BRONCHITIS

A.    Latar Belakang Masalah

Penyakit dan gangguan saluran napas masih merupakan masalah terbesar di Indonesiapada saat ini. Angka kesakitan dan kematian saluran napas dan paru seperti infeksi saluran napas akut, tuberculosis asma dan bronchitis masih menduduki peringkat tertinggi. Infeksi merupakan penyebab tersering (Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, 1986).

Kemajuan dalam bidang diagnostic dan pengobatan menyebabkan turunnya insidens penyakit saluran napas akibat infeksi. Di lain pihak kemajuan dalam bidang industri dan transportasi menimbulkan masalah baru dalam bidang kesehatan yaitu polusi udara. Bertambahnya umur rata-rata penduduk, banyaknya jumlah penduduk yang merokok serta adanya polusi udara meningkatkan jumlah penderita bronchitis kronik. Bronchitis kronik termasuk kelompok penyakit paru obstruktif kronik(PPOK). Di Negara maju penyakit  ini merupakan masalah kesehatan yang besar, karena bertambahnya jumlah penderita dari tahun ke tahun. Pada tahun 1976 di Amerika Serikat ditemukan 1,5 juta kasus baru, dan pada tahun 1977 kematian yang disebabkan oleh PPOK berjumlah 45.000 orang. Penyakit ini merupakan penyebab kematian urutan ke-5 (Tockman MS,1985)

Penyakit paru obstruktif kronik ialah penyakit saluran napas yang bersifat ireversibel dan progresif. Bila penyakit telah terjadi, maka akan berlangsung seumur hidup dan memburuk dari waktu ke waktu. Perburukan akan lebih cepat terjadi bila timbul fase-fase eksaserbasi akut. Usaha untuk menegakkan diagnosis lebih dini, pencegahan eksaserbasi akut, serta penatalaksanaan yang baik akan bermanfaat memperlambat perjalanan penyakit sehingga penderita dapat hidup lebih baik.

B.     Definisi Bronchitis

Bronchitis adalah peradangan pada bronkus(pembuluh udara paru).  Bronchitis biasanya terjadi karena infeksi, seperti radang tenggorokan, campak, batuk kejan, dan lain-lain. Penyakit ini juga dapat muncul sendiri atau merupakan akibat dari adanya gangguan paru-paru kronis, misalnya TBC. Pada orang dewasa umumnya penyakit ini merupakan penyakit ringan, namun pada bayi dan anak kecil bisa menjadi penyakit yang mengkhawatirkan. Pada orang dewasa yang mengalami kegagalan paru-paru kronis, peradangan bronkus akut dapat memperburuk keadaan dan menyebabakan kematian.                

Terdapat dua tipe bronchitis, yakni akut dan kronis. Bronchitis akut ditandai dengan batuk berdahak kekuningan dan demam, seperti pada radang tenggorokan atau influenza biasa. Tipe ini sering disebabkan oleh virus. Bronkitis akut biasanya tidak terbatas pada bronkus, tetapi sering mengenai bagian paru lainnya yang disebut trakea, sehingga istilah sebenarnya adalah trakeabronkitis. Sedangkan bronchitis kronis ditandai dengan batuk lama dan berdahak banyak. Batuk terutama terjadi pada waktu tidur atau pagi hari. Penyakit ini biasanya didahului oleh infeksi saluran pernapasan bagian atas. (Republika,2003).

Definisi bronchitis kronik lainnya adalah:

  • Brinkman mendefinisikan penyakit ini sebagai suatu gangguan batuk berdahak yang terjadi tiap hari selama paling kurang enam bulan dan jumlah dahak minimal satu sendok(Brinkman GL, 1962)
  • American Thoracic Society mendefinisikan penyakit sebagai gangguan batuk kronik dengan dahak yang banyak terjadi hampir setiap hari minimal tiga bulan dalam setahun selama dua tahun berturut-turut(American Thoracic Society, 1987)
  • Bronkitis adalah radang yang dimulai dari saluran napas yang kecil di paru-paru dan secara bertahap meningkat ke saluran napas besar. Radang ini meningkatkan muskus/lender pada saluran napas sehingga masuk/keluar udara menjadi terhalang.Image

