Gambar

Dipuncak menara pengawas dalam istana di Alengka. Seno sibuk merangkai kata dengan keyboard pada laptopnya, memandang senja dengan warna jingga yang sedikit tercoreng mendung sedemikian rupa, tetapi tidak mengapa, Senja akan tetaplah senja meski ada cacat yang tidak sengaja padanya. Sedang disebelahnya Walmiki duduk bersila, jemarinya memainkan botol tinta dengan bulu penanya, sesekali memejamkan mata, mencari bayang-bayang cerita baru yang diharapkannya akan menjadi masyhur seperti cerita Ramayana. Tetapi dalam kepalanya hanya terlintas tentang kedatangan Seno yang mencarinya di Alengka.

 Dahan pohon waru bergerak kasar, berdenyit bergesek dengan dahan jati yang sama-sama kering, angin lembab yang mulai hadir dari barat belumlah cukup untuk membuat semua ini terasa lembut. Menunggu waktu saja untuk lembab setelah hujan pertama, yang menurut bisikan dari Bathara Indra akan datang tepat lima hari setelah burung Sriti meninggalkan sarangnya.

 Tepat tiga malam dari hari ini Hanoman akan sampai di Alengka, menjumpai Sinta dan bertemu dengan Trijata. Mengambil mereka berdua dari taman Argasoka terbang menuju ke gua Kiskenda tempat Rama dan Lhaksmana menunggu dengan bala tentara wanara yang siap menggemur Rahwana. Dimana kemudian Hanoman meminta ijin kepada Rama dan Lhaksmana untuk memporak-porandakan Alengka sendirian dilanjutkan dengan mengubur kerajaan para raksasa itu kedalam samudra. Ada kejanggalan memang dalam cerita ini menurut Seno, ada keburukan citra tentang Hanuman yang dituliskan oleh Walmiki, sosok wanara putih putri dari dewi Anjani yang masih hijau dalam peperangan ini.

 Inilah yang akhirnya membuat Seno bersusah payah datang dan ingin menyampaikannya kepada Walmiki. Hatta, dengan bekal keuangan seadanya Seno akhirnya nekad mengarungi samudra Hindia dan menembus kedalam dimensi dunia pewayangan untuk bertemu dengan Walmiki yang konon kabarnya sedang berada di Alengka. Suatu kebetulan.

 Menemui para penjaga dengan memperkenalkan diri dari dunia manusia sebenarnya, dan ingin bertemu dengan Rahwana. Hingga kemudian dengan sedikit bla-bla-bla pada pejaga Seno pun bertemu dengan Rahwana. Raja para raksasa yang telah membunuh adiknya sendiri Wibisana. Rahwana raja Alengka yang disangkanya buas dan menyeramkan ternyata tidak sedemikian rupa dalam kacamata Seno. Dengan menjelaskan maksud kedatangannya akhirnya Seno diberikan ijin untuk bertemu dengan Walmiki yang memang sedang berada di istana Alengka. Rahwana tidak sekaku yang dipikirkan Seno rupanya. Rahwana sendiri memberikan kebebasan akses dan keamanan kemanapun Seno mau pergi, memberikannya dengan cuma-cuma demi pengetahuan manusia tentang kerjaan Alengka yang sebenarnya. Siapa sangka jika sosok pemakan manusia itu benar-benar mengerti dan menjalani Sastra Weda.

 Hingga sudah tidak terasa tepat pada malam hari ini tiga hari Walmiki dan Seno saling mengenal dan bercakap tentang dunia sastra. Walmiki sendiri tertarik terhadap Seno yang dijumpainya, manusia yang ternyata bukanlah manusia biasa jika dilihat dari mata batinnya. Ada unsur dewa dalam jiwa laki-laki dari dunia manusia ini. manusia yang rela bersusah payah menemuinya hanya demi mengkoreksi sebuah cerita. Mengkoreksi tentang Hanoman dan penghabisan kerajaan Alengka. bagi Seno Hanoman tidak seyogyanya mengakhiri hidup Rahwana, dan mengubur kerajaan Alengka didalam samudra. Masih terlalu dini mengakhiri kisah Ramayana. Rama harus berperan dan Sinta tidak sebaiknya mudah keluar begitu saja dari Alengka bersama Trijata. Begitulah koreksi Seno yang disampaikannya kepada Walmiki. Walmiki benar-benar tertarik, meski terasa begitu lancang rasanya.

