Cinta dan Dasamuka

ravana3

Delapan belas tahun lalu Sinta harus pergi meninggalkan nyaman istana Ayodya, tak lama setelah dirinya dibebaskan dari Alengka oleh Hanoman dan Sri Rama. Datang kepada Sri Rama dengan berbadan dua. Mengandung putra kembar Lawa dan Kusa yang saat ini berperang melawan Sugriwa.

Bukan gunjingan penduduk Ayodya yang selama ini dia risaukan. Tetapi sikap Sri Rama yang mengabaikan dirinya yang membuat hatinya perih. Membuat dirinya seakan bukan lagi keinginan, membuat kehadirannya bukan lagi menjadi sesuatu yang diharapan. Luka apa lagi yang lebih pedih dari hati wanita selain mendapati kenyataan demikian. Mendapati kenyataan bahwa diri ternyata tidak spesial seperti yang dipikirkan. Oh Dewata.

Bahkan dalam kondisi mengandung anak buah cinta kasih pun masih dipertanyakan. Belum cukupkah tes kesetiaan dari Sri Rama. Tak cukupkah dirinya saja yang meyakini kesetiaannya tanpa mendengar suara-suara yang tidak mengenal mereka. Raja adalah raja, perhitungan memilihnya untuk menjauhi menyakiti rakyatnya. Sinta dibakar untuk uji kesucian. Tes kedua kalinya, prasangka yang menyakitkan yang harus diterima Sinta. Sudah cukup.

Ah Rahwana memang menculik dirinya, membunuh Jatayu yang mencoba menyelamatkannya. tetapi apa naas aku harus rela memberikan kesucianku pada diri raksasa dari Alengka itu. Aku lebih baik mati seperti Jatayu.

Sinta tidak memungkiri, Rahwana tidaklah setampan dari Sri Rama. Meskipun demikian banyak wanita yang jatuh bertekuk lutut kedalam karismanya, dia ksatria. Memiliki kecerdasan luar biasa, hanya saja berwujud buta. Apa salahnya wujud, hanya karena berbeda dan tak sama dengan begitu mudah kita memandang sinis padanya. Ah Cerita.

Ya bukankah terkadang cerita suka melebih-lebihkan. Membuat perasaan sedikit lebih tertekan dengan pengambaran watak. Kejahatan dan kebaikan dibumbui begitu rupa, membentuk perspektif kita, membuat kita menerima dan mendukung salah satu dari mereka harus dalam posisi durjana.

Bahkan, andai Sri Rama mau tahu, Rahwana mengetahui bahwa Hanoman telah masuk menyusup kedalam taman Alengka. Diam-diam Rahwana memberikan kesempatan kepada Hanoman untuk bertemu dengan Sinta. Tidak mengusiknya. Memberikan kesempatan kepada Hanoman untuk melaksanakan titah Sri Rama menguji kesetiaan dengan memakaikan cincin pada Sinta.

Rahwana tidaklah senang atas hal ini, lantaran Sinta akan sedih dan membenci Rama. Karena secara matematis hal ini tentu saja akan sangat mempermudah bagi Rahwana untuk mendapatkan hati Sinta. Kekecewaan Sinta atas sikap Rama yang menaruh curiga. Meragukan kesetiaan diri. Tetapi cinta bukan matematika.

“Ini bukan jalan ksatria dalam memperlakukan pujaannya”  lirih Rahwana.

Dia membenci Rama atas sikap kurang ajarnya kepada Sinta. Terlebih setelah tahu bahwa Sinta harus pula melakukan ritual diobong untuk membuktikan kesuciannya. Sebuah tes kesetiaan yang menyakitkan tentunya bagi titisan Laksmi. Titisan dewi agung yang mengajarkan pengetahuan tentang adab dan keagamaan pada manusia.

“Ah…kau Wisnu !! bertubuh manusia berlaku masih sok dewa! Cuiiih !! percuma menjelma jika tidak tahu harus bagaimana menjadi manusia” Geram Rahwana melihat Sinta yang remuk hatinya untuk kedua kali.

Rahwana saja tidak seegois dirimu wahai Sri Rama. Walau dia berjuluk Dasamuka, dengan pengetahuan dalam Weda dan Sastra. Hingga akhirnya kelak Walmiki akan menuliskan sejarahnya dengan watak Rakus dan Brangasan. Menuliskan demikian hanya demi keberlangsungan cerita agar terlihat menarik. Demi cerita yang kelak akan menanamkan kebaikan dan keburukan pada pendengarnya.

Mengorbankan seseorang dengan melabelkan peran tentu bukan masalah bagi sang pembuat cerita. Ya tapi sayang Sinta mengenalnya selama di Alengka. Mengenal watak yang bertolak belakang dengan apa yang kalian ketahui selama ini. menculik Sinta pun karena cinta. Mungkin suatu saat kau akan membacanya,mengetahui hubungan mereka lebih jauh dari pendegar-pendengar lainnya.

