30 April 2006, Pramoedya Ananta Toer meninggal dunia, dia meninggal sebagai penulis era modern Indonesia, seorang penulis yang berbakat di bidang sejarah dan seorang aktivis politik, dia seorang yang bekerja dengan sangat baik untuk menuliskan refleksi sejarah Indonesia dan dia sangat berkomitmen dalam mengambil peran perebutan kekuasaan pada masa penjajahan belanda, seorang nasionalis radikal dan seorang dengan cita-cita sosialis, hingga akhirnya kemerdekaan Indonesia pun berhasil direbut pada saat dia berumur 21 tahun.

Dia selalu menulis, walaupun sering kali tulisan tersebut berisi uraian politik yang kuat. Luas dan baik satu maupun banyak tokoh sekaligus, bahkan tidak jarang dia mengangkat pengalaman tentang dirinya sendiri dalam tulisannya. Pramoedya banyak menyalin dan mengadopsi untuk tulisannya dari berbagai literatur sejarah kerajaan Indonesia dan pemerintahan awal kolonial Belanda di Indoneisa, dan mempertemukannya dengan gaya seorang kiri, hingga sampai tahun 1960 Pramoedya bergabung dengan Partai Komunis Indonesia ( PKI ) dan bagian dari sayap kiri Partai Nasional Indonesia ( PNI ), dimana sebelumnya pada akhir tahun 1950 Pramoedya memulai menuliskan kisah tentang pekerja di Indonesia dalam bentuk sebuah novel yang sangat indah “ Gadis Pantai ” ( The Girl From the Coast ) dan tetralogi “ Bumi Manusia ” ( The Earth of Mankind ). Dimana didalamnya menceritakan tentang orang Indonesia yang berjiwa nasionalis radikal untuk melepaskan Indonesia dari penjajahan Belanda, dan dalam satu sisi menceritakan sejarah kerajaan Indonesia lampau, suatu wujud penolakan dan perlawanan Pramoedya terhadap Imperialisme Barat di Indoensia.

Periode saat itu menjadikan Indoensia sebagai titik pusat pertarungan idealisme antara barat ( Demokrasi ) dan Timur ( Komunisme ), dan akhirnya membagi menjadi dua pula sudut pandang bangsa ini antara pro Barat dan Timur ( dimana keberpihakan sebagian pada barat dikarenakan oleh adanya deklarasi Martial Law, 1957 ). Dengan seperti ini menyebabkan susahnya bersatu antara kelompok Agamais, Nasionalis, Liberalis dan Komunis. Satu sisi membentuk kubu militer yang pro barat dan satu sisi ( PKI ) bersama dengan Ir Soekarno. Dua kelompok besar dengan sudut pandang yang jauh berbeda- dalam perekonomian, kekuasaan, sikap terhadap dunia luar,. Satu sisi sayap kanan barat dan satu sisi sayap kiri Stalin.

Keduanya menjadikan cerita pertarungan yang populer hingga saat ini, dengan cerita yang belum sepenuhnya beres dan jelas, dengan cerita yang lebih berkembang menjelaskan bahwa sayap kanan lah yang memenangkan pertarungan dalam perebutan kekuasaan.

Masa penting untuk Pramoedya, menjadikannya sebagai penulis dan mengambil peran dalam evolusi penulisan di Indoneisa, menjadikannya seorang penulis yang diakui dunia Innternasional, seorang penulis dengan sudut pandang yang sangat jauh, seorang penulis dengan karya yang sangat banyak, seorang dengan penghargaan bahkan setelah ajal menjemputnya. Dan bahkan tidak jarang pula sebagian orang yang mencari kesalahan-kesalahan dari peran Pramoedya pada masa 1960an.

Diluar Indonesia, berbagai komentar tentang peran Pramoedya saat perang dingin salah satunya adalah Michael Vatikiotis, yang di tuliskan dalam majalah Asia Times :

“ Pada tahun 1950an, Pramoedya menjelaskan bahwa sastra adalah kekuasaan, yang lahir dari ideologi yang tidak murni ”