“Sungguh menarik bahwa sejak awal sejarah ditulis oleh para pemenang, pemenang dalam hal ini adalah sistem yang bertahan hidup dan berhasil menaklukkan” kata Gembiz sambil memainkan sendok dicangkir kopinya yang hampir habis, tampaknya dia begitu serius ingin membahas masalah yang sedang aku hadapi.

“Lalu dimanakah kebenaran sejarah itu? Dan apakah kebenaran itu sendiri ?” sahutku yang tidak mau terlihat bodoh, ya sebuah pertanyaan yang bagus akan jauh lebih membuat kita dipandang cerdas daripada menjawab sebuah pertanyaan sulit.

“Bukankah kau selalu bilang bahwa kebenaran itu bersifat Subjektif, ya aku masih ingat bahwa kebenaran bagimu bukanlah sesuatu yang lagi Objektif setelah kau tidak percaya Agama apapun” tambahku.

Kau masih terdiam, hanya saja senyum kecutmu itu selalu muncul saat kau dihadapkan pada sesuatu yang akan panjang untuk kau uraikan.

“Hemmm…kau benar, kebenaran Objektif tidak lagi ada bagiku, kecuali kau memang sudah ikhlas untuk berkata dan buta dengan kata Iman. Ya kau merelakan diri untuk patuh dan percaya pada peraturan yang ditetapkan dan kau menganggap itu sebagai sesuatu yang tidak bisa digubah atau direvisi lagi” jawabmu datar,  “dan pastinya kau akan berkata, bukankah dengan demikian letak kebenaran akan menjadi sesuatu yang labil, tidak solid dan kita akan meraba-raba sendiri akan apa kebenaran itu, kita akan terjerumus dalam kebimbangan dan keraguan, benar bukan?” lanjutmu sambil menatapku penuh kemenangan, ya kau selalu mempersiapkan pertanyaan selanjutnya untuk hipotesamu sendiri, dan aku selalu tertarik untuk mendengarkan kata-katamu.

“Ya lalu apa yang akan terjadi jika meraba sesuatu yang besar, menjadi begitu labil untuk diterjemahkan, jika setiap isi kepala memiliki asumsi dan persepsi tentang kebenaran sendiri-sendiri?, Bukankah akan menimbulkan chaos pada tahap perbedaan dalam pengaplikasiannya?” cecarku,

Kau diam begitu lama, merogoh sebatang rokok mild dan menyulutnya, rupanya kau telah jatuh dalam asumsi kebenaran jawabanmu yang labil pula. Aku tersenyum menang.

“Kau tau Bin, saat ini kita tidak sedang berbicara tentang sebuah kebenaran mutlak biasa, ya kebenaran yang sudah tidak dapat disalahkan lagi. kebenaran yang menjumpai pembuktian yang mengatasi pernyataannya. kebenaran mutlak adalah kebenaran yang hidup dengan fakta  yang tidak  dapat  disangkal lagi, Seperti api adalah panas, es adalah dingin, batu adalah keras, air adalah lunak, dan sebagainya adalah kebenaran mutlak juga. Tetapi kita berbicara tentang kebenaran mutlak yang sampai saat ini masih kita cari seperti kebenaran tentang sikap hidup adanya surga, adanya neraka, adanya tumimbal lahir, adanya Dewa, adanya kemungkinan kita menjadi Dewa, ataupun Tuhan dan keIlahian”

Aku mengangguk, ya aku tahu itu, kau tidak suka berbicara ringan, tanpa terkecuali kau akan mempertanyakannya dan meraba-rabanya dengan filsafatmu yang kadang masih banyak belepotan itu.

“Manusia ingin tahu yang benar Bin, dan kebenaranlah yang dapat mengobati rasa haus itu, dan dengan ilmu pengetahuanlah manusia mencari sesuatu yang benar atau kebenaran, ya dengan kata lain dengan ilmu manusia mencari sesuatu yang benar, ilmu menjadi instrument penting dalam menemukan apa hakikat kebenaran itu sendiri, menyelaraskan antara pengetahuan dengan objek yang dituju, kesesuaian antara rasio, indera dan objek, dan hal inilah yang akhirnya kita amini sebagai kebenaran mutak atau kebenaran objektif, sedang pada apa yang kita pertanyakan kita masih jauh dari itu”

“Ya aku mengerti soal itu Mbiz, dan soal kebenaran apa yang akan kau bahas, lalu bagaimana dengan sejarah? Bukankah kau masih ingin menetapkan hipotesamu sendiri didalam membaca setiap sejarah?”

“Hahaha. Selalu saja out of topic, tetapi kali ini saya tidak begitu jauh dari platform begitu jauh kan Bin” kau terkekeh, dan asap rokokmu melayang di udara, “Begini Bin, ya Sejarah itu besar, Sejarah itu luas dari mana kita akan melihatnya dan mengambil jalurnya,Sejarah lahir setelah manusia mengenal tulisan, karena dengan tulisan manusia bisa mambaca apa yang terjadi pada saat itu, tetapi tidak semua tulisan itu bisa dibaca dengan jelas, masih banyak lahir penafsiran-penafsiran lain yang berbeda disetiapnya, dan hal ini tentu harus didukung lagi oleh sesuatu artefak, peninggalan wujud atau non wujud yang menguatkan persepsi penafsiran dalam membaca tulisan yang mengandung sejarah”

“Berarti tentunya akan ada berbagai macam versi tentang suatu sejarah maksutmu? Jika hanya mengandalkan teks saja?” Sambarku

“Bahkan ada bukti fisik atau non fisik pun banyak sejarah yang multi-tafsir”

Aku meraih bungkus rokok, mengambil satu batang dan menyulutnya, sepertinya aku mulai sedikit percaya dengan kata-kata Gembiz, sahabatku yang tiga tahun lalu memilih untuk pergi ke Bali, mencari experience baru katanya, karena di Jawa sekarang terlalu ribet dengan segala tetek bengek peraturan yang tidak jelas, berbeda dengan Jawa yang dulu.

