GAYA BELAJAR SELF ASSESMENT

Self Assesment Style Study

GAYA EVALUASI DIRI (GAYA D) Self Assesment Style Study

Definisi dari gaya evaluasi diri adalah pemberian tugas dan keputusan dengan kriteria yang mana membebaskan siswa untuk mengkoreksi sendiri dari hasil pembelajaran. Dalam susunan gaya evaluasi diri memberikan pergantian peran dari guru ke siswa dari pokok persoalan, kriteria, dan hasil keputusan. Pergantian cara belajar dengan memberikan keputusan secara bebas dalam pelaksanaan latihan dan kebebasan dalam menilai hasil latihan atau pembelajaran yang mana kriteria awal ditentukan oleh guru. Dengan hal ini diharapkan bahwa objek akan mendapatkan sikap dari perilaku subjek dalam kasus ini siswa terhadap suatu persoalan.

  1. TUJUAN GAYA INI

Sekali lagi, kenyataan yang baru diciptakan oleh hubungan guru dengan siswa yang telibat dalam teknik Evaluasi diri. Pengambilan keputusan lebih banyak dilakukan oleh murid sebagai bentuk tanggung jawab. Teknik Evaluasi diri akan membuat siswa mencapai tujuan pembelajaran.

  • POKOK BAHASAN
  • Untuk mengembangkan kesadaran performance Dimensi yang utama dari pengembangan ini adalah kesadaran kinestetik.
  • Kesadaran kinestetik dapat dicapai melalui latihan mengamati performance diri sendiri dan kemudian menilai berdasarkan kriteria.
  • FUNGSI
  • Mengurangi ketergantungan siswa pada umpan balik dari luar, dan mulai berpedoman pada umpan balik dari diri sendiri.
  • Menggunakan kriteria untuk peningkatan atau mengoreksi diri.
  • Memelihara kejujuran dan keobyektifan tentang penampilan siswa.
  • Menerima ketidakcocokan (diskrepansi) dan keterbatasan-keterbatasan sendiri.
  • Melanjutkan proses individualisasi dengan membuat keputusan-keputusan pada saat/selama (impact) dan sesudah pertemuan (post impact).
  1. SUSUNAN / TAHAP GAYA D

Apabila siswa sudah mempraktekkan dengan menggunakan kriteria sebagai dasar umpan balik (feedback) kepada temannya (gaya C), langkah selanjutnya adalah menggunakan kriteria tersebut untuk umpan balik (feedback) dirinya sendiri, oleh sebab itu nama dari teknik ini adalah Evaluasi diri. Dalam teknik ini, setiap individu melakukan tugas seperti pada gaya B dan kemudian membuat keputusan-keputusan pada akhir atau setelah pembelajaran (post impact) untuk dirinya sendiri. Teknik C digunakan oleh tiap siswa untuk mengecek penampilan (performance) mereka masing-masing.

Secara skema, anatomi teknik ini diperlihatkan pada gambar 6-1. Dalam hal ini, peranan guru adalah untuk membuat semua keputusan-keputusan dalam pre-impact disusun, utamanya tentang mata pelajaran. Seperti pada teknik B, siswa membuat 9 keputusan pada impact sambil melakukan tugasnya tetapi sekarang juga membuat keputusan-keputusan setelah pembelajaran (post-impact).

       A B C D

Preimpack                   (T)                   (T)                   (T)                   (T)

Impack                                    (T)                   (L)                   (d)                   (L)

Postimpack                  (T)                   (T)                   (o)                    (L)

Gambar 6-1. Skema Anatomi Teknik.

 

  1. IMPLEMENTASI TEKNIK EVALUASI DIRI

Deskripsi

Mungkin aspek yang paling mendasar dari teknik D adalah lanjutan dari 2 teknik sebelumnya. Pada dasarnya siswa memiliki kemampuan untuk menilai dirinya sendiri menggunakan teknik-teknik ini. Pada teknik B, mereka belajar untuk melakukan tugas, pada teknik C mereka belajar untuk menggunakan kriteria dan memberikan umpan balik (feedback) kepada temannya. Pada teknik D, siswa menggunakan keterampilan-keterampilan yang sama untuk menilai mereka sendiri. Hal ini tidak berarti siswa beralih dari B ke C ke D, tapi tentu saja ini akan membantu peningkatan skill. Sangat menyenangkan mengamati sebuah kelas yang telah melakukan ketiga jenis teknik dan mengetahui fungsi mereka dan keputusan-keputusan yang tepat yang harus diambil.

Pada teknik D ini sebenarnya menyediakan kesempatan bagi siswa untuk menjadi orang yang lebih bergantung pada diri sendiri dalam mengetahui apa yang mereka telah atau belum lakukan dalam melakukan tugas.

Ketika siswa berada pada pusat kebugaran, lapangan, studio tari dan lain-lain, mereka mulai melakukan tugas, berhenti sebentar untuk melihat lembar kriteria, membandingkan penampilan mereka dengan kriteria dan kemudian melanjutkan tugas lagi. Mereka bisa saja mengulang tugas untuk mengoreksi dan memelihara performance atau melanjutkan pada tugas yang baru. Teknik ini pertama dalam pengambilan keputusan. Agar siswa mengalami keputusan ini, mereka harus terlibat dalam tingkah laku subsidiary, mereka berhenti sejenak untuk membaca dan menginternalisasi kriteria dan mereka berhenti sejenak setelah mereka melakukan tugas dan berfikir tentang performance mereka. Sekali waktu mereka bisa saja terlibat dalam negosiasi sendiri, mengekspresikan kesenangan. Tingkah laku ini overt dan dapat dilihat. Secara bersamaan mereka memiliki gambaran yang berbeda tentang apa yang terjadi di gimnasium. Lebih dari sekedar melakukan tugas terjadi pada teknik D ini.

Tingkah laku yang berbeda ini mungkin saja terjadi karena peranan guru sudah berubah. Tingkah laku verbal yang spesifik pada teknik ini mengembangkan dan memelihara operasi dan semangat dari tiap-tiap teknik.

Sekarang kamu mendapat ide, seperti apa teknik D itu, jenis siswa yang seperti apa yang bisa terlibat dalam teknik D? ada sebuah perbedaan dalam keberhasilan antara siswa yang mahir dalam melaksanakan tugas dengan mereka yang masih belum mahir. Siswa yang telah mahir dalam melaksanakan tugas kelihatannya mudah melakukan teknik ini akan tetapi teknik ini tidak tepat bagi siswa yang belum memiliki kompetensi dasar yang cukup tentang tugas tersebut.

