Gambar

“Kenapa kau tidak pernah menulis soal cinta?”

Aku kembali teringat pertanyaanmu, pertanyaan yang kau tanyakan 7 hari yang lalu. dan kau tentu juga akan mengingat bahwa aku tidak menjawab pertanyaanmu. Aku memilih untuk duduk diam sembari membolak-balikan halaman buku. Menghindar dan mencoba tidak perduli pada pertanyaanmu. Kau tahu itu dengan pasti.

Ya, memang aku mengerti selama ini tulisan-tulisanku selalu saja nyinyir. Selalu saja bercerita bukan soal hati atau perasaan yang sedang bergelora dalam cumbu rayu. Tulisanku selalu penuh dengan amarah dan kebencian terhadap dunia yang tidak adil, terhadap Tuhan yang susah kumengerti keinginannya. Soal Tuhan yang Maha Cinta Kasih tetapi menciptakan manusia dengan segala sengsara dan samsara.

Dan sebenarnya aku tahu bahwa kau mengerti itu dengan baik. Mengerti akan alasan-alasanku dengan semua tulisanku. Sebagaimana pula aku tahu bahwa dirimu sendiri juga tidak pernah menulis tentang kesedihan, tentang kemiskinan dan penindasan. Ya, tulisanmu selalu dengan penuh keceriaan. Tentang cinta yang berwarna cerah, tentang hasrat indah dalam setiap kata-kata yang kau uraikan. Aku tidak pernah memprotes ataupun sekedar menanyaimu kenapa kau selalu menuliskan itu.

Bagiku sudah lebih dari cukup, untuk mengharagai bentuk tulisanmu. Mengharagi keinginan yang ada dalam di pikiranmu dalam alur-alurnya. Menghormati pesan yang ingin kau sampaikan dalam tokoh yang kau gambarkan.  Meski aku akan selalu menebaknya dengan mudah. Ya, karena hampir 80% dari tulisanmu yang ku baca akan berakhir dengan pelukan dan ciuman hangat dari dua sejoli yang dilanda asmara.

aku menghargai itu, menghargai tulisan-tulisanmu. Ya, dunia tidak selalu seperti apa yang ada dalam bayanganku, setiap kepala memiliki pandangan dalam memandang dunia dan problematikanya. Romantisme memang selalu menarik bagi mereka yang mengantri untuk membaca tulisanmu, mereka butuh itu. Butuh sesuatu untuk membuat hati mereka tersenyum, butuh sesuatu yang membuat mereka lupa pada luka yang nyata pada dunia. Kau selalu berhasil membuat mereka terlena dengan keindahan bahasa di tulisanmu. Aku tidak meragukan itu.

Tetapi itu bukan aku, bukan seorang perempuan dengan masa lalu yang begitu keras dan kaku sepertiku. Lahir di Aljazair dan harus pergi mengungsi ke Prancis dan berganti nama, dunia memaksa untuk membasmi siapa saja yang berbeda. Mungkin benar kata Darwin bahwa yang kuatlah yang akan menang.

*******

“Apakah ini bangku gerbong D1.E? ”

Aku teringat pertanyaanmu itu saat pertama kali berjumpa dengan dirimu, saat kita berkenalan dalam sebuah kereta menuju kota di ujung barat sana.

“Phillips” aku mengenalkan diri.

“Dominique” sahutmu tersenyum.

Kita duduk dalam satu baris kursi yang sama, menghadap berlawanan dengan arah laju kereta yang sedang menuju Munich Jerman. Membelakangi matahari yang kembali dalam peraduan abadinya.

Kemudian entah bagaimana mulanya kita saling bertanya, berbicara tentang diri kita. Dan kau bercerita panjang lebar soal perang di Prancis hari ini, virus ebola di Afrika, klub malam dan jalan-jalan penuh lampu warna-warni di Washington, homoseksual di Amsterdam. Sedang diriku mendengarkan, menikmatimu bercerita. Aku tidak menyangka perempuan secantik dirimu begitu mengerti akan dunia. Matamu benar-benar indah saat kau berbicara kala itu. Aku jatuh cinta.

Kau masih saja bercerita, tidak perduli bunyi kereta yang mendengus susah-payah. Bising. Sesekali kau berbicara keras penuh penekanan saat ada hal yang perlu aku ingat dalam ceirtamu. Aku tidak perduli saat itu, aku hanya ingin mendengarmu, melihatmu dan menciumi aroma parfum ditubuhmu yang terbang oleh angin dari celah jendela. Aku memilih diam untuk menikmati moment, melihat dirimu bercerita.

Tiba-tiba kau menanyakan buku yang saat itu sedang kugenggam, ya kemudian berganti aku yang bercakap soal buku itu. Buku Pride and Prejudice yang ditulis oleh Jane Austen. Sebuah buku tentang cinta, sebuah perasaan yang mampu membuat manusia menjadi canggung, banyak basa basi, sering salah sangka, dan membuat kita semua menjadi bodoh.

Mungkin seperti diriku saat ini, mabuk kepayang dalam jatuh hati pada perempuan yang baru saja kutemui. Dirimu.

Kulanjutkan ceritaku, cerita tentang diriku yang ingin sekali menjadi penulis roman hebat seperti Charles Dickens, William Makepeace Thackeray, Gustave Flaubert, Charlotte Bronte dan jane Austen penulis buku yang sedang kubaca ini.

Kau tersenyum sembari memalingkan muka kejendela, dan aku tidak mengerti kenapa. Dalam hati kupikir aku telah mengingatkanmu pada patah hati yang sebenarnya sedang kau tutupi, atau kau sedang merindu buta pada laki-laki yang jauh disana. Aku benar-benar menyesal telah membuatmu terdiam, menyisakan waktu dalam perjalanan dengan rasa kaku dan canggung. Kita terjebak dalam permasalahan perasaan masing-masing.

