Duduklah bersamaku

Sudah lama kita tidak berjalan keluar, berjalan menuju ke ujung pematang yang kuning itu.

Duduk memilih batu yang besar. Dan mendengarkan permainan seruling penggembala lembu.

Duduklah disini sebentar saja menemaniku.

Aku tak menjanjikan akan ada banyak pembicaraan tentang sawah, sungai dan gunung dengan awan biru sebagai latarnya.

Aku tidak menjanjikan banyak hal.

Aku hanya ingin kau duduk disini. Memastikan diriku bahwa aku ada di dunia ini.

Tanpa harus banyak bicara. 

Sedekat Inikah

Gambar

Pagi ini, saat semua mata sudah tertapuk ke sudut lain, saat mimpi menjadi hiburan dari kebosanan kenyataan, dan saat berbaring menjadi keintiman yang begitu mesra untuk melepas lelah yang bertahan,. Aku menatap saja, dari sini, dari tempat ku terpenjara, dengan sedikit nafas yang tersenggal,. Istirahatlah manusia,. Nikmatilah dan hargailah waktu,.

Ku langkah kan kaki ku,. Berjalan memutari kalian yang tertidur pulas,. Melihat kalian yang polos dengan liur kalian yang membanjir besar.

Seberapa jauh aku bisa melangkah akan ku coba, memutari semua sampai ku bisa, melihat wajah wajah yang ku pikir berbeda, dimana muka garang yang biasanya, dimana muka penakut yang biasanya, semua terpukul oleh dentuman memori, otak yang merekam. Sebuah kehidupan yang tak kita kendalikan yang mengendalikan, ternyata kita memang mahluk yang tak sepenuhnya berkuasa. Belajar menikmati maut pun ku kira tak ada salahnya. Menghilang di gelap nafas.

Tuhan dan nilai jahat yang kutuliskan

 Gambar

Pertanyaan-pertanyaan yang sampai saat ini masih belum terjawab, pertanyaan yang filsafat menjanjikannya untuk menyelesaikan secepatnya, bukan tentang harus bagaimana ? tetapi lebih kepada hal yang paling dasar, menjawab makna kehadiran. Mencoba membantah dan menghibur diri dari pemikiran keterlemparan dan kesempatan akan hidup yang datang ini. mungkin ilmu pengetahuan lambat laun akan datang dengan kabar gembira. Dan filsafat akan tertinggal dan hanya bertugas untuk menjawab harus bagaimana. Dan dia akan kehilangan janjinya.

Kelahiran, hubungan, keterikatan antara manusia dengan manusia lain yang hadir didunia ini. bukankah ini suatu permainan yang aneh. Kebebasan yang terikat atas nama emosional. Kekangan dengan nama perasaan. Perasaan yang terkunci.

Agama telah lari terbirit-birit atas hal ini, dimana dirinya tidak bisa menciptakan jawaban hubungan yang aneh ini. kenapa manusia harus dilahirkan ? tidak langsung saja hadir seperti layaknya adam dan hawa dalam konsep hidup mereka ? ketidaktahuan ini hanya dijawab dengan sebuah bungkus bernama aturan dan pemanis dalam janji kesetiaan dan ketundukan tanpa mampu menjawab kenapa ? hubungan vertikal yang hanya dikemas manis untuk menghindaritugas untuk menjawab.

Meletakkan Tuhan kedalam pemikiran, menjadikan manusia terlihat sama, menyamakan diri atas nama sosok tertinggi. Bukankah ini suatu cara picik agar manusia dapat membela dirinya, mengobati luka sendiri dengan memaksakan diri dan mungkin orang lain. Menciptakan nilai atas dasar ketakutan bahwa dirinya tak lebih berani, tak lebih bebas, dan tak lebih besar dari mereka yang tidak mendengar norma.

Dan mereka-mereka yang memiliki kekerdilan jiwa, lebih memilih mengutuki mereka yang tangguh dan besar. Merendahkan mereka dengan nilai-nilai norma yang mereka ciptakan dan banggakan sendiri, atas nama standart kemanusiaan, atau bahkan mengatasnamakan takdir Tuhan.

Dan merujuk kepada sejarah yang berulang, menilik kepada pandangan manusia yang terus gelisah, melahirkan perusak tatanan karena kegelisahan, pergeseran nilai-nilai.

17 Agustus 2013

Saat semua menjadi begitu rancu menurut saya, dimana konsep agama tak ubahnya menjadi dasar pijakan hukum dalam urusan manusia dengan manusia, walau saya pikir hukum manusia dengan tuhan tak ubahnya hanya sebuah lelucon untuk saat ini.

Multi tafsir yang begitu berkembang dalam sebuah agama bukanlah suatu kesalahan dari mereka yang memuluk suatu agama. Tetapi lebih karena konsep yang selama ini mereka pegang adalah lemah, lalu dengan mudah mereka berangan-angan dalam mendiskripsikan sesuatu.

Sedang Tuhan bermain aman dengan berkata bahwa mereka akan mendapatkan jaminan surga jika percaya kepadaku. Hanya percaya saja tak ubahnya hanya sebuah wujud narsisem eksistensi dari Tuhan.?

Baiklah kita coba kembali kepada persoalan perbedaan. Apakah benar demikian adanya, suatu itu dikatakan sebuah kebenaran yang benar-benar benar. Jika semua saling tuding soal siapa yang salah, dan mengklaim bahwa dirinyalah kebenaran diantara kebenaran yang tidak benar. Dan seharusnya ini menjadi suatu koreksi besar bagi mereka yang beragama. Menutup mata soal ini sama saja adalah wujud ketakutan terhadap siapa diri saya sendiri. Ketakutan terhadap kenyataan sesungguhnya, bahwa pedoman mereka telah roboh oleh pertanyaan dari dalam agama mereka sendiri.

Apakah akan terbantahkan bahwa setiap kitab memiliki pegangan sendiri, atau asbabun nuzul ? lalu dimanakah itu sekarang, problematika modernisasi yang berbenturan dengan agama?  Berdiri kokoh diatas perkembangan jaman pada akhirnya menjadi begitu banyak multi tafsir juga terhadap kitab yang berkata dengan penuh kiasan.

Ini yang ada dalam pikiran saya saat ini.

17 Agustus 2013.

Merdeka !!!

 

 

Kehendak Bebas

Gambar

Kehendak menuju kebenaran sangatlah menggoda kita, tetapi resikonya terlalu besar. Itu yang Nietz katakan.