C.    Etiologi penyakit

Bronchitis disebabkan karena infeksi, penyakit ini juga dapat muncul sendiri atau akibat dari adanya gangguan paru-paru kronis. Pada bronchitis akut disebabkan oleh virus, kuman-kuman lain yang sering ditemukan pada dahak penderita adalah pneumococcus, streptococcus beta-hemolitik, dan haemophilus influenzae. Sedangkan pada bronchitis kronis penyakit jantung menahun dan keadaan hipersensitivitas juga bisa menyebabkan penyakit ini. Pada orang tua, penyakit ini biasanya timbul sebagai akibat adanya gangguan paru-paru yang kronis.(Republika, 2003)

Factor etiologi utama adalah merokok dan polusi udara yang biasa terdapat pada daerah industri. Polusi udara yang terus menerus juga merupakan presdiposisi infeksi rekuren karena polusi memperlambat aktifitas silia dan fogositosis, sehingga timbunan mucus meningkat sedangkan mekanisme pertahanannya sendiri melemah . (Sivia A.Price, 1995)

D.    Patologi penyakit

Patologis utama pada bronchitis kronik adalah hiperttropi kelenjar mukosa bronkus dan peningkatan jumlah sel goblet dengan infiltrasi pada sel-sel radang dan edema mukosa bronkus. Pembentukan mucus yang meningkat mengakibatkan gejala khas yaitu batuk produktif. Batuk kronik yang disertai peningkatan sekresi bronkus tampaknya mempengaruhi bronkiolus yang kecil sedemikian rupa sehingga bronkiolus tersebut rusak dan dindingnya melebar.

Penyakit paling besar disebabkan oleh asap rokok, setiap hembusan asap rokok mengandung 10 radikal bebas yaitu radikal hidroksida(OH). (Faisal Yunus, 1989). Sebagian besar radikal bebas ini akan sampai ke alveolus, dan dapat merusak parenkim paru. Hal ini disebabkan karena:

1)      Kerusakan dinding alveolus

2)       Modifikasi fungsi antielastase pada saluran napas(Flenley DC, 1987)

Antielastase seharusnya menghambat netrofil, oksidan menyebabkan fungsi ini terganggu sehingga timbul kerusakan jaringan interstitial alveolus. Partikulat yang ada pada asap rokok dan udara yang terpolusi  mengendap pada di lapisan muskus yang melapisi mukosa bronkus, sehingga menghambat aktifitas silia. Pergerakan cairan yang melapisi mukosa bronkus akan sangat berkurang, mengakibatkan meningkatnya iritasi pada epitel mukosa bronkus. Kelenjar mukosa dan sel goblet dirangsang untuk menghasilkan mucus yang lebih banyak, hal ini ditambah dengan gangguan aktivitas silia menyebabkan timbulnya batuk kronik. Produksi mucus berlebihan memudahkan terjadinya infeksi dan memperlambat proses penyembuhan.

E.     Tanda dan Gejala

Ciri-ciri penderita adalah berusia relative lebih muda dari penderita emfisema,

gemuk, dan seorang perokok. Pada waktu pasien melakukan kegiatan fisik maka akan timbul gejala dispnea. Pasien ini memperlihatkan gejala berkurangnya dorongan untuk bernapas, mengalami hipoventilasi dan menjadi hipoksia hiperkapnea. Selain itu juga tampak pengurangan yang nyata dari rasio ventilasi. (Syivia A. Price, , 1995)

Gejala yang ditimbulkan adalah batuk-batuk yang banyak, mengeluarkan dahak dalam jumlah sedikit, tetapi makin lama makin banyak. Mulanya dahak tersebut berwarna keputihan dan encer, namun jika sudah terinfeksi akan menjadi kuning, kehijauan, dan kental. Pada pemeriksaan dengan stetoskop akan terdengar banyak lender pada saluran napasnya. Batuk terutama pada waktu tidur atau pagi hari.(Republika, 2003)

ImageF.   Anatomi dan Fisiologi

Saluran penghantar udara hingga mencapai paru-paru adalah hidung, faring, laring, trakea, bronkus, dan bronkiolus. Saluran pernapasan dari hidung sampai bronkiolus dilapisi oleh membran mukosa yang bersilia. Ketika udara masuk ke dalam rongga hidung, udara tersebut disaring, dihangatkan dan dilembabkan. Ketiga proses ini merupakan fungsi utama dari mukosa respirasi yang terdiri dari epitel toraks bertingkat, bersilia dan bersel goblet.

Udara mengalir dari faring menuju laring atau kotak suara. Laring merupakan rangkaian cincin tulang rawan yang dihubungkan oleh otot dan mengandung pita suara. Di antara pita suara tersebut terdapat ruang berbentuk segitiga yang bermuara ke dalam trakea dan dinamakan glotis.

