Gambar
Kali ini saya akan membahas film berjudul “ Soegija ”, yang pernah saya tonton beberapa waktu silam. Saya tidak ingin menuliskan resensi  film tersebut, tetapi lebih ke arah kesan yang saya tangkap dari kemunculan film tersebut. Ada yang menggelitik hati saat muncul issue bahwa film ini adalah film kristenisasi, bahkan sebelum muncul dan rilis pun film ini sudah mendapat banyak kecaman. Ini terdengar lucu dan saya jadi bertanya-tanya apa hubungan semua ini dengan idealisme ?? Mungkin saya bukan seorang penulis yang baik, tapi saya akan mencoba menganalisa lebih dalam melalui poin-poin kasus yang telah saya klasifikasikan sebagai berikut:

Kasus 1 : “Soegija” adalah Film Kristenisasi

 Film garapan Garin Nugroho memang selalu menyenangkan, karena jam terbang yang begitu tinggi membuat karya beliau tidak selalu bisa di tangkap dengan mudah ataupun harafiah. Meski tokoh utama film ini adalah seorang imam yang diangkat menjadi uskup pribumi pertama di Indonesia, yaitu Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ , film ini sama sekali tidak berisi ajakan untuk menjadi Katholik. Sebenarnya inti dari film ini adalah penggambaran dari perjuangan merebut kemerdekaan oleh mereka-mereka yang tidak disebutkan namanya oleh buku-buku sejarah. Garin mengajak kita mengerti bahwa kemerdekaan dapat diperjuangkan oleh siapa saja, dengan cara apa saja, dan bahkan terkadang tanpa tendensi apa-apa.

Hal tersebut bisa dibuktikan yaitu dengan adanya tokoh-tokoh lain dan alur masing-masing tetapi mengerucut pada tujuan yang sama. Ada tokoh Mariyem yang mengabdikan dirinya menjadi perawat, meski dibayang-bayangi sang Kakak yang hilang di medan perang. Ada Ling-ling, gadis kecil Tionghoa yang mempertanyakan mengapa keluarga mereka selalu dijarah. Ada Banteng yang bergabung dalam barisan pemuda dan berjuang untuk mengeja kata ‘MERDEKA’. Ada Pak Besut dan radio amatirnya yang selalu mengabarkan berita-berita seputar perjuangan. Dan ada satu hal kecil yang perlu dicatat, bahwa nama Tan Malaka disebut meski hanya sekilas. Diakui atau tidak, Tan Malaka juga memiliki peran dalam kemerdekaan Indonesia, meski akhirnya dicap sebagai Pacar Merah Indonesia.

Lalu mengapa Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ dijadikan tokoh central? Saya rasa ada 3 alasan utama. Pertama, Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ mewakili golongan minoritas secara nyata. Kedua, film ini terinspirasi oleh catatan harian beliau. Beberapa scene menggambarkan pena digoreskan di atas kertas, ditimpali oleh narasi yang manis. Misi film ini bahkan tersurat pada tulisan-tulisan tersebut. Dan terakhir,  Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ telah dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Ir. Soekarno.

Dengan demikian, dapat saya simpulkan bahwa “Soegija” bukan Film Kristenisasi.

Kasus 2 : Istilah Kristenisasi

Penggunaan istilah kristenisasi pada film ini sepertinya kurang pas. Penyebutan Kristen Protestan dan Katholik menjadi satu kata yaitu Kristiani terkadang terasa ambigu meskipun benar. Kristiani berarti orang-orang yang beriman pada Kristus. Istilah ini menjadi ambigu karena pada akhirnya ada banyak perbedaan mendasar antara Kristen Protestan dan Katholik, antara lain adalah Sola Fide, Sola Gratia, dan Sola Scriptura.

