Partikel, sebuah buku yang baru saja di terbitkan oleh Dee ( Dewi Lestari ) sebuah buku sekuel lanjutan dari Supernova sebelumnya yaitu “ kesatria, putri dan bintang jatuh”, “Petir” dan “Akar”. Sebuah penantian panjang setelah melahap Supernova terakhir, hingga akhirnya Friday/13/ 2012 at 4.44 PM keluarlah ia dari lubang Garba, hingga akhirnya mendarat di sela sela girus otakku.

Seperti yang sudah sudah Dee menyuguhkan sebuah konsep dan sudut pandang baru tentang probabilitas akan adanya kehidupan atau dimensi lain, tentang sebuah konsep manusia dan kemanusiaan, tentang diri dan Tuhan.

Image

Dalam konteks ini saya tidak akan memberikan uraian ataupun bagaimana alur cerita yang terjadi, saya hanya akan memberikan ungkapan atas apa yang saya dapat, untuk alur cerita tentunya akan lebih nikmat jika membaca dan menemukan sendiri kepingan kepingan keindahan yang di sajikan oleh Dee, menemukan tentunya akan lebih memuaskan dari pada kita diberitahu secara Cuma-Cuma, menggali setiap unformasi yang ada di dalam Partikel bakal lebih menambah wawasan dan sudut pandang kita jika kita mengolahnya dengan tungku di kepala dengan bentuk dan resep yang berbeda.

ketertarikan saya pribadi diawali pada sebuah sudut pandang baru tentang konsep Adam dan Hawa, tentang manusia pertama di Bumi, tentang apa yang kita sebut sebagai kemunculan. Sebuah konsep yang begitu dalam dan kuat yang begitu kita percaya. Bahwa memang adam dan Hawa lah sang pertama sebagai manusia dan ada di bumi, kepercayaan yang wajib di terima sebagai perwujudan Iman, sebuah peyakin dalam aksi mempercayai yang lahir dari jejalan-jejalan ideologi “ Dogma ”.

Dee dengan bijak memainkan kita berletak diri sebagai Zarah atau mungkin pada sisi lain sebagai Abah, dimana kita bebas mempercayai apa saja, mengimani apa saja, sebagiamana Zarah mengimani jurnal yang di tulis Ayahnya ( Firas ), atau bersikap keras akan sebuah pelencengan Aqidah yang dilakukan oleh Zarah seperti yang di perbuat oleh Abah. Semuanya bisa terjadi pada kita, sebagai sosok Zarah ataupun sosok Abah, semuanya tergantung pada background ideologi dan kepercayaan masing-masing pembaca. Ah tapi menurut saya pribadi  ( subjektif ) pastinya pembaca lebih merasa sejalan dengan pemikiran Zarah yang terbuka, fleksibel dan jujur, ya tentu saja, hal ini dikarenakan mereka yang menunggu berlama lama akan kelahiran Partikel pastinya sudah membaca Supernova sebelumnya, dimana didalamnya kurang lebih juga sama,  membuka mata tentang sebuah konsep lain yang kemungkinan ada benarnya. Yah jadi mereka yang membaca Partikel mayoritas adalah Deeisme ( Penganut ajaran Deee :p ), secara otomatis mereka sudah siap pula untuk menerima sebuah pandangan dan konsep konsep anomali yang bakal disuguhkan sang ibu, sebuah konsep yang segar dengan diserati riset yang mendalam tentunya.

Sebuah keberanian besar yang dilakukan oleh Dee adalah menerbitkan buku di negara yang begitu banyak penduduk yang berpikiran konvensional , terlebih Agama, berani mengungkapkan sebuah gambaran baru tentang Adam dan Hawa, tentang Tuhan dan Alam semesta, tentang hakikat dosa dan penciptaan. Tetapi semua Dee bungkus dengan begitu luwesnya, begitu anggun untuk berani. ( hal 132 : alinea 4 )

“ Kalau Abah cuman bisa mengutip isi kitab, apa bedanya Abah dengan saya yang mengutip tulisan Ayah? Kita semua sama saja, Bah. Nggak ada yang lebih benar ”.

Menurut saya ini adalah sebuah kalimat dimana kita dapat belajar bahwa, apa yang kita makan tidaklah sama, apa yang kita rasa dalam hidup pun berbeda dan apa yang kita Imani pun berbeda pula, sungguh seharusnya ini menjadi sebuah pembelajaran tentang betapa komleks sebuah individu, setiap sel tubuh pun memiliki DNA yang berbeda, kenapa kita harus selalu memaksakan sama? Dan berteriak perbedaan adalah sebuah penyakit ?? bukankah sebuah kebebasan mendasar pada diri manusia yang paling esensi adalah Merdeka,  merdeka menjadi diri sendiri, merdeka memilih tentang Ke Tuhanan, merdeka memilih untuk menerima dan menolak tanpa adanya sebuah paksaan?.

Permasalahan lain yang menarik bagi saya adalah tentang sebuah konsep Jamur yang bisa berkomunikasi, sebuah pengalaman menarik pada saat saya kecil bersama nenek saya di desa,nenek selalu bilang kalau jamur bisa di ajak berkomunikasi, seperti saat kita sedang ingin mencari jamur,nenek saya selalu bilang bahwa saat mencari jamur dan menemukan satu, berkatalah kepada jamur itu “ jamur jamur, dimana teman teman kamu ?”  maka secara ajaib atau kebetulan semata kita bakal dengan mudah menemukan teman teman si jamur dengan mudah, tiba tiba muncul seperti sebelumnya belum pernah ada di situ padahal kita merasa sudah mencari disitu, ( mitos mungkin ).

Dan yang terakhir tentunya sebuah konsep kesadaran dan tidur, dimana manusia sekarang sedang tidur dan tidak sadar akan hakikatnya, berusaha membunuh sifat kebinatangan dengan merevolusi diri dengan berbagai cara spa, waxing, operasi plastik, merubah wujud menjauh dari keluarga terdekat kita orang utan dan rumah kita sebenarnya Alam.

Sebuah kengerian jika kita pelajari mendalam tentang hakikat Tidur yang Dee uraikan, betapa mengerikan bahwa kemajuan adalah suatu kemunduran dan pelarian dari Hakikat diri, kecantikan adalah membunuh sesuatu yang natural, maka tak heran jika kosmetik dan kecantikan memiliki slogan ( Beautiful is PAIN ) ya, cantik itu menyakitkan, ahh….manusia sadar bahwa mereka adalah Homo Sapiens dengan kesadaran tersebut mereka risih dan jijik atas diri mereka sendiri, hingga akhirnya menjauh dari kesadaran dengan memilih terlelap tidur bersama keputus asaan dunia.

Saya sendiri penikmat karya karya Dee, bagi penulis Dee adalah seorang penulis dengan gaya cerita yang segar, ilmiah dan membangun, bukan sekedar cerita tangis cinta yang membuat pemuda pemuda menjadi galau, bukan cerita cerita surga yang membuat manusia terlena dan bermalas malasan hidup di dunia.

Terima Kasih telah Melahirkan dengan tidak mem-Prematurekan kak Dee🙂

Untuk yang mau sharing tentang konsep konsep dari Partikel bisa tinggalkan koment, mari kita berbagi atas apa yang ada di Semesta ini, selayaknya Firas dan Hardiman🙂