Gambar

Puncak itu menjulang, berisikan tanaman kopi dikanan-kiri

meruncing diujug daun, hijau tanpa ulat

dan aku mendekap secangkir kopi dalam gubuk.

 

Ini tanah Semar berada, puncak dari segala kebijaksanaan.

tanah Kahyangan yang beradu pandang dengan Borobudur

tetapi bukan untuk dijanjikan.

 

secangkir kopi panas untukku – lagi –

kali ini tanpa gula dan gorengan,

bukan habis, hanya saja aku memilih untuk ini.

 

mendalami setiap uap yang masih murni,

dari tanah dewa-dewi,

bukankah itu Semar, Lanang ora wedok ora.

 

Lama akhirnya aku dengar,

Pemerintah mulai melihat ini sebagai Investasi.

mereka lebih memahami apa itu jual beli.

dari pada mereka yang pribumi.

– yang mereka tahu hanya bertanam kopi –

 

Tangan mereka mulai menjamah,

bukan hanya meraba, mereka sudah meremas.

erat hingga terasa mulai ngilu.

 

Kopi ku mulai beranjak dingin,

uap mulai berhenti mengebul, kalah pamor dengan asap bulldozer.

yang hitam legam, lebih hitam dari ampas kopiku.

 

Petani kopi mulai terbebani, harga pasar tak lebih tinggi dari upeti tiap hari.

Pemerintah bilang ini soal Komoditi.

tetapi mereka tetap tidak mengerti soal begini.

 

Aku dipaksa untuk menulis ini dengan sembunyi,

Pemerintah tidak suka dengan pemberitaan soal eksploitasi ini

kalo melawan, akan dikebiri – mereka masih sabar untuk tak membuatku mati –

 

“Pembangunan untuk kemajuan”

dengungan itu menyejukkan, aku kalah untuk provokasi

sebagian mulai tak bicara kritis lagi.

aku mengerti.

 

Cangkir kopiku sudah diambil,

aku belum mau pergi.

sampai tulisan ini jadi dan lebih dimengerti oleh petani kopi.