Aku, Bunuh Diri

Apa yang menarik dari hidup ini. Tidak ada, semua tampak datar dan membosankan. Semua sama dengan segala permasalahan. Jika kau sudah tahu jawabannya, kau akan segera mengerti bahwa hidup ini adalah kosong. Tidak ada sama sekali.

Lalu aku harus memilih mengisi tentang kebebasan yang tidak ada. Seperti kata orang besar yang menampar dunia. Manusia terpenjara oleh kebebasannya sendiri. Dan bunuh diri adalah jawaban yang terbaik untuk hidup. Ketiadaan hidup.

Jauhilah filsafat, jauhilah kenyataan yang akan menyeretmu kedalam keheningan hidup. Dunia ini tidak ada sama sekali. Maka benar, kehidupan yang abadi adalah kematian itu sendiri.

Bukankah kita akan menjadi gamang dengan kenyataan yang aku sebutkan. Lalu apa makna yang harus kita berikan. Menciptakan makna atau menenukan makna dalam ketiadaan. Aku rasa, manusia haruslah menciptakan makna disetiap hidupnya, menciptakan nilai yang harus dipegangnya sendiri.

Bunuh diri secara filsofis ? menarik bukan.

images (17)

Saya Setuju Penghapusan Kolom Agama di KTP, Kenapa ?

penghapusan kolom agama di KTP

Penghapusan kolom agama di KTP menjadi isu yang sedang hangat diperbincangkan selain persoalan pengangkatan Gubernur oleh koalisi Merah Putih. Penghapusan kolom agama di KTP dijanjikan oleh Capres dan Cawapres terpilih Jokowi-JK lewat Musda Mulia yang merupakan salah satu anggota pemenangan. Dikutip dari Kompas pada tanggal 18 Juni 2014, Musda Mulia berkata bahwa adanya kolom agama di KTP hanya membuat banyak penyalah gunaan. Dan dengan tema yang diusung oleh Pemerintahan baru yang ingin menjunjung kebebasan beragama dan kelompok minor di Indonesia.

Beberapa reaksi baik pro dan kontra dalam penghapusan kolom agama di KTP muncul di jejaring sosial, banyak yang tidak setuju dengan adanya wacana untuk menghapuskan kolom agama di KTP, meski dalam perkembangannya berita tentang adanya berita wacana penghapusan KTP oleh capres terpilih Jokowi dibantah sendiri oleh Jokowi yang mengatakan bahwa itu isu yang tidak benar.

Lalu seberapa penting kolom agama dalam KTP berguna? Mari kita ambil dari kedua sisi dan melihat secara objektif. Beberapa komentar banyak yang mengatakan bahwa adanya kolom agama di KTP akan membantu dalam urusan perkawinan, sehingga bisa diminimalisir untuk terjadi suatu pernikahan beda agama. Mengurus jenazah, jika tidak ada keluarga yang datang untuk mengebumikan. Atau ada yang beranggapan bahwa agama adalah identitas, sesuatu yang melekat dan harus ada, tercatat dan terbuka, dan tentunya masih banyak hal lain lagi yang bisa menjadi pertimbangan kenapa kolom agama di KTP haruslah masih dipertahankan, mungkin jika saudara tahu bisa memberikan tambahan tersendiri nanti di komentar.

Selanjutnya, tentang penghapusan kolom agama di KTP, mari kita lihat manfaatnya. Manfaat menurut mereka yang setuju dengan adanya penghapusan kolom agama di KTP berpikir akan mengurangi konflik antar agama, diskriminasi agama, dan terlebih agama adalah urusan personal setiap manusia. Dan menurut Musda bahwa keterangan agama cukup dituliskan di pusat data kependudukan saja. Dan tentunya mungkin, masih banyak hal positif lain yang bisa dipetik dari manfaat adanya penghapusan kolom agama di KTP yang bisa anda tambahkan di dalam komentar.

Nada-nada berbau sekuler, pluralisme, dan komunis menjadi cap yang layak untuk mereka yang mendukung dengan wacana penghapusan kolom agama di KTP. Mungkin memang demikian, atau mungkin sebaliknya. Baiklah, mari kita bermain-main dengan memutar balikkan keadaan jika saya menjadi orang yang beragama dan setuju dengan adanya penghapusan kolom agama di KTP.

Dengan penghapusan kolom KTP di agama, apakah benar akan menghapuskan identitas keagamaan seseorang? Saya akan jawab tidak. Dengan adanya penghapusan kolom agama di KTP akan merangsang saya untuk menunjukkan bahwa tindakan dan perilaku saya mencerminkan agama saya. Pengapusan agama di KTP mendorong saya untuk tidak menjadi “Islam KTP” atau mungkin juga untuk agama lain, bahwa agama hanya cukup ada di KTP.

Untuk kematian jika datang kepada saya jika tidak ada orang yang datang dari pihak keluarga saya dan mengharuskan saya harus dikebumikan segera. Meskipun tidak ada keluarga yang dekat dengan saya pada waktu kematian saya, setidaknya pakaian yang saya kenakan, ciri-ciri khas saya sebagai muslim, dari pakaian, peci, jilbab, jidat hitam, jenggot, sudah mencerminkan bahwa saya seorang muslim, kalaupun tidak, orang yang kenal dengan saya setidaknya akan mengenali saya jika saya rajin beribadah ke masjid. Kita semakin tahu, semakin mengenal jika kita sering rajin datang ke tempat-tempat ibadah. Meskipun itu cara paling sederhana selain melaui catatan kependudukan seperti yang sudah diterangkan sebelumnya oleh Musda.

Perihal persoalan pernikahan beda agama? Menurut saya lelucon apa lagi ini? Apakah pernikahan semudah itu sehingga seseorang bebas dan dengan cepat memilih calon pendamping hidupnya. Jika yang menjadi alasan adalah penipuan, seseorang yang mengaku berkata bahwa misal dia adalah seorang Kristen dan mengaku Islam hanya untuk menikahi seorang perempuan. Apakah benar bodoh sang perempuan sehingga tidak melihat tindakan laki-laki dalam beribadah, cara dia memahami dan menunjukkan kepada sang perempuan tentang agama Islam. Bukankah haruslah dicek terlebih dahulu, bagaimana sholatnya, ibadahnya, baca Al-Quran dan sebagainya yang berkait dengan keagamaan. Atau sebaliknya, siapa yang tahu keimanan saya, saya sholat, saya puasa, saya pandai pula membaca Al-Quran dan didukung dengan kolom agama di KTP saya yang bertuliskan Islam. Tetapi dalam hati sebenarnya saya tidak mengakui adanya Tuhan. Siapa yang tahu, dan kemudian saya menikahi wanita muslimah. Tentu ini tidak menjadi soal bukan. Karena yang terpenting kolom agama saya. Atau keimanan saya menurut anda? Dan siapa yang tahu.

Penghapusan kolom agama menghilangkan konflik, diskriminasi. Meskipun saya berharap tidak perlu sampai kejadian seperti ini ada. Bukankah kita berhak memilih untuk beragama apapun, mempunyai kepercayaan sendiri. Jika kita menilik kasus Poso dan Ambon, atau konflik lain yang berbau SARA. Tentu penghapusan kolom agama akan memberikan ruang lebih untuk megurangi terjadinya pengurangan adanya korban kekerasan atas nama agama.

