Sebelum menulis ini ( Ah harusnya ini sudah terlempar ke Blog kemarin, sial karena menulis judul yang sama akhirnya dia hilang dan beralih akses ke judul yang baru ) terlebih dahulu akan saya bercerita tentang sebuah buku merah yang ada pada saya dan selalu saya bawa, ya sebuah buku yang baru saya beli satu minggu yang lalu, sebuah buku yang saya gunakan untuk mencatat apa yang saya rasakan dan saya pikirkan, ya karena saya tau dan saya sadar daya ingat memori dalam otak saya sangat pendek, mudah lupa, amnesia dini mungkin hahahaha.

Ya buku ini sangat berharga bagi saya, karena didalamnya berisi tulisan saya, yang mungkin sebenarnya biasa saja, tetapi sebisa mungkin saya akan mencoba menuliskan hal-hal yang original dalam pemikiran saya, menuliskan apa yang penting untuk masa depan saya, ah, terlalu berlebihan dan konyol… tapi bagi saya ini adalah sesuatu, sesuatu yang mungkin menjadi  warisan  kelak, buku  berguna bagi diri saya pribadi atau penerus saya.

Dan ini bukunya🙂 :

GambarOke berlanjut saja, apa yang sebenarnya pokok dari yang akan saya tulis disini.

Ini soal perang, soal perang dengan hubungannya SUMBER DAYA.

Ya, kita tahu bahwa perang adalah masalah klasik, atau bias menjadi jawaban klasik pula atas masalah atau sesuatu hal lain. Perang dalam tujuannya adalah memenangkan sesuatu dalam suatu perebutan.

Kita tahu bahwa Sumber daya adalah sesuatu yang sangat penting dalam hidup, sumber daya apapun.  Kita ingat awal dari perang primitif adalah dinosaurus dengan dinosaurus lainnya, ya mereka pun berebut daerah tentu dengan kesuburan untuk dapat dijadikan tempat hidup, berkembang menjadi saling memakan daging saudara sesame dinosaurus untuk bertahan hidup, ya rantai makanan. Dan akhirnya berlanjut kepada manusia yang mengincar sesuatu yang dapat membuat mereka bertahan hidup pula.

Bagaimana dengan manusia akhirnya ? ya manusia juga tidak terlepas dalam hal itu, di Indonesia sendiri awal mula juga merupakan penghasil sumber daya yang menarik minat dari bangsa eropa untuk datang, yaitu rempah-rempah, kemudian berlanjut menjadi pengerukan hasil bumi yang lain, emas, minyak bumi, tembaga, gas alam dan masih banyak lagi yang diambil, dan sampai sekarang pun manusia ( atas nama Negara, seperti Amerika ) berusaha meraih apa yang mereka tidak miliki dengan paksa pula, ya entah dengan dalih apapun, kosnpirasi, rekayasa untuk menghalalkan perang. Meraih dan memenangkan yaitu Sumber Daya.

Bayangkan jika sumber daya alternative tidak segera ada, dan dengan sisa sumber daya yang mungkin hanya bertahan dalam beberapa ratus tahun kedepan, bukankah akan menjadi sesuatu yang sangat menakutkan, ketegangan antar Negara akan terlahir kembali, mereka yang memiliki sumber daya lebih akan berusaha sekuat tenaga untuk mengamankan miliknya, dan Negara dengan kebutuhan sumber daya besar tanpa memiliki sumber daya sendiri akan mempersiapkan diri untuk lebih kuat agar mampu merampas jika hal tersebut memang sangat diperlukan. Dan perang akan lahir kembali, seperti teori dari Darwin, yang kuatlah yang menang dan berevolusi.

Mau tidak mau hukum alam akan terjadi, ya mau tidak mau. Dulu masih terdapat norma yang akhrinya membatasi perang, lahirnya kesadaran untuk menghargai hak manusia, tapi bagaimanapun juga hal tersebut tidak sepenuhnya mampu menghentikan perang. Bagaimana jika sudah sangat terdesak ? untuk kelangsungan hidup, ? bukankah secara naluriah manusia sudah mengenal system tumbal sejak awal, sejak masa dahulu kala, mereka merelakan saudara untuk / memohon mendapatkan kelangsungan hidup yang lebih baik. Dalam sebuah cerita yang lain seseorang mampu menjadi kanibal pula saat tersesat di Hutan, saat teromabng-ambing ditengah samudra, ya hanya untuk kelangsungan hidup sebagian yang lain, sebagian lain harus dikorbankan.

Lalu bagaimana dengan Agama ? tak mampukah ? ah soal ini saya sangat pesimis, saya bukan orang yang begitu yakin benar akan kekuatan Agama. Bukankah Agama sendiri lahir dari perang ? dan Agama sendiri juga mengajarkan perang, Agama apapun. Perang Salib, Perang Hindu Budha,  perang Yahudi Islam, ah semuanya juga sama saja, mereka berebut juga, berebut kebenaran atas nama Tuhan. Ah Tuhan lagi Tuhan lagi. Ya mungkin Tuhan adalah Sumber Daya yang paling tidak terbatas yang pernah ada, karena Imajinasi memang tidak pernah bertepi.

 

Nb : Catatan yang kedua ini carut-marut, rasanya sangat buruk harus mengulang sesuatu, ya sangat mengecewakan saat kau harus kehilangan tulisan orisinil / yang pertama, dank au terpaksa menulis lagi dalam satu tema yang sama.