  1. BAGAIMANA MELAKUKANNYA
  2. Sebelum Pembelajaran (pre- impack)

Guru membuat keputusan-keputusan sebelum pembelajaran (guru menyiapkan tugas mana yang cocok untuk siswa dan lembar kriteria yang akan digunakan siswa). Dalam gaya evaluasi diri, materi yang diberikan kepada siswa adalah materi yang sudah pernah diberikan kepada atau siswa sudah mempunyai pengalaman terhadapmeteri tersebut.

  1. Saat Pembelajaran (impack)

Keputusan dilakukan oleh siswa pada saat impact dengan menyamakan dan membandingkan penampilan dirinya dengan kriteria yang dibuat oleh guru. Hal ini merupakan tanggungjawab baru bagi siswa untuk menganalisis tugasnya. Keputusan tentang penilaian penampilan dirinya sendiri, sehingga hal ini akan berpengaruh kepada siswa untuk menambah rasa mandiri.

Urutan-urutan kegiatan ini sebagai berikut:

  • Meminta siswa untuk melingkar.
  • Menjelaskan tujuan dari teknik ini.
  • Menjelaskan peranan siswa (menjelaskan bahwa mereka terlibat dalam (self cekking) dan membatasi waktu untuk menilai diri sendiri). Jelaskan perubahan teknik C.
  • Menjelaskan peranan guru.
  • Melakukan tugas.
  • Menjelaskan logistik.
  • Membuat parameter.
  • Meminta siswa untuk mulai melakukan tugas.

Siswa akan memilih lokasi atau tempat dan mulai melakukan teknik B ketika mereka melakukan tugas yang dilanjutkan dengan teknik D.

  1. Setelah Pembelajaran (the post-impack set)

Ketika siswa melakuakn tugas menggunakan lembaran kriteria, masing-masing akan menentukan kapan menggunakan lembaran kriteria untuk umpan balik (feedback) sendiri berdasarkan ritme sendiri, dalam hal ini peranan guru adalah:

  • Mengamati penampilan siswa.
  • Mengamati cara penggunaan lembar kriteria untuk evaluasi diri (self check).
  • Berkomunikasi dengan siswa tentang ketepatan proses evaluasi diri (self check).
  • Memberikan umpan balik (feedback) pada akhir pembelajaran, umpan balik (feedback) ini diberikan pada seluruh kelas dalam bentuk pernyataan umum tentang penampilan mereka.

IMPLIKASI

  1. Guru menilai kemampuan siswa untuk mengembangkan sistem monitoring diri mereka sendiri.
  2. Guru mempercayai kejujuran siswa selama proses ini.
  3. Guru menghargai kemandirian siswa.
  4. Guru dapat menggunakan evaluasi diri (self check) sebagai umpan balik (feedback) peningkatan kemampuan mereka.
  5. Siswa dapat melaksanakan tugas sendiri dan terlibat dalam proses evaluasi diri (self check).
  6. Siswa memiliki kesabaran untuk bertanya fokus pada evaluasi diri (self check) proses dan penyelesaian tugas.
  7. Siswa dapat mengidentifikasi keterbatasan, keberhasialan dan kegagalan mereka sendiri.
  1. MEMILIH DAN MENDESAIN MATERI

Tidak semua tugas-tugas dalam penjas bisa dilakukan dengan teknik ini, syarat untuk melakukan teknik ini adalah siswa harus memiliki beberapa keahlian dalam melaksanakan tugas sehingga mereka dapat mengevaluasi sendiri pada akhir pembelajaran. Waktu yang singkat menyebabkan siswa sedikit belajar. Sering ketika siswa pemula ditanyai bagaimana posisi baru kirimu selama back crawl dan dia menjawab tidak tahu. Ini bisa dipahami karena sebagian siswa pemula tidak menyadari detail penampilan mereka. Itu sebabnya sulit dan kadang-kadang tidak mungkin melakukan penilaian sendiri secara tepat ketika belajar sesuatu yang baru. Dalam hal ini lebih tepat menggunakan gaya resiprokal.

Hambatan yang lain adalah kurangnya memahami materi secara tepat. Siswa diminta menilai penampilan dengan menggunakan kriteria yang tepat dengan menggunakan materi sebagai alat rekam. Ini sangat sulit dilakukan ketika seorang siswa pemula belajar skil yang baru sangat sulit bagi mereka untuk mengingat kondisi bagian-bagian tubuh secara detail. Hal ini juga sama untuk tugas semua bidang olahraga (Ada dua cara untuk menanggulangi kelemahan ini yaitu dengan menggunakan video tape dan cermin).

Kesulitan-kesulitan ini terjadi ketika fokus dari tugas dan hasil akhir adalah badan, ketika kriteria berfokus pada hubungan yang tepat antara anggota tubuh. Hal ini diterapkan pada senam, menyelam, dan beberapa cabang tari. Semua aktivitas-aktivitas ini fokus pada gerak. Sering pesenam mengatakan “gerakan itu tidak tepat. Gerakan ini berkembang seiring dengan waktu, pengalaman dan kesuksesan. Latihan-latihan yang baru itu biasanya tidak bisa menerapkan hal ini sebagai sumber informasi yang tepat dari penampilan (performance). Gerakan-gerakan tersebut mungkin memberikan gambaran yang umum tetang penampilan (performance) tetapi tidak memberikan informasi yang tepat untuk peningkatan performance. Banyak tugas-tugas pada area ini yang tidak sesuai menggunakan teknik D, teknik C memberikan feedback yang diperlukan dari orang lain.

Akan tetapi ada beberapa tugas yang bisa diterapkan dengan menggunakan teknik D. Tugas-tugas ini berfokus pada akhir eksternal pada tubuhnya sendiri. Aktivitas-aktivitas ini fokus pada akhir dengan gerakan bukan pada gerakannya. Contohnya adalah pada permainan bola basket. Setiap bola yang ditembak, apapun tekniknya dinilai sebagai akhir dari gerakan. Jarak dari lemparan lembing yang dinilai pada lintasan dan lapangan tidak pada bentuk-bentuk spesifik yang digunakan atlit. Hubungan antara gerakan tubuh dan hasil akhir akan memberikan feedback yang cepat dan kemungkinan-kemungkinan untuk melakukan self-check dengan menggunakan criteria-kriteria tertentu.

