Langit mendung, angin lewat pelan-pelan, sesekali sedikit usil mencoba menerbangkan alas pedagang mainan,  lampu warna-warni menyala disana-sini, berputar-putar di bianglala, atau bergerak cepat dalam komidi putar, manusia lalu lalang, kanak-kanak berebut membeli kembang gula dan arum manis. Pemuda pemudi yang memadu kasih bergandengan tangan, bercanda dan sesekali berkejarkejaran seperti film India yang sedag laris di tv. Jompo-jompo duduk dengan inang dan tembakaunya, lagu keroncong dengan radio kayu, diam mengunyah tanpa banyak bersuara memandang pejuru yang penuh lampu. mereka punya cara sendiri untuk menikmati pesta malam sederhana ini, meski tersisih diujung lapangan bersama usia mereka.

Malam semakin larut, kau tidak datang-datang juga, kopi panasku mulai habis, mulai dingin juga karena terlalu sering disapu angin yang lewat, rokok kretekku sudah mau habis pula, aku sudah tidak cukup uang untuk membeli lagi, bayaran tulisanku bulan-bulan ini menurun, mungkin benar kata-katamu, menyuruhku kembali menulis tentang percintaan dan romantisme saja, seperti dulu-dulu. Dengan begitu mungkin aku tidak perlu kesusahan dalam membeli pisang goreng atau meminta dibuatkan kopi baru lagi seperti malam ini.

Kuedarakan pandanganku mencarimu, siapa tahu kau yang tidak menemukanku, disurat yang terakhir kukirimkan padamu memang aku hanya menuliskan tanggal dan tempat kita bertemu, tanggal 13 April di pasar malam, seharusnya aku tuliskan dimana kita harus berjumpa, pada satu titik yang dapat kita ketahui dan kita tuju bersama-sama tanpa harus mencari-cari seperti ini.

Mungkin aku harus berkeliling mencarimu, aku coba melangkah mendekati kerumunan tempat para penjual kembang gula, disana berdiri gadis-gadis seumuranmu, aku berharap kau ada disana, menjadi salah satu diantaranya. Aku masih ingat saat terkahir kita bertemu, dikebun jambu milik Haji Busro dua bulan yang lalu, kita berjanji bertemu disana, seperti sekarang ini dengan janji yang aku tuliskan melalui surat untukmu. dikau datang sendiri, dengan rambut  berkepang dua dan berkahir dengan simpul dari pita warna merah, selendang kuning melingkar dileher dan jatuh dibahumu, serasi dengan kebaya warna merah tua yang kau pakai. Ah kau selalu terlihat cantik dimataku.

Aku tidak mendapatimu dikerumunan gadis-gadis itu, mungkin sudah berlalu, aku tidak berani menanyakan pada mereka apakah mereka melihatmu. Ya aku tahu kau pasti akan melarangku dan akan marah besar padaku, meski aku sudah berdandan seperti ini untuk tidak kau kenali.

Aku berjalan kearah lain, mungkin kau ditepi, baiklah aku akan kesana, mengelilingi pinggir lapangan dua atau tiga kali tidak masalah buat fisikku, hanya saja yang aku takutkan tidak memiliki banyak waktu. Kau pasti sudah harus kembali jam Sembilan malam tanpa terlambat.

Langit makin gelap, suara gemuruh dari langit bersahut sahutan. Sedang disini suara lagu-lagu Emilia khadam berganti terdengar setelah sebelumnya satu jam hanya berisi lagu-lagu keroncong, tidak terdengar lagi lagu-lagu yang dibawakan oleh Lilis Suryani, sudah dilarang. Aku tidak ingin mengingat lagu-lagu itu, hanya membuatku takut harus menelan kecewa kembali, mengingat bahwa harusnya aku mendengarkan kata-katamu untuk tidak terlalu ikut serta dalam partai itu, mengganti tema tulisan-tulisanku, mungkin ayahmu yang kyai itu akan setuju untuk menikahkanmu denganku setengah tahun lalu.

