Anarkisme

Saat perjuangan buruh hanya sebatas kesejahteraan, kenaikan upah. Saat musuh kaum buruh adalah pemilik pabrik-pabrik lokal.

Saat mereka tak lagi sadar bahwa perjuangan mereka sebenarnya adalah penghapusan kelas. Saat mereka melupakan kelas kapitalis dan usaha perebutan alat-alat produksi.

Saat itulah buruh hanya akan tetap menjadi buruh

Manusia pekerja yang terus ditindas demi keuntungan para kaum kapitalis

 

Perkembangan pergerakan kaum buruh memang lebih signfikan dibandingkan dengan pergerakan mahasiswa, bukan karena kuantitas dari kaum buruh yang bertambah, tetapi dalam matangnya arah pergerakan dengan membentuk wadah-wadah organisasi pergerakan buruh, serikat-serikat buruh.

Perasaan yang sama, misi dan perjuangan yang dilakukan bersama menjadi alasan organisasi buruh akan menjadi begitu kuat. Banyaknya lembaga-lembaga sosial yang juga menaruh perhatian dan juga memberikan dukungan menjadi kekuatan tambahan bagi perjuangan buruh dalam menuntut hak-haknya.

Dari situlah pemilik modal / perusahaan menjadi tidak berani lagi bertindak sewena-wena menghisap tenaga buruh, meskipun belum semuanya berlaku demikian, tetapi dalam perkembangannya perjuangan buruh di Indonesia sudah mulai terasa kekuatannya. Suara mereka mampu didengar untuk setidaknya. Pemilik modal atau bahkan pemerintah kemudian mendengarkan dan memberikan kebijakan yang berpihak kepada buruh.

Buruh tetap harus mengkritisi tentang kebijakan-kebijakan yang seakan berpihak kepada mereka, bukan hanya tentang kesejahteraan untuk mencukupi hidup, tentang upah-upah lembur, motiviasi produktivitas yang berkualitas dan lain sebagainya.

Seperti yang sudah kita ketahui bersama bahwa hukum dalam kaptalisme adalah persaingan, lalu bagaimana dengan buruh dalam persaingan ini, menjadikan buruh untuk lebih profesional, lebih giat bekerja dan memproduksi produk-produk yang berkualitas. Buruh hanya akan tetap menjadi robot, bersaing di lapisan bawah hanya akan menjadi pembenar adanya kesempatan buruh untuk mampu bersaing dalam sistem, pembenar bahwa kapitalis bukan sistem yang salah, tetapi merupakan kodrat bahwa kehidupan manusia adalah sebuah persaingan. Siapa yang unggul dia yang akan bertahan hidup.

Maka dari itu pergerakan dan arah perjuangan buruh haruslah jelas, buruh tetap haruslah kritis terhadap kebijakan-kebijakan yang diambil baik dari pemilik modal, pemerintah bahkan ide kelompok pergerakan buruh sendiri. Karena tidak mungkin bahwa sudah banyak aktor yang dimasukkan dalam pergerakan atau bisa jadi kurang mawasnya pergerakan untuk melihat dasar demi mencapai cita-cita tertinggi. Buruh harus tetap komit bahwa kebutuhan mereka bukan hanya sekedar hidup yang layak dari pasokan gaji dan bonus tunjangan yang mengiurkan, tetapi juga haruslah sadar bahwa mereka korban dari sistem. Mereka adalah kelas yang bisa jadi akan saling cakar jika tidak sadar posisi mereka demi berubah menjadi bentuk yang lebih baik.

Terlepas dari pelbagai permasalahan itu, satu yang ingin saya tekankan secara pribadi, perjuangan buruh seharusnya bukan untuk sekedar hidup, nilai-nilai kepantasan material, tetapi lebih kepada bentuk penghapusan keterasingan diri manusia terhadap dirinya sendiri.

Salam Pembebasan

1 Mei 2014. Gladak, Solo [Rangkaian Acara Hari Buruh Sedunia. Marsinah Nyanyian Bawah Tanah]