Dan yang terakhir, sesuatu yang lucu yang dilontarkan mereka yang mendukung dengan masih perlu adanya kolom agama di KTP, bahwa penghapusan KTP akan menghapus identitas keagamaan seseorang, ini bagi saya adalah lelucon terindah. Mari kita balik analoginya, apakah identitas sebegitu murahnya, dan sebegitu ambigunya. Anggap saya seorang yang memiliki KTP beragama Islam, tetapi dalam keseharian saya, saya selalu berdialog dan berkata bahwa Tuhan tidak ada, semua agama adalah omong kosong. Mereka serta merta mencap saya sebagai Ateis, meskipun didalam KTP saya masih tertera agama Islam. Identitas saya dimata orang terdekat saya menjadi seorang Ateis. Lalu bagaimana dengan mereka yang ketakutan kehilangan identitas, bisakah anda menangkap analoginya. Seberapa konyol bangsa kita menyandarkan sebuah identitas hanya kepada secarik kertas. Bukan kepada sikap, tindakan dan perilaku. Identitas adalah apa yang kita kerjakan, penyematan identitas itu lahir sendirinya semua yang kita kerjakan. Bukan sekedar dituliskan dalam kolom KTP.  Yang hanya akan membuat orang menjadi pemeluk tulisan sebuah agama di KTP.

Saya sendiri secara pribadi memang mendukung adanya penghapusan kolom agama di KTP, terserah memandang saya sebagai Ateis, Pluralisme kebablasan, atau komunis seperti mereka yang bercerita tentang awal susahnya perjuanagan pentingnya ada kolom agama di KTP.

Semoga menjadi bahan perenungan dan bahan diskusi yang menarik untuk kita semua.

BUNUH

yan-pei-ming-gadahfis-corpse-620x444

Kutikamkan saja belati itu tepat pada jantungnya, meski darahnya muncrat tepat di wajahku. Aku tidak peduli. Apa naas, dia memang harus menerima ini. Pembalasanku, pembalasan atas semua yang telah dia lakukan kepada aku. Hidupku.

Aku melakukannya berkali-kali hingga dia tidak lagi bergerak, atau sedikitpun tak terdengar suaranya yang mengerang. Tenggorokannya sudah tak dilalui udara, nafas terakhirnya berakhir bersamaan dengan tikamanku ke dua belas. Dadanya hambir jebol, koyak oleh banyaknya tikamanku.

Aku tak merasai jijik ataupun takut, semua terasa datar dan biasa saja. Malah aku rasai kegembiraan, kepuasan dan orgasme batin. Aku menang dan aku berhasil menghabisi laki-laki itu.

Sore belum mulai genap, langit orange dengan mendung disebelah barat menutup matahari. Lumpur menempel diseluruh badanku, sisa pergumulan dengan bajingan yang ternyata tidak begitu kokoh seperti yang kutakutkan sebelumnya. Wajahnya yang garangpun juga tak lagi tampak saat aku menghardiknya. Saat sendiri aku rasai dia tak lebih dari seorang pecundang. Tapi siapa peduli. Dia harus mati hari ini. ditanganku, ya ditanganku.

Kurebahkan badanku di gundukan tanah, sesaat setelah mayat bangsat itu aku dorong dengan tangan dan kakiku karena menindih tubuhku. Kuraba rokok yang aku selipkan disaku kantong baju, tidak ada. Mungkin jatuh saat bergumul tadi, saat aku terjerambah karena tendangannya.

“Sial” batinku. Sebungkus rokok yang baru saja aku beli harus lenyap karenanya. Kupandangi samping kanan dan kiri, terlebih bekas pijakan saat aku jatuh aku amati dengan seksama dari yang lainnya. Siapa tahu memang benar terjatuh saat aku ditendangnya. Tidak ada. Tidak ada sama sekali. Mungkin tertindih lumpur, atau terinjak dan basah masuk kedalam kubangan air. Aku malas mencarinya. Toh rokok yang aku harapkan akan mampu mengusir bau anyir yang aku takuti ternyata tak kubutuhkan pula. Aku tak merasa mual oleh bau darah si bangsat itu. Dan aku tidak terlalu gugup. Aku biasa saja, atau mungkin memang menikmatinya.

Aku tersenyum. Belati ku masih menancap didadanya, warnanya kemerahan, darahnya memantulkan cahaya samar jingga. Gradasi warna yang menarik. Dan aku masih malas untuk beranjak, aku tidak peduli kalau-kalau ada orang yang lewat. Balik dari ladangnya untuk pulang karena sebentar lagi malam. Aku benar-benar tidak peduli.

Kau ingin tahu siapa yang aku bunuh ini ?

Sebentar, aku tidak mau buru-buru. Mungkin kau akan megira bahwa aku laki-laki pula disini. Aku perempuan. Dan mungkin sekarang pikiranmu akan sedikit menerka lagi, alasan kenapa begitu banyak tikaman yang harus aku sematkan untuk membunuhnya, mengoyak jantungnya. Mungkin kau akan mengira bahwa aku membunuh si bangsat itu karena dia memperkosaku. Atau membunuh keluargaku, suamiku? ayahku atau ibuku? Atau anakku ? sabarlah sebentar, aku masih lelah untuk bercerita soal kisah yang menjadikan aku begitu berhasrat membunuhnya. Akan cukup panjang nantinya, dan saat ini tak ada air yang bisa kuminum. Tenggorokanku benar-benar kering.

Langit sudah tak bercahaya, mari kita pergi. Biarkan saja mayat si bangsat ini tergeletak disini dengan belatiku. Nanti malam atau besok pasti juga bakalan ada yang menemukannya. Penduduk kampungnya masih suka mencari, toh ini juga jalan menuju ke ladangnya, orang yang mencarinya tentu akan melewati jalan ini. bukankah begitu ? tidak begitu sulit.

“bantu aku berdiri”

Kau tidak mau ? takut oleh darah yang mulai kering ini ? kau takut akan tertular dosa ? dosa tidak menular, atau menurun seperti agama.

Baiklah, tak masalah.

Aku mengerti, kau masih jijik dengan hal ini. mungkin kau hanya belum terbiasa saja, meski aku juga begitu. Ini pengalaman pertamaku. Ternyata tidak begitu mengerikan seperti yang aku bayangkan. Bahkan aku tidak peduli lagi pada rokok yang aku telah persiapkan untuk melawan gelisahku. Lihatlah, aku tetap tersenyum dari tadi. Kecuali saat aku terlempar oleh tendangannya yang pas di ulu hati. benar-benar ngilu kalau kau tahu. Aku sarankan, kau harus hati-hati dengan itu jika suatu kali kau berkelahi. Rasanya benar-benar membuatmu penuh, seperti diremas oleh tangan tangan raksasa.

Tak perlu terus melihatku seperti itu, aku masih manusia sama sepertimu.

Nanti kita akan berbicara setibanya di rumahku. Dan aku tidak akan membunuhmu. Dan kau cukup tahu itu.

Aku melangkah, dan aku berharap bayanganku jatuh diwajahnya. Tetapi tidak. Gelap lebih hebat dari bayanganku.

