balkon-residences

Kopi kita semakin dingin, kita sepakati itu. Aku lebih bisa menerima apapun dibandingkan dirimu. Aku tahu kau tidak menyukai kopi yang mulai dingin, terlebih manis. Kau selalu berkata bahwa kopi sejatinya adalah panas dan pahit dengan remah didalam tenggorokan jika diminum. Aku menyutujuinya, tetapi aku tidak mesti harus berharap bahwa kopiku akan selalu seperti itu. Karena aku memang bukan penyuka kopi sepertimu. Hanya saja yang masih aku anehkan darimu, kau selalu mengaduk kopimu sebelum kau minum.

“Kebebasan beragama, dan kebebasan tidak beragama. Kenapa juga masih saja ada yang harus saling mengkritisi dan saling mempermasalahkan, bukankah setiap orang memiliki hak untuk dirinya sendiri dalam memandang persoalan seperti ini”

Mata Alex kembali tajam. Sudah dua jam kita duduk berbicara tentang keresahanmu tentang seenaknya sendiri kaum yang mereka sebut dirinya sebagai ateisme meghujat kaum teisme. Kami duduk di loteng, bersandar pada tembok yang menghadap ke sebuah hotel tua, kadang kalau beruntung, kami bisa melihat orang sedang bersenggama di sana. Dan kami sejurus menjadi lupa, tentang apa yang sedang kami bahas.

“Bagaimana? Sikap mereka yang menyerang kaum mayoritas apakah menjadi suatu kebenaran? Bahwa minoritas memang layak dan berhak untuk menyerang kaum mayoritas?”

Alex terus menyerocos.

“Menyerang kelompok minoritas adalah sikap yang tidak toleran, dan lebih condong kepada arogan. Tetapi apa bedanya  dengan sikap kelompok minoritas yang menyerang kelompok mayoritas? Apakah juga dapat dibenarkan? Diperbolehkan dan tidak salah?”

Alex mulai mengaduk kopi lagi. Alex pasti akan melanjutkan dengan intonasi lebih tinggi jika dia tidak menyalakan rokok kreteknya. Atau dia akan diam dan memberikan kami lebih banyak ruang untuk menelaah kalimat terakhir yang keluar dari mulutnya.

Aku menunggu Alex selesai minum kopi, sembari melirik bungkus rokok kretek. Menunggu apa yang akan Alex pilih. Alex terdiam sebentar, menikmati tenggorokannya yang secara alami berusaha membersihkan ampas kopi yang menempel. Aku suka melihat ekspresinya saat terdiam seperti itu, menikmati berjuang menghadapi persoalan yang dia ciptakan dan pilih sendiri. Dasar Manusia.

Alex memilih untuk merokok, berarti akan ada banyak waktu hening diantara kami berdua. Membiarkan mata untuk bekerja lebih, mencari-cari sudut pandang baru, mencari bentuk-bentuk lain. Mengistirahatkan telinga.

Aku sudah mengenalnya lebih dari sepuluh tahun yang lalu, dan kami masih saja sama. Dia selalu ingin menang dariku. Dan selalu begitu. Itulah kenapa aku selalu ingin menjadi sosok oposisi bagi dirinya. Seseorang yang berseberangan dengannya. Dan aku tidak peduli. Karena aku bisa menyukai berbagai cara untuk meminum kopi.

“Kebenaran dan kekuasaan menjadi dua sumber permasalahan pada manusia Lex, meski terdengar lucu dan bahkan aneh. Hipotesa Paradoks”

Akhirnya aku harus memulai bicara.

“Maksudmu Mbiz?”

Alex menoleh.

“Kita sering mendengar bahwa umat manusia itu membutuhkan dan mengharapkan keduanya. Kebenaran dan kekuasaan. Kekuasaan bisa merubah pembenaran menjadi kebenaran. Dan kebenaran adalah sesuatu yang paling esensial dalam pencarian diri manusia, siapa yang memiliki kekuasaan, dialah yang akan memiliki kemampuan untuk menuliskan kebenaran”

“Ya! Aku pernah mendengar kau bicara soal ini, tentang manusia yang ingin tahu siapa sesungguhnya dirinya, hakikatnya”

“Tepat sekali Lex! Manusia mencari dan terus mencari siapa dirinya Lex, siapa sesunggunya Aku, Kita, dan Semua ini. Pertanyaan terbesar yang pernah dilahirkan manusia adalah selalu tentang dirinya sendiri”

“Dan Agama menjawab pertanyaan terbesar itu. Begitu Mbiz?”