Pada tugas-tugas yang melibatkan evaluasi diri (self check), implementasi yang digunakan adalah sumber utama informasi. Misalnya sebuah lemparan lembing yang goyang menunjukkan kepada siswa pelepasan lembing tidak tepat. Kemudian siswa bisa membandingkan dengan kartu/lembar criteria tentang bagaimana melepaskan lembing yang tepat. Selama lemparan-lemparan dilakukan, siswa berkonsentrasi mengoreksi aspek-aspek tertentu. Dalam permainan sepak bola, ketika latihan menendang bola, apabila bola terlempar tinggi dan jauh maka siswa tahu bahwa ada yang tidak tepat dalam tendangan bola tersebut. Kemudian siswa akan mengacu/membandingkan dengan kriteria tentang bagaimana menendang bola yang tepat.

Tujuan dari analisis-analisis ini tidak untuk memberikan system klasifikasi pada berbagai kegiatan tidak juga untuk  mengeinterfer dengan teknik-teknik dari berbagai olahraga. Akan tetapi tujuan dari buku ini adalah untuk mengajak guru untuk menganalisa tugas-tugas mana yang tepat diterapkan dengan menggunakan teknik D. Tidak semua tugas bisa tepat diterapkan dengan menggunakan teknik D. tugas anda sebagai guru adalah untuk memfasilitasi pembelajaran yang efektif dan mengurangi stress.

  1. KOMPONEN-KOMPONEN KHUSUS

Tingkah Laku Verbal

Tingkah laku verbal guru harus mencerminkan tujuan dari teknik ini dan harus mendukung peran guru dan siswa. Tujuan dari komonikasi antara guru dan siswa adalah:

  1. Untuk memastikan bahwa siswa dapat membandingkan performance mereka dengan kriteria.
  2. Mendengarkan keluhan/permasalahan siswa.
  3. Mengarahkan siswa apabila ditemukan ada kekeliruan.
  4. Menjelaskan kepada siswa tentang kekeliruan siswa apabila siswa tidak tahu bahwa yang dilakukannya keliru.

Untuk mengawali komunikasi dengan siswa, guru bisa menanyai siswa dengan pertanyaan umum, “bagaimana tugasnya?” Siswa mungkin saja merespon dengan jawaban:

  1. Tidak ada masalah.
  2. Saya tidak bisa melakukan tugas itu dan saya tidak tahu mengapa
  3. Saya tidak bisa melakukan tugas itu tapi saya tahu bagaimana mengoreksinya
  4. Saya dapat melaksanakan tugas dan saya mengerti tiap bagian pada lembar kriteria.

Untuk 2 jawaban siswa pertama, guru sebaiknya melanjutkan menanyai siswa fokus pada kriteria dan penampilan (performance) dan guru bisa menggunakan contoh pada teknik C. ketika siswa mampu mengungkapkan apa yang dia lakukan, guru bisa bisa memverifikasinya dengan memberikan penilaian. Jika siswa sudah tidak bisa melakukan apa-apa, dan tidak bisa mengidentifikasi atau mengoreksi kesalahan, maka guru harus menjelaskan kepada siswa.

Pilihan-pilihan pada desain tugas. Ada dua desain tugas dalam teknik ini yaitu:

1)   Tugas yang sama untuk semua siswa

2)   Tugas yang berbeda. Pilihan-pilihan ini sudah dibahas pada teknik B. pada pilihan pertama, guru memberikan tugas yang sama kepada semua siswa, pada pilihan yang kedua guru memberikan tugas yang berebeda kepada siswa.

Memilih Desain Tugas

2 pilihan

  • Guru dapat memilih satu tugas untuk semuanya
  • Mendesain tugas yang berbeda-beda, menyediakan berbagai tugas. Dapat juga dilakukan dengan menyediakan tugas yang berbeda untuk memenuhi perbedaan individual, dalam taraf penampilannya

Lembar Kriteria

Lembar kriteria yang dibuat pada teknik C bisa digunakan pada teknik D. Kriterianya tidak berubah hanya tekniknya saja yang berubah.

  1. Permainan dengan Sasaran

Permainan sangat penting pada teknik ini. Contoh-contoh dari permainan ini adalah bowling, panahan, anak panah dan mesin bola pin. Untuk semua permainan ini, umpan balik (feedback) diberikan secara intrinsik. Permaianan-permainan anak kecil juga bisa masuk dalam kategori ini  seperti lompat tali, marbel dan lain-lain. Lakukan sendiri, lalu benahi sendiri.

  1. Hubungan Pengembangan

Posisi siswa dalam hal ini sangat menarik (lihat gambar 6-2). Pada aspek pengembangan jasmani, posissi siswa sama seperti pada teknik B. akan tetapi posisi   aspek sosial bergerak menurun. Pada teknik ini siswa bekerja sendiri. Performance sendiri dan evaluasi diri (self check) tidak membutuhkan interaksi sosial yang banyak dengan teman atau guru.

A B C D

Mandiri

Minimum                                                             Maksimum

Aspek fisik                                            X

Aspek Sosial                                          X

Aspek Emosional                                                                               X

Aspek Kognitif                                              X

Gambar 6-2. Gaya evaluasi diri dan aspek-aspek perkembangannya

Orang-orang sampai pada level nyaman pada kecepatan berbeda pada teknik ini. Ada orang-orang yang menikmati kesendirian dan kebebasan pada teknik ini namun ada pula orang-orang yang membutuhkan waktu yang banyak untuk sampai pada level ini. Guru bisa belajar banyak mengenai siswanya dengan memantau siswa dalam melakukan evaluasi diri (self check). Bagi siswa yang benar-benar menikmati kesendirian dan kebebasan pada teknik ini, emosi mereka menjadi maksimum.

Pada aspek kognitif, siswa melakukan hal yang sama seperti pada teknik C namun bedanya pada teknik ini mereka membandingkan performance mereka dengan kriteria  sendiri. Hal ini akan meningkatkan kognitif mereka.