” Akan tetap kubangun rumah ini meski tanpamu “

 IMG_20140511_160103Apa yang harus kulakukan padamu? Aku yang normatif tentunya akan memilih untuk diam, tak membencimu. Aku lebih memilih untuk pergi dan mengambil bekal yang aku punya untuk melanjutkan hidupku. Mungkin merangkai mimpi baru dari remah bangunan yang pernah kita sama-sama bangun. Akan ku ambil sisa yang aku miliki, sisa yang masih bisa aku perbaiki. Meski selebihnya cukup aku bawa saja. Sebagai kenangan.

Mungkin aku pembaca Nietzsche yang tidak begitu baik, tetapi aku mengerti bahwa memang Cinta melepaskan manusia dari kejahatan dan kebaikan dalam penilaiannya. Aku mengerti sekali. Seperti halnya aku sedikit mengerti tentang pemikiran Sartre, filsuf yang aku kagumi karena eksistensialisnya, tentang hubungan manusia yang menjadikan manusia lain sebagai nerakanya. Kebebasan hidup yang absrud kata Camus, dorongan kesenangan manusia dari Freud, aku membenarkannya. Bahwa kita hidup dalam kehidupan yang tidak bisa begitu mudah untuk dimengerti.

Mungkin apa yang ada dalam kepalaku tidak begitu banyak orang yang memahami, tetapi aku yakin ada. Dan kupikir, tidak semua orang yang mengerti adalah orang yang berani memilih untuk melakukannya.

Aku berkata aku normatif dalam menghadapimu, aku hanya berusaha untuk menipu diriku sendiri. Mengurangi sakit yang ternyata ada. Nyata dan hadir seketika. Mengelabuhinya agar kudapatkan kebaikan tanpa harus menyakiti hatimu. Karena aku tak mampu untuk bersedih lagi didepanmu. Ya harusnya kau tahu bahwa aku tidak peduli dengan norma. Seperti kataku, aku hanya ingin melihatmu bahagia, melihatmu berani memilih tanpa harus membohongi perasaanmu. Meski semua harus ada konsekuensi yang kau hadapi. Kehilangan aku.

Dan kupikir sudah cukup aku untuk disini, aku akan pergi berjalan-jalan menyambut malam.

Menyambutnya dengan ucapan selamat pagi seperti biasanya.

Aku mungkin tidak akan kembali kepadamu. Karena malam yang kupilih mengaburkan jalanku pada rumah.

Aku tak menyangka, mungkin karena aku utopis. Aku tak melihat lubang yang membuat rangka menjadi mudah koyak. Karena kebebasan yang kupikirkan berbeda hasil dengan apa yang aku harapkan padamu. Terlalu banyak lubang membuatmu mudah masuk angin. Dan sekarang setidaknya aku tahu, kita tidak bisa berada dalam satu rumah yang sama.

Kau berkata, bahwa kau ingin menjengukku. Jenguk saja. Tetapi kau tidak akan menemui aku yang dulu. Bukan karena perbuatanmu padaku, tetapi perosalan kenapa aku tidak bisa lagi berpikir untuk bersamamu. Percaya kepadamu.

Kupikir kau senang dalam rumah ini, rumah yang didalamnya kita dapat memandang bebas keluar, menikmati angin, melihat warna senja, atau merasai sentilan air hujan. Kupikir kau senang disini.

(seperti aku yang ingin kau tetap bersamaku, menjalani hari-hari untuk membesarkan anak-anak kita yang lucu, bermain bersama anjing-anjing kita dibelakang rumah, atau sekedar duduk membaca buku sembari sesekali bercumbu, dan aku berjanji, akan tetap kubangun rumah ini meski tanpamu)

Psychedelic Journey

 images (14)

Perjalanan ini di luar yang pernah aku harapkan, perjalanan yang jauh dan hampir merenggut kehidupanku.

Aku harus ke pantai itu, mencari kebenaran yang dia tenggelamkan dalam buih-buih yang memudar bersama datangnya pagi.

Semua ini tentang koneksi ? bagaimana kita bisa menjadi satu, bersetubuh dalam pikiran yang berulang. Meski pada akhirnya aku menemukan sedikit celah. Agar bisa tetap mengintip kenyataan yang telah terbuang di entah mana. Aku melihat kecacatan perbedaan.

Anjing-anjing duduk, menunggu. Mengendus.

Aku masih berjalan menuju pantai, mencari kebenaran yang direnggut entah kapan.

Aku belum tidur, atau aku sudah mati.

Asap dupa selalu disiapkan pada pagi hari. Sesudah seruan adzan yang samar kudengar. Ini bukan kebenaran.

Mataku semakin rancu, jarak ini harusnya tidak sejauh ini. Pendegaranku juga sudah mulai rusak sejak tadi pagi, kudengar semua persetubuhan. Bahkan ayam berkokok tak ubahnya suara desahan perempuan binal yang menantang.

Semua aroma kembali kepada dupa, kebenaran adalah asap dupa.