Aku mengambil rokok mild ku dalam saku, mungkin aku menjadi terlalu terlihat modern. Rokok mild dengan kopi, seperti anak cafe-cafe kota besar, mereka nongkrong di cafe bukan lagi untuk berdikusi, mereka hanya lebih banyak bercerita tentang kehidupan sehari harinya dengan tetek bengek gegap gempita yang muluk-muluk tentang cinta dan harta benda. Meski aku sadari bahwa itu hak mereka, dan sah-sah saja.

Hanya saja aku teringat perkataan Alex, ketika kami membahas itu. Bahwa pada akhirnya kopi akan menjadi minuman murahan. Mereka diperlakukan selayaknya budak, diperkosa sesuka hati mereka. Dan pada akhirnya, sama sekali tak ada nilainya. Hanya buruh yang menghantarkan dengan memacu adrenalin agar jantung dan mata tetap bekerja.

Rokok kretek tidak laku untuk mereka. Karena pembicaraan mereka tidak memiliki jeda yang istimewa seperti kita. Jeda untuk mencerna, jeda untuk berpikir dan menyusun hipotesa. Karena rokok kretek itu lama dan mampu memberikan suasana yang istimewa, tidak tegesa-gesa dan asapnya pun memiliki aroma purba. Tetapi Alex memberikan dispensasi untukku, karena dia tahu aku memiliki asma. Kami berdua terlalu memberikan nilai lebih kepada dua benda tersebut, selain waktu yang bernama Senja.

“Mungkin lebih tepatnya menawarkan sebuah jawaban Lex”

“Menawarkan?”

“Ya, kurang lebih begitu. Karena Agama tidak terlepas dalam ranah Empirisme para pembawanya”

Kulihat Alex terdiam. Aku berharap Alex akan teringat tentang artikel yang dia kirimkan untukku tentang empirisme spiritual. Jujur aku ingin menyangahnya, dan memberikan persepsiku.

 “Sebentar Mbiz, kau tidak sedang mengkritisi artikelku tentang Empirisme Spiritual dan Ateisme?”

Kami tertawa, tak terbahak. Lucu adalah untuk manusia tertawa, tetapi rasa gemas untuk tetap menikmati pembicaraan pada hal-hal seperti inilah yang membuat kami tetap bergairah untuk selalu menghabiskan malam di atas loteng. Alex selalu mengerti bahwa aku akan selalu mengkritisi tulisannya.

“Sepertinya begitu Lex” Aku tidak tahan untuk tidak tersenyum.

“Utarakan pendapatmu tentang artikelku”

“Sebentar, bukankah kau tidak merasa kita membahas ini terlalu jauh dari apa yang kau permasalahkan?”

“Aku tahu.  Aku sudah menyadari sejak kau berbicara tentang kebenaran dan kekuasaan. Tapi aku tahu bagaimana otakmu bekerja, kau selalu tidak runtut. Jaring-jaring dalam kepalamu terlalu banyak rangkaian. Otakmu memiliki sirkuit yang tidak bisa fokus pada satu jalur. Tetapi dari situ aku selalu kau buat takjub dengan cara berpikir dan hasil akhir hipotesamu”

“Hahahaha…..baiklah, kita menyadari bahwa semua pembawa pandangan tentang spiritualisme adalah mereka yang mendapatkan ketenangan dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan besar. Dan nilai tersebut bernilai Empiris. Kau sudah setuju untuk hal itu dari uraian artikelmu yang kau kuatkan dengan pendapat dari Chopra.”

““Religion is belief in someone else’s experience. Spirituality is having your own experience. Atheism is no experience only measurement.” ― Deepak Chopra

“Jadi kau akan bilang bahwa sebenarnya, mereka mengajak orang lain untuk merasakan apa yang mereka rasakan. Perasaan tertentu, spiritual, transenden

“Benar, maka dari itu mereka spritual itu kemudian dikemas dalam bentuk ajaran dan berkembang menjadi suatu organisasi yang lebih spesifik bernama Agama. Dalam hal ini aku berbicara tentang bentuk pengajaran yang baku dalam merasakan pencapaian spiritual Lex. Bukan tentang organisasi masa yang kita lihat saat ini”

“Sepertinya aku harus mengarahkanmu sedikit biar kita tidak terlalu melebar di tempat yang sudah kita sepakati bersama. Yang jadi permasalahan dalam kasus kita adalah experience antara Ateisme dengan Teisme”

“Baiklah, aku hanya memperjelas saja. Siapa tahu memori pembicaraan ini sedang menguap dan melayang-layang di udara dalam bentuk yang berbeda. Energi tidak akan pernah mati bukan?”

