“Bukan saya tak percaya padamu” katamu padaku sembari menatap mataku lekat, aku masih tak mengerti, bukankah telah aku buktikan kepadanya bahwa aku mau berusaha, batinku.

Dia masih saja menatapku lekat, seakan tak ada salah dalam matanya yang tajam itu, sangat menyakitkan lama-lama kurasa tatapannya, aku tak sangup lagi melihatnya lebih lama, tetapi kalau aku lepaskan, aku kalah dan dia akan jadi selalu saja benar akan penilaiannya terhadap diriku…..

“Semua orang pernah merasakan hal yang sama denganmu Cris, tetapi hanya sudut pandang dan persepsi mu saja yang mungkin kau lebihkan, dan lihatlah apa yang akhirnya terjadi,? Kau hanya ingin balas dendam saja atas ketidak sempurnaan hidupmu dimasa lalu”

Ah, selau saja seperti ini, apa kau benar benar tau apa yang ku rasakan, bukankah setiap hidup kita dilahirkan dari keluarga dan lingkungan yang berbeda, kau selalu pintar memojokkan ku, dan aku selalu saja hanya bisa menjawab dalam hati, berharap kau tau bahwa aku bisa berkata, tetapi terlalu kelu untuk itu, masa lalu telah mencatut kemampuan ku untuk berkata-kata saat menghadapi tekanan seperti ini,

“Kenapa kau selalu diam Cris ? apa kau tak ingin berkata dan membela dirimu sendiri, bukan hanya dengan membuang waktumu untuk balas dendam saja. Apa tangan dan kaki mu lebih pandai berkata daripada lidahmu?” kau tak beranjak sedikitpun, tatapmu masih disana

Pertanyaan mu ini sungguh pertanyaan yang membuatku sangat ingin bicara, tapi bukan dengan lidahku, tapi dengan tangan dan kaki ku yang sudah mulai panas oleh aliran darah yang mulai menjalar di setiap arterinya, tapi aku harus mampu mengontrol diri didepanmu, aku sudah berjanji,