Hahahaha, menulis lagi setelah tersengat status facebook dari seorang kawan, dan akhirnya memunculkan sebuah status yang lahir dari sengatan status di dinding facebook ku.

Dunia Adalah Medan Laga Pertarungan Idealisme, Bersikap Skeptis Dan Sebagai Penyimak Bukan Suatu Pilihan Tepat

Entah bertepatan dengan satu hari yang lalu, saya dan kekasih saya melihat film “ Soegija ” sebuah film tentang pastur yang berjuang pada masa penjajahan belanda, jepang sampai peristiwa agresi militer belanda 1 dan 2, tapi disini saya tidak ingin menuliskan tentang film tersebut, tetapi lebih ke arah kesan yang tertangkap dari kemunculan film tersebut. Ada yang menggelitik hati saat mereka bilang bahwa film ini adalah film kristenisasi, bahkan sebelum muncul dan rilis pun film ini sudah mendapat banyak kecaman dari masyarakat. Apa yang lucu dari ini semua ?? dan apa hubungannya ini sama idealisme ??

Mungkin saya bukan seorang penulis yang baik, tapi lebih suka sebagai penganalisa yang baik J

Langsung saja dah, kita ketengahkan point-point yang ada di dalam nya dan apa yang penulis temui dan apa yang harus penulis bantah dan sanggah … hehehehe

Kasus 1 : sebelum film ini dirilis, film ini sudah mendapat kritikan pedas bahwa film ini adalah kristenisasi.

Penulis : ya film garapan Garin Nugroho memang selalu menyenangkan, hahaha karena karya beliau adalah karya yang tidak semua bisa di tangkap dengan mudah, butuh mikir dan sedikit kegilaan pikiran disana, sesuatu yang ringan tetapi sarat pesan yang disampaikan, film film garapan om Garin seperti CINTA DALAM SEPOTONG ROTI, DAUN DI ATAS BANTAL, RINDU KAMI PADAMU, GENERASI BIRU, UNDER THE TREE, MATA TERTUTUP, OPERA JAWA dan yang terakhir ini SOEGIJA  hehehe, tidak salah karena om Garin adalah alumni sekolah De Brito di Jogjakarta.

Penulis sempet bingung untuk menerima bahwa film ini adalah film kristenisasi, padahal dalam film ini yang di angkat adalah tentang seorang Romo dari agama Katholik, harusnya Katholikisasi dong, hehehe, atau entah itu atau katholik sama saja, karena sama sama ber-Tuhankan Yesus putra Maria ?? kenapa tidak menggunakan kalimat Yesusisasi saja untuk menggenaralkan pemahaman bahwa keduanya memiliki kesamaan dimana mereka menyembah Tuhan Yesus ?? padahal antara Kristen dan Khatolik berbeda, SOLA FIDE SOLA GRATIA SOLA SCRIPTURA ¸cara memandang keimanan, cara memandang rahmat dan 27 kitab yang tidak diakui di Katholik tetapi ada di Kristen.

Padahal ini sebuah film, bukan sebuah syiar ?? dan bagi yang menontonpun karena mereka ingin bukan karena mereka di paksakan untuk menonton?? Dan cakupan dalam film ini pun sedikit bukan luas, yang datang pun bukan karena mereka tidak memiliki tameng pemahaman sebelumnya.

Kasus 2 : kenapa kristenisasi begitu menjadi di Indonesia? Kenapa Islamisasi tidak?

Penulis : kenapa berbeda pandangan orang tentang Kristenisasi dan Islamisasi ?? iya iyah, kenapa berbeda soal ini, kenapa kristenisasi begitu menjadi momok yang terdengar menakutkan ?? padahal negara kita mempunyai 6 agama yang di akui dan salah satunya agama Kristen di Indonesia, kenapa sebuah film dan acara pendirian gereja begitu menjadi polemik tersendiri di negara yang terkenal akan keragaman suku dan budaya di dalamnya?? Suatu ironi tersendiri bukan, jika kita melihat begitu mudah orang meminta dana sumbangan untuk pembangunan sebuah masjid di jalan jalan, meminta sumbangan kerumah rumah, tanpa pernah takut terjadi penolakan dari ormas agama lain, atau dengan mudahnya menyiarkan isi khotbah dengan megaphone dari masjid saat pengajian, tanpa pernah takut bahwa itu adalah gerakan dakwah islamisasi karena yang mendengar di kampung juga bukan sekedarumat islam.