Membahas itu apakah itu suatu kebenaran atau tidak merupakan pertanyaan yang panjang, sudah sama tuanya dengan keberadaan manusia itu sendiri. Dan anehnya lagi, kita sekarang membahasnya kembali, membicarakan mana yang benar dan mana yang salah. Betapa menggelitik bukan, seakan-akan kisah untuk mempertanyakan hal ini tidak akan pernah berhenti sampai disini.

Sebuah pertanyaan mendasar, kenapa pikiran manusia menghendaki untuk mengetahui apa itu kebenaran, kenapa tidak menghendaki untuk tahu apa itu kesalahan, apa itu ketidaktahuan sendiri.

Dan pertanyaan-pertanyaan itu seakan baru saja lahir, seakan-akan baru saja muncul, dan kita datang dengan dada terbusung untuk “menantangnya” mencoba memecah pertanyaan yang mahal harganya. “seakan-akan semua ini belum pernah terjadi sebelumnya”

Dan yang hidup dalam filsafat Stoic, orang-orang Stoic yang memilih hidup bersama alam, hidup dalam alam. Membayangkan hidup didalamnya, mahluk hidup bersama alam semesta, mahluk yang netral tiada tanding, subur, tanpa tujuan dan kesadaran, tanpa belas kasihan dan kejujuran, terasing dan tidak pasti. Bagaimana mereka kaum Stoic dapat hidup dalam kehidupan yang tidak menurut ketidakperdulian.

Sedang hidup manusia, bersifat menimbang, belajar, bergairah, kehendak dan berkeinginan, terbatas dan ingin terlihat berbeda ? bagaimana manusia bisa hidup berkebalikan dengan alam yang mereka filosofiskan ?

Lalu dimana kebenaran yang kau bawa ? kau mengagungkan apa yang kau bawa dengan kata benar yang kau sematkan, tetapi dirimu menolak kebenaran itu sendiri. Apa naas dari filsafat ini ? menipu diri sendiri ? bahkan mengajak orang lain terperangkap dalam eksistensi moralitasmu, atas nama kemuliaan yang luhur dan bersahaja kau berkata.

“ Kemudian Atas Nama Arogansimu “Membenarkan Filsafat Stoic Mu” Kau Men-Tiran-Kan Dirimu Sendiri ”

….dan mereka yang telah lelah dan putus asa, lebih memilih untuk berpikir bahwa ketidakpastian adalah keberadaan yang pasti, dan keberadaan saat ini bukanlah ketidakpastian.
Sedang pada mereka pemikir yang kuat dan lebih bergairah dalam hidup, mereka memilih untuk terus mencari, dan melawan kepastian yang kaum putus asa dan lemah itu dengungkan.

Atau mengelupaskan semua kulit arimu yang dilekati daki-daki pemikiran untuk menjadi NIHILIS.

” Beyond Good and Evil, Nietzsche “

Pemikiran tentang Perempuan

Gambar
Dengan tangan kanannya ia mengayun bayi, dan tangan kirinya ia mengguncang dunia.
Napoleon Bonaparte. “Hendaklah Perancis memiliki ibu ibu yang baik agar bisa melahirkan anak-anak yang baik”. Hipocrates (bapak Kedokteran Yunani Kuno) “Wanita itu Penyakit” atau Jean Jacques Rousseau. “Sesungguhnya kaum pria adalah produk wanita, jika kalian ingin generasi-generasi agung dan unggul, maka ajarilah wanita, apa itu keagungan diri dan apa itu keunggulan moral”

Peran perempuan dalam kehidupan selalu dinomorduakan, dibelakang laki-laki merupakan tugas yang utama. Entah benar atau entah itu salah. Siapa yang tahu ini benar atau salah?

 “Aku sudah begitu dewasa untuk tidak melihat nilai keduanya”.

Pepatah sebagaimana kita tahu, berkata “ Bahwa dibalik kesuksesan laki-laki ada wanita hebat dibelakanganya ”. Mari kita merabanya, menelisik ciri dan permainan didalamnya. Kalimat maut itu yang menjadi jeruji pemikiran manusia.

Walau terkesan berniali positif tetapi jika diteliti lebih jauh, perempuan hanyalah seorang supporter, bukan inti dari pelaksanaan. Tanpa menafikkan peran yang dilakukan tentunya. Atau bisa jadi perempuan adalah otak dari permainan, dia adalah Tuhan laki-laki, menggerakkan dalam persembunyiannya dibalik nama dan daging laki-laki.

Atau “Dibalik kehancuran seorang pria ada perempuan bodoh di dalamnya” bukankah hal ini bernada negatif, tetapi jik dirimu jeli kau akan melihat betapa memang perempuan ditinggikan disini, perempuan memang Tuhan bagi laki-laki, dia berperan menentukan. Meski dibelakang dan tersembunyi.

Seperti kita tahu, mungkin presiden kita saat ini.

Sebuah dikusi menarik tentang pandangan perempuan dewasa ini dalam persamaan gender tetap saja membawa nilai sinis dan emosional dari perempuan itu sendiri, antara kodrat dan emansipasi.

Perempuan memiliki kodrat untuk hamil, melahirkan dan menyusui. Aih, dimana peran hanya berbeda dalam soal reproduksi saja, sedangkan mengasuh sekarangpun bisa dilakukan oleh orang tua laki-laki.

Mungkin lusa kita tidak lagi merasakan getaran mistis saat kita berkata “Ibu”. Dan memang untuk apa ?

Stigma tentang gender, tidak boleh ini itu karena berjenis kelamin perempuan. “Sifat-sifat wanita” atau feminitas itu produk budaya. sayangnya, hal ini produk budaya sudah mapan dan kita kebanyakan taken for granted lalu dianggap kebenaran yang objektif. Ini esensialisme budaya!

kalau dalam dunia crime, ada namanya penyimpang ganda. perempuan yang melakukan kejahatan dikonstruksi sebagai perempuan setan dan berbagai demonisasi berlebihan lainnya. di era sekarang biasa dikonstruksikan lewat media. inget kasus “Kill bill” di RSPAD? atau waktu gang Nero di Pati.

Kejahatan yang dilakukan perempuan direspon berlebihan karena perempuan dianggap melanggar dua hal. Yang pertama adalah hukum, yang kedua adalah Feminitasnya. ini juga secara enggak langsung membangun dan mempertahankan budaya yang sedang berkuasa. yaitu budaya status quo yang patriarkis. ini dalam konteks sosial budaya itu sendiri.

Dan jauh berbeda pada masanya, perempuan berkembang dan menciptakan dirinya menjadi lebih unggul di Barat sana, kita mengenal nama-nama itu, Madame Roland. Dengan lantang mempertanyakan untuk memperjuangkan hidup yang absrud ini. kehidupan yang memenjarakan pikiran dalam kantong kelamin laki-laki dan perempuan.

