Gambar

Aku teringat kembali buku Penembak Misterius yang ditulis oleh Seno Gumira Ajidharma, buku tipis berisi kumpulan cerpen berisi cerita pembunuhan, ah judul bukunya saja sudah memakai kata pembunuhan “bunuh”, pembunuhan misterius.

Baiklah, semua ini diawali dari peristiwa dalam beberapa bulan ini, banyak sekali mayat-mayat tanpa identitas ditemukan di pusat-pusat keramaian, di pasar, di mall, di jalan tol, di perempatan jalan besar, di depan rumah ibadah, di kampus bahkan sampai di sekolah-sekolah, dari menengah atas hingga dasar, tempat yang seharusnya bebas dari kengerian yang bisa mengakibatkan trauma psikologis pada anak-anak.

Dari hasil investigasi tim yang dikirimkan, mendapati kesamaan cara pembunuhan, selalu terdapat luka tembak tepat di jidat korban, semua persis di tengah, dilihat dari ukuran lubang yang dihasilkan menunjukkan bahwa ini adalah hasil dari peluru SPR-2, peluru yang digunakan untuk menembak jarak jauh, kurang lebih dengan jarak 500 meter, dan semua korban memiliki tato Ndan. begitulah yang aku ketahui dari bawahanku.

“Tato apa?”

“tato angka romawi Ndan, dan selalu urut! Korban terakhir bertato angka 27 ndan!”

“Selidiki disemua tempat tukang tato!”

“Siap, Laksanakan Ndan!”.

Kopi panas dihidangkan, file-file dan poto korban sudah tertata rapi diatas meja, kantor belum begitu ramai pagi ini, aku masih sibuk melihat foto-foto korban, mereka semua ditelanjangi, baik laki-laki ataupun perempuan. Benarkah ini ulah Petrus? Tetapi jika memang iya, kenapa tidak ada pemberitahuan dari pimpinan pusat? Kuambil rokok di dalam laci meja, kopi selalu tidak enak tanpa kopi, seperti polisi reskrim sepertiku ini, tidak akan enak jika tidak ada kasus pembunuhan. Tetapi untuk kasus kali ini berlebihan.

Aku membuka kembali ingatanku, menggali lagi sejarah pendidikan yang aku terima dalam kelas kepolisianku. Terakhir kali pembunuhan seperti ini dilakukan oleh satuan rahasia dibawah pimpinan Soeharto, tahun 1980an, sudah lama sekali rupanya, sudah 42 tahun berlalu.

Kutelusuri kembali ingatanku, mempelajari alasan kenapa harus dilakukan pembunuhan dengan cara keji seperti itu, dari sisa ingatanku kudapati bahwa dulunya premanisme sangat mengganggu, kekhawatiran akan adanya oknum yang diindikasikan berbau kiri dihilangkan, ketakutan akan adanya pemberontakan seperti peristiwa 30 September pun dapat ditekan dengan cara ini. Semua merasa aman dengan sistem ini, kecuali mereka yang dibunuh.

Bahkan dalam salah satu file yang kudapati, bahwa ada kesengajaan untuk menato tubuh korban yang belum memiliki tato, cara demikian biasanya diberlakukan kepada mereka yang aktivis-aktivis kampus, maka tidak heran jika jaman dahulu sering dijumpai mayat dengan tato yang masih baru. Tetapi tidak tato nomor urut seperti sekarang ini.

“Sialan! Apalagi ini sebenarnya!”

Aku masih tertegun heran, aku masih bisa memaklumi kasus demikian itu pada masa lalu, lalu lihatlah  sekarang, kondisi sudah jauh berubah, rakyat kenyang dimana-mana, politik stabil, pangan tercukupi, tak ada orang kurus, semua gemuk. Apa yang sebenarnya terjadi?

Kopi dan rokok mulai habis, aku masih belum bisa memecahkan apa-apa, langkah awal hanya melakukan patroli malam, tidak ada nama yang kucurigai, tidak ada list yang diberikan dari pusat. Karena semua nama memang sudah habis dihabisi. Pikiranku kembali menerawang jauh, tak ada lagi gambaran apa-apa. Kesatuan penembak jitu pun juga tidak menemukan hasil apapun, tidak ada anggotanya yang terlibat.

Beberapa hari lagi baru akan mendapat data diri korban, beberapa foto sudah disebar dalam satu bulan ini, tidak membuahkan hasil, tak seorangpun datang untuk mengambil jenazah, tidak ada yang mengenali sosok korban, semuanya.

