Gambar

Kamar ini masih saja kosong, selalu lenggang. Selayaknya orang gila dalam penangkaran rupanya diriku sekarang ini. Kamar dengan cat putih tanpa hiasan sama sekali membuatku mataku jemu melihat. Terlalu terang, mencolok mata.

Kepalaku masih saja berat, sisa bius hari ini sepertinya sudah mulai hilang dikit demi sedikit. Perut masih saja mual, mungkin benar bahwa aku muntah banyak kemarin. Saat ini saja aku masih merasa kepalaku sangat pusing, suntik bius di punggung memang sangat tidak enak sama sekali. Mungkin aku harus meminta suntik bius pada ujung kaki saja lagi, seperti dulu saat awal-awal selesai operasi.

Sudah lama aku ingin sekali melihat hasil operasi, tetapi selalu tidak diperbolehkan. Menunggu kering dulu, ini juga masih diperban. Itu jawaban yang selalu aku terima saat meminta.aku tidak putus akal, setiap sepi aku mencoba mengangkat punggung untuk melihat kakiku, beberapa kali kucoba, selalu gagal. Tekanan di kepalaku sangat tinggi, rasanya mau pecah saja setiap kali mencobanya. Belum lagi badanku masih saja lemas. Mungkin karena aku sudah tua, sudah tak punya cukup banyak tenaga.

Sudah tidak lagi aku dengar samar orang bercakap-cakap diluar, percakapan mereka tentang diriku. Sudah hampir dua seminggu berlalu. Dulunya kupikir mungkin itu adalah para tetangga dan kepala desa, atau mungkin dokter-dokter yang sedang membahas hasil operasi? Memang secara pasti aku tidak dapat mendengar mereka bercakap-cakap soal apa, tetapi selalu saja aku mendengar soal laboratorium dan test darah.

Jam 8 malam, seperti biasa perawat itu datang, dengan wajah bosan tanpa menyapaku. Memantau infus dan mengecek tekanan darahku. Kemudian dirinya melirik pada kakiku, seketika itu pula air mukanya berubah. Mungkin aku sudah jemu bahwa sebentar lagi dia akan berkata bahwa perbanku terlalu banyak darah, harus diganti. Sejemu dirinya yang bisa kulihat dari caranya melepas perbanku. Aku mempersilahkannya seperti yang sudah-sudah.

Perawat muda itu dengan malas membuka perban dikakiku. kadang-kadang kasar sekali, tidak perduli dengan jeritanku. Dari mulutnya yang merah karena lipstik kudengar dia menggerutu. Mulai kembali bercerita tentang suaminya yang pengangguran dan sering keluar malam, soal biaya sekolah yang terus bertambah mahal. Aku hanya meringis menahan sakit, tidak menjawab. Dan kupikir dirinya juga tidak perduli dengan rasa ngilu di kakiku. Dia masih saja bercerita, kali ini soal dokter-dokter tua yang sering genit kepada perawat muda seperti dirinya. Atau soal insentiv yang sering turun terlambat. Aku mendiamkannya, aku bingung untuk menanggapi.

Ada yang mengetuk pintu. Dokter masuk datang menyusul, perutnya buncit. Dan hanya membawa stetoskop yang selalu menggantung dilehernya.

“Lukanya masih belum kering juga dok”  kata perawat sambil terus melepas perbanku.

Doker itu tidak menjawab, dia melihatku yang sedari tadi diam memandangi perawat. Wajah dokter itu sedikit musam. Dia adalah yang telah mengoperasi kakiku. Setiap hari dari wajahnya kulihat dia semakin cemas. Mungkin dirinya sedih melihat lukaku yang belum juga kering. Sebentar lagi boleh pulang, katanya lirih. Aku juga sudah jenuh dengan kalimat itu, karena kuyakin seminggu dari sekarangpun aku jamin aku masih disini. Aku mengangguk, tanpa suara.

Akupun juga sudah lelah untuk meminta dokter itu mengijinkan melihat kondisi kakiku. Berbagai alasan dalam seminggu sudah membuatku mengerti, ada yang salah dengan ini semua. Dan kau pasti akan bertanya, kenapa aku tidak marah dan menuntut.

Baiklah akan aku ceritakan kepadamu tentang kondisiku. Aku hanyalah perempuan dengan kedua kaki cacat sedari kecil, kakiku kurus dan melengkung. Kedua telapak kaki menjorok masuk kedalam, sehingga aku harus bertumpu pada punggung kaki saat berdiri. Punggungku berkelok-kelok, di Puskesmas mantra berkata bahwa ini adalah akibat dari bentuk kakiku. aku mampu hidup seperti ini, bahkan sudah kuterima dengan baik kondisiku ini berkat rasa sayang bapak dan ibuku.