“O..Kebebasan! Kejahatan apa yang dilakukan atas namamu!”

Perempuan-perempuan tentu akan tergelitik, terpanggil dan merasai gejolak yang sama di era sekarang, persamaan hak dengan laki-laki. Mereka-mereka perempuan yang dipenggal di Guillotine seakan menjadi pahlawan kaumnya.

Tetapi jika demikian, siapa yang akan menciptakan rasa malu-malu, permainan licik dan kejam dari perempuan dengan perasaan yang tersembunyi ? air mata dan kelemahan yang menjengkelkan dan mengairahkan ? lekuk gemulai, desah dan penurut ? inilah pertanyaan paling gamang yang coba dihadirkan Nietz.

“Benarkah mereka menginginkan pencerahan bagi hidupnya sendiri ? benarkah mereka ingin menjadi modern dalam kacamtanya sendiri ?”

Aku amati, aku baca dengan teliti. Lihatlah! Banyak perempuan yang tidak yakin akan pilihannya dan goyah dengan sendirinya di jaman modern ini. Menentukan sikap keinginan dengan naluri. Aku tidak mau mengesampingkan itu. Naluri mungkin memang benar ada didalamnya, sebagaimana alam telah mempersiapkan diri dengan dua jenis kelamin berbeda. Atau dalam hal ini kita kurung saja dalam konteks tertentu. Yang tidak lebih mengikat kebebasan yang diinginkan. Tetapi apa aku akan berkata benar dalam hal ini ?

Atau jangan-jangan sudah ada keraguan dan keberpihakan ?

Lalu dimanakah perempuan harus berdiri demi kebenarannya ?

“Mulier taceat in ecclesia” Napoleon!

Kebenaran dan kebaikan ? menyakitkan dan memang benar, kau harus bersembunyi, dan menikmati kejujuran hidupmu dalam kurungan takdir. Sebagai perempuan yang ber-Rasa. Berseni rupa. Dengan tangan dan tatapannya mampu meruntuhkan dunia, bukankah ini lebh berbahaya ?

Perempuan memang harus tetap menyimpannya, dan sekarang aku mengerti apa yang menjadi kolokan-kolokan itu. Apa yang tidak aku terima dari pemikirannya karena aku belum menyentuh kedalamannya. Dan sekarang aku mengerti.

Perempuan mempunyai nilai-nilai tersendiri, nilai-nilai yang menciptakan kehidupan ini tetap abadi, sejarah berulang dengan kecemasannya yang tersendiri pula terhadap perempuan. Darimana novel picisan dan air mata itu lahir ? kesedihan dan gerakan erotisme yang memabukkan. Siapa yang kita harapkan jika nilai itu menghilang.

Dunia akan membosankan, dunia menjadi tidak lagi memiliki kedalaman. Dunia butuh ditaklukkan dengan cara lain yang lebih menyakitkan, lebih mengantam dalam kelembutan. Nuansa tersendiri terbunuh oleh kerling dan lentik jari. Bukankah begitu ?

 Dari dulu sampai sekarang laki-laki memperlakukan perempuan seperti burung-burung yang datang kepadanya dari ketinggian : sebagai sesuatu yang lebih baik, lebih halus, lebih liar, lebih aneh, lebih manis, lebih menggetarkan jiwa—tetapi juga sesuatu yang harus dikurung dan dikunci rapat-rapat agar tidak terbang keluar. #Nietzsche.

“Mereka yang kalah, yang tersiksa dan mencari kawanan”

Gambar

 

Manusia, kesendirian dari ketiadaan. Apa yang harus dicari ?

Manusia, terjebak dalam nilai-nilai yang dibuat berdasarkan ketakutan dan kadang kita dengar sebagai keutamaan. Betapa sial manusia yang terdidik.

Hidup bergantung pada sudut pandang orang, dinilai, menilai, membicarakan dan dibicarakan.

Mengorbankan diri untuk tidak sendiri, menjadi pahit dan munafik.

Kesendirian sudah sangat menyakitkan, sendiri untuk mengenali diri sendiri, menggali, mengeruk hingga berdarahpun tak akan sampai pada ujung pangkalnya.

Siapa yang dapat menghadapi kesepian ini ?

Berpikir, merasa. Dua sumber daya yang paling murni dari manusia untuk menggali kehidupannya, hidupnya. Kesendiriannya.

Dengan keras mereka menjadi hidup, memaknai untuk mendapatkan nilai.

Bukankah pencarian makna memang untuk mendapatkan nilai.

Hidup agar tidak begitu murung, betapa naas jika sudah sesepi ini tanpa ada penghargaan, nilai-nilai.

Hidup agar tidak begitu gelap.

Segelap kematian.

Hidup dan mati bukankah sama-sama gelap? Sama-sama sendiri?

Hingga kegelisahan itu tiba, hidup memang tiada apa-apa selain tiada.

Kematian kalah pamor, digulingkan oleh nilai-nilai licik.

Tenggelam dan tak lagi sama terlihat terang benderang seperti kehidupan itu sendiri.

Atau kegelapan ?

“Siapa yang bisa benar menilai ? tidak ada. Akan kuberikan nilaiku sendiri saja, untukku”

Kematian adalah pulang, menjadi tiada. Kembali menjadi menuju abadi.

Dan sekarang, akan kau dengar lawannya dariku.

Hanya karena beberapa suara, kematian sekarang menjadi begitu hina.

Atau dikemas sedemikian cantik agar tidak terlalu biasa.

Kita harus curiga atas hal ini, ada bau busuk yang menyelingkupi kata manis penuh pesona itu.

Kata-kata manis tentang keabadian yang dipelesetkan.

Ya…kita harus curiga.

Bahwa mereka menginginkan kita, menjadi budaknya.

Menemani ego dalam membungkus kesepiannya, atau kalau kita mau lebih sedikit jujur menilai.

Mereka ingin memanfaatkan kesepian dan kemurungan kita.

Memanfaatkan agar kita mau menjadi sama. Karena dinilai sendirian dan berbeda itu menyiksa.

“Bukankah isi kepala itu berbeda ?”

Mereka menginginkan kita sama, agar sepi dan murung yang makin di hantam oleh nilai-nilai setidaknya hilang, buram dan tidak menusuk.

Mereka-mereka itu yang tidak kuat oleh tatap mata, mereka-mereka yang lemah untuk mendengar.

Mereka-mereka yang tidak pandai untuk mengunci dan hidup di lorong relung hatinya, pikirannya. Hidupnya sendiri.

Mengajak kita, dengan propaganda licik. Mengaburkan fakta tentang kesendirian dan nilai-nilai.

Dan ya, harusnya kau tahu.

