lucy2reconstsmh

Banyak pertanyaan menarik yang saya dapatkan setelah melihat film “Lucy”, sebuah film yang mengangkat tentang kandungan dari CPH4 sebuah hormon yang dihasilkan dalam jumlah sedikit pada perempuan hamil, yang diproduksi dalam kelenjar susu, dengan tujuan untuk memberikan kekuatan setara bom atom kepada embrio untuk tumbuh, memberikan kekuatan untuk mereplikasi diri.

Kehidupan dianugerakan kepada kita 10 juta tahun yang lalu. Sebuah pengertian tentang apa itu kehidupan dalam catatan yang saya dapatkan dari pelajaran prof. Cip, kehidupan adalah sebuah proses biokimia yang yang berputar sendiri tanpa henti hingga menimbulkan kemampuan untuk berkembang, diverensiasi dan evolusi. Dalam bagian lain disebutkan bahwa mahluk hidup memiliki sifat untuk menjadi abadi. Abadi jika kondisi mereka memungkinkan, jika tidak, mereka akan memilih untuk bereproduksi.

Keabadian seperti apa yang dimaksudkan dalam film ini? Kebadaian melawan waktu? keabadian yang harus mereka perjuangkan karena mahluk hidup masih terikat oleh waktu dalam kehidupan. Waktu adalah kebenaran.

dan manusia masih terjebak dalam hitungan dan ukuran-ukuran yang dianggap menjadi nilai-nilai kebenaran saat ini, hukum-hukum fisika. Yang mungkin harus dikaji ulang untuk memberikan sudut pandang baru terhadap kebenaran hidup.

Mahluk hidup membutuhkan waktu dalam tumbuh, berkembang. Jika tidak ada waktu manusia sama sekali sebenarnya tidak ada. Meski bakal rumit dalam membahas dimensi waktu itu sendiri, membahas tentang relativitas dan dimensi quantum. Saya masih jauh dari sana dalam mempelajarinya.

Pada akhirnya mahluk hidup mereplikasi diri, dari satu sel menjadi dua, empat delapan dan kelipatannya, mengidentifikasi, mendeferensiasi diri dan evolusi. Menjadi mahluk komplek utuh. Menjadi mahluk. Dari satu sel untuk hidup, bergerak dan mengenal, menerima respon dan kemudian mengidentifikasi sesuatu dari kehidupan luar hingga pada akhirnya menjadi berkembang atas apa yang dipelajari. Evolusi dari adaptasi meski mahluk hidup harus menunggu selama 400 ribu tahun untuk melihat kebangkitan sel saraf pertama kali untuk pertama kali mengawali kehidupan yang akan lebih kompleks meski hanya beberapa miligram.

Saraf pertama kali muncul memiliki tujuan untuk menangkap stimulus, refleks, mempertahankan diri dari kondisi yang mengancam keberlangsungan hidup. Sistem saraf sensoris. Proses berkembang menjadi lebih kompleks dengan menghasilkan dua saraf, agar mahluk hidup bergerak. Memiliki kontrol selain gerak refleks, memberikan kemampuan kehidupan untuk memilih tempat, mengenali lingkungan baru atau sebagian lain akan tumbuh dengan sikap adaptif. Pergerakan, perpindahan tempat membawa kehidupan melihat lebih luas, memberikan kesempatan untuk mengeksplore lingkungan. Dan kemudian mahluk hidup akan memilih kondisi yang sesuai, untuk hidup dan terus berkembang dari pengalaman, pengetahuan yang didapatkan sebelumnya. Dan manusia adalah mahluk hidup, binatang yang berhasil menggunakan kapasitas otaknya lebih banyak dibandingkan dengan mahluk hidup lain. Suatu keberuntungankah? Atau memang hal ini sudah menjadi takdir yang genetik sudah persiapkan untuk jalan kehidupan?

