Sebuah dilema tersendiri bagi saya sebagai orang Solo, orang Solo yang di kenal sebagai Supporter Persis Solo 1923 dengan julukan PASOEPATI, betapa tidak, perhelatan laga semifinalis play off untuk memperebutkan posisi lolos ke kasta tertinggi ISL yang diselenggarakan di Stadion Manahan Solo harus di nodai dengan adanya tindakan tidak terpuji dari supporter tuan rumah Pasoepati, pertandingan antara PSIM jogjakarta dengan PERSITA tangerang yang rencananya akan di hadiri oleh supporter tetangga yaitu Brajamusti dan the Maident berakhir dengan adanya sweaping oleh Pasoepati sejak masuk perbatasan di daerah Klaten.

Rencana Dpp The Maident yang memberangkatkan hampir 500 orang malah berakhir bentrok di jalanan, padahal sebelumnya dari petinggi Pasoepati berharap ini menjadi satu langkah awal untuk mengawali pertikaian antara kedua supporter, tapi apa mau dikata, keinginan yang begitu besar dan indah berakhir menjadi sebuah luka baru untuk supporter Jogja dengan kejadian ini, belum lagi dengan kalahnya PSIM dari Persita dengan skor 1 : 0, tentunya hal ini menambah berat bagi supporter The Maident atau Brajamusti.

Belum selesai sampai disini, aksi sweaping dilakukan oleh Supporter Pasoepati terhadap plat AB di sepanjang jalan Solo-Jogja, ada bagian untuk memaklumi kejadian tersebut dimana supporter Pasoepati sering di serang di Prambanan oleh supporter Jogja, dan terlebih kejadian di Stadion Maguwoharjo pada tanggal 12April kemarin, rasa ingin balas dendam pun mungkin merasa mendapatkan kesempatan pada hari ini, tetapi apa yang di dapatkan selain kepuasan ? dan unjuk gigi bahwa Pasoepati juga bernyali dan mampu membuat supporter rival terluka ?

Ya.. lahirnya sebuah dendam baru untuk pembalasan yang lebih, dan aneh nya lagi banyak yang berharap “ Biarkan Dendam ini Abadi ” sebuah impian yang aneh, apa yang kita harapakan dari ini ? apa yang kita harapakan dari ini semua ?

Apa hakikat menjadi supporter adalah membela dan mendukung klub kesayangan dengan sepenuh hati, mendampingi dari segala permasalahan klub dimana kondisi sepak Indoensia sekarang sedang sakit dan terpuruk oleh adanya segala permasalahan, baik dualisme kompetisi dan permasalahan gaji pemain, bukan mencari permasalahan di luar hal tersebut.

Dan memang saat ini sebagian supporter kita sangat menyukai adanya permusuhan dengan memilih salah satu lawan sebagai musuh bebuyutan, sebuah trend yang sangat menyedihkan, mereka tidak memikirkan bagaimana mereka bisa memajukan sepak bola Indonesia ? jika untuk menciptakan suasana aman melihat sepak bola sendiri mereka hancurkan, sedang mereka sangat mengagungkan sepak bola luar negeri, kenapa tidak mencontoh kedewasaan supporter luar yang mereka idolakan, kenapa hanya mengambil hal yang mereka sukai saja, kenapa pilih-pilih ?

Dewasalah kawan-kawan supporter Indonesia, terlebih untuk saudara Pasoepati ku, kita begitu mencintai Persis kita, kita begitu bangga menyematkan nama Pasoepati di dalam dada kita, kita begitu lantang berteriak Pasoepati penyebar Virus perdamaian dan kita mengaku Edan tapi Mapan, sebagai orang Solo yang terkenal Sopan, ramah tamah dan halus ? tidak malukah kita ? dengan segala keindahan yang ada dalam segala panji dan penjiwaan kita ? ataukan itu terlalu tinggi untuk kita sehingga sulit untuk kita lakukan ?

Tidak kah kita ingin dapat melihat sepak bola dengan keluarga kita, dengan rasa aman dan bebas dari segala kekhawatiran ? datang ke Stadion untuk mendukung klub kebanggan kita baik di kandang sendiri maupun di kandang lawan ? selayaknya di Eropa dimana kiblat sepak bola berada, mereka hadir untuk mendukung klub mereka bukan mencari keributan dan pelampiasan emosi yang tidak berdasar dan kekanak-kanakan.

Sebarkan Virus Damai dengan sungguh-sungguh tanpa tebang pilih, buktikan bahwa Solo adalah kota nyaman, dan welcome terhadap semua supporter.

FROM SOLO WITH LOVE

PENYEBAR VIRUS PERDAMAIAN

EDAN TAPI MAPAN

Damai ini bukan untuk kita kawan, tetapi untuk generasi selanjutnya, generasi penerus kita, apa kita meninggalkan rasa dendam pada mereka anak kecil yang datang untuk mengerti dunia bola ? apa kita mengajarkan bahwa cacian dan kata kata kotor adalah nyanyian yang indah untuk di dengarkan, apa kebencian adalah jiwa supporter ?

Semoga kita bisa lebih dewasa dan berpikir panjang akan hal ini, lekas sembuh buat kawan kawan yang terluka atas kejadian menyedihkan ini dan semoga luka hati kita segera lekas sembuh pula, segala dendam, kebencian dan kekanak-kanakan ini lekas hilang dan lahirlah jiwa jiwa baru supporter sepak bola Indonesia.

Yo nang Solo nek pingin nonton bal-balan

Supportere Sopan tamune di jamin Aman.

 

DAMAI SUPPORTER SOLO – JOGJA