Gambar

Hujan turun, Fredy dan Marco masih sibuk memasukkan gandum kedalam kotak kayu dengan skop.

“Cepat sedikit Fred, apa kau ingin Gandum-gandum ini membusuk saat sampai di Warsawa!”

“Apa kau jamin jika kita bekerja cepat, gandum-gandum ini tidak membusuk sampai disana?”

Jawab Fredy sinis.

“Apa maksutmu dengan berkata demikian?”

“Kau tak mengamati bahwa sebenarnya gandum-gandum ini sudah busuk, jangan buta Marco”.

Marco melihat gandum-gandum yang dimasukkannya kedalam kotak, dia tidak melihat bahwa gandum-gandum itu busuk, atau sebenarnya dia tidak tau saja bahwa gandum-gandum itu sudah busuk, Tetapi dirinya tidak mau memperdebatkan itu pada Fredy, dia tahu dia akan kalah.

Fredy menyeka keringat, tubuhnya yang kurus kering membuat baju seragam itu terlihat kebesaran.

Hujan semakin deras, Angin berhembus kencang dari pegunungan Alpen, dingin membawa bulir-bulir es, musim dingin mulai menuju puncak musim.

Marco masih terus memasukkan gandum-gandum itu kedalam kotak, tinggal sedikit lagi.

“Kapan kereta akan datang menjemput gandum-gandum ini Fred?”

“Masih lama Marco, 1 atau 2 jam lagi, tetapi bisa jadi akan lebih lama jika Stuttgard  berkecamuk”

“Bukankah Prancis sudah berhasil dikalahkan oleh tentara kita dari satu tahun yang lalu? Bagaimana mungkin bisa menyerang Stuttgard?”

“Ya, memang demikian kenyataan satu tahun yang lalu, kita menguasai Prancis, sekarang keadaan berubah Marco, Itali mencoba ikut serta dalam perebutan wilayah kosong Prancis timur, konsolidasi sulit dicapai antara Jerman dan Itali, semua ini karena Itali tidak mau hanya mendapatkan wilayah kosong di tepi barat Prancis.”

Marco tidak mengerti apa yang baru saja dikatakan oleh Fredy.

“Apa hubungannya konsolidasi ini dengan kerusuhan di Stuttgard Fred?”.

Fredy menghela nafas, dia sadar bahwa kemampuan otak Marco tidak berbanding lurus dengan bentuk fisiknya yang kekar.

“Jika konsolidasi berlangsung alot dan berlarut-larut, tentunya akan memberi waktu pada tentara Prancis untuk mempersiapkan diri untuk melakukan perlawanan, mengerti?” jawab Fredy sambil melirik kesal pada Marco.

“Ehmmm begitu, kenapa konsolidasi harus berlangsung berlarut-larut Fred? Bukankah kita satu Aliansi? Block Poros?

Marco sangat tertarik dengan kenyataan yang dijelaskan oleh Fredy, sosok yang dikenalnya dalam pertempuran perebutan di Reims Prancis 8 bulan lalu, sebelum mereka berdua dipindah tugaskan menjadi divisi Logistik di Leipzig Jerman hingga sekarang.

“Negara yang berperang selalu memiliki kepentingan sendiri-sendiri Fred, terlepas dia ikut dalam Aliansi atau tidak”.

“Kau teruskan saja memasukkan gandum-gandum itu Marco! ” Lanjut Fredy.

Beberapa pekerja lain terlihat sudah hampir selesai dalam mengemas kotak-kotak berisi gandum, pengawas menyuruh untuk segera menepikan kotak-kotak yang sudah terisi dipinggir rel kereta. Beberapa kali terlihat iring-iringan pesawat Focke Wulf 190 terbang kearah timur yang disambut dengan teriakan “HAIL HITLER” oleh semua tentara ataupun pekerja tak terkecuali Fredy dan Marco.

Iring-iringan pesawat yang lewat menambah semangat para pekerja untuk mempercepat dalam pemindahan kotak-kotak gandum. Harapan kemenangan dan kejayaan terpancar dari wajah-wajah mereka. Penaklukkan wilayah eropa dalam tangan Jerman tergambar jelas dalam pikiran mereka, Kebanggan diri sebagai manusia yang terlahir dengan kualitas terbaik mengalir dalam darah, merasuk ke otot dan setiap sendi pekerja.

