Jika tipe otot dapat diklasifikasikan kedalam tipe I dan II berdasarkan fungsi gerakan dan diukur dengan metabolisme yang dilakukan. Maka bisa dikatakan juga bahwa otot bisa terbagi menjadi otot aerobik dan otot anaerobik?

Seperti diketahui bahwa dalam mekanisme kontraksi otot menggunakan ATP sebagai sumber energi, yang dalam penyediaan energi ATP tersebut tipe otot memiliki jumlah yang berbeda, seperti pada tipe otot I atau yang bersifat slow, tipe otot ini memiliki ATP dalam jumlah banyak, sedangkan pada tipe otot II yang bersifat fast, memiliki ATP dalam jumlah sedikit dan sebagian lain masih disimpan dalam bentuk ADP.

Hal lain yang perlu diperhatikan dalam penilaian tentang tipe otot adalah kecepatan penyediaan energi dan nutrisi sampai di dalam proses kontraksi otot. Yang jika diurutkan dalam porses metabolisme secara general ke lokal adalah, adanya kemampuan fungsi optimal dari sistem kardiorespirasi, 2) Co-Enzim yang mengaktifkan enzim. Misal Acetyl Co-Enzim A untuk mengaktifkan Co-Enzim A dalam siklus Kreb, 3) Ketersediaan enzim sebagai katalisator reaksi. Misalkan Myokinase untuk pembentukan ATP di otot, dan 4) Mass action atau kemampuan suatu substansi dalam menimbulkan reaksi yang luas, misalkan oksigen.

Yang menjadi persoalan lagi adalah bahwa penyediaan sumber bahan oksidasi untuk pembentukan ATP yang bisa berasal dari Protein, Karbohidrat dan Lemak, hal ini tentu akan berpengaruh terhadap latihan dari suatu otot, mengingat proses dan hasil dari sintesis ketiga kandungan tersebut. Lemak lebih cepat dalam proses pencapaian pembentukan Acetyl Colin A dibandingkan dengan Karbohidrat dan Protein. Oleh karena itu lemak menjadi sumber pembentukan energi yang tepat untuk gerakan dengan metabolisme Aerobik. Proses pembentukan seperti ini berkesuaian dalam mencukupi kebutuhan energi dalam waktu yang lama.

Seseorang yang melakukan latihan aerobik akan mendapatkan respon tubuh dalam hal metabolisme energi dan peningkatan stamina (Kapiler meningkat, penurunan lemak, dan peningkatan FFA)

Meskipun demikian, dalam pembentukan kekuatan otot, ada faktor-faktor lain yang mempengaruhi, diantaranya adalah panjang otot, kecepatan kontraksi, besarnya otot, kontrol neuro muskular, jenis kelamin, jumlah motor unit yang terangsang, frekuensi rangsangan dan kelas leverage.

Jenis latihan aktif ada dua macam yaitu Aerobik dan Anaerobik, latihan yang menjadi pertanyaan apakah berkesuaian dengan tipe otot I dan II. Latihan aerobic adalah latihan yang pada saat berlangsung kebutuhan energi dapat selalu terpenuhi oleh tubuh. Oleh karena itu metabolisme energi di dominasi oleh lemak. Ciri-ciri latihan aerobic adalah memiliki pola gerakan lambat, intesitas latihan sedang, sekitar 60% VO2Max dengan HR=HR rest + 60% (220-Usia), melibatkan otot sebanyak mungkin, pengulangan gerak minimal 6 kali, lama latihan minimal 30 menit. 3 kali dalam satu minggu.

Efek yang diperoleh dari latihan aerobic ini adalah adanya peningkatan stamina dan penurunan obesitas karena adanya pembakaran lemak. Sedangkan untuk latihan anaerobic adalah kebutuhan O2 pada saat latihan tidak dapat langsung terpenuhi oleh tubuh, sehingga latihan tidak dapat berlangsung lama, hanya berkisar 10-15 detik dan metabolisme energi didominasi oleh sistem phosphagen. Hal ini berakibat cepatnya meningkat kadar asam laktat. Ciri-ciri latihan anaerobic adalah memiliki gerakan cepat, intensitas latihan yang tinggi sekitar 80%VO2Max, yang terlibat dalam latihan hanya kelompok otot tertentu, pengulangan gerak tidak perlu banyak dan latihan dapat dilakukan sesering mungkin.

Latihan anaerobic ini memiliki efek yang tidak lain adalah adanya peningkatan kekuatan otot, dan peningkatan kecepatan gerak. Dalam setiap latihan kita tidak boleh melupakan dua komponen utama dalam sebuah latihan, yaitu pemanasan (warming up) dan pendinginan (cooling down). Warming up perlu dilakukan untuk meminimalisasi defisit oksigen, dan mempersiapkan neural control dan sistem kardiovaskular, sedangkan fungsi utama cooling down adalah untuk resintesa ATP-CP pada fase alactacid saat grafik menurun tajam dan resintesa glycogen dan oksidasi asam laktat saat grafik menurun landai.

Asam laktat akan dikonversi menjadi glycogen di otot, dan langsung di konversi menjadi ATP, menjadi asam piruvat yang selanjutnya akan masuk ke siklus Kreb à electron transfer system à ATP.