 Dari perdebatan sampai adu argumentasi mereka telah lalui, dari sanalah mereka akhirnya lebih saling mengerti. sosok sebagai resi pada Walmiki tidak begitu dihiraukan oleh Seno, baginya seorang penulis adalah penulis, entah itu siapa saja, mau dia manusia, resi, dewa, nabi atau bahkan Tuhan sekalipun. Penulis haruslah menjadi penulis yang memiliki imajinasi tidak terbatas. Menciptakan dunia baru dalam pikiran setiap pembacanya. Tetapi harus ada kaidah dan pesan yang layak untuk dicerna, bukan hanya sekedar selesai dan bias di ujung cerita.

 Senja mulai tiba saat mereka bedua duduk dan memutuskan untuk menulis bersama, tentunya setelah percakapan soal Hanoman terselesaikan, dan entah mengapa

 “Kali ini apa yang akan kau ceritakan pada dunia lewat tulisanmu Mik”

 Walmiki masih diam, memang menyebalkan memang saat Seno memanggilnya dengan panggilan Mik. Panggilan yang benar-benar kurang ajar terasa. Tetapi bagaimana lagi, Seno bukanlah seorang yang biasa seperti yang diketahuinya. Bathara guru mengirimnya langsung dari Khayangan ke tujuh, turun dan lahir kedunia bersamaan dengan lahirnya senja. Lahir dari rahim yang sama dengan waktu malaikat kembali membawa pundi-pundi dosa sebelum Bathara Surya menutup tirainya.

 “Entahlah, mungkin aku akan menuliskan tentang takdirmu saja, bagaimana?”

 Seno mengangguk, seakan tidak peduli pada kisah apa yang akan menjadi takdirnya kelak, tidak peduli Walmiki akan menuliskan kisah menyedihkan atau membahagiakan untuknya. Walmiki hanya memandang sekelebat saja sebentar kepada wajah Seno, tetapi sayang, wajah itu tidaklah utuh terlihat setelah angin menyibakkan rambut gondrong Seno sehingga menutup wajahnya.

 “Kau tidak peduli pada nasib dan takdir yang akan aku tuliskan untukmu?”

 Seno terdiam, menghentikan menulisnya, kemudian memandang Walmiki. Sambil beberapa kali menyibakkan rambut panjangnya yang lupa digelungnya hari ini.

 “Tidak, Aku tidak peduli pada apa yang akan kau tuliskan padaku”

 “Kenapa? Tak takutkah kau akan kubuat kau bernasib buruk? Menyedihkan?”

 Seno geleng-geleng kepala, tersenyum. Kemudian melanjutkan menulis dengan memainkan jemarinya diatas keyboard.

 “Kau telah berhasil menuliskan cerita Hanoman dalam kisah Ramayana dengan sangat buruk, ya meski aku akui aku sangat terkesima dengan kekomplekan dari setiap tokoh lainnya dalam cerita yang kau lahirkan. Tetapi ceritamu buruk, sangat buruk untuk dibaca diduniaku saat ini”

 Walmiki melihat Seno yang masih mengetik, baru pertama kali ini dia mendapatkan ucapan sedemikian itu dari seseorang yang mengenalnya. Dewa-dewi sendiri tidak pernah ada yang mengatakan demikian padanya, baru satu anak manusia ini yang berani berkata demikian, bukan marah Walmiki merasainya, justru penasaran atas apa yang ada dalam kepalanya. Terlebih tentang Hanoman dalam kisahnya.

 Walmiki sendiri baru tahu jika akan datang dalam dunia pewayangan ini manusia bernama Seno, pemuda berambut gondrong dengan jambang yang awut-awutan. Walau secara sepintas wajahnya juga tak ubahnya mirip tokoh pewayangan, tetapi kaos oblong hitam dan celana jeans dipadukan dengan sandal jepit membuatnya tampak lain.

