images (14)

Perjalanan ini di luar yang pernah aku harapkan, perjalanan yang jauh dan hampir merenggut kehidupanku.

Aku harus ke pantai itu, mencari kebenaran yang dia tenggelamkan dalam buih-buih yang memudar bersama datangnya pagi.

Semua ini tentang koneksi ? bagaimana kita bisa menjadi satu, bersetubuh dalam pikiran yang berulang. Meski pada akhirnya aku menemukan sedikit celah. Agar bisa tetap mengintip kenyataan yang telah terbuang di entah mana. Aku melihat kecacatan perbedaan.

Anjing-anjing duduk, menunggu. Mengendus.

Aku masih berjalan menuju pantai, mencari kebenaran yang direnggut entah kapan.

Aku belum tidur, atau aku sudah mati.

Asap dupa selalu disiapkan pada pagi hari. Sesudah seruan adzan yang samar kudengar. Ini bukan kebenaran.

Mataku semakin rancu, jarak ini harusnya tidak sejauh ini. Pendegaranku juga sudah mulai rusak sejak tadi pagi, kudengar semua persetubuhan. Bahkan ayam berkokok tak ubahnya suara desahan perempuan binal yang menantang.

Semua aroma kembali kepada dupa, kebenaran adalah asap dupa.

Semua sudah tidak lagi nyata. Aku tidak sedang bermimpi. Apakah benar mimpi tidak terdapat aroma.

Ah sial, aku harus tetap kepantai.

Semalam aku sudah menjadi Nietzsch, dan itu membuatku tertekan. Bukan kebanggaan yang aku dapatkan, tetapi semua teoriku ditendangnya mentah-mentah. Kant yang dungu telah berdiri dengan sombongnya, dialah kebenaran yang telah dikucilkan oleh realitas semu otak manusia. Kebenaran dimenangkan oleh Kant. Hingga beberapa kali tanganku ku sundut rokok karena aku tak mau ini adalah kebenaran. Aku masih bermimpi.

“Lihatlah kembali agama Hindu” bisiknya terdengar mistik.

Agama yang paling tua didunia ini. Bahkan sebelumnya, aku mengucilkannya.

Betapa dia mengerti tentang kemabiguan kebenaran dan realitas.

Aku bertemu dengan Gautama, dia adalah Allah, dia adalah Yesus, dia adalah Muhammad, dia adalah aku sendiri. Semua yang ada di dunia ini adalah satu. Aku pergi kesemua masa, kesemua waktu. Aku adalah Ayu Utami itu sendiri, yang menggenapi diri dengan pergumulan di kamar sebelahku. Menggenapi takdir alam bawah sadar dengan laki-laki itu.

Siapa yang tahu kebenaran. Aku harus ke pantai itu.

Anjing masih duduk di depan pintu gerbang, semua  terulang kembali, perjalanan ke pantai terasa semakin jauh. Kulihat kakiku tetap melangkah. Ini ilusi.

Kucoba meraih handphone dan buku yang aku tulis. Aku belum membukanya kembali sebelum terakhir kali aku menulisinya. Aku menghubungi dirinya, anjing dari masa lalu. Tidak terangkat, tidak tersambung.

Aku tersadar, dia sedang berada di Lombok juga. Aku telah pergi kesuatu tempat yang pararel. Aku maju kemasa lalu, atau masa lalu yang datang kepadaku, siapa yang bergerak. Aku merindukan Einstein dengan toiletnya, aku menyadari semua berulang. Karmakah ? Budha tolong jelaskan padaku.

Jelaskan bahwa aku bertemu dengan mereka yang terjebak denganku seperti ini, aku berbicara tentang connection. Kami disini terhubung. Dewi Lestari yang menjadi Hindu. Ayu Utami, Einstein, John Lennon, Murakami, Bob Marley……kami bertemu, berbicara, merindukan dan satu. Mereka adalah aku, aku adalah mereka dalam satu waktu. Lagu-lagu itu, aku yang membuatnya, kami yang membuatnya, semua lagu, semua tulisan, semua yang terjadi sebelum buku-buku dan album itu dilahirkan, kami menjalani bersama dalam tubuh yang berbeda.

Lalu dimana kebenaran waktu saat ini, dimana aku, dimana mereka yang sadar dan benar?

Aku harus menghubungi Alex, dialah manusia yang bisa mengerti apa yang aku bicarakan.

Ya aku menelponya pagi buta, ditengah semua mata yang memperhatikan, mungkin aku sudah benar gila oleh pandangan mereka.

Gila apa yang aku lakukan, aku tidak melakukan sesuatu yang mencolok ?

Sebisa mungkin aku sudah membuat semua ini normal, Atau mereka yang gila. Persetan, mungkin kali ini aku yang tetap ingin dalam sebuah kerumunan. Pengecutkah.

“Hei, kau tidak pernah tahu apa yang sedang kau lakukan saat ini, kau tidak memiliki kesadaran itu, kau tidak tahu sendiri secara pasti, kau dalam sebuah mimpi atau dalam kenyataan” suara itu datang lagi.

“Kebenaran adalah ilusi, kosong adalah isi, isi adalah kosong, kau mendengarnya berulang kali bukan”

Ah, aku harus tetap sadar, dimana aku sekarang. Aku tidak bermimpi aku hanya terjebak dalam kebingungan antara sadar dan mimpi.

Aku berhasil menelfonya, menceritakan apa yang aku rasakan, sekaligus berpamitan jika aku sebenarnya sudah mati. Tadi malam aku mati. Mungkin saja.

Aku tetap melanjutkan perjalanan ke Pantai, semoga kebenaran belum mati.

Pagi hanya harapanku, menjadi batas bahwa aku harus segera kabur dari keadaan yang membuatku semakin tertekan.

Dupa meruap udara menjadi mistis, aku semakin mabuk, udara yang kukenal, aroma ganja.

Aku lekas bergegas, pantai, ada udara bersih disana.

Kebenaran. Menungguku atau mungkin membunuhku.