OLAHRAGA SEBAGAI BAGIAN DARI PENDIDIKAN

olahraga menjadi bagian dari dunia pendidikan

Olaharaga menjadi bagian dari sebuah pendidikan mungkin sudah tidak asing lagi ditelinga kita, sebuah bentuk konsep yang menarik jika kita mau menelisik dan meneliti lebih jauh tentang hubugan kedua variabel tersebut. Ditilik dari keolahragaan Nasional kita, olahraga memang bagian yang tidak terlepas dari pendidikan, hal ini dapat dilihat dari pasal yang dituangkan dalam UU no 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan Nasional. Begitu juga dengan pasal 17 tentang UU sistem keolahragaan Nasional meliputi kegiatan olahraga pendidikan, rekreasi dan prestasi.

Dalam pembangunan Nasional Negara kita memiliki tujuan untuk memaksimalkan dan mengembangkan sumber daya manusia sedini mungkin dan secara terarah, terpadu, menyeluruh melalui usaha yang proaktif, produktif dan reaktif. Pendidikan sendiri adalah suatu usaha untuk mencipatakan sebuah perubahan dalam pola pikir dan kebudayaan manusia.

Lalu dimana sebenarnya hubungan olahraga dalam bagiannya sebagai bagian dari pendidikan? mendidik kearah mana? Bukankah pendidikan itu sendiri luas dalam kajiannya? Ataukah olahraga itu sebagai instrument saja dalam menghantarkan tujuan dari sebuah pendidikan. atau olahraga sendiri adalah wujud dari pendidikan. Olahraga sendiri adalah wujud dari sebuah pelatihan jasmani, memperkaya dan meningkatkan kemapuan dan ketrampilan gerak dasar ataupun gerak kerampilan. Meski demikian, olahraga juga memiliki kemampuan untuk meningkatkan perkembangan mental, intelektual dan spiritual.

Pendidikan olahraga memang telah menjadi bagian dari kurikulum standar pendidikan dasar dan menengah, dengan tujuan untuk menciptakan sedini mungkin generasi bangsa yang sehat jasmani dan rohani, kompetitif dan memiliki kesadaran sosial yang tinggi. Namun dalam penerapanya, pendidikan olahraga masihlah dalam ranah kelas pendidikan jasmani saja, dan kurang kemampuan guru dalam memaksimalkan unsur lain yang menjadi hasil dari suatu proses olahraga itu sendiri, menjadikan olahraga dipandang menjadi mata pelajaran sebelah mata.

Oleh karena itu menurut dari Dra Lilis Komariyah, Olaharaga memerlukan reposisi dan reorientasi, rektualitas dan reaktualisasi dalam pemikiran dan pengelolaanya untuk mendapatkan tempat yang layak dan terhormat sejajar dengan ilmu pendidikan lain yang berada di dunia pendidikan.

Reposisi pendidikan adalah suatu usaha untuk merubah keadaan ilmu olahraga yang dipandang sebelah mata dan hanya diketahui sebagai kajian ilmu yang berfokus dalam sebuah kajian ilmu jasmani saja, dan mengangkatnya kedalam tempat yang layak dalam dunia pendidikan dengan mengetengahkan betapa besar manfaat dari ilmu olahraga.

Reorientasi memiliki tujuan untuk mengubah kembali kepada tujuan semula yang sebelumnya (mungkin) telah bergeser kedalam tujuan yang berbeda dari pembentukan awal, atau bisa juga mengubah arah tujuan kedalam arah yang lebih sesuai dengan perkembangan jaman, seiring dengan ilmu pengetahuan dan kebudayaan.

Rektualitas adalah sebuah cara untuk menunjukkkan tentang peran dari sebuah pemahaman dan usaha kedalam bentuk nyata. Hal ini diperlukan dengan tujuan bahwa olahraga mampu menunjukkan eksistensinya kedalam dunia pendidikan.

Reaktualisasi berkaitan dengan bagaimana merubah sebuah cara dalam pengaktualisasian suatu pemahaman dan pembelajaran dari olahraga, perubahan metode yang dilakukan untuk merubah dalam tindakan dengan memberikan penyegaran-penyegaran kembali terhadap pemahaman dan manfaat dalam dunia olahraga.

OLAHRAGA SEBAGAI KOMODITAS INDUSTRI  

images (18)

Perkembangan dunia olahraga saat ini telah memasuki ranah dunia industri. Hal ini dapat kita lihat dan buktikan dengan semangkin bertambah banyaknya produk barang olahraga seperti sepatu, baju olahraga, peralatan fitness atau berupa bentuk jasa-jasa dibidang olahraga. Berkembangnya dunia bisnis olahraga seperti ini menjadi keuntungan tersendiri bagi masyrakat dalam memuaskan rasa haus mereka atas kebutuhan-kebutuhan olahraga. Bukan hanya sebagai konsumen, peluang menjadi bagian dan turut serta dalam perkembangan bisnis olahraga terbuka begitu lebar. Jadi secara singkat kita dapat simpulkan bahwa dunia olahraga bukan hanya sebatas dalam peranannya sebagai alat untuk perkembangan fisik mental, dalam menyehatkan tubuh, sarana rekreasi, atau sebatas kompetisi. Tetapi olahraga juga bisa sebagai sumber masukan penghasilan ekonomi masyarakat, juga bisa menjadi sarana untuk mengangkat harkat dan derajat Negara.

Dalam pembahasan kali ini tentang kajian industri olahraga, perlu diketahui terlebih dahulu tentang definisi dan pengertian dari olahraga. Olahraga sediri secara pengertiannya yang dikutip menurut Ensiklopedia Indonesia, adalah gerakan badan yang dilakukan oleh perorangan atau lebih yang atau dapat dikenal sebagai sebuah regu. Olahraga menurut pengertian lain adalah suatu proses yang sistematik dari segala aktivitas, usaha atau pun kegiatan yang mampu mengembangkan, membina, dan juga mendorong potensi yang dimiliki oleh jasmani dan rohani seseorang. Dalam hal ini, aktivitas yang dimaksudkan dalam pengertian olahraga tersebut seperti: pertandingan, permainan, perlombaan,  dan juga aktivitas jasmani atau tubuh secara serius, sungguh-sungguh dan dengan giat sehingga dapat diperoleh suatu kemenangan dan puncaknya prestasi demi membentuk manusia.

Sejarah awal mula dari munculnya olahraga, dapat kita telusuri dari catatan sejarah, dari catatan sejarah tertua, olahraga sendiri dipercaya bermula pada 3000 tahun yang lampau di Yunani, oleh karena itu dianggap sebagai acara tertua di dunia. Dalam perkembangannya pengertian olahraga juga dijabarkan sebagai suatu alat yang berguna untuk perangsangan perkembangan dan pertumbuhan jasmani atau tubuh, rohani atau jiwa, dan juga kehidupan sosial. Maksud dari pengertian olahraga tersebut sama halnya seperti kita makan, yang mana olah raga juga sangat penting karena juga termasuk kebutuhan dari hidup secara periodik.