Sampai suatu ketika, datang rombongan mobil dari kota ke desaku. Kudengar mereka adalah rombongan sebuah partai yang ingin mengadakan bakti sosial kesehatan. Memberikan pelayanan dari anak bayi, anak-anak, muda-mudi, bahkan sampai orang cacat sepertiku. Dokter itu ada dalam rombongan itu, melihat kondisiku dia berkata akan membawaku ke kota. Untuk disembuhkan, dioperasi. Saat itu aku bingung, ya sangat bingung. Aku ingin sekali sembuh. Menjadi perempuan normal dan menikah seperti teman-teman sebayaku Lastri dan Sisri. Tetapi siapa yang akan menemani? Bapak dan simbok sudah meninggal karena kecelakaan sebelum Idul Fitri tahun lalu.

Akhirnya aku berangkat. Bukan karena dokter berkata bahwa kakiku akan diganti dengan kaki palsu, kaki yang lebih baik untuk kesehatanku daripada kakiku yang asli.  Tetapi karena perawat yang membisikkan padaku bahwa kaki palsu itu baik untuk masa depanku, aku akan bakal terlihat lebih cantik. Sempurna.

Pertimbangan untuk menikah dan mempunyai suami begitu menggodaku saat itu. Aku tidak mau sebatang kara dengan kondisi seperti ini. Dan mungkin saja kaki palsu akan membantu jalanku menemukan laki-laki yang kelak akan jadi ayah dari anak-anakku. Aku berangkat ke kota bersama rombongan.

Sampai akhirnya bejalan hingga saat ini, dikamar ini. Aku masih saja terbaring tanpa sekalipun merasakan kaki palsu. Kalau tidak salah ingat kaki palsu itu masih rapi terbungkus plastik di dalam lemari. Dokter kemudian pergi setelah bercakap-cakap sebentar dengan perawat, wajah perawat itu menurut. Beberapa kali manggut-manggut tanda mengerti.

Dokter meminta ijin permisi, meninggalkan aku kembali berdua dengan perawat itu. Perawat bolak-balik mengambil perban, aklohol dan kapas. Terasa perih, tetapi sudah tak lagi kurasa seperti dulu. Rasa penasaran mampu membuat rasa menyakitkan itu sedikit berkurang.

“Siap-siaplah, habis ini ada foto lagi sama orang penting” kata perawat itu sambil melempar sisir padaku.

“Partai sekarang hanya cari muka, mana peduli mereka dengan orang kecil” lanjutnya lirih. Aku tidak mengerti maksud perkataannya.

Aku sendiri tidak perduli untuk diajak foto beberapa kali, terserah mereka mau mengajakku foto sebanyak mungkin. Asalkan aku bisa sembuh dan mulai memakai kaki palsuku. Aku sudah merelakan kaki untuk dipotong, tetapi belum ada ganti kaki.

Tiba-tiba aku rindu rumah, rindu berjalan melintasi pematang sawah di desaku. Aku kangen kaki cacatku. Aku kangen bapak dan simbok. Air mataku menetes, aku menangis Perawat itu melihatku, wajahnya kesal. Aku tahu tangisanku akan mempersulit dirinya mempersiapkanku untuk foto kali ini.

“Kapan saya boleh pulang, saya sudah tidak peduli dengan kaki palsu lagi?”

“Kau pikir kamu akan pulang cepat, Lukamu saja belum kering seperti ini!!” Bentaknya.

“Kapan luka saya kering?”

“Lukamu ini tidak bisa kering!! Kamu sakit !!”

“Kapan luka saya kering?” aku menangis sejadi-jadinya.

“Kamu Hemofilia1!!!”

Aku masih saja terus menangis, aku hanya ingin lukaku kering dan pulang.

 

………………………………………………………………………………………………………….

1 : Hemofilia adalah kelainan perdarahan yang diturunkan yang disebabkan adanya kekurangan faktor pembekuan. Darah pada seorang penderita hemofilia tidak dapat membeku dengan sendirinya secara normal. Proses pembekuan darah pada seorang penderita hemofilia tidak secepat dan sebanyak orang lain yang normal.Penderita kelainan ini akan lebih banyak membutuhkan waktu untuk proses pembekuan darahnya.