Mereka termasuk lihai memainkannya. Lihai melihat dan mendengar.

Mengaburkan dan melemparkan, bahkan menutupi dan memaksa kita untuk lupa, pada realitas kebenaran.

Insting mereka baik dan bagus.

Harus aku akui, bahwa pemikirannya sangat berani.

Nilai-nilai dia gantungkan di angkasa.

Agar tak lagi saling pandang dan tersiksa. Dan mereka tak lagi malu menari, menikmati kesendiriannya. Tanpa tatapan dan omongan.

Atau jika boleh aku berbisik kepadamu dari dalam lorongku yang gelap dan tersembunyi  ini.

“Mereka ingin menjadikan dirimu lebih tersiksa dengan kepalsuan dari kehidupan yang dia kabarkan”

27/02/2014.

EUREKA, Kami Manusia

Kota ini telah lama mati, di tinggal penduduknya untuk bunuh diri.

Sedang mereka yang masih hidup, tak berani menerkam mautnya sendiri. Duduk di ujung-ujung gang buntu sembari meringkuk.

Tak bergerombol, mereka sendiri dalam sinis dan benci.

Kutukan yang melelahkan.

Semua sudah runtuh, remuk dan terburai hilang disapu angin dari barat.

Generasi pertama membangunnya dengan bangga, bersorak EUREKA ! ini lah Manusia.

Lalu generasi kedua mati, saling bunuh membunuh meski masih dalam bentuk jabang.

Dan yang tersisa adalah generasi ketiga.

Generasi yang tersisa tanpa pesan apa-apa dari yang pertama.

Bahkan untuk menyebut diri mereka sebagai manusia.

Meraba Moralitas

GambarBerbicara tentang moralitas, berbicara jauh kebelakang dan kita mencari pada titik mana kita akan sampai dan menemukannya. Menemukan kesepakatan yang diam dan purba itu. Sejarah tidak pernah menuliskannya dengan baik, begitu juga manusia saat ini yang juga tidak bisa mengirisnya dan menelaahnya dengan baik pula.

Moralitas apa lagi yang saya ketahui selain sebuah aturan yang memaksa kita untuk menjadi tidak bahaya bagi masyrakat disekitar. Apa lagi yang saya ketahui selain memaksa saya untuk tidak memandang lebih dan meminta saya untuk menjadi biasa-biasa saja.

Ya moralitas bersifat arogan, seperti hukum-hukum lain yang bersifat kaku dan kasar. Tetapi harusnya ada perbedaan antara hukum dan moralitas, moralitas berada dalam kasta yang lebih tinggi, mereka haruslah lebih lembut dan lebih menyentuh nilai-nilai kemanusiaan, jiwa, daripada berkutat dalam aturan yang kaku.

Apakah moralitas sesuatu yang telah ada bersama dengan adanya manusia ? kriteria bawaan manusia ? membungkus harga diri yang kaku. bukankah para filsuf banyak yang memandang demikian ?

Moralitas terus berkembang dan berbeda-beda disetiap wilayah, ya jika kita menilik pada sejarah, epos dari setiap bagian di belahan dunia ini.

Dalam sejarah kita melihat bahwa “Sejarah moralitas; di masa lalu (era prasejarah). manusia membuat pakaian untuk melindungi tubuhnya dari cuaca yang ekstrem (fungsional). karena kebiasaan yang di ulang2, manusia waktu itu menganggap berpakaian sesuatu keharusan. dan jika melihat seseorang yg tidak berpakaian akan di anggap aneh atau mungkin gila. (bertentangan dg kebiasaan). lah kebiasaan (adat) ini lah yang membentuk moralitas (bkn lagi fungsional melainkan doktrin) ”

Dapatkah disimpulkan bahwa moralitas berangkat dari sebuah kehendak ideal ?

Bisa saja demikian, dan masih ada peluang untuk berkata tidak.

Sebagai contoh dimasa romawi kuno, belas kasihan bukanlah masuk kedalam ukuran moral dan amoral, baik ataupun buruk. Dan lihatlah sekarang tentang belas kasihan, kau melihat bedanya? Heiii siapa bilang ini datang dari Tuhan yang ditanamkan dalam tubuh manusia ? selalu akan ada perpektif-perpektif baru saat kita bicara tentang omong kosong ini.

Baiklah, mari kita berangkat berbicara tentang moralitas dari sebuah tatanan dari keinginan dari pandangan ideal “sepertinya ada bau keadilan didalamnya”, pandangan tentang baik dan benar.

Moralitas menjadi kaku seperti yang saya utarakan, menjadi pengatur “mungkin” karena umpan suatu sistem dominan “Feed set by it self” (setting larangan itu datang dari aturan dominan itu sendiri).

Yang muncul dari penjelasan ini adalah sebuah anekdot lucu “Hukum ada untuk dilanggar” ya, kenapa dilanggar jika moralitas berangkat dari tujuan-tujuan idealnya, membentuk keadilan yang wajar pada tempat dan situasinya.

Seperti hukum yang seharusnya ditetapkan setelah semua hal itu disepakati bersama, bukan memaksakan aturan yang berangkat dari pemaksaan kebenaran.

Dengan kesimpulan bahwa moralitas mengajarkan kita untuk membenci kebebasan yang berlebihan. Dan kau harus patuh, tidak peduli kebebasan kehendakmu sendiri akan kau korbankan.

“pertanyaannya adalah apakah penilaian nilai kita memberikan otoritas lebih besar pada insting, dibandingkan dengan sebuah rasionalitas yang ingin mengetahui bahwa penilaian dan tindakan dibentuk bagi nalar, menurut kelayakan utilitas”

Dan paling buruknya adalah, merasa benar dengan menipu diri sendiri, tidak mampu mengejawantahkan isnting dengan nalar, dan memaksanya berdiri sendiri. Membiarkannya dan membantu membela insting dengan mempekerjakan nalar untuk membelanya.

Seperti dalam kasus agama, yang memandang bahwa keimanan, beriman mencari tuhan adalah sebuah insting, tetapi otoritas nalar menolak hal ini. apa yang akan kau perhatikan dalam hal ini ? kebenaran mana ? insting yang tidak bisa kau ketahui kebenarannya jika diklaim sedemikian itu, isnting yang bukan murni dari otoritas murni.

Ilmu pengetahuan berkembambang dan berperan dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan didalamnya,  membimbing manusia menuju kedalam pemahaman atas proses kognisi dan pengetahuan itu sendiri.

Tetapi naas sekali, perkembangan yang begitu gamblang ini tidak dilihat oleh mereka yang tertutup, tidak memiliki rasa skeptisme, dan terburu-buru berhipotesis bahwa hal demikian itulah kebenaran. Yang tentunya berangkat dari nilai-nilai kelayakan dan kebaikan.

