Akan ada waktunya untuk pulang, kembali kedalam pelukan hangat dari tangan rahim yang menetaskan dirimu di kenyataan yang tidak nyaman. Memberikanmu rasa yang purba, tentang keheningan dan keutuhan. Mencapai titik dimana dirimu tidak lagi mencari dan kesepian.

Siapa yang harus aku persalahakan atas takdirku yang terkutuk ini, menjadi pesakitan yang belum juga sembuh,  ingin rasa-rasanya kupecahkan kepalaku ini dengan menumbukkannya pada beton atau besi. Biar lepas semua bisikan dan kecamuk yang entah darimana datangnya. Aku tidak sanggup untuk berpura-pura lagi merasa baik-baik saja.

Malam itu, purnama ke enam belas, tepat bulan Sada. Aku berjalan menembus malam yang beranjak pagi, menemani dingin yang sepi. Gelap tak lagi begitu, lampu-lampu dipinggir jalan menjadi seperti kitab suci yang menuntunku menujumu. Menuju kedalam gelap hatimu.

Sudah hampir lima tahun aku tidak bertemu denganmu, meski dulu pada tahun pertama kita masih sempat berkirim surat dan saling melepas rindu melalui telepon umum yang ada di kota. Setidaknya aku masih bisa merasaimu, bahwasanya getar suaramu masih mampu untuk menggetarkan jiwa dan tubuhku.

Namun semua telah berubah, semenjak malam itu, malam dimana kau berkata bahwa aku telah mati karena sakit demam disertai dengan kejang yang beringas. Seluruh tubuhku kaku, meringkuk kejang-kejang. Bola mataku seakan tenggelam, mengencang tertarik kedalam kegelapan. Bibirku berbusa, dan dokter dari kampung tidak sanggup menanganiku, dia hanya mengecek nadiku saja katamu. Dan kemudian lebih memasrahkan diriku pada orang pintar yang tak lain adalah kakekmu sendiri.

Dari kejauhan aku merinding mendengar ceritamu, mengetahui bahwa malam itu aku telah mati. Dan orang kampung datang mengerubungi rumahku, mereka diam dan sesekali komat-kamit, ada pula yang kasak-kusuk sambil menutup mulut dengan telapak tangannya takut suaranya menyebar. Meski demikian dalam samar aku masih mendengar bahwa mereka percaya bahwa aku telah kena kutukan. Sebuah hukuman dari sang Maha Ada.

Hujan mulai turun malam itu, dari dalam kotak telepon umum aku tenggelam dalam ketidakpercayaan dariapa yang baru saja aku dengar dari mulutmu. Aku pulang, berjalan kaki. Aku tidak lagi peduli pada hujan, dalam diriku sedang ada badai.

Pagi hari seperti biasa aku bangun, mencuci piring kotor, gelas bekas kopi, dan memberishkan lantai dari putung rokok. Aku memikirkanmu, memikirkan tentang dirimu yang tanpa aku, aku berharap dirimu disana baik-baik saja. Meski dalam kenyataan aku masih memikirkan perkataanmu tentang kematianku yang ramai diperincangkan orang, aku mati tidak wajar. Hingga akhirnya hari ini aku memutuskan untuk pulang, menemuimu, atau melihat makamku.

Siapa yang harus aku persalahkan atas hidupku, menyalahkan sesuatu yang tidak aku percayai hanya akan menjadi lelucon bagimu. Kau akan ikut dalam barisan mereka yang mentertawakan hidupku dan menyumpahi kematianku dalam diam. Aku harus mencari alasan setidaknya, agar hatiku lebih ringan menapaki jalan kekotamu.

Mungkin takdir adalah kata yang mampu bersikap netral atas apa yang kita berdua percayai.