Pada film “Soegija” ini tidak dipungkiri bahwa terdapat ‘sesuatu’ yang sangat Katholik, di luar dari scene tentang ibadah dan tata upacara keagamaan yang muncul. ‘Sesuatu’ yang saya maksud adalah kerasulan. Katholik memandang setiap manusia menjalani kerasulan, kerasulan imamat bagi para imam, dan kerasulan awam bagi yang lain. Merujuk pada kata ‘rasul’ yang berarti utusan, setiap orang diutus untuk menemukan hakikat dirinya dan menjalankannya. Hal ini yang kemudian dihidupkan dalam seluruh tokoh dan alurnya. Meski demikian, tetap tidak  bisa dikatakan bahwa film ini adalah kristenisasi, karena, sekali lagi, tidak ada ajakan untuk menjadi Katholik.

Kasus 3  : Mengapa Kristenisasi Menjadi Momok di Indonesia, Sedangkan Islamisasi Tidak?

Indonesia mempunyai 6 agama yang di akui dan salah satunya agama Kristen. Mengapa sebuah film atau pendirian bangunan gereja, misalnya, begitu menjadi polemik di negara yang terkenal akan keragaman suku dan budaya di dalamnya?? Sebelum membahas permasalahan tersebut, lebih baiknya kita mengetahui apa itu kristenisasi,

Kristenisasi : kristenisasi ialah mengkristenkan orang atau membuat seseorang memeluk 
agama Kristen. Arti kata-kata itu menurut  istilah  ialah:  mengkristenkan orang secara besar-besaran
dengan segala  daya  upaya yang mungkin agar supaya adat dan pergaulan dalam masyarakat
mencerminkan ajaran agama Kristen. Masyarakat yang demikian akan lebih melancarkan
tersiar luasnya agama Kristen. Akhirnya kehidupan  rohani dan sosial penduduk diatur
dan berpusat ke gereja.
Kristenisasi tidak hanya dilancarkan terhadap orang-orang yang  belum  memeluk  agama
  atau  mereka yang memeluk agama animisme saja, tetapi juga  ditujukan  terhadap  orang
  yang telah  memeluk agama Islam. Pengkristenan dipercayai sebaga satu tugas suci yang
dalam keadaan bagaimanapun tidak  boleh ditinggalkan.  Mengkristenkan orang dianggap
sebagai membawa kembali anak-anak domba yang tersesat, dibawa kembali kepada induknya. 
Manusia-manusia  sebagai  anak  domba akan dibawa kepada kerajaan Allah
.
 

Kristenisasi dipercayai sebagai tugas yang mulia, suci, sebagaimana dengan umat muslim yang merasa harus / wajib melakukan dakwah, Islamisasi ke seluruh belahan dunia, dan dari pengaruh hal demikian perlu disadari pentingnya garis-garis pengaman yang menghindarkan adanya gesekan atau perselisihan.

Dan bagaimana cara-cara kristenisasi yang terjadi ? atau hal-hal yang sering diasumsikan oleh bangsa ini sebagai wujud kristenisasi ? inilah beberapa contohnya :

  • Pengadaan KB ( Keluarga Berencana ) yang ditujukan sebenarnya untuk mengurangi jumlah anak yang lahir sebagai muslim, ya dalam Islam bukankah terdapat anjuran untuk memperbanyak keturunan untuk menunjukkan jumlah mayoritas penduduk dunia beragama Islam.
  • Larangan KB untuk orang Kristen, ya mereka bertujuan untuk menambah jumlah penduduk dunia yang beragama Kristen, ya dengan tujuan untuk mengimbangi jumlah umat muslim.
  • Fasilitas kesehatan yang hanya mampu dijangkau oleh orang Kristen.
  • Pendidikan yang hanya bisa dijangkau oleh orang Kristen.
  • Kristensiasi dalam dunia politik.
  • Orang-Oarng Kristen hampir menguasai kekuatan Ekonomi di Indonesia.
  • Pembangunan Gereja-Gereja.
  • Adanya bantuan kesehatan yang terselubung dengan maksud kristenisasi.
  • Dan Propaganda Media