“Ah kau jangan semakin ngelantur!

“Hahahaha….. Baiklah. Tentang Experience yang melahirkan spiritualitas. Berbicara tentang hal itu bukankah seperti berbicara tentang keluasan alam semesta, atau ketidak terbatasan berpikir otak manusia”

“Tidakkah bisa lebih dispesifikkan bentuk spiritualitas itu? atau tentang bagaimana spiritualitas itu bisa dikatakan menjadi spiritual yang sesuai dengan tema bahasan kita. Jika kita runut lagi dalam sejarah, bukankah kau akan menemukan pola yang sama disetiap bentuk spiritualitas yang muncul”

Aku mengangguk, membenarkah. Haruslah ada definisi-definisi yang ketat dalam hal experience yang melahirkan spiritualitas dan spiritualitas itu sendiri. Tetapi jika bentuk yang paling esensi dan penting untuk melahirkan jawaban atas pertanyaan besar manusia dikerucutkan, di minimaliskan di potong-potong dengan sebuah definisi, apakah itu menjadi layak untuk mendapatkan sebuah penghormatan sebagai nilai tertinggi.

Alex berdiri, mengangkat cangkir kopinya dan meneguknya lebih banyak dari biasanya.

“Aku mau bikin kopi baru lagi, kau mau sekalian aku buatkan atau tidak?”

Aku mengangguk, memberikan cangkir kopiku padanya dan kemudian dia berlalu turun menghilang di belokan dekat sumur. Dan sesaat kemudian muncul membawa dua buah cangkir kopi kami yang sudah terisi lagi.

“Aku berikan kopimu sedikit gula”

Aku mengangguk, tidak langsung meminumnya. Berbeda dengan Alex yang langsung meminumnya, menikmati panas yang masih merekah dalam balutan uap dengan aroma pahit kopi.

“Lanjutkan, aku masih penasaran dengan spiritualitas menurutmu. Benarkah ateisme tidak melakukan experience?

Aku menggelengkan kepala.

“Kupikir menggunakan kata melakukan hanya akan mempersempit bahasan yang spritualitas pada akhirnya Lex, akanku koreksi kalimat melakukan menjadi memiliki”

Alex bersungut, kemudian menganggukkan kepala.

“Oh. Iya aku mengerti. Lanjutkan” Alex menyalakan sebatang rokok kreteknya lagi.

Experience dalam pandangan Ateisme hanya akan dianggap sebagai sebuah bagian dari pengalaman empiris yang bersifat situasional, fenomena. tidak berarti menjadi sebuah kebenaran umum”

“Tapi bukankah tetap saja mereka memiliki pengalaman tersebut?”

“Benar, tetapi bukan berarti itu harus menjadi maksud spiritualisme yang di maksudkan dalam spiritualisme dalam pandangan biasanya. Fenomenologis saja Lex. Bahkan hal itu kadang tidak bernilai apapun selain menjadi sebuah pengalaman semata”

Alex masih terdiam. dari ekspresinya aku mengerti bahwa Alex masih menunggu penjelasan lagi dari mulutku.

“Hematku begini Lex, yang menjadi permasalahannya adalah bahwa manusia pada dasarnya selalu menganggap sebuah empirisme / fenomena sebagai kebenaran. Kebenaran yang bersifat subjektif, kebenaran dan dunia yang berasal dari pikiran dan tindakan mereka, dan hal ini dipandang sebagai sebuah kebenaran yang riil”

“Itu mungkin alasan kenapa perlunya agama Mbiz, karena kebenaran manusia itu terlalu subjektif dan tidak bisa bersatu padu. Harus ada satu hukum / tatanan kuat untuk mempersatukan itu”

“Tidak bisa lagi seperti itu Lex, ilmu pengetahuan terus berkembang dan akan membawa manusia kedalam tatanan dunia baru. Dunia modern, dunia yang memiliki ukuran objektivitas yang pada akhirnya berpengaruh terhadap ukuran subjektivitas. Dan dalam hal inilah mungkin ateisme dan teisme bersitegang”

“Bersitegang karena mereka pada akhirnya saling bersinggungan. Berbeda sebelum abad ke sembilan belas, sains dan agama hidup dalam bagian yang terpisah. Lalu apakah hanya dikaji dalam bentuk ukuran-ukuran saja Mbiz?”