Kembali kedalam pembahasan awal, tentang perkembangan industri olahraga setelah kita mengetahui pengertian dan sejarah awal dari olahraga. Di era globalisasi seperti saat ini industri olahraga telah menjadi komoditas yang tidak terelakkan, dan sudah menjadi bahasan yang sebenarnya muncul dalam kehidupan sehari-hari disegala apsek. Hal ini ditandai dengan munculnya perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang olahraga baik dari skala nasional ataupun internasional. Ada baiknya kita perlu mengetahui tentang apa itu pengertian industri. Industri berdasarkan etimologi berasal dari bahasa Inggris “industry” yang berasal dari bahasa Prancis Kuno “industrie” yang berarti “aktivitas” yang kemudian berasal dari bahasa Latin “industria” yang berarti “kerajinan, aktivitas”.

Dalam arti luas, pengertian industri adalah segala kegiatan ekonomi yang bersifat produktif atau menghasilkan keuntungan. Dalam arti sempit, pengertian industri adalah usaha manusia mengolah bahan mentah atau bahan baku menjadi bahan setengah jadi atau barang jadi sehingga memperoleh keuntungan atau profit. Dalam pengertian yang lebih luas, industri dapat diartikan sebagai semua kegiatan manusia dalam bidang ekonomi yang sifatnya produktif dan bersifat komersial untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Dari pengertian Olahraga dan Industri tersebut, Industri Olahraga dapat ditarik pengertiannya sebagai sesuatu kegiatan bisnis yang dilakukan dengan cara memproses atau mengilah barang dan jasa secara terus menerus dalam ruang lingkup kegiatan keolahragaan seperti pengelolaan saran dan prasarana olahraga yang bertujuan untuk memperoleh keuntungan baik itu bagi industri itu sendiri, masyarakat serta stakeholder. Sedangkan menurut pengertian dari Brown dan Petrello (1976) menyatakan bahwa bisnis olahraga adalah usaha yang meliputi bidang keolahragaan baik itu menciptakan atau memproduksi suatu produk yangberkaitan dengan olahraga ataupun kegiatan jasa olahraga dan kemudian memasarkan kepada masyarakat atau konsumen.

Munculnya industri olahraga diawali sejak Peter Ueberuth sukses membisniskan olimpiade Los Angeles 1984, maka sejak itu pula olahraga level dunia memasuki era industri. pengambil alihan penyelenggaraan Olimpiade oleh Peter Ueberuth dan menghasilkan laba sebesar 227,7 juta dolar dan mulai munculnya produk Nike yang menjadi sponsor yang mendukung dalam sarana olahraga, menjadi tonggak tumbuhnya industrilisasi dalam bidang keolahragaan.

Dilihat dari kaca mata kemanfaatan, munculnya industri olahraga bagi masyrakat diharapakan akan mampu untuk menciptakan suatu keadaan masyarakat yang maju dan lebih bersifat transformatif yaitu masyarakat maju baik secara struktual maupun kultrual. Dari dimensi struktural adalah dengan adanya upaya transformasi yang mengubah masyarakat agraris menjadi masyarakat industri. Sedangkan dari dimensi kultural tercermin pada nilai-nilai baru yang berkembang dan sangat bermanfaat dalam menopang terbentuknya suatu masyarakat industri olahraga yaitu menyangkut sikap, tingkah laku rasional masyarakat, sadar kesehatan, dan kompetitif.

Pertumbuhan industri olahraga tentu akan merangsang munculnya inovasi dalam perkembangan kelolahragaan, memunculkan industri kreatif dalam penyediaan saran dan prasarana sehingga akan menumbuhkan daya saing baik di industri lokal ataupun di pasar dunia atau memunculkan hubungan kerja sama antara industri olahraga yang berskala kecil dan menengah dengan industri olahraga besar. Dengan adanya kerja sama tersebut diharapkan menjadi suatu kebijakan dalam menciptakan lapangan kerja dan daya saing ekonomi. Industrialisasi olahraga dalam pembangunan ekonomi dapat dilihat dalam kerangka pemikiran dan pola pendekatan yang dikembangkan Masyur Wiratmo (1992) yang mengatakan bahwa negara yang sedang berkembang yakin, bahwa industrialisasi diperlukan agar negaranya bisa tumbuh dan berkembang secara cepat. Sebab dalam proses industrialisasi itu biasanya akan dibarengi dengan percepatan kemajuan teknologi, proses pelatihan sumber daya manusia dan kemudian peningkatan produktifitas, (dan dengan demikian juga upah riil dan pendapatan meningkat) dibandingkan kalau hanya mengandalkan sektor pertanian.

Pengembangan industri olahraga di Indonesia menjadi perhatian yang cukup besar. Berbagai kebijakan telah dilakukan dalam rangka melakukan pembinaan terhadap industri olahraga. Pemberdayaan di sektor industri olahraga diarahkan kepada pembinaan yang diharapkan akan menjadikan para stakeholder untuk lebih memahami lingkungan pasar saat ini. Mampu melakukan analisis dan pengembangan usahanya serta mampu mengambil keputusan dan pengembangan usahanya seta mampu mengambil keputusan dan tindakan yang paling baik dan tepat bagi dirinya untuk pengembangan usahanya sendiri.

 Dengan pemberdayaan diharapkan pula akan menumbuhkan kesadaran tentang posisi dirinya di tengah-tengah dunia usaha. Dengan pemberdayaan tersebut maka industri olahraga dapat memperoleh peluang dan menghadapi tantangan serta memperoleh kesiapan untuk ikut serta dalam kompetisi industri olahraga dunia. Kompetitif dengan negara-negara maju tidak boleh tidak industri olahraga harus memacu diri dan mengejar ketinggalan dan kekurangan-kekurangan dengan tetap berpegang teguh pada kekuatan sendiri. Meskipun demikian permasalahan pengembangan industri olahraga di Indoensia memiliki permasalahan diantaranya adalah 1) Permasalahan permodalan, 2) Lemah dalam memperolah peluang pasar dan memperbesar pangsa pasar, 3) Keterbatasan pemanfaatan dan penguasaan teknologi, 4) Masalah dalam strategi pemasaran produk, 5) Lemah dalam jaringan usaha dan kerja sama usaha, 6) Kelemahan dalam menalitas usaha dan kewirausahaan.