Keabadian mejadi pertanyaan kembali, benarkah keabadian itu hanya sebuah ketidakmungkinan bagi mahluk hidup. Menjadi immortal. Atau mungkin karena ilmu pengetahuan manusia yang diharapkan akan berkembang, sebagai aset dari evolusi masa yang telah lalu berhenti karena manusia disibukkan untuk memandang sempit makna dari hidup itu sendiri. Manusia kehilangan sifat nature mereka sebagai mahluk hidup karena pengetahuan telah berbelok kepada fungsi pemuas keuntungan semata. Manusia telah keluar jauh dari hakikatnya untuk “menjadi” tetapi sibuk kepada “memiliki”.

Mereplikasi diri untuk bertahan hidup, seperti kita tahu bahwa mereplikasi diri adalah cara paling mendasar / primitive dari kehidupan untuk mempertahankan diri, menjadi abadi meski mungkin dalam perkembangannya membawa tujuan untuk lebih berkembang, membawa pesan tentang pengetahuan sebelumnya, pengetahuan yang membawa mahluk hidup untuk lebih survive menghadapi kondisi ekstrenal.

Perkembangan lebih kompleks dari mempertahankan diri, adalah dengan reproduksi. Adanya dua jenis kelamin yang lahir dari proses evolusi mahluk hidup, mungkin kita akan membahasnya dilain kesempatan tentang kenapa harus ada perbedaan dua kelamin yang menjadi bahasan soal reporduski, betina dan pejantan. Dan mungkin juga menjadi kajian menarik tentang peran perasaan cinta dalam hubungan untuk mengawali reproduksi dari kajian biologi dan sosiokultural, bahkan mungkin filsafat.

Jika reproduksi masa kini dianggap sebagai wujud kesempurnaan dalam mempertahankan diri. Saya akan menarik diri dan menganggap bahwa reproduksi saat ini adalah salah satu bentuk lain bertahan hidup, mewariskan sesuatu dari generasi ke generasi dengan maksut tertentu dan memiliki tujuan yang lebih besar. Sebuah fase yang harus dilewati, reproduksi saat ini hanyalah sebuah fase dari beberapa fase yang harus dilewati lagi.

Tidaklah penting darimana pikiran untuk pertanyaan itu muncul, seperti yang sudah-sudah, bahwa menjadi skeptis akan suatu hal menjadi kunci utama untuk lebih berkembang, manusia tidak harus berhenti pada tugas utamanya, seperti saat ini. Manusia disibukkan pada sifat memiliki saja. Sifat yang menghentikan pada perkembangan kehidupan yang lebih jauh. Manusia terhenti pada sifat memiliki, memililiki keadaan seperti saat ini. Manusia menganggap bahwa semua dalam waktu saat ini adalah kebenaran dengan segala hukum yang melingkupi, sebuah hukum yang dianggap sebagai kebenaran. Manusia harus sadar akan hal itu. Dan menyadari bahwa dengan kondisi seperti itu manusia menghambat tujuan utama dari kehidupan itu sendiri. Sebuah tujuan mendasar menuju proses yang lebih jauh, dan bahkan bukan hanya telah membelokkan perkembangan tujuan hidup itu sendiri. Tetapi manusia telah mengganggu perjalan kehidupan di bumi dengan segala tingkah laku seakan manusia adalah puncak dari kehidupan di bumi.

Reproduksi menjadi bagian dari sebuah tujuan lain, sebuah pertukaran informasi dengan tujuan yang lebih besar. Jika tidak kenapa haruslah berlaku demikian kehidupan menciptakan adanya betina dan pejantan. Persilangan informasi, pengetahuan untuk lebih berkembang. Semakin besar angka persilangan semakin besar pula peluang untuk mendapatkan informasi tentang kehidupan dan pengetahuan itu didapatkan. Hanya saja manusia saat ini tidak disibukkan untuk itu, manusia telah melupakan tugas untuk mengakses informasi dalam diri mereka dari hasil pengalaman nenek moyangnya. Manusia disibukkan oleh realitas semu yang diciptakan oleh manusia seperti saat ini.

27a3e51509cec6e9d7f073e57271303414bf322a