Semua sudah tidak lagi nyata. Aku tidak sedang bermimpi. Apakah benar mimpi tidak terdapat aroma.

Ah sial, aku harus tetap kepantai.

Semalam aku sudah menjadi Nietzsch, dan itu membuatku tertekan. Bukan kebanggaan yang aku dapatkan, tetapi semua teoriku ditendangnya mentah-mentah. Kant yang dungu telah berdiri dengan sombongnya, dialah kebenaran yang telah dikucilkan oleh realitas semu otak manusia. Kebenaran dimenangkan oleh Kant. Hingga beberapa kali tanganku ku sundut rokok karena aku tak mau ini adalah kebenaran. Aku masih bermimpi.

“Lihatlah kembali agama Hindu” bisiknya terdengar mistik.

Agama yang paling tua didunia ini. Bahkan sebelumnya, aku mengucilkannya.

Betapa dia mengerti tentang kemabiguan kebenaran dan realitas.

Aku bertemu dengan Gautama, dia adalah Allah, dia adalah Yesus, dia adalah Muhammad, dia adalah aku sendiri. Semua yang ada di dunia ini adalah satu. Aku pergi kesemua masa, kesemua waktu. Aku adalah Ayu Utami itu sendiri, yang menggenapi diri dengan pergumulan di kamar sebelahku. Menggenapi takdir alam bawah sadar dengan laki-laki itu.

Siapa yang tahu kebenaran. Aku harus ke pantai itu.

Anjing masih duduk di depan pintu gerbang, semua  terulang kembali, perjalanan ke pantai terasa semakin jauh. Kulihat kakiku tetap melangkah. Ini ilusi.

Kucoba meraih handphone dan buku yang aku tulis. Aku belum membukanya kembali sebelum terakhir kali aku menulisinya. Aku menghubungi dirinya, anjing dari masa lalu. Tidak terangkat, tidak tersambung.

Aku tersadar, dia sedang berada di Lombok juga. Aku telah pergi kesuatu tempat yang pararel. Aku maju kemasa lalu, atau masa lalu yang datang kepadaku, siapa yang bergerak. Aku merindukan Einstein dengan toiletnya, aku menyadari semua berulang. Karmakah ? Budha tolong jelaskan padaku.

Jelaskan bahwa aku bertemu dengan mereka yang terjebak denganku seperti ini, aku berbicara tentang connection. Kami disini terhubung. Dewi Lestari yang menjadi Hindu. Ayu Utami, Einstein, John Lennon, Murakami, Bob Marley……kami bertemu, berbicara, merindukan dan satu. Mereka adalah aku, aku adalah mereka dalam satu waktu. Lagu-lagu itu, aku yang membuatnya, kami yang membuatnya, semua lagu, semua tulisan, semua yang terjadi sebelum buku-buku dan album itu dilahirkan, kami menjalani bersama dalam tubuh yang berbeda.

Lalu dimana kebenaran waktu saat ini, dimana aku, dimana mereka yang sadar dan benar?

Aku harus menghubungi Alex, dialah manusia yang bisa mengerti apa yang aku bicarakan.

Ya aku menelponya pagi buta, ditengah semua mata yang memperhatikan, mungkin aku sudah benar gila oleh pandangan mereka.

Gila apa yang aku lakukan, aku tidak melakukan sesuatu yang mencolok ?

Sebisa mungkin aku sudah membuat semua ini normal, Atau mereka yang gila. Persetan, mungkin kali ini aku yang tetap ingin dalam sebuah kerumunan. Pengecutkah.

“Hei, kau tidak pernah tahu apa yang sedang kau lakukan saat ini, kau tidak memiliki kesadaran itu, kau tidak tahu sendiri secara pasti, kau dalam sebuah mimpi atau dalam kenyataan” suara itu datang lagi.

“Kebenaran adalah ilusi, kosong adalah isi, isi adalah kosong, kau mendengarnya berulang kali bukan”

Ah, aku harus tetap sadar, dimana aku sekarang. Aku tidak bermimpi aku hanya terjebak dalam kebingungan antara sadar dan mimpi.

Aku berhasil menelfonya, menceritakan apa yang aku rasakan, sekaligus berpamitan jika aku sebenarnya sudah mati. Tadi malam aku mati. Mungkin saja.

Aku tetap melanjutkan perjalanan ke Pantai, semoga kebenaran belum mati.

Pagi hanya harapanku, menjadi batas bahwa aku harus segera kabur dari keadaan yang membuatku semakin tertekan.

Dupa meruap udara menjadi mistis, aku semakin mabuk, udara yang kukenal, aroma ganja.

Aku lekas bergegas, pantai, ada udara bersih disana.

Kebenaran. Menungguku atau mungkin membunuhku.

Catatan 15 Agustus 2014

 

Meledak dan Merdekalah

Meledak dan Merdekalah

Apa yang menarik dari hidup ini. Tidak ada, semua tampak datar dan membosankan. Semua sama dengan segala permasalahan. Jika kau sudah tahu jawabannya, kau akan segera mengerti bahwa hidup ini adalah kosong. Tidak ada sama sekali.