Dari uraian diatas dapat kita nyatakan bahwa perkembangan industri olahraga adalah salah satu cara dalam meningkatkan nilai hakikat manusia dalam pencapaian pengembangan diri dalam segala bidang. Bahkan jika kita jeli olahraga sendiri juga telah memasukkan nilai-nilai yang dikandungnya kedalam industri olahraga, diantaranya adalah sikap kompetitif, sportivitas bersaing dan skill. Industri olahraga meskipun dalam pemahaman dipandang negatif sebagai kapitalisme olahraga, tetapi dapat kita benarkan bahwa dalam sifat unsur mendasar dari kapitalisme adalah kekuatan modal dan daya saing, hanya saja pengertian modal dalam khasanah kita terbatas kepada materi, dan menutup semua kemungkinan jika pemodal bukanlah pemodal yang kuat, maka industri olahraga yang dibangun tidaklah mampu berdaya saing. Dan inilah yang menjadi bahan kritisi kita dalam memahami dimensi industri olahraga.

Modal bukan hanya sebatas materi, pemerintah haruslah mampu merubah sudut pandang dengan mengajarkan hal-hal tentang inovasi, kreatifitas dan penyediaan bantuan kepada industri kreatif yang bergerak didunia olahraga. Bisnis dalam dunia olahraga sendiri bukan hanya harus dari keaktifan dan dukungan oleh pemerintah semata, tetapi dari semua lapisan masyarakat. Bisnis industri olahraga di Indonesia dapat dibilang cukup lumayan dalam perkembangannya, hal ini dapat diamati dari waktu ke waktu. Dimana dahulu hanya bergerak di bidang penyediaan alat-alat olahraga, tetapi sekarang dalam perkembangannya sudah mulai masuk kedalam penyediaan event-event keolahragaan baik berskala Nasional ataupun Internasional.

 Bisnis bukanlah sesuatu yang mengambil keuntungan sepihak seperti pengertian yang masih banyak orang asumsikan, merujuk dari pengertian Elmore tentang bisnis yang sesungguhnya adalah bahwa semua pihak yang berada didalamnya sama-sama harus mendapatkan keuntungan, jika salah satu pihak secara sengaja memperoleh keuntungan dengan merugikan pihak lain maka tidak terjadilah suatu transaksi bisnis dalam arti yang sebenarnya, tetapi merupakan sebuah bentuk penipuan. Menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi pemerintah dan akademisi untuk merubah persepsi masyarakat tentang industri olahraga, karena dengan kesadaran dan pengertian yang benar tentang industri olahraga maka dunia olahraga Indonesia akan bangkit, ikut terdorong kemajuannya seiring dengan kemajuan industrialisasi olahraga yang berjalan. Jika berjalan demikian, pemerintah akan dinilai berhasil dalam melaksanakan amanah untuk memajukan kehidupan yang sehat fisik dan psikis, tetapi juga sehat dalam dunia perekonomian yang memiliki daya saing.

Dengan demikian, industrilisasi dunia olahraga tentu diharapkan akan membawa kesejahteraan bagi rakyat dan mampu mengangkat harkat dan martabat Negara di kancah persaingan globalisasi. Merangsang setiap bangsa dan Negara untuk berlomba-lomba dalam meraih kejayaan, pencapaian eksistensi tertinggi dengan memunculkan sikap berdaya saing untuk menjadi besar. Seperti jargon universal yang dipakai dalam olympiade modern citius, altius dan fortius (kebaikan, keunggulan dan kejayaan).

Binuko Amarseto

A121408003

MENELISIK KECERDASAN BANGSA INDONESIA DALAM KACA MATA TRANSFORMASI PEDAGOGI

10532925_767881873274857_3619280837114878180_n

Berbicara tentang kecerdasan, pada mata kuliah Pedagogi olahraga yang dibawakan oleh prof Agus, bukankah akan menjadi menarik saat sebenarnya kita dihadapkan pada kenyataan tentang keunikan manusia, tentang kekhasan manusia yang harusnya menjadi berbeda unik dan berkembang dengan kemampuan khasnya. Memanfaatkan potensial potensial yang ada secara alami berada dalam dirinya “meski dalam bab ini saya masih merasa perlu kajian mendalam, bagaimana sebenarnya bentuk kecerdasan itu sendiri dipandang dari sudut pengertian ataupun secara fisiologis” meskipun demikian kecerdasan telah didefinisikan oleh para ahli.

Lalu apa pengertian kecerdasan itu sendiri?  Beberapa ahli menyimpulkan kecerdasan sebagai berikut ?

1. Gregory: Kecerdasan adalah kemampuan atau keterampilan untuk memecahkan masalah atau menciptakan produk yang bernilai dalam satu atau lebih bangunan budaya tertentu.

2. P. Chaplin: Kecerdasan adalah kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru secara tepat dan efektif.

3. Anita E. Woolfolk: Kecerdasan adalah kemampuan untuk belajar, keseluruhan pengetahuan yang diperoleh, dan kemampuan untuk beradaptasi dengan situasi baru atau lingkungan pada umumnya.

Dari berbagai sumber tersebut dapat kita simpulkan sebagai berikut : “Kecerdasan adalah properti dari pikiran yang mencakup banyak kemampuan mental yang terkait, seperti kapasitas untuk berpikir, merencanakan, memecahkan masalah, berpikir abstrak, memahami gagasan dan bahasa, dan belajar….”

Howard Gardner (1993) membagi kecerdasan menjadi kecerdasan matematika logika, kecerdasan bahasa, kecerdasan musikal, kecerdasan visual spasial, kecerdasan kinestestik, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal dan kecerdasan naturalis. Tetapi ini bukan bahasan yang menarik, seperti apa tipe dan karakteristiknya bisa kita cari dan kita gali sendiri bagaimana dan tergolong apa kemampuan kita, meski terkadang pada akhirnya kita akan kebingungan dalam menentukan kemampuan kecerdasan diri kita sendiri.