Masih berbicara tentang ke-naasan, untuk melepaskan diri dari ini pun manusia juga tak lagi mudah, ikatan terkecil dalam sosial manusia. Seperti yang dikatakan oleh Nietzsche “Tidak ada Ibu yang dalam hatinya meragukan bahwa dalam diri anaknya dia telah memberikan kelahiran pada sepotong harta milik, dan tidak ada ayah yang mempertentangkan haknya untuk mendidik anak agar tunduk pada konsep-konsep dan penilaian-nya

Melihat bahwa manusia hidup dalam lingkup sosial, seperti yang sudah dijelaskan di atas, maka tidaklah mengherankan jika moral adalah hasil dari kepatuhan-kepatuhan. Manusia dilahirkan dengan membawa kebutuhan untuk patuh. Dan “pendeknya kau harus patuh” ! mereka kaum moralis mengatakan bahwa ini semacam kesadaran moral. Kau harus patuh tanpa banyak bertanya, mengulangi hal-hal tertentu tanpa banyak bertanya, dan pendeknya sekali lagi “KAU HARUS!”

Ya moralitas memaksa menjadikan manusia untuk menjadi biasa-biasa saja, menggiring manusia dalam keseragaman. Para moralis tidak begitu menyukai yang heterogen, mereka lebih menyukai yang homogen, mungkin pikiran mereka akan sakit, mata mereka mudah lelah dengan melihat liak-liuk itu. Bahkan ketidaksenangan itu kemudian dideskritkan dengan kerendahan moral dan kebodohan. Ya tentu saja ini dilakukan untuk kembali menguasai, mengatur dan menjadikan manusia itu biasa-biasa saja. “ora neko-neko”.

Dan inilah yang terjadi hampir dibelahan dunia saat ini, “korban” ketundukan yang dibawa dari kecil, mereka melindungi diri dari pikiran yang mereka mulai anggap buruk dengan membenamkan diri tenggelam dalam penipuan diri sendiri, dan bertindak seakan-akan tindakannya adalah perintah pihak lain (leluhur, undang-undang sistem keadilan bahkan Tuhan). Mereka inilah manusia yang menempatkan diri dalam istilah rakyat jelata, pelayan, atau manusia untuk kebaikan bersama.

Orang-orang seperti inilah orang-orang yang selalu berharap bahwa peperangan dalam dirinya selalu berakhir. Dan orang-orang seperti inilah orang-orang yang paling mudah untuk kau jejali dengan obat pereda nyeri berupa Agama dan bualan-bualan Bullshit lainnya tentang pahala atas pengorbanan diri.

Ya ajaran tentang kebahagiaan yang tenang, kebahagiaan yang ditenangkan, sedang mereka bergejolak tak henti dalam hatinya. Dan hal ini tidak berlaku pada mereka yang berani, cerdik dan mampu melepaskan diri dari kelitan anggapan seperti itu. Mereka akan menjadi orang yang misterius dan tidak akan ada orang yang mampu mengukur kedalamannya. Mereka akan menjadi seorang pemenang. Seperti belantara hutan Amazon, siapa yang dapat menerkanya ?

Dan dalam pandangan kaum moralis kembali, insting-insting yang kuat seperti keinginan untuk berkuasa, berkelana, berpetualang, nafsu seksualitas dan dendam yang sebelumnya dihargai pada masanya, belakangan di olah kembali pandangan terhadapnya karena tidak lagi eksis, karena tidak ada lagi tempat “penyaluran”. maka insting-insting itu dianggap berbahaya dan difitnah menjadi insting yang amoral.  Dan insting yang berkebalikan sekarang mendapatkan tempat yang layak daripadanya.

Perpektif moral sekarang menjadi hakim berbahaya atau tidaknya suatu keadaan emosional, suatu kehendak, ataupun bakat seseorang. Mengerikan. Dan sekarang, segala sesuatu yang dinilai lebih keras dan tegas dari pandangan moralitas berada dalam posisi Jahat!!

Bukankah moral membuat sebagian bahagia dan sebagian lain menjadi tidak bahagia, dan kaum moralis ngotot berteriak bahwa moral adalah kebahagiaan dengan cara malu-malu. “memaksamu untuk merasa malu!”. Kebahagiaan yang sebenarnya dicari oleh kaum moralis untuk mengatasi masalah terhadap dirinya sendiri. Cara untuk menangkal keinginan-keinginan dan konsep-konsep yang berseberangan tentunya dengan penilaian yang baik dan buruk menurut sudut pandang sang moralis itu ! ingin menjadi penguasa, kehendak untuk berkuasa atas kehendak orang lain dengan sudut pandangnya. “menggeneralisir atas apa yang seharusnya tidak boleh digenerlisirkan ! karena ini tentang prinsip kehendak bebas”

Kembali kepada tajuk bahwa moralitas sebagai kegunaan dari kawanan untuk menjaga stabilitas bersama, pandangan dalam upaya untuk mempertahankan masyarakat dengan cara memberantas amoralitas dalam bentuk apapun yang dinilai tampak mengganggu kestabilitasan bersama. Dengan pandangan bahwa moralitas ini berangkat atas pertimbangan kebersamaan, kejujuran, simpati,kemurahan, tolong-menolong, nama-nama yang mulia. Tetapi lihat, mereka bergerak dalam sati golongan yang kepalanya sama dalam memandang moralitas!

Ya, kondisi masyarakat yang tenang ini membuat masyarakat, tidak memiliki keharusan untuk mendidik anak mereka untuk berlaku keras dan kuat. Segala bentuk eksplorasi pemikiran dinilai menjadi hal yang mengganggu ketentraman manusia, berbeda dengan anak domba yang menurut, patuh pada jalan menuju kandang yang telah disediakan dianggap sebagai watak manusia mulia.

Dan berangkat dari inilah, hukuman atas seseorang menjadi begitu dilematis, bagaimana hukuman mati dihadapkan pada seorang koruptor ? hukuman seumur hidup ? semuanya menjadi gejolak tersendiri dan masyrakat buntu akan menjawab hal itu jika disuruh berbicara tentang moralitas untuk melihatnya. Hukuman terlihat menjadi sesuatu yang mengerikan dan menakutkan, tetapi hati mereka kecut pula melihat kesalahan dan petaka yang dilahirkannya.