Lalu aku harus memilih mengisi tentang kebebasan yang tidak ada. Seperti kata orang besar yang menampar dunia. Manusia terpenjara oleh keb

ebasannya sendiri. Dan bunuh diri adalah jawaban yang terbaik untuk hidup. Ketiadaan hidup.

Jauhilah filsafat, jauhilah kenyataan yang akan menyeretmu kedalam keheningan hidup. Dunia ini tidak ada sama sekali. Maka benar, kehidupan yang abadi adalah kematian itu sendiri.

Bukankah kita akan menjadi gamang dengan kenyataan yang aku sebutkan. Lalu apa makna yang harus kita berikan. Menciptakan makna atau menenukan makna dalam ketiadaan. Aku rasa, manusia haruslah menciptakan makna disetiap hidupnya, menciptakan nilai yang harus dipegangnya sendiri.

Bunuh diri secara filsofis ? menarik bukan.

 

MANUSIA DAN NILAI KEHIDUPAN

hjhkh

Aku masih percaya bahwa kehidupan tidak memiliki arti, tetapi aku percaya bahwa ada sesuatu didalamnya yang dapat kita berikan penilaian. Manusia itu sendiri. Manusia yang berjuang menciptakan arti dari kekosongan nilai-nilai hakiki. Manusia sebagai pencipta kebenaran dan sebagai pembenar dari ciptaannya tersebut.

Ide kehidupan yang dibawa oleh nasib, banyak yang hadir dan melawan. Tapi tak seorangpun ada yang menang melawan. Hanya mencari solusi lain, mencari bentuk lain dari konsep, mengganti meski tidak diketahui bentuk asli yang harus diganti. Manusia akhirnya berperang mempertahankan ide-nya sendiri, melawan dari ide-ide lain yang lahir dari berbagai empiris dan pendekatan ilmiah.

Manusia hanya ingin mempertahankan dirinya, dengan kekuatan. Sebagian lain berusaha menyelamatkan manusia, tetapi yang sebagian itu aku tetap melihatnya sebagai keinginan menyelamatkan dirinya sendiri,  idenya sendiri.

Ide, seperti yang dipuja dalam pemikiran Plato, tentang dunia yang tidak akan berubah, konsisten dan tidak tersentuh. Tentu akan menjadi pembenar dalam langkahmu berbicara tentang keadilan. Tentang hak-hak bawaan nasib. Aku bukan berbicara tentang itu. Aku hanya menjelaskan perang untuk mempertahankan ide, seperti kepentingan untuk menjadi mendapatkan kelegaan dalam hidup. Hidup yang kita sepakati tidak memiliki definisi tentang nilai.

Karena itu pertarungan manusia tidak terelakkan, manusia bertarung untuk saling mempengaruhi atau setidaknya mempertahankan apa yang dipercayainya. Apakah ini ada alasannya dengan alam, sumber daya, aku melihatnya iya, tetapi pertarungan sumber daya hanyalah pertarungan sekunder. Pemikiran adalah yang menggerakkan manusia, memberikan sikap dari analisis-analisis yang dibutuhkan. Semua tentang nilai, menjadi manusia bebas adalah menjadi manusia yang tidak terikat dengan nilai. Dan mungkin aku sedang menyerang pemikiranmu / mempengaruhimu demi kepentinganku.

NEGARA DAN KEBAIKAN

anarkisme2

Bagaimana mungkin kita bisa menyerahkan jiwa kita kepada sesuatu yang kita tidak inginkan. Menyerahkan hak tertinggi kita atas nama kontrak politik yang tidak pernah kita tanda tangani.

Bagaiamana seseorang bisa terikat kontrak politik dengan Negara? Mengakui dan sadar bahwa dia adalah bagian dari Negara ? seperti Agama, Negara adalah dogmatis yang harus kita terima tanpa pernah kita mampu melawannya.  Kita dipaksa untuk menandatangani kontrak politik bahwa kita adalah bagian dari Negara dengan segala tanggungjawab, hak dan kewajiban yang tiba-tiba saja disematkan kepada kita. Kita tiba-tiba telah menjadi warga Negara.

Kita hanya bisa memilih, tetap berpegang teguh pada kondisi Awal bahwa kita adalah suatu bagian dari Negara ini, atau berpindah menjadi warga Negara lain, tidak untuk menjadi warga bebas tanpa harus menyematkan suatu Negara dalam diri kita.

Kita telah diberikan labelisasi, diikat oleh keadaan, sistem yang terkesan mengamankan. Begitu lahir kita sudah dipenjara, tahanan bernama warga Negara. Hukuman-hukuman dari perjanjian sosial yang tidak kita sadari, kesan seakan-akan kita telah menerima hal itu dengan muka biasa saja. Bahwa hal ini alamiah, selayaknya manusia hidup didalam bumi. Kenyataannya tidak demikian.

