Gambar 

“Kau tidak bisa membunuhku dengan diammu

Aku tetap tak bergeming, mencari celah lewat nafasmu yang tersenggal-senggal.

“Kemarin hampir saja aku lolos masuk ke rongga dadamu, hampir lolos untuk mencatut jantung yang mulai malas berdenyut itu

Kau hanya sampah yang tidak bisa apa-apa, dan sudah aku bilang padamu seribu kali, waktu yang akan membawaku pergi, bukan kamu !!!” Lanjutmu.

Lama aku biarkan kau terkekeh yakin, menikmati imajimu tentang aku yang kau anggap gagal. Dan kulipatkan lagi kain kafan, kain kafan pemberian darimu 6 hari yang lalu.

Kenapa kau masih selalu berkata bahwa aku kalah?

Kumencoba bertanya dengan pertanyaan sebisaku.

Kau belum pernah mati bukan?, kenapa kau sesombong itu padaku yang telah mati ribuan kali, bahkan lebih Cecarmu.

Kau diam tidak berkata-kata lagi, hanya sayu matamu yang aku dapatkan dalam ruang remang ini. Lalu tiba-tiba kau membalikkan badan dan terkikih renyah, serenyah remah roti dari Yesus.

Baiklah, aku akan keluar dari kuburmu, dan kau bebas untuk membuktikan, apakah aku telah berbohong dan kalah darimu atau tidak

Dan akhirnya kau melompat naik keatas, tidak seperti yang lainnya yang harus menunggu kuburmu diloncati kucing hitam. kau bangun dan berjalan dengan tegas, kau masih hidup dan menipuku.

sekarang aku yang tertinggal disini sendirian dengan kain kafanmu. Kain kafan yang sebenarnya sudah kau siapkan dan kau atur sedemikian rupa agar tanpa sengaja aku membelinya untuk diriku sendiri atas namamu.