Prapti menunggui suaminya yang tertidur. Tangannya beberapa kali mengibas-ngibaskan Koran untuk mengusir lalat. Cuaca panas membuat keringat di tubuh suaminya menambah busuk bau dalam kamar. Luka koreng penuh nanah di sekujur badan membuat aroma amis yang membuat orang mual saat menciumnya. Tapi bagaimana lagi, Janto adalah ayah dari anak yang dikandungnya saat ini.

Prapti kembali mengingat-ingat bagaimana awal mula musibah ini merundung keluarga kecilnya. Semua berawal dari pohon beringin besar ditepi kuburan kampungnya, persis disebelah selatan rumah Haji Amir.

Sore itu suaminya yang biasa kerja menjadi buruh tani sewa di minta untuk menebang salah satu dahan pohon beringin tua itu. Menghalangi pandangan orang yang mau belok di tikungan, terlebih tanah dikuburan jauh lebih tinggi dari permukaan jalan. Sulit untuk melihat kelain jalan, kata Haji Amir saat menjelaskan pada Janto.

Janto awalnya takut untuk menerima perintah itu. Tapi mau bagaimana lagi, ceramah Haji Amir membuatnya berani, semuanya ketakutan itu hilang setelah imam di Masjid kampungnya itu juga berjanji bahwa semua risiko dirinya lah yang menanggung. Terlebih ditambah dengan upah yang akan diberikan oleh Haji Amir. Upah yang senilai dengan setengah bayaran dari hasil panen dalam satu musim. Istrinya yang sebentar lagi melahirkan tentu membutuhkan banyak uang, pikirnya. Dukun beranak terakhir di kampungnya sudah meninggal satu tahun yang lalu. Jadi di harus ke bidan, dan yang pasti dengan biaya lebih mahal.

Janto percaya seperti kebanyakan penduduk desa lainnya bahwa pohon itu dihuni oleh Jin. Jin yang sering meminta tumbal jika tidak diberikan sesajen dihari-hari tertentu, semisal malam Jumat Kliwon, atau Selasa Legi. Kecelakaan di tikungan kuburan itu adalah ulah Jin yang dipanggil Mbah Kober saat jatah sesajen tidak diberikan tepat waktu atau kurang lengkap.

Siang itu juga Janto suaminya pulang kerumah, mengambil semua perkakas, Gergaji, Tambang, dan Kait. Harapan besar pada upah yang dijanjikan menari-nari dalam benak Janto.

Prapti yang saat itu kebetulan sedang di pasar untuk jualan sayur cenil dan kangkung tiba-tiba dikejutkan oleh omongan tetangganya yang kebetulan berpapasan dengan Janto suaminya saat hendak ke pasar.

“Suamimu akan menebang pohon beringin di kuburan Ti”

Rasa was-was menghinggapi pikiran Prapti.

Duh Gusti, Paringono kang Janto Slamet

Janto berjalan menuju pohon beringin itu dengan penuh harap, terlebih belum tentu panen musim ini bagus. Beberapa kali berpapasan dengan tetangganya, Janto seperti seorang jagoan yang akan membunuh monster menakutkan. Tetangganya tidak menyangka bahwa Janto lah orang yang dipilih oleh Haji Amir. Sebagian mencemaskan Janto dan menganjurkannya untuk mempertimbangkan kembali pilihannya. Tidak ada yang mendukung Janto. Janto goyah, ketakutan kembali menghantuinya. Teringat olehnya cerita-cerita menyeramkan yang dulu sering dirinya dengar dari kedua orang tuanya tentang pohon itu. Pohon yang lebih tua daripada kakek buyutnya bahkan.

Tetapi pikirannya kembali pada upah untuk kelahiran anak sulungnya. Janto kembali melanjutkan berjalan dengan mantap. Pohon itu besar, menjulang tinggi dengan sulur-sulur akar yang jatih kebawah, batangnya begitu kokoh, mungkin baru bisa dipeluk dengan tiga orang laki-laki dewasa. Daunnya yang hijau lebat menandakan betapa suburnya pohon yang harus ditebangnya ini. Biji-biji beringin berjatuhan, menumpuk dan membusuk dengan warna hitam, lengket. Beberapa dahannya memang menjorok keluar menutupi pandangan jalan, dahan inilah yang harus dirinya tebang.

Tetangga yang mendengar berita bahwa Janto akan menebang pohon beringin berkumpul, mereka melihat dan berharap dengan cemas untuk keselamatan Janto. Mata mereka tertuju pada sosok kekar dengan peralatan yang mulai memanjat dengan berpegangan pada lekukan akar yang menempel menjadi batang pohon. Dengan cekatan pula Janto sudah sampai di tempat yang tepat untuk menebang dahan. Ditebasnya satu persatu ranting-ranting kecil terlebih dulu, mencari pijakan yang kuat untuk menjaga keseimbangan. Tubuhnya yang tegap dengan lengan penuh otot yang menyembul membuat dirinya yakin untuk menyelasaikan tugas ini dengan cepat. Orang-orang dikampungnya melihat di bawah dengan penuh harapan, Janto tidak akan celaka oleh Mbah Kober. Sedang Janto di atas terus sibuk menebas dahan.

“Braaaaaaaakkkkkk”

Janto tiba-tiba meluncur jatuh kebawah, beberapa kali terpelanting oleh dahan-dahan kecil. Janto tidak sadarkan diri dengan tubuh penuh luka. Para tetanggapun serentak berteriak, anak-anak kecil melongo, berbisik-bisik pada teman sebayanya. Perempuan menutupi wajah mereka, ngeri. Bapak-bapak berlari mendekati Janto, membopongnya. Haji Amir memerintakan membawanya ke rumahnya.

“Cepat bawa”                                                                           

Sebagian anak anak kecil berlari ke pasar, disuruh oleh ibu mereka untuk mengabarkan pada Prapti bahwa suaminya jatuh dari pohon. Mereka lekas hilang dari pandangan. Dan pemuda pergi ke kota untuk memanggil dokter.

Janto masih tidak sadarkan diri, penduduk desa mengerubungi sampai membludak diluar rumah Haji Amir. Bisik-bisik mereka mulai membahas soal Mbah Kober yang marah, bulu kuduk meremang. Luka lecet hampir disekujur tubuh Janto, saat jatuh beberapa kali tersangkut dan terpelanting pada dahan dibawahnya. Janto masih belum siuman. Diluar Prapti berlari seperti kesurupan, tidak lagi menghiraukan perutnya yang besar dan berguncang. Air matanya berlinang, bukan karena dagangan yang ditinggalkan.

Menerobos kerumunan dan didapati sang suami terkapar dipembaringan.