Negara adalah sebuah sistem yang dibangun atas dasar persamaan komunal, Negara adalah alat untuk manusia, bukan untuk memperalat manusia. Pergeseran nilai yang terus berkembang menjadikan Negara tak ubahnya robot yang melawan penciptanya, manusia dikendalikan oleh Negara. Perjanjian-perjanjian sosial muncul dengan tujuan menjamin keselamatan manusia yang mengakuinya. Lebih jauh lagi, warga Negara tidak lagi menjadi hakim untuk menyikapi apa yang terjadi. Manusia yang tidak sesuai dengan irama Negara adalah ancaman, bahkan dianggap teror ketertiban dan keamanan bersama. Hukuman yang tidak kita ketahui dan bubuhkan siap menyambut mereka yang berbeda dari jalan tujuan Negara. Negara bukan lagi sebuah sistem buatan manusia, tapi mulai beranjak menjadi hakim agung, malaikat pencabut nyawa dan Tuhan.

Negara selalu berkelit bahwa semua demi kebaikan masyarakat, demi perkembangan manusia menjadi manusia, melepaskan manusia dari sifat binatang yang menuruti hawa nafsu semata, menjadikan manusia tuan bagi dirinya sendiri, manusia bebas yang mengatur hidup, keinginan dan hukum bagi dirinya sendiri. Secara konsep awal saya akan berkata “Iya” untuk Negara. Tetapi tidak saat Negara terbentuk.

Semua kebaikan sudah tak lain lagi adalah kepentingan para penguasa, meski bahasan ini terlalu jauh, tetapi demikianlah kebenarannya. Etika moral adalah penjara psikologis, rekayasa golongan berkuasa untuk memenjarakan kebebasan manusia dibungkus dalam kemasan bernama kodrat. Yang tentu saja sebuah rekayasa pula. Suatu kontradiktif sekali dengan apa yang dimaksud dengan pandangan makna kebaikan dari berbagai tokoh yang mewakili golongan.

Kebaikan adalah kebaikan, suatu bentuk dasar yang tidak dapat direduksikan lagi kedalam sifat lain. Baik tidak bisa disamakan dengan salah satu sifat atau ciri apapun. Menjadikan baik menjadi satu bentuk yang mengharuskan dan normatif adalah kekeliruan naturalistik.

NEGARA ADALAH ABSURD !

insur10_b

Mengkaji sebuah negara, mengkaji tentang kehendak umum yang diasosiasikan kedalam satu wujud organisasi yang kemudian berubah wujud dan fungsi. Negara dari bentuk dasarnya nothing create nothing yang dalam fungsi utamanya adalah sebuah bentuk wadah tujuan komunal, yang dalam bentuk aktif kita memanggilnya pemerintahan, haruslah berfungsi sebagai payung teduh, peyalur hubungan timbal balik individu dan publik.

Menelisik kembali tentang hubungan individu dan negara, yang tentunya didasari bahwa kehendak umum untuk menciptakan suatu ketertiban, keamanan dan alat untuk mensejahterakan  masyarakat tentunya tanpa tidak langsung meminta individu untuk terikat kontrak dengan Negara. Menjadikan individu memiliki dua pribadi, pertama sebagai individu bebas, kedua sebagai warga Negara.

Ada persoalan menarik tentang pribadi manusia dalam kasus ini, kesan yang timbul akan munculnya dua pribadi yang terkesan sama-sama bebas sebenarnya hanya ada satu bentuk saja yang berjalan. Yaitu sebagai warga Negara, dan pribadi sebagai manusia bebas telah tiada dengan masuknya kontrak dengan Negara. Kenapa demikian ? apakah Negara tidak menjamin kebebasan dari setiap penduduk untuk menjadi pribadi yang bebas ? kita telah dikaburkan pemikirannya dengan slogan-slogan seperti ini, Negara tak ubahnya sekarang telah menjadi kekuatan yang mengatur kita, bukan kita lagi yang mengatur sebuah Negara. Atau kita yang dikendalikan oleh Negara, bukan kita yang mengendalikan Negara.

Warga Negara telah terikat dengan kontrak sosial yang berisi dengan hak dan kewajiban. Sebuah tanggung jawab, pasung dan kunci kebebasan yang seakan adalah kebenaran. Sebuah Absruditas muncul disini, bagaimana mungkin sesuatu yang diciptakan untuk menjadi payung bagi keseluruhan individu yang membentuknya pada akhirnya memiliki sifat yang bertentangan dengan kepentingan mereka?

Karena pada kenyataannya manusia memiliki kehendak pribadi yang acap kali bertentangan dengan pribadi lain, atau secara garis besar bertentangan dengan kehendak umum yang dia miliki sebagai warga Negara. Dan kata pembunuh hal ini adalah bahwa seakan kepentingan pribadi dapat dijalankan sendiri, terpisah dari kepentingan umum. Omong kosong yang membius.