“Aku masih tidak mengerti maksutmu Fred, lihatlah, pasukan kita lebih unggul dalam persenjataan, setidaknya kita berdua tau soal itu, bagaimana tank-tank kita berhasil masuk menguasai kota Oise saat kita di Reims, pasukan Prancis lari tunggang-langgang saat melihatnya, dan kita semua tertawa melihat kejadian itu, tidak ingatkah kau Fred?”

 Fredy tidak menjawab, Marco menghentikan pekerjaannya, gandum-gandum sudah selesai dimasukkan semua kedalam kotak kayu. dilihatnya Fredy yang menatap ketimur jauh, dia tahu bahwa Fredy memiliki koneksi untuk mendapatkan berita soal perkembangan perang saat ini.

“Mungkin Fredy salah dalam mempersepsikan keadaan atau mungkin Fredy menerima berita dari Informan yang salah”. Batin Marco.

Fredy dulunya adalah mahasiswa lulusan sekolah kedokteran di Humboldt Berlin, tepatnya satu tahun yang lalu tahun 1941 saat perang dimulai, dirinya diwajibkan untuk mengikui wajib militer tanpa bisa menolak, menjadi bagian dalam rencana Blitzkrieg sebagai tentara divisi informasi.

“Apa yang kau pikirkan Fred? Masihkah kau tetap mengira kita kalah? Bahkan setelah iring-iringan pesawat tempur kita tadi?”

Fredi tidak menjawab, matanya tetap tertuju pada arah timur laut, dimana iring-iringan pesawat tadi menuju, menatap letak kota kelahirannya Berlin.

Marco mendekati Fredy, mereka berdua mengangkat kotak yang berisi gandum itu ketepi rel.

“Jika kau tau Marco, sebenarnya pasukan kita sudah berhasil dipukul mundur di beberapa daerah, Leningard, Smolensk, Moskwa bahkan Kiev, tetapi semua ini dirahasiakan oleh Jendral kita”.

Marco terdiam, dia benar-benar tak menyangka bahwa Fredi masih kukuh dengan pikirannya.

“Apa kau gila? Kau masih meragukkan kekuatan pasukan kita? Dengan persenjataan modern seperti sekarang ini, persenjataan dan alat tempur yang bahkan Itali sendiri tidak bisa membuatnya!?”

Marco mulai tampak kesal, analisis dari kata-kata yang diucapkan oleh Fredy sekarang terdengar sebagai sikap pesimis yang memuakkan.

“Jika memang demikian kenyataan yang terjadi? Apa kau masih tidak menerimanya Marco?”

Marco dengan emosi langsung memegang kerah Fredy, ditariknya wajah Fredy, didekatkannya wajah sahabat yang telah menolongnya saat terkena serpihan mortir ranjau darat. Wajah Marco tampak merah marah.

“Kau boleh meragukan kesegaran gandum-gandum ini Fred, tetapi jangan kau ragukan kemampuan tentara Jerman dalam berperang, informasi omong kosongmu tidak berguna untuk perang ini, bahkan jika jendral mendengar, kau akan dihukum bersama Yahudi-yahudi sialan!!! Kau mengerti?!!”

Marco melepaskan genggaman pada kerah Fredy sambil berteriak “HEIL HITLER!!!” dengan tangan kanan diangkat keatas.

Fredy tersenyum, tidak marah sama sekali atas perlakuan dari Marco yang telah membuat seluruh pekerja lain melihat percekcokan mereka berdua. Pengawas tidak terlihat.

“Kau benar Marco, omong kosongku tidak berguna untukmu.”

Fredy membetulkan letak kerahnya.

Sirine berbunyi keras, bukan suara kereta datang yang mereka dengar, para pekerja terkejut.

Dari pengeras suara mereka mendapatkan kabar bahwa mereka akan segera berangkat ke Berlin, kembali menjadi tentara dengan senjata, bukan lagi bergumul dengan gandum dan kotak kayu. Ya Rusia telah memukul mundur pasukan Jerman sampai disana.

Fredy berjalan pergi menuju bangker senjata, meninggalkan Marco yang sedang melihatnya dengan perasaan bersalah.

//