Sebuah opini tersendiri dari saya bahwa, mental bangsa ini terlalu takut untuk membuka diri, menerima hal baru dan mengolahnya dengan cerdas tanpa rasa takut dan khawatir bahwa kita akan tersesat, ketakutan bahwa berbeda adalah gila, berbeda adalah kesalahan dan kutukan, berbeda dan berpaling adalah sesuatu yang negatif, inilah yang mendasari bahwa bangsa ini terlalu berdiam diri saja, tidak pernah berkembang, menghabiskan waktu untuk memikirkan ketakutan ketakutan yang di “ancamkan” lewat petuah dosa dan pahala. Dimana mayoritas bangsa ini adalah muslim, bahkan negara muslim terbesar di dunia, tetapi kenapa begitu tidak berkembang?? Kenapa tidak bisa berlaku Islam padahal terdapat pelajaran Maha Pengasih dan Maha Penyayang dalam Basmallah.??

Itu dikarenakan agama yang mereka bawa bukan karena kesadaran, tetapi hanya sesuatu yang melekat saja tanpa dimengerti, sedangkan untuk menanggalkanya dan mengkoreksi kedalam tentang sebuah agama kita terlalu takut untuk dihadapkan pada dosa dan siksa neraka, atau memang lebih memilih bodoh ?? memilih tidak tau, karena dosa tidak hinggap pada orang yang tidak tau?? Gila dan tidak sadar?? atau memang sudah mentak bangsa ini untuk bekerja menjadi budak, sehingga berpikir tentang siapa dan mengapa saya saja tidak, memikirkan makan dan kepantasan hidup dalam komunitas adalah jalan hidup. “ Ya, karena mereka semua tertidur ”.

Kasus 3 : Lalu apa yang salah dari sikap bangsa ini ??

Penulis : Bangsa ini tidak pernah mau bercermin terhadap sejarah manusia, bangsa ini terlalu asik merdeka tanpa tau harus bagaimana, seperti kata kata dari Soegija “ untuk apa kita merdeka, jika menata diri sendiri saja belum bisa ” harusnya bangsa ini lebih melihat historis sejarah yang pernah di capainya, seberapa cepat bangsa ini berputar dari kebudayaan asli ( penulis masih mencari ini, penulis masih belum tau ) kemudian dimasuki oleh kebudayaan Hindu, kemudian Budha dan terakhir Islam yang berada di Indoneisa, hemat penulis, bangsa ini sudah tidak tau siapa dirinya sendiri, bangsa ini hanya menjadi pengekor, bangsa yang limbung, begitu mudah bukan bangsa ini menjadi korban mode, K pop berkembang dan bangsa ini begitu gila olehnya. Miris

Kasus 4 : lalu apa hubungannya ini semua, dari Idealisme, Agama dan Indonesia  ??

Penulis : hubungannya adalah bangsa ini masih menyimpan ketakutan ketakutan untuk berbeda dan lahir baru menjadi diri sendiri, bangsa ini tertidur, mengunci rapat dari kenyataan, bahwa mereka sendiri tertidur dan tidak sadar akan segala sesuatu yang terjadi, hidup hanya untuk berkembang biak dan bersenang senang, tanpa pernah melihat kedalam diri. Mengisi waktu utnuk mati dengan kebingungan bagiamana dan harus apa karena tertekan oleh sistem hidup yang sudah berubah, hidup bukan lagi hidup, tetapi sebagai mesin yang menunggu usang saja hingga di kebumikan. Di bebani kebutuhan dan keinginan yang menyiksa karena gaya hidup.

Idealisme adalah wujud kesadaran akan penolakan bahwa kita bukan robot, idealisme lahir dari sebuah pemikiran manusia, lahir dari hasil cipta rasa karsa yang di terima dan diolah atas dasar kesadaran bahwa kita adalah mahluk berpikir. Lalu bagaiamana dengan sebuah proyeksi bahwa setiap manusia memiliki otak dan kepala yang berbeda beda dimana terlahir dari lingkungan yang berbeda pula sehingga mempengaruhi pola pikir terhadap sesuatu?? Lahir dari teori teori yang menjadi paradigma bersama,  menjadi tesis yang di amini.

Keseragaman tersebut tidak akan pernah mati, tidak akan pernah berhenti selama manusia masih hidup.

Sekian dulu deh, kayaknya gak nyambung bgt sama tema di depan, hehehe

Emang gak pernah bisa fokus kalau nulis, terlalu ngrambyang dan luas terpacu oleh detail kecil yang lahir, terprovokasi oleh setiap atom yang muncul di setiap kata kata….

Silahkan di tanggapi kawan,  semoga mencerahkanImage