Aku masih tidak tau bagaimana Jawa dulu dan sekarang.

“Kau masih ingat tentunya Bin, tentang adanya perubahan materi pelajaran Sejarah, dulu waktu kita masih sekolah ditingkat dasar kita mendapat pelajaran sejarah tentang pemberontakan G30S PKI, tetapi sekarang materi pelajaran sejarah tersebut sudah ditiadakan, ya sejak runtuhnya Orde Baru, itulah contoh nyata yang kita alami bahwa Sejarah dituliskan oleh mereka yang jadi Pemenang, tetapi tidak berhenti disitu saja Sejarah berulang kali berubah dituliskan untuk merubah pandangan seseorang Pada kurikulum buku pelajaran tahun 2004, tragedi 1965 disebutkan G30S tanpa embel-embel PKI di dalamnya. Namun kemudian pada kurikulum 2006 nama PKI muncul kembali seperti yang pernah tercantum di buku-buku bacaan selama era Orde Baru.”

“Apa manfaatnya dengan itu semua, apa hanya untuk melanggengkan kekuasaan saja? Tetapi bukankah 2006 sudah tidak ada lagi kekuatan orde baru didalamnya, kenapa muncul kembali? Lalu dimana kebenaran sebenarnya?” aku tertarik, Sejarah ini menjadi begitu campur aduk, benar mungkin rupanya bahwa kita akan menjadi labil berdiri diatas sejarah yang tidak pasti dan berubah.

“Kau masih ingat kata-kata yang Hitler? kesalahan yang diulang akan menjadi sebuah kebenaran,  ya secara psikologis otak kita akan merekam sesuatu yang diulang dengan repetisi yang tinggi, seperti halnya para biksu, muslim yang melakukan dzikir, seorang sufi yang memutar-mutar kepalanya dengan membaca pujian, agar otak mereka merekam apa mereka lakukan saat itu, dan hasilnya bibir mereka akan selalu bertindak demikian, itulah proses induksi pemikiran, pertama mereka merebut pikiranmu, kemudian kau tanpa sadar akan melakukan bahkan membenarakan itu secara terus-menerus tanpa kesadaran. Otak kita merekam”

“Suatu kesalahankah demikian?” tanyaku, iya aku setuju dengan pendapat Gembiz soal hal ini, bahwa otak kita merekam sesuatu dan menjadikan itu menjadi suatu ingatan genetis, seperti yang pernah ia jelaskan soal Metabolic Syndrome yang belakangan diderita oleh masyarkat Indonesia post-modern.

“Kesalahan? Secara cara saya berpikir tidak, hanya saja apa yang menjadi tujuan itu yang perlu digaris bawahi. Terlepas dari itu ada satu point penting lagi, ya bahwa kita masih meraba kebenaran tentang sejarah sebenarnya, atau bisa jadi pemerintah enggan melakukan pelurusan sejarah bangsa Indonesia. Karena kita masih melihat banyak potongan sejarah bangsa dan negara Indonesia masih belum jelas, terutama yang menyinggung Soekarno dan Komunisme. Dan ketidak jelasan itu akan tertanam di benak generasi selanjutnya.”

Kau terdiam beberapa saat, merogoh satu batang rokok lagi, kau selalu butuh rokok untuk tetap berpikir rupanya, satu yang kusesalkan darimu, kau mengekang otakmu sendiri dengan berpendapat bahwa tanpa rokok kau tidak bisa berpikir, tapi itu ukuran aneh untuk orang sepertimu, ya orang yang begitu berontak terhadap dogma tetapi memberikan dogma yang salah terhadap kesehatan tubuh sendiri. Suatu saat akan aku tanyakan perihal ini padamu.

“Kau tahu efek apa yang akan terjadi dari perbedaan penulisan sejarah tadi Bin?”

Tanyamu mengagetkan lamunanku, aku masih terkejut hingga tak tau harus menjawab atas pertanyaanmu yang tiba-tiba. Tetapi matamu masih menunggu jawabanku, seakan berharap bahwa aku tahu jawaban dari pertanyaanmu itu, berharap bahwa dia tidak berbicara dan berdiskusi dengan orang yang salah, berharap setara berpikirnya, ah tidak, kau tidak pernah membedakan sesuatu dengan tingkatan kepemilikan.

“Akan ada banyak orang yang bingung untuk memilih salah satu dari banyak sejarah yang dituliskan” jawabku sekenanya.

Kau tersenyum, sepertinya ada yang salah dengan jawabanku barusan.

“Salah?” tanyaku,

“Enggak, hanya saja terlalu enak kamu jawabnya,” jawab Gembiz,

===================================================================

Bersambung…………. ^.^