Sudah lama saya tidak melihat berita di televisi, terlalu berkutat terhadap menulis dan bekerja di Klinik.

Mungkin ditambah lagi karena selama ini saya berpikir bahwa lebih baik melihat televisi saat acara pertandingan sepak bola saja, lebih memilihara pemikiran dari adanya pengaruh negatif ( selama ini saya membenci televisi karena  banyaknya suguhan pembodohan, kekerasan dan kepicikan ) yang dihasilkan saat melihat televisi, bagaimana tidak, banyak yang bergelayut dan terbuai oleh kisah sendu yang disuguhkan sinetron-sinetron, menjadi begitu mudah melankolia, atau menjadi begitu sinis menjadi mahluk tak sempurna yang begitu halal untuk direndahkan dalam acara komedi, penindasan terhadap mereka yang dilahirkan untuk menjadi tidak cantik atau tampan di dunia. Terlebih begitu harus saling membenci saudara hanya karena merebutkan dia yang cantik atau yang tampan, berebut harta.

Ah, tapi ternyata tidak semuanya buruk dan berbahaya, masih ada berita yang bisa dikompromikan untuk diambil dan dinikmati. Walau tidak mengindahkan adanya perang media guna menyambut pemilihan umum 2014 besok, ya perang yang sekarang begitu terasa mana stasiun televisi yang berpihak  pada partai A dan mana televisi yang berpihak kepada partai B, C, D  dan seterusnya.

Begitu melihat acara televisi, banyak hal yang ternyata saya lewatkan.

Sebuah kasus kecelakaan yang melibatkan M Rasyid Amrullah putra dari Hatta Rajasa yang mengakibatkan meniggalnya 2 orang.

Secara kronologis kejadian terjadi saat kendaraan yang ditumpangi Rasyid ini menabrak Luxio pada Selasa (1/1) pagi. 2 Orang penumpang Luxio, Harun (57) dan Raihan (14 bulan) meninggal dunia. Mobil yang ditumpangi itu ditabrak tepat pada bagian belakangnya. Hingga mengakibatkan pintu belakang terbuka dan sejumlah penumpang jatuh ke aspal. Luxio itu kini diparkir di sebelah BMW itu, namun tidak ditutupi terpal. Luxio itu di bagian belakang tampak ringsek. Pelat nopolnya juga telah dilepas polisi.

Ada lagi kasus tentang meninggalnya Ayu Tria (7) dikarenakan diterlantarkan di ruang Unit Gawat Darurat (UGD) rumah sakit Harapan Kita, padahal Ayu harus menjalani Kemoterapi, Ayu mengidap leukemia dan harus secara rutin cuci darah. Namun semalam dia tidak bisa melakukan cuci darah dan kemoterapi karena ruangan ICU RS Harapan Kita malah dipakai syuting sinetron Love in Paris.

Namun pihak RS Harapan Kita tidak mau begitu saja menjadi pusat kesalahan, mereka menyebut bahwa syuting tersebut adalah salah satu upaya untuk mengenalkan dunia medis kepada masyarakat.

( Dengan nama Film Love in Paris ? ah harusnya Love in ICU, Jadinya kalau mau bilang bahwa ini tentang pengenalan dunia medis memang tepat )

Yang jadi masalah atas kedua hal tersebut adalah ini soal Instansi, Kepolisian dan Rumah Sakit, sebagai Pengayom dan Pusat pelayanan kesehatan.

Banyak hal ganjil dalam dua kasus tersebut, pertama soal kecelakaan yang melibatkan putra dari pak Menteri, kenapa begitu lama dalam mengusut atau menetapakan pasal yang dilakukan, malah terkesan berbelit-belit, sangat berbeda saat menangani kasus tabrakan yang dilakukan oleh Afriani Pada Minggu (22/1/2012) pagi di Tugu Tani, dalam tempo waktu 30 menit polisi sudah menetapkan Afriani sebagai tersangka,  dan begitu juga dengan kasus Novi si model majalah dewasa yang mungkin berbeda cerita dengan Afriyani, model yang menabrak 7 orang di kawasan Taman Sari menjadi terkenal setelah poto hamper bugilnya didalam kantor polisi, mungkin karena bersalah dan setengah teler juga, akhirnya manut saja sama bapak Polisi yang menangkapnya untuk berpose panas ( dengan BH dan celana dalam melorot , kalau bukan karena panas apa dong, karena dingin ?), lalu kenapa Afriyani tidak disuruh pose panas juga oleh bapak Polisi ? (  jawab sendiri saja yah )

Kembali ke topik………….

“Ini yang jadi masalah, RS itu untuk pelayanan, bukan untuk hiburan,” kata sesorang menambahkan atas geramnya akan kejadian tersebut.

Sebenarnya bukan masalah rumah sakit saja yang pantas di Geramkan, semua Instansi pun harus di Gerami atas sikap yang tidak benar, ya mentang-mentang Pangkat dengan Harkat semua seakan bias membeli mereka yang tidak mempunyai Pangkat dan Harkat yang lebih dari dirinya.

Dan pada intinya, tidak ( terlalu ) salah dengan kita menyaksikan televisi, asalkan tau dan bagaimana bersikap, pandai memilih mana cara yang berguna, mana acara yang hanya berisi sampah kebodohan, ( jadi ingat slogan Orde baru, “ Kalian diam saja di rumah, nikmatilah Dada Paha, nikmatilah banyolan-banyolan yang melenakan dalam kotak televisi, sugestilah diri kalian bahwa kalian sedang bahagia pada Orde kami dan biarkan kami bekerja di pemerintahan untuk memakan uang kalian ”.