Pendidikan paling menarik adalah seperti yang dikonsepkan oleh Plato, bahwa pendidikan haruslah membebaskan dan memperbaharui, lepas dari belenggu ketidaktahuan dan belenggu ketidakbenaran. Bergeser kepada muridnya yang mengeser kepada kepentingan Pendidikan dalam kenegaraan, Aristoteles beranggapan bahwa pendidikan haruslah sama dengan tujuan akhir dari pembentukan Negara, dan Negara haruslah berkesesuaian dengan kepentingan hukum/ konstitusi.  Yaitu demi tercapainya kebahagiaan dan kehidupan yang baik.

Pendidikan kita saat ini mau tidak mau saya asumsikan lebih mementingkan kepentingan pasar daripada mengkaji kembali tentang hakikat manusia sebenarnya, sense of crisis haruslah kita tumbuhkan dalam melihat pendidikan Indonesia saat ini. Penetapan kebijakan pendidikan yang masih acak-acakan dan sering berganti seiring dengan pergantian kekuasaan, penetapan kurikulum yang membuat anak didik menjadi kebingungan. Atau memang pemerintah memandang dan mengarahkan pandangannya bahwa manusia pada hakikatnya adalah sebuah mesin/ objek yang disiapkan untuk mensuplai kebutuhan.  Yang hanya menjadi pokok permainan dalam pergantian kebijakan, jika pemerintah jeli dan peduli, seharusnya kurikulum tidak perlu lagi membahas tentang bentuk, tetapi lebih kepada pengembangan agar bangsa ini memiliki kualitas manusia dengan menggali dan menumbuhkan kualitas kecerdasan personalnya.

Berbeda jauh dengan tujuan pendidikan di Eropa memberikan waktu dan kesempatan dalam mendorong mahasiswanya untuk mengenali dirinya sendiri dan penggalian dalam suatu bidang untuk mencapai kebenaran tertinggi. Pendidikan kita menggiring anak didiknya untuk menjadi seuatu, kurikulum lebih menitik beratkan kepada pemberian asupan materi tanpa sedikitpun pengenalan terhadap diri sendiri, potensi atau harapan sebenarnya bisa memberikan ruang dan dukungan untuk mengembangkan potensi tanpa harus mendiskritkan bahwa pemenuhan materi kurikulum adalah sebuah kewajiban yang haruslah dipenuhi.

Pendidikan kita lebih berorientasi kepada pemenuhan sumber daya manusia. Meski akan terdengar manis dengan nama sumber daya manusia, tetapi kita tetap janganlah mudah untuk dikelabuhi. Sumber daya manusia yang mana dan bagaimana ? Sumber daya yang memang sudah disiapkan untuk mengisi pos-pos. Sedangkan penciptaan pos-pos sendiri bukanlah dari hasil anak bangsa, bangsa ini hanya menjadi penyedia, bukan pengelola, atau lebih jauh sebagai pencipta ide. Kecerdasan manusia sesungguhnya yang dibagi oleh Gardner menjadi terabaikan, dan pada akhirnya, bekerja pun manusia ndonesia tidak memiliki ruh. kejenuhan yang cepat melanda, dan kurangnya hasil optimal dalam bekerja, malas berpikir dan lebih memilih untuk bekerja kasar tanpa harus melibatkan berpikir.

Mindset bangsa kita sendiri tentang pendidikan tak lain adalah bahwa pendidikan adalah untuk mencapai sesuatu, kemudian bekerja, konsep pemikiran demikian ini menjadi turun temurun, pendidikan kita menggiring mindset bahwa setelah menempuh studi bekerja adalah salah satu tolak ukur dalam kesuksesan. Sedangkan mindset pembentuk bekerja yang seperti apa tidaklah menjadi sesuatu yang penting, bangsa ini telah memiliki mindset tentang nilai-nilai yang dibentuk oleh pendidikan itu sendiri.

Tujuan dari pendidikan Indonesia sendiri telah diatur oleh Pasal 31, ayat 3 :

“Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan Nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta ahlak mulia dalam rangka mencerdasakan kehidupan  bangsa, yang diatur dengan undang-undang”

Atau pasal 31, ayat 5 :

Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menunjang tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia

Dalam penjabaran UU no 20, tahun 2003 pasal 3 menyebutkan bahwa :

Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berkahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab

Jika kita amati dengan seksama, sesungguhnya diatas kertas tujuan Nasional pendidikan di Indonesia masih sesuai dengan substansi Pancasila, dan Undang Undang Dasar 1945. Yaitu memiliki tujuan luhur, memanusiakan manusia dan yang perlu digaris bawahi kembali adalah adanya kalimat “….bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik.

Namun apakah benar tujuan pendidikan ini dijabarkan secara konsisten didalam kurikulum pendidikan dan juga dalam sistem pembelajaran? Jawabannya tentu kita berharap Ya, meskipun kenyataannya mungkin jauh dari kenyataan atau malah bertolak belakang.

Guru diharapkan menjadi sosok profesional yang mampu untuk menumbuh kembangkan potensi dari anak didik, guru haruslah tahu cara apa yang digunakan untuk mengembangkan anak didik seperti, persoalannya adalah bagaimana dengan mengatasi mindest pada anak didik dan pandangan dari orang tua atau bahkan kepada tujuan pemerintah yang sebenarnya. Partisipasi yang tinggi diperlukan. tetapi sayang sekali, kebanyakan guru di Indonesia adalah orang-orang yang tidak berkualitas, guru yang harusnya menjadi pondasi utama dalam memajukan pendidikan bangsa, hanya lulusan dari pendidikan guru yang tidak berkualitas dan sistem pendidikan yang tidak berkualitas pula, seperti mata rantai yang tidak akan putus meskipun kurikulum selalu diganti, dan ini harus dijadikan bahan perenungan, ditelisik agar bagaimana cara menghentikan mata rantai ini dapat berhenti. Mengutip sebuah kata yang menarik dalam kasus ini dari Djoko “Guru sekarang telah krisis, kehilangan “keguruannya”” . banyak yang tertarik menjadi guru, tetapi guru yang hanya menjadi sebuah profesi  bukan lagi sebuah panggilan mulia untuk mencerahkan. Pandangan transformasi  pedagogi seharusnya bertujuan untuk mengubah bukan hanya persoalan skill, tetapi juga kepada mindset tentang apa itu kesuksesan dan kecerdasan.

