Kampus sebentar lagi akan mengelar acara Sumpah profesi, yah sebuah acara di mana di dalamnya terdapat penyematan dan sertifikat berisi sumpah sebagai fisioterapis, oke.

Beberapa hari sebelumnya di jelaskan bahwa biaya sumpah profesi sebesar 600 ribu rupiah, ( kurang lebih ) setelah banyak yang mengkomplain dengan menulis di akun jejaring sosialnya, di nilai bahwa biaya terlalu mahal dan mempertimbangkan sebagian yang akan ikut sudah kembali ke daerah masing masing, temen2 Pontianak misalnya, mereka harus merogoh kocek untuk membeli tiket pesawat 2 kali, untuk pulang pergi, belum hotel atau motel untuk tempat menginap orang tua. Berapa besar pengeluaran yang bakal keluar, terlebih beban psikologis bagi mereka yang belum bekerja, ketidak adaan gairah juga menyurutkan keinginan mereka. Pengeluaran uang sebesar itu mungkin bagi temen temen lain bisa di jadikan modal untuk membuka usaha poliklinik sendiri, yups….tapi semua kembali ke keinginan masing masing individu.

Selanjutnya mari kita bahas tentang kelanjutan administrasi yang berubah ubah dan isu adanya surat SIF yang di sita jika tidak mengikuti sumpah profesi. Oke mari kritisi…kita uraikan lewat point point

  1. Harga pertama Sumprof adalah  ±600 ribu.( belum fik, hanya bila sisa uang akan di kembalikan)
  2. Tiba tiba setelah di tinjau kembali ternyata hanya 300 ribu. ( sudah fik )
  3. Muncul info bahwa ternyata 300 ribu yang di dapatkan pada point ke 2 adalah karena adanya sisa uang dari komprehensif  1 & 2 sebesar 300 ribu rupiah. ( sudah fik )
  4. Sarat mendapat potongan adalah menyertakan kwitansi pembayaran 1 & 2 komprehensif.
  5. Poin terakhir, isu masalah SIF yang di berikan kalau mengikuti Sumprof.

Pada point satu jelas masih baru, ketika itu muncul saja pemberitahuan seperti itu. Tidak ada yang salah, karena bersifat membuka wacana dan masih mempertimbangkan kemungkinan lain. Sehingga masih belum fik dan menunggu adanya pemberitahuan selanjutnya. Masuk ke point ke dua, sebuah kepastian yang dimana setelah di pertimbangkan dan di kaji oleh team Sumprof menghasilkan niali 300 ribu di dalamnya.  Kabar yang cukup melegakan bagi temen temen mungkin karena harga sumprof turun 50% dari harga sebelumnya. Tiba tiba pada point ke 3 muncul embel embel bahwa potongan 300 ribu tersebut sebenarnya merupakan hasil dari potongan uang sisa komprehensif. Dari sini mulailah muncul keanehan yang semakin lucu. Enaknya ku tulis dalam point juga.

  1. Ternyata ada sisa uang komprehensif 1&2 sebesar 300 kalau di lihat dari penjelasan di atas

(     600 ribu biaya sumprof – 300 ribu bayar ke petugas = 300 ribu uang sisa kompre.   )

  1. Uang kompre yang mana ini ?? kenapa tidak ada perincian dari uang kompre dan penjelasanya sehingga aneh tiba tiba muncul sisa uang kompre sebesar 300 ribu.
  2. Kalau sisa uang kompre sisa 300 ribu kenapa baru dimunculkan sekarang, saat ada permasalahan sumprof, bagaimana jika masalah sumprof tidak ada. Apakah sisa uang kompre tetap akan muncul..?? atau kah bakalan hilang begitu saja…?? Seperti masalah uang sisa 200 ribu ujian OSCA, di tambah belum jelas lagi adanya uang dari kolaborasi skripsi..?? bagaimana bisa percaya jika semua itu tidak ada kabarnya sama sekali, padahal sebagian dari masalah tersebut telah terlewat saat kita meninggalkan kampus setelah 5 bulan. Bukan kah aneh?? Seperti tidak ada tanggung jawab sama sekali.
  3. Permasalahan sisa uang kompre. Pertanyaan yang sering jadi pikiran sebagian mahasiswa,  ya tentunya mahasiswa yang gak mau terima begitu saja kampus menyodorkan  selembar nilai rupiah tanpa kejelasan bagaimana pembayaran tersebut di gunakan.
  4. Penyama rataan sisa uang kompre kembali menyulut permasalahan baru, ibaratnya seperti ini, bagaimana teman yang notabene tidak menjalani komprehensif di RS Karyadi semarang?? Bukankah mereka mendapat pengurangan uang yang lebih banyak ? mengingat ada uang asrama, dan ada uang RS yang dinilai cukup besar. Bagaimana mungkin bisa sama.? Lalu jika menggunakan sistem uang sisa yang di bagi secara merata terhadap jumlah orang dalam kelas yang mengikuti kompre menghasilkan dimana per@ mendapatkan bagian 300 ribu, apakah hal tersebut adil. Mengingat mereka tidak mendapatkan apa yang mereka bayar. Tapi mereka harus membeli dengan hasil yang berbeda..?? adilkah??
  5. Munculnya 2 sisa uang , adanya 200 ribu yang menjadi pembiayaan waktu osca tapi belum mendapat ganti…dan 300 ribu yang menjadi penolong saat uang 600 ribu dinilai terlalu mahal. Bagaimana ini yang benar..???? apakah semua sisa uang kompre bila di jumlah sebesar 300 ribu ..?? dengan perincian sebagai merikut :

( uang osca + uang sisa kompre = jumlah total ) ( 200 ribu + 100 ribu = 300 ribu )

Atau

( uang osca + uang sisa kompre = jumlah total ) ( 200 ribu + 300 ribu = 500 ribu )

 

Jadi sisa uang kompre sebenarnya berapa ..?? 300 RIBU atau 500 ribu..??

