Saat semua menjadi begitu rancu menurut saya, dimana konsep agama tak ubahnya menjadi dasar pijakan hukum dalam urusan manusia dengan manusia, walau saya pikir hukum manusia dengan tuhan tak ubahnya hanya sebuah lelucon untuk saat ini.

Multi tafsir yang begitu berkembang dalam sebuah agama bukanlah suatu kesalahan dari mereka yang memuluk suatu agama. Tetapi lebih karena konsep yang selama ini mereka pegang adalah lemah, lalu dengan mudah mereka berangan-angan dalam mendiskripsikan sesuatu.

Sedang Tuhan bermain aman dengan berkata bahwa mereka akan mendapatkan jaminan surga jika percaya kepadaku. Hanya percaya saja tak ubahnya hanya sebuah wujud narsisem eksistensi dari Tuhan.?

Baiklah kita coba kembali kepada persoalan perbedaan. Apakah benar demikian adanya, suatu itu dikatakan sebuah kebenaran yang benar-benar benar. Jika semua saling tuding soal siapa yang salah, dan mengklaim bahwa dirinyalah kebenaran diantara kebenaran yang tidak benar. Dan seharusnya ini menjadi suatu koreksi besar bagi mereka yang beragama. Menutup mata soal ini sama saja adalah wujud ketakutan terhadap siapa diri saya sendiri. Ketakutan terhadap kenyataan sesungguhnya, bahwa pedoman mereka telah roboh oleh pertanyaan dari dalam agama mereka sendiri.

Apakah akan terbantahkan bahwa setiap kitab memiliki pegangan sendiri, atau asbabun nuzul ? lalu dimanakah itu sekarang, problematika modernisasi yang berbenturan dengan agama?  Berdiri kokoh diatas perkembangan jaman pada akhirnya menjadi begitu banyak multi tafsir juga terhadap kitab yang berkata dengan penuh kiasan.

Ini yang ada dalam pikiran saya saat ini.

17 Agustus 2013.

Merdeka !!!