Mengambil kesimpulan dalam kasus ini menurut opa Nietzsche, “Dengan mengasumsikan bahwa kita sepenuhnya dapat menghapuskan bahaya, dasar dari rasa takut, maka kita dapat menghapuskan moralitas ini juga”

“Kuharap ini tidak menjadi BANGKAI”

CADAVER

(MAYAT ADALAH GURU)

 (Sengaja aku tidak mengeditnya, sengaja aku biarkan apa adanya)

Perjalanan ini adalah awal………dan semuanya pasti berawal…… harus ada alasan atau tidak…..ini telah terjadi……sebuah cerita tentang kemarahan dan ketakjuban…….pada sejarah yang di citakan……pada sejarah yang telah di semayamkan……

 

……………aku sadari……tempat ini lebih panas dari Jogjakarta….”Semarang”, dan lebih tepatnya Banyu manik nama kota itu……benar benar aku merasa gerah akan panasnya…..terkurung di kotak besi bernama angkutan yang seharusnya sudah di buang karena tidak pantasnya…..atau di jadikan tempat tumbuh terumbu karang saja di laut jawa…..walau entah ada calon karang apa tidak karena kotornya limbah…….menyedihkan……

 

3 jam perjalanan dari Jogjakarta bersama alek, sahabatku….dia laki laki sastra,anak UNY…..berwajah manis berambut panjang sebahu…..pecinta sejarah, menikmati bekas lalu karena terdistorsi pemikiran PRAM yang di idolakanya….hemmmm…..terlalu manis dia…..dengan tangan berpena…mencoret kata di kertasnya…..

Dan dengan wanita…ya wanita…….walau kadang tak mau di anggap wanita…..atau wanita pada umumnya…..GANESH….dia perempuanku….gila dan manis Mempunyai talenta dalam teater ku pikir……karena kemahiranya dalam berlakon….menjadi apa saja……entahlah…….dialah DEVIANT…..ya….DEVIANT….

 

Dan dari segi apa yang harus aku lihat untuk pertama kali aku tulis……?

Perjalanan ini terlalu kompleks…………………..

Apakah aku harus bercerita tentang persahabatan aku dengan mereka…..apakah aku akan membahas tentang perasaan ku pada sejarah dan kini….atau aku harus menulis tentang humanisme manusia dan antropologynya……sub urban dan urban…………

Dan apabila kata orang yang mengatakan…..LIVE IS CHOICE……aku akan membenarkan…..semuanya pilihan……tinggal bagaimana kita menjalani pilihan kita……menyesal atau tidak…….itupun juga pilihan perasaan….ya….semuanya pilihan……dan benar…aku harus memilih…..walau tidak memilih pun aku akan tetap di katakan memilih……….

 

Inilah aku yang akan berkata……dengan tulisan

 

Dan inilah yang akan aku jadikan titik awal cerita….

9 MEI 2009………

Jam 1 siang…..melaju di dalam angkutan….memandang asing ibukota jawa tengah…..dengan semarak semua…..semarak wujud dan semarak emosi……aku tak tau lagi…..semua sama saja…..TIMPANG DAN TAK BERATURAN….gedung gedung tinggi yang bersanding rumah kardus……mobil mobil licin dan mewah dengan pengemis di perempatan jalan……dan benar saja…….ke EGOISAN masih meraja……dan aku hanya melihat….baru bisa melihat mereka…..yang terpanggang asap knalpot dari serakah manusia sebangsanya sendiri…..dan ku pikir semuanya benar benar ingin membunuhnya….entah walau itu dengan pandangan mata sinis dan jijik saja…..maaf wanita tua….aku tak bisa berhenti menyapamu memberitahumu……dunia ini sedang sakit……yah…begitu sakitnya…..penuh dengan ulat ulat yang begitu lapar akan kekuasaan…kepuasan…dan segala yang LUXURY……tapi kau tak sendiri wanita tua……aku ada……dan aku percaya……masih banyak lagi aku yang mungkin lebih baik dari aku yang hanya sekedar datang tuk menyapa…….

AngkutaN ini terus melaju…….maaf…….hingga kau hilang……di telan bukit saat aku menikung……kembali……aku cuman bisa diam……..

Perjalanan ini adalah perjalanan renta….yang seperti tujuan kami……ke kota lama yang mungkin juga sudah tua…..PIKUN dan BUTUH TONGKAT UNTUK TETAP DAPAT BERJALAN…..seperti SEJARAH KITA……BEGITU PIKUN…….MENYEBALKAN….!!!!

Pantas cucu sejarah tak bisa jadi pencipta yang baik……..ini semua salah kakek sejarah yang mulai pikun…..hingga cucunya……tak menghiraukanya……( aku terlalu meng JUDGE mungkin…….) “ maaf kakek sejarah……..”

Dan perjalanan pun berlanjut……ke tepian sebuah peninggalan……kota lama…..aku sudah sampai…..di sambut oleh sunyi raksasa raksasa mati yang melapuk……dan di dalamnya……rimbun manusia dekil dan bau……yang hidup dengan geraknya yang haus…..ya…semua terlihat dahaga di kota ini……rasa haus yang mencekik rongga dada……KEBUTUHAN TELAH MEMBUATNYA JADI BEGITU……dan rasa lapar itu……NYARIS SEPERTI BELATUNG YANG ENERGIK…..DI BANGKAI GAJAH SEJARAH…..semuanya terlihat sampah…….dan aku tak dapat memungkiri…..ini adalah kota sejarah……DAN GAJAH BANGKAI INI DULU BERKUASA……TENTU PADA JAMANNYA……..

 

2 pasang mata yang ku lihat binar…….mata ALEX dan mata GANESH……mata mereka tersenyum……ya……….mereka sudah minum…..kehausan sejarah……mereka sudah minum di bangkai itu…….dan itukah yang mereka cari……??!! Menjadi salah satu belatung di kota lama……dengan menelusur di setiap organ organnya…….meniti walau merangkak……..hingga senja mengantarkan nya pada CARDIUM kota lama…….( yang dulu dia berdetak)

………………………..

Pengemis……bukan dia orang gila bila kalian melihatnya……tapi bagiku tidak……..dia tidak gila…..itu pun pilihan seperti kita yang selalu memilih…….kita pun berhak……memilih apa yang akan kita deskripsikan tentang orang….manusia…..

Aku bercakap…….. bertanya pribadi tentang pribadi……mengorek rasa hingga Asa….aku benar…..dia tidak gila…..dia manusia seperti kita……..hanya saja tidak seberuntung kita yang utuh……dia sendirian di rimba ini…….terpisah jauh tanpa sanak……..dan baginya cukup tukang becak yang nanti akan dia bagikan sebungkus wafer…..karena dia punya dua…..pemberianku……atau…..malah aku yang tak seberuntung dia……rasa bebas dan ikhlas hati yang luas…..mampu berbagi di sedih diri…….ketidak egoisan yang menakjubkan……dia mulia…..melebihiku pribadi……walau terbungkus baju kumel yang membau……aku iri……ya….aku benar benar iri………padamu……Bu SUHARTI pad

 

Menghabiskan senja di kolam taman lawang…….kita membahas siang…..membahas sore……dan membahas hidup……yang selalu berujung pada impian dan apa harapan……kita terlalu manusia kah….??

