kamu selalu berdiri disini, memainkan ujung jari-jarimu sendiri, menunggu kereta yang akan mengantarmu pulang disebuah tanah yang asing.

Kamu tidak pernah suka duduk menunggu kereta di kursi peron, terlalu sempit dan kaku. Orang menatapmu saja kau tidak suka, terlebih harus duduk berdekatan dengan orang, kau selalu risih melihat orang menutup hidung dan memandang dirimu dari dekat, mungkin serisih mereka mencium bau tubuhmu yang aneh itu.

Sepatu hitammu selalu kau pakai, sepatu dengan kulit dari sapi pemberian ayahmu beberapa tahun sebelum dia meninggal karena dimakan macan saat mencari dirimu dihutan. kau menganggap bahwa ayahmu belum mati, kau merasa ayahmu akan selalu menjemputmu ketika kau tiba di stasiun kereta kotamu.

Kau selalu memakainya. Menggunakannya sebelum pulang kembali ketanah lahirmu. Kau tak pernah bisa pulang tanpa sepatu itu, sepatu yang dibuat dengan susah payah oleh ayahmu sendiri, dari menyembelih sapi hingga menguliti. Untuk putri tercantik didunia ini kata ayahmu saat kau duduk disampingnya menanyakan untuk siapa dia membuat sepatu.

Ibumu tak memberimu kenangan apa-apa, kecuali sebuah nama yang melekat padamu. Dia pergi dari dunia setelah tragedi itu, jantungnya tidak setegar jantung ayahmu, melihat polah tingkahmu mungkin sudah biasa untuknya, tetapi tidak untuk kata-kata miring orang dikampungmu tentang sosok dirimu. Dia pergi dengan sakit hati. Begitu yang mereka katakan pada kematian ibumu.

Kamu memang gadis kecil yang nakal, orang-orang dikampungmu pun tahu kan hal itu, sering pergi sendiri tanpa pamit, bermain petak umpet sendirian di kuburan tua, kadang kau memanjat pohon angker dan berteriak-teriak di atasnya, belum lagi kau kebiasaan anehmu tidur dalam dahan besar pohon raksasa itu, bahkan sampai berhari-hari.

Seluruh kampung pernah kau buat gempar, ingatkah? Saat itu dirimu pergi kegua, kemudian hilang selama beberapa minggu, orang-orang mencarimu, mereka berpikir dirimu diculik oleh dedemit penunggu gua. Mengigat kelakuan anehmu, orang-orang kampung mengira kau diadopsi oleh dedemit yang biasa dipanggil Mak Gondrong. Ayah dan ibumu menangis sejadi-jadinya, kalap bahkan ingin menyusulmu masuk kedalam gua, memohon dengan memberikan tumbal semua kambing-kambing yang ayahmu punya. Belum juga kamu kembali dalam pelukan orangtuamu, ayahmu berencana untuk bunuh diri menyusulmu kealam gaib, menyelamatkanmu. untung saja saat itu sesepuh datang, berkata bahwa dirimu baik-baik saja, hanya mampir main katanya setelah komat-kamit sendiri  tanpa makna.

Benar saja, kamu pulang sore harinya, malam jumat kliwon, saat gerhana bulan, kamu pulang dengan penuh darah dibajumu, tanganmu menggenggam kucing yang sudah mati, leher kucing itu penuh darah, sepertinya luka bekas gigitan binatang. Orang kampung semakin memandangmu seram, gila,kerasukan, anak demit, anak genderuwo, anak Mak Gondrong.

Ah, mungkin kamu sudah lupa, itu juga sudah terjadi puluhan tahun yang lalu.

Kamu tidak pernah tahu, betapa ayahmu sangat mencintaimu, memujamu, melebihi cintanya kepada ibumu, sewaktu kamu lahir, bayi wajar tentu tidak langsung tumbuh gigi, kamu berbeda, dua gigi taring kecil sudah tumbuh saat kau keluar dari lubang garba ibumu,rambutmu terurai panjang lebat hitam, matamu terus melotot, tidak berkedip. anak setan ! itu yang pertama kali disebut oleh dukun bayi yang menyelamatkanmu, sebelum tergeletak pingsan.

Ibumu tidak mau menyusuimu, takut susunya sobek oleh gigimu yang tidak wajar itu, melihat wajahmu saja dia ngeri, bahkan jika kamu tahu, ibumu pernah ingin membuangmu saja, memberikannya pada Mak Gondrong, ayahmu marah sekali waktu itu pada ibumu, dia tetap ingin merawatmu, membesarkannya, maklum sudah lima belas tahun mereka memimpikan punya keturunan, walau lahir dengan wujud mengerikan sepertimu.

Walau akhirnya lambat laun ibumu mulai menerima dirimu, ayahmu dengan sabar selalu meyakinkannya bahwa kau adalah anak dari darah dagingnya, bukan anak setan atau anak genderuwo pohon angker ditengah kuburan. Menenangkan hati ibumu yang tidak bisa mendengar gunjingan dari para tetangga tentang kamu.

Gambar

Dokter yang mengadopsimu mungkin lebih menerimamu dan mendidikmu dengan baik, terlebih sekarang kamu sudah besar, kamu mampu merias dirimu dengan bedak dan lisptik yang biasa kamu beli di kota, menata rambutmu dengan gaya yang lebih menyerupai manusia. Dan yang paling penting kamu lebih tahu bagaimana cara menghadapi tatapan menjengkelkan dan gunjingan dari orang diseklilingmu, ayahmu mungkin mewariskan sifat tegarnya padamu.

Kereta tiba, memasuki jalur stasiun nomor tiga.

Kereta yang akan membawamu menuju ke tanah kelahiranmu. Tanah dimakamkan jasad ayah dan ibumu.