Gambar

Sebuah buku dilemparkan di hadapan Seno.

“Baca buku ini!”

Seno memandang buku itu. Diamatinya buku tebal berwarana hitam dengan namanya terpampang dengan huruf kapital. SENO GUMIRA AJIDHARMA. Dicarinya nama penulis buku itu, siapa tahu dia mengenalnya. Tidak nama lagi ada dalam sampul.

“Buku apa ini Drus?”

Seno mengambil buku itu. Membuka lembar demi lembar buku yang dilemparkan oleh Idrus. Idrus duduk, kemudian mengambil sebatang rokok dan menyulutnya.

“Kau baca saja sendiri”

Idrus terus merokok, memainkan asap tembakau dari bibirnya. Menonton wajah Seno yang berkerut-kerut menjadikan kenikmatan tersediri. Sedangkan Seno masih meniti kata demi kata yang membentuk cerita di dalamnya. Cerita dengan kisah yang dirasa Seno begitu mendayu tetapi penuh dengan sentilan menggelitik dan sesekali memancing Seno untuk tertawa. Tetapi kemudian dia mengrenyitkan kening, muncul namanya dalam cerita pendek yang tertulis. Diliriknya Idrus yang juga sedang mengamatinya. Seno seperti De Javu.

“Siapa yang menulis ini Drus?”

Seno kembali membolak-balik halaman depan sampai belakang. Dicarinya siapa nama penulis buku yang menggunakan namanya untuk tokoh cerpen dalam buku. Siapa tahu ada nama yang terselip dan terlewat olehnya. Sialnya, nama yang dicari Seno tidak ketemu. Tidak tercantum nama penulis dari buku itu. Kembali diliriknya Idrus yang masih terdiam dengan rokoknya.

“Bagaimana menurutmu?”

Tanya Indrus tiba-tiba sembari mendekati Seno. Ditaruhnya bungkus rokok dan asbak di meja Seno, mengambil kursi dan duduk menyilangkan kaki di depan Seno. Seno mengambil sebatang dan menyalakannya. Dihembuskan asap rokoknya sambil geleng-geleng. Dilanjutkannya membaca tulisan-tulisan dengan mencatut namanya dengan berbagai karakter itu. Dari  buruh bangunan, kuli panggul, gelandangan, pejabat desa, penyair, presiden, bahkan sebagai orang gila.

“Bagus. Tulisan ini bagus Drus. Tetapi kenapa tokoh dalam semua tulisan ini aku?”

Idrus terdiam. Tidak mau memberitahukan pada Seno siapa penulis buku yang mencomot nama Seno sebagai tokoh-tokoh dalam cerita pendek di buku itu. Idrus tersenyum sekali-sekali.

“Apakah ini tulisan Pram?”

Idrus menggeleng, terkikih sebentar kemudian ditahan. Menyalakan rokok lagi. Seno melihatnya, Kurang ajar batin Seno. Memang dalam hati Seno berpikir mungkin saja ini kebetulan bahwa namanya dicatut sebagai tokoh utama dalam setiap cerpen di buku itu. Tetapi mana mungkin kebetulan jika tertulis namanya dalam sampul buku itu. Dengan huruf kapital pula.

Diputar kembali otaknya, mencari-cari siapa penulis yang mungkin memiliki masalah soal tulis menulis dengan dirinya. Semakin jauh Seno berkelana dalam pencariannya, semakin dia tidak tahu siapa kira-kira yang tidak menyukai tulisannya.

“Pram bukan. Mokhtar Lubis? N.H Dini? Buya Hamka? S.T.A? Abdul Muis? Sanusi Pane?”

Idrus geleng-geleng.

“Bukan”

Seno semakin mengernyitkan keningnya. Rasa penasaran siapa gerangan penulis buku ini semakin mengganggu dirinya. Memaksa Idrus untuk menjawab pertanyaanya sama saja seperti memaksa hujan di tengah musim kemarau. Dia kenal baik bagaimana sifat sahabatnya itu.

“Atau mungkin penulis-penulis macam Dee, Drus?”

Idrus masih diam. Tidak merespon. Seno garuk-garuk kepala, rokok tidak membantunya untuk lebih rileks rupanya.

“Apa Djenar? Dia kan sering membuat kontroversi dengan tulisan-tulisannya Drus?”

“Ah, dia lebih suka berkontroversi dengan isi celana dalam dan daging amis No”

“Benar juga, bagaimana kalau Ayu Utami?”

Idrus geleng-geleng. Diraihnya buku yang dipegang oleh Seno. Dibolak-baliknya buku yang dia terima dari seseorang tadi pagi. Seno memandangi Idrus yang rupa-rupanya sudah mulai jenuh dengan pertanyaan-pertanyaan dari dirinya.

“Kalau begitu katakana saja Drus, siapa yang menulis buku ini?”

Idrus manggut-manggut. Mungkin memang tidak ada gunanya juga Idrus harus menyembunyikan nama dari penulis buku itu. Seno juga tidak akan pernah tahu bahwa penulis buku itu adalah nama yang begitu dekat dengan tulisan-tulisannya.

“Baiklah No. Akan aku beritahu kepadamu siapa nama dari penulis buku yang penuh dengan namamu.”

“Aku mendengarkan Drus.”

“Penulis itu adalah Sukab. Kau mau percaya atau tidak, tetapi memang demikian adanya”

“Sukab?!”

“Ya. Sukab, tokoh dalam cerpen-cerpen yang sering kau tuliskan.”

“Itukan hanya sosok fiktif dalam cerita Drus? Mana mungkin?”

“Memang kenyataan demikian.”

“Apakah mungkin ada orang yang bernama Sukab? dan tidak menyukaiku karena sering menggunakan namanya?”

“Tidak No. diam-diam aku mengecek ke daftar kependudukan, tidak ada yang bernama Sukab selain nama tokoh dalam tulisan-tulisanmu.”

Seno semakin penasaran dalam mempersepsikan siapa sosok Sukab si penulis buku. Tak ada gambaran dalam benaknya selain alur dari setiap cerita-cerita yang telah ia tuliskan dengan nama Sukab. memang nama Sukab ia pilih tanpa asal, ada makna dalam kesederhanaan panggilan, ada kelumrahan peran dalam dalam ketidakwajaran sebuah nama. Sukab. Sukab. Sukab. Sukab. …..Lama Seno tertegun.

“Hei bukankah itu Alter ego ku sendiri Drus?”

Seno terperanjat sendiri dengan kalimat yang baru saja dia ucapkan. Tiba-tiba dirinya seperti kembali kedalam dunia nyata, kembali ke dalam alam pikiran tenang dengan memori sosok yang bernama Sukab. Idrus masih diam dengan rokok dan kopi yang sesekali diseruputnya.

“Ya. Aku tahu itu. Kau pernah menceritakannya padaku pada suatu waktu yang telah lalu No.”

Seno memegang dagunya, mengusap-usap bulu jenggotnya yang sudah beruban.

“Apakah mungkin sosok imajiner pernah hidup kedalam dunia nyata Drus?.”