story4inside
“Kau bilang manusia mahluk yang bebas Nesh, tapi bukankah dengan adanya kebutuhan untuk tetap hidup, manusia harus tetap bekerja ? dan kebebasan menjadi tidak ada ?”

“Kau melupakan satu bagian penting dalam kasus ini Lex, ini hanya berlaku pada mereka yang memiliki ekonomi kuat, dan ingat juga bahwa kebebasan yang saya katakan bukanlah soal kebebasan kulit luar yang dipengaruhi lingkungan ”

“Aku masih tidak mengerti, jika memang kebebasan itu ada, lalu dimanakah itu ? manusia selalu terhalang oleh lingkungan”

“Jika sistem Kapitalisme yang belum selesai berkembang ini menjadi suatu hal yang menutup kebebasan seperti yang engkau katakan, kau telah melakukan kesalahan besar dalam kata-katamu”

“Aku masih tidak mengerti kata-katamu Nesh, kita bicarakan politik dan kondisi kekinian saja”

Ganesh tersenyum, dia tahu bahwa Alex tidak terlalu menyukai sesuatu yang bersifat filsafat, dalam otaknya hanya ada pergerakan dan perubahan, Revolusi. Tetapi bagi Ganesh hal itu tampaklah konyol, karena dalam pergerakan untuk merubah sesuatu yang mendasar kita harus tahu bahwa segala sesuatu harus memiliki dasar dan kesadaran yang kuat untuk itu, tidak mungkin membangun sesuatu tanpa pondasi yang kuat.

“Begini saja lex, kau tau awal mula islam berdiri, bahkan setiap Agama itu lahir selalu diawali dari penjelasan dan pengenalan akan iman terhadap suatu kaum, dan iman adalah pondasi dari setiap agama.”

Alex terdiam, dia tahu betul bahwa Ganesh adalah seorang pemikir yang dalam, terlalu beribet jika membahas suatu pergolakan dan revolusi dengan perempuan campuran Cina ini, terlalu bertele-tele bagi Alex, konvensional dan lama.

“Maksud kamu seharusnya Revolusi harus diawali dari kesadaran dan pemahaman akan apa itu arti Revolusi ?”

Hemmm, Ganesh geleng-geleng

“Itu memang kajian yang perlu Lex, tetapi esensinya bukan itu, lebih kearah bahwa kapan rakyat siap dengan kesadaran akan kondisi dirinya dan lingkungannya utuk memulai itu”

“Menunggu Momentum?”

“Menciptakan momentum tidak ada salahnya kuk”

“Bagaimana caranya?”

Alex penasaran dengan apa yang sebenarnya Ganesh katakana, bukan lebih kearah idenya untuk menciptakan momentum, kata-kaa itu sudah sering Dharma dapatkan dari setiap diskusi organisasi kemahasiswaan ataupun dari buku-buku yang dia baca, tetapi secara implementasi dia belum pernah dapatkan jawaban yang sesuai dengan iklim di Indonesia.

Bayangan Alex terbang pada revolusi prancis pada tahun 1977, dan revolusi Amerika yang berlangsung selama 4 tahun 1861-1865, semua diawali oleh adanya system yang tidak lagi berpihak kepada rakyat, kesewenangan-wenangan raja Prancis Louis XIV saat itu yang menggunakan semboyan “L’etat c’est moi” yang memiliki arti negara adalah saya, hal ini menunjukkan keabsolutan kekuasaan yang pada akhirnya melahirkan ketidakadilan atas sikap pemerintah terhadap rakyatnya, tak jauh berbeda dengan revolusi Amerika yang diawali dari sikap rakyat Amerika yang menentang sikap kolonialis Inggris pada masa sebelum tahun 1776.

“Kau yang harusnya lebih tau soal ini Lex, bukan aku……..kau yang anak Aktivis, sedangkan aku hanya perempuan yang menyukai gunung dan pantai, hahahaha”

Ganesh tau bahwa Alex tidak menerima jawaban itu, dia sangat tau dari mimic yang ditunjukkan oleh Alex, tetapi Ganesh tidak perduli untuk soal ini, dia tidak mau menjawab apa yang Alex inginkan.

“Apakah kau selalu seperti itu Nesh? Selalu menyukai untuk menjadikan orang lain meraba sendiri apa yang kau maksudkan? Atau sebenarnya kau memang hanya pandai untuk memancing saja?”

Wajah Alex sedikit geram, dia benar-benar tidak suka dipermainkan dengan cara Ganesh seperti ini, Alex tau bahwa Ganesh memiliki jawaban yang dia inginkan, tapi apa yang bisa Alex lakukan? Dia tidak bisa memaksakan untuk mendapatkan apa yang dia iginkan.

Memento-mori café semakin sepi belakangan ini, suasana sedikit menciptakan andil akan hal ini, semenjak tragedi penembakan di Lapas Cebongan, banyak yang lebih memilih didalam rumah daripada keluar rumah atau kos, tetapi hal ini tampak tidak pernah Ganesh cemaskan.