Buku-Buku Terlarang di Indonesia

bannedbooks-200x200

Sejujurnya, sebagian dari buku-buku dibawah ini belum saya lihat bentuk wujudnya, apalagi pernah membacanya, apalagi sempat memahaminya, apalagi sampai memilikinya. Tapi, inilah daftar buku-buku yang dilarang di Indonesia itu:
1.Pramoedya Ananta Toer, Hoakiau di Indonesia, dilarang oleh penguasa militer pada 1959
2.Sabar Anantaguna, Yang Bertanahair tapi Tak Bertanah, dilarang oleh penguasa militer
3.Mohammad Hatta, Demokrasi Kita, dilarang oleh penguasa militer pada 1960
4.Agam Wispi, Yang Tak Terbungkamkan, dilarang oleh penguasa militer pada 19 Juli 1961
5.Agam Wispi, Matinya Seorang Petani (Djakarta: Bagian Penerbitan Lekra, 1961), dilarang oleh penguasa militer pada 1961
6.Soepardo S.H. dkk., Manusia dan Masyarakat Baru Indonesia, dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
7.Pramoedya Ananta Toer, Keluarga Gerilya, dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
8.Pramoedya Ananta Toer, Perburuan, dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
9.Pramoedya Ananta Toer, Mereka yang Dilumpuhkan, dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
10.Utuy Tatang Sontani, Awal dan Mira, dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
11.Utuy Tatang Sontani, Tambera, dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
12.Rivai Apin, Tiga Menguak Takdir, dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
13.Rukiah, Kejatuhan dan Hati, dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
14.Rijono Pratikto, Api dan Cerita-cerita Pendek Lainnya, dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
15.Panitia Penyusunan Lagu Sekolah, Jawatan Kebudayaan, Nyanyian untuk Sekolah Rakyat, dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
16.Sobron Aidit, Pulang Bertempur (Djakarta: Lekra, 1959), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
17.Sobron Aidit, Derap Revolusi (Djakarta, 1962), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
18.Joebaar Ajoeb, Siti Djamilah (Djakarta: Lekra, 1960), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
19.Klara Akustia (A.S. Dharta, Jogaswara), Rangsang Detik (Djakarta: Pembaruan, 1957), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
20.S. Anantaguna, Jang bertanahair tapi tidak bertanah (Djakarta: Lekra, 1962), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
21.Hr. Bandaharo (Banda Harahap), Sarinah dan Aku (Medan: Central Courant, t.t.), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
22.Hr. Bandaharo, Dari Bumi Merah (Djakarta: Pembaruan, 1963), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
23.Hr. Bandaharo, Dari Daerah Kehadiran Lapar dan Kasih (Djakarta: Pembaruan, 1958), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
24.Hadi, Dipersimpangan djalan (Djakarta: Purwoko, t.t.), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
25.Hadi, Jang djatuh dan jang Tumbuh, dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
26.Hadi Sumodanukusumo, Tanah Tersajang (SPD Lekra Djatim, 1963), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
27.Rijono Pratikto, Api (Djakarta: BP, 1951), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
28.Rijono Pratikto, Si Rangka (Djakarta: Pembangunan, 1958), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
29.F.L. Risakotta, Penjair dan Perdamaian (Djakarta: Komite Perdamaian, 1959), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
30.S. Rukiah, Kedjatuhan dan Hati (Djakarta: BP, 1950), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
31.S. Rukiah, Tandus (Djakarta: BP, 1950), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
32.S. Rukiah, Kisah Perdjalanan Si Apin (Djakarta: Grafika, t.t.), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
33.S. Rukiah, Djaka Tingkir (Djakarta: BP, 1962), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
34.S. Rukiah, Teuku Hasan Djohan Pahlawan (Djakarta: Grafika, 1957), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
35.Rumambi dkk., Bukit 1211 (Djakarta: Lekra, 1959), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
36.Bakri Siregar, Djedjak Langkah (Djakarta: BP, 1954), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
37.Bakri Siregar, Saidjah dan Adinda (Medan: Sastrawan, 1954) (disadur dari karangan Multatuli), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
38.Bakri Siregar, Tjeramah Sastra (Medan: Pustaka Bali, 1952), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
39.Bakri Siregar, Sedjarah Kesusastraan Indonesia Modern (Djakarta: Akademi Sastra dan Bahasa Multatuli, 1964), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
40.Sugiarti Siswadi, Sorga Dibumi (Djakarta: Lekra, 1960), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
41.Sobsi, Pita Merah (Djakarta: Dewan Nasional Sobsi, 1959), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
42.Utuy T. Sontani, Suling (Djakarta: BP, 1948), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
43.Utuy T. Sontani, Bunga Rumah Makan (Djakarta: BP, 1949), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
44.Utuy T. Sontani, Orang-orang Sial (Djakarta: BP, 1951), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
45.Utuy T. Sontani, Si Kabajan (Djakarta: Lekra, 1959), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
46.Utuy T. Sontani, Sang Kuriang (Djakarta: BP, 1959) (Bahasa Indonesia), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
47.Utuy T. Sontani, Manusia Kota (Djakarta: BP, 1961), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
48.Utuy T. Sontani, Sang Kuriang (Djakarta: …. 1959), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
49.Utuy T. Sontani, Selamat Djalan Anak Kufur! (Djakarta: BP, 1963), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
50.Utuy T. Sontani, Si Sapar (Djakarta: Sadar, 1964), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
51.Utuy T. Sontani, Si Kampeng (Djakarta: Sadar, 1965), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
52.Pramoedya Ananta Toer, Subuh (Djakarta: Pembangunan, 1950), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
53.Pramoedya Ananta Toer, Pertjikan Revolusi (Djakarta: Gapura, 1950), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
54.Pramoedya Ananta Toer, Keluarga Gerilja (Djakarta: Gapura, 1950), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
55.Pramoedya Ananta Toer, Mereka Jang Dilumpuhkan (Djakarta: Pembangunan, 1950), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
56.Pramoedya Ananta Toer, Ditepi Kali Bekasi (Djakarta: BP, 1951), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
57.Pramoedya Ananta Toer, Bukan Pasar Malam (Djakarta: Gapura, 1951), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
58.Pramoedya Ananta Toer, Tjerita Dari Blora (Djakarta: BP, 1952), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
59.Pramoedya Ananta Toer, Midah si Manis Bergigi Emas (Djakarta: Nusantara, 1952), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol.(Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
60.Pramoedya Ananta Toer, Korupsi (Bukittinggi: Nusantara, 1961), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M.Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
61.Pramoedya Ananta Toer, Gulat di Djakarta (Djakarta: Duta, 1952), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M.Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
62.Pramoedya Ananta Toer, Tjerita dari Djakarta (Djakarta: Grafika, 1957), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M.Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