Transformasi Pedagogi Olahraga

sports-psychology-image2

Secara definisi menurut Opungregar (2008), pedagogi mewujudkan pendidikan yang berfokuskan guru. Dalam suatu model pedagogi, guru memikul tanggungjawab untuk membuat keputusan tentang apa yang akan dipelajari, dan bagaimana ia akan dipelajari, dan kapan ia akan dipelajari. Guru mengarahkan pembelajaran. Berbicara tentang pedagogi tidak terlepas dari bahasan pendidikan, pendidikan merupakan salah satu komponen penting dalam tercapainya tujuan Nasional. Dalam konteks keolahragaan, yang secara sederhana kita telah mengetahui bahwa olahraga adalah aktivitas untuk melatih tubuh seseorang. Kegiatan gerak tubuh dalam pendidikan, dan pengajaran. Pedagogi transformatif memiliki kekhasan yang bertujuan untuk merubah, mengganti arah model cara mendidik ataupun transformasi objek yang dituju.

Perubahan trnasformasi pedagogi memang secara langsung menginginkan ouput yang berbeda dari input  yang diambil, meskipun demikian peran transformasi pedagogi tidaklah harus berfokus didalam hasil semata, tetapi cara dalam mentransformasikan objek tersebutlah yang menjadi bahasan sesungguhnya.

Mentransformasikan objek, merekonstruksikan cara dengan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.  Objek yang tak lain adalah manusia haruslah dijunjung tinggi nilai-nilai sebagai mahluk yang berkesadaran, berkeinginan dan eksistensialis. Transformasi dalam pedagogi haruslah mampu memanfaatkan sifat alamiah ini untuk dikembangkan bukan sekedar mendorong kedapa akhir dari tujuan-tujuan. Meskipun demikian pendidikan bukanlah ruang yang bebas dari intervensi dan praktik politik, bahkan pendidikan adalah arena pertarungan pengetahuan, budaya dan nilai-nilai.

Dengan demikian, guru atau pembimbing haruslah memiliki keunggulan dalam mengajar, efektif dan efisien. Memiliki karakter yang mumpuni dalam menentukan metode-metode yang efektif didalam pembelajaran, dan merumuskan jawaban, menciptakan penyelesaian dari permasalahan-permasalahan yang muncul dalam pengajaran.

Pendidikan sekarang memang secara langsung dapat diketahui bertujuan untuk menciptakan segala sesuatu yang mencukupi. Subjek bergerak menjadi sebuah mesin cetak yang juga bertujuan untuk mencukupi dan melaksanakan tugas. Sedangkan Objek adalah bahan sebagai pengisi dari tujuan kekuasaan yang biasanya disebut dengan tujuan-tujuan mengatasnamakan Nasionalisme.

Meskipun demikian, tujuan Nasional tetaplah harus dikaji, benarkah tidak ada kemanfaatan dalam pembangunan umat manusia yang berkesadaran, berkeinginan dan tetap menghormati eksistensi. Kalau tujuan Nasional belumlah sampai dalam tahap demikian, maka transformasi untuk menghasilkan manusia yang lebih baik hanya akan menjadi wacana dan kebohongan semata. Rekontruksi tidak terjadi, meskipun hasil output yang diraih berbeda dari input yang diambil.

Transformasi pedagogi olahraga haruslah mengacu kepada sistem kemanfaatan, dalam pencapaian tujuan nasional. Yang dalam sederhananya adalah masyrakat haruslah mampu hidup dan menghidupi dirinya, baik mental ataupun fisik. Transformasi pedagogi olahraga haruslah menyeluruh, total dan radikal. Bukan hanya bertitik kepada goal, subjek dan objek tetapi juga ruh dan dinamika perkembangan manusia. Menilik dalam perkembangannya sampai saat ini, olahraga kian meluas dan memiliki makna yang bersifat universal dan unik. Berawal dari sekedar kegiatan fisik yang menyehatkan badan, mengisi waktu luang, dan media eksistensi diri, akhirnya bergeser menjadi kegiatan yang multi kompleks, telah mempengaruhi dan dipengaruhi oleh fenomena-fenomena lain seperti politik, ekonomi, dan sosial budaya.

Binuko Amarseto

A121408003

CHAOS

10255779_478456595619402_7458114880189674463_n

Lihatlah, kita sedang berebut kebenaran dengan kata-kata dan mengandalkan perspektif semata.

Kebenaran adalah apa yang dibentuk oleh pengalaman dan pertimbangan yang dari pengalaman pula.

Atau mungkin condong karena kesukaan, kesenanagan semata kita terhadap apa yang kita yakini tanpa menimbang-nimbang sudut lain.

Tidak ada kebenaran, kita hanya berkelahi dengan cara yang lebih elegan saja, dengan mengatasnamakan kebenaran.

Lalu kenapa ?

Kenapa kita harus berkelahi?

Karena kita memang menyukai dan merindukan untuk saling menaklukkan.

Manusia merindukan chaos, merindukan kehancuran yang berdarah-darah.

Hanya ingatan mereka telah lama ditimbun oleh tatananan yang menguntungkan si lemah.

Mereka yang korporat, dan cerdik pandai dalam mengatur hidup.

Atas nama manis-manis dan membahagiakan.

Percayalah, kita merindukan perang.

Merindukan sifat alamiah kita yang telah lama dipalsukan oleh norma-norma.

Jika saya tidak benar.

Dapatkah kau mengatakan kepada saya dengan yakin bahwa kedamaian umat manusia benar-benar akan ada. Nyata.

Aku, Bunuh Diri

Apa yang menarik dari hidup ini. Tidak ada, semua tampak datar dan membosankan. Semua sama dengan segala permasalahan. Jika kau sudah tahu jawabannya, kau akan segera mengerti bahwa hidup ini adalah kosong. Tidak ada sama sekali.

Lalu aku harus memilih mengisi tentang kebebasan yang tidak ada. Seperti kata orang besar yang menampar dunia. Manusia terpenjara oleh kebebasannya sendiri. Dan bunuh diri adalah jawaban yang terbaik untuk hidup. Ketiadaan hidup.

Jauhilah filsafat, jauhilah kenyataan yang akan menyeretmu kedalam keheningan hidup. Dunia ini tidak ada sama sekali. Maka benar, kehidupan yang abadi adalah kematian itu sendiri.

Bukankah kita akan menjadi gamang dengan kenyataan yang aku sebutkan. Lalu apa makna yang harus kita berikan. Menciptakan makna atau menenukan makna dalam ketiadaan. Aku rasa, manusia haruslah menciptakan makna disetiap hidupnya, menciptakan nilai yang harus dipegangnya sendiri.

Bunuh diri secara filsofis ? menarik bukan.

images (17)