Pendahuluan

Bahu merupakan anggota tubuh yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari manusia karena fungsinya sangat kompleks. Manusia banyak menggantungkan produktifitasnya pada kemampuan bahu sehingga tidak sedikit mengalami kelainan pada sendi bahu akibat penggunaan yang berlebihan.

Bursitis Subdeltoid merupakan salah satu penyebab keluhan sehubungan dengan bahu yang paling sering terjadi. Bagaimana bursitis terjadi tidak selalu jelas kadang – kadang keluhan didahului oleh suatu trauma. Menurut Snook (1979), studi kasus 71 wanita  pesenam melaporkan 66 mayoritas menderita sakit bahu yang mana 45 diantaranya disebabkan trauma dan 21 pengulangan. Flower (1983) dan Richarson (1980) menyatakan insiden nyeri pada bahu tertinggi sekitar 50%.

Anatomis

Os. Clavicula

2.   m. Infra spinatus

Origo      : Fossa infra spinata

Insertio   : Tuberculum major humeri

Inervasi  : n.Supra scapularis C.5-6

Fungsi    : External rotasi dan ektensi

3.   Os. Scapula

4.   Os. Humerus

5.   m. Deltoideus

Origo         : 1. serabut anterior: 1/3  Bagian lateral clavicula

                    2. serabut medialis: bagianatas acromeon

                    3. serabut posterior: bagianbawah spina scapula

Insertio      : Tuberesitas deltoidea

Inervasi     : n. Axilaris C 5-6

Fungsi       : 1. serabut anterior: flexiAdduksi horizontal

                    2. serabut medialis: abduksi 90 derajat

                    3. serabut posterior: ektensi,external rotasi,abduksi horizontal.

6.   Bursa Sub acromialis

      sub acromialis (bursa sub deltoidea). Yang fungsi dari bursa ini adalah sebagai perlekatan otot dan tendon. Otot-otot yang berhubungan adalah m deltoidea yang berinsersio pada tuberositas deltoidea yang berfungsi untuk gerakan abduksi.

B.  FISIOLOGI

Image

1.   Shoulder Joint

      Sendi bahu dibentuk oleh kepala tutang humerus dan mangkok sendi, disebut cavitas glenoidalis. Sendi ini menghasilkan gerakan fungsional sehari-hari seperti menyisir, meng-garuk kepala, mengambil dompet dan sebagainya atas kerja sama yang harmonis dan simultan dengan sendi-sendi lainnya. Cavitas glenoidalis sebagai mangkok sendi bentuknya agak cekung tempat melekatnya kepala tulang humerus dengan diameter cavitas glenoidalis yang pendek kira-kira hanya mencakup sepertiga bagian dan kepala tulang sendinya yang agak besar, keadaan ini otomatis membuat sendi tersebut tidak stabil namun paling luas gerakannya.( Djohan Aras,1994)

Beberapa karakteristik daripada sendi bahu, yaitu:

1.      Perbandingan antara permukaan mangkok sendinya dengan

         kepala sendinya tidak sebanding.

­ 2.     Kapsul sendinya relatif lemah.

­ 3.     Otot-otot pembungkus sendinya relatif lemah, seperti otot

         supraspinatus, infrapinatus, teres minor dan subscapularis.

­ 4.     Gerakannya paling luas.

­ 5.     Stabilitas sendinya relatif kurang stabil.

Dengan melihat keadaan sendi tersebut, maka sendi bahu lebih mudah mengalami gangguan fungsi dibandingkan dengan sendi lainnya.

Sendi- sendi di daerah bahu diantaranya :

2.   Kapsul Sendi

Kapsul sendi terdiri atas 2 lapisan (Haagenars).

a)   Kapsul Sinovial

      (lapisan bagian dalam) dengan karakteristik mempunyai jaringan fibrokolagen agak lunak dan tidak memiliki saraf reseptor dan pembuluh darah. Fungsinya menghasilkan cairan sinovial sendi dan sebagai transformator makanan ke tulang rawan sendi. Bila ada gangguan pada sendi yang ringan saja, maka yang pertama kali mengalami gangguan fungsi adalah kapsul sino-vial, tetapi karena kapsul tersebut tidak memiliki reseptor nyeri, maka kita tidak merasa nyeri apabila ada gangguan, misalnya pada artrosis sendi.

b)   Kapsul Fibrosa

      Karakteristiknya berupa jaringan fibrous keras dan memiliki saraf reseptor dan pembuluh darah. Fungsinya memelihara posisi dan stabititas sendi, memelihara regenerasi kapsul sendi.

