GambarNamanya Widji Thukul, nama aslinya Widji Widodo, nama belakang aslinya sama dengan Joko Widodo, sama-sama bertubuh kurus, sama-sama dari Solo. Sama-sama sederhana, lambang perlawanan arus bawah.

Widji Tukul, nama samarannya Paulus, Aloysius Semedi dan Martinus Martin, itu nama samaran ketika aparat kopassus mencarinya, siapa Widji Thukul sebenarnya hingga begitu pentingnya ia menjadi target untuk dilenyapkan pada orde baru, orde yang membungkam HAM dan menindas proletar itu?

Widji Thukul, ia buruh serabutan, pengamen dan seniman jalanan, penyair perlawanan dari rakyat tertindas, aktivis buruh, dan terakhir sebagai kepala divisi propaganda Partai Rakyat Demokratik yang dianggap berhaluan “kiri” bagi orde baru.

Widji Thukul lahir dari keluarga tukang becak, kaum yang tak berpunya tapi rajin bekerja untuk melanjutkan hidup dengan rejeki yang benar-benar diraih dari keringat sendiri, pantang minta-minta dan pantang mencuri, ia berhenti sekolah untuk bekerja agar adik-adiknya bisa melanjutkan study. Ia sendiri menggelandang, mendirikan grup teater, mengamen puisi kekampung-kampung kota, dan menjadi aktivis buruh, hidupnya seperti Yesus yang selalu sengsara dan dekat dengan kaum hina dina, miskin tak berpunya.

Dia biji perlawanan yang tumbuh dari kor kapel, dimasa remaja ia pemuda katholik yang aktif, Widji Thukul artinya, Biji yang tumbuh, ketika lulus SMP dia melanjutkan Sekolah Menengah Karawitan Solo, jurusan tari, tidak tamat, sampai kelas dua saja, tapi ia pemuda yang cerdas, hanya ekonomi keluarga yang membuatnya harus bekerja membantu adik-adiknya supaya bisa melanjutkan study, dia aktif bergabung di teater asuhan WS Rendra, puisinya menggugah perlawanan, syair-syairnya menembus istana, dia selalu ada disetiap demonstrasi buruh dan kaum marginal lainnya, Namanya mulai membuat orde baru jengah dan marah.

Dia menjadi lambang perlawanan rakyat tertindas, berikut petikan puisinya “Wani, bapakmu harus pergi/ kalau teman-temanmu tanya/ kenapa bapakmu dicari-cari polisi/ jawab saja/ karena bapakku orang berani” tulisnya dalam pelarian, untuk anaknya Fitri Nganthi Wani, tapi sejak bulan Mei 1998, dia menghilang, tak tentu rimba, mungkin dia bukan menghilang, tapi dihilangkan, sampai sekarang!

Bila rakyat terus ditindas, suara dibungkam, jika kau menghamba pada ketakutan, kita memperpanjang barisan perbudakan, hanya ada satu kata : LAWAN!

Mengenang Widji Thukul, seniman, aktivis buruh, proletar sejati, melawan lupa!

diambil dari tulisan fb : HK Proletariat Semaoen.