BUKU SIMBOL PERLAWANAN

Flag_of_Anarcho_syndicalism_by_Vitjok copy

Media massa menjadi sangat penting dalam penyebaran sebuah wacana, membentuk opini, bahkan tidak jarang orang yang menganggap isi dalam media massa sebagai suatu kebenaran. Media massa juga alat yang praktis dan efektif untuk membentuk pola pikir serta mengkontruksi kehidupan sosialnya yang mengubah sikap, persepsi dan perilaku keseharian masyarakat.

Seperti yang kita ketahui, media massa bukan hanya dari koran, radio, televisi, jejaring sosial, tetapi juga buku.

Buku memang tidak secepat dan semenarik media massa lain yang telah saya sebutkan, buku yang tebal dan penuh dengan tulisan bisa menjadi hal yang dijauhi, kurang diminati oleh massa, terlebih jika buku tersebut berisikan uraian yang penuh dengan penafsiran dan bahasa yang kurang lugas.

Buku adalah simbol perlawanan, buku menjadi sebuah ikon untuk melawan pembodohan yang diidentikan dengan televisi.

Dalam buku kita dapat menyelami pemikiran dari penulis, membuka wawasan kita terhadap pemikiran-pemikiran baru yang mungkin tidak dapat kita temukan dalam bentuk media massa lainnya, ketajaman, perasaan, perenungan diri untuk merangsang imajinasi kita agar terus bekerja.

Buku adalah kumpulan dari tulisan-tulisan, yang berisikan tentang segala bentuk pengetahuan segala macam referensi.

Pengetahuan adalah senjata, pengetahuan adalah modal utama, terlebih bagi mereka kaum yang tidak memiliki harta atau kuasa. Dari pengetahuanlah kita memiliki kekuatan untuk melawan penghinaan, kebodohan, kemiskinan. Pengetahuan hanya bisa diraih dengan membaca, belajar, atau memaknai segala hal yang tersirat dalam kehidupan.

Buku adalah warisan untuk anak generasi, buku adalah senjata yang turun temurun diberikan pada mereka yang berontak pada ketidakadilan. Buku adalah simbol perlawanan, amunisi yang harus kau isikan kepada isi kepalamu.

Buku-buku perlawanan dituliskan oleh mereka yang tak punya kuasa tetapi punya hati, pemikiran, doan tekad untuk melawan, keabadian dari suatu bentuk perlawanan.

Buku berbicara kepadamu, dalam teks-teks yang komunikatif, membentuk pengertian-pegertian, memberikan padamu referensi ide-ide, dan pesan emosional.

Sering pula kita temukan sebuah fenomena, Buku dilawan dengan buku, bukan dengan pembunuhan ataupun pembredelan. Dimana dalam esensinya adalah pemikiran dilawan dengan pemikiran. Menjadikan sebuah pertarungan intelektualitas yang menarik, untuk dapat dinilai sendiri oleh masyarakat. Memberikan ruang yang luas dan kesempatan pada rakyat untuk memilih dan menentukan kebenaran, kebaikan dan sikap yang akan diambil.

Bagaimana dengan bangsa Indonesia? Miris memang melihat kondisi bangsa ini yang jauh dari buku, budaya membaca yang sangat rendah. Buku-buku bacaan ringan saja mereka tak lagi baca, apa lagi buku berat dengan halaman yang tebal. Buku yang penuh dengan refleksi dan pemahaman akan terkubur di rak belakang perpustakaan, berdebu, dan selalu akan tampak baru tanpa ada bekas lembaran yang dibuka. Mungkin aku terlalu jauh, mari kita lihat perpustakaan itu sendiri, cat lama sudah mengelupas, ini tidak penting. Bagi pemimpin negeri pembangunan jalan raya dan tembok-tembok besar lebih utama. Mirip seperti yang Wiji Thukul sampaikan dalam puisinya Bunga dan Tembok.

Pemerintah yang sedikit-sedikit memberikan pelarangan penerbitan buku, pembredelan atas nama keamanan. Bangsa ini harus mulai menguji diri dengan pemikiran-pemikiran, orientasi sebagai pemikir bukan hanya diciptakan sebagai pekerja. Bangsa ini haruslah melek akan segala hal, baik politik, sosial, budaya, agama dan lainnya tanpa ada kekangan dan setiran.  

Bersikap kritis atas sikap pemerintah yang ingin melindungi masyarakat dengan pembredelan adalah jalan penting yang harus ditempuh oleh para pembaharu, pemuda, bangsa. Pembredelan adalah wujud ketakutan pemerintah/ kekuasaan atas kepentingannya yang akan terganggu oleh pengetahuan oleh masyarakat.

 

SURAT KEDUA / KELUH KESAH

images (4)

Mungkin tidak seperti surat yang dia kirimkan kepadamu, yang berisi uraian rasa optimis tentang kebenaran dan akal budi. Atau tentang surat pertamaku yang berisi sapa dan perkenalan diriku secara pribadi kepadamu. Dalam surat keduaku ini, aku akan menuliskan tentang keluh kesah pada pengharapan yang jauh dari pencapaian.