  1. 3.      Cartilago

        Kartilago atau ujung tulang rawan sendi berfungsi sebagai bantalan sendi, sehingga tidak nyeri sewaktu penderita berjalan. Namun demikian pada gerakan tertentu sendi dapat nyeri akibat gangguan yang dikenal dengan degenerasi kartilago .(Weiss, 1979)

C.  BIOMEKANIK

Sendi bahu mempunyai gerakan-gerakan sebagai berikut:

  1. Gerak flexi, penggeraknya adalah serabut otot deltoideus anterior
  2. Gerak ektensi, penggeraknya adalah otot serabut otot deltoideus posterior dan teres minor serta dibantu oleh otot infra spinatus
  3. Gerak adbuksi, penggeraknya adalah otot supra spinatus dibantu oleh otot deltoideus
  4. Gerak abduksi horizontal, penggeraknya adalah otot deltoideus
  5. Gerak internal rotasi, penggeraknya adalah otot sub scapular
  6. Gerak eksternal rotasi, penggeraknya adalah otot infra spinatus

D.  ETIOLOGI

Penyebab paling banyak terjadinya bursitis adalah trauma dan infeksi

1.   Trauma (Penggunaan yang berlebihan secara menahun)

      Trauma yang berulang-ulang menyebabkan terjadinya radang pada bursa, dan berakibat terjadinya pelebaran pada pembuluh darah, sehingga protein dan cairan ekstraceluler masuk kedalam bursa, Sedangkan bursa memberi reaksi berlawanan terhadap substansi asing, hal ini mengakibatkan pembengkakkan pada bursa juga mengakibatkan nyeri.

a.   Kronis

      Penyebab paling banyak pada kasus bursitis kronis ialah trauma kecil yang mungkin terjadi pada bursa (subdeltoid) disebabkan oleh gerakan yang berulang-ulang akan tetapi berlebihan; sebagai contoh: melempar bola kasti.

b.   Akut

      Pukulan langsung dapat menyebabkan kebocoran pada bursa sehingga darah masuk kedalam bursa. Pengumpulan darah ini biasanya dapat mengakibatkan nyeri dan pembengkakkan.

2.   Infeksi

      Lokasi bursa dekat dengan permukaan kulit, hal ini dapat berpotensi bursa terinfeksi oleh bakteri. Salah satu tipe bakteri yang dapat menyerang pada bursa ialah: Staphylococcus aureus atau Staphylococcus epidermis. Orang yang mengidap penyakit Diabetes, atau Peminum alkohol, atau penderita penyakit gagal ginjal atau orang yang mengalami trauma berat dapat berpotensi terkena bursitis. Sekitar 80% bursitis biasanya dialami oleh laki-laki. ( Bill Harrison, MD,2000)

 E.  PATOLOGI

         Bursitis merupakan peradangan dari Bursa. Kelainan ini jarang primer, tetapi biasanya sekunder terhadap kelainan degenerasi dari “rotator cuff”. Bursitis subdeltoideus. Penderita bursitis subakromialis, keluhan pertamanya adalah “tidak dapat mengangkat lengan ke samping (abduksi aktif)”, tetapi sebelumnya sudah merasa pegal-pegal di bahu.

         Lokasi nyeri yang dirasakan adalah pada lengan atas atau tepatnya pada insersio otot deltoideus di tuberositas deltoidea humeri. Nyeri ini merupakan nyeri rujukan dari bursitis sub kromialis yang khas sekali. Ini dapat dibuktikan dengan penekanan pada tuberkulum humeri. Tidak adanya nyeri tekan di situ berarti nyeri rujukan. Bursa subdeltoideus merupakan lapisan sebelah dalam dari otot deltoideus dan akronim, serta lapisan bagian luar dari otot “rotator cuff”. Bursa ini sedikit cairan. Gerakan abduksi dan fleksi lengan atas akan menyebabkan dua lapisan dinding bursa tersebut saling bergesekan. Suatu peradangan pada tendon juga akan menyebabkan peradangan pada bursa.        ( Heru Purbo K ,2001)

F.   PATOFISIOLOGI

         Dalam keadaan normal saat terjadi gerakan abduksi lengan, tendo- tendo rotator cuff, terutama supraspinatus, lewat di bawah arcus coracoacromialis. Karena arcus tersebut sempit dan rendah letaknya, atau ada abnormalitas/pembengkakan pada tendon akan dapat menimbulkan rasa nyeri saat dilakukan gerakan abduksi, karena pada saat gerakan abduksi itu tuberositas majus humeri akan berkontak dengan acromion, sehingga bursa tertekan.

         Rasa nyeri pada  umumnya mulai timbul bila lengan mendekati abduksi 900 dari tubuh (450 – 1250). Tetapi bila lengan dielevasikan lebih lanjut, karena bursa tidak lagi tertekan, maka rasa nyeri akan hilang, keadaan ini dikenal sebagai ARCUS PAIN. Rasa nyeri dirasakan pada insertio musculus deltoideus pada tuberositas majus humeri, tetapi rasa nyeri di sini bersifat “ reffered pain/nyeri rujukan”, karena pada penekanan pada daerah tersebut tidak membangkitkan rasa nyeri.( Prasetya Hudaya, 2002).