Dari pantulan kaca kulihat air matamu mengambang.

******

Mungkin saat itu memang harus aku akui bahwa aku tertarik denganmu, sosok laki-laki kurus dengan mata biru. Ada kedamaian dalam tatap matamu. Tetapi aku tidak mampu untuk melukiskannya secara sempurna, kau laki-laki Prancis pertama yang membuat hatiku bergetar.

Ingin aku menceritakan diriku padamu, tentang aku yang juga ingin menjadi penulis seperti yang engkau katakan padaku. Tetapi aku terlalu malu. Aku hanya seorang imigran gelap yang mencoba untuk bertahan hidup di negaramu. Dinegara yang telah menjajah lebih dari 100 tahun tanah kelairanku, Aljazair.tidakkah kau tahu, Bukankah bersembunyi di sarang musuh lebih aman?

Malam itu kereta membawa kita pergi jauh ke Jerman, meningalkan kota pelabuhan Le Havre Prancis, kota yang selama ini menjadi tempatku bekerja sebagai editor sebuah Koran harian. Dimana setiap saat aku akan membaca berita soal negaraku yang masih saja terjajah oleh bangsamu, sebuah perasaan yang tidak mengenakan dan memuakkan. Tetapi apa yang bisa aku lakukan lagi, ini adalah jalan terbaik saat ini yang bisa aku dapati. Pekerjaan yang aku dapatkan setelah menyelinap didalam kapal kargo yang membawa hasil tambang.

Pertemuan kedua kali denganmu di Stuttgart tanpa sengaja, tepatnya sebulan setelah perpisahan kita di stasiun yang begitu berkesan untukku jika kau tahu. Saat itu tengah malam bukan, saat salju mulai turun pada waktu yang memang seharusnya, kau melihatku duduk disebuah café sendirian. Ya aku memang selalu sendirian. Kau datang menyapaku, sedikit ragu-ragu, mungkin karena perbincangan kita yang berakhir dengan kaku, semua karena permasalahanku.

“Apa yang kau lakukan disini?”

Katamu memulai perbincangan malam itu, kau kemudian memesan anggur Pinot Noir dari negaramu, sedang merindukan aroma wine dari kotamu.

“sedang menunggu kata-kata untuk melanjutkan tulisanku”

“Kau menulis juga?”

Aku mengangguk, menenggak Anggur Scheurebe yang berada di depanku.

“Wow, tidak kusangka kau juga seorang penulis? Tetapi harusnya aku sadari itu  sejak di kereta. Ah bodohnya diriku.”

Kukernyitkan keningku.

“Ya benar, seorang perempuan cantik, muda seperti dirimu yang begitu mengerti akan dunia. Jika bukan seorang terpelajar pastilah seorang penulis.” Lanjutmu.

Aku tersenyum, aku selalu suka intonasi bicaramu yang penuh gairah. Juga biru matamu malam ini.

“Apa yang kau tulis, Dominique?”

Aku tak menjawab, kutenggak lagi wine dengan rasa currant merah ini sebelum mengambil buku yang ada dalam tasku. Buku hasil tulisan selama hidup dalam ketakutan perang  di negaraku. Kau membukanya, melihat cover buku dengan judul enchaîner dengan warna hitam legam. Kau mengangguk, kemudian membaca lembar demi lembar. Aku menikmatimu lagi, dalam ruangan glamor kamuflaseku.

“Wow, kau penulis yang mengerikan, haha….haha.”

Aku tidak perduli kata-katamu, aku lebih tertarik pada ekspresi kaku yang kau perlihatkan, ada perasaan tidak nyaman dalam wajahmu. Ya, memang demikian seharusnya, perasaan aneh saat membaca buku bengis yang dituliskan oleh seorang peremuan dihadapanmu ini. Aku.

Mungkin kau akan berpikir bahwa aku seorang psikopat, seorang yang sakit jiwa atau apa terserah sesuai seleramu dalam menilai diriku. Tetapi memang inilah kebenaran itu Phillips. Salju diluar masih terus turun dengan derasnya, menumpuk disisi-sisi jalan. Dari kaca jendela kulihat jalanan mulai sepi, kondisi Prancis saat ini masih saja bersoal pada pengurusan amandement pemerintahan soal isu kemerdekaan. Sedang di timur jauh Asia sana bangsa-bangsa bertubuh pendek sudah berhasil merdeka dari tangan imperialism Eropa.

“Aku suka gaya berceritamu”

Lanjutmu mencoba memecah keheningan, aku tahu basa-basi itu.

“Apakah  ini tema perang pertamamu?”

“Tidak, itu buku ketiga yang aku selesaikan”

Belum sempat lagi kau bertanya.

“Dan semua buku yang aku tulis berbicara demikian.”

Kemudian kau menghela nafas panjang. Dengan sedikit gerakan membetulkan posisidudukmu, tersenyum kembali. Sepertinya kau lebih leluasa kali ini.

“Bagaiamana denganmu? Sudah berhasilkah kau menulis buku roman impianmu?”

“Ya, dan bulan depan sepertinya sudah akan mulai diterbitkan.”

“Cerita seperti itu cepat sekali laku bukan?”

Kau tertawa, kulihat deretan bibirmu yang rapih. Gigi putih bersih tanpa ada bekas sisa nikotin ataupun cafein. Kau pria yang tidak merokok rupanya.

“Aku tidak tahu kenapa aku mendengar rasa sinis pada pertanyaanmu, tapi. Inilah dunia kita Dominique.”

======= Bersambung ========