anarkisme2

Bagaimana mungkin kita bisa menyerahkan jiwa kita kepada sesuatu yang kita tidak inginkan. Menyerahkan hak tertinggi kita atas nama kontrak politik yang tidak pernah kita tanda tangani.

Bagaiamana seseorang bisa terikat kontrak politik dengan Negara? Mengakui dan sadar bahwa dia adalah bagian dari Negara ? seperti Agama, Negara adalah dogmatis yang harus kita terima tanpa pernah kita mampu melawannya.  Kita dipaksa untuk menandatangani kontrak politik bahwa kita adalah bagian dari Negara dengan segala tanggungjawab, hak dan kewajiban yang tiba-tiba saja disematkan kepada kita. Kita tiba-tiba telah menjadi warga Negara.

Kita hanya bisa memilih, tetap berpegang teguh pada kondisi Awal bahwa kita adalah suatu bagian dari Negara ini, atau berpindah menjadi warga Negara lain, tidak untuk menjadi warga bebas tanpa harus menyematkan suatu Negara dalam diri kita.

Kita telah diberikan labelisasi, diikat oleh keadaan, sistem yang terkesan mengamankan. Begitu lahir kita sudah dipenjara, tahanan bernama warga Negara. Hukuman-hukuman dari perjanjian sosial yang tidak kita sadari, kesan seakan-akan kita telah menerima hal itu dengan muka biasa saja. Bahwa hal ini alamiah, selayaknya manusia hidup didalam bumi. Kenyataannya tidak demikian.

Negara adalah sebuah sistem yang dibangun atas dasar persamaan komunal, Negara adalah alat untuk manusia, bukan untuk memperalat manusia. Pergeseran nilai yang terus berkembang menjadikan Negara tak ubahnya robot yang melawan penciptanya, manusia dikendalikan oleh Negara. Perjanjian-perjanjian sosial muncul dengan tujuan menjamin keselamatan manusia yang mengakuinya. Lebih jauh lagi, warga Negara tidak lagi menjadi hakim untuk menyikapi apa yang terjadi. Manusia yang tidak sesuai dengan irama Negara adalah ancaman, bahkan dianggap teror ketertiban dan keamanan bersama. Hukuman yang tidak kita ketahui dan bubuhkan siap menyambut mereka yang berbeda dari jalan tujuan Negara. Negara bukan lagi sebuah sistem buatan manusia, tapi mulai beranjak menjadi hakim agung, malaikat pencabut nyawa dan Tuhan.

Negara selalu berkelit bahwa semua demi kebaikan masyarakat, demi perkembangan manusia menjadi manusia, melepaskan manusia dari sifat binatang yang menuruti hawa nafsu semata, menjadikan manusia tuan bagi dirinya sendiri, manusia bebas yang mengatur hidup, keinginan dan hukum bagi dirinya sendiri. Secara konsep awal saya akan berkata “Iya” untuk Negara. Tetapi tidak saat Negara terbentuk.

Semua kebaikan sudah tak lain lagi adalah kepentingan para penguasa, meski bahasan ini terlalu jauh, tetapi demikianlah kebenarannya. Etika moral adalah penjara psikologis, rekayasa golongan berkuasa untuk memenjarakan kebebasan manusia dibungkus dalam kemasan bernama kodrat. Yang tentu saja sebuah rekayasa pula. Suatu kontradiktif sekali dengan apa yang dimaksud dengan pandangan makna kebaikan dari berbagai tokoh yang mewakili golongan.

Kebaikan adalah kebaikan, suatu bentuk dasar yang tidak dapat direduksikan lagi kedalam sifat lain. Baik tidak bisa disamakan dengan salah satu sifat atau ciri apapun. Menjadikan baik menjadi satu bentuk yang mengharuskan dan normatif adalah kekeliruan naturalistik.