12 Angry Men

Film yang baru saja saya tonton, sebenarnya sudah memiliki file film ini cukup lama, sebuah film yang dicopy kan oleh Bentar teman saya sewaktu belajar di kelas menulis Bentang pustaka. Tetapi karena masalah subtitle yang baru bisa saya dapat (maklum belum bisa nangkep film dalam bahasa inggris) akhirnya pada malam inilah saya baru kesampaian untuk melihat film tersebut.

Baiklah, mencoba langsung pada point apa yang penting menurut saya.

Film 12 Angry Men adalah film jadul lainnya yang sudah saya tonton setelah kemarin melihat film “Seven Samuari” tahun 1954, sedangkan film 12 Angry Men keluaran tahun 1957.

Dari beberapa selentingan yang saya dengar sebelum melihat film ini, film ini hanya akan mengisahkan tentang sebuah permainan emosi 12 laki-laki sebagai juri dalam menentukan keputusan bersalah atau tidaknya terdakwa dalam sebuah kasus pembunuhan. Dan ajaibnya film ini hanya mengambil latar hanya didalam satu ruangan saja. Wow…terbayang betapa akan menjemukan bukan?

“Jadi takut akan boring seperti saat melihat film Madre”

Film ini mengambil latar hanya pada satu tempat saja, mungkin seperti film 127 Hours (2010), Phone Booth (2002), Buried (2010) Brake (2012) dan Exam (2009), tentu mereka yang meniru film ini, kan dilihat dari tahun pembuatan film sangat jauh rentannya, walau tidak melulu soal diskusi dalam satu tempat. Sudahlah itu tidak penting.

Kembali ke menjemukan. Apakah menjemukan? Ternyata tidak! Sidney Lumet berhasil menggarap film dalam satu lokasi ini dengan sangat apik, memang secara view penonton tidak diajak untuk melihat kedalam lokasi-lokasi yang menyenangkan, tetapi secara pemikiran dan emosi, penonton begitu dimanjakan untuk berkelana liar mengimajinasikan setiap pemikiran dari point-point yang disampaikan oleh kedua belas laki-laki tersebut.

Dalam film ini seperti yang dijelaskan bahwa mereka berduabelas memiliki tugas untuk menjadi juri dalam menentukan apakah terdakwa bersalah atau tidak. Saya tidak ingin membahas apa-apa soal alur cerita yang terjadi, karena hal ini kita bakal sama tahu jika sudah menontonnya, alur adalah hal pasti. Tetapi akan lain jika kita membicarakan tentang pesan apa yang kamu dapatkan setelah melihat film 12 Angry Men ini. tentunya setiap isi kepala akan berbeda dalam menangkapnya.

Beberapa point yang saya tangkap :

1. Adanya musyawarah untuk mufakat, seperti yang para sinopsis dan kritikus film bilang soal film ini, bahwa ada falsafah Pancasila didalamnya yaitu sila ke 4. Dimana dalam memutuskan keputusan yang berat tentunya harus diselesaikan dengan sistem mufakat.

Entah saya tidak tahu, apakah memang keharusan bahwa suara mutlak absolut yang harus diraih, atau lebih dari 50% saja sudah dianggap menang. Tetapi dari film ini, keputusan akan bersalah atau tidak bersalah harus benar-benar dihasilkan dengan hasil voting sampai suara mutlak 100% kesepakatan sama.

2. Masih terkait dengan poin nomor satu,penghargaan kepada kaum minoritas yang berbeda suara untuk mengemukakan pendapatnya, untuk dikaji dan ditelaah kembali. Bukan langsung di hakimi atau ditekan untuk mengikuti suara mayoritas. Selalu ada diskusi dan pengutaraan pendapat untuk mengejar mufakat. Hal ini terlihat saat tokoh-tokoh sentral seperti Davis (Henri Fonda) dan Juri #3 (Lee J Cobb) menjadi pemegang satu suara berbeda.

3. Ada pesan menarik yang ingin Davis sampaikan bahwa, kita tidak tahu kebenaran dengan pasti, tetapi kita harus mencari sampai titik terendah batas keragu-raguan. Terlebih ini tentang hidup dan mati seseorang didalamnya.

4. Dalam cerita tersebut mereka terjebak dalam satu ruangan yang tidak bisa ditinggalkan, pertama saat saya melihat adegan pintu dikunci, saya berpikir ini tidak penting banget. Tetapi setelah saya tangkap ada satu makna didalamnya. Pembuat cerita dalam hal ini Sidney Lumet ingin berkata bahwa betapa berat mereka harus menanggung waktu berlama-lama dengan cuaca gerah, berkeringat dan penuh dengan asap roko ditambah dengan jumlah mereka yang tentu saja akan menguras oksigen yang ada. Mereka harus memutuskan untuk menjadi hakim tentang bersalah atau tidaknya terdakwa yang jikalaau bersalah akan duduk dieksekusi dalam kursi listrik.