63.Pramoedya Ananta Toer, Sekali Peristiwa di Banten Selatan (Djakarta: Djwt. Penempatan Tenaga, Kem. PUT, t.t.), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
64.Pramoedya Ananta Toer, Tjerita Tjalon Arang (Djakarta: BP, 1957), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M.Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
65.Pramoedya Ananta Toer, Panggil Aku Kartini Sadja, djilid I (Bukittinggi-Djakarta: Nusantara, 1962), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
66.Pramoedya Ananta Toer, Panggil Aku Kartini Sadja, djilid II (Bukittinggi-Djakarta: Nusantara, 1962), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
67.Pramoedya Ananta Toer, Hoakiau di Indonesia, dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
68.Agam Wispi, Matinja Seorang Petani (Djakarta: Lekra, 1962), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
69.Agam Wispi, Sahabat (Djakarta: Lekra, 1959), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
70.Agam Wispi, Nasi dan Melati, dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
71.Agam Wispi, Jang Tak Terbungkamkan, dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
72.Zubir A.A., Lagu Subuh (Djakarta: Pembaruan), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965.
73.174 judul buku dan majalah dalam dan luar negeri, dilarang oleh Tim Pelaksana/Pengawasan Larangan Ajaran Komunisme/Marxisme-Leninisme DKI Jaya pada Maret 1967 – diantaranya:
a.Sobron Aidit, Pulang Bertempur (Jakarta: Lekra, 1955)
b.Anton Pavlovic Chekov, Pertaruhan (Jakarta: Lekra, 1960)
c.Alexandra Sahia, Pemberontakan di Pelabuhan (Jakarta: 1960)
d.Rumambi, Bukit 1211 (Jakarta: Lekra, 1959)
e.Sugiarti Siswadi, Sorga di Bumi (Jakarta: Lekra, 1960)
f.Utuy Tatang Sontani, Manusia Kota (Jakarta: Balai Pustaka, 1960)
g.Tjan Tju Som, Sarjana Sastra dan Pembangunan Kebudayaan Nasional (Jakarta: Lekra, 1961)
h.Tji Po, Pengejaran di Padang Salju (Jakarta: Lekra, 1960) – 3 jilid
i.Pramoedya Ananta Toer, Mereka yang Dilumpuhkan (Jakarta: Balai Pustaka) – 2 jilid
j.Nikolalenkov Vaptsarov, Lagu Manusia (Jakarta: Lekra, 1959)
k.Agam Wispi, Dinasti 650 Juta (Jakarta: Lekra, 1961)
l.Agam Wispi, Sahabat (Jakarta: Lekra, 1959)
m.Zubir A.A., Api ’26 (Jakarta: Pembaruan, 1961)
n.23 majalah
74.Buku-buku beraksara Cina
75.Funk and Wagnalls Standard Reference Encyclopedia, dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1969
76.Sum Kuning, disegel oleh Kejaksaan Tinggi Yogyakarta pada Maret 1971
77.Zakaria Asawor, Ik ben een Papua, dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1971
78.Kim Byong Sik, Modern Korea (NY: International Publisher), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1971
79.Klimovich, Al Islam Nusjuu’uhu Wa Mustaqbahulu (1968, dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1971
80.Slamet Muljana, Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara (Jakarta: Bharata, 1968), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1971.
81.Muhyidinow, Al Qur-an Aqidatuhu Wata’limatuhu, dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1973.
82.Abnar R. Romli, Orang-orang yang Terhormat (Bandung: PT Sanggabuana, 1974), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1974
83.Jusuf Roni, Risalah Pengakuan Jusuf Roni, dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1974
84.Desmond Stevan, et al., Early Islam (Time Life International), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1975
85.Buku Putih Perjuangan Mahasiswa 1978 (Bandung: Dewan Mahasiswa ITB, 1978), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1978
86.Kenneth Cragg, Azan Panggilan dari Menara Mesjid (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1973), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1978
87.M. Nur Idris, H. M. Bakry, Zuber Usman, Mimbar Djum’at (Jakarta: Wijaya, 1978), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1978
88.Indonesia Berjuang (Luar Negeri: Gerakan Patriot Indonesia), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1978
89.Marhaen Menang, dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1978
90.Brian May, Indonesian Tragedy (London: Cambridge University Press), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1978
91.H. M. Rasjidi, Sekali Lagi Umat Islam Indonesia Menghadapi Persimpangan Jalan (Jakarta: Sinar Hudaya), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1978
92.W. F. Wertheim, Hubungan Suharto dan Kup-Untung: Sebuah Rantai yang Hilang, dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1978
93.Christianto Wibisono, Wawancara Imajiner dengan Bung Karno (Jakarta: Yayasan Manajemen Informasi, 1977), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1978
94.Perjalanan di Awal Tahun 1978 (DM ITB) dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1978
95.Heri Akhmadi, Mendobrak Belenggu Penindasan Rakyat Indonesia (Bandung: LBH & DM ITB, 1979), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1979
96.P. A. Heuken, SJ., Sabda Allah yang Diwahyukan menurut Agama Islam dan Agama Kristen (Ende, Flores: Yayasan Cipta Loka Caraka & Nusa Indah), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1979
97.The Seventies – Chi She Nien Tai (Hongkong: The Seventies Publisher Co.), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1979
98.Wasiat Bung Karno (Jakarta: Gunung Agung), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1979
99.Ben Anderson, Hari-hari Terakhir Kekuasaan Soeharto (Last Days of Indonesia’s Soeharto), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1980
100.Sukamdani Indro Tjahjono, Indonesia di Bawah Sepatu Lars, dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1980
101.Al Hilal, Ke Arah Masyarakat Membaharu di Bawah Bendera Oposisi (Bandung: Dewan Mahasiswa Bandung, 1980), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1980
102.Hamish McDonald, Suharto’s Indonesia (Fontana/Collins), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1980
103.Menggugat Pemerintah Otoriter: Kumpulan Pembelaan Ketua Umum DM ITS, Sekretaris Umum ITS dan Pembelaan-pembelaannya (Surabaya: Forum Pembelaan Mahasiswa Indonesia), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1980
104.Petisi 50 Suatu Pengantar Keprihatinan, Kata Pengantar Dr. Azis Saleh (Jakarta: Yayasan Lembaga Berkonstitusi, 1981), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1980
105.Ibrahim G. Zakir, Dari Jenggawah ke Siria, Badan Kerja Sama Pembelaan Mahasiswa Indonesia (BKS-PMI) (Jakarta, 1980), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1980
106.A. M. Fatwa, Peranan Ulama Keraton dan Pengorbanan Ulama Rakyat, dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1981
107.Pramoedya Ananta Toer, Anak Semua Bangsa (Jakarta: Hasta Mitra, 1980), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1981
108.Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia (Jakarta: Hasta Mitra, 1980), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1981
109.A. M. Fatwa, Tegakkan Pancasila dalam Wajah Manusia Bukan dalam Wajah Hantu, dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1981
110.Hamran Abie, Allah sudah Pilihkan Saya Hidup Baru dalam Kristus (Jakarta: BPK Sinar Kasih), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1982
111.Hamran Abie, Allah Tritunggal Maha Esa (Jakarta: BPK Sinar Kasih), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1982
112.Hamran Abie, Allahu Akbar (Jakarta: BPK Sinar Kasih), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1982
113.Hamran Abie, Almasih Yang Dijanjikan (Jakarta: BPK Sinar Kasih), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1982
114.Hamran Abie, Anugerah Keselamatan dan Ibadah Kristiani (Jakarta: BPK Sinar Kasih), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1982