Seperti yang engkau tahu, kami disini hidup dalam rahmat semesta. Keindahan dan kesuburan tidak lagi kami harus usahakan. Kami hanya cukup hidup dengan baik, bersahabat dengan alam dan memanen hasilnya setahun dua kali. Berlibur dipantai, mendengar bisik ombak atau langkah kepiting dipasir putih sembari merasakan hangat matahari merasuki pori-pori kami.

Lalu apa yang aku gelisahkan disini? Bukankah seharusnya aku berbahagia atas hal ini? bersorak dan bernyanyi dengan alam, melakukan upacara-upacara syukur pada semesta. Menjalani hidup dengan layak dengan kebutuhan yang  bisa kami selalu isi.

Tidak sesederhana itu kawanku, seperti yang aku katakan kepadamu dalam suratku yang lalu, aku mengenalmu, dari membaca surat-surat balasanmu untuknya setahun yang lalu. Ada kehendak dan pertarungan antara kau dan dirinya dalam memaknai hidup, kebenaran, kebaikan, kearifan dan bahkan keberangan.

Mungkin kami disini tidak seperti bangsamu yang berang terhadap sesuatu yang tidak berguna dalam dirinya, memperjuangakan nilai-nilai yang kau anut, nilai-nilai yang kau ambil dari pemikiran akal budi untuk kau wujudkan. Menggali lebih jauh, lebih dalam, bahkan lebih gelap. Hingga akhirnya kau terangi dalam pengetahuan yang telah kau persiapkan dari hasil pembunuhan-pembunuhan sisi lainmu yang tidak berguna.

Lainhalnya dengan dia, laki-laki yang mengirimu surat padamu. Bangsa mereka adalah bangsa yang tak percaya pada akal budi, bangsa yang penuh dengan kegetiran dan kepercayaan, merangkumnya seperti berdiri di bibir jurang nan dalam. Tetapi ada kelegaan yang aku sendiri tidak dapat menjelaskan.

Lalu akan aku ceritakan tentang bangsaku. Bangsa yang tenang, bangsa yang menghimpun diri dalam tumpukan kepasrahan antara penilaian kebaikan dan keburukan dalam satu standart. Mereka lelah menilai, tak ada keberangan dan gairah. Bangsaku lebih asik terlelap dalam penderitaannya, ketiadaan gairah yang disuntik dari dogma-dogma. Mungkin kau akan menghiburku, dan berkata bahwa bangsaku adalah bintang yang lama mengembang, karena massive dan majemuk. Bangsa yang akan lama mati. Atau mungkin seperti kata dia beberapa waktu yang lalu, sebelum akhirnya dia mati. Dia berkata bahwa bangsaku telah kehilangan jiwa manusianya, ada tetapi hanya menjadi hantu. Permasalahan dunia tidak akan berdampak pada bangsa dan negaraku.

Aku tidak tahu pasti, meraba bangsaku dalam bahasa seperti itu bukan keahlianku, tetapi akan kujelaskan kepadamu, dengan lugas meski kubumbui bahasa yang sok intelek, puitis dan hiperbol. Karena aku juga ingin belajar bahasamu.

Bangsaku mugkin sedang beristirahat, karena mereka terlalu lelah berperang pada masa lalu, aku tahu itu dari buku-buku sejarah disekolahku. Dari jaman kerajaan Hindu sampai Islam, dari Belanda sampai ke Jepang, dari PKI sampai GAM, hingga sekarang melawan kepercayaan atas diri sendiri. Pepeperangan dan perbedaan bukan lagi sesuatu yang mereka berani hadapi dengan senyum penuh gairah, perang dan perbedaan bagi mereka haruslah dimusnahkan. Mereka sudah lelah berkonfrontasi terlebih berpikir, tidak seperti dengan bangsamu.  Yang berani membuka diri, lebih lepas seperti kematian tinggal sepenggal nafas saja, atau lebih bergairah sepertimu, memiliki jarak pandang yang cukup jauh dalam menentukan langkah.  Toleransi seperti pedang bermata dua yang mengamankan kami serta membunuh kami sendiri.

Aku akui ada nada pesimis pada negara yang tidak punya ambisi dan gairah dalam suratku, badan mereka boleh disini, tetapi bukan hati dan pikirannya. Mungkin benar katanya bahwa bangsaku adalah Hantu, mahluk yang tidak peduli pada dunia. Hantu yang buntung kaki dan tangannya, mungkin juga kepalanya juga putus dipenggal jaman. Mereka yang bergentayangan dalam nama, dalam daging yang membalut tulang menunggu kekosongan. Mungkin kesepian ini yang mendorongku untuk mengirim surat padamu. Aku ingin bertanya tentang gairah ? tentang ambisi yang hanya aku temui dalam bentuk kata bukan rasa.