Apa pesan yang ingin disampaikan? Ya pesan yang ingin disampaikan adalah, betapa hidup seseorang ada ditanganmu saat itu, rasa gerah hanya beberapa jam, jika kau tidak tahan dan menyerah ingin segera memutuskan untuk segera saja mufakat. Kau telah meninggalkan kebenaran dalam sebuah putusan tanpa dasar. Dan parahnya lagi kau telah merenggut hak hidup seseorang dengan keputusan asalmu.

5. Betapa persoalan pribadi, emosi dan prasangka-prasangka harus dijauhkan dalam permasalahan saat mengambil sebuah keputusan. Ada quote menarik yang saya paling suka dalam film ini.

Selalu saja sulit untuk mengabaikan prasangka pribadi untuk sesuatu semacam ini, Dimanapun kau berprasangka, prasangka itu akan mengaburkanmu dari kebenaran. Aku benar-benar tidak tahu kebenarannya, malahan kupikir tidak orang yang benar-benar tahu kebenarannya ” sebuah pesan yang ingin menyentuh hati dan pikiran kita bahwa betapa mudah kita melihat sesuatu kebenaran atau kesalahan hanya dengan persepsi yang lahir dari emosi kita. Kebenaran dalah selayaknya ditempatkan dalam konteks yang tepat dengan sistem mencari yang tepat. Dengan telaah kritis dan sebisa mungkin mejauhi dari sikap-sikap subjektifitas.

6. Selanjutnya, betapa hak hidup seseorang benar-benar dihargai dalam film ini. hukuman mati tidaklah langsung diberikan tanpa pembelaan dan pengkajian secara mendalam, berbeda dengan di Indonesia yang walau hanya masih diduga dan tanpa pembelaan dari terdakwa, kematian sudah dulu menghampirinya dengan main hakim sendiri oleh masyarakat. Dengan dalih diduga-diduga. Hanya dengan diduga saja nyawa bukanlah barang mahal untuk dihilangkan.

7. Pemilihan konsep pengambilan juri dalam kasus hukum seperti di film 12 Angry Men yang mengambil dari berbagai macam karakter dan latar belakang pekerjaan sungguhlah memiliki satu tanda tanya besar, apa gerangan maksudnya? Secara pribadi saya melihat ini sebagai sebuah wujud tanggung jawab rakyat terhadap hukum dinegara. Mengajak rakyat untuk belajar menilai dan mengambil keputusan atas hukuman yang layak dalam suatu kasus kejahatan. Ini adalah salah satu gambaran pengajaran pendidikan hukum dan keadilan dalam masyarakat yang baik menurut saya.

8. Hal menarik lainnya adalah ungkapan dari juri terakhir. Dia bercerita tentang ide dari agensi iklan tempatnya bekerja saat mengalami kebuntuan dalam berdiskusi “Oke kita naikkan benderanya, dan kita lihat apakah ada orang yang memberikan hormatnya” sekilas kata-kata tersebut tidaklah masuk dalam pembahasan kasus penentuan diskusi pembunuhan tersebut. Tetapi ada pesan menarik yang saya rasa ingin diselipkan oleh pembuat film ini. apakah itu?

Ya, sebagaimana kita ketahui bahwa pengambilan keputusan bukanlah suatu perjudian yang dibuat-buat. Pengambilan keputusan haruslah memiliki dasar dan perhitungan yang matang didalamnya. Bukan hanya mengandalkan respon yang akan terjadi dengan gambling seenaknya seperti itu.

Itulah delapan point pesan yang saya pikir menarik dari film ini , terlepas dari bagaimana Sidney mengemasnya dengan hanya satu lokasi pengambilan gambar. Film pertarungan yang lebih hebat dari film indonesia the Raid. Film mikir yang penuh pesan yang saya pikir layak untuk ditonton oleh bangsa Indonesia. Film yang begitu menyindir kasus G30S pada tahun 1965 seharusnya. Dimana hak untuk membela diri dan mengkoreksi nilai-nilai kebenaran begitu jauh adanya.

 

Pesan saya untuk yang membaca tulisan ini, saya sangat merekomendasikan melihat film 12 Angry Men. Film jadul yang penuh dengan pesan moral dan keadilan. Film yang begitu mendidik walau berwarna hitam putih.

Dan di penutup tulisan, seperti para reviewer lain yang menuliskan tentang film ini. saya akan berucap.

                                                      

“Terima kasih pada Sidney Lumet yang telah melahirkan film 12 Angry Men. Sebuah Masterpiece film terbaik yang pernah saya lihat”

 

Dan tentunya terima kasih kepada Bentar Cucu Samibuti yang telah mengcopykan film ini untuk saya. semoga lekas mempunyai film ini “Dog Days Afternoon sama Serpico” yang sama-sama karya Sidney Lumet.