Hemmmm……..aku akan benar benar menikmati ini…..walau aku lebih banyak duduk diam untuk mendengar kalian….2 manusia yang aku sayang…….berceritalah…tentang kalian dan tentang hidup yang kalian tau……aku haus referensi…….untuk menambah konsonan hidup yang kelak akan aku tulis akan aku nyanyikan…..

 

Berceritalah NESH……tentang DEVIANT mu……yang kau agungkan…..yang kau banggakan…..aku ingin mengerti….apakah hidup benar benar sebuah RETORIKA yang penuh dengan keganjilan…….penuh dengan SKRIP SKRIP……yang layak untuk di pilih dan di jalankan..……hingga kita benar benar mengerti karakter di setiap SKRIP itu…..memilihnya untuk berhadapan dengan karakter yang dapat di kalahkan atau yang bisa di sepadankan dengan karakter yang akan di hadapi…..

Atau berceritalah tentang ARSITEK…..tentang rancang bangun……JADIKAN AKU MENGERTI TENTANG bangunan apa ini…bangunan model apa itu……bergaya asia atau eropa…..berbudaya barat apa timur…….untuk apa bangunan ini ADA…biar aku jelas dan mengerti…..aku ada di mana…dan kebudayaan apa yang ada di sekitarku…….biar aku tak salah berbusana biar aku tak salah berkata

hemmmmm……..tapi aku tampaknya kan lebih banyak diam untuk melihat mu memMotret sebuah bangunan….gedung….pasar……dan reruntuhan….tapi jangan kau lupakan……potretlah KEHIDUPAN DAN BINGKAILAH SEJARAH…… biar sejarah tak lagi salah…tak lagi pikun karena dulu belum banyak fotografer yang mau dan jujur untuk membingkai kenyataan Negara ini……..mereka tak begitu berani mereka takut untuk memamerkan karya nyata …. …. mereka takut untuk memamerkan karya nyata kejujuran…..mereka takut berbicara lewat foto…… mereka takut untuk mati

 

dan BERBICARALAH kau LEX…..tentang tulisan tulisan mu…..tentang senjata yang kau katakan lebih ampuh dari NUKLIR…dari BOM ATOM HIROSIMA…. Dimana tulisan dapat membuat orang tergerak bangkit membongkar kebusukan susunan…..menata kembali puing puing pondasi bangunan……..atau membuat kita tahu…..APA BENAR APA ITU SALAH……

menulislah LEX….menulislah tentang sejarah……tak perlu kau takut di kata BERAK hanya karena kau tak menulis ROMAN……tak MENULIS UNTUK PASAR………

tulislah tentang coret coret kebodohan di dinding sejarah…..

tulislah tentang hilangnya rasa penghargaan tehadap PAHLAWAN….

Tulislah tentang apa itu rasa juang…..

Tulislah tentang sejarah yang hanya pantas untuk di bukukan….di simpan di rak lemari paling belakang……..

berbicaralah tentang SEDIHmu lewat tulisan tulisan mu …..soal KEBANGKRUTAN MORAL yang semakin jauh dari KAYA……

TULISLAH TENTANG KEMEROSOTAN RASA….yang hidup berkiblat pada PUSAR mereka sendiri……yang hidup begitu EGOIS…..begitu angkuh untuk melihat kebawah……

TULISLAH tentang pendidikan yang jauh dari pola kependidikan….pendidikan yang telah di jadikan KOMODITAS DAGANG….di mana ORANG MISKIN TAK BOLEH SEKOLAH……tak boleh mengenyam pendidikan….cihh……Negara ini tak sama buruknya dengan masa KOLONIAL ……..

atau TULISLAH kisah ROMAN PATAH HATI…..tentang CINTA yang tak SELALU INDAH SEPERTI ROMEO DAN JULIET yang di sindir GIE sebagai ROMAN yang terlalu IDEALIS………

atau tentang SITI NURBAYA …….yang begitu KOMERSIIL…..

ahh….CINTA…….kasihan kau…….telah di rubah wujud oleh televisi…hingga mereka bersarafkan kabel kabel elektronik…..semuanya harus di kalkulasi untung rugi…..

PEMBERHALAAN WANITA DARI PADA TUHAN……dan TUHAN PASTI IRI…..KALAH OLEH SELANGKANGAN WANITA YANG DIA CIPTAKAN SENDIRI………..

Atau tulislah PUISI TENTANG KEMEROSOTAN JAMAN INI…..di mana HUKUM RIMBA KEMBALI MENJADI PEMBENAR……untuk semakin menindas yang tak bisa apa apa……menulisah…..sampai semua tahu…….DUNIA INI SUDAH TIDAK TERLALU BERWUJUD RIMBA….karena pohon sudah termakan gergaji gergaji lapar…..

 

Biar senja menghilang…….biar, kita masih di sini……duduk diam di tepi kolam hijau yang tak lagi berwarna hijau….. termakan oleh malam, menikmati refleksi cahaya lampu taman di bayang air…..menikmati hembus angin yang menebarkan aroma ketiak kita……bau mulut kita…….

Atau menikmati waktu…….yang dengan begitu ajaib membawa kita duduk…..untuk menikmati detik…….

Dan kita masih bertiga……duduk tersenyum……..mentertawai kebahagiaan kita…..yang di cipta dari hal sederhana……tidak butuh harga…..karena kebahagiaan bukan dari mata……tapi dari hati….walau tak ku pungkiri…..MATA ADALAH JENDELA DIRI……mengertikah kita….??

 

Mari sayang…….

Sudah saatnya kita berjalan……..

Meniti malam di bangkai ini……meniti jalan untuk rebahkan badan……mencari serambi untuk rehat kan diri……

Jalan ini begitu baru bagi kita…….begitu asing menerima langkah kita…….tak apa…..semuanya akan jadi biasa saja……… seperti kita yang dulunya juga tak saling mengenal……..saling mengerti…….hanya waktu yang di butuhkan…….

Hemmmmmm…….. ingatkah ……ada cerita tetang sandal jepit yang putus…..?? ada mata yang kemasukan serangga……dan ada sedikit cemburu tentang nama apotik….?? Dan ingatkah juga tentang gerimis yang membuat kita berlari di bawahnya……mencari teduh yang ada……dan kita tak mengeluh, walau akhirnya tak bisa berteduh tuk bersimpuh……..