Trakea disokong oleh cincintulang rawan yang berbentuk seperti sepatu kuda yang panjangnya kurang lebih 5 inci. Struktur trakea dan bronkus dianalogkan sebagai sebuah pohon, dan oleh sebab itu dinamakan pohon trakeobrokial. Permukaan trakea agak pipih dan letaknya tepat di depan eksofagus.

Brokus utama kanan dan kiri tidak simetris. Bronkus kanan lebih pendek dan lebih besar dan merupakan kelanjutan dari trakea yang arahnya hampir vertikal. Sebaliknya, bronkus kiri lebih panjang dan lebih sempit dan merupakan kelanjutan dari trakea dengan sudut yang lebih tajam. Cabang utama bronkus kanan dan kiri bercabang lagi menjadi bronkus lobaris dan kemudian bronkus segmentalis. Percabangan ini berjalan terus menjadi bronkus yang ukurannya semakin kecil sampai akhirnya menjadi bronkiolus terminal, yaitu saluran udara terkecil yang tidak mengandung alveoli(kantung udara). Brokiolus terminalis memiliki garis tengah kurang lebih 1 mm. brokiolus tidak diperkuat oleh cincin tulang rawan, tetapi dikelilingi oleh otet polos sehingga ukurannya dapat dapat berubah.

Setelah bronkiolus terminalis terdapat asinus yang merupakan unit fungsional paru-paru, yaitu tempat pertukaran gas. Asinus terdiri dari (1) brokiolus respiratorius, yang terkadang memiliki kantong udara kecil atau alveoli pada dindingnya. (2) duktus alveolaris, seluruhnya dibatasi oleh alveolus dan (3) sakus alveolaris terminalis, merupakan struktur akhir paru-paru. ( Sylvia Anderson Price, 1995)

Penatalaksanaan umum pada bronchitis kronik bertujuan untuk memperbaiki kondisitubuh penderita, mencegah perburukan penyakit, menghindari factor resiko dan mengenali sifat penyakit secara baik. Termasuk dalam penatalaksanaan umum ini adalah pendidikan buat penderita untuk mengenal penyakitnya lebih baik, menghindari polusi, menghentikan kebiasaan merokok, menghindari infeksi saluran napas, hidup dalam lingkungan yang lebih sehat, makanan cukup gizi dan mencukupi kebutuhan cairan.(Hodgkin HE, 1979)

Penatalaksanaan khusus dilakukan untuk mengatasi gejala dan komplikasi. Tidakan ini berupa pemberian obat-obatan dan terapi respirasi.

Bronkodilator merupakan obat utama pada bronchitis kronik, obat ini tidak saja diberikan pada keadaan eksaserbasi akut tetapi juga untuk memperbaiki obstruksi yang terjadi. Obat yang digunakan adalah golongan antikolinergik agonis beta-2 dan golongan xanthin. (Rebuck AS, 1991)

Kepustakaan

  •  Survai Kesehatan rumah tangga. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Pusat Penelitian Ekologi Kesehatan Departemen Kesehatan.Jakarta, 1986 : 56
  • Tockman MS,dkk. The epidemiologi of COPD. In: Chronic Obstructive Pulmonary Disease. Ed. Petty TL.New York: Marcel Dekker Inc, 1985 : 435
  • Brnkman GL, Coastwr EO. The prevalence of chronic bronchitis in an industrial population. Am Rev Respir Dis 1962; 86 : 4754
  • American Thoracic Society. Medical section of the American Lung Association. Standards for the diagnosis and care of patients with chronic obstructive pulmonary disease(COPD) and asthma. Am Rev Respir Dis 1987; 139: 22543
  • Hodgkin HE. Comparative respiratory care program. In: Chronic Obstructive Pulmonary Disease.Park Ridge : TheAmericanCollege of Chest Physician. 1979 : 34101
  • Price SA, Wilson LM. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit = Pathophysiology : Clinical concepts of Disease Processes, ed 4.Jakarta: EGC, 1995
  • v  Widmann, FrancesK. Tinjauan Klinis Atas Hasil Pemeriksaan Laboratorium. Ed 9.Jakarta; EGC, 1995
  • Faisal Y,dkk. Pola Hiperaktivitas bronkus pada penderita penyakit obstruksi saluran napas paru. 1989;3 & 4 : 139
  • Republika, 2003