  1. Ketidakjelasan tentang uang kolaborasi skripsi.. harus menunggu apa kah..?? bahkan masalah tersebut hilang begitu saja setelah lulus selama 5 bulan..?? dan tentu tidak ada konfirmasi lebih lanjut.
  2. 8.      Selanjutnya adalah, adanya sarat memberikan photocopy kwitansi pembayaran komprehensif satu dan komprehensif  dua untuk mendapatkan atau mencairkan uang 300 ribu tersebut. Bukankah ini aneh..?? ini salah satu bagian isi pesan singkat yang saya terima :

“ slip ini d gunakan sebagai bukti untk mndpat kn subsidi dr kmpus …….”

Hemmm bukankah mereka yang sudah mengikuti pendadaran dan skripsi di wajibkan untuk melunasi pembayaran komprehensif satu dan dua.?? Terlebih bagi mereka yang sudah mengikuti wisuda..apakah masih ada tunggakan pembayaran.??  Aneh bukan jika di nilai bahwa mahasiswa yang sudah mengikuti ujian pendadaran dan wisuda belum mengkompliti pembayaran..?? sampai harus menyerahkan bukti pembayaran. Lalu bukti tersebut akan di gunakan untuk apa.?? Lalu, bagaimana juga bagi mereka yang tidak bisa menunjukkan bukti.?? Apa konsekwensi untuk mereka.?? Mereka harus minta surat kehilangan dari satpam dan mengurus pembuktian bahwa mereka dulu telah membayar uang komprehensif satu dan dua ke BAU. Atau mereka bakal kehilangan uang subsidi 300 ribu yang terdapat dari sisa komprehensif, tentunya karena dinilai tidak bisa menunjukkan bahwa mereka telah membayar..??

  1. Point yang terakhir. Sebelumnya akan saya tunjukkan salah satu bagian isi pesan singkat yang saya terima tentang masalah sumprof.

“ Bl tdk ikt sumprof , tdk bsa m’ambil SIF ”

Apa hubunganya..?? antara SIF dan Sumprof..?? apa mereka yang kemarin mengikuti ujian OSCA bersama sama dengan kami juga harus mengikuti SUMPROF dulu untuk dapat mengambil  SIF mereka..?? saya melihat nya tidak, mereka mendapatkanya begitu saja bila memang SIF sudah jadi tanpa sarat harus mengikuti sumprof. Dan tidak ada pencekalan terhadap SIF mereka bila mereka tidak mengikuti sumprof. Mungkin jika alasanya harus mengikuti sumprof untuk mendapatkan SIF karena waktu ujian osca lewat kampus, apa itu menjadi alasan penyitaan yang kuat?? Padahal keduanya tidak ada keterkaitan sama sekali antara sumprof dan SIF, atau ini bentuk pemaksaan dan pengancaman,?? Dan setelah saya tanyakan pada yang berwenang dalam urusan SIF ternyata memang tidak ada aturan bahwa SIF baru bisa di ambil dengan sarat mengikuti sumprof.. kenapa ada 2 opini.??

 

Setelah semua uraian tersebut, bukan bermaksut untuk mengarahkan opini teman teman terhadap apa yang kita hadapi, bukan mengajak teman teman untuk memboikot atau mengajak teman teman untuk tidak berpartisipasi dalam acara tersebut. hanya mengajak semua untuk berpikir kritis dan tanggung jawab, kalau pun ada kesalahan bukan dengan cara berlari dan mendiamkanya saja, hadapi, koreksi diri untuk menjadi lebih baik, berani bersikap dan jangan hanya bisa nurut. Kalian punya hak untuk meminta kejelasan dan memilih apa yang dilakukan .untuk temen temen kuliah, mahasiswa jangan sekedar menurut pada aturan saja, pilah pilah dan pelajari, mahasiswa adalah siswa tertinggi, jangan jadi seperti anak SD yang hanya bisa menurut apapun tanpa memproses mana yang tepat mana yang tidak, jangan jadi kerbau yang di congok hidungnya, yang pandai menurut tanpa mengerti apa yang dilakukan. Bangsa ini jangan jadi budak selamanya. Yang memilih untuk menurut tanpa ada perlawanan karena takut untuk dinilai kurang ajar. Dinilai kebanyakan tingkah. Cari sensai. Ya memang seperti ini hukum yang telah di tetapkan di Indonesia, membunuh keberanian dan sikap kritis dengan berbagai norma dan pergaulan yang basa basi.

Untuk kampus, jika memang ada hal hal yang pantas di utarakan dan di perjelas, maka lakukan, jangan berbelit belit dan seakan di tutup tutupi. Jangan membuat semakin banyak kekecewaan dari berbagai pihak tentang birokrasi dan kinerja yang di hasilkan. Mahasiswa banyak yang mengeluh tentang system dan aturan yang ada. Banyak juga dosen yang angot angotan untuk mengajar. Siapa yang salah?? Mahasiswa yang menyebalkan atau dosen yang males melihat mahasiswanya. Mari kita sama sama memperbaiki diri, di tambah jumlah kelas yang semakin melimpah. Padahal apa yang di hasilkan selama ini mayoritas belum terlihat mumpuni untuk menjadi seseorang. Kenapa malah menekankan gengsi dan kuantitas.kenapa tidak mencoba mengkoreksi, apa yang salah dengan semua ini.?? Ketidak siapan atau memang takdir.?? Silahkan pilih.

Sekiranya cukup sekian dari saya..

 

UNTUK MENUJU KE ARAH YANG LEBIH BAIK.