Sudah saatnya aku menjadi sosok yang kau ingat saat matahari terbit.

Saat kau pertama kali membuka mata terbangun dari tidurmu, saat-saat sebelum kau sempat menikmati kopi pagimu. Aku tidak mengerti kenapa kau harus bercerita akan ini tadi malam.

Aku berjalan menuju pasar sendirian, meninggalkan kau yang masih tertidur, masih lelah setelah semalaman bercerita panjang lebar.

Tepat kupikir rasanya memilih pasar, bukan sawah atau tanah sempit di belakang rumah penduduk, Disini kulihat hiruk-pikuk manusia tanpa kendali, tawar menawar dalam jual beli. Aku menyukainya, Pagi adalah awal waktu, Pasar adalah kehidupan. Selalu ada banyak orang disini walau terbelah oleh adanya rel kereta api.

Tepat pukul lima pagi, langit masih gelap, tetapi aku yakin sebentar lagi bakal terang. Matahari tak pernah ingkar janji untuk menerangi, ya setidaknya sampai saat ini.

Aku berjalan menuju kerumunan, membaur dengan yang lain. Bunyi kereta terdengar, manusia-manusia pasar menyingkir. Membelah menciptakan jalan, menepi menjauh dari pinggir rel kereta, aku melangkah maju.

Kereta lewat dengan gagah, kulihat dari kakiku mengucurkan darah, orang-orang melihatku.

Gambar

*************************************************************************************

“Aku tidak mau keguguran untuk yang kedua kalinya.”

Aku ingat itu, kata-kata yang aku bisikan ditelingamu sebelum aku masuk kamar operasi, kamu hanya diam, raut wajahmu meragukanku.

Lampu operasi dinyalakan, kudengar suara gemericik gunting bedah sedang disterilkan, dokter menyuntikan bius, beberapa waktu kemudian semua terlihat pudar.

Tak ada tangis, tak ada keriuhan. Kamar sepi saat aku membuka mata. Samar-samar aku dengar perawat berbicara bahwa jika saja badai tidak merobohkan pohon dan kemudian menimpa tiang listrik, tentu si Jabang itu akan menangis dikamar ini, menetek padaku dengan lahap, bukan mati karena listrik mati.

 Seketika aku megerti, Tuhan memilih untuk tidak mengabulkan doaku, Takdir juga tidak menuliskan sesuatu yang menyenangkan untukku, purna sudah impian dan usahaku.

Dokter datang padaku, berkata Jabang bayi mati. Dia berkata rahimku lemah, terlalu banyak infeksi sisa keguguran tahun lalu, aku bingung, apa perihal yang sebenarnya terjadi di kamar operasi tadi. Ada dua versi.

Aku menangis sejadinya tapi hanya sebentar saja. Berhenti saat kau melihatku disebalik celah pintu.

Kutangkap raut datar dari wajahmu. Aku malu melihatmu.

Beberapa saat kemudian masuk ke kamarku, Melihatku yang layu. Kau diam, wajahmu dingin, kaku, tidak sedikitpun ada sendu.

“Kita pulang!”

Katamu sambil menarik tanganku.

*************************************************************************************

Menjelang jam 7 kamu mengajakku pergi ke kotaku, mengantarku pulang.

“Kapan aku berkata padamu bahwa aku ingin pulang?”

Kau membelikan tiket, aku menunggumu di kursi Peron, duduk sembari memegang perutku yang masih perih, bercak darah masih menetes, walau tidak sekental awal-awal.

Kereta datang, kereta yang akan menuju ke kota yang lebih tenang dan tidak sumpek seperti kotamu ini. Para penumpang turun tergopoh-gopoh dengan wajah yang muram, kau naik duluan, mencari kursi, kau meninggalkanku yang mengulurkan tangan padamu, pintu kereta ini terlalu tinggi, apalagi selangkanganku belum kering dari perih. Aku mengerti bagaimana kau menyesali aku.

Dengan susah payah, aku berhasil naik, aku paksakan walau perih, efek bius sudah benar-benar lenyap. Aku mencarimu berjalan menuju arahmu berjalan, aku lupa nomor kursi pada tiket, ah tidak, aku tidak lupa, aku tidak tahu sebenarnya berapa nomor kursi, kau tidak menunjukkan nomor itu padaku.

Akhirnya kudapati kau, duduk dengan wajah memandang jauh keluar jendela.