Ahhhh……kalian begitu manis……..kalian begitu manusia……aku merasa kaya bersama kalian…..ya…..kita bebas dan merdeka………( dalam malam ini )

 

Penginpan yang berdiri di sudut pasar johar….di gorongorong jalan……PROSTITUSI……berjantung MASJID tua……hemmm….kita mendapatkan tempat berteduh teman…….untuk mencuci badan….mengosok gigi yang mulai licin oleh sisa cerna saliva……meluruskan vertebra yang mulai spasme oleh over use yang tak terbiasa………istirahatlah…….

HOTEL ini tak terlalu buruk…..tak begitu istimewa dengan megah nya…..atau……… wujud………….sederhana……………” SAHARA “…..dengan sambutan cermin di setiap dinding nya……menampakkan rupa belum bercermin sehari….TAK BEGITU KUMEL TERNYATA…hanya SAYU…lelah mungkin….??

Dan ku harap akan ada cerita indah di dalam nya……cerita tentang kita yang berada dalam satu atap di kota orang……cerita tentang kita yang mulai wangi lagi….hah..?? aku berkata kita wangi…?? Aneh….kita selalu kumel dan mendamba KECUT…..ANJING KITA MEMANG……..HAHAHAHAHA

Dan……mulai lah……

Kita melombakan bercerita…… setelah semua kebutuhan konyol selesai……ya…kita kan berlomba……tentang cerita paling sedih…cerita siapa yang paling bikin kita merasa iba…..( bukan kah ini permainan subjektif…?) dengan pemenang mendapat kuasa atas sebotol AIR MINERAL…..( meniru di RECTO VERSO mungkin…… hanya saja ini sebotol MINERAL bukan PILIHAN…… dan kita tak benar benar pintar dalam bercerita…payah….hemmmmm……)

GANESH….pertama dia yang bercerita…..tentang rasa yang begitu membingungkan….tentang penyesalan…tentang pembangkangan…..tentang tak ada rasa hormat kepada orang tua ( hanya karena membela orang yang salah dia kata…orang yang tak pantas dia bela seharusnya…..tapi KEBODOHAN PERASAAN hanya karena CINTA….memang menyebalkan….memuakkan…..CINTA yang membodohi…..siapa yang pantas di salahkan..?? CINTA apa yang tak mengerti CINTA…??)…..yang pada akhirnya…..berbuah MANIS….dia menjadi begitu dekat dengan orang yang dia SAYANG begitu dekat dengan orang yang ternyata lebih mengerti dia….orang yang benar benar MENCINTAI tanpa PAMRIH….ORANG YANG BENAR BENAR SAYANG PADA DIA….” AYAH ”

Dan……ALEX menanggapi itu sebagai kisah yang bagus…kisah yang INDAH…tentang ENDING yang MANIS pula….dan tak jauh berbeda dengan ALEX….aku mengAMINI kata kata ALEX…..

Tiba giliran ALEX……yang ku menangkan lewat cara undian jari…..( SUIT ) aku yang paling akhir bercerita…biar ALEX dulu yang bercerita…….

Ku simpulkan saja…….” Ini tentang cerita kepada sebuah pengalaman kehilangan sebuah teman…bukan..!!! bukan teman tapi SAHABAT…..ya…SAHABAT…yang sering menemaninya bermain dari kecil…..bermain di atap sebuah mobil PICK UP….bermain layak nya jagoan yangmenaiki kendaraan bajanya…..yang pada akhirnya…..berakhir di DALAM IRING IRINGAN kendaraan tersebut…..KENANGAN AWAL AKHIR yang manis……kehilangan PERSAHABATAN…?? TIDAK..!! hanya materi saja yang hilang…sedang esensi tetap ABADI……ku beri saja judul pada cerita ALEX…..” KEHILANGAN YANG TERMANIS ”

Dan tiba sekarang giliran ku……hemmmm……aku yang paling payah……aku yang paling tak bisa bercerita….aku terlalu EMOSIONAL….dan tak pandai dalam meruntutkan ALUR……DAN PANTAS SAJA AKU TAK MENANG….hehehehehe….hufff……tak perlu ku tulis cerita ku….tak begitu menarik…dan tak begitu sedih……hanya tentang termos es yang ku anggap KULKAS saja……hahahahahahaha……dan CUKUP 2 orang yang ku SAYANG saja yang aku tulis ceritanya……….

Dan tiba untuk menentukan pemenang……tentunya takkan begitu sulit untuk menentukan…..dan benar saja…..GANESHLAH yang menang……ya…si PANDAI ITU…SI DEWA PENDIDIKAN ITU pemenangnya…..dan AIR MINERAL BENAR BENAR jadi miliknya sekarang…….

Lomba membacakan PUISI pun tak jauh berbeda…atau malah tetap sama…..GANESH yang menang……dengan bakan dan penjiwaan yang KEREN…..aku iri tak sepintar dia…….

Dan biar malam terus berjalan…….membawa kita pada duduk…..membawa kita pada cerita baru….tentang REKAYASA…..huf.mengerikan ku pikir…….sebuah sandiwara yang begitu keren….dan benar benar membuatku tertawa……aku begitu sebal kalian buat………TAI…..!!!!!!!

 

……………………………….

 

Kamu ingin aku kan……………………………

KECUP…………..

JILAT………….

SEDIKIT GIGIT………….

Biar MENDERU………..dan MELAJU…………..

 

RIBUAN PELUK…………….. Biar ada PELUH……………biar ada PEJUH………….sedikit DENGUS yang berakhir seperti INGUS…………….

 

AKHHHHHH……………………!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

…………………………………happy birthday Bi…………………………………………..

Aku cuman tersenyum……terlalu bodoh untuk ENDING………………..

 

menjelang pagi…………………

ATHEIS yang takut HANTU………………………anjing………..huhuhuhuhuhuhu

Korsa apa korsa…….??

Ahh………………semoga tak ada polisi……………………..

 

PAGI…………….

Membuka mata dan melihat kalian bercakap cakap tentang penjual sayur………tentang PERSAINGAN………huuffffttttt…….ini hidup yang keras………

Penjual sayur tua yang tersendiri dengan sebungkus nasi yang mungkin hanya untuk satu hari…..dan air mulai membasahi jalan gorong…….kita di atas……melihat saja……sambil memikirkan planning ke LAWANG SEWU yang gagal……..kita tidak basah……….cuman bisa melihat saja lagi……….melihat saja……….

Hingga reda sudah hujan pagi ini………..kita mau kemana….?? “ PULANG “

 

( SEMARANG 10 MEI 2009 )

 

 MENIKMATI INI SEMUA

GambarGambarGambarGambarz