Pada awal bulan April 2012 mendatang pemerintah berencana untuk menaikkan harga BBM ( Bahan Bakar Minyak ), dengan alasan bahwa harga minyak di Indonesia relatif lebih murah dibandingkan dengan harga pasaran minyak dunia, ataupun dengan alasan subsidi. Rencana pemerintah inilah yang pada akhirnya menimbulkan berbagai aksi protes dari berbagi kalangan masyarakat , mahasiswa maupun fraksi di DPR sendiri,  pada tanggal 27 Maret 2012 aksi besar pertama menolak kenaikan harga BBM yang dirasakan akan menambah beban ekonomi terhadap rakyat kecil terjadi serempak di hampir kota besar di Indoensia.

Di ibukota Jakarta aksi demo yang sebelumnya berlangsung damai akhirnya berujung dengan kerusuhan, tak terkecuali kota Makasar, disana sampai terjadi pembakaran disebuah pos polisi, penjarahan di SPBU dan penyitaan sebuah mobil minuman ringan. Dari hal tersebut ada sebuah aspek yang menggelitik, dimana sebuah aksi demonstrasi sekarang tidak lagi berhasil menarik simpati hati rakyat seperti era tahun 60an dan aksi demo tahun 1998, dimana rakyat yang diatas namakan oleh pengunjuk rasa merasa diwakili, atau benar benar suara rakyat.

Aksi demonstrasi yang terjadi sekarang dipandang oleh sebagian rakyat adalah sebuah pengganggu, bahkan rakyat yang di atas namakan oleh demonstran pun merasa tidak terwakilkan oleh aksi tersebut, apakah ini sebuah kemunduran bagi mahasiswa dalam mengkritisi apa yang terjadi dan kurang pekanya terhadap apa yang di inginkan rakyat? Atau memang rakyat sendiri yang sudah mulai apatis terhadap apa yang terjadi terhadap hidupnya ? sehingga tidak merasa terbantu oleh aksi mahasiswa.

Pemerintah pun terkesan bersikap mencari aman, fraksi fraksi yang menolak kenaikkan BBM pun terkesan hanya “ berbisik  ” saja,  menolak tetapi tidak bersikap tegas atas apa yang dilakukan, apakah hal ini juga merupakan sikap yang benar ? fraksi fraksi seperti ini layaknnya sedang berusaha hidup di dua alam, di satu sisi mereka ingin mengambil hati demonstran yang sedang bersikap anti terhadap pemerintahan ( tentunnya dengan partai yang dibelakangnya, terlebih sedang terlibat juga dengan kasus korupsi dana wisma atlit ) dan disatu sisi masih takut untuk berdiri sendiri sebagai fraksi oposisi yang vokal dan konsisten. Kekhawatiran bahwa pemerintahan sekarang belum akan habis kekuatannya pada pemilu mendatang  menjadi salah satu pertimbangan tersebut, hal ini harus benar benar di cermati guna untuk memuluskan dalam pengambilan sikap berkoalisi kedepannya.

Presiden pun saat ini entah sedang pergi kemana? Saat negara sedang terjadi polemik seperti ini , sikap tegas dari pemimpin bangsa tidak tampak sama sekali, “ Negeri Auto Pilot ” ya seperti dalam sebuah tema salah satu stasiun televisi swasta yang gencar mengkritik habis pemerintahan sekarang, bagaimana tidak, sikap yang di tunggu tunggu terhadap kenaikkan harga BBM pun tidak ada sama sekali, benar benar seakan-akan negara ini tanpa pemimpin yang mampu untuk memberikan gambaran pasti dan ketegasan apa yang terjadi kedepannya.

Kenaikkan harga BBM Rp 1.500 harusnnya bisa di atasi dengan cara yang bijak, pertama, kenaikkan harga ini harusnnya diimbangi dengan kenaikan anggaran untuk kesehatan dan pendidikan gratis terhadap rakyat kecil, pemberian keringanan dan kemudahan dalam dunia usaha, keanaikan harga BBM tidak akan menjadi suatu masalah, jika pemerintahmau bersikap tegas bertanggung jawab dan memberikan solusi atas apa yang akan terjadi kedepan, ibarat hidup, setiap bertambah usia permasalahan itu pasti akan bertambah berat hanya saja apakah kita mau dan kita siap untuk menghadapinya, bukan lari dan sembunyi dari tanggung jawab yang sudah di depan mata.

Bagaiamana menurut anda ?