“Lampu kota memang menarik jika dilihat dari dalam  kaca kereta, terlebih malam hari dengan gerimis seperti ini” kataku mencoba memecah lamunanmu.

Aku gagal lagi, lamunanmu masih kokoh berjalan tanpa tergoyah sedikitpun.

Aku duduk, meringkuk, membungkukan badan, AC dalam kereta ternyata lebih dingin daripada udara di luar, sialnya lagi aku tidak memakai jaket.

Kau tidak bergeming sedikitpun. Melihatku saja tidak.

Kereta mulai berjalan,dan kau masih tetap setia menghadap jendela.

“Kematian tidak melulu membuat seseorang dilupakan, kematian dapat dikenang, kematian dapat melegenda” katamu tiba-tiba.

Kau melihatku, dan tetap saja menatapku dengan dingin.

Kau melanjutkan bercerita dengan panjang lebar soal kematian, tentang perasaan meninggalkan dan ditinggalkan, tentang kemarahan dan kerinduan.

Aku tidak banyak bicara dalam kereta, aku lebih memilih mendengarkanmu, bukan lantaran aku tidak mengerti maksudmu, tapi rahim dan pikiranku masih berdarah, keguguran yang kedua kalinya ini mungkin membuatku jadi anemia.

Dalam gerbong nomor 2 kursi 6 D-E kita duduk menghadap kearah berlawanan dengan laju kereta. Dan aku masih terbayang si Jabang yang mati.

Kau melanjutkan ceritamu, berkata bahwa kau sangat terkesan dengan kematian yang melegenda, seperti Yesus katamu. Dia diingat lewat kematian yang bengis, kemudian dibangkitkan dalam kekudusan.

Kau masih tetap saja berbicara, bertutur tentang apa itu hakikat dan kematian yang khidmad. Kemudian kau bercerita tentang kematian  Jim Morrison, Jimi Hendrix, Janis Joplin, Brian Jones dan Kurt Cobain.

Bukan-bukan, kau bukan ingin bercerita tentang kematian dengan angka 27 yang mebuat nama-nama itu terjalin dalam satu gerbong sejarah kematian yang sama, jika iya, tentu tak ada hubungannya dengan kematian si Jabang beberapa jam yang lalu.

Kau melanjutkan ceritamu, tebakanku bahwa kau akan berkata soal angka 27 keliru, ternyata kau berbicara tentang kesaman kematian mereka yang lain.

“Mereka semua mati pagi” katamu dingin.

“Benarkah?”

Kali ini aku benar-benar terhenyak. aku tidak menyangka bahwa masih ada satu motif lain yang membuatnya menjadi terhubung. Kau diam tak menjawab, kembali memandang keluar jendela. Kuluruskan punggungku, reseptor dingin pada kulitku sudah beradaptasi, terlebih setelah kau mau berbicara denganku.

“Jadi menurutmu pagi adalah waktu yang tepat untuk mati?”

Kucoba mengganti pertanyaan, berharap kali ini kau sudi menjawabnya.

“Ya”

Jawabmu singkat.

kembali  aku teringat. “Yesus juga mati pagi, walau tidak berumur 27”.

Tetapi aku tetap saja tidak tahu apa maskut dari kata-katamu, bukankah si Jabang mati tadi sore, saat hujan deras menyapu kotamu dengan beringas, bahkan kau sendiri yang mengantarkanku ke Rumah sakit. Tak ingatkah kau ?” batinku.

Kereta berhenti, kita sudah sampai.

*************************************************************************************

Kudapati kabar kau mati, terlindas kereta api di pasar tadi pagi.

Bergegas aku berlari menuju tempatmu, tempat dimana kau diberitakan bunuh diri.

Pagi ini bahkan aku sampai melupakan untuk minum kopi sebelum berdiri.

Aku dapati dirimu terbaring, terbelah dalam lumuran darah.

Kata orang-orang mereka sudah mendapati kau disini sedari jam 5 pagi.

Aku tidak perduli soal waktu, karena aku tahu alasan soal itu. Hanya yang aku masih tidak mengerti, apa alasan yang membuatmu melakukan ini, sekedar mempraktekan teoriku beberapa jam yang lalu?.

Bahkan untuk kali ini aku sangat tidak mengenalmu. Mengenal sosokmu yang sudah selama 4 tahun bersamaku.