suatu inovasi baru, dan kemudian mereka akan naik level saat semua itu tercukupi dengan mencari ilmu pengetahuan yang membawa mereka menjadi seorang generasi yang memiliki prinsip, memiliki mental yang terdidik, dan menjiwai ilmu pengetahuan itu sendiri”.

Mangun terdiam sejenak, menyeruput kopi hitam kesukaannya, kopi hitam kental tanpa gula, aku membiarkan dia sejenak dengan kopinya, membiarkan kerongkongannya sedikit lega setelah berbicara.

“Apa pentingnya memiliki prinsip, memiliki mental terdidik Ngun? Bukankah persoalan iptek pada bangsa ini adalah bagaimana iptek membawa bangsa ini maju, menjadikan negara ini menjadi negara maju dan tidak melulu menjadi negara berkembang?”

Mangun geleng-geleng, tanda tidak setuju yang aku tangkap, terlebih dari ekspresi wajahnya yang terlihat tidak puas dengan pertanyaanku.

“Pentingnya memiliki prinsip dan mental yang terdidik adalah agar Bangsa kita tidak grothal­-grathul yang ujungnya meniru-niru tanpa sikap terlebih untuk mengadapi permasalahan yang dihadirkan oleh kebebasan ilmu pengetahuan, yaitu tentang pertanyaan adakah batasan-batasan manusia untuk melakukan apapun dengan iptek”.

Aku mengangguk, mencoba memahami meski agak sulit.

“Lalu apakah universitas / sekolah-sekolah juga mengajakan demikian Ngun? Sejauh pengamatanku, lembaga pendidikan kita belum sepenuhnya mendidik dengan cara demikian.”

“Memang jika kita mau objektif memandang, universitas atau sekolah-sekolah di Indonesia saat ini belumlah mendidik dan menciptakan manusia yang seperti itu. Tetapi pemuda kita saat ini tidak sedikit yang tertarik untuk mencoba belajar di universitas-non formal. Universitas-non formal seperti buku-buku bacaan yang tidak disinggung di kampus / sekolahan-sekolahan ikut berperan serta dalam mendidik bangsa kita. Dan universitas non-formal bukan hanya melalui buku-buku saja Mbiz, tetapi juga bisa melalui media elektronik seperti melalui internet dimana setiap orang bebas mengakses kebutuhan untuk menambah pengetahuan sesuai dengan bidang yang diinginkan juga menjadi bentuk kemajuan teknologi yang perlu kita syukuri saat ini”.

“Yang terpenting dan perlu kita sadari adalah bahwa iptek secara abstrak itu netral Mbiz, bisa baik dan bisa buruk. Tinggal mau dibawa kemana iptek tersebut digunakan oleh manusia. Iptek itu adalah raksasa dunia, hasil pencapaian evolusi dipandang dari sudut hasil intelektual pemikiran manusia, maka sesuatu yang baru dan memiliki potensi untuk dapat dimanfaatkan meraih kekuasaan sangatlah mengiurkan, maka dari itu Humaniora diperlukan berjalan seiringan dengan kemajuan iptek”

“Aku mengerti” jawabku pendek.

Dan Mangun meminum kopinya lagi, matanya tenggelam dalam cairan hitam dalam cangkir yang digenggamnya, tanpa ekspresi.

  1. Humaniora : Adalah ilmu-ilmu pengetahuan yang dianggap bertujuan membuat manusia lebih manusiawi, dalam arti membuat manusia lebih berbudaya.

Terinspirasi dari buku Kata-kata terakhir Romo Mangun. Kompas.