1331527836-200095076911012439

Siapa yang tidak mengenal filsuf Federich Nietzssche? Seorang filsuf yang mencirikan tentang filsafat pemberontakan, dekonstruktif.  Dan sampai dimana filsafatnya disalah pahami menjadi kekuatan dan daya tarik tersendiri terhadap apa dari buah pemikirannya, atau bahkan yang tidak mengenal pemikirannya sekalipun akan tetap tergodan dan jatuh hati kepadanya hanya karena egoismenya.

Hak penegasan diri dari pemikiran Nietzsche yang dikemas dengan inteletualitas yang mumpuni, dengan melemparkan pertanyaan tentang otoritas kedaulatan diri antara “diri” dan “laku” yang dia berikan sebagai tantangan kepada kaum semenjana, kaum yang rela menjadikan ketidakaturan sebagai sesuatu yang legal.

Permasalahan dari ada dengan ketiadaan tujuan sama-sama ditekankan oleh Nietzsche dan gurunya Schopenhauer. Mengkritisi tentang keadaan manusia yang kita kenal sebagaimana sekarang ini, dengan penghormatan akan moralitas konvensional dan dikendalikan ole tata tertib eksternal. Menjadi sesuatu yang layak untuk didekonstruksi atau dilampaui.

Kesadaran akan permasalah ada dengan ketiadaan tujuan ini digiring pada sebuah pusaran lupa, yang hal ini biasanya dilakukan oleh baik para ilmuwan, teolog bahkan filsuf itu sendiri. Sebuah pusaran yang didalamnya mengajak kita berlindung dengan cara melihat dunia dengan pandangan subjektif ideal. Sebuah keadaan dengan mengajak kita untuk melihat ilmu pengetahuan, seni dan aspirasi yang muluk-muluk.

Nietzsche mengajak kita kepada pemikiran tentang bahwa sesungguhnya manusia haruslah sudah bergerak meninggalkan keadaan seperti ini, keadaan yang dimana tidak ada penegasan tentang individualtas mereka. Tetapi, hal ini menjadi sebuah kontradiktif jika dilihat lagi kenyataan bahwa Nietzsche adalah murid dari Schopenhaeur, penganut pesimisme mutlak. Dimana dia akan dihadapkan pada kondisi realias kedirian manusia sebagai manusia. Yang berarti bahwa kebenaran dan pengatahuan manusia hanya bernilai saat manusia tunduk pada realitas diri yang serba penuh.  Ini yang menjadi sebuah hal yang perlu diperhatikan dan dibahas lebih lanjut, selain tentang sebuah mimpi tentang sebuah pelayanan yang tanpa perlu adanya sebuah kanon-kanon moralitas, sehingga sebuah pelayanan menjadi tidak lagi dirasakan sebuah bentuk pelayanan, pelayanan yang sehat sebagai mahluk ubermensch yang terbebas dari rasa mengeksploitasi dan dieksploitasi. Baik oleh ilmu pengetahuan, industrilisasi salah arah ataupun kemewahan hewani yang tertanam dalam diri.

Dan dari sini, mengertilah saya tentang apa itu sosialisme lebih jauh lagi, yaitu bahwa sosialisme haruslah membebaskan diri manusia, membebaskan sifat individual mutlak. Mendasarkan kebahagiaan manusia bukan pada otoritarianisme apapun. Manusia yang merdeka dengan bentuk dan penerimaan diri sebagai apapun, melayani bukan karena situasi yang mengharuskan.

Sumber : The Message of Nietzsche dalam buku Aku Bukan Manusia, Aku Dinamit. Filsafat Nietzsche dan Politik Anarkisme.