( Dalam hal ini penulis, hanya mencoba menuliskan apa yang dimaksudkan dengan Kristenisasi, dan bagaimana pendapat tentang bagaimana cara-cara kristenisasi dilakukan, semoga besok bisa menuliskan apa yang sebenarnya salah dalam Kristenisasi dan Islamisasi di Indonesia )

Dan dalam beberapa bulan yang lalu dalam sebuah acara di stasiun Televisi Swasta. Mata Najwa yang mengundang Rhoma Irama, dalam wawancara antara Najwa dan Rhoma entah dapat disebut sebagai kekhawatiran ? kegetiran ? kekonyolan ? kebodohan ? atau apa sajalah terserah pendapat anda,…dan inilah teks percakapan tersebut :

Najwa : Darimana rasa keterpanggilan itu ?

Rhoma : Situasi Anak bangsa yang lari dari tujuan reformasi. Kita sudah kehilangan nilai ke-Tuhan-an, kemanusiaan, PERSATUAN, bah
kan keadaan sosial

Najwa : Anda merasa punya kemampuan untuk benahi itu semua?

Rhoma : Sebenarnya saya sudah melakukan hal itu lewat musik dan tabligh akbar dalam 40 tahun, jadi saya sudah terbiasa mengarahkan umat.

Najwa : Seberapa besar desakan supaya Rhoma mau jadi presiden?

Rhoma : Dari ucapan beliau yang jadi representatif, anda dengan situasi politik yang barusan terjadi di Jakarta.

Najwa : Anda merasa icon Islam?

Rhoma : No, mereka yang mengatakan begitu. dan menyuruh saya untuk maju. Kenapa saya? saya merasa banyak yang lebih layak dari saya .

Najwa : Seperti apa sih situasi politik saat ini di pandangan Rhoma Irama?

Rhoma : Ada sesuatu yang extreme, yang tidak biasa. Katakanlah misalnya peristiwa di jkt yang jadi kontroversi.

Najwa : Saya tidak menangkap maksud anda. apa maksudnya dengan situasi extreme di jkt?

Rhoma : Adanya suatu etnis yang tidak biasa menjadi birokrat, menjadi birokrat.

Najwa : Anda mengacu ke wakil gubernur saat ini, Basuki Tjahaja Purnama?

Rhoma : Ya ya, saya rasa seperti itu.

Najwa : Apa yang membuat itu menjadi extreme?

Rhoma : Ada suatu kecemasan, kegelisahan di kalangan umat. Ini yang terjadi saat ini. Dengan saya dipanggil di panwaslu, umat berpikir ini sudah mengadili agama, Al-Quran

Najwa: Jadi anda merasa jadi representasi orang Islam?

Rhoma: Bukan saya bilang begitu

Najwa : dan anda menyetujuinya?

Rhoma : Kenapa?

Najwa : anda sependapat dengan mereka2 yang anda bilang itu?

Rhoma : saya tidak berada dalam kapasitas itu…

Najwa : tapi ketika anda mengutarakan pendapat ini, berarti anda menyetujui pemikiran mereka?

Rhoma : Ok, saya setuju. ada suatu kekhawatiran bahwa ke depannya kelompok ini akan semakin agresif untuk mencapai posisi di semua titik

Najwa : Kelompok apa nih? anda harus hati2 bicara nih.

Rhoma : anda sudah katakan tadi juga. Ada suatu kelompok etnis, yang secara ekonomi sudah sangat dominan, dan sekarang mau merambah juga ke dunia politik. Ini yang mencemaskan anak bangsa, khususnya umat Islam

Najwa : memimpin negeri yang plural, argumen2 anda sangat membahayakan kemajemukan dan pluralitas kita.

 

Ya, memang tidak dapat generalisasikan bahwa Islam adalah Rhoma Irama,  tetapi saya tidak menyangsikan bahwa masyarakat Indonesia juga memiliki pandangan dan kekhawatiran yang sama dengan Rhoma Irama, tentang kekhawatiran-kekhawatiran ETNIS dan AGAMA minoritas yang mulai bangkit, bukankah soal Agama dan Etnis dapat begitu menjadi sensitif di telinga bangsa ini ??