Pelacakan identitas korban semakin sulit, tim sudah tidak lagi menyebar foto di Jakarta saja, bahkan sudah sampai ke seluruh pulau Jawa. Mayat mayat menumpuk, lama kelamaan membusuk, menunggu keluarga yang datang sepertinya percuma, akhirnya mereka dikuburkan dalam satu lubang besar di lapangan belakang gedung kantor, hanya itu lahan yang tersisa.

“Siapa korban-korban misterius itu?”

Ponsel berdering, belum habis benar kopiku. Suara dijauh sana mengabarkan bahwa siang ini ditemukan lagi korban di staisun Senen, luka di jidat seperti korban-korban sebelumnya, telanjang dengan tato di tubuhnya.

Kulihat berita dimedia sudah tidak lagi menyukai adanya pembunuhan misterius ini, mereka mengabarkan bahwa rakyat sudah resah, kasus ini tentunya berbeda dengan awal mula sosok Petrus lahir, Negara sedang tidak dalam posisi terancam, tidak ada premanisme, tidak ada ketakutan rakyat pada orang-orang bertato. Dan sekarang mereka merasa terancam dengan hadirnya mayat yang bergelimpangan setiap hari. Mereka cemas jika mereka yang akan menjadi korban selanjutnya, demostrasi dilakukan menuntut pemerintah menghentikan kejadian keji ini.

Pusat semakin gerah, ketidakbecusan ini menggaggu stabilitas dan kredibilitas pemerintah, jika tidak mampu memecahkan kasus ini tentunya aku akan dipecat dan digantikan oleh mereka yang lebih lihai memecahkan kasus, banyak opsi bermunculan dalam rapat terakhir dengan pusat, salah satunya adalah untuk melahirkan sosok fiktif sebagai tersangka, menghilangkan ketakutan dan kecemasan rakyat untuk sementara.

“seperti ini presiden masih bisa plesir, huh!”

Selang beberapa hari sosok fiktif sebagai tersangka pun dihadirkan, kericuhan mereda, demonstrasi berkurang, pusat sedikit senang, tapi aku tahu ini tidak akan bertahan lama sebelum pelaku sebenarnya ditangkap, setiap sudut dikerahkan mata-mata untuk mengawasi. Disisi lain, pencarian jati diri korban belum membuahkan hasil yang maksimal. Aku masih penasaran siapa mereka-mereka itu.

Mayat kembali ditemukan, kali ini di pelataran masjid Istiqlal, perempuan, telanjang dan beratato. Berita beredar cepat, polisi kembali dipertanyakan kredibilitasnya, tim khusus yang dibentuk pun seakan tak berguna, mereka tak berkutik, dukun, orang pintar, kaum indigo, ustadz dan siapa saja yang kiranya dapat melihat lebih pun sebenarnya sudah pula dikerahkan, banyak yang menerawang bahwa ini adalah hukuman dari Sang Hyang Widhi, ah apa lagi ini. Mempekerjakan mereka saja sudah tidak masuk akal, apalagi sekarang harus mendengar omong kosong mereka.

Demonstrasi kembali lagi, serempak, mereka menuntut pemerintah untuk bertindak tegas dalam kasus ini, isu pemeritah adalah dalang dari ini semua terus berhembus, siapa yang menghembuskan? Tidak ada pihak oposisi disini sama sekali. Sudah habis dibasmi saat terakhir pemilu 8 tahun lalu. Diluar sana demonstrasi terus saja meluas.

Pusat semakin panas, tidak lagi gerah, demonstrasi ricuh, mahasiswa kembali turun kejalan, perusakan terjadi disana-sini, upaya prefentif tidak dapat dipakai lagi, pentungan dan senjata harus kembali berbicara, sekarang aku harus menghadapi dua masalah sekaligus, mayat ajaib dan kekacauan ini.

Penangkapan para demosntran yang anarkis berlanjut, mahasiswa-mahasiswa diawasi, tokoh-tokoh besar dipantau, mayat-mayat ajaib masih saja bermunculan, sudah menuju ke angka 105. Jam malam diberlakukan, tetapi tidak menghentikan semuanya.

Aku tutup kembali buku Seno, pikiranku tertuju pada cerita Grhhh!!! Tentang zombi yang hidup dari dendam masa lalu.

“Ah untung saja mayat itu bukan Zombi”

Kopi panas, rokok dan pisang goreng dihidangkan kembali, pagi masih sepi, file menumpuk di atas meja, sudah bertambah berkas kerusuhan belakangan ini. List nama-nama target operasi baru saja dikirim dari pusat.

Ponselku berdering, belum sempat aku meminum kopi panasku.

“Iya Halo”

“Lapor Ndan, Mayat-mayat ajaib bangkit dari kuburnya !!