115.Hamran Abie, Benarkah Ada Nubuat Nabi Muhammad dalam Alkitab (Jakarta: BPK Sinar Kasih), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1982
116.Hamran Abie, Jawaban atas Buku Bibel, Qur’an dan Sains Modern (Jakarta: BPK Sinar Kasih), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1982
117.Hamran Abie, Jesus atau Paulus (Jakarta: BPK Sinar Kasih), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1982
118.Hamran Abie, Kata Chemdah dalam Kitab Hagai, Ibrani (Jakarta: BPK Sinar Kasih), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1982
119.Hamran Abie, Kebenaran Iman Kristiani tidak Terbantah (Jakarta: BPK Sinar Kasih), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1982
120.Hamran Abie, Keilahian Jesus Kristus (Jakarta: BPK Sinar Kasih), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1982
121.Hamran Abie, Kuasa Roh Kudus (Jakarta: BPK Sinar Kasih), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1982
122.Hamran Abie, Membahas Kematian dan Kebangkitan Yesus Kristus (Jakarta: BPK Sinar Kasih), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1982
123.Hamran Abie, Nabi Palsu (Jakarta: BPK Sinar Kasih), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1982
124.Hamran Abie, Otorita Alkitab (Jakarta: BPK Sinar Kasih), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1982
125.Hamran Abie, Pribadi Yesus (Jakarta: BPK Sinar Kasih), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1982
126.Hamran Abie, Rahasia Salib (Jakarta: BPK Sinar Kasih), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1982
127.Hamran Abie, Surat dari Dua Tokoh Muslim Jawaban Dari Iman Kristiani (Jakarta: BPK Sinar Kasih), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1982
128.Hamran Abie, Tidak Ada Nubuat Kenabian Muhammad dalam Alkitab (Jakarta: BPK Sinar Kasih), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1982
129.KUHAP (Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana) dengan Penjelasannya, Kata Pengantar: Kamil Kamka (Surabaya: Usaha Nasional),dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1982
130.Siauw Giok Tjhan, Lima Jaman: Perwujudan Integrasi Wajar (Yayasan Jakarta, 1981), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1982
131.Abdul Kadir Djaelani, Analisa Politik Dekade Delapan puluhan (Jakarta: Lembaga Studi Islam, 1983), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1983
132.R. M. Sugijono Surjuningtyas, Himpunan Pitutur Luhur (Banyumas, Purwokerto), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1983
133. R. M. Sugijono Surjuningtyas, J. Khrisna Murti (Banyumas, Purwokerto), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1983
134.R. M. Sugijono Surjuningtyas, Perkenalan dengan J. Khrisna Murti (Banyumas, Purwokerto), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1983
135.R. M. Sugijono Surjuningtyas, Mengheningkan Cipta, dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1983
136.R. M. Sugijono Surjuningtyas, Hidup Bahagia (Banyumas, Purwokerto), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1983
137.R. M. Sugijono Surjuningtyas, Menghadap Sang Guru Sejati (Banyumas, Purwokerto), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1983
138.P. Bambang Siswoyo, Petisi 50 (Solo: Mayasari), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1983
139.A. H. Nasution, et al., Tingkah Laku Politik Panglima Besar Soedirman (Jakarta: Karya Unipress), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1984
140.Ajaran Inkarusunnah (Jakarta: Ghalia Indonesia), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1984
141.Abdul Qadir Djaelani, Sikap Muslim Terhadap RUU Tentang Organisasi Kemasyarakatan, dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1984
142.Ukhuwah Islamiyah (Jakarta: Korps Mubaligh Indonesia), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1984
143.Yahya Membangun Generasi (Dakwah PII), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1984
144.Hamran Ambrie, Adu Argumentasi (Jakarta: BPK Sinar Kasih), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1985
145.Hamran Ambrie, Apologia (Jakarta: BPK Sinar Kasih), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1985
146.Hamran Ambrie, Dengan Kasih Kita Jawab (Jakarta: BPK Sinar Kasih), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1985
147.Hamran Ambrie, Dialog Tertulis Islam Kristen (Jakarta: BPK Sinar Kasih), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1985
148.Hamran Ambrie, Dosa Iman Kristiani (Jakarta: BPK Sinar Kasih), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1985
149.Hamran Ambrie, Injil Palsu Barnabas (Jakarta: BPK Sinar Kasih), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1985
150.Hamran Ambrie, Jawaban Iman Kristiani Al-Kitabiyah (Jakarta: BPK Sinar Kasih), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1985
151.Hamran Ambrie, Koreksi Iman Kristen (Jakarta: BPK Sinar Kasih), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1985
152.Hamran Ambrie, Kritik Muhammad Zulkarnaen Kristologi Yang Keliru (Jakarta: BPK Sinar Kasih), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1985
153.Hamran Ambrie, Mencari Kebenaran (Jakarta: BPK Sinar Kasih), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1985
154.Hamran Ambrie, Menjawab Tantangan (Jakarta: BPK Sinar Kasih), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1985
155.Hamran Ambrie, Mohammad dan Islam (Jakarta: BPK Sinar Kasih), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1985
156.Hamran Ambrie, Pokok Pembahasan Al Kitab (Jakarta: BPK Sinar Kasih), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1985
157.Hamran Ambrie, Proklotos dan Taubat (Jakarta: BPK Sinar Kasih), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1985
158.Hamran Ambrie, Siapa Sedia Memberi Jawab Iman (Jakarta: BPK Sinar Kasih), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1985
159.Hamran Ambrie, Siapakah Putra Abraham Yang Dijadikan Kurban (Jakarta: BPK Sinar Kasih), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1985
160.Hamran Ambrie, Surat dari Mesir (Jakarta: BPK Sinar Kasih), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1985
161.Hamran Ambrie, Tauhid dan Syirik i (Jakarta: BPK Sinar Kasih), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1985
162.Tony Ardie, Dakwah Terpidana: Sebuah Pledoi (Jakarta: Yayasan Bina Mandiri), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1985
163.Dalini Lubis, Alam Barzah – Alam Kubur (Ghalia, Jakarta: Pustaka Saadiyah, Padang Panjang, 1916), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1985
164.Bilquis Heik & R. A. Schneider, Aku Sebut Allah Bapakku (Jakarta: Yayasan Cipta Loka Caraka), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1985
165.Nazwar Syamsu, Kamus Al-Qur’an, dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1985
166.Nazwar Syamsu, Terjemahan Al-Qur’an, dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1985
167.Nazwar Syamsu, Koreksi Terjemahan Al-Qur’an, bacaan Mulia, HB Jassin, dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1985
168.Nazwar Syamsu & Dalini Lubis, Tauhid dan Logika: Al-Qur’an dan Sejarah Manusia, dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1985
169.Frederick Djara Wellem, Amir Sjariffoedin: Pergumulan Iman dalam Perjuangan Kemerdekaan (Jakarta: BPK Sinar Kasih), , dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1985
170.A. M. Fatwa, Akhlaq Politik Orde Baru di Mata Umat dan Sorotoan Al-Qur’an, dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1985
