Apa yang kita bicarakan pada malam buta ini,

Saat semua terlelap dalam riuh mimpi-mimpi saja,

Dan Kau yang tak bosan bosan bicara lagi tentang matahari,

Saat gelap sudah berdamai dengan keberanian,

“ Bukankah esok atau nanti sama saja ”, katamu setengah berbisik padaku,

Dan untung saja angin tidak mencurinya dariku benar benar,

Aku masih terdiam,. Mengrenyitkan dahi sembari menata letak duduk ku,

Sejenak kita terdiam lagi.

Melihat bintang bintang yang selalu kau banggakan padaku tentang komposisi dan dimensinya.

“ bukankah esok, sekarang atau lusa sama saja buatmu untuk pergi..?”

Mencoba menyerang keraguanmu padaku, tentang kapan yang kita punya.

Kau terdiam, meringkuk, meletakkan pandangan di sela sela lutut putihmu.

Kembali diam,

Kembali berjalan jalan dalam bilik rahasia pemikiran masing masing, gelap.

“ tentunya, kau tidak mencemaskan Akar bukan,?? Mengkhawatirkanya,,??”

Kau menggelengkan kepala pelan, seakan tak lagi berharap ada suara dan pertanyaan lain yang kau kenali.

“ terlebih tentang Buah yang akan kau petik dari ladangmu, kau lebih tak perduli dan khawatir tentang itu bukan..??”

Kali ini kau tak bergerak sama sekali. Mengisyaraktkan antara iya dan tidak pun tak kentara.

Aku tersenyum geli, menatapmu sedemikian diamnya,

Kurasa kau masih berpikir tentang saat ini, bukan kemarin atau lusa.

“ dapatkah sekarang kita pergi, tanpa pertanyaan yang bukan saatnya..??” bisikmu pelan,

Matamu menatapku, merasai getir getir ngilu yang ku bungkus dalam jubah kematianku.