Ingin sekali Walmiki bertanya tentang maksud kata-kata Seno, mungkin pula ini alasan kedatangan Seno kedunia pewayangan tempatnya berada saat ini. Tetapi ditahannya. Walmiki merasa aneh dengan hal ini, begitu juga dengan penulis yang tidak tahu harus bagaimana menggambarkan keadaan ini, keadaan dimana seorang Walmiki sang penulis takdir tidak tahu tentang apa yang sedang dialaminya sendiri. Lucu bukan, seorang penulis takdir manusia yang tidak tahu menahu tentang takdir dirinya sendiri. Mungkin sebaiknya Walmiki berkilah saja, kekuatan menulis takdir hanya berlaku pada dunia pewayangan yang menjadi tempatnya hidup saat ini.

 “Baiklah, Aku akan benar-benar menulis tentang dirimu, dan aku akan mengguratkan penaku untuk menuliskan takdirmu dimulai dari malam ini, sosok manusia yang menerobos masuk kedalam dunia cerita pewayangan”

 Seno tampak tidak peduli, walau dalam hatinya dia sangatlah penasaran sebenarnya. Tulisan apa yang akan diguratkan Walmiki padanya. Tetapi ditahannya perasaan itu, takut-takut siapa tahu akan terbaca dari ekspresi wajahnya yang tampak sumringah itu.

 “Menulislah Mik, jangan hanya bicara saja. Jika kau ingin bicara, melalanglah saja, mengembara keliling dunia sebagai pencerita” Jawab Seno sambil menulis

 Burung-burung manyar terbang, beberapa kali bersamaan terbang merendah bersama dengan burung camar. Istana Alengka memang berdekatan dengan pantai disebelah Selatan, sedang disebelah utara berhadapan dengan alas lebat di kaki gunung Pancaroka. Dari ujung menara ini sebuah pemandangan indah ini dapat dilihat dengan luas.

 Walmiki kemudian mulai menuliskan cerita tentang Seno, benar-benar menuliskan kisah Seno yang dimulai dari bagaimana Seno akan kembali kedunia manusia modern setelah meminum kopi terkahir di atap menara ini, menuliskan tentang Seno yang akan menuliskan sebuah kitab yang akan menuliskan dirinya dan dunia pewayangan dengan sudut padang yang berbeda.

 Guratan demi guratan mulai tersusun membentuk paragraf dalam kertas lontar. Seperti kerasukan Walmiki menulis tanpa henti, tanpa spasi walau sekedar mencelupkan pena dari tangkai bulu burung Jatayu yang telah mati. Senja semakin legam, semburatnya hilang tertelan batas pandang samudra di sebelah barat. Malam datang dengan membawa kegelapan dan dingin yang biasa, semesta masih berada dalam jalurnya.

 Hingga akhirnya Walmiki selesai dengan lembar terakhirnya.

 Seno menatap wajah renta Walmiki, dilihatnya tak ada gurat kecapaian dalam wajah Walmiki setelah menulis tanpa jeda. Merasai apa yang terjadi padanya Walmiki pun menoleh kepada Seno dan berkata.

 “Kau tidak pernah mengkhawatirkan tentang apa yang aku tuliskan kepadamu bukan?”

 Seno diam, mengambil sebatang rokok mild dari saku celananya dan menyulutnya. Dihisapnya lembut penuh penekanan kemudian dihembuskannya keatas mendongak kearah langit melalui bibirnya.

 “Tentu saja tidak Mik. Apa yang harus aku khawatirkan dari tulisanmu untukku jika sendiri mampu untuk menuliskan cerita tentang dirimu dari tulisanku” Jawab Seno sedikit terkekeh.

 Walmiki terdiam, tersenyum. Dirasainya aroma asap rokok Seno yang samar-samar diterbangkan angin melewati hidungnya. Mereka berdua melempar pandangan kearah samudra yang membiaskan wujud bulan. Terbang kealam pikiran masing-masing, merasai dan mereka-reka tentang takdir apa yang akan terjadi. Sekalipun itu Walmiki sang penulis takdir sendiri. Semua peluang terhampar dihadapan.

 “Kau mau kopi? Aku akan turun kebawah membuat lagi, jika kau mau akan aku buatkan satu untukmu” Seno bangkit dan berjalan menuruni tangga menara.

 “Oke, buatkan aku satu, Kopi hitam tanpa gula”

“Oke” Seno pun berlalu, meghilang dibalik tembok anak tangga.