Latar Belakang

Sprain pada ligament crusiatum anterior merupakan salah satu dari beberapa kasus cidera yang terjadi pada sendi knee.luka atau cidera tersebut biasanya lebih banyak terjadi pada mas muda dan olahragawan aktif.

Dalam satu populasi besar berdasarkan studi timbulnya cidera pada ligamentum crusiatum anterior dalam tiga tahun terahir ditemukan sekitar 0,38 per seribu setiap tahun dan 78% cidera pada ligamentum crusiatum anterior disebabkan karena olahraga – olahraga seperti sepak bola, baseball, ski salju dan bola basket (Andrew Harrison, 1999).

Di Amerika diperkirakan cidera pada ligament crusiatum anterior sekitar satu kasus per 3000 individu dan lebih dari 100.000 luka atau cidera yang terjadi pertahun berasal dari ski salju.

Di new south wales, Australiadalam suratkabar disebutkan bahwa cidera yang terjadi sekitar 1,5% dari populasi masyarakat. (www.medterms.com)

Dilihat dari angka keikutsertaan wanita dalam bidang olahraga terutama basket dan ski salju, ternyata wanita memiliki resiko cidera pada ligament crusiatum anterior lebih tinggi. Hal ini ada hubungannya dengan variasi anatomi pada intercondylar bagian distal femur, ukuran ligament, kekuatan otot, peningkatan kelemahan sendi, kendali neuromuscular, pola aktivasi yang berbeda dan pengaruh hormonal. (David s. Menche, 1999). Bellabarba et al, menyatakan bahwa sekitar 41 – 81% cidera ligament crusiatum kondisi akut, dan 58 – 100% kondisi kronis.

 B.     Pengertian Kasus

Cidera ligamentum crusiatum anterior adalah cidera akibat trauma atau pembebanan pada ligamentum crusiatum anterior yang berlebihan sehingga mengalami penguluran pada ligamen crusiatum anterior.

C.    Etiologi

70% ligament crusiatum anterior mengalami cidera melalui mechanism noncontact berdasarkan pengalaman pasien mengenai cidera ini ketika mencoba merubah arah gerakan. Hal ini melibatkan turunnya kecepatan, penggabungan dengan sebuah cutting (perpotongan), pivoting (berputar) dan sidestepping maneuver tetapi pada kasus lain dapat terjadi melalui kontak langsung dan sering dihubungkan debgan cidera pada ligament yang lain.

 D.    Patologi

Ligament crusiatum anterior berfungsi sebagai penahan utama terhadap translasi tibia anterior dan memadu mekanisme perputaran yang berhubungan dengan perluasan lutut. Selain sebagai penahan utama, ligamentum crusiatum anterior juga bertindak untuk mencegah varus dan valgus, terutama sekali pada keadaan ekstensi knee.

Tidak banyak pasien yang mengalami kondisi ligament crusiatum anterior kronis, tetapi biasanya pasien yang datang akan mengeluh dan merasakan sakit pada daerah lutut. Kondisi kronik terjadi karena pasien tidak langsung memeriksakan diri ke dokter setelah terjadi cidera, sehingga setelah melihat hasil diagnosa kondisi ligament crusiatum anterior sudah menjadi kronis.

Kondisi ini terus meningkat sehingga menurunkan kestabilan, luka pada meniscus sampai terjadi kelemahan otot. Kelemahan jelas nyata pada pengetesan extensi knee. Kestabilan ligament crusiatum anterior kondisi kronis berhubungan dengan kestabilan posterolateral, ketidakstabilan sendi putar dan simptomatik luka meniscus.

Cidera ini mengakibatkan kinematika sendi knee menjadi abnormal, para penulis / peneliti mengemukakan 15% cidera pada ligament crusiatum anterior akan mengalami total replacement pada lutut. Tetapi timbulya hal ini sedikitnya tiga kali terjadi truma pada ligament crusiatum anterior. Pada kasus yang lebih berat osteoarthritis dapat menyertainya. (appley)

 E.     Tanda dan Gejala

Nyeri pada penguluran ligament

Nyeri tekan yang ringan

Swelling/odema ringan

Kelainan fungsi yang minimal

Haemorage yang minimal

F.     Tujuan

Mempercepat perbaikan jaringan

Mengurangi odema

Mengurangi nyeri

Menambah LGS

Mengembalikan fungsi ligamen crusiatum anterior

ANATOMI

Image1.      Tulang

Sendi Lutut dibentuk oleh 3 tulang panjang dan 1 tulang berbentuk segitiga, antara lain : (1). Os Femur, (2). Os  Fibula, (3). Os Tibia, dan (4) Os Patella

2.      Ligamen

Ligamen cruciatum anterior

Berjalan di depan eminentia intercondyloidea tibia ke permukaan medial condylus lateralis femur yang berfungsi menahan hiperekstensi dan menahan bergesernya tibia ke depan.

Ligamen cruciatum posterior

Berjalan dari facies lateralis condylus medial femur menuju ke fossa intercondyloidea tibia yang berfungsi menahan bergesernya tibia ke belakang.

Ligamen collateral medial

Berjalan dari epicondylus medialis menuju ke permukaan medial tibia yang berfungsi menahan gerakan valgus atau samping luar.

Ligamen collateral lateral

Berjalan dari epicondylus lateralis ke capitulum fibula, yang berfungsi menahan gerakan varus atau samping dalam.

Ligamen popliteum obliqum

Berasal dari condylus lateralis femur menuju insertion otot semimembranosus, melekat pada fascia musculus popliteum yang berfungsi sebagai penguat dari stratum fibrosum.

Ligamen transversum genu

Membentang pada permukaan anterior meniscus medialis dan lateralis.

 3.      Kapsul sendi

Kapsul sendi terdiri dari 2 lapisan yaitu (1) stratum fibrosum, yang merupakan lapisan luar yang bersifat sebagai penutup atau selubung, (2) stratum synovial, merupakan lapisan dalam yang bersifat memproduksi cairan synovial untuk melicinkan sendi lutut

Meniscus

Meniscus sendi lutut adalah meniscus medialis dan lateralis, Adapun fungsi dari meniscus adalah : (1) penyebaran pembebanan, (2) peredam kejut (shock absorber), (3) mempermudah gerakan rotasi

Bursa

Merupakan kantong yang berisi cairan yang memudahkan terjadinya gesekan dan gerakan.

1.      Arthrologi

Hubungan antar tulang – tulang pada sendi lutut membentuk 3 persendian yaitu : (1). Articulation patella femorale, deibentuk oleh tulang patella dan femur, (2). Arthiculatio tibia femurale, dibentuk oleh tulang tibia dan tulang femur, (3). Articalatio tyibia fibulare, dibentuk oleh tulang tibia dan tulang fibula.

 A.    BIOMEKANIK

Ligament crusiatum anterior berfungsi sebagai penahan utama terhadap translasi tibia anterior dan memadu mekanisme perputaran yang berhubungan dengan perluasan lutut. Selain sebagai penahan utama, ligamentum crusiatum anterior juga bertindak untuk mencegah varus dan valgus, terutama sekali pada keadaan ekstensi knee.