Mungkin akan kita sambung lain kali, aku harus kembali bekerja. Salam

G

Moralitas dalam kajian film 300 Rise on Empire

300-Rise-of-an-Empire-Poster-slice-585x350

Baru saja menyaksikan sebuah film yang sebenarnya sudah lama di putar dan banyak menerima kritikan karena isi dari film tersebut, film 300 Rise of Empire, yang beberapa orang katakan lebih banyak menampilkan pembantaian, menekankan pada kucuran darah yang dinilai berlebihan.

Seperti diketahui bahwa dalam film 300 yang kedua ini menceritakan tentang nilai balas dendam, Balas dendam dari Xerxes yang membunuh ayahnya Darius, balas dendam Artemisia terhadap Yunani yang terakhir menurut saya adalah balas dendam dari Ratu Gorgo istri dari Leonidas yang akhirnya menjadi alasan untuk membantu pasukan dari Themistokles melawan armada laut Yunani yang dipimpin oleh Artemisia.

Bukan ingin membahas tentang alur dari cerita yang disutradari oleh Zack Zinder, tetapi ingin mengetengahkan pandangan saya tentang nilai moralitas dalam film yang  dibioskop di Indonesia banyak mengalami pemotongan (sensor).

Kajian moralitas apa yang saya ambil dalam film ini, tidak jauh-jauh dari apa yang saya utrakan diatas, yaitu tentang balas dendam.

Balas dendam sendiri memiliki makna tindakan untuk membalas sesuatu yang bersifat negatif dan dilakukan kepada kita.

Balas dendam dalam pandangan sekarang adalah suatu sikap yang buruk, tak terpuji dan dinilai menuju tindakan yang tidak bermoral. Tindakan yang tepat untuk menjawab keadaan saat tersakiti atau dikalahkan adalah dengan menerima, memaafkan, berpikir bijak, dan menyerahkan semuanya kepada Tuhan untuk membalasnya. Balas dendam juga dinilai hanya akan melahirkan permasalahan baru yang tidak akan pernah putus.

Sedang dalam film 300 kali ini balas dendam lebih adalah bentuk kehormatan, tujuan, menjadi sempurna sebagai manusia yang memiliki rasa dan ambisi. Balas dendam menjadikan manusia lebih keras, liar dan berbahaya. Seperti diketahui memang perjalanan moralitas membawa manusia untuk menjadi aman, menjaga keberlangsungan hidup koloni. Segala sesuatu yang berbeda, bahaya dan merusak akan mendapatakan sanksi berupa hukuman fisik maupun psikis. Hal ini untuk menjaga kestabilan, menjaga agar lelah dan mempertahankan diri tak perlu kembali lagi harus diperjuangkan. Manusia membutuhkan kenyamanan, damai tentram dalam hidupnya.

Tetapi demikian, efek yang dihasilkan adalah. Manusia tak ubahnya menjadi mahluk piaraan, meski tetap berkarya dan tetap saja dibatasi. Merujuk kepada pemikiran Nietzsche, filsuf kontroversial, radikal, frontal, dan ateistik. Pemikiran moralitas ini tentu melaju ke arah lahirnya Nihilisme, tentang keabsahan nilai-nilai dalam sistem yang dipertanyakan.

Kritik keras tentang moralitas Hegel dan Kant yang dilakukan oleh Nietzsche setidaknya bisa menjadi referensi bahwa moralitas tak ubahnya penjara, moralitas hanya alat untuk mengamankan kekuasaan dalam sejarahnya, atau moralitas adalah candu dari mereka manusia dengan mental budak.

Balas dendam adalah wujud dari kejujuran, nafsu maupun pikiran yang terselamatkan dari pengkaburan kenyataan dogma-dogma agama, dogma seni seperti Dinosian Yunani. Balas dendam adalah kebenaran manusia yang tidak terjebak dalam teori rasio praktis yang menunjukkan adanya imperatif kategoris.

Meski dalam kasus ini jika ditelisik lagi dari sudut filsafat Dialektika Hegel juga akan menghantarkan kita kepada ketiadaan nilai absolut dalam sistem hidup manusia saat ini, membantah nilai-nilai dan kriteria universal yang dalam agama wahyu khotbahkan. Mengungkung kehendak berkuasa, mengungkung manusia dalam keterasingan dirinya sendiri. Dan bentuk ini dimengerti benar oleh penguasa untuk meredam kehendak manusia. Menjadikan manusia bermoral, meletakkan predikat pujian sebagai imbalan, hanya untuk menguasainya.

Maka nilai moral tidak berlaku dalam hidup ini, kebebasan hidup ini terwujud dari nilai seni itu sendiri dan melepas diri dari kungkungan moral, dengan kata lain orang yang bermoral berarti orang yang tidak bebas atau seperti dipenjara.

Jika nilai-nilai moral yang telah lalu telah berubah menjadi bentuk moral baru seperti sekarang ini, apa kau akan tetap percaya bahwa moral hari ini tak akan berubah esok hari.

Tidak ada nilai absolut, moralitas hanya alat yang dijalankan demi kepentingan kekuasaan saat ini.