Suatu ironi tersendiri bukan, jika kita melihat begitu mudah bertemu dengan orang meminta dana sumbangan untuk pembangunan sebuah masjid,  mereka berada di jalan-jalan atau ke rumah-rumah, tanpa pernah takut terjadi penolakan dari ormas atau penganut agama lain. Masjid menyiarkan isi khotbah dengan megaphone tanpa pernah takut bahwa itu adalah gerakan dakwah islamisasi, padahal penganut agama lain mau tidak mau ikut mendengarkan khotbah tersebut. Apakah terdengar sama ??

istilah islamisasi dianggap tidak ada karena dilakukan oleh kaum mayoritas, dan benarkah ada ketakutan terhadap gerakan kristenisasi dilandasi ketakutan bahwa minoritas akan ‘membalas dendam’ pada mayoritas ?

Kasus 4  : Apa yang Salah dari Sikap Bangsa Ini?

Bangsa ini tidak pernah mau bercermin terhadap sejarah manusia, bangsa ini terlalu asyik merdeka tanpa tahu harus bagaimana. Kata Soegija, “Untuk apa kita merdeka, jika menata diri sendiri saja belum bisa?”.  Seharusnya bangsa ini lebih melihat kronologi sejarah yang pernah dicapainya, seberapa cepat bangsa ini berputar dari kebudayaan asli yang kemudian dipengaruhi oleh kebudayaan Hindu, Budha, dan terakhir Islam. Bangsa ini sudah tidak tahu siapa jati dirinya sendiri.

Bukankah banyak yang sering #GagalPaham tentang apa itu budaya Timur dan apa itu budaya Islam ? mengaku berbudaya Jawa tetapi tidak Njawani.

Lalu apa sebenarnya Budaya itu sendiri : Budaya secara harfiah berasal dari Bahasa Latin yaitu Colere yang memiliki arti mengerjakan tanah, mengolah, memelihara ladang (menurut Soerjanto Poespowardojo 1993). Selain itu Budaya atau kebudayaan berasal daribahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Adapun menurut istilah Kebudayaan merupakan suatu yang agung dan mahal, tentu saja karena ia tercipta dari hasil rasa, karya, karsa,dan cipta manusia yang kesemuanya merupakan sifat yang hanya ada pada manusia. Tak ada mahluk lain yang memiliki anugrah itu sehingga ia merupakan sesuatu yang agung dan mahal.

Kebudayaan merupakan cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbada budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari.

Bangsa ini hanya menjadi pengekor, bangsa yang limbung, dan begitu mudah bangsa ini menjadi korban budaya asing. Betapa dapat kita lihat betapa histeris para gadis remaja yang tidak bertemu dengan Justin Bieber, banyak pemuda yang menyukai budaya Jepang dengan gaya cosplay, berpakaian seperti anak Punk, berambut Emo, bedandan ala artis Korea, dan begitu banyak hal lain yang dimana bangsa ini hanya bisa membebek pada Trend yang ada di dunia, tanpa pernah mampu menjadi TrendSetter itu sendiri. Hal inilah yang perlu dicermati oleh para petinggi bangsa, apa yang salah dengan sistem pemerintahan dalam mengajarkan dan membentuk kekuatan pribadi penerus bangsa.

kesimpulan yang dapat diambail adalah, bahwa ketidaksiapan bangsa ini untuk merdeka menyebabkan ketidakdewasaan dalam berpikir dan bersikap. Hal itu tercermin dari begitu mudahnya mereka untuk menghakimi perbedaan-perbedaan.

Kasus 5  : Apa Hubungan Indonesia, Idealisme, dan Agama?

Indonesia adalah bangsa ini masih menyimpan ketakutan-ketakutan untuk berbeda dan lahir baru menjadi diri sendiri. Bangsa ini tertidur, mengunci rapat dari kenyataan bahwa mereka sendiri tidak sadar akan segala sesuatu yang terjadi. Hidup hanya untuk berkembang biak dan bersenang senang, tanpa pernah melihat ke dalam diri. Mengisi waktu untuk mati dengan kebingungan bagaimana dan harus apa karena tertekan oleh sistem hidup yang sudah berubah. Hidup bukan lagi hidup, tetapi seperti mesin yang menunggu usang saja hingga dikebumikan.