“Tidak Lex, seperti yang kita ketahui manusia adalah mahluk biopsikosiosial. Ada banyak ranah yang mempengaruhi hidup manusia. Jika berbicara tentang hal ini, satu contoh kecil adalah bahwa sistem agama selalu menawarkan dan mengajak manusia kepada untuk mencapai puncak spiritual. dan sifat seperi ini merupakan suatu bentuk pembangunan sosial dalam membentuk realitas spiritual. pembenaran yang menciptakan kebenaran. Dan hal seperti itu biasanya bersifat dogmatis”

“Maksudmu Mbiz? Mereka membentuk wadah realitas baru untuk melahirkan kebenarannya sendiri”

“Bisa dibilang seperti itu. Apa yang diungkap oleh Nabi harus diterima oleh para pengikutnya Lex, kemudian ditransformasikan kedalam konsepsi-konsepsi mereka sebelumnya dan mungkin dimodifikasi selama satu periode tertentu berdasarkan pengalaman baru yang muncul”

“Pembaharuan spiritualitas?”

“Dari situ bukankah kita dapat kesimpulan bahwa spiritualitas tidak stagnan, dia tidak baku dan kaku. Perubahan konsep spiritualitas”

“Aku masih tidak percaya pada apa yang kau ucapkan”

Alex mengerutkan kening. Pertanyaanya membuatku berpikir kembali tentang spiritualitas. Yang sebenarnya aku juga merasa kembali tidak mengerti.

“Sama sepertimu, aku sendiri tidak bisa meraba spiritualitas secara pasti, atau mungkin karena definisi pada akhirnya spiritualitas pun mampu untuk dikritisi seperti ini”

“Jadi Spiritualitas haruslah tidak didefinisikan dan dikerucutkan”

“Aku tidak tahu secara pasti, aku hanya mencoba mencari. Atau kita juga masih terjebak juga dalam kata-kata”

“Maskudmu”

“Mungkin Spiritualitas hanya omong kosong saja, pemikiran tradisional, skolatik”

“Okelah sampai disini soal perbedaan-perbedaan itu Mbiz. Kau pasti akan selalu membawa kebenaranmu sendiri dalam hal ini”

“Begitu juga dengamu Lex. Aku hanya ingin sedikit terusik dengan pandangan Chopra tentang Experience dan Measurement dalam Ateisme Lex. Itu saja. Tidak ada salahnyakan untuk membela diri. Mumpung saat ini kita bertemu dan mengobrol disini, walau dalam hati aku ingin membalas artikelmu dengan artikelku. Buku dilawan dengan buku, artikel dilawan dengan artikel”

“Hahahaha, menulislah kalau begitu. Aku menunggu sanggahan untuk artikelku”

Kami berdua tertawa, menatap hotel tua dan berharap malam ini ada satu kamar yang menyuguhkan adegan senggama dengan jendela yang terbuka.

“Hei bukankah kita menemukan poin dalam bab ini dari percakapan kita atas apa yang menjadi permasalahanku Mbiz”

Aku terdiam. Tidak begitu cepat menangkap maksud yang Alex ucapkan.

“Maksudmu Lex?”

“Tentang Toleransi”

“Pembicaraan kita saat ini, kau dan aku. Tentang sikap dan perbedaan”

Aku masih tidak mengerti. Mungkin karena mataku tertuju pada satu kamar hotel yang baru saja menyala lampunya.

 “Begini Mbiz. Kita tahu bahwa kecurigaan-kecurigaan menjadi satu permasalah lain selain kehendak untuk berkuasa, menguasai. Karena berbeda dan tidak sama hanya akan menjadi sumber ketakutan baru, terlebih jika keimanan itu tidak bersandar kepada dasar yang benar. Banyak motif yang mengarah kedalam bentuk seperti itu yang pada akhirnya melahirkan sikap intoleran. ”

Aku mengangguk, tidak memperhatikan wajah Alex yang mungkin sedang dalam ekspresi bergairah. Tetapi pikiran primitifku sedang tertuju pada perempuan yang terlihat berdiri menghadap jendela yang kamarnya baru saja menyala. Mungkin dia berumuran dua puluh lima. Dan sepertinya Alex tidak peduli dengan aku yang tak acuh terhadap perkataanya.

Aku mengerti benar dia, bahwa dia tidak ingin kehilangan moment dalam pikirannya dan lebih memilih langsung mengeluarkannya daripada harus sibuk dengan mengurusku yang tidak sedang pada tempatnya. dan dia pasti akan membiarkanku tetap dalam posisiku, mengamati perempuan dalam kamar hotel itu.