171.A. H. Nasution, Buktikan Ikrar Orde Baru (Jakarta: Fajar Shodiq), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1985
172.M. Natsir, Indonesia di Persimpangan Jalan (Jakarta: Fajar Shodiq), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1985
173.Harold Crouch, Militer dan Politik di Indonesia (Jakarta: Sinar Harapan, 1986), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1986
174.H. R. Dharsono, Menuntut Janji Orde Baru, dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1986
175.Indonesia: de Waarheid omtrent 1965 Suharto Staat Terecht (Amsterdam: Stichting “Indonesia Media”, 1985), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1986
176.Richard Robinson, Sejarah Politik Orde Baru, terjemahan Aboeprijadi S., M. Ichsan, dan R. Redjowirono (Jakarta: Lembaga Studi Indonesia), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1986
177.M. S. Shuhari, Membangun Struktur Masyarakat Islam Indonesia (Jakarta: Lembaga Studi Islam), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1986
178.Pramoedya Ananta Toer, Jejak Langkah (Jakarta: Hasta Mitra, 1985), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1986
179.David Jenkins: Suharto and His Generals: Indonesian Military Politics, 1975-1983 (Ithaca: Cornell Modern Indonesian Project, 1984), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1986
180.Abdoel Khadir Djaelani, Pemula Islam Menggugat (Jakarta), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1987
181.Abdoel Khadir Djaelani, Eksepsi Abdul Kadir Djaelani pada Sidang Negri Jakarta Pusat Tanggal 14 Agustus 1985 (Jakarta), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1987
182.Musuh-musuh Islam Melakukan Offensi terhadap Umat Islam Indonesia (Jakarta: Masyarakat Pelajar Press, 1987), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1987
183.Y. Fohan, Siapa Sesungguhnya yang Melakukan Kudeta Terhadap Pemerintahan Presiden Sukarno (Amsterdam: Stichting Media), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1987
184.Richard Robison, Indonesia: The Rise of Capital (Australia: South East Asia Publication), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1987
185.Harold Crouch, Regulasi Rejim-rejim Militer – Kasus Indonesia (Pancasila Sakti), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1988
186.Hanikaff, Ritual Jahiliyah yang Haram, dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1988
187.Indonesia: Muslims on Trial (London: Tapol: The Indonesian Human Right Campaign), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1988
188.Yoshihara Kunio, Kapitalisme Semu Asia Tenggara, Terjemahan Arief Budiman (Jakarta: LP3ES), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1988
189.H. Mukti, Siti Mariah, Peny. Pramoedya Ananta Toer (Jakarta: Hasta Mitra), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1988
190.Wahono Nitiprawiro, Teologi Pembebasan, Sejarah, Metode, Praksis dan Isinya (Jakarta: Sinar Harapan), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1988
191.Sjarifrudin Prawiranegara, Aspirasi Islam dan Penyalurannya (Jakarta: Korps Muballigh Indonesia), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1988
192.Sjarifrudin Prawiranegara, Memperkenalkan Korps Muballigh Indonesia dan Pendiriannya Mengenai Pancasila Sebagai Azas Tunggal (Jakarta: Fajar Shadiq), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1988.
193.Yoesoef Ratman, Alam Pikiran Kekeluargaan (Wonogiri: Aliran Kekeluargaan Dukuh Jetis), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1988
194.Suryo, Kembali Kepada Allah Dengan Ilmu, Iman dan Amal (Wonogiri: Aliran Kekeluargaan Dukuh Jetis), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1988
195.Pramoedya Ananta Toer, Rumah Kaca (Jakarta: Hasta Mitra), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1988
196.Pramoedya Ananta Toer, Gadis Pantai, Penyunting Joesoef Isak (Jakarta: Hasta Mitra), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1988
197.Demi Demokrasi (Leiden: Gerakan Demi Hak Asasi Manusia dan Demokrasi), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1989
198.Fegerston, Grethe, Gunilla, Adik Baru, Penerjemah Swanie Gunawan (Jakarta: Midas Surya Grafindo), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1989
199.A. M. Fatwa, Demokrasi dan Keyakinan Beragama Diadili-Pembelaan Di Depan Pengadilan Tinggi Jakarta Pusat (Jakarta, Desember 1985), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1989
200.Abi Harun, ed., Pembinaan Umat (atau Buku Usroh), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1989
201.Abi Harun, ed., Usroh: Pedoman dan Pelaksanaannya, dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1989
202.S.T. Miharja, Seri Cerita Pemberontakan Madiun (Mr. Amir Sjarifuddin) (Bandung: Sarana Panca Karya), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1989
203.Robin Osborne, Indonesia’s Secret War: the Guerilla Struggle in Irian Jaya (Allen & Uwin), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1989
204.Harry A. Poeze, Tan Malaka: Pergulatan Menuju Republik (Jakarta: Pustaka Utama Grafiti), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1989
205.Salman Rushdie, The Satanic Verses (London: Viking Penguin, 1988), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1989
206.Bertarung Demi Demokrasi: Kumpulan Eksepsi Mahasiswa Bandung 1989 (Komite Penanganan dan Pemulihan aktifitas Kemahasiswaan – Forum Ketua Himpunan Jurusan ITB, 1989), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1990
207.Denny J. A, John Minofri, Rahardjo, Seri Demokrasi Kesaksian Kaum Muda (Jakarta: Yayasan Studi Indonesia), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1990
208.The Devious Dalang: Soekarno and the so-Called Untung Pustch, Eyewitness Report by Bambang Widjanarko, Penerjemah Rahardi S. Karni (Interdoc Publishing House, 1974), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1990
209. M. B. Merende, Menjaga Keseimbangan Kebutuhan Seks dan Kesehatan (Jakarta: Gita Karya), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1990
210.Pesona Seks Wanita, Penerjemah Gunadi Santoso (Jakarta: Langgeng)
211.Peter Dale Scott, Amerika Serikat dan Penggulingan Soekarno, i dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1990
212.Herman O. T. M. Simandjuntak, Kasih yang Menyelamatkan (Jakarta: Yayasan Pusat Penginjilan Alkitab), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1990
213.Bambang P. Siswoyo, Geger Lampung dan Kaum Sempalan (Solo: Mayasari, 1989), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1990
214.Bambang P. Siswoyo, Heboh Ayat-ayat Setan (Solo: Mayasari, 1989), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1990
215.K. M. L. Tobing, Permesta: Kandasnya Sebuah Cita-cita, sarunjaya (Jakarta, 1990), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1990
216.K. K. Alawi, Memburu Keselamatan (Jl. Al Rakhmat, Jakarta, 1989), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1991/1993
217.Muhammad Al Baby, Masa Depan Islam, Kilas Balik Abad XIV H (Jl Al Rakhmat, Jakarta), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1991
218.Abd. Al Fadi, Kristus Dalam Injil dan Al Qur’an (Jl. Al Rakhmat, Jakarta), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1991/1993
219.Iskandar Japeed, Dosa dan Penebusan Menurut Islam dan Kristen (Jl. Al Rakhmat, Jakarta), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1991/1993
220.Kliping Kasus Lampung dan Kasus Pelarangan Dua Buku, dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1991
221.Ashaari Muhammad, Tengku Noriah, Tengku Abdullah, Perang Teluk: Islam Akan Kembali Gemilang (Jakarta: Yayasan Al Arqam, 1991), dilarang olehKejaksaan Agung pada 1991