Idealisme adalah wujud kesadaran akan penolakan bahwa kita bukan robot. Idealisme lahir dari sebuah pemikiran manusia, lahir dari hasil cipta rasa karsa yang di terima dan diolah atas dasar kesadaran bahwa kita adalah mahluk berpikir. Dan soal beragama, betapa Agama hanya pelengkap KTP saja, siapa yang perduli pada apa yang mereka percayai ? tetapi sekali Agama mereka disentuh oleh orang asing, atau Agama lain, mereka dengan mudah terbakar emosinya, begitu reaktif ?? kenapa ?? mereka lebih perduli pada perang di Tanah Arab sana ?? mereka lebih perduli pada sesuatu yang jauh dan praktis, ya tanpa pernah mereka bercermin tentang apa yang mereka lakukan di Negara sendiri. Mau tidak mau, tidak dapat dipungkiri hampir seluruh orang yang memiliki agama, Bergama sesuai dengan orang tua mereka, ya adalah warisan, yang selalu didengungkan dengan bahasa Surga dan Neraka, antara berita baik karena kau akan masuk Surga hanya karena kau beragama A dank au tidak akan diampuni dosanya karena kau beragama B.

DAN SUDAH CUKUP ITU SAJA POINT YANG PERLU MEREKA TAU.

Sedang saat kau memilih untuk tidak beragama, kau akan dicap sebagai Komunis, anggota atau simpatisan dari PKI ( Partai Komunis Indonesia ), sebagai orang bodoh yang tersesat, dan masih banyak lagi hal negatif yang akan disematkan padamu, kau harus memilih satu setidaknya, J ya itulah hidup di Negara kita yang begitu mudah di takut-takuti J.

Ah, dari Film Soegija kita mampu belajar untuk saling menghargai, membuka mata bahwa tidak selamanya yang Mayoritas itu selalu benar, tidak selamanya yang Mayoritas itu menjadi sesuatu, Minoritas juga berbuat sesuatu, dan alangkah lebih baik jika tidak ada mayoritas dan minoritas dalam cara kita memandang hidup, kita semua sama, bukan golongan, agama, suku, atau apa sajalah yang memecah belah kita, mengkotak-kotakkan kita hingga begitu risih saling bersentuhan.

Tidak ada tendensi apapun dalam perbedaan, selama kita benar dalam berbuat, tidak merugikan orang lain, mampu hidup dengan bergandengan tangan, saling merangkul satu sama lain, menghormati dan menghargai. Tidak menjadi Paranoid seperti yang Rhoma Irama lakukan, kalau memang etnis dan agama lain lebih maju dan menguasai sektor penting dalam pemerintahan dan negeri ini, ajaklah mayoritas umat Muslim di Indoensia ini, untuk bekerja lebih keras, ajaklah mereka saling tolong menolong sesame mereka, ajaklah mereka belajar lebih keras lagi, sudah 40 tahun lhoh anda menyanyi ? eh berdakwah… apakah tidak berhasil ? apa yang salah dengan dakwah anda ? koreksi diri anda dahulu sebelumnya bang, baru koreksi yang lebih besar… : ). Bukan menciptakan ketegangan seperti ini, dan untung saja masyarakat kita sudah sangat pandai menyikapi perkataan anda, kata-kata yang saya rasa tidak tepat digunakan di Negara semajemuk Indonesia ini.

Silahkan di tanggapi kawan, semoga mencerahkan…

 

( Tulisan ini adalah tulisan kedua setelah mendapatkan koreksi, masukan dan kritikan dari Jachinta Desy Kencanawati, dan semoga dengan begitu, tulisan ini menjadi lebih baik dari sebelumnya J, Big Thanks to Jachinta Desy Kencanawati )