Gambar

Semua terlihat menjadi remang, kelir telah digelar lama dan sekarang nyala blencong menjadi lebih terang. Akhirnya Dharma akan melewatkan satu malam sampai penghabisan untuk menyaksikan wayang kulit. Walau dirinya sedikit risih dengan pandangan aneh dari orang tua yang juga hadir dan duduk di kursi seng warna hijau itu. Bibir Dharma hanya tersenyum saja membalas tatapan aneh itu, itu sudah menjadi bagian kesehariannya untuk dipandang aneh. Tetapi siapa peduli, Dharma sudah kebal akan pandangan kaget seperti itu. Tetapi selama disitu ada kesenian yang digelar. Dharma bertambah tidak peduli. Ini dunia yang dimilikinya, dunia seni.

Bayang-bayang wayang mulai ditata, berlainan sisi dan saling berhadapan. Pandawa dan Kurawa ditengahi oleh blencong yang bergoyang kecil ditiup angin. Penjual mainan tampak berbaris sejajar dengan penjual serabi, goregan, bakso bakar dan lainnya. Acara dadakan yang mampu membuat masyarakat desa HarjoWinagun berkumpul dalam satu tempat. Cuaca dingin tidak membuat surut mereka datang keacara yang sekali hadir dalam satu tahun. Sayang suara knalpot anak muda yang ugal-ugalan menjadi kekhawatiran tersendiri bagiku untuk menghayati cerita ini nantinya, cerita yang sering aku dengar dan tak pernah lelah di ulang dalam pementasan pewayanagan. Petruk munggah ratu. Mungkin ada pesan tersendiri dari apa yang dipilihkan dalang dalam judulnya kali ini, ya Dharma teringat kembali bahwa pementasa wayang tidaklah sembarang pementasan. Selalu ada nilai moral etik yang disampaikan didalamnya.

Dharma tiba-tiba ingat akan dosennya Dr. A Ciptoprawiro yang seluruh hidupnya dihabiskan untuk bergelut dengan dunia wayang, baginya wayang dinilai sebagai pagelaran kesenian yang menyajikan banyak nilai sebagai tuntunan (moral etik) dan tontonan (nilai estetik) karena konsep etika dan estetika filsafat Jawa akan mewarnai di dalamnya.

 Etika berkaitan dengan persoalan apa yang baik dan apa yang buruk. Pertentangan antara yang baik dan yang buruk, harus dapat diatasi dengan peningkatan kesadaran yang akan membawa manusia kepada kesempurnaan. Maka dalam pentas pagelaran kesenian wayang memperlihatkan adanya proses menuju pendewasaan jiwa. Pertentangan dan konflik yang dibangun dalam pergelaran wayang Pandawa dan Kurawa menunjukkan pergulatan nilai, yang mengemukakan hukum sebab-akibat, kodrat alam, dan kodrat Tuhan. Demikian juga dengan estetika yang mempertanyakan tentang apa yang indah dan apa yang tidak indah. Keindahan dalam filsafat Jawa akan diukur dengan realitas tertinggi. Walau dalam pendangan Dharma sendiri, nilai-nilai itu suatu saat akan bergeser, Kurawalah kebaikan dan akan dielu-elukan, sedangkan Pandawa akan dinilai lemah dan licik. Dharma tersenyum.

 Tiba-tiba muncul laki-laki tua dengan baju batik motif parang duduk disamping Dharma yang kebetulan kosong, tapi Dharma pikir ini bukanlah suatu kebetulan. Memang tidak ada yang berani atau mau duduk disamping Dharma. Laki-laki tua itu mengulurkan tangan, dengan sigap dan sedikit terkejut Dharma meraih tangan itu.

 “Dharma pak”

 “Pak Kuncoro dhek. Suka wayang juga?”

 “Suka pak, tapi ini baru pertama kali melihatnya langsung, hehehe”

 “Bagaimana itu? Suka tapi tidak pernah melihat”

 “Suka filosofinya, belum berani lihat langsung, takut ngantuk ditengah jalan”

 “Ngantuk karena bosan ya?”

 “Hehehe iya bisa jadi pak”

 Dihembuskan nafas panjang, Pak Kuncoro melihat Dharma kali ini dengan cukup lama. Meneliti setiap detail dari ujung sepatu boot sampai ujung rambut yang berdiri mohawk itu.

 “Anak muda sekarang memang suka yang instan ya”

 “Setuju pak, tetapi kenapa bapak bilang demikian setelah melihat saya? Apa saya Instan pak ? ”

 “Belajar wayang saja hanya mengandalkan buku dari yang dibacanya, mencari ringkas dengan menelaah resuman cerita wayang yang dimainkan selama 7 jam lamanya. Apa itu tidak instan juga namanya?”

“Ah…itu bukan instan pak, tetapi lebih efisien. Lebih menghemat waktu dalam belajar”

 “Sama saja itu”

 “Beda pak, ada hal dimana kita perlu mengejar dunia yang bergerak dinamis dan cepat ini dengan suatu trik. Yaitu membaca”

 “Wayang bukan dunia yang dinamis seperti diluar sana,…siapa namamu tadi? Karma?”

 “Dharma pak.”

 “Seperti itulah Dharma. Wayang itu tidak bisa diambil inti sari dengan memenggal sub yang penting saja kemudian dituliskan dan dibaca.”

 “Kenapa demikian pak? Bukankah ada pesan kuat yang sebenarnya ingin disampikan dari tema pokok cerita yang diangkat?

 Pak Kuncoro geleng-geleng. Dilihatnya wajah Dharma yang masih belum menerima kekalahan atas argumentasinya. Bagi Dharma selalu ada jalan yang tidak melulu harus instan ataupun berbelit-belit lama untuk belajar sesuatu. Ada bagian-bagian pengetahuan yang memang harus pandai mengkondisikan dalam mempelajarinya. Dan baginya wayang tak ubahnya sebuah cerita yang pasti akan mengangkat kebaikan sebagai pemenang dalam peperangan. Seperti yang telah dimahfumi oleh sebagian besar orang, Pandawa lah tokoh kebaikan sejati dalam perang saudara dengan Kurawa.

                                                                                                                                                               

Melihat pak Kuncoro yang terdiam membuat Dharma enggan untuk melanjutkan bicaranya, ada perasaan segan bahwa dirinya memang terlalu ingin benar, sedangkan pak Kuncoro mungkin sudah lebih dari kenyang akan cerita wayang yang dilihatnya sedari kecil. Ingin sebenarnya Dharma berkata pada pak Kuncoro bahwa ada kemungkinan dalam pemikiran pak Kuncoro masih mengandung kekolotan akan sikap memandang ilmu pengetahuan yang berkembang. Tetapi diurungkannya. Dharma kembali melihat Beber yang mulai dibayangi oleh wayang gunungan.