222.Painting in Islam, dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1991

223.Ali Qarishah, Wajah Dunia Islam Kontemporer, dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1991

224.Soe Hok Gie, Di Bawah Lentera Merah (1990), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1991

225.Moh. Hari Soewarno, Serat Darmogandul dan Suluk Gatholoco tentang Islam, dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1991

226.Bambang P. Siswoyo, Kliping Sekitar Petisi 50, 21 dan 58 (Solo: Mayasari), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1991

227.Dal Zendarto, Dataforesto Wanakao (BNKP Gunung Sitoli, 1987), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1991

228.Joebaar Ajoeb, Sebuah Mocopat Kebudayaan Indonesia, dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1992

229.Moch. Kusni Herlingga, Cina, Jawa, Madura dalam Konteks Hari Jadi Surabaya (Surabaya, Antariksa), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1992

230.Resume Observasi Proses Pengadilan Kasus Aceh (Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1992

231.Program Kerja Kristenisasi di Indonesia, dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1993

232.Majalah El Shaddai edisi Maret – April 1992 (Pasuruan, Jawa Timur: Yayasan Penebar Kasih, 1992), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1993

233.Ashaari Muhammad, Aurad Muhammadiyah Pegangan Darul Arqam (Al Arqam Malaysia), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1993

234.Ashaari Muhammad, Tengku Noriah, Tengku Abdullah, Perang Teluk: Islam akan Kembali Gemilang (Yayasan Al Arqam, 1991), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1993

235.P. Bambang Siswoyo, Kliping Sekitar Petisi 50, 21, 28 (Solo: UD Mayasari), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1993

236.P. Bambang Siswoyo, Pelarangan Dua Buku (Solo: UD Mayasari), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1993

237.Rivai Burhanuddin, Betulkah Allah Mempunyai Anak Menurut Injil dan Al-Qur’an (Depok: Penerbit Persahabatan), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1993

238.Dal. Zendarto, Dataforesso (BNKP Gunung Sitoli, 1987), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1993

239.Madame D Syuga, Fotografer: Hideki Fujii (Scholar Publishing Jepang), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1993

240.Moh. Hari Soewarno, Serat Darmo Gandul dan Suluk Gatholoco Menurut Islam dan Kristen, dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1993

241.Paintings in Islam, dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1993

242.Wimanjaya Liatohe, Prima Dosa: Wimanjaya dan Rakyat Indonesia Menggugat Imperium Suharto (1994), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1994.

243.Pramoedya Ananta Toer, Nyanyi Sunyi Seorang Bisu (Jakarta: Lentera, 1995), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1995

244.Bahan-bahan cetakan hasil wawancara Permadi dengan Radio Unisi dan ceramahnya di UGM pada Maret/April 1995, dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1995

245.Aliansi Jurnalis Independen, Majalah Forum Wartawan Independen, dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1995

246.Stanley & Pramoedya Ananta Toer, Memoar Oey Tjoe Tat: Pembantu Presiden Soekarno (Jakarta: Hasta Mitra, 1995), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1995

247.Imran Hasibuan & Togi Simanjuntak, Di Bawah Bayang-bayang PKI, Penyunting Stanley A. Prasetyo (Jakarta: ISAI, 1995), dilarang beredar oleh Kejaksaan Agung pada 1996

248.Sri Bintang Pamungkas, Saya Musuh Politik Soeharto (Jakarta: Pijar Indonesia, 1996), dilarang beredar oleh Kejaksaan Agung pada 1996

249.Muchtar Pakpahan, Rakyat Menggugat (Jakarta: Yayasan Forum Adil Sejahtera, 1996), dilarang beredar oleh Kejaksaan Agung pada 1997

250.Muchtar Pakpahan, Potret Negara Indonesia (Jakarta: Yayasan Forum Adil Sejahtera, 1995), dilarang beredar oleh Kejaksaan Agung pada 1997

251.Soebadio Sastrosatomo, Era Baru Pemimpin Baru: Badio Menolak Rekayasa Rezim Orde Baru (Jakarta: Pusat Dokumentasi Politik Guntur 49, 1997),dilarang beredar oleh Kejaksaan Agung pada 1997

252.Soebadio Sastrosatomo, Renungan Gunung Lawu: Politik Dosomuko Rezim Orde Baru, Rapuh dan Sengsarakan Rakyat (Jakarta: Pusat Dokumentasi Guntur 49, 1998)

253.Peta bergambar bendera “Bintang Kejora” — Penerbit GBS Jakarta, Penerbit Karya Agung Surabaya, Penerbit Mitra Pelajar Surabaya, dan Penerbit Amelia Surabaya, dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 11 Juni 2006

254.Drs. Maksud Simanungkalit, Kutemukan Kebenaran Sejati dalam Al Qur’an (Batam: Yayasan Al Hanif, 2005), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 16 Juni 2006

255.13 buku teks sejarah, dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 5 Maret 2007

256.Sendius Wonda, Tenggelamnya Rumpun Melanesia: Pertarungan Politik NKRI di Papua Barat (Jayapura: Deiyai, 2007), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 27 November 2007

257.Socratez Sofyan Yoman, Pemusnahan Etnis Melanesia: Memecah Kebisuan Sejarah Kekerasan di Papua Barat (Yogyakarta: Galang Press, Desember 2007), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 26 Juni 2008

258.John Roosa, Dalih Pembunuhan Massal Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto, penerjemah Hersri Setiawan (Jakarta: ISSI & Hasta Mitra, 2008), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 22 Desember 2009

259.Socratez Sofyan Yoman, Suara Gereja Bagi Umat Tertindas: Penderitaan, tetesan Darah dan cucuran Air Mata Umat Tuhan Di Papua Barat Harus Diakhiri (Jakarta Timur: Reza Enterprise, Desember 2007), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 22 Desember 2009

260.Rhoma Dwi Aria Yuliantri & Muhidin M. Dahlan, Lekra Tak Membakar Buku Suara Senyap Lembar Kebudayaan Harian Rakjat 1950-1965 (Jogjakarta: Merakesumba Lukamu Sakitku, September 2008), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 22 Desember 2009

261.Darmawan MM, Enam Jalan Menuju Tuhan (Bandung: PT Hikayat Dunia, ?), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 22 Desember 2009

262.Drs. H. Syahrudin Ahmad, Mengungkap Misteri Keberagaman Agama (Palu: Yayasan Kajian Al-Qur’an Siranindi, ?), dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 22 Desember 2009

*) dikutip dari situs sejarahsosial.org

**) dikronik dari indonesiabuku.com

***) dari catatan FB Andrenaline Katarsis.

Idealisme dan Materialisme Ketuhanan

images (16)

Idealisme dan materialisme itu kusimpulkan adalah satu kesatuan yg tak terpisah

Idealisme itu menganggap materi adalah hasil daripada ide, sementara materialisme sebaliknya, ide ada hanya karena ada sumber materialnya

Aktifitas materi bersifat pasif, sedangkan aktifitas roh (ide) bersifat self. Reaksi materi tidak bersifat individual, tetapi sesuai dng jenisnya. Setiap potongan besi secara spesifik bereaksi sama, tapi lain halnya dng manusia krn mempunyai kesadaran dan distansinya. Perbedaan diantara materi dan manusia berhubungan dng hakikatnya, adlh krn hanya manusia yg dpt disebut “diri”. Kegiatannya pun sungguh dari “diri” sendiri. Manusia bukanlah materi yg ditempel dng roh, melainkan materi yg dirohanikan. Manusia berdiri sendiri, hadir pd dirinya sendiri, menentukan dirinya sendiri, dan berharga krn dirinya sendiri. Itulah paradoks antara materi dng roh (ide). Paradoks mengandung dua kebenaran yg bertentangan. Kebenaran suatu paradoks terletak dlm kesatuan kedua kebenaran yg bertentangan itu.

