Mendengar penyakit stroke tentu dalam benak kita yang terbayang adalah orang tua dengan wajah perot, mulut mengeluarkan liur dan badan yang lumpuh. Baik dalam bentuk kelumpuhan kaku ataupun lunglai tidak bisa digerakkan.

Stroke pada awalnya adalah berupa nyeri kepala akut, tidak sadarkan diri, kejang-kejang dan muntah. Dan memiliki gejala lebih lanjut berupa kelemahan/ kelumpuhan badan satu sisi. Gangguan menelan, berbicara dan melihat. Bahkan lebih buruk bisa sampai kepada gangguan daya ingat dan gangguan koordinasi.

Membayangkan kondisi seperti itu tentu akan memunculkan kengerian jika dikemudian hari hal ini akan menghampiri kita, terlebih jika ada riwayat dalam keluarga kita yang memiliki penyakit tersebut. Pertanyaan selanjutnya adalah, adakah penyakit itu suatu saat akan kita derita.

Dalam dunia medis kita mengenal istilah Polimorfisme yang merupakan adaptasi genetik yang menjadi penentu dalam terjadinya stroke karena faktor keturunan. Hal ini menjadi rambu-rambu kuning jika dalam riwayat keluarga kita memiliki penyakit tersebut. Hal ini didukung penelitian bahwa Stroke sepanjang tidak menyangkut faktor gen, umur, jenis kelamin dan ras, stroke adalah penyakit yang bisa dihindari yang dilakukan oleh Syahrul yang tidak lain adalah ahli saraf dan direktur rumah sakit umum Dr Zainoel Abidin, Banda Aceh.

Penyebab dari stroke pun memang bermacam dan multi faktor. Begitu juga dengan jenis stroke, ada stroke iskemik dan stroke hemoregik. Stroke iskemik adalah stroke yang terjadi akibat adanya penyumbatan pembuluh otak. Sedangkan stroke hemoregik terjadi akibat adanya pecahnya pembuluh darah dalam otak. Di Indonesia jumlah penderita stroke iskemik memiliki angka yang sama dengan di dunia, yaitu mencapai 85% persen dari total penderita stroke. Besarnya angka ini bisa diakibatkan karena benarnya bahwa stroke dapat diturunkan karena adanya faktor genetik. Salah satu gen penentu yang menunjukkan pengaruh kuat terhadap stroke adalah gen APOE. Gen APOE dalam fungsinya bertugas memberikan instruksi kepada tubuh untuk membentuk protein yang disebut Apolipoprotein. Dari ketiga macam tipe gen APOE (E2, E3, dan E4). Orang dengan gen APOE E4 berisiko tinggi terhadap serangan jantung dan stroke. Hal ini karena APOE E4 lah yang menjadi petunjuk terjadinya penebalan dalam pembuluh darah atau yang lebih dikenal dengan arterosklerosis.

Bukan hanya gen APOE yang bertanggung jawab dalam stroke. Pada stroke iskemik, dua gen mereka mengalami polimorfisme atau adaptasi genetik yang tidak memiliki efek fisiologis pada individu secara langsung. Dua gen tersebut adalah Insulin Receptor Subtrat 1 (IRS-1) dan ACE. Dari kedua gen tersebut, hanya IRS-1 yang terbukti langsung menjadi faktor risiko stroke. Adapun faktor ACE hanya sebagai faktor risiko terjadinya hipertensi pada stroke iskemik.

Gen IRS-1 bertugas memproduksi protein yang sensitif terhadap insulin. Pada stroke iskemik terjadi polimorfisme Gly972Arg gen IRS-1, yang berarti asam amino glisin (gly) digantikan oleh Arigin (Arg) pada kode genetik 972. Selanjutnya jika terjadi polimorfisme akan ada gangguan fungsi IRS-1 dan penurunan sensitivitas insulin. Dengan hasil akhir munculnya arterosklerosis, resistensi insulin, dan Diabetes melitus tipe 2.

Adapun gen ACE ikut menentukan hormon pertumbuhan otot pembuluh darah. Polimorfisme pada ACE tidak jauh berbeda dengan yang terjadi pada IRS-1. Sehingga dapat kita tarik kesimpulan, untuk kita yang memiliki riwayat keluarga dengan penyakit stroke, ada baiknya kita mengecek dan mendeteksi kedua gen ini. Jika terbukti positif mengalami polimorfisme maka ada baiknya lebih berhati-hati terhadap pencetus terjadinya stroke, bisa berupa gaya hidup, aktivitas fisik, pola makan, konsumsi alkohol, hingga kebiasaan merokok. Semoga informasi ini bermafaat terhadap para pembaca.

Referensi : Tempo Januari 2014.