Belum lagi sejak tragedi delapan bulan yang lalu, semua orang mulai memburuku, aku harus berlari menyelamatkan diri kedalam hutan di timur desa sebelah, orang-orang sepertiku dianggap hama yang harus dibasmi. Kejadian di Lubang Buaya itu merubah segalanya. Merubah hubunganku denganmu, menambah semakin buruk hubuganku dengan ayahmu. Dihutan aku masih bisa menulis untuk bertahan hidup, dengan nama samaran tentunya. tidak lagi menulis propaganda-propaganda atau romantisme yang sudah sangat lalu, aku menulis tentang dongeng anak dengan bayaran yang jauh sangat kecil jika dibandingkan tentang tulisan-tulisan sebelumnya. Kau miris melihat kondisiku, memintaku kembali menulis persoalan cinta saja, aku ingin tetapi aku sudah tidak bisa. Kau memaksaku untuk mencoba, seperti terkahir kali kita bertemu di kebun jambu, aku bersikukuh bahwa kemampuanku untuk itu telah sirna. Kau menagis, berlalu sembari berkata bahwa kau tidak bisa melihatku sedemikian menderita dengan uang tipis dan hidup dalam gubuk dihutan.

Aku melanjutkan langkah mencarimu, mungkin jika kupercepat langkah aku bisa mendapatimu sebelum habis waktu. Mungkin sekarang masih jam delapan malam, pikirku, aku sudah tidak lagi punya arloji untuk melihat waktu dengan pasti.

Belum selesai satu putaran aku berjalan, gerimis turun, semua berlari mencari tempat teduh, pedagang-pedagang mengemasi barangnya, penjual kacang mendorong gerobaknya kearah pohon besar didekatnya, sesekali mengumpat, dagangannya terlihat masih belum banyak yang laku. kanak-kanak cemberut kecewa, orang tuanya memaksa untuk balik kerumah saja. Muda mudi berjalan, bergandengan tangan sembari sang laki-laki menutupi kepala kekasihnya dengan jaket, tangan bahkan palstik bungkus arum manis yang dibelinya. sedang aku sendiri masih belum menemukan dirimu. Mungkinkah kau tidak datang kali ini?

Rintik air bertambah deras, jalan-jalan di pasar malam mulai benar-benar sepi, lampu terlihat memudar terbias air yang menetes dimataku, bedak diwajahku mulai luntur tergerus air, aku tidak lagi perduli pada tatapan lekat orang kepadaku, hidung balon merahku lepas, lem dari kanji sudah tidak lagi rekat, lepas karena hidungku yang mengkerut kedinginan. Aku tak beranjak, Hujan terus menyapu wajahku yang berdiri kecewa seperti kanak-kanak tadi, Kami berdua sama-sama dicurangi oleh waktu.

“Hei…..Itu Kasno !!!” kudengar sesorang berteriak

“Iya benar itu Kasno, dia menyamar menjadi Badut!!!”

“Kasno si antek PKI itu, Anjing !!!”

“Bunuh Kasno, Komunis Pemberontak, Pembunuh Jendral!!!”

Lalu entah kapan dan bagaiaman mereka mulai menghajarku, memukulku, aku tidak tahu, benar-benar aku tidak tahu, beberapa pukulan dikepalau membuatku terjerambah. Roboh ketanah basah. Hujan masih turun. Beberapa kali kurasakan lagi jejakan dikepalaku dan dadaku, ngilu sekali rasanya, umpatan-umpatan terus kudengar, “Dasar Babi Alas, Penulis tak tahu diri”, aku telungkupkan badanku.

“Bosan hidup kau Anjing Peking, tulisan-tulisanmu Tai semua”

“Terkutuk kau, Laknat Allah bersamamu Komunis!”

Dadaku sesak, aku sudah tidak tahu lagi bagaimana menarik nafas, tidak ada ruang, badanku penuh dengan jejalan kaki. Timpukan batu dan kayu.

=====================================================================================

Gambar

Malam ini aku ingin bertemu denganmu sayangku,