“Mbiz. Toleransi  haruslah membawa manusia kedalam pembebasan diri, untuk berjalan beriringan. Tanpa harus mempedulikan siapa yang paling benar. Karena kebenaran selalu ada pada tempatnya, dia tidak kemana-mana. Seperti experience yang begitu luas dalam melahirkan bentuk spiritualitas. Kalaupun ada bahasan untuk mengkaji kedua belah pihak antara teisme dan ateisme haruslah dalam ranah diskusi komperhensif yang berdasarkan pada premis-premis pengakuan timbal balik. Seperti kita saat ini. Itulah poin penting itu”

Perempuan itu kemudian berbalik, hilang menuju kedalam. Aku berharap akan melihat laki-laki atau om-om yang gantian terlihat. Tetapi tidak ada yang muncul setelah beberapa saat. Akhirnya aku memalingkan wajahku kembali kepada Alex.

“Lalu bagaimana menurutmu tentang paradigma sempit tentang minoritas dan mayoritas Lex? Kita hanya menemukan bentuk jawaban. Tetapi kita tidak menghilangkan kausa sebenarnya dari permasalahan itu”

“Begini Mbiz. Paradigma sempit tentang lawan mereka, minoritas mayoritas. Ateisme terhadap teisme, begitu juga sebaliknya. Adalah permasalahan klasik yang sebenarnya alami. Kau ingat tentang konsepsi-konsepsi yang harus diadopsi untuk melihat sosiologi tentang realitas sosial dari Peter Berger dan Thomas Luckman?”

“Tentang pembahasan sosiologi haruslah dikaji lebih secara elementer dan bukan hanya sekedar tentang ranah legitimasi lembaga-lembaga sosial?”

 “Tepat sekali. Sehingga dalam bahasan tersebut kita mengerti bahwa membangun dunia manusia perlu suatu usaha yang kolektif, pandangan yang umum mengenai kenyataan / kebenaran dikembangkan dengan semakin banyaknya pandangan yang sama tentang suatu hal. Dan dapat diterima oleh pendapat umum”

Alex mengaduk kembali kopinya kemudian meminumnya. Aku mengambil kopiku, kurasa ampasnya sudah menumpuk di dasar cangkir karena sedari tadi kudiamkan. Aku tidak perlu terbatuk saat remahnya menempel dalam tenggorokan atau berekspresi menaik turunkan tenggorokan sambil menelan ludah beberapa kali agar sisa ampas yang menempel segera pergi.

“Tetapi pendapat umum haruslah sesuai dengan logika Lex”

“Tapi tidak semua harus seperti itu Mbiz”

“Semua haruslah bersumber kepada yang dapat dipercaya Lex!. Yaitu akal. Segalanya memiliki ukuran, rasio. Dan pengukuran kebenaran haruslah bersifat ilmiah dengan pencarian menggunakan metode deduktif seperti yang dicontohkan dalam ilmu pasti”

“Terserah kamu sajalah. Tidak selamanya Descrates memabawa kebenaran”

Alex kemudian mengaduk kopi kembali. Melihat jendela kamar hotel yang sama. Kemudian meminum kopinya.

“Boleh aku bertanya Lex?”

“Yups” jawabnya sambil melihat kearahku tanpa melepaskan cangkir dari bibirnya.

“Kau selalu mengaduk kopimu sebelum kau minum, bukankah itu hanya akan membuat kopimu menjadi lekas dingin. Bukankah kopi yang sempurna menurutmu adalah yang panas, dan pahit. Belum juga tentang kau menjadi tersiksa dengan ampas yang menempel di tenggorokanmu?”

Alex menurunkan cangkir dari bibirnya. Memainkan tengggorokannya naik turun sesekali menelan ludah. Prosesi terkahir dari Alex saat meminum kopinya.

“Kau masih saja mengagungkan Rasio. Jika aku bertanya kepadamu yang mengedepankan Rasio dalam berpikir. Apa jawabanmu?”

“Kenikmatan, jika itu kenikmatan. Bukankah itu menjadi sebuah paradoks. Kau mengaduk kopi untuk menghasilkan ampas, tetapi disatu sisi itu hanya akan menjadikan kopimu menjadi lekas dingin. Kenikmatan macam apa yang lahir dari hal seperti itu?”

Alex tersenyum, menepuk kemudian menepuk bahuku.

“Itulah Spiritualitas Mbiz, tidak perlu menggunakan logika untuk melakukannya”