Prometheus
Prometheus

“Dia mengambil api kontemplasi di gunung Olympos Filsafat, dan melemparkannya kepada umat manusia”

Seperti yang kita ketahui, bahwa Marx pada masa mudanya adalah Hegelian kiri, manusia yang menjadikan Hegel sebagai guru besarnya dalam mengkritik kekolotan pemerintahan Prusia, setelah kedatangannya ke Berlin dia langsung jatuh cinta terhadap filsafat Hegel. Kenapa tidak. Pada masa itu para mahasiswa dan cendekiawan terbawa oleh gegap gempita pemikiran Hegel yang luar biasa. Pemikir besar yang menghantarkan manusia pada puncak filsafat dengan karya-karyanya.

Dengan penekanan pada rasionalitas dan kebebasannya Hegel menciptakan ruh untuk menghidupi jiwa-jiwa muda kala itu seperti Marx untuk mengkritisi sistem pemerintahan yang otoriter. Pemikiran Hegel kadang juga diterjemahkan sebagai pemikiran yang revolusionis, dan ateistik “mengkritisi agama Protestan di Prusia” oleh Hegelian kiri.

Tetapi tidak untuk demikian dengan pemikiran Hegelian kanan, yang merasa bahwa Hegel adalah seorang protestan dan pendukung negara Prusia. (akan kita bahas lain waktu)

Marx muda berusaha memecahkan permasalah dengan mencari causa keterasingan manusia atas dirinya sendiri dengan menggali lebih dalam pemikiran Hegel melalui kritik dari Feurbach tentang agama. Mengkolabrasikan tiga hal dalam tiga point pokok pemikiran Hegel berupa 1) Pengetahuan Absolut, 2) Filsafat Sejarah dan 3) Dialektika.

Filsafat Hegel yang dianggap sebagai puncak dari filsafat, tetapi hal itu tidak memberikan jawaban atas pertanyaan Marx tentang kondisi dalam negara Prusia itu sendiri, pemikir besar itu tidak memuaskan Marx yang melihat masyrakat Prusia tidak seperti apa yang dituliskan oleh Hegel. Tulisan yang begitu indah tidak ada dalam kenyataan dunia.

Dengan pengetahuan absolut filsafat sudah selesai, pengetahuan telah purna dan apalagi yang harus dipikirkan manusia, apalagi yang harus dilakukan para filosof, mampukah mereka berpikir kreatif dan orisinil lagi. Belum usai pertanyaan ini rampung, Marx mendapatkan jawaban dengan melihat kondisi Prusia:

“Jika dunia telah menjadi filosofis, maka saatnya filsafat yang harus mendunia”

Dengan kata lain, teori haruslah menjadi praktis. Pemikiran-pemikiran yang sudah puncaknya haruslah menjadi pendorong perubahan sosial. Disinilah Marx memulia mengkritisi pemikiran Hegel, Meski tak sepenuhnya lahir dari pemikiran Marx sendiri atas sikap kritisnya, karena dalam perjalan hidupnya Marx bertemu dengan The Essence of Christianity  karya Feurbach yang didalamnya mengorek pandangan keterasingan manusia dalam agama. Bentuk pelarian manusia atas keterasingan hidupnya yang terbentur dengan realitas. Membuka mata Marx untuk mengetahui kenapa karya Hegel tidak turun dari bahasan yang teoritis. Hal ini menurut Marx dikarenakan karya Hegel merupakan perwujudan keterasingan manusia atas dirinya sendiri.

“Hegel hanya merumuskan pikiran, yang masih diperlukan adalah menjadikan pikiran itu menjadi kenyataan”

Beranjak dari hal itu, Filsafat Hegel menjadi tidak terasa absolut lagi, dikarenakan filsafat Hegel hanya sempurna pada tahapan teoritis saja, absolut filsafat Hegel harus menghadapi penyangkalan dari dialektika-nya sendiri, pengetahuan absolut haruslah menyentuh realitas, bukan hanya hidup dalam ranah teoritis. Kebuntuhan tugas para filosof terhadap hadirnya filsafat Hegel dibuka lebar oleh Marx dengan tujuan menyentuh realitas dunia, menjadikannya praktis dengan filsafat Hegel sebagai ukuran kritik realitas.