Ketika manusia membicarakan realitas ketuhanan sesungguhnya ia sedang membicarakan dirinya sendiri, tidak ada perbedaan antara kualitas-kualitas Tuhan dan hakikat manusia. Manusia bukan apa-apa tanpa objek. Dalam objek yg dia kontemplasikan manusia menjadi mengenali dirinya, kesadaran tentang objek adalah kesadaran diri manusia. Kita mengenal manusia lewat objek, lewat konsepsinya ttg apa yg eksternal darinya. Objek adlh manifestasi hakikat manusia sehingga didalamnya hakikat manusia menjadi gamblang. Kekuatan objek atas manusia oleh karenanya merupakan kekuatan hakikinya sendiri. Objek kesadaran religius adalah objek yg paling sempurna, karena mengandaikan suatu diskriminasi antara ilahi dan non ilahi, suci dan dosa, kekuatan dan kelemahan. Karena objek kesadaran manusia adalah hakikat manusia itu sendiri, maka kesadaran manusia tentang Tuhan yang ilahi, suci, kuat sesungguhnya adalah kesadaran dirinya sendiri.

Namun semua itu dirusak oleh kemunculan agama formal – monoteis yg memisahkan antara Tuhan dan manusia dng menarik garis demarkasi antara keduanya: Tuhan tak terbatas – manusia terbatas, Tuhan suci – manusia berdosa, Tuhan kuat – manusia lemah, dsb. Gara-gara agama formal-monoteis-lah manusia pertama-tama memandang hakikatnya seolah-olah berada diluar dirinya sebelum menemukannya didalam dirinya. Hakikatnya sendiri oleh manusia dikontemplasikan sebagai wujud yg berbeda. Oleh karenanya agama hanya mengasingkan manusia dari kemanusiaan. Sebuah alienasi yang akan terselesaikan tatkala manusia menyadari bahwa Tuhan yang selama ini disembah dan dikontemplasikan sebagai kenyataan eksternal tak lain dan tak bukan adalah hakikatnya sendiri.

GUNDUL GILA DARI KOTA TENGIK

Shadow_man_by_MrsRezn0r

Dia duduk, membiarakan tentang kebenaran dengan bayangannya sendiri. Dibawah terik, menghadap tembok dimana saja bayangannya akan jatuh. Bercengkrama tanpa peduli lalu-lalang orang yang lewat disekitarnya, tampak acuh terhadap mereka yang berhenti dan mengamati terhadap tingkahnya yang dianggap aneh, gila, nyleneh dan kurang waras.

Bayangannya diam, seperti dirinya yang hanya diam. Hanya mulutnya yang kadang komat-kamit atau berkata-kata tanpa runtut, yang kemudian diikuti oleh perubahan raut.

Saling berhadapan.

Kadang teriakannya dimuntahkan, meluncurkan hentakan dan ludah menjadi berterbangan, tetapi bayangannya diam saja, bergerak sedikitpun mengikuti polah si laki-laki Plontos.

Kadang dia tersentak kaget sendiri, meski mereka yang disekitar tak mendengar apapun dari bayangan laki-laki berkepala plontos itu.

Kerumunan yang datangpun tidak terlalu banyak, jangan berharap lebih. Masyrakat di kota Tengik ini sudah terbiasa melihat orang gila, kurang waras, edan dan entah julukan lainnya untuk kelakuan yang nyleneh seperti itu.

Hanya dua sampai lima orang saja yang berhenti untuk memperhatikannya, biasanya mereka yang berhenti adalah orang yang baru datang ke kota Tengik ini untuk bekerja, atau mereka yang masih punya rasa penasaran tersendiri terhadap sesuatu. Selebihnya penduduk disini sudah terbiasa.

Kebanyakan memilih langsung berlalu saja, langsung lewat bahkan ada yang tidak menyadari keberadaan laki-laki kepala plontos itu, seperti kepala plontos yang tidak menyadari keberadaan orang-orang disekitarnya.

Meski demikian kota Tengik dalam survei kependudukan tidak menyatakan bahwa jumlah orang gila yang hidup di dalam kotanya tinggi, malah terbilang sedikit jika dibandingkan dengan kota-kota lain. Meski dalam kenyataannya kau akan bisa menemukan satu orang gila dalam satu ruas jalan, mereka seperti hantu penunggu jalan. Mungkin karena mereka dianggap seperti hantu, maka dari itu tim survei juga kadang tidak melihatnya.

Kepala Plontos bukanlah pendatang baru dalam percaturan dunia orang gila di kota Tengik, dia mugkin telah muncul bersama sirambut gimbal, si Kain Sarung, si Bugil, dan masih banyak lagi, dan bagi yang mengenal dan memperhatikan, dia sudah hampir 10 tahun berkiprah di dunia orang Gila. Dari dulu berkepala Plontos, meski kadang yang jadi pertanyaan adalah, bagaimana dia mempertahankan keplontosannya, sedang umurnya masih muda untuk mengalami kerontokan rambut, lalu kalau demikian, bagaimana dia bisa mendapatkan rambut plontosnya, mencukur rambutnya untuk tetap Plontoskah? Atau bagaimana? Tetapi semua tidak peduli, hanya aku sendiri yang menulis pertanyaan ini berusaha memikirkannya untuk tetap terasa bisa dinalar dipikiran kalian. Jika kalian tidak tertarik seperti penduduk di kota Tengik, aku dengan senang hati tidak akan menceritakannya kepadamu.

Kepala Plontos memang dari dulu sering berbicara terhadap bayangannya sendiri, merasai bayangannya hidup, menanggapi bahkan memulai.

Yang dibicarakan dan dipertengkarkan keduanya pun berbeda-beda tetapi masih dalam satu garis yang sama, tentang Kebenaran, siapa yang bayang-bayang, siapa yang nyata. Dan mereka yang lewat dan dulu peduli, tidak pernah menemukan jawaban, oleh siapa pertarungan itu dimenangkan.

Sore beranjak semakin menjadi gelap, kerumunan orang pulang kantor semakin sedikit, berganti kerumunan pemuda-pemudi yang datang menjejali dan wara-wiri di dekat laki-laki Plontos tadi. Tidak mengindahkan, mereka menjalani seperti biasanya, nongkrong sambil merokok di pinggir jalan, berpacaran atau sedikit mencoba mabuk dengan membeli minuman dengan kadar alkohol rendah yang biasa dijual di mini market.

Kepala Plontos mulai menyadari, bayangnya sudah tak sempurna lagi, bayangannya meninggi dan tidak lagi rinci. Lampu kota terlalu tinggi dan membuat bayangannya menjadi aneh dan tidak dikenali, saat itulah dia mulai berdiri, pergi dan menyembunyikan diri didalam gelap, menghilang di bawah jembatan, didalam tumpukan kardus, dalam apa saja yang ditemui dan bisa ditiduri. Dia tidak berani menatap kesepian, teman satu-satunya hilang, meruap menjadi utuh dalam kegelapan.  Dia kehilangan bayang-bayang. Meski lampu kota berusaha menghadirkan, tetapi tetap saja tak sempurna. Cacat dan palsu.

Meski demikian, besok pagi-pagi dia akan bangun, senang dirinya menatap terbit